sumber:GBII
Selama masa pelayanan-Nya yang singkat, yaitu tiga setengah tahun,
Yesus telah mengerjakan lebih banyak hal dibandingkan dengan apa
yang dikerjakan oleh orang lain yang pernah hidup. Alkitab
menyatakan bahwa jika seandainya seluruh pekerjaan Yesus dituangkan
dalam bentuk tulisan, bahkan seluruