Beranda > Doktrin > MANUSIA DICIPTAKAN Menurut GAMBAR dan RUPA ALLAH

MANUSIA DICIPTAKAN Menurut GAMBAR dan RUPA ALLAH


Alkitab menggambarkan keadaan mula-mula manusia dengan memakai ungkapan “menurut gambar (Tselem) dan rupa (Demuth) Allah” (Kej 1:26-27;5:1;9:6; I Kor 11:7; Yakobus 3:9). Nah apakah arti Gambar dan Rupa Allah itu?

Kesamaan itu bukan KESAMAAN JASMANI

Allah adalah Roh sehingga tidak memiliki anggota-nggota tubuh seperti manusia. Beberapa orang menggambarkan Allah sebagai manusia yang agung dan luhur, namun pandangan semacam ini salah. Mazmur 17:15 mengatakan, ”… pada waktu bangun aku akan menjadi puas dengan rupa-Mu.” Namun ayat ini tidak memakusdkan keadaan jasmaniah; lebih tepat kalau dikatakan bahwa ayat ini menurut konteksnya berbicara mengenai persamaan dalam kebenaran (baca I Yohanes 3:2-3). Musa telah melihat ”rupa Tuhan” (Bil 12:8), walaupun wajah Allah tidak dapat dilihat (Kel 33:20). Sekalipun manusia tidak memiliki kesamaan jasmaniah dengan Allah karena Allah tidak memiliki tubuh jasmaniah, manusia memang memiliki kesamaan tertentu karena manusia diciptakan dalam keadaan sehat walafiat, tidak ada bibit-bibit penyakit apapun di dalam dirinya, dan tidak bisa mati. Pada mulanya Allah merencanakan supaya manusia makan dari tumbuh-tumbuhan saja (Kej 1:29), tetapi kemudian Ia mengizinkan daging hewan untuk dimakan (Kej 9:3). Menarik untuk diperhatikan bahwa ketika Allah mengizinkan manusia memakan daging, Allah sama sekali tidak memberikan peraturan mengenai hewan haram dan hewan halal meskipun perbedaan antara yang haram dan yang halal sudah diketahui (Kej 7:2). Peraturan itu diberi kemudian untuk mengatur perilaku satu bangsa saja dan hanya berlaku untuk jangka waktu tertentu (Imamat 11; Markus 7:19; Kisah 10:15; Roma 14:1-12; Kolose 2:16)

Kesamaan yang dimaksud dengan Gambar dan Rupa Allah yaitu:

Kesamaan itu adalah Kesamaan Mental

Charles Hodge pernah mengatakan,

Allah adalah Roh, jiwa manusia adalah roh juga.sifat-sifat hakiki dari roh ialah akal budi, hati nurani dan kehendak. Roh adalah unsur yang mampu bernalar, bersifat moral, dan oleh karena itu juga berkehendak bebas. Ketika menciptakan manusia menurut gambarNya, Allah menganugerahkan kepadanya sifat-sifat yang dimilikinya sendiri sebagai roh. Dengan demikian manusia berbeda dari semua makhluk lain yang mendiami bumi ini, serta berkedudukan jauh lebih tinggi daripada mereka. Manusia termasuk golongan yang sama dnegan Allah sendiri sehingga ia mampu berkomunikasi dengan Penciptanya. Kesamaan sifat antara Allah dan manusia ini…juga merupakan keadaan yang diperlukan untuk mengenal Allah dan karen aitu merupakan dasar dari kesalehan kita. Bila kita tidak diciptakan menurut gambar Allah, kita tidak dapat mengenal Dia. Kita akan sama dengan binatang-binatang yang akhirnya binasa.

