Dedewijaya's Weblog

27 June 2009

Berita Mingguan 27 Juni 2009

Filed under: BERITA — dedewijaya @ 11:56 AM

Please Vote my Blog at SINI and SINI

Sumber: Way of Life Ministry, Friday Church News Notes

Penerjemah: Dr. Steven E. Liauw

Graphe International Theological Seminary

Untuk berlangganan, kirim email ke: gits_buletin-subscribe@yahoogroups.com

PEMIMPIN SOUTHERN BAPTIS MENGATAKAN “MISI LEBIH PENTING DARI PERBEDAAN DOKTRINAL”

Berbicara di Konferensi Gembala Sidang Southern Baptis di Louisville, Kentucky, Morris Chapman, presiden dari Komite Eksekutif SBC mengatakan, “misi lebih penting dari perbedaan doktrinal.” Ia mengatakan, “Kemenangan- kemenangan iman dalam sejarah hidup konvensi inu bukanlah karena orang-orang mencintai doktrin. Itu semua terjadi karena mereka mencintai Yesus” (”Chapman: Missions Trumps Doctrinal Divides,” Baptist Press, 23 Juni 2009). Alkitab tidak pernah mengecilkan doktrin dengan cara yang demikian. Ketika Tuhan Yesus Kristus memberikan Amanat Agung, Ia memerintahkan agar kita memberitakan Injil, membaptis mereka yang percaya, dan lalu “ajarlah mereka melakukan SEGALA SESUATU yang telah Kuperintahkan kepadamu” (Matius 28:20). Rasul Paulus memperingatkan para penatua di jemaat Efesus bahwa ia telah memberitakan “seluruh maksud Allah” (Kis. 20:27). Paulus menginstruksikan pengkhotbah Timotius untuk melakukan perintah-perintah Perjanjian Baru dengan “tidak bercacat dan tidak bercela” (1 Tim. 6:14). Ini merujuk kepada detil-detil. Tidak ada otoritas dalam Kitab Suci yang membagi-bagi doktrin menjadi yang “penting” dan yang “tidak penting” atau “sekunder.” Walaupun kita tahu bahwa tidak semua doktrin sama penting, tetapi semua doktrin memiliki arti pentingnya sendiri, dan siapakah kita sehingga kita boleh mengatakan bahwa sebagian Firman Allah adalah “tidak penting”?

SOUTHERN BAPTIST LEADER SAYS “MISSIONS TRUMPS DOCTRINAL DIVIDES” (www.wayoflife.org fbns@wayoflife.org) – Speaking at the Southern Baptist Pastor’s Conference in Louisville, Kentucky, Morris Chapman, president of the SBC Executive Committee, said that “missions trumps doctrinal divides.” He said, “The victories of faith in the life of the convention did not happen because men and women loved doctrine. They happened because they loved Jesus” (“Chapman: Missions Trumps Doctrinal Divides,” Baptist Press, June 23, 2009). The Bible never downplays doctrine after this fashion. When the Lord Jesus Christ gave the Great Commission, He commanded that we preach the gospel, baptize those that believe, and then “teach them to observe ALL THINGS whatsoever I have commanded you” (Matthew 28:20). The apostle Paul reminded the elders at the church of Ephesus that he had pr eached “all the counsel of God” (Acts 20:27). Paul instructed the preacher Timothy to keep the New Testament commandments “without spot” (1 Timothy 6:14). That refers to the details. There is no authority in the Scripture for dividing doctrine into “cardinal” and “peripheral” or “secondary.” While we know that not all doctrine has equal importance, all of it has some importance, and who are we to say that some of the teaching of the Word of God is “peripheral”?

SEORANG KRISTEN DIBUNUH KARENA MINUM TEH DARI GELAS SEORANG MUSLIM
Berikut ini disadur dari ChristianNewsWire. com, 12 Juni 2009: “International Christian Concern (www.persecution.org) telah mengetahui bahwa orang-orang Muslim radikal yang berjualan teh telah memukul mati seorang Krsiten karena menggunakan gelas yang seharusnya untuk orang Muslim pada tanggal 9 Mei. Orang muda tersebut, Ishtiaq Masih, memesan teh di sebuah kedai di desa Machharkay, Punjab, Pakistan, setelah bisnya berhenti di sana untuk istirahat. Ketika Ishtiaq mau membayar untuk tehnya, pemilik kedai itu memperhatikan bahwa ia sedang memakai sebuah kalung dengan salib dan lalu memeganginya, sambil berseru kepada para karyawannya untuk membawa apa saja yang ada untuk menggebuki orang itu karena telah melanggar sebuah tanda di gerobak itu yang memperingatkan orang-orang non-Muslim untuk menyatakan agama mereka sebelum disediakan teh. Ishtiaq tidak memperhatikan tanda itu sebelum memesan tehnya. Sang pemilik dan 14 orang karyawannya memukuli Ishtiaq dengan batu, batang besi, dan pentungan, dan menusuk dia berkali-kali dengan pisau dapur sambil Ishtiaq berteriak meminta belas kasihan. Penumpang-penumpang lain bis itu dan juga para pejalan kaki yang lewat akhirya mengintervensi dan membawa Ishtiaq ke Pusat Kesehatan Rural di desa itu. Dokternya, yang melaporkan kasus Ishtiaq kepada ICC, mengatakan bahwa Ishtiaq mati karena perdarahan internal dan eksternal yang hebat, tulang tengkorak yang remuk, dan cedera otak. Kedai Teh Makah terletak di jalan raya Sukheki-Lahore dan adalah miilk Mubarak Ali, seorang radikal Muslim berumur 42 tahun. Koresponden ICC mengunjungi kedai teh itu dan melihat bahwa ada sebuah tanda berwarna merah dengan simbol kematian yang berbunyi, ‘Semua non-Muslim harus menyatakan agama mereka sebelum memesan teh. Kedai teh ini hanya melayani Muslim.’ Peringatan itu juga mengancam barangsiapa yang melanggar aturan itu dengan ‘konsekuensi yang parah.’ Seorang pemilik toko yang bersebelahan memberitahu ICC, dengan jaminan tidak disebut namanya, bahwa semua karyawan Ali adalah mantan murid madrasah-madrasah Muslim radikal. Keluarga Ishtiaq mengatakan bahwa mereka segera melaporkan insiden tersebut kepada polisi dan mengajukan tuntutan terhadap Ali. Namun, para pembunuh itu masih bebas menjalankan kedai teh tersebut.”

CHRISTIAN MAN MURDERED FOR DRINKING TEA FROM A MUSLIM CUP (www.wayoflife.org fbns@wayoflife.org) – The following is excerpted from ChristianNewsWire.com, June 12, 2009:?“International Christian Concern (www.persecution.org) has learned that radical Muslims running a tea stall beat a Christian man to death for using a cup designated for Muslims on May 9. The young man, Ishtiaq Masih, had ordered tea at a roadside stall in Machharkay village, Punjab, Pakistan, after his bus made a rest stop. When Ishtiaq went to pay for his tea, the owner noticed that he was wearing a necklace with a cross and grabbed him, calling for his employees to bring anything available to beat him for violating a sign posted on the stall warning non-Muslims to declare their religion before being served. Ishtiaq had not noticed the warning sign before ordering his tea. The owner and 14 of his employees beat Ishtiaq with stones, iron rods and clu bs, and stabbed him multiple times with kitchen knives as Ishtiaq pleaded for mercy. The other bus passengers and other passers-by finally intervened and took Ishtiaq to the Rural Health Center in the village. The doctor who took Ishtiaq’s case told ICC that Ishtiaq had died due to excessive internal and external bleeding, a fractured skull, and brain injuries. Makah Tea Stall is located on the Sukheki-Lahore highway and is owned by Mubarak Ali, a 42-year-old radical Muslim. ICC’s correspondent visited the tea stall and observed that a large red warning sign with a death’s head symbol was posted which read, ‘All non-Muslims should introduce their faith prior to ordering tea. This tea stall serves Muslims only.’ The warning also threatened anyone who violated the rule with ‘dire consequences.’ A neighboring shopkeeper told ICC on condition of anonymity that all Ali’s employees are former students of radical Muslim madrassas (seminaries). Ishtiaq’s family said that they immediately reported the incident to the police and filed a case against Ali. However, the murderers are still freely operating the tea stall.”

GEMBALA-GEMBALA SIDANG DITANGKAP DI CINA

Berikut ini disadur dari ”Lebih dari 30 Pemimpin Gereja Rumah ditangkap,” ChristianNewsWire. com, June 12, 2009: “Pada tanggal 9 Juni, lebih dari 30 pemimpin gereja-gereja rumah ditangkap saat sedang berkumpul di sebuah gereja rumah di kota Langzhong, propinsi Sichuan. Tiga belas pemimpin dikenakan 15 hari penahanan administratif, dan lima dari antara para pemimpin itu dikenakan tahanan kriminal. Para pemimpin yang lain dilepaskan. Para pemimpin Kristen tersebut sedang berkumpul di rumah Gembala Sidang Li Ming jam 5:30 p.m., di kota Lanzhou, ketika beberapa lusin petugas dalam sekitar enam hingga tujuh mobil dari Skuad Pelindung Keamanan Domestik lokal mengelilingi tempat itu, lalu menangkap semua orang-orang Kristen dan menggeledah rumah tersebut…. .Kelima pemimpin yang dikenai penahanan kriminal kemungkinan akan mendapatkan tuduhan kriminal resmi atau mendapatkan hingga tiga tahun re-edukasi melalui kerja keras. Mereka adalah: Gembala Gao Guofu, Gembala Li Ming, Zhang Guofen, Gu Lianpeng dan Yu Zhipeng. Gembala Li Ming baru-baru in dijatuhi hukuman tiga tahun re-edukasi melalui kerja keras karena iman Kristennya.”

PASTORS ARRESTED IN CHINA (www.wayoflife.org fbns@wayoflife.org) -

The following is excerpted from “More Than 30 House Church Leaders Arrested,” ChristianNewsWire.com, June 12, 2009: “On June 9 more than 30 house church leaders were arrested while gathering in a house church in Langzhong city, Sichuan province. Thirteen leaders were given 15 days of administrative detention, and five of the leaders were placed under criminal detention. The other leaders were released. The Christian leaders were gathered in Pastor Li Ming’s house church at 5:30 p.m., in Lanzhou city, when several dozen officials in six to seven police vehicles from the local Domestic Security Protection Squad surrounded the site, then arrested all of the Christians and searched the house. … The five leaders who received criminal detention are likely to face a formal criminal indictment or up to three years of re-education through labor. They are: Pastors Gao Guofu, Pastor Li Ming, Zhang Guofen, Gu Lianpeng and Yu Zhipeng. Pastor Li Ming was sentenced to three years of re-education through labor in recent years because of his Christian faith.”

LIFEWAY WANTS IT BOTH WAYS WITH “THE SHACK” (Friday Church News Notes, June 26, 2009, www.wayoflife.org fbns@wayoflife.org, 866-295-4143) – Lifeway Christian Stores, which are affiliated with the Southern Baptist Convention, are selling “The Shack,” a novel that depicts God as a woman who doesn’t judge people. The Lifeway bookstore in Huntsville, Alabama, has a notice that says, “This book may contain thoughts, ideas, or concepts that could be considered inconsistent with historical evangelical theology. Therefore, we encourage you to read it with extra discernment.” By means of this disclaimer, Lifeway intends to make money from this popular book while avoiding responsibility for its heresies, but it won’t work. The Bible warns that if we do not disassociate strictly from those who preach false christs, we become partakers of their evil deeds (2 John 7-11). Lifeway is not only associating with William Young and his heresies by se lling the book, but they are actually putting funds into his coffers to enable him to promote his wretched heresies. The Lifeway warning says the book “MAY contain” thoughts contrary to sound theology and urges readers to use discernment, but they don’t identify any particular heresies and a large percentage of their customers doubtless lack the Bible knowledge and spiritual discernment required to discern truth from error. This is like serving up a dish contaminated with poison to children and warning them to eat with caution! The Lifeway bookstores are filled to the brim with psychology, self-help, self-esteem, romance novels, ecumenical and charismatic literature, undependable Bible versions, and all sorts of “Christian” rock music. On a visit to a Lifeway store in Huntsville last year I found that they had many titles by emerging church authors, including Rob Bell (Velvet Elvis), Brennan Manning (The Ragamuffin Gospel), Erwin McManus (The Barbarian Way), Donald Miller (Blue Like Jazz), and Shane Claiborne (The Irresistible Revolution). Lifeway will stand accountable before God for polluting the minds and hearts of their customers with unscriptural material and for refusing to carry sound material from fundamentalist Bible-based publishers that they could and should be stocking but which they refuse to stock because it is “controversial.” (For more information see the reports “What Is the Emerging Church” and “The Shack’s Cool God” at the Way of Life web site.)

AUTHOR OF THE SHACK DENIES SUBSTITUTIONARY ATONEMENT AND HELL FIRE (Friday Church News Notes, June 26, 2009, www.wayoflife.org fbns@wayoflife.org, 866-295-4143) – In an interview on March 13 with Kendall Adams of KAYP radio, William Young, author of The Shack, denied substitutionary atonement and hell fire, two cardinal doctrines of the biblical Christian faith. When asked, “I take it that you wouldn’t agree that the cross was a place of punishment for sin,” Young replied, “No. I don’t; I [don’t hold] a penal substitution point of view.” Young also said, “I don’t think that hell is physical fire and that kind of stuff and it is not an issue of separation from God.” The Shack is very popular among emerging type churches, but it presents a false god. For more on this see “The Shack’s Cool God” at the Way of Life web site.

COUNTRY MUSIC THEOLOGY (Friday Church News Notes, June 26, 2009, www.wayoflife.org fbns@wayoflife.org, 866-295-4143) – We have warned many times about the moral danger of country music, and the reason is that so many of God’s people even in strong Bible-believing churches listen to this trash. A popular song that hit the charts this year is “People Are Crazy” sung by Billy Currington. The lyrics describe a conversation between an old man and a younger one in a bar. The old man had lived an unrighteous life, drinking, smoking, divorcing, womanizing, but he and his philosophy of life are applauded in the song. It is repeated in the chorus as follows: “God is great, beer is good, and people are crazy.” The song ends with the younger man putting those words on the old man’s tombstone. Beware of country music. It is of the world, the flesh, and the devil, but its thin veneer of “God and country” makes it palatable to some backslidden Christians. “Dearly beloved, I beseech you as strangers and pilgrims, abstain from fleshly lusts, which war against the soul” (1 Peter 2:11).

PROMISE KEEPERS FOR WOMEN (Friday Church News Notes, June 26, 2009, www.wayoflife.org fbns@wayoflife.org, 866-295-4143) – Promise Keepers, which staged massive ecumenical stadium events in the 1990s, is now targeting women. Its one event for 2009 is scheduled for July in Boulder, Colorado, and women are invited for the first time in the organization’s history. Promise Keepers almost went out of business after founder Bill McCartney left five years ago, but he came back onboard as the CEO last fall and plans to rebuild the organization’s influence. He says, “Boulder is going to be the epicenter of an extraordinary move of God. It’s going to go around the world …we feel like it will relaunch the ministry” (“No Longer for Men Only,” The New Man, June 9, 2009). McCartney’s focus is still on ecumenical unity. He says, “This is the very heart of God, to bring the church together for the difficult days ahead.” In fact, th e heart of God as revealed in Scripture is for the churches to remain true to His Word and to mark and avoid those who teach error (Romans 16:17).

INTERNET CUTTING INTO FAMILY TIME (Friday Church News Notes, June 26, 2009, www.wayoflife.org fbns@wayoflife.org, 866-295-4143) – A new survey has found that Internet usage is eroding the time that family members spend together. The Annenberg Center for the Digital Future reported that 28 percent of Americans interviewed in 2008 said they spend less time with members of their household, which is triple the number that said that in 2006 (“Family Time Eroding,” Breitbart.com, June 15, 2009). People are spending more time on cell phones and social networks such as Facebook and MySpace. Michael Gilbert, a senior fellow at the Annenberg Center, rightly observed: “It can’t be a good thing that families are spending less face-to-face time together. Ultimately it leads to less cohesive and less communicative families.” He said that “the Internet is so engrossing, and demands so much more attention than other technologies, that it can disrupt person al boundaries in ways other technologies wouldn’t have.” Christian families must resist the onslaught of communication and entertainment technology by controlling it in a wise manner rather than allowing themselves to be controlled by it. Who said that children need their own cell phones, televisions, computers, and iPods? The world says that, but God’s Word warns that “evil communications corrupt good manners” (1 Cor. 15:33), and Christian parents must do everything within their power to disconnect their children from the ungodly pop culture and to win their hearts for Christ.

PARENTS WHO CONTRIBUTE TO THEIR CHILDREN’S DELINQUENCY BY INEFFECTIVE DISCIPLINE (Friday Church News Notes, June 26, 2009, www.wayoflife.org fbns@wayoflife.org, 866-295-4143) – The following is excerpted from Training Your Children to Turn out Right, an excellent book by David Sorenson (Northstar Ministries, 1820 W. Morgan St., Duluth, MN 55811, 218-726-0209, www.northstarministries.com, dhs.northstar@charter.net) — “As a pastor, I have visited in thousands of homes. I have witnessed the following scenario played out numerous times. … Mom (or, sometimes Dad) would say to Junior. ‘It’s time to go to bed.’ (Or some other parental directive.) Junior ignored his mother and continued to watch TV. … After a few moments, she would say, ‘Junior, I told you to go and get ready for bed.’ He replied, ‘Awe, I don’t want to.’ Mom let that go by. A few moments later, Mom became a little hot about the matter. She raised the vo lume of her voice and said, ‘I TOLD YOU TO GET READY FOR BED.’ Junior replied, ‘But Mom, I want to watch my program.’ Mom tolerated that counter for a few more moments. She then announced, ‘THIS IS THE LAST TIME I AM GOING TO TELL YOU. GO AND GET READY FOR BED!’ Junior, by now himself getting exasperated at being shouted at, shouts back, ‘I TOLD YOU, I DON’T WANT TO!’ Finally, Mom shouts, ‘I’M WARNING YOU. MARCH RIGHT NOW, OR I AM GOING TO WHIP YOU.’ Variations of that scene go on by the thousands every single day in America. The real culprit was not Junior. He knew from considerable experience that Mom could be ignored. Mom was too lazy to get up and deal with the situation. she, in fact, was in her own way contributing to the delinquency of Junior. … One might say, ‘If I handled the situation described above as recommended, there would be a pitched battle.’ Well, you had better get on with the bat tle and win the war while it can still be won. The day is coming when you will not be able to win the battle or the war” (Training Your Children to Turn Out Right, 1995, pp. 69, 70).

Berita Mingguan 20 Juni 2009

Filed under: BERITA — dedewijaya @ 11:52 AM

Please Vote my Blog at SINI and SINI

Sumber: Way of Life Ministry, Friday Church News Notes
Penerjemah: Dr. Steven E. Liauw
Graphe International Theological Seminary
(Didistribusikan dengan gratis, dengan mencantumkan informasi sumber di atas)
Untuk berlangganan, kirim email ke: gits_buletin- subscribe@ yahoogroups. com

PELAJARAN SEKOLAH MINGGU STAR TREK
Pentakosta “Star Trek” adalah judul sebuah seri pesan-pesan audio “di mana Kapten Kirk, Spock, Bones dan Scotty berangkat dengan berani dalam suatu perjalanan pencarian akan Roh Allah.” Diproduksi oleh GFR Christian Radio, pesan-pesan yang disampaikan dimaksudkan untuk memberi “materi-materi yang menggugah pikiran” bagi kelas-kelas sekolah minggu. Adalah kekonyolan yang menyesatkan untuk masuk ke dalam dunia mitologis Star Trek guna mencoba menemukan kebenaran rohani! Gereja-gereja kontemporer, seperti para Yahudi yang sesat di zaman dulu, telah menukarkan Allah dalam Alkitab dengan berhala modern (mis., allah yang cool dan tidak menghakimi seperti dalam buku The Shack) dan telah menukarkan Firman Allah yang murni dengan doktrin-doktrin yang kotor. “Sebab dua kali umat-Ku berbuat jahat: mereka meninggalkan Aku, sumber air yang hidup, untuk menggali kolam bagi mereka sendiri, yakni kolam yang bocor, yang tidak dapat menahan air” (Yer. 2:13).

FATIMA: MARIA ANTAR-AGAMA MILIK ROMA DEMI SEBUAH GEREJA DUNIA
Berikut ini disadur dari buku yang bagus sekali, The European Union and the Supra-Religion by Robert Congdon (Congdon Ministries, 2007, http://www.internet bibleinstitute. com, robertcongdon@ bellsouth. net). “Sebagian dari penampakan-penampak an Maria yang paling terkenal terjadi di Fatima. Desa Fatima diberi nama sesuai dengan putri Muhammad, pendiri Islam. Nama Arabnya memiliki arti `yang bersinar.’ …..Pada bulan Mei 2004, Dalai Lama mengunjungi dan berdoa di kuil Fatima. Setelah seorang imam Hindu, Sha Tri, berdoa di altar tersebut, Rektor dari kuil itu mengatakan bahwa pertemuan-pertemuan demikian memberi mereka kesempatan untuk `mengingatkan kita semua bahwa kita hidup dalam komunitas.’ Imam Hindu itu menaruh sebuah syal khas imam Hindu, yang bertuliskan kutipan-kutipan dari Bagavad Gita, `pada pundak perwakilan tertinggi Gereja di Fatima…..Vatikan, bersatu dengan PBB, mensponsori sebuah kongres antar-agama di kuil Fatima pada tanggal 10-12 Oktober 2003, yang berjudul `Masa Kini Manusia – Masa Depan Allah.’….. Pemilihan desa Fatima berdasarkan fakta bahwa kuil Fatima telah dengan cepat menjadi pusat penyembahan banyak agama-agama dunia. Lebih dari 4,5 juta orang mengunjungi Fatima setiap tahunnya. Kongres yang terakhir ini melibatkan Hindu, Muslim, Yahudi, Ortodoks Timur, Buddha, dan perwakilan orang-orang kafir Afrika. Di Kongres tersebut, rektor dari kuil berkata, `Masa depan Fatima, atau penyembahan terhadap Allah dan ibuNya di Kuil suci ini, harus melalui suatu penciptaan sebuah kuil di mana agama-agama yang berbeda dapat bercampur… .’” (Robert Congdon, The European Union and the Supra-Religion, hal. 219, 221, 222; untuk dokumentasi, lihat kutipan-kutipan di buku ini).

BERHENTILAH MAKAN DOMBA DAN SELAMATKAN DUNIA
Para penasihat pemerintah di Inggris telah memberi peringatan bahwa mengkonsumsi domba adalah ancaman yang serius bagi lingkungan, karena mereka “menghasilkan sedemikian banyak gas metan” (”Burping of the Lambs,” The Sunday Times, 24 Mei 2009). David Kennedy, chief executive dari Komite Perubahan Iklim, mengatakan bahwa “merubah gaya hidup kita, termasuk apa yang kita makan, akan menjadi salah satu elemen penting dalam pengurangan emisi karbon.” Untuk menghasilkan 1 kg domba, katanya akan membebaskan gas metan yang sama denagn 37 pon karbon dioksida ke atmosfir. Untuk memproduksi jumlah daging sapi yang sama akan membebaskan 35 pon CO2. Saat ini, para agensi pemerintah sedang “menyarankan, ” tetapi waktunya akan tiba mereka mengatur apa yang boleh orang tanam, jual, dan makan, atau minimal mereka akan menetapkan pajak yang sangat berat terhadap produk-produk yang kata mereka membahayakan lingkungan. Mitos tentang global-warming yang terjadi karena manusia bukanlah bertujuan untuk menyelamatkan planet; ini semua bertujuan untuk meningkatkan kekuasaan pemerintah.

MENGELUS SERIGALA
Berikut ini disadur dari John Ashbrook, Axioms of Separation (Mentor, OH: Here I Stand Books, n.d.): “Bertahun-tahun yang lalu, saya makan malam bersama dengan seorang muda yang lulus dari Fuller Seminary. Tamu saya itu berkata, “saya menganggap diri sebagai seorang fundamentalis; tetapi saya harus mengaku bahwa fundamentalis sering tidak penuh kasih dalam pendekatan mereka kepada para liberal. Mereka menolak untuk berdialog dengan mereka dan telah gagal menunjukkan kasih Kristiani kepada mereka.” Orang ini rupanya telah menyerap filosofi Fuller. Sekarang saya tanya kepada anda, di manakah dalam Kitab Suci ada pengajaran bahwa kita harus berbaik-baikan dengan para pengajar palsu dan rasul-rasul sesat? Ini adalah kebalikan dari pengajaran di 2 Yohanes: “Jikalau seorang datang kepadamu dan ia tidak membawa ajaran ini, janganlah kamu menerima dia di dalam rumahmu dan janganlah memberi salam kepadanya. Sebab barangsiapa memberi salam kepadanya, ia mendapat bagian dalam perbuatannya yang jahat” (2 Yoh. 1:10-11). Kitab Suci menyebut orang-orang yang menyebarkan doktrin-doktrin sesat ini sebagai “serigala-serigala yang ganas” (Kis. 20:29). Para gembala yang setia sepanjang sejarah tidak berdialog dengan serigala-serigala ganas.”

SEORANG ANAK PEREMPUAN YANG MENGUJI DISIPLIN ORANG TUANYA
Berikut ini disadur dari Training Your Children to Turn out Right, sebuah buku yang sangat bagus oleh David Sorenson(Northstar Ministries, 1820 W. Morgan St., Duluth, MN 55811, 218-726-0209, www.northstarminist ries.com, dhs.northstar@ charter.net) — “Anak-anak kami perlu belajar bahwa setiap kali mereka melanggar sebuah aturan rumah tangga, maka akan ada pengalaman yang sudah dapat diprediksi dan yang tidak menyenangkan. Anak-anak sepertinya berpikir bahwa jika mereka mengikis orang tua mereka untuk waktu yang cukup lama, maka orang tua akan kecapekan dan akhirnya mengalah. Pertahankan aturan-aturan anda secara konsisten. Ketika salah satu anak perempuan kami masih kecil, dia memutuskan suatu malam bahwa dia tidak mau tinggal di tempat tidurnya. Dia telah dimasukkan ke dalam tempat tidur, tetapi dia memutuskan dia mau bangun. Dia memanjat keluar dari tempat tidurnya dan keluar ke ruang tamu. Dia diceramahi mengenai fakta bahwa ini sudah jam tidurnya dan bahwa jika dia keluar dari tempat tidurnya lagi, dia akan dipukul pantatnya (spanked). Dia dimasukkan ke dalam tempat tidurnya. Beberapa menit kemudia, dia keluar lagi. Sepertinya telah dijanjikan, dia dipukul dan dimasukkkan kembali ke tempat tidurnya di tengah tangisan yang cukup memberontak. Lalu dia mulai marah-marah. Setelah beberapa lama dia mulai lagi keluar dari tempat tidur dan masuk ke ruang tamu. Sejauh yang dapat kami periksa, tidak ada alasan yang sah bagi dia untuk bangun. Dia hanya tidak mau berada di tempat tidur. Sekali lagi dia dipukul. Ini berlanjut sekitar setengah jam, tetapi akhirnya dia mengerti pesannya; jika dia dengan terbuka menantang Mama dan Papa, dia akan dipukul. Ini terjadi secara konsisten. Ini terjadi setiap kali….Malam itu, sebuah pertarungan yang besar telah dimenangkan. Kehendaknya yang kecil dan pemberontak telah dipatahkan. Dia telah mencoba sekeras-kerasnya untuk menantang otoritas orang tua, dan dia telah kalah….Apakah kami sebagai orang tua merasa senang memukul anak perempuan kami? Kami sangat membenci setiap detik dari pemukulan itu. Dia adalah kebanggaan dan sukacita kami. Tidak ada yang dapat memberi kami kenyamanan yang lebih dari saat-saat dia duduk-duduk berpelukan dengan kami di ruang tamu. Tetapi kami tahu bahwa dia memerlukan pengembangan disiplin dalam hidupnya” (Training Your Children to Turn Out Right, 1995, hal. 71, 72).

MATA YANG SANGAT SENSITIF
Berikut ini dari Creation Moments, http://www.creation moments.com/ radio/transcript .php?t=2295: “Mata manusia sedemikian sensitifnya, sehingga ia dapat mendeteksi satu partikel cahaya – sebuah foton. Faktanya, mata manusia sedemikian sensitifnya, sehingga kalau bukan karena fitur-fitur spesial di dalam mata yang memproses milyaran informasi yang masuk setiap sepersekian detik, kita pastilah terbanjiri oleh cahaya. Walaupun mata dapat mendeteksi satu foton cahaya, ia tidak akan meneruskan suatu gambar kepada otakmu kecuali ada minimal enam foton yang mengenai bagian mata yagn sama. Jika tidak demikian, maka pada malam hari yang gelap kita tidak akan dapat melihat apa-apa selain statis, karena terang yang kurang dari enam foton tidak dapat difokuskan menjadi suatu gambar dan yang telihat hanyalah statis. Hal-hal seperti ini membuat kita bertanya-tanya apakah mata didesain oleh seorang Pencipta yang mahabijak? Karena bagaimana mungkin kebetulan-kebetulan yang tidak disengaja dan mutasi dapat mengetahui hukum-hukum dasar fisika yang mengendalikan perilaku cahaya? Rentang sensitifitas mata juga jutaan kali lebih besar dibandingkan dengan film-film fotograifk modern kita, dan memberikan kepada kita rentang dinamis antara 10 milyar hinga satu. Sementara sensitifitas yang terbesar diperlukan pada malam yang gelap, ada kontrol internal dalam mata yang menurunkan sensitifitas itu untuk situasi hari yang terang benderang. Ilmu pengetahuan sama sekali tidak menyingkirkan Allah! Pengetahuan kita tentang cara kerja mata menuntut kesimpulan bahwa kita adalah ciptaan dari seorang Allah bijak dan kuasa.

Diterjemahkan dari

FRIDAY CHURCH NEWS NOTES
June 19, 2009, Volume 10, Issue 25

The Friday Church News Notes is designed for use in churches and is published by Way of Life Literature’s Fundamental Baptist Information Service. Unless otherwise stated, the Notes are written by David Cloud. Of necessity we quote from a wide variety of sources, but this does not imply an endorsement. For instructions on how to unsubscribe to this list or to change mailing addresses, please consult the information paragraph at the end.

ROBERT SCHULLER APPOINTS DAUGHTER TO LEAD THE CRYSTAL CATHEDRAL (Friday Church News Notes, June 19, 2009, www.wayoflife.org fbns@wayoflife.org, 866-295-4143) – Robert Schuller has announced that his daughter is the new leader of Crystal Cathedral Ministries. Sheila Schuller Coleman steps into the shoes that were previously worn by Schuller’s son, Robert Anthony, who resigned last year under mysterious circumstances. When the son’s removal as the host of the Hour of Power television program was announced last October, the elder Schuller simply said that they had “different ideas as to the direction and the vision for this ministry.â€� Those differences were never spelled out. The son has subsequently partnered with his son-in-law Chris Wyatt, founder of GodTube, to acquire AmericanLife TV, which they plan to use to broadcast “family-friendlyâ€� programs (“Schuller’s Daughter to Lead Crystal Cathedral,â€� Orange County Register, J une 10, 2009). On June 7, the elder Schuller told his congregation that from now on Scheila is “the leader of leaders.â€� Robert Schuller has had a vast influence on modern Christianity. He has been one of the most popular religion television personalities in America for decades. His books sell by the millions. Schuller reinterprets the Bible to conform to his heretical self-esteem philosophy. To Schuller, sin is the lack of self-esteem. His christ is a psycho-savior who is “self-esteem incarnate.â€� His gospel is to replace negative self-concepts with positive ones. Schuller believes that all men are the children of God. Robert Schuller wants to create a new kind of Christianity: one that accepts the Fatherhood of God, that is positive and non-judgmental, that worships a self-esteem Christ, that denies the necessity of Christ’s blood atonement. (For documentation of Schuller’s heresies see “Robert Schuller and Evangelicalsâ€� at the Way of L ife web site.)

PETER MASTERS WARNS ABOUT WORLDLY EMERGING CHURCH CALVINISTS (Friday Church News Notes, June 19, 2009, www.wayoflife.org fbns@wayoflife.org, 866-295-4143) – Dr. Peter Masters, pastor of the Metropolitan Tabernacle in London, England, has sounded a warning against the worldliness of American pop-Calvinists such as Mark Driscoll and John Piper. Driscoll calls himself “theologically conservative and culturally liberalâ€� and his Mars Hills Church in Seattle has rock & roll champagne parties, watches R-rated movies, learns how to brew beer, and hosts secular rock concerts. In an article in The Sword and Trowel, 2009 No. 1, entitled “The Merger of Calvinism with Worldliness,â€� Dr. Masters says: “The new Calvinists constantly extol the Puritans, but they do not want to worship or live as they did. One of the vaunted new conferences is called Resolved, after Jonathan Edwards’ famous youthful Resolutions (seventy searching undertakings). But the c ulture of this conference would unquestionably have met with the outright condemnation of that great theologian. Resolved is the brainchild of a member of Dr John MacArthur’s pastoral staff, gathering thousands of young people annually, and featuring the usual mix of Calvinism and extreme charismatic-style worship. Young people are encouraged to feel the very same sensational nervous impact of loud rhythmic music on the body that they would experience in a large, worldly pop concert, complete with replicated lighting and atmosphere. At the same time they reflect on predestination and election. Worldly culture provides the bodily, emotional feelings, into which Christian thoughts are infused and floated. Biblical sentiments are harnessed to carnal entertainment. In times of disobedience the Jews of old syncretised by going to the Temple or the synagogue on the sabbath, and to idol temples on weekdays, but the new Calvinism has found a way of uniting spiritually incompatible thi ngs at the same time, in the same meeting. … Truly proclaimed, the sovereignty of God must include consecration, reverence, sincere obedience to his will, and separation from the world.â€� CONCLUDING NOTE FROM BRO. CLOUD: While we do not agree with Dr. Masters’ sovereign election theology, we could not agree more with his reproof of worldliness and we are thankful for the stand he has taken against the contemporary program. The Bible’s call to not be conformed to the world, to not love the world, and to come out from among them and be separate refutes the ridiculous philosophy of “cultural liberalismâ€� (Romans 12:2; 2 Corinthians 6:17; Ephesians 5:11; James 4:4; 1 John 2:15-17).

STAR TREK SUNDAY SCHOOL LESSONS (Friday Church News Notes, June 19, 2009, www.wayoflife.org fbns@wayoflife.org, 866-295-4143) – “Star Trek Pentecostâ€� is the title of a series of audio messages “where Captain Kirk, Spock, Bones and Scotty go boldly on a voyage of discovery in search of the Spirit of God.â€� Produced by GFR Christian Radio, the messages are intended to provide “thought-provoking materialâ€� for Sunday School classes. It is heretical folly to delve into the mythical world of Star Trek in an attempt to find true spiritual insight! Contemporary churches, like the apostate Jews of old, have exchanged the God of the Bible for a modern idol (e.g., the cool and non-judgmental god of The Shack) and have exchanged the pure Word of God for adulterated doctrine. “For my people have committed two evils; they have forsaken me the fountain of living waters, and hewed them out cisterns, broken cisterns, that can hold no waterâ€� (Jere miah 2:13).

POLL SHOWS THAT AMERICANS ARE OPEN TO NEW “WAYS OF EXPERIENCING GODâ€� (Friday Church News Notes, June 19, 2009, www.wayoflife.org fbns@wayoflife.org, 866-295-4143) – According to a new Barna poll, a large percentage of Americans are open to new ways of experiencing God apart from traditional church structures. 75% said they sense that God is motivating people to connect with Him “in different ways and through different types of experiences than in the past.â€� 71% say that they want to develop their own religious beliefs “rather than to accept an entire set of beliefs that a particular church teachers.â€� 64% said they are open to pursuing their faith in an environment “that differs from that of a typical church.â€� This is the product of the rock & roll pop culture that has captured American minds and hearts with its message of individuality and resistance to authority. The pop culture wields far more influence on the average prof essing Christian than the Bible does. The contemporary philosophy of doctrinal tolerance and the multiplicity of modern versions have helped create an appetite for a spiritual smorgasbord.

FATIMA: ROME’S INTERFAITH MARY FOR A ONE-WORLD CHURCH (www.wayoflife.org fbns@wayoflife.org) – The following is excerpted from the excellent book The European Union and the Supra-Religion by Robert Congdon (Congdon Ministries, 2007, http://www.internetbibleinstitute.com, robertcongdon@bellsouth.net). “[S]ome of the Mary’s most famous apparitions have occurred at Fatima. The village of Fatima was named after the daughter of Mohammed, founder of Islam. Her Arabic name means ‘shining one.’ … In May 2004, the Dali Lama visited and prayed at the Fatima shrine. After a Hindu priest, Sha Tri, prayed at the altar, the Rector of the shrine said such meetings gave them the opportunity to ‘remind ourselves that we live in community.’ The Hindu priest placed a Hindu priestly shawl, engraved with inscriptions from the Bagavad Gita, ‘on the shoulders of the highest representative of the Church in Fatima. … The Vatican, uniting with the United Nations, sponsored an interfaith congress at Fatima’s shrine on October 10-12, 2003, entitled ‘The Present of Man-The Future of God.’ … The choice of Fatima reflected the fact that the Fatima shrine is rapidly becoming the center of worship for many of the world’s religions. Over 4.5 million people visit Fatima each year. This latest congress included Hindu, Muslim, Jewish, Eastern Orthodox, Buddhist, and African Pagan representatives. At the congress, the shrine’s rector said, ‘The future of Fatima, or the adoration of God and His mother at this holy Shrine, must pass through the creation of a shrine where different religions can mingle…’â€� (Robert Congdon, The European Union and the Supra-Religion, pp. 219, 221, 222; for documentation of the quoted statements see the book).

STOP EATING LAMB AND SAVE THE WORLD (Friday Church News Notes, June 19, 2009, www.wayoflife.org fbns@wayoflife.org, 866-295-4143) – Government advisers in England have warned that eating sheep is a serious threat to the environment, because they “burp so much methaneâ€� (“Burping of the Lambs,â€� The Sunday Times, May 24, 2009). David Kennedy, chief executive of the Committee on Climate Change, says that “changing our lifestyles, including our diets, is going to be one of the crucial elements in cutting carbon emissions.â€� To produce 2.2 pounds of lamb allegedly releases the methane equivalent of 37 pounds of carbon dioxide into the atmosphere. To produce the same amount of beef release 35 pounds of CO2. Right now, government agencies are “suggesting,â€� but the time will probably come when they will legislate what people can grow, sell, and eat, or at least they will impose heavy taxes on products that are alleged to be a danger to th e environment. The man-made global warming myth is not about saving the planet; it is about increasing the power of government.

PATTING WOLVES (www.wayoflife.org fbns@wayoflife.org) – The following is excerpted from John Ashbrook, Axioms of Separation (Mentor, OH: Here I Stand Books, n.d.): “Years ago I sat at our dinner table with a young man trained in Fuller Seminary. Our guest said, “I think of myself as a fundamentalist; but I have to confess that fundamentalists have been very uncharitable in their approach to the liberals. They have refused to dialogue with them and have failed to demonstrate Christian love toward them.” He had absorbed the Fuller philosophy. Let me ask you, where in Scripture do you find the teaching that we are to treat false teachers with charity and the apostles of apostasy with Christian love? That is exactly the opposite of the teaching of 2 John. “If there come any unto you, and bring not this doctrine, receive him not into your house, neither bid him God speed: For he that biddeth him God speed is partaker of his evil deeds.â€� Scripture terms the purveyors of false doctrines as “grievous wolves. “The faithful shepherds of history have not dialogued with grievous wolves.”

A LITTLE GIRL WHO TESTED HER PARENTS DISCIPLINE (www.wayoflife.org fbns@wayoflife.org) – The following is excerpted from Training Your Children to Turn out Right, an excellent book by David Sorenson (Northstar Ministries, 1820 W. Morgan St., Duluth, MN 55811, 218-726-0209, www.northstarministries.com, dhs.northstar@charter.net) — “Our children need to learn that every single time they violate a household rule, there will be a predictable and unpleasant experience. Children seem to think that if they whittle away at their parents long enough, the parents will wear down and then give in. Consistently enforce your rules. When one of our girls was small, she decided one evening that she did not want to stay in her bed. She had been put to bed, but she decided she wanted to get up. She climbed out of her bed and came out into the living room. She was lectured about the fact that it was her bed time and that if sh e got out of bed again she would be spanked. She was placed back in her bed. A few minutes later, she came out again. As promised, she was paddled and placed back into her bed. … A few minutes later, she came out again. She again was paddled and placed back into her bed amidst rather rebellious crying. She was throwing a tantrum. After a while she proceeded to get out of bed and come out again into the living room. As far as we could tell, there was no legitimate reason for her to get up. She just did not want to stay in bed. Again she was spanked. This went on for about a half an hour, but she finally got the message; if she openly defied Mom and Dad, she would be spanked. It was consistent. It happened every single time. … That night a major battle was won. Her rebellious little will was broken. She had tried her hardest to challenge parental authority, and she had lost. … Did we as parents enjoy spanking our little girl? We hated every moment of it. She was our pride and j oy. Nothing would have pleased us more than for her to cuddle up to us out in the living room, but we knew how she needed to have discipline developed in her lifeâ€� (Training Your Children to Turn Out Right, 1995, pp. 71, 72).

THE INCREDIBLY SENSITIVE EYE (Friday Church News Notes, June 19, 2009, www.wayoflife.org fbns@wayoflife.org, 866-295-4143) – The following is from Creation Moments, http://www.creationmoments.com/radio/transcript.php?t=2295: The human eye is so incredibly sensitive that it can actually detect a single particle of light–a photon. The truth is, the human eye is so sensitive that were it not for special features inside the eye that process the billions of pieces of information coming into the eye every spilt second, we would be overwhelmed. While the eye can detect even one photon of light, it will not pass an image on to your brain until at least six photons strike in the same area of the eye. If this weren’t the case, on a dark night we would see nothing but static, since less than six photons could not be focused into an image and would appear to us as just static. This special provision makes one wonder if the eye was not designed by an all wise Creator. After all, h ow could mindless chance and mutations know about the basic laws of physics that control light’s behavior? The range of the eye’s sensitivity is also a million times greater than our modern photographic films, providing us with a dynamic range of 10 billion to one. While the greatest sensitivity is needed on dark nights, an internal control in the eye reduces that sensitivity for bright daylight. Science doesnot rule out God at all! Our knowledge of the eye’s working demands the conclusion that we are the creation of a wise and powerful God!

Berita Mingguan 06 Juni 2009

Filed under: BERITA — dedewijaya @ 11:48 AM

Please Vote my Blog at SINI and SINI

Sumber: Way of Life Ministry, Friday Church News Notes
Penerjemah: Dr. Steven E. Liauw
Graphe International Theological Seminary
Untuk berlangganan, kirim email ke: gits_buletin-subscribe@yahoogroups.com

BAGAIMANA BUDAYA POP TELAH MEMBODOHKAN MASYARAKAT
Budaya pop rock & roll telah memperbodoh masyarakat sejak kelahirannya tahun 1950an. Gambaran budaya pop tentang “cool” adalah seseorang yang jago dalam kebodohan, orang-orang seperti Elvis Presley, James Deans, John Lennon, para playboy rock & roll, para bintang Hollywood. Film-film budaya pop yang berpengaruh, seperti “Blackboard Jungle,” “Rebel without a Cause,” dan “The Wild One” menekankan hidup tanpa tanggung jawab, insubordinasi, free sex, dan kemalasan belajar. “The Blackboard Jungle” menggunakan soundtrack dari Bill Haley untuk mengajak orang-orang muda melupakan pelajaran mereka dan “rock sepanjang hari.” Dalam “Rebel without a Cause,” James Dean menampilkan gaya yang adalah esensi dari “cool”-nya pop: sensualitas unisex, narsisme, dan pemberontakan terhadap otoritas. “The Wild One,” yang dimainkan oleh Marlon Brando yang sangat “cool,” mempermuliakan hidup berpusatkan diri sendiri dan menelantarkan pendidikan. Hitnya Chuck Berry, “School Days” mengajar orang-orang muda untuk menukarkan pelajaran mereka yang membosankan dengan keasyikan pesta pora rock & roll: “Hail, hail rock and roll/ Deliver me from the days of old/ Long live rock and roll/ The beat of the drums, loud and bold/ Rock, rock, rock and roll/ The feelin’ is there, body and soul.” Sampai dengan tahun 1960an, budaya remaja modern telah tercipta, yaitu dengan sikap “saya duluan,” filosofi Dionisiannya, fashion-fashionnya yang sering sangat konyol (yaitu apa saja yang penting berbeda dengan orang-orang tua), dan terlebih lagi musiknya sendiri. Remaja modern telah selalu didorong oleh musik pop. Para bintang rocklah yang menentukan arah. Pendidikan yang serius diperkecil nilainya demi bersenang-senang (having fun). Saya juga dulu secara dramatis dipengaruhi oleh budaya pop semenjak saya masuk SMP pada tahun 1962. Walaupun saya memiliki kepintaran yang Allah berikan dan juga suka membaca, saya segera menyadari bahwa menjadi seorang murid yang rajin sama sekali tidak cool. Saya lalu terlalu sibuk berusaha menjadi seorang remaja budaya pop yang sejati untuk secara serius memperhatikan pelajaran-pelajaran saya dan sebagai hasilnya, saya adalah murid yang biasa atau bahkan payah. Tidak ada satu halpun yang berubah sejak tahun-tahun itu. Istilah “kutu buku” (nerd), muncul dari iklim “cool”nya para remaja. Kata ini mendefinisikan seorang muda yang serius tentang ilmu dan mungkin tidak begitu masuk dengan khalayak ramai yang konyol tetapi oh-begitu-cool. Saya diingatkan akan semua ini oleh sebuah laporan baru-baru ini dari Associated Press yang berjudul “I Love Nerds” tentang para kontestan Pertandingan Mengeja Nasional 2009. Telah diobservasi, bahwa para murid yang cemerlang, “terkesan agak bodoh pergaulan di tempat asal mereka.” Jose Cabal dari Miami berkata,” Sepertinya di tempat asal saya dianggap kutu buku (nerd). Di sini, semuanya adalah kutu buku.” Para pengeja yang serius ini telah menghafalkan puluhan ribu kata dan telah mempertajam intelektual mereka dan menyempurnakan pemakaian bahasa Inggris mereka, tetapi mereka tidak cool. Seluruh konsep tentang “nerd” (kutu buku atau orang yang dianggap pintar tapi aneh), menyingkapkan kesia-siaan dan kebodohan budaya pop. Adalah para “nerd” (kutu buku) yang menggunakan hidup mereka dengan benar, sementara gerombolan cool itu berdedikasi kepada kesia-siaan. Budaya pop remaja biasanya membuat seorang muda bodoh dan terluka oleh dosa. Tetapi kuasa cool remaja sungguh besar dan rata-rata orang muda tidak cukup bijak untuk menolaknya. Banyak laporan yang telah ditulis mengenai penuruan pendidikan di Amerika. Tahun 1994, editor dari majalah Harpen menggambarkan hasil tes nasional sebagai “laporan otopsi…..[ yang] menunjukkan kebodohan yang mematikan.” Tetapi kebanyakan penelitian tentang pendidikan di Amerika modern, tidak memperhatikan salah satu pengaruh yang paling kuat, yaitu budaya pop. Ketika grup Hermit-nya Herman menyanyi di tahun 1965: “Don’t know much about history/ Don’t know much biology/ Don’t know much about a science book,” mereka sedang menyatakan filosofi cool-nya para remaja.

PENGEBOMAN MEMBUNUH DUA ORANG DI GEREJA DI NEPAL
Sebuah organisasi Hindu mengaku bertanggungjawab atas sebuah pengeboman pada tanggal 23 Mei yang membunuh dua orang dan melukai 15 lainnya di sebuah misa Katolik di Kathmandu, Nepal. Seorang wanita yang tidak teridentifikasi memasuki gereja persis sebelum misa mulai dan meninggalkan bom tersebut dibalik sebuah tas. Bom yang kedua dijinakkan oleh polisi. Kelompok yang bernama Nepal Defense Army mengaku bertanggung jawab atas pembunuhan tersebut. Kelompok ini adalah sebuah grup Hindu radikal dan kemungkinan berkaitan dengan para Hindu ekstrimis di India yang telah menganiaya orang Kristen dengan sangat kejam. Kelompok ini dibentuk tahun 2007 dengan tujuan membangun kembali sebuah negara Hindu di Nepal (hindujagruti. org, 13 Sept. 2007). Nepal Defense Army telah memaksa agar semua orang Kristen meninggalkan Nepal dan menyatakan maksud mereka untuk “berperang melawan penyerbu-penyerbu beragama asing” (telegraphnepal. com 30 Mei 2009). NDA telah membunuh seorang imam pada bulan Juli 2008. Mereka juga telah mengebom sebuah mesjid dan sebuah gereja lainnya. Polisi telah diam-diam mengunjungi gereja-gereja di Kathmandu dan memperingatkan mereka untuk berhati-hati terhadap paket-paket yang mencurigakan.

GEREJA SKOTLANDIA MENYETUJUI PENAHBISAN SEORANG GEMBALA SIDANG HOMOSEKSUAL
Tanggal 23 Mei 2009, Pertemuan Umum Gereja Skotlandia menyetujui penunjukan seorang gembala sidang homoseksual. Hasil votingnya adalah 326 yang setuju dan 267 yang menentang. Sang gembala sidang homoseksual, Scott Rennie, ditahbiskan menjadi gembala dari Gereja Queen’s Cross di Aberdeen tahun 2008, tetapi penunjukannya diprotes dan diajukan ke hadapan dewan pengambil keputusan denominasi tersebut. Seperti Vickie Gene Robinson, yang juga ditahbiskan menjadi seorang uskup di gereja Episkopal di Amerika pada tahun 2003, Rennie menceraikan istrinya untuk hidup secara kedagingan dengan seorang laki-laki. Ini adalah dosa ganda. Pertama adalah dosa melanggar janji-janji pernikahannya yang diucapkan secara serius di hadapa Allah Mahakuasa. Kedua, ada dosa sodomi. Namun orang-orang ini sedemikian buta secara rohani sehingga mereka mengklaim bahwa mereka justru secara moral di posisi yang lebih tinggi! Setelah voting itu dilakukan, Desmond Tutu, Uskup Emeritus Anglikan dari Cape Town, Afrika Selatan, menyuarakan persetujuannya dengan mengatakan bahwa gereja tidak seharusnya mendiskusikan “siapa yang naik ranjang dengan siapa” (”Desmond Tutu Endorses Homosexual Ministers,” LifeSiteNews. com, 29 Mei 2009). Komisi Kesamaan dan Hak Asasi Manusia Skotlandia, berkomentar bahwa Gereja Skotlandia telah membuktikan dirinya “sebuah gereja yang modern bagi Skotlandia yang modern” (OneNewsNow.com, 24 Mei 2009). Memang benar demikian, dan gereja itu juga telah membuktikan dirinya sebagai pelacur rohani sesat yang mencintai dunia yang sekarang ini lebih daripada Yesus Kristus.

MUSIK PENYEMBAHAN KONTEMPORER MEMPERLEMAH POSISI FUNDAMENTALIS SEBUAH GEREJA
Ketika Musik Penyembahan Kontemporer masuk ke sebuah gereja fundamentalis, ia akan memperlemah pendirian gereja itu dan menghasilkan penurunan standar moral dan doktrin yang gradual. Almarhum Gordon Sears, yang selama bertahun-tahun melayani di bidang musik bersama dengan Rudy Atwood, merasa sedih sebelum kematiannya karena perubahan drastis yang sedang terjadi di banyak gereja-gereja Baptis fundamental. Ia memperingatkan: “Ketika standar musik diturunukan, maka standar berpakaian juga diturunkan. Ketika standar berpakaian diturunkan, maka standar perilaku juga diturunkan. Ketika standar perilaku diturunkan, maka penghargaan akan kebenaran Allah juga akan diturunkan” (Sears, Songfest newsletter, April 2001). Dr. Franck Garlock dari Majesty Music memperingatkan, “Jika sebuah gereja mulai menggunakan CCM, ia pada akhirnya akan kehilangan semua standar lainnya” (Bob Jones University, chapel, 12 Maret 2001). Almarhum pemimpin fundamentalis, Dr. Ernest Pickering, juga memberikan peringatan yang serupa: “Barangkali tidak ada hal yang memicu kemerosotan menuju posisi Injili lebih dari memasukkan Contemporary Christian Music. Hal ini tidak dapat dihindari akan memimpin kepada kemerosotan secara gradual dalam area-area lain hingga seluruh gereja terinfiltrasi oleh ide-ide dan program-program yang asing bagi posisi awal gereja tersebut” (The Tragedy of Compromise: The Origin and Impact of the New Evangelicalism, Bob Jones University Press, 1994). Victor Sears menyebut CCW sebagai kuda troya dari gerakan ekumene. “Orang-orang Baptis fundamental dan lainnya yang menolak pengajaran kharismatik tentang bahasa lidah, tanda-tanda, mujizat-mujizat, dan seterusnya, kini malah menyanyikan musik mereka di gereja-gereja kita dan mempersiapkan umat kita bagi dunia, kedagingan dan Iblis. Ini adalah gerakan kuda Troya yang baru….untuk mengebalkan gereja-gereja kita terhadap kebenaran rohani” (Victor Sears, Baptist Bible Tribune, 1981). Ita dapat melihat hal ini terjadi di mana-mana hari ini, dan alasannya adalah karena begitu banyak gembala sidang dan pengatur musik gereja yang tidak memiliki pengenalan dan hikmat rohani dan rela untuk memberikan kepada umat apa yang merea ingini, bukan apa yang mereka butuhkan.

KELAHIRAN DI LUAR NIKAH MENCAPAI TINGKATAN REKOR DI AMERIKA
Pada tahun 2007, persentase kelahiran yang terjadi di luar nikah di Amerika mencapai 40%. Ini adalah dua kali lipat dibandingkan dengan 1980 dan delapan kali lipat dari 1950. Ini adalah cerminan penghancuran institusi pernikahan oleh sosialisme, hukum perceraian yang longgar, dan “moralitas baru” yang diusung oleh budaya pop. Amerika kini sudah mendekati teladan kacaunya Eropa. Di Islandia, 66% kelahiran terjadi pada wanita yang belum menikah; di Swedia, 55%; di Norwegia 54%; di Denmark 46%. Firman Allah memperingatkan: “Kebenaran meninggikan derajat bangsa, tetapi dosa adalah noda bangsa” (Amsal 14:34).

Berita Mingguan 30 Mei 2009

Filed under: BERITA — dedewijaya @ 11:47 AM

Please Vote my Blog at SINI and SINI

Sumber: Way of Life Ministry, Friday Church News Notes
Penerjemah: Dr. Steven E. Liauw
Graphe International Theological Seminary
Untuk berlangganan, kirim email ke: gits_buletin- subscribe@ yahoogroups. com

SATU LAGI PEMENANG AMERICAN IDOL YANG KRISTEN: DUNIA SEKALIGUS KRISTUS
Pemenang baru dari acara televisi yang sangat duniawi, American Idol, adalah Kris Allen, seorang “Kristen yang saleh” yang juga adalah worship leader di Gereja New Life di Conway, Arkansas, dan telah terlibat dalam pekerjaan misi di berbagai tempat. Sementara mengejar predikat sebagai American Idol, Allen menyanyikan lagu-lagu yang ditulis oleh para rockers kotor seperti Freddie Mercury yang homoseksual (”We Are the Champions”), Michael Jackson yang pernah dituntut pelecehan seksual terhadap anak-anak dan adalah seorang monster uniseks (”Man in the Mirror”), Marvin Gaye yang adalah seorang pecandu obat, prostitusi dan pornografi (”What’s Going On?”) dan rapper Kayne West (”Heartless” ), yang muncul dengan gaya yang sangat menghujat di sampul depan majalah Rolling menggambarkan Yesus memakai mahkota duri. Menurut Business Insider, adalah “fans-fans remaja putri” Allen yang mempertahankan dia dalam kompetisi itu (”Idol Finalist Kris Allen,” 13 Mei 2009). Allen memberitahu gembala sidangnya bahwa “merasakan hangatnya lampu panggung dan melihat hadirin yang dengan semangat memandangi dia, mengingatkannya akan satu hal saja: yaitu pergi ke gereja.” Tetapi hal ini hanya mungkin karena gereja-gereja kontemporer meniru dunia, tipe musik yang sama format band rock yang sama, gaya pertunjukan rock yang sama, pakaian yang sama, kecanduan yang sama terhadap back beat yang berat, dan filosofi “jangan menghakimi” yang sama. Pemenang-pemenang dan finalis-finalis lain dari kompetisi American Idol yang mengaku Kristen adalah Kelly Clarkson, Clay Aiken, Ruben Studdard, R.J. Helton, Chris Daughtry, Carry Underwood, Jordin Sparks, dan David Cook. Aiken dan Helton telah mengakui bahwa mereka adalah homoseksual. Pada tanggal 20 Oktober 2006, sebuah edisi majalah People mengutip Helton mengatakan, “Hanya karena saya gay bukan berarti saya tidak dapat mengasihi Allah. Saya sangat bangga dengan siapa saya.” (Helton’s Christian music albom Real Life sold 20,000 copies.) Aiken menjadi fitur dari sampul depan majalah People pada edisi 24 September 2008 dengan kata-kata, “Ya, saya gay.” American Idol memang sudah memiliki nama yang tepat [`idol' adalah berhala dalam bahasa Indonesia], karena ia mewakili kultur pop modern dalam segala narsismenya, sensualitas kedagingannya, ketidaksopanannya, uniseksualitasnya, kesia-siaannya, dan kerelatifan moralnya. Para produsen dan juri-jurinya sama sekali tidak berpura-pura bahwa acara itu adalah acara yang saleh. Bahkan, acara ini adalah penggenapan yang sempurna akan dunia yang digambarkan dalam 1 Yohanes 2:16, dunia yang tidak boleh dikasihi oleh orang percaya, “Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia” (1 Yoh. 2:16). Tidaklah mungkin untuk mengasihi dunia dan Kristus sekaligus. Firman Allah mengatakan “Hai kamu, orang-orang yang tidak setia! Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah” (Yak. 4:4). Kekristenan yang diwakili oleh para kontestan American Idol bukanlah kekristenan yang Alkitabiah; itu adalah kekristenan sesat yang telah diprediksikan dalam nubuatan Alkitab, kekristenan yang “hidup menurut hawa nafsu sendiri.” “Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya” (2 Tim. 4:3).
Editor: Hal yang menyedihkan yang sama adalah bahwa begitu banyak orang Indonesia yang kecanduan dengan Indonesian Idol.

BART EHRMAN: SEORANG TIDAK PERCAYA YANG BERMASALAH DENGAN ALLAH
Bart Ehrman adalah penulis dari buku “God’s Problem: How the Bible Fails to Answer Our Most Important Question – Why We Suffer.” Ehrman adalah seorang “ahli Alkitab” yang lalu menolak akar-akar fundamentalisnya untuk berpaling kepada padang gurun agnostikisme yang mematikan. Hari ini dia terutama bergerak dalam mengkritik iman Perjanjian Baru Kristen sambil berpura-pura menghormatinya. Karena ketidakpercayaannya , dia telah menjadi semacam anak kesayangan dari media umum. Ia telah diwawancarai di History Channel, Discovery Channel, National Public Radio, National Geographic, BBC, Washington Post, CNN, dan lain-lainnya. Ehrman mengklaim bahwa salah satu titik balik dalam perjalanannya menuju ketidakberimanan adalah ketidakmampuannya menjawab mengapa Allah yang mahakuasa membiarkan penderitaan di dunia ini. Alkitab menjawab pertanyaan ini, tetapi Ehrman tidak suka jawabannya, jadi dia berpura-pura bahwa jawabannya tidak bagus. Jawabannya adalah bahwa Allah menciptakan manusia sempurna dan menaruhnya di sebuah taman firdaus yang indah, tetapi manusia juga diciptakan dengan kehendak yang dapat memberontak melawan hukum Allah. Pada saat yang sama, Allah bukan hanya maha penyayang, Ia adalah Allah yang kudus dan adil dan Dia menghukum pelanggaran terhadap hukumNya. Jika ini tidak benar, maka dasar moral dalam alam semesta ini hancur dan anarki akan berkuasa (sebagaimana memang terjadi di dunia yang tanpa Allah ini). Upah dosa ialah maut (Rom. 6:23), dan Allah telah menghukum dunia karena dosanya. Pada saat yang sama, Allah telah menyediakan jalan keselamatan dengan harga yang mahal bagi diriNya sendiri. Ia mengutus AnakNya yang kekal ke dalam dunia, lahir dari seorang perawan, untuk menjadi daging sebagai seorang manusia yang tidak berdosa dan untuk mati suatu kematian yang mengerikan di atas salib untuk membayar hukuman yang seharusnya diterima oleh orang berdosa. Ia bangkit dari maut dan memerintahkan agar Injil (kabar baik) diberitakan kepada semua orang, menawarkan keselamatan kekal bagi mereka yang bertobat and percaya. Allah telah memberikan manusia terang (Yoh. 1:9), tetapi sebagian besar menolaknya. Itu bukan salah Allah. Tidak ada yang tidak benar tentang Allah dalam Alkitab, tetapi Dia adalah Allah dan Dia tidak perlu memberi pertanggungan jawab kepada manusia. Allah dibenarkan oleh mereka yang percaya. Bukan Allah yang memiliki masalah. Adalah Bart Ehrman-Bart Ehrman dalam dunia ini yang bermasalah, dan ini bukan masalah yang bisa selesai setelah masuk kubur.

ROBERT DICK WILSON: SEORANG TERPELAJAR YANG HEBAT YANG PERCAYA ALKITAB
Dalam buku-buku, ceramah-ceramah, dan wawancara-wawancara nya, Bart Ehrman dan teman-teman modernisnya ingin membuat semua orang percaya bahwa tidak ada ahli Alkitab yang sejati yang menerima bahwa akurasi sejarah Alkitab dapat dipertahankan. Tetapi ini adalah nonsense! Banyak sekali ahli dan orang-orang terpelajar yang mempertahankan Alkitab sebagai kitab yang diilhamkan secara ilahi. ROBERT DICK WILSON telah disebut “barangkali otoritas yang paling menonjol dalam bidang bahasa-bahasa kuno Timur Tengah.” Ketika dia tamat dari Princeton pada usia 20 tahun, ia dapat membaca Perjanjian Baru dalam 9 bahasa. Sampai akhirnya ia telah mempelajari 45 bahasa, termasuk semua bahasa yang ada terjemahan Alkitabnya sebelum tahun 600 M. Pada usia 25 tahun, Wilson memutuskan untuk mendedikasikan hidupnya guna menyelidiki kebenaran sejarah Alkitab untuk melihat apakah dapat dipertahankan melawan serangan theologi modernisme. Berdasarkan umur panjang para pendahulunya, ia memperkirakan bahwa ia mungkin memiliki 45 tahun lagi untuk proyek tersebut. Membagi masa kerja ini menjadi tiga bagian, ia mengkhususkan 15 tahun pertama untuk menguasai semua bahasa yang ada hubungannya dengan teks Perjanjian Lama, dan 15 tahun berikutnya untuk mempelajari Perjanjian Lama itu sendiri, dan 15 tahun terakhir untuk menuliskan hasil risetnya tersebut. Bahasa-bahasa yang dia pelajari antara lain adalah Babilonia, Etiopia, Fenisia, Aram, Mesir, Koptik, Persia, Armenia, Arab, dan Siria. Pusat Sejarah Gereja Presbyterian di Amerika mendaftarkan lebih dari 100 tulisan Wilson yang telah dipublikasikan. Ketika ditanya mengenai apa yang ia coba berikan kepada kurang lebih 2000 murid yang duduk di bawah pelayanannya, Wilson menjawab, “saya mencoba untuk memberikan mereka iman yang sedemikian intelijen terhadap Kitab Suci Perjanjian Lama, sehingga mereka tidak akan lagi meragukannya seumur hidup mereka. Saya mencoba untuk memberikan mereka bukti. Saya mencoba untuk menunjukkan kepada mereka bahwa ada dasar yang masuk akal untuk mempercayai sejarah Perjanjian Lama. Saya pernah mengalami hari-hari saat saya gemetar untuk memulai suatu penyelidikan baru, tetapi saya sudah melampaui tahap itu. Saya telah menjadi yakin sekali, bahwa tida ada satu orang pun yang tahu cukup banyak untuk menyerang kebenaran Perjanjian Lama. Dalam situasi apapun di mana ada cukup bukti dokumenter untuk melakukan penyelidikan, pernyataan-pernyata an Alkitab, dalam teks-teks aslinya, telah melalui segala ujian” (Robert Dick Wilson, Is the Higher Criticism Scholarly? kata depan oleh Philip Howard, 1922). Mengapakah Robert Dick Wilson mempercayai Alkitab dan mengajar murid-muridnya untuk mempercayainya dan percaya pada Allah, sementara Bart Ehrman tidak mempercayai Alkitab dan menyuruh murid-muridnya untuk menjadi skeptis? Ini bukanlah masalah Ehrman lebih terpelajar. Ini masalah iman. Seperti yang dikatakan Yesus, hati yang tidak percaya tidak akan diyakinkan walaupun para saksi muncul dari antara orang mati (Lukas 16:31).

MENGAPAKAH KETIDAKBERIMANAN BERKUASA DI KALANGAN TERTINGGI “AHLI-AHLI” ALKITAB?
Fakta bahwa ketidakberimanan mendominasi para pelajar dan “ahli” Alkitab hari ini adalah penggenapan nubuat Alkitab dan adalah bukti lebih lanjut bahwa Alkitab tiada salah. Sekitar 2000 tahun yang lalu, rasul Paulus mengintip lorong waktu dan membuat prediksi berikut mengenai hari-hari terakhir: ” Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar…..Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu!…….. yang walaupun selalu ingin diajar, namun tidak pernah dapat mengenal kebenaran… ….sedangkan orang jahat dan penipu akan bertambah jahat, mereka menyesatkan dan disesatkan.. ……Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng” (2 Tim. 3:1, 5, 7, 13, 4:3-4). Paulus menubuatkan bahwa jalannya zaman gereja akan diwarnai oleh kesesatan yang semakin hebat, oleh serangan guru-guru palsu yang akan menyangkali iman, dan itulah persis yang kita lihat hari ini. Nubuat-nubuat lain menggambarkan kedatangan dan penghakiman atas guru-guru Alkitab yang menyangkali Kristus sebagai Tuhan, yaitu persisi yang dilakukan oleh Bart Ehrman dan teman-teman liberalnya (mis. 2 Petrus 2; Yudas). Jika Perjanjian Baru adalah suatu kumpulan mitos dan kebohongan sebagaimana diklaim oleh orang-orang seperti Bart Ehrman, mengapakah ia mengandung nubuatan yang sedemikian tepat?

Berita Mingguan 23 Mei 2009

Filed under: BERITA — dedewijaya @ 11:43 AM

Please Vote my Blog at SINI and SINI

Sumber: Way of Life Ministry, Friday Church News Notes
Penerjemah: Dr. Steven E. Liauw
Graphe International Theological Seminary
Untuk berlangganan, kirim email ke: gits_buletin-subscribe@yahoogroups.com

KATEDRAL ANGLIKAN MENYIARKAN LAGU LENNON YANG ATHEISTIK
Lonceng-lonceng Katedral Anglikan di Liverpool, menyiarkan lagu John Lennon yang atheistik berjudul “Imagine” tiga kali tanggal 16 Mei lalu. Seorang jurubicara katedral tersebut mengatakan, “Kami merasa bahwa lagu ini telah menginspirasikan banyak orang untuk memikirkan tentang hubungan mereka dengan Allah dalam hidup mereka” (”Imagine That,” The Daily Mail, 17 Mei 2009). Sungguh, banyak anggota Gereja Anglikan tentunya tidak bermasalah sedikitpun untuk membayangkan, bersama Lennon, bahwa tidak ada surga atau neraka. Pada tahun 1994, dilaporkan oleh Sunday Times (31 Juli), bahwa sedikitnya 100 imam Anglikan adalah atheis yang tidak percaya pada “Allah yang eksternal dan supranatural. ” Tahun 1996, komisi doktrinal dari Gereja Inggris mengatakan bahwa neraka bukanlah tempat yang ada api dan penyiksaan kekal, dan Uskup Episkopal, John Spong, menulis dalam papernya bahwa gambaran Allah sebagaimana dalam Alkitab “tidak berlaku lagi” (ENI, 6 Des. 1996). Pada bulan September 2008, Gereja Inggris secara resmi meminta maaf kepada Charles Darwin karena telah menolak teori evolusinya (”Church Makes `Ludicrous’ Apology,” The Daily Mail, 13 Sept. 2008). John Lennon adalah seorang anti-Kristus. Bukunya yang berjudul A Spaniard in the Works, menggambarkan Yesus sebagai El Pifico, “seorang Spanyol Katolik, fasis yang gendut, pemakan bawang putih, bau, kecil dan kuning, dan yang ******* (makian).” Dalam bukunya yang jahat itu, Lennon terus menghujati Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Dalam bukunya “I Found Out,” Lennon menyanyi, “Tidak ada Yesus yang akan datang dari langit,” dan dalam lagunya “God,” ia mengatakan, “Saya tidak percaya Alkitab. Saya tidak percaya Yesus. Saya hanya percaya saya sendiri.” Dalam sebuah wawancara dengan sebuah koran di Inggris, Lennon mendefinisikan Allah dengan kata-kata di bawah ini: “Semua energi adalah Allah. Energimu sendiri dan energi mereka, entahkan sedang melakukan hal-hal yang ilahi atau hal-hal yang tidak ilahi” (The Daily Sketch, 9 Okt. 1967). Lennon dan Yoko Ono terlibat occultisme secara mendalam. Buku-buku seperti “Hellhounds on their Trail” yang ditulis oleh Robert Rosen, dan juga buku “Lennon in America” oleh Geoffrey Giuliano, menggambarkan bagaimana Lennon membeli seluruh bagian tentang occult di berbagai toko buku, berkonsultasi dengan kartu tarot, ahli astrologi, dan orang-orang psikis, belajar mengucapkan mantra, mengejar kekuatan magis dari artifak-artifak Mesir, dan percaya dalam reinkarnasi.
Editor: Mengherankan bahwa banyak orang “Kristen” yang suka lagu-lagu oleh Lennon dan juga tokoh-tokoh Rock `n Roll lainnya. Hidup mereka bertentangan penuh dengan Kristus, dan itu tercermin juga dalam lagu-lagu mereka.

JIMMY CARTER MENGATAKAH BAHWA KETIDAKHARMONISAN ANTARA ORANG-ORANG KRISTEN ADALAH “SEPERTI KANKER”
Berbicara di sebuah pertemuan regional New Baptist Covenant pada bulan April, mantan presiden U.S.A. itu menyamakan ketidakharmonisan antara orang-orang Kristen dengan “sebuah kanker yang menjalar dalam tubuh Kristus.” Ia mengatakan bahwa cukuplah untuk percaya keselamatan “oleh kasih karunia melalui iman dalam Yesus Kristus,” dan bahwa isu-isu lain harus “dikesampingkan” (”Jimmy Carter,” The Christian Post, 27 April 2009). Ini membuat kita bertanya-tanya, mengapa Tuhan memberikan pada kita Alkitab yang demikian besar, jika sebagian besar isinya tidak atau sedikit berpengaruh! Pertemuan itu, yang diadakan pada tanggal 25-26 April di Wake Forest University di Winston-Salem, North Carolina adalah salah satu dari serangkaian konferensi regional yang muncul dari New Baptist Covenant Celebration pada Januari 2008 di Atlanta, yang mengumpulkan bersama 15.000 orang Baptis dari 30 lebih denominasi dan organisasi. Jimmy Carter adalah seseorang yang sangat salah dan yang tidak mempercayai kata-kata Alkitab. Satu-satunya hal yang diibaratkan kanker dalam Perjanjian Baru adalah pengajaran sesat. Rasul Paulus memberikan peringatan berikut ” Tetapi hindarilah omongan yang kosong dan yang tak suci yang hanya menambah kefasikan. Perkataan mereka menjalar seperti penyakit kanker. Di antara mereka termasuk Himeneus dan Filetus, yang telah menyimpang dari kebenaran dengan mengajarkan bahwa kebangkitan kita telah berlangsung dan dengan demikian merusak iman sebagian orang” (2 Tim. 2:6-8). Faktanya, sang Rasul bisa saja mengacu kepada orang-orang seperti Jimmy Carter, yang telah merohanikan kedatangan kembali Kristus melalui penafsiran allegoris terhadap nubuat-nubuat Alkitab.

PEMIMPIN GERAKAN EMERGING CHURCH INGIN AGAR ORANG-ORANG KRISTEN YANG PERCAYA AKHIR ZAMAN “DI KONFRONTASI DENGAN KERAS”
Berikut ini disadur dari Lighthouse Trails, 4 Mei 2009: “Jika kamu adalah seorang Kristen yang percaya Alkitab adalah Firman Allah yang diinspirasikan dan percaya bahwa Yesus Kristus akan datang kembali, kamu sedang dimarginalisasikan. Dan mungkin kamu tidak sadar akan hal itu. Mungkin mengejutkan untuk tahu dari mana proses marginalisasi ini berlangsung. Kita bukan berbicara mengenai dunia hari ini….kita sedang berbicara mengenai orang-orang yang mengaku Kristen dan yang kebetulan sangat berpengaruh. Bahkan, salah satu dari mereka, Rick Warren, baru saja dinamakan oleh majalah Time sebagai anggota 100 orang paling berpengaruh di seluruh dunia. Dalam sebuah artikel bulan April 2009, di majalah Sojourner, pemimpin gerakan emerging church, Brian McLaren, dengan jelas menargetkan orang-orang Kristen yang percaya Yesus Kristus sedang datang kembali, mensinyalir bahwa tipe Kristen seperti inilah yang menyebabkan tidak ada damai di Timur Tengah.

Ia mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh orang-orang Kristen yang percaya akhir zaman ini adalah “buruk sekali,” “mematikan,” dan “terdistorsi. ” McLaren mengatakan bahwa dia tumbuh besar dengan pandangan dispensasional (kepercayaan bahwa Yesus Kristus akan datang dan mendirikan kerajaanNya di bumi) tetapi lalu sadar bahwa pandangan ini “secara moral dan etika berbahaya.” Ia menyamakan sistem kepercayaan ini dengan rasisme pada tahun 50an dan 60an…..Banyak yang lain telah bergabung dengan McLaren dalam usaha untuk memarginalisasi dan mendiamkan orang-orang Kristen Alkitabiah. Pembela utama Rick Warren (dan menurut informasi juga adalah seorang staf di Saddleback), baru-baru ini menayangkan sebuah artikel di Internet yang mengatakan bahwa pelayanan-pelayanan yang mempertahankan iman (ia memberi contoh Lighthouse Trails) adalah seperti bidat-bidat yang tidak stabil mentalnya, `yang bukanlah orang-orang normal, tukang komplain rata-rata, tukang kritik dan pengomel biasa yang tidak senang dengan hidup ini…..mereka mematikan.’ Tony Campolo, dalam bukunya Speaking My Mind, mengatakan bahwa “orang-orang Kristen kaku yang percaya bahwa Yesus bisa saja datang segera,” adalah “masalah sebenarnya bagi seluruh dunia.”….Dalam bukunya Vintage Jesus, Mark Driscoll mengejek-ejek orang-orang Kristen yang percaya akan ada Armageddon dan pengangkatan (hal. 44, 157).”

MENYAMPAIKAN FIRMAN TANPA PEDULI RESPONSNYA
“Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya…. ” (2 Tim. 4:2). Kita harus menyampaikan Firman Allah tanpa peduli bagaimana umat meresponinya, dan nabi-nabi yang dahulu adalah teladan yang hebat dalam hal ini. Allah memberitahu Yesaya, Yehezkiel, Yeremia, dan yang lainnya bahwa Israel tidak akan mendengarkan mereka, tetapi mereka tetap berkhotbah. Seringkali dalam zaman jemaat juga, umat Allah memberitakan Injil dengan hasil yang sedikit. Adoniram Judson menginjil di Burma selama 6 tahun sebelum ia mendapatkan petobat Burmanya yang pertama, dan setelah 12 tahun hanya memiliki 18 petobat. William Carey memberitakan Injil selama tujuh tahun di India, Robert Morrison selama tujuh tahun di Cina, dan Henry Richard selama tujuh tahun di Congo sebelum mereka mendapatkan petobat mereka yang pertama. Robert Moffatt bekerja selama delapan tahun di Kuruman (di ujung utara Afrika Selatan) sebelum ia mendapatkan petobatnya yang pertama. Para misionari American Congregational yang pertama, berkhotbah di Thailand sejak 1831 hingga 1849 tanpa seorang petobat pun, dan para Presbiterian Amerika berjuang di negara yang sama selama 18 tahun lagi sebelum mereka mendapatkan petobat mereka yang pertama. “Sampaikanlah perkataan-perkataan -Ku kepada mereka, baik mereka mau mendengarkan atau tidak, sebab mereka adalah pemberontak. Dan engkau, anak manusia, dengarlah apa yang Kufirmankan kepadamu; janganlah memberontak seperti kaum pemberontak ini. Ngangakanlah mulutmu dan makanlah apa yang Kuberikan kepadamu” (Yeh. 2:7-8).

HATI-HATI TERHADAP GURU PALSU HENRY WRIGHT DENGAN PROGRAM KESEHATAN TOTALNYA
Henry Wright, gembala sidang dari Pleasent Valley Church, Thomaston, Georgia, dan juga pemimpin dari sebuah pelayanan yang bernama Be in Health, mengklaim bahwa semua sakit penyakit memiliki akar rohani. Jadi, hal-hal seperti aneurisma (penggelembungan pembuluh darah), stroke, wasir, dan pembengkakan pembuluh darah, misalnya, menurut dia disebabkan oleh ketakukan dan kekhawatiran. Ia menyalahgunakan baik Kitab Suci maupun ilmu kedokteran untuk “membuktikan” hal-hal yang dia katakan. Website dia berkata, “Kami berdedikasi untuk menghilangkan dan mencegah semua penyakit rohani, psikologis, dan biologis,” dan “kehendak Allah yang sempurna adalah bahwa kamu tidak sakit.” Sebaliknya, Rasul Paulus sendiri menderita suatu penyakit yang Allah tidak mau hilangkan (2 Kor. 12:7-10). Rasul yang bijak itu menyimpulkan, “Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus.

Sebab jika aku lemah, maka aku kuat” (2 Kor. 12:10). Kata “kelemahan” dalam bahasa Yunaninya adalah “astheneia,” yang di bagian lain diterjemahkan “sakit” (Kis. 28:9) dan “penyakit” (Yoh. 11:4). Pengkhotbah yang setia itu, Timotius, secara fisik lemah dan sering sakit, dan Paulus tidak menawarkan padanya suatu program kesehatan yang sempurna (1 Tim. 5:23). Paulus juga terpaksa meninggalkan teman sekerjanya Trofimus di Miletus karena dia sakit dan Allah tidak menyembuhkannya (2 Tim. 4:20). Seorang istri yang terganggu menulis kepada Rick Miesel dari Biblical Discernment Ministries pada bulan November 2002, dan menjelaskan bahwa suaminya telah menghadiri seminar Wright, dan pulang ke rumah “sambil berkata bahwa dosa adalah setan, kanker adalah kepahitan, kebanyakan penyakit memiliki akar rohani, dan bahwa segala sesuatu di planet ini yang kurang dari 70 tahun umurnya adalah kutuk, dll.” Wright mengatakan di seminar tersebut, “Hati-hati ketika kamu pulang ke rumah, karena Setan akan mencoba dan menggunakan orang yang terdekat denganmu untuk membuatmu meragukan apa yang telah kami ajarkan padamu.” Sama sekali tidak ada peringatan dalam seminar tersebut untuk menguji segala sesuatu dengan Firman Allah (1 Tes. 5:21) dan memegang yang baik (Kis. 17:21). Sebaliknya, orang tersebut diajarkan untuk menerima pengajaran tanpa kritik. Ketika istrinya memanggil dia dan bertanya apakah dia menggunakan pengujian yang alkitabiah, ia memberikan jawaban yang bodoh dan berbahaya, “Saya tidak akan memfitnah orang-orang ini dengan cara tidak setuju dengan mereka.”

24 June 2009

THE PRE-TRIBULATION RAPTURE

Filed under: AKHIR ZAMAN — dedewijaya @ 5:38 AM

FBIS News Service, 23 Juni 2009

Updated June 24, 2009 (first published May 2, 2003) (David Cloud, Fundamental Baptist Information Service, P.O. Box 610368, Port Huron, MI 48061, 866-295-4143, fbns@wayoflife.org; for instructions about subscribing and unsubscribing or changing addresses, see the information paragraph at the end of the article) –

The following is enlarged from the Way of Life Advanced Bible Studies Course UNDERSTANDING BIBLE PROPHECY (third edition, March 2009). This thorough and practical course enables the student to understand and enjoy Bible prophecy. It deals with the interpretation of prophecy, dispensationalism, the covenants, the kingdom of God, the nations in prophecy, and Messianic prophecy. A large section is devoted to “a prophetic overview of the future,” detailing the Bible’s prophecies that have not yet been fulfilled. Other sections deal with the prophecies of Ezekiel, Daniel, and Revelation. 219 pages, $9.95


_____________________________

The word “rapture” does not appear in the Bible, but it is a term used to describe the catching away of the saints of 1 Thessalonians 4:13-18. The term “caught up” in 1 Th. 4:17 is also translated “pluck” (Jn. 10:28), “take by force” (Acts 23:10), and “pulling [out of the fire]” (Jude 23). It refers to a forceful seizing and a snatching away. It is used of the Spirit of God snatching away Philip after the conversion of the Ethiopian eunuch (Acts 8:39). This is exactly what Christ will do to the New Testament believers before the onslaught of the Great Tribulation.

Notes on 1 Thessalonians 4:13-18:

1. The Rapture is (1) a resurrection of the dead in Christ (v. 14-16), (2) a catching up and translation of the living New Testament saints (v. 17).
2. The dead in Christ are with Him in heaven (v. 14).
3. The Rapture is the believer’s hope (v. 13). It is what we are looking forward to.
4. The Rapture is certain. (a) It is as sure as Christ’s resurrection (v. 14). (b) It is the word of the Lord (v. 15).
5. The Rapture is a comfort (v. 18). If this translation did not occur until the end of the torments of the Great Tribulation, it certainly would not produce solace for the Christian standing on this side of the Tribulation.
6. The Rapture is before the day of the Lord’s wrath (5:1-5, 9).

This event is also described in 1 Corinthians 15:51-58.

1. The Rapture is a mystery that was not revealed in the Old Testament (v. 51). The Old Testament prophets taught about the resurrection, but they did not teach that some would be caught up without dying. The translation of the New Testament saints will involve an instantaneous change from morality to immortality. Those believers living at that hour will never see death.

2. The translation of the church-age saints is said to be a source of comfort and encouragement (1 Co. 15:58). Again, if this translation did not occur until the end of the torments of the Great Tribulation, it would not be a comfort.

Among those who believe in a literal Rapture of church-age saints, there are three general positions. All of these pertain to the timing of the Rapture in relation to the Great Tribulation. The three views are (1) Pre-tribulational, meaning the church-age saints will be raptured before the Great Tribulation. (2) Mid-tribulational (also called Pre-wrath Rapture), meaning the church-age saints will go through the first half of the Tribulation. (3) Post-tribulational, meaning the church-age saints will go through the entire Tribulation period.

THE EVIDENCE FOR THE PRE-TRIBULATION RAPTURE

For the following reasons we are convinced the Bible teaches a Pre-tribulational Rapture. In the following study, we are using the term “church” in a general, institutional sense:

1. CHURCH-AGE BELIEVERS ARE PROMISED SALVATION FROM WRATH (1 Th. 1:9-10; 5:1-9; Rom. 5:9; Rev. 3:10).

The Great Tribulation is expressly called the day of God’s wrath. Today the Lord is withholding His anger; He is seated upon a throne of grace, but the day approaches when He will take the seat of judgment. Then “the day of his wrath” will be upon all the world (Ps. 110:5; Isa. 13:6-13; Rev. 6:16-17). It is true that in every century, Bible-believing churches have been subjected to persecution, but this is quite different from the Great Tribulation. The general persecutions of the saints are caused by the wrath of wicked men and the devil, whereas the seven-year Tribulation is a period especially pertaining to God’s wrath (Rev. 6:16-17; 14:10). Some feel that the church will not be saved out of the time of wrath, but will be saved through it. This cannot be true, since the Bible clearly reveals that those who are on earth during the Great Tribulation will not be delivered from wrath but will be overcome (Rev. 13:7). The Scriptures that promise church-a ge believers deliverance from wrath must refer to salvation out from the very presence of the wrath. Concerning the Great Tribulation, we are told that “as a snare shall it come on all them that dwell on the face of the whole earth” (Lk. 21:35). Therefore, church-age believers must either be physically removed from the earth, or they will be involved in the day of wrath. God promises removal. “… I also will keep thee from the hour of temptation, which shall come upon all the world, to try them that dwell upon the earth” (Rev. 3:10). This verse does not say that God will keep the church age saints through the temptation but from it.

2. THE HOLY SPIRIT IS TO BE REMOVED BEFORE THE TRIBULATION (2 Th. 2:1-8).

In other passages of the Bible, the Holy Spirit is said to be the restrainer of sin (Ge. 6:3; Is. 59:19). The Holy Spirit came into the world in His present dispensation at Pentecost (Acts 2), when He came to empower the church for the Great Commission (Acts 1:8). He will remove the church-age believers before the time of God’s great wrath. This does not mean the Holy Spirit will not be present in the world at that time. He is God and is omnipresent. It means that He will not be present in the same sense that He is in this age.

3. CHURCH-AGE BELIEVERS ARE PROMISED MANSIONS IN HEAVEN (Jn. 14:1-3).

When the Lord Jesus returns to the earth at the end of the Tribulation, He sets up His Messianic kingdom. If the Rapture occurred at the end of the Tribulation, the promise to church-age believers pertaining to Heaven would not be fulfilled. Church-age believers are a heavenly people with a heavenly hope (Eph. 1; Ph. 3:20; Col. 3:1-3). Some dispensationalists teach that the church-age saints will live in heaven during the millennium. I believe they will live both in heaven and in earth. Jesus promised the apostles that they would reign with Him over Israel (Matt. 19:28).

4. THE TRANSLATION OF CHURCH-AGE SAINTS IS SAID TO BE IMMINENT (it could happen any time) whereas the Second Coming is said to be preceded by specific signs.

Christ taught this (Matthew 24:42, 44; 25:13; Mark 13:33). Paul taught it (Phil. 4:5; Titus 2:12-13). James taught it (Jam. 5:8-9). And Peter taught it (1 Pet. 4:7). The early Christians were living in expectation of Christ’s return (1 Th. 1:9-10). The apostle Paul instructed the church at Thessalonica that they did not need to heed signs and times, because the New Testament believer has been promised redemption from the “day of darkness” that shall overcome the whole world (1 Th. 5:1-9). The church is not waiting for the appearing of the Antichrist, but for the redemption of the Son of God.

5. THE CHURCH IS A MYSTERY UNREVEALED IN THE Old TESTAMENT (Eph. 3:1-11).

The New Testament church has no part in the chronology of events foretold by the Old Testament prophets. They clearly foretold the first coming of Christ, His miraculous birth, life, death, resurrection, and ascension. The same prophets described Christ’s Second Coming in glory, preceded by a time of unprecedented worldwide tribulation, and followed by the establishment of the glorious Messianic kingdom centered in Jerusalem. But these prophets did not see the present church age–“which in other ages was not made known unto the sons of men, as it is now revealed unto his holy apostles and prophets by the Spirit” (Eph. 3:5).

Between the first and second coming, there is a time gap that was not seen by the Old Testament prophets. This gap is the church age. The prophets did not see that Israel would be set aside temporarily while God called out from among all nations a special body of people. After He has accomplished this purpose and the fullness of the Gentiles is come in, God will restart Israel’s prophetic clock and will fulfill all Old Testament prophecies in relation to His ancient chosen nation. “… blindness in part is happened to Israel, until the fulness of the Gentiles be come in” (Rom. 11:25).

The Great Tribulation deals with Israel, not with church-age believers. This present mystery period will end with the removal of the church-age believers from the earth; and the Lord will then take up His plan for the nation Israel as He fulfills the Old Testament prophecies of the time of Jacob’s trouble, the coming of Messiah in glory, the regathering of the remnant, and the establishment of the Messianic kingdom.

6. THERE ARE EVENTS INTERVENING BETWEEN THE TRANSLATION AND RESURRECTION OF THE CHURCH AND THE SECOND ADVENT.

According to 1 Cor. 15:51, EVERY saved person will be translated at the Rapture. Yet Mat. 25:31-46 shows that when Jesus returns to the earth at the Second Advent He will find many true believers in their natural bodies. There must, then, be a period of time between the Rapture of the church-age saints and the Second Coming to allow for these folk to be saved. It is reasonable to believe that this period is the seven years of the Great Tribulation.

7. THE BOOK OF REVELATION SHOWS THAT THE CHURCH IS NOT ON EARTH DURING THE TRIBULATION.

(a) The church is not seen on earth in chapters 4-18.

(b) The witness for God in the earth during the Tribulation is Israel, not the church (Rev. 7).

(c) The prayers of the saints in Revelation 8 are prayers for judgment. Only Israel prayed such prayers. The church-age saints are instructed to pray for her enemies, not against them (Lk. 9:51-56). These prayers of Revelation are those of the Psalms and are based on God’s promise to Abraham to curse those that cursed Israel (Gen. 12:1-3).

(d) The scorpion-like creatures of Revelation 9 are given freedom to hurt all earth-dwellers except those Jews who were sealed by the angel of Revelation 7; if church-age believers were on earth, they would be subject to this horrible judgment of God.

(e) Revelation 10 identifies the events of Revelation 4-18 with those foretold by Old Testament prophets–the days of the Great Tribulation, the “day of the Lord.” The church age was never in the view of these Old Testament prophecies; it was an unrevealed mystery. The church has a different purpose and program than national Israel. It is Israel that is in view in Old Testament prophecy and in Revelation 4-18.

(f) The ministry of the two witnesses of Revelation 11 identifies them with national Israel and with Old Testament prophecies of the “day of the Lord.” The two witnesses minister from Jerusalem, Israel’s capital. The churches have no such capital, her hope being heavenly, not earthly (Col. 3:1-4; Phil. 3:17-21). The two witnesses are clothed in sackcloth, typical of Old Testament Israel, not New Testament believers. Nowhere are the churches seen in sackcloth. They are told, rather, to “rejoice in the Lord alway: and again I say, Rejoice” (Phil. 4:4). The church-age believer’s judgment is forever past, and he is to keep his mind centered in the heavenlies where, in position, he is seated eternally victorious with Christ (Eph. 2:5-10). Revelation 11:4 identifies the two witnesses with Old Testament prophecy. Zech. 4:3, 11, 14 is a prophecy of Israel, not the church. Further, the two witnesses call down judgment upon their enemies in Rev. 10:5 -6. Jesus rebuked his disciples for desiring to do just this and instructed the church-age believer to pray for the well-being of his enemies, not for their destruction (Lk. 9:54-56; Rom. 12:14, 17-21).

(g) The devil persecutes Israel, not the church, during the Tribulation (Rev. 12). There can be no doubt that the woman in this chapter is identified as national Israel. Verse 5 shows the woman bringing forth Christ; it is obvious that Jesus was brought forth by Israel, not by the churches (Isa. 9:6-7; Rom. 9:5). Also, the symbols of Rev. 12:1-2 recall familiar Old Testament typology of Israel. She is referred to as a woman (Isa. 54:5-7). The sun and moon and the 12 stars of verse 2 remind us of Joseph’s dream regarding Israel (Gen. 37:9). The words of Rev. 12:2 are almost an exact quote from Micah 5:3, again referencing Israel’s delivery of the Messiah. These symbols are not used in the New Testament of the churches.

THE ATTACK ON THE PRE-TRIBULATIONAL RAPTURE

The doctrine of the pre-tribulational rapture is under severe attack today. Consider some examples from the emerging church:

Brian McLaren mocks the “fundamentalist expectations” of a literal second coming of Christ with its attendant judgments on the world and assumes that the world will go on like it is for hundreds of thousands of years (A Generous Orthodoxy, p. 305). He calls the literal, imminent return of Christ “pop-Evangelical eschatology” (Generous Orthodoxy, p. 267) and the “eschatology of abandonment” (interview with Planet Preterist, Jan. 30, 2005, http://planetpreterist.com/news-2774.html). McLaren says that the book of Revelation is not a “book about the distant future” but is “a way of talking about the challenges of the immediate present” (The Secret Message of Jesus, 2007, p. 176). He says that phrases such as “the moon will turn to blood” “are no more to be taken literally than phrases we might read in the paper today” (The Secret Message, p. 178).

Jonny Baker of Grace in London, England, rejects dispensationalism as “escapology theology” and “advocates that Christians need to invest themselves in the current culture, not live on hold until time runs out” (Emerging Churches, pp. 78, 79).

Tony Jones says that the emergent church, in contrast to the dispensational viewpoint, is characterized by “an eschatology of hope” (An Emergent Manifesto of Hope, p. 130). He says: “What I mean is that the folks who hang around the emerging church tend to see goodness and light in God’s future, not darkness and gnashing of teeth. While that may seem obvious to some followers of God, pop theology today is facing the other way. … Those novelists and the theologians who provide them their material take the view that we’re in a downward spiral, and when things ‘down here’ become bad enough, Jesus will return in glory. But those of us represented in this book take the contrary view. God’s promised future is good, and it awaits us, beckoning us forward” (p. 130).

N.T. Wright, who has a great influence on the emerging church, warns that the doctrine of an imminent rapture is dangerous because it interferes with kingdom building and environmental activities. “If there’s going to be an Armageddon, and we’ll all be in heaven already or raptured up just in time, it really doesn’t matter if you have acid rain or greenhouse gases prior to that. Or, for that matter, whether you bombed civilians in Iraq. All that really matters is saving souls for that disembodied heaven” (“Christians Wrong about Heaven, Says Bishop,” Time, Feb. 7, 2008).

Tony Campolo says: “I mean all of this stuff [about the imminent coming of Christ and a literal Tribulation] comes out of not only fundamentalism. It comes out of dispensationalism, which is a weird little form of fundamentalism that started like a hundred fifty years ago. … I think that we need to challenge the government to do the work of the Kingdom of God, to do what is right in the eyes of the Lord. That whole sense of the rapture, which may occur at any moment, is used as a device to oppose engagement with the principalities, the powers, the political and economic structures of our age” (“Opposition to women preachers evidence of demonic influence,” Baptist Press, June 27, 2003).

Mark Driscoll refers to the pre-tribulational rapture as “pessimistic dispensationalism” (Listening to the Beliefs of Emerging Churches, p. 146). He has said that “eschatology-minded Christians” are not welcome in his church.

THE IMPORTANCE OF THE PRE-TRIBULATIONAL RAPTURE

The doctrine of the pre-tribulational rapture is not a peripheral one. As we have seen, Christ, Paul, James, and Peter taught that the return of Christ was imminent and was to be expected at any time (Mat. 24:44; Phil. 4:5; Jam. 5:8-9; 1 Pet. 4:7). The early Christians lived in expectation of Christ’s return the literal fulfillment of the prophecies. “For they themselves shew of us what manner of entering in we had unto you, and how ye turned to God from idols to serve the living and true God; And to wait for his Son from heaven, whom he raised from the dead, even Jesus, which delivered us from the wrath to come” (1 Thessalonians 1:9-10).

The doctrine of a pre-tribulational Rapture is a great motivator for purifying one’s personal Christian life.

1. It encourages the believer in trials and persecutions. “Then we which are alive and remain shall be caught up together with them in the clouds, to meet the Lord in the air: and so shall we ever be with the Lord. Wherefore comfort one another with these words” (1 Thessalonians 4:17-18).

2. It keeps the church’s focus on the Great Commission (Mat. 28:18-20; Mk 16:15; Lk. 24:44-48; Acts 1:8). It teaches us that preaching the gospel, winning people to Christ, and establishing churches as the pillar and ground of the truth is the most urgent matter. D.L. Moody had it right when he said: “I look upon this world as a wrecked vessel. God has given me a lifeboat and said to me, ‘Moody, save all you can.’”

3. It motivates us to be busy in the Lord’s work (1 Cor. 15:58).

4. It motivates us to live obedient lives (1 Jn. 3:1-3; 1 Th. 5:4-7).

5. It motivates us to separate from evil (Tit. 2:13-14).

6. It keeps believers on the outlook for heresy and apostasy (2 Timothy 4:3-4; 1 John 2:24-28).

6 June 2009

Asal Usul Malaikat & Roh Jahat Menurut Agustinus

Filed under: Uncategorized — Tags: — dedewijaya @ 8:23 AM

Telah dimuat dalam Jurnal Stulos, STT Bandung, Vol. 4, No. 1, Juni 2006, halaman 67-76. ISSN 1858-4683

Hali Daniel Lie, M.Th.

Pendahuluan

Di dalam ranah dunia roh paling sedikit terdapat dua jenis makhluk, yaitu yang baik dan yang jahat. Yang baik dinamakan makhluk terang atau putih atau seringkali dikenal sebagai malaikat. Yang jahat dinamakan makhluk kegelapan atau hitam atau yang umumnya dikenal sebagai roh jahat. Yang pertama, malaikat dan yang terakhir, roh jahat. Kenyataan ini merupakan kebenaran doktrinal yang diyakini oleh banyak agama dan kepercayaan. Namun demikian, persoalan mengenai kedua jenis makhluk roh ini disoroti secara berbeda oleh agama-agama dan kepercayaan-kepercayaan dari segi asal-usul mereka.

Bagaimanakah pandangan iman Kristen tentang asal-usul malaikat dan roh jahat? Uraian mengenai asal muasal malaikat dan roh jahat masih sedikit sekali dibahas di dalam buku-buku biblika dan sistematika. Bapak gereja Agustinus merupakan salah seorang teolog yang banyak memberikan pandangan mengenal asal usul kedua makhluk roh tersebut. Setelah rasul Paulus, beliau disebut-sebut sebagai teolog Kristen terbesar sepanjang sejarah kekristenan.[1] Melalui hidup dan karyanya kita mendapatkan warisan yang meliputi hampir seluruh uraian sistematika dan biblika.

Pembahasan seputar makhluk roh mendapatkan cukup banyak perhatian dari Agustinus. Ada tiga bagian utama yang terpenting di antara tulisan-tulisannya di mana beliau menguraikan hal ihwal makhluk roh.[2] Pertama, melalui Civitate Dei (City of God) bab 11 & 12 dia mengupas penciptaan makhluk roh. Kedua, lewat De Genesi ad litteram bab 4 (On Genesis in literar) dia menyinggung pengetahuan makhluk roh. Dan ketiga, di dalam De Trinitate 2 & 3 (On Trinity) dia membahas peran makhluk roh di dalam peristiwa teophany khususnya pada masa Perjanjian Lama.

Di antara ketiga karyanya tersebut tampak dengan jelas bahwa bagian yang paling relevan dengan topik kita ini terletak pada City of God bab 11 & 12. Marilah kita meninjau lebih jauh bagaimana pandangan Agustinus mengenai kemunculan makhluk roh di dalam dunia ini! Melalui tulisan ini kita berharap bisa mengungkapkan kontribusi-kontribusi Sang Teolog mengenai asal-usul malaikat dan roh jahat.

I. Makhluk Roh Diciptakan: Malaikat

Bagi Agustinus, segala sesuatu di dalam alam semesta merupakan karya cipta Allah. Segala sesuatu lainnya tiada yang kekal, hanya Allah Trinitas kekal adanya. Artinya, kecuali Allah Tritunggal saja, hal-hal lain baik yang di langit dan di bumi maupun di dunia atau planet atau tatasurya mana pun adalah termasuk ciptaan Allah. Bahkan waktu pun tidak kekal. Dia menegaskan bahwa dunia tidak diciptakan “di dalam waktu melainkan bersama[-an dengan] waktu.”[3]Beginilah Agustinus berargumentasi:

An event in time happens after one time and before another, after the past and before the future. But at the time of creation there could have been past, because there was nothing created to provide the change and movement which is the condition of time.[4]

Secara tegas, mengenai penciptaan dunia dan waktu dia menyatakan: “The World was in fact made with time.”[5] Jadi, waktu juga termasuk salah satu di antara sekian banyak ciptaan Allah lainnya.

Lantas bagaimanakah dengan firman Tuhan yang tercatat di dalam Injil Yoh 8:44? Bukanlah di situ secara eksplisit dikatakan Iblis “adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran?” Tidakkah itu berarti sejak semula dia telah diciptakan dalam keadaan jahat sehingga naturnya memang sudah jahat dari sono-nya? Agustinus menjelaskan ayat ini dalam Civitate Dei XI:15. Menurut Agustinus, beginilah kebenaran Yoh 8:44 seharusnya ditafsirkan!

‘The Devil sins from the beginning’ will then mean, not that we are to think that he sinned from the first moment of his creation, but the from first beginning of sin, because sin first came into existance as a result of the Devil’s pride.[6]

Jadi, menurut Agustinus, Yoh 8:44 sama sekali tidak boleh ditafsirkan bahwa Iblis diciptakan jahat sejak awalnya. Maksud Yohanes sebenarnya ialah sejak pertama kali Iblis berbuat dosa, dia terus berdosa. Sejak pertama kali roh-roh jahat berbuat dosa, mereka terus berdosa. Lagipula, dosa menjadi eksis pertama kali di dalam dunia ini sebagai hasil atau akibat dari malaikat-malaikat yang memberontak kepada Allah di dalam kesombongan atau arogansi mereka.

Di dalam Buku tafsiran Injil Yohanes, Agustinus juga membahas Yoh 8:44. Ayat ini dikomentari oleh Agustinus sebagai berikut:

For the devil, in his ill-will to man, assuming the guise of a serpent, spoke to the woman, and from the woman instilled his poison into the man. They died by listening to the devil, whom they would not have listened to had they but listened to the Lord; for man, having his place between Him who created and him who was fallen, ought to have obeyed the Creator, not the deceiver.[7]

Ayat ini harus dipahami dalam konteks mengingat kembali kisah kejatuhan manusia ke dalam dosa sebagaimana yang dicatat pada Kejadian 3. Melalui pemahaman itu Agustinus sampai pada kesimpulan bahwa paling sedikit Iblis di dalam diri sang ular adalah pembunuh manusia pertama.[8] Itulah sebabnya kita tidak perlu bingung apabila dikatakan “Ia adalah pembunuh manusia sejak semula.”

Ayat di dalam Yoh 8:44 harus dibaca dengan seksama. Pada klausa Iblis “tidak hidup dalam kebenaran,” perlu mendapatkan perhatian kita. Terjemahan LAI ini sebenarnya sudah cukup jelas. Namun, guna lebih memperjelas dan mempertegas, marilah kita membandingkannya dengan beberapa terjemahan ke dalam bahasa Inggris! Tiga versi Alkitab utama dalam terjemahan bahasa Inggris yang dinilai paling akademis, yaitu NASB, NKJV dan NRSV, sama-sama membuat terjemahan “. . . does not stand in the truth.”[9] Secara literal LITV menerjemahkannya dengan akurat, yakni “he has not stood in the truth.”[10]

Uraian Agustinus mengenai asal-usul dan kejatuhan malaikat ini tercantum di dalam bagian pembahasannya mengenai asal-usul dua kota: kota surgawi dan kota duniawi. Beginilah dia berkata: “And first I shall explain how the beginnings of those two cities arose from the difference between two classes of angels.”[11] Setelah kejatuhan sebagian malaikat maka para malaikat terbagi atas dua kelas. Yang masih setia kepada Allah tetap disebut malaikat sedangkan yang memberontak menjadi roh jahat. Kedua kelas atau kelompok malaikat ini merupakan cikal bakal terbentuknya dua kota.

Itulah sebab musababnya hingga sekarang kita mengenal dua macam makhluk roh atau dua macam malaikat. Macam pertama, makhluk roh yang baik atau tetap disebut malaikat. Macam kedua, makhluk roh yang jahat atau disebut roh jahat, yang merupakan hasil “permutasian” dari para malaikat yang jatuh ke dalam dosa.

Penutup

Berdasarkan landasan firman Tuhan yang kokoh, Agustinus memberitahukan kepada kita tentang asal-usul dan kejatuhan para malaikat. Pada mulanya Allah menciptakan makhluk roh atau dengan istilah teknisnya, malaikat. Para makhluk roh atau malaikat itu diberi-Nya kemuliaan yang tinggi untuk melayani di hadapan Allah.

Akan tetapi, sampai pada suatu waktu, sebagian dari malaikat itu memberontak terhadap Penciptanya. Kelompok malaikat yang memberontak itu jatuh ke dalam dosa, kemudian lazimnya mereka disebut sebagai roh jahat. Sedangkan sisa malaikat yang masih setia kepada Allah tetap disebut malaikat. Itulah sebabnya sampai sekarang kita mengenal dan membedakan adanya dua jenis makhluk roh, yakni malaikat dan roh jahat. Demikianlah asal-muasal keberadaan malaikat dan roh jahat di dunia ini.

*** Hali Daniel Lie berasal dari GKPJ Jambi, menyelesaikan S.Th. & M.A. dari STT Bandung (1993-1998), M.Th. di SAAT Malang (2000-2002), menempuh studi bahasa Mandarin dua tahun di Shaanxi Normal University, Xian, China, telah mempublikasikan tujuh buku: Keteladanan Kehidupan Daniel (bersama Harianto G.P.) (Bandung: Agiamedia, 1997); Yin-Yang, Hongsui & Alkitab (bersama Harianto G.P.) (Cet. 2, Bandung: Agiamedia, 2001); Mujizat Versus Rasio? (Bandung: Agiamedia, 1999); Mujizat Versus Rasio? (Bandung: Agiamedia, 1999); Agama Versus Sains: Studi atas Hidup & Pemikiran Agustinus (Bandung:Agiamedia, 2005); Intisari Agama-Agama Sedunia (Bandung: Agiamedia, 2005); Kitab Suci Agama-Agama Sedunia (Bandung: Mitra Pustaka, 2006). Kini mengajar di almamaternya STT Bandung dan pemerhati bidang literatur umum maupun literatur Kristen.


[1] Tony Lane, Runtut Pijar: Sejarah Pemikiran Kristiani (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996) 39.

[2] Frederick Van Fleteren, “Angels” Augustine through the Ages: An Encyclopedia (Grand Rapids: Eerdmans, 1999) 20.

[3] Lihat dalam XI.vi.2, Henry Bettenson, Penerj., City of God; by Augustine (London: Penguin, 1984) 436.

[4] Ibid.

[5] Lihat dalam XI.vi.3, ibid., 436.

[6] Ibid., 447.

[7] Lihat di dalam Homilies on the Gospel of John XLII.11, John Gibb & James Innes, penerj., Nicene and Post-Nicene Father of Christian Church, Vol. VII; by Augustine, Philip Schaff, ed. ( Grand Rapids: Eerdmans, 1888) 238.

[8] Ibid.

[9] BibleWorks 5, 2001.

[10] Rick Meyers, E-Sword, 2005.

[11] Henry Bettenson, Penerj., City of God; by Augustine (London: Penguin, 1984) 430.

2 June 2009

Berita Mingguan 16 Mei 2009

Filed under: BERITA — dedewijaya @ 6:17 AM

Sumber: Way of Life Ministry, Friday Church News Notes
Penerjemah: Dr. Steven E. Liauw
Graphe International Theological Seminary
Untuk berlangganan, kirim email ke: gits_buletin-subscribe@yahoogroups.com

ORANG-ORANG KRISTEN DIPENJARAKAN DI CINA
Berikut ini disadur dari “18 orang Kristen ditangkap,” Christian Newswire, 4 Mei 2009: “Tanggal 30 April 2009, sekelompok orang Kristen yang berjemaat di rumah-rumah dan para pemimpin grup gereja rumah China Gospel Fellowship (CGF) bertemu untuk mengadakan kebaktian di sebuah rumah di kota Xinye, propinsi Henan, ketika mereka diserbu oleh selusin perwira PSB. Delapan belas orang Kristen dibawa ke Biro Keamanan Umum (PSB/Public Security Bureau) kota Xinye. Mereka masing-masing dipaksa untuk membayar denda 1000 yuan (sekitar $150). Sampai dengan berita ini diturunkan, 16 orang Kristen masih ditahan oleh PSB, termasuk 10 orang pengkhotbah dari propinsi Hubei.”

ORANG YANG MATI SETELAH “DISEMBUHKAN” DI PENCURAHAN LAKELAND
Sebuah penyelidikan oleh majalah World telah menemukan bahwa sedikitnya dua orang dari antara mereka yang “disembuhkan” selama kebaktian penyembuhan Todd Bentley di Lakeland, Florida, ternyata telah meninggal akibat penyakit mereka. Berikut ini adalah cuplikan laporannya: “Christopher Fogle, dari Cedar Rapids, Iowa, senang sekali memancing. Aktivitas itu menjadi selingan bagi karirnya yang serba cepat selama 25 tahun di restoran Perkins. Tetapi ketika Fogle menderita kanker berat, perjalanan-perjalanan memancingnya yang menenangkan, terhenti. Hal itu menjadi pukulan yang berat bagi laki-laki 45 tahun yang aktif tersebut. Tetapi bagi Todd Bentley, pengkhotbah televisi dan seseorang yang mengklaim sebagai “penyembuh,” kanker tersebut adalah suatu kesempatan untuk “menyatakan kemuliaan Allah.” …..Pada puncak apa yang banyak orang sebut kebangkitan rohani, WORLD menanyai Bentley tentang penyembuhan-penyembuhan tersebut, misalnya seperti kasus Fogle, dan meminta daftar orang-orang yang disembuhkan di kebaktian-kebaktiannya. Para pembantunya memberitahu saya bahwa Bentley sedang keluar kota dan daftar orang-orang yang disembuhkan tidak dapat ditemukan. Tetapi, satu minggu kemudian, dan setelah berpuluh-puluh kali meminta, pelayanan itu akhirnya mengirimkan sebuah daftar 13 nama. Fogle adalah nomor 12 di daftar itu, bersama dengan catatan ini: “Disembuhkan melalui Pencurahan dan kini kembali memancing.” Itu adalah tanggal 8 Agustus 2008. Hanya ada satu masalah. Dua minggu sebelumnya, tanggal 22 Juli, Christopher A. Fogle, menurut catatan kematiannya di kota Keokuk (Iowa), “meninggalkan hidup ini….setelah pertarungan yang berani melawan kanker.” Melihat ulang daftar tersebut setelah hampir satu tahun kemudian memperlihatkan bahwa Fogle bukanlah satu-satunya orang yang “disembuhkan” tetapi telah mati. Ketika saya menelpon Phyllis Mills, dari Trinity, N.C., pada tanggal 22 April, untuk mendengarkan kesaksian penyembuhannya, seorang anggota keluarganya yang sopan menjawab, “Phyllis meninggal beberapa hari yang lalu. Bahkan saat ini juga kami sedang akan menuju penguburannya.” Mills, 66 tahun saat meninggal, menderita kanker paru-paru dan sedang menjalani terapi yang agresif ketika dia, menurut daftar tersebut, “disembuhkan di kebangkitan rohani.” Mills “sedang menjalani radiasi, tetapi dikirim pulang” menurut catatan di daftarnya Bentley, “tanpa jejak kanker di tubuhnya” (”Heal or Heel,” World, 23 Mei 2009). Kebangkitan rohani Bentley berakhir dengan skandal bulan Agustus 2008 setelah Bentley mengumumkan bahwa dia berpisah dengan istrinya. Bulan November 2008, Fresh Fire ministry menyatakan bahwa Bentley bersalah atas perzinahan dengan seorang “mantan staf,” dan pada tanggal 9 Maret 2009, Rick Joyner mengumumkan bahwa Bentley telah menikah dengan staf yang sama. Sobat, Allah memberikan kita petunjuk yang jelas dalam Kitab Suci mengenai penyembuhan, dan Yakobus 5 sama sekali tidak menggambarkan sebuah “kebaktian penyembuhan” yang kacau. Kita percaya ada penyembuhan ilahi hari ini melalui doa, tetapi kita tidak percaya akan para tukang show Pantekosta yang berpura-pura memiliki karunia penyembuhan yang sebenarnya hanya dimiliki Rasul (2 Korintus 12:12).

GURU DI INGGRIS DINON-AKTIFKAN SETELAH MENOLAK SESI CUCI OTAK HOMOSEKSUAL
Berikut ini disadur dari “Teacher Bucks Homosexual Training,” OneNewsNow, 6 Mei 2009: “Seorang guru Kristen di Inggris telah dinon-aktifkan setelah dia komplain tentang pemakaian jam kelas untuk mempromosikan homoseksualitas sebagai gaya hidup yang dapat diterima. Kwabena Peat adalah satu dari antara beberapa orang guru yang melakukan walk out pada hari training dan indoktrinasi yang diwajibkan oleh sekolah, dan ia melakukan itu karena kepercayaan Kristennya. LifeSiteNews.com melaporkan bahwa Peat menulis sebuah surat kepada tiga orang anggota staf yang mengorganisir sesi tersebut di Park View Academy. Dalam surat itu, ia menyatakan ketidaksetujuannya dengan pembicara dan pendiri dari program pro-homoseksual, Schools Out, Sue Sanders, yang menyatakan dalam presentasinya yang agresif bahwa orang-orang yang percaya homoseksualitas adalah abnormal perlu membereskan “hal-hal” dalam hidup mereka. Setelah surat tersebut, Peat dinon-aktifkan, dengan gaji tetap jalan, hingga sekolah nanti menentukan nasibnya sebagai seorang pegawai. Matt Barber, direktur masalah budaya di Liberty Counsel, menyatakan bahwa insiden itu adalah contoh perwakilan gerakan aktivis homoseksual. `Mereka bukan hanya ingin dibiarkan hidup, sebagaimana dinyatakan oleh salah satu pemimpin masyarakat homoseksual yang paling berpengaruh baru-baru ini,’ katanya. `Yang mereka tuju sebenarnya adalah untuk mendiamkan semua perlawanan terhadap gaya hidup homoseksual – bahkan jika hal itu didasarkan pada kepercayaan agama yang mendalam – dan mereka rela melakukan apa saja untuk hal itu.’”

ROMA MENARUH MARIA DI TABUT PERJANJIAN
Sebuah monstrance (monstrance adalah semacam alat yang dipakai oleh Gereja Roma Katolik untuk menampilkan hosti ekaristi mereka saat acara-acara khusus, seperti Eucharistic adoration atau Benediction of the Sacred Sacrament. Dalam acara khusus ini, wafer “suci” yang menurut mereka adalah tubuh dan darah Yesus yang sebenarnya, ditaruh pada alat yang disebut monstrance itu, lalu monstrance diangkat untuk disembah oleh umat. Inilah yang disebut “Eucharistic Adoration”) yang dibuat untuk Gereja St. Stanislaus Kostka di Chicago menggambarkan Maria berada di atas Tabut Perjanjian. Tangan Maria terbuka dan dua malaikat sedang berlutut di hadapannya. Monstrance tersebut, yang diberi nama “Our Lady of the Shrine, Ark of Mercy,” didedikasikan tanggal 31 Mei 2008 (Catholic News Service, 10 Juni 2008). Ini adalah murni penghujatan. Tabut Perjanjian dulu terletak dalam ruang Mahakudus dalam Bait Perjanjian Lama, di mana hadirat Allah berada (Keluaran 25:22). Malaikat tidak menyembah makhluk ciptaan (Kis. 14:11-15; Wah. 19:10). Monstrance ini menyatakan dogma Roma bahwa Maria adalah co-redemptress (sesama penyelamat) dengan Kristus, dan bahwa dia berdoa bagi orang dari surga dan membantu keselamatan mereka. Berikut ini adalah kutipan-kutipan Konsili Vatikan Kedua: “Seperti yang dikatakan oleh St. Irenaeus, dia (Maria) karena ketaatannya, menjadi penyebab keselamatan bagi dirinya sendiri dan seluruh umat manusia. Jadi tidak sedikit Bapa-bapa awal yang dengan senang menegaskan seperti dia (Irenaeus) dalam khotbah mereka…. `kematian melalui Hawa, KEHIDUPAN MELALUI MARIA.’ Persatuan antara IBU DENGAN ANAK DALAM KARYA KESELAMATAN ini dinyatakan mulai dari pembuahan perawan Kristus hingga kematianNya” (Dogmatic Constitution on the Church, pasal 8, II, 56, hal. 380-381). “Ketika diangkat ke Surga, dia (Maria) tidak meninggalkan jabatannya penyelamatannya, tetapi DENGAN DOANYA YANG BERLIPAT GANDA TERUS MENERUS MEMBERIKAN KITA KARUNIA KESELAMATAN KEKAL…..Demikianlah sang Perawan yang diberkati disebut dengan gelar ADVOCATE, HELPER, BENEFACTRESS, dan MEDIATRIX” (Dogmatic Constitution on the Church, pasal 8, II, 62, hal. 382-383).

Berita Mingguan 02 Mei 2009

Filed under: BERITA — dedewijaya @ 5:41 AM

Sumber: Way of Life Ministry, Friday Church News Notes

Penerjemah: Dr. Steven E. Liauw

Graphe International Theological Seminary

(Didistribusikan dengan gratis, dengan mencantumkan informasi sumber di atas)

Untuk berlangganan, kirim email ke: gits_buletin-subscribe@yahoogroups.com

BUNGA YANG LEBIH MENYUKAI BUMBLEBEE (LEBAH BESAR)

Berikut ini disadur dari Creation Moments, http://www.creationmoments.com/radio/transcript.php?t=2346:

“Bunga Virginia Meadow Beauty menyediakan beberapa trik langka bagi mereka yang hendak menyerbukinya. Seekor lebah madu bisa seharian berkutat di bunga itu dan tidak mendapat serbuk sari sedikitpun. Faktanya, riset mengindikasikan bahwa lebah madu tidak tahu harus melakukan apa dengan bunga itu. Namun, bunga Virginia Meadow Beauty ini diserbuki oleh bumblebee (lebah besar), bukan lebah madu. Serbuk sari bunga ini hanya tahan selama satu hari saja, walau bunganya tetap mekar selama beberapa hari. Ia memberi sinyal pada bumblebee bahwa serbuk sarinya sudah `kadaluarsa’ dengan mengubah warnanya, dan berfungsi untuk menarik lebih banyak bumblebee untuk datang (barangkali supaya bunga lain yang belum kadaluarsa segera dihinggapi). Lalu kenapa bumblebee bisa namun lebah madu tidak? Rupanya si bumblebee cukup berdengung saja, dan bunga itu menembakkan serbuk sarinya dengan kekuatan 30x lipat gravitasi – lebih dari gaya yang harus ditahan oleh astronot! Bukan karena ukuran bumblebee yang lebih besar, namun frekuensi dengungannya yang pas. Allah telah menyediakan bagi bunga Meadow Beauty dengan ajaib. Dan Ia juga telah menyediakan pengampunan dan keselamatan dalam PutraNya, Yesus Kristus.”

SEKOLAH TINGGI CALVIN MASUK ALIRAN EMERGING

Di bulan April, Calvin College di Grand Rapids, Michigan, mengadakan Festival Iman dan Musik yang merayakan filosofi gereja yang sekarang merekah. Beberapa ratus “artis, musikus, kritikus, filsuf, dan pendengar,” berkumpul untuk “mendiskusikan dan membedakan bagaimana cara-cara kasih karunia, cinta, belas kasihan, dan iman Kristen diekspresikan dalam dunia musik” (”Figuring It Out,” Christianity Today, April 21, 2009). Calvin College mungkin dapat mengakui bahwa mereka “konservatif secara theologis, namun liberal secara budaya.” Sekolah ini menganut theologi Reform Kalvinis, namun telah membuang perintah Alkitab untuk memisahkan diri dari dunia. Mereka telah mengadopsi filosofi yang ingin memenangkan masyarakat dengan cara menenggelamkan diri dalam budayanya, dengan cara menjadi misionari kepada budaya. Ken Heffner, Direktur Kegiatan Mahasiswa di sekolah tersebut, berkata bahwa orang Kristen seharusnya “tampil di panggung umum dan menampilkan seni populer dan juga bekerja sama dengan orang lain yang juga menampilkan seni populer.” Kita bertanya-tanya, budaya pop mana yang dia maksud, karena semua budaya pop di Amerika Utara adalah kotor secara moral dan bersifat relativistik dan terang-terangan membangkang terhadap perintah Allah yang kudus, dan itu jelas-jelas BURUK! Lupe Fiasco adalah seorang bintang tamu di festival tersebut, walaupun “latar belakang imannya dulu adalah Islam berat,” dan “kerohaniannya campur aduk,” dan ia memakai kata-kata sumpah serapah. Tidak heran, salah satu tema konferensi tersebut adalah menyerang fundamentalisme yang alkitabiah. Heffner mengolok-olok orang-orang Kristen yang “memiliki reputasi menentang budaya pop” dan “memisahkan diri mereka dari detak jantung kreatif masyarakat” dan “mencoba untuk mendikte apa yang berasal dari Allah dan apa yang bukan.” Sungguh ini adalah festival yang kacau dan membingungkan mereka sendiri! Alkitab memberitahu kita secara persis apa yang dari Allah dan apa yang bukan, dan umat Allah bertanggung jawab untuk membedakan antara yang kudus dan yang najis. “Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu” (Ef. 5:11). Tugas kita bukanlah berdialog dengan budaya melainkan memberitakan Firman Tuhan (2 Tim. 4:2). Tuhan Yesus Kristus adalah sahabat orang berdosa, tetapi Ia selalu kudus di segala waktu, tidak pernah ikut serta dalam apapun yang berdosa, mengkhotbahkan pertobatan dan memperingatkan tentang neraka, dan hal-hal ini pasti akan merusak suasana pesta budaya pop manapun! Rasul Paulus menjadi segala-galanya bagi semua orang (1 Kor. 9:22; 10:33), tetapi ia juga menjauhkan diri dari segala jenis kejahatan, tidak mau menjadi serupa dengan dunia ataupun menjadi pasangan yang tidak seimbang dengan orang yang tidak percaya (1 Tes. 5:22; Rom. 12:1; 2 Kor. 6:14-17). Tuhan Yesus dan para Rasul bukanlah orang-orang yang akan senang dengan pesta rock & roll! Yakobus memperingatkan, “Hai kamu, orang-orang yang tidak setia! Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah” (Yak. 4:4). Apakah menurutmu Yakobus dan cara berkhotbahnya yang negatif akan disambut di Festival Musik STT Calvin!?

31 May 2009

49 KRITIK TERHADAP GEMBALA DAN GEREJA

Filed under: Doktrin, Fundamental — dedewijaya @ 12:17 PM

1. Baptis Bayi/Anak adalah Tidak Alkitabiah
2. Pendeta/Penatua/Penilik Jemaat/Gembala Wanita dan Diaken/Majelis Wanita adalah Tidak Alkitabiah
3. Sistem Kepausan adalah Tidak Alkitabiah
4. Transubtansiasi dan Konsubstansiasi adalah Tidak Alkitabiah
5. Membaptis secara Percik atau dengan Bendera adalah Tidak Alkitabiah
6. Manusia diselamatkan hanya karena IMAN bukan karena Baptisan, Iman+Perbuatan, Iman+Baptisan, Iman+ ++ lainnya. Baptisan Tidak Menyelamatkan.
7. Arianisme (Kristen Tauhid dengan Gereja Jemaat Allah Global Indonesia=Gereja JAGI) dan Saksi Jehova (Saksi-Saksi Yehuwa) yang menolak Keilahian Yesus dan Tritunggal adalah Tidak Alkitabiah
8. GSPdI (Gereja Serikat Pantekosta di Indonesia) dengan mode Sabelian (Allah 1 Pribadi dalam 3 wujud) adalah Tidak Alkitabiah
9. Sistem Gereja Universal/Katolik/Am adalah Tidak Alkitabiah. Sistem Gereja Lokal adalah ALKITABIAH
10. Sistem Eskatologi Amilenialisme dan Postmilenialisme adalah Tidak Alkitabiah
11. Menafsirkan 6 hari Penciptaan sebagai bukan 6 hari biasa adalah Tidak Alkitabiah
12. Calvinisme dengan 5 Point TULIP-nya TIDAK ALKITABIAH
13. Predestinasi John Calvin adalah Tidak Alkitabiah
14. Gerakan Ekumene adalah Tidak Alkitabiah, Kesatuan yg Alkitabiah adalah Tidak Mengkompromikan KEBENARAN/DOKTRIN/PENGAJARAN
15. Verbal Plenary Inspiration (VPI) dan Verbal Plenary Preservation (VPP) dalam doktrin Alkitab adalah ALKITABIAH
16. Bayi yg mati PASTI MASUK SURGA karena sudah ditebus oleh Darah Yesus
17. Sekali Selamat Tetap Selamat adalah Tidak Alkitabiah. Beriman sampai Mati/Akhir PASTI MASUK SURGA. Jaminan Keselamatan Bersifat Kondisional/Bersyarat.
18. Kerajaan 1000 tahun, Surga dan Neraka adalah benar-benar Nyata.
19. Hanya ada dua Upacara/Ordinansi yang diperintahkan Tuhan yaitu Baptisan dan Perjamuan Tuhan
20. Pewahyuan dan Nubuat dan semua karunia yg berhubungan dengan Pewahyuan (Bahasa Roh/berbahasa Lidah, Bernubuat, dan Pengetahuan, 1 Kor 13:8-10) sudah Tidak ada sejak Wahyu 22:21 selesai ditulis. Tidak ada Firman Allah lagi di luar Alkitab yang telah Kanon (Tidak ada ekstra biblical)
21. Wanita berkhotbah di Kebaktian Umum/Ibadah Raya/Ibadah apapun/Pertemuan Jemaat yang dihadiri Jemaat Dewasa (keluarga/yang sudah menikah) adalah Tidak Alkitabiah

22. Perjanjian Baru mengajarkan bahwa orang percaya hari ini tidak terikat pada hukum Sabat, karena itu Gereja Advent yg mempertahankan hari Sabat, makanan dan minuman tertentu, Hukum Sunat adalah Tidak Alkitabiah. Pengajaran Advent mengenai hari Sabat tidak sesuai dengan pengajaran Alkitab dan merupakan bagian dari kesalahan total mereka yg tidak dapat melihat perubahan dari sistem penyembahan simbolik di PL menjadi sistem penyembahan dalam Roh dan Kebenaran dalam PB atau Ibadah Hakikat.
23. Manusia adalah suatu Pribadi ciptaan Allah yang diberi kemampuan berpikir, kesadaran diri, kehendak bebas, dan ketika jatuh dalam dosa, hanya kehilangan Kemuliaan Allah dan hubungan/komunikasi dengan pencipta. Manusia tetap mempunyai kehendak bebas.
24. Manusia yang belum diselamatkan mampu merespon terhadap berita Injil, sehingga Aktivitas penginjilan adalah KEHARUSAN. Mati secara rohani bukanlah mati seperti mayat yg tidak bisa merespon berita Injil.
25. Gereja Lokal adalah Tiang penopang dan Dasar Kebenaran (TPDK)
26. Tuhan telah menghentikan jabatan IMAM dan praktek keimamatan (pemberkatan oleh “pendeta“ pada akhir kebaktian, pemberkatan nikah, dll) untuk Jemaat perjanjian Baru.
27. Konsep Familiy Altar adalah Salah karena kita tidak lagi hidup dalam masa Keimamatan Ayah (zaman antara Adam sampai Taurat diturunkan)
28. Istilah yg benar adalah Peneguhan Nikah, bukan pemberkatan nikah. Istilah Pemberkatan nikah dipakai Gereja Roma Katolik karena mereka menempatkan pernikahan sebagai salah satu sakramen (upacara kudus) gereja. Gereja Alkitabiah hanya mengenal dua ordinansi (Upacara yg diperintahkan) yaitu Baptisan dan Perjamuan Tuhan. Dalam Gereja Alkitabiah tidak ada jabatan imam yg berwenang memberkati, itulah sebabnya tidak dibenarkan memakai istilah Pemberkatan Nikah. Upacara yg dilakukan gereja alkitabiah dalam hal pernikahan ialah mengukuhkan atau meneguhkan pernikahan 2 anggota jemaatnya di hadapan Tuhan dan di hadapan sidang jemaatNya serta berdoa memohonkan kasih karunia Tuhan untuk kehidupan rumah tangga mereka. Berkat Tuhan bagi mereka selanjutnya tentu bergantung pada sikap hati mereka kepada Tuhan, bukan pada penumpangan tangan dari imam atau pendeta yang melakukan praktek keimamatan.
29. Tidak ditemukan Penumpangan Tangan untuk PEMBERKATAN dalam Perjanjian Baru. Penumpangan Tangan untuk Pengukuhan Jabatan (Gembala, Penginjil, Guru Injil dan Diaken) sebagai bentuk Perestuan/Approve atas nama Jemaat
30. Tidak ada satu orang pun yang BERHAK membaptis seseorang ke dalam Roh Kudus selain YESUS KRISTUS. Pendeta manapun yang mencoba membaptiskan seseorang ke dalam Roh Kudus adalah SESAT dan DURHAKA (merebut wewenang Yesus)
31. Ajaran Katolik tentang API PENYUCIAN adalah TIDAK ALKITABIAH
32. Nama Pribadi TUHAN adalah YHWH (baca: YAHWEH)
33. Paus, Kardinal, Romo, Pastor boleh menikah dan suster Katolik boleh menikah adalah ALKITABIAH
34. Jabatan Nabi dan Rasul sudah tidak ada/dihentikan karena Pewahyuan sudah berhenti.
35. 2 Kategori ajaran sesat: Keluar dari Alkitab dan Salah Menafsirkan Alkitab
36. Pengajaran MISKIN adalah DOSA, SUNGGUH SESAT, yang Benar: Miskin bisa disebabkan karena dosa (misal: Kemalasan) dan sebaliknya Pengajaran KAYA adalah BERKAT, Sungguh Menyesatkan, karena ada orang Kaya yang mendapatkan kekayaan dengan Cara-cara berdosa, misal: Korupsi, ke dukun/roh2 gunung Kawi, menipu orang lain, dll
37. Tuhan Berdaulat 100% (sepenuhnya) dan Manusia bertanggung Jawab 100% (sepenuhnya) adalah ALKITABIAH
38. Setiap orang yang dilahirkan dari keturunan Adam dan Hawa mewarisi POSISI orang berdosa atau Nature (sifat hati) yang berdosa adalah ALKITABIAH
39. Hanya ada SATU CARA untuk Menyelamatkan manusia dari PENGHUKUMAN, yaitu dengan mengirim JURUSELAMAT untuk dihukumkan sebagai pengganti manusia berdosa adalah ALKITABIAH, tegasnya DOSA hanya dapat diselesaikan melalui PENGHUKUMAN
40. Pengajaran Cyprian (AD 200-258) yang tercatat sebagai orang yang mempromosikan konsep keselamatan oleh Gereja. Ia menasehatkan agar semua gereja menggabungkan diri ke dalam Gereja Universal (KATOLIK) dengan Slogannya yang terkenal DILUAR GEREJA TIDAK ADA KESELAMATAN (EXTRA NULLA SALUS EKKLESIAM). Sejak saat itu dimulai suatu gerakan untuk menggiring semua gereja otonom (independen) ke dalam Gereja Roma Katolik dengan indoktrinasi bahwa TIDAK ADA KESELAMATAN DI LUAR GEREJA ROMA KATOLIK. Tidak cukup dengan itu akhirnya disusunlah Pengakuan Iman Rasuli yang salah satu pointnya Gereja yang Kudus dan Katolik (Am, Universal). Ini Pengajaran yang SUNGGUH MENYESATKAN dan TIDAK ALKITABIAH.
41. Satu Kesalahan Fatal Pengakuan Iman Rasuli adalah adanya pernyataan bahwa GEREJA itu HARUS KATOLIK.

Tetapi hingga saat konsili di Nicea (tahun 325 AD) belum muncul pengakuan iman tertentu yang berlaku secara universal, yang tepat dengan kata-kata yang sama, dan diperintahkan oleh otoritas universal yang sama.

But until the time of the Council of Nicen there does not appear to have been any one particular creed which prevailed universally, in exactly the same words, and commended by the same universal authority (Cyclopedia of Biblical, Theological, and Ecclesiastical Literature, John McClintock & James Strong, Grand rapids: Baker book House, 1981, Vol II, p 559)

Kutipan tersebut membuktikan bahwa Pengakuan Iman ”Rasuli” (PIR) yang digembar-gemborkan oleh Gereja Roma Katolik dan dipungut Gereja Protestan, serta di-beo-kan oleh Gereja-gereja Injili sesungguhnya bukanlah Pengakuan Iman yang disampaikan oleh Para Rasul. Jelas sekali bahwa pada zaman Para Rasul belum dikenal istilah THE HOLY CATHOLIC CHURCH atau Gereja Yang Kudus dan Am (KATOLIK), yang terdapat dipengakuan iman tersebut. Bahkan pernyataan gereja Yang Kudus dan Am itu sangat mustahil karena gereja tidak mungkin Kudus jika ia bersifat KATOLIK. Gereja akan Kudus kalau bersifat OTONOM dan LOKAL serta Menerapkan Disiplin Gereja dengan Ketat.

42. Iman yang Menyelamatkan ialah kita percaya bahwa YESUS KRISTUS telah DISALIBKAN untuk MENANGGUNG semua DOSA kita. Atau seseorang percaya dengan segenap hati bahwa Yesus telah MENGGANTIKANnya disalibkan dan kini ia sedang menggantikanNya hidup, Memahami kondisi diri sebagai orang berdosa yang tidak berdaya, yang akan masuk ke Neraka, serta menyesali dosa-dosanya, dan mengucap syukur atas kasih Yesus kristus yang rela dihukumkan menggantikannya.
43. Kesalahan Terbesar Bapak-Bapak Reformator adalah tidak mereformasi Doktrin Gereja (Ekklesiologi).

44. Penginjilan kepada orang yang sudah mati (Penginjilan Alam Roh) adalah MENYESATKAN dan Tidak ALKITABIAH.

45. Yesus disalibkan dan mati hari Rabu Petang dan Bangkit Hari Sabtu Petang/Minggu, sesuai dengan 3 Hari 3 Malam, 3 x 24 jam=72 jam, adalah ALKITABIAH. Yesus disalibkan dan mati hari Jumat adalah TIDAK ALKITABIAH dan hanya menurut Tradisi secara umum.

46. Orang yang telah mati Dikuburkan adalah ALKITABIAH

47. Jika Musik di Gereja anda tidak bisa dibedakan dengan Musik Dunia, maka ada 2 kemungkinan: Gereja semakin Duniawi atau Dunia semakin Rohani.

48. Kelahiran Yesus bukanlah tanggal 25 Desember adalah ALKITABIAH.

49. Pengajaran Yesaya Paridji tentang Minyak Urapan adalah TIDAK ALKITABIAH.

SIKAP TIDAK BERANI MENYATAKAN KEBENARAN DAN KETIDAKBENARAN adalah AKIBAT dari KETIDAKJELASAN.

Older Posts »

Blog at WordPress.com.