Pernyataan Hodge ini dikuatkan oleh Alkitab. Dalam pengudusan, manusia “terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya” (Kol 3:10). Tentu saja, pembaharuan ini dimulai pada saat kelahiran baru terjadi, tetapi dilanjutkan dalam pengudusan. Bahwa manusia diberi kemampuan intelektual yang tinggi tersirat dalam perintah untuk mengusahakan taman Eden serta memeliharanya (Kej 2:15), juga perintah untuk menguasai bumi beserta segala isinya (Kejadian 1:26, 28), dan dalam pernyataan bahwa manusia memberi nama kepada segala binatang di bumi (Kej 2:19-20). Kesamaan dengan Allah ini tidak dapat dihapus, dan karena kesamaan tersebut memungkinkan manusia memperoleh penebusan, maka kehidupan manusia yang belum dilahirkan baru juga berharga (Kej 9:6; I Kor 11;&; Yak 3:9).

Kesamaan itu adalah kesamaan Moral

Jadi kesamaan itu terdapat dalam sifat rasional manusia dan dalam persesuaian moralnya dengan Allah. Hodge mengatakan,

Manusia adalah gambar Allah, sehingga membawa dan mencerminkan kesamaan ilahi di antara penghuni-penghuni lain di bumi, karena manusia itu roh, unsur yang cerdas dan berkehendak bebas; dan oleh karena itu sudah sepantasnya manusia ditetapkan untuk menguasai bumi. Inilah yang biasanya disebut…. sebagai gambar Allah yang hakiki dan bukan yang insidental.

Bahwa manusia memiliki kesamaan semacam itu dengan Allah sudah jelas dalam Alkitab. Bila dalam pembaharuan manusia baru itu diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya (Efesus 4:24), maka pastilah tepat untuk menyimpulkan bahwa pada mulanya manusia memiliki baik kebenaran maupun kekudusan. Koteks Ke 1 dan 2 membuktikan hal ini. Hanya atas dasar inilah manusia dapat bersekutu dengan Allah, yang tidak dapat memandang kelaliman (Habakuk 1:13)

Kesamaan itu adalah kesamaan Sosial

Sifat Allah yang sosial itu didasarkan pada kasih sayangNya. Yang menjadi sasaran kasih sayangNya adalah Oknum-Oknum lain di dalam KetritunggalanNya. Karena Allah memiliki sifat sosial, maka Ia menganugerahkan kepada manusia sifat sosial. Akibatnya, manusia senantiasa mencari sahabat untuk bersekutu dengannya. Pertama-tama, manusia menemukan persahabatan ini dengan Allah sendiri. Manusia ”mendengar bunyi langkah TUHAN Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk” (Kej 3:8). Hal ini menyatakan secara tak langsung bahwa manusia berkomunikasi dengan Allah Penciptanya. Allah telah menciptakan manusia untuk diriNya sendiri, dan manusia menemukan kepuasan tertinggi dalam persekutuan dengan Tuhannya. Akan tetapi, disamping itu Allah juga menganugerahkan persahabatan manusiawi. Ia menciptakan wanita, karena sebagaimana dikatakanNya sendiri, “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia” (Kej 2:18). Jelaslah bahwa manusia diciptakan dengan sifat sosial, sebagaimana Allah mempunyai sifat sosial. Kasih dan perhatian sosial manusia bersumber langsung dari unsur ini dalam watak manusia.

About these ads
  1. ilham
    22 Agustus 2011 pukul 8:45 PM

    ajaran sesat,mengada2, tuhan akan memberi perhitungan pada qm,tak berilmu tp menebak dgn logika yg sedangkal 1 tetesan air …summum bukmun umyun fahum layarjiun , org tuli bisu ,buta, tk akn kmbali kjalan yg benar ,, amin

  2. Anonymous
    3 Februari 2012 pukul 8:11 AM

    @ilham: bung ilham… anda tidak perlu komentar untuk sesuatu yang bukan berkaitan dengan keyakinan anda. sono.. komentari tulisan ahmadiah aja…khan lebih nyambung dari pada komentari yang tidak ada kaitannya. Cara berpikir anda yang sesat dan tidak nyambung.

  3. Anonymous
    25 Maret 2012 pukul 2:58 PM

    setuju sama anonymous. wey @ilham gausah sok nasihatin deh. adanya juga elo yang sok tahu. lo pikir lo yang paling benar? berasa Tuhan bgt lo.

  1. No trackbacks yet.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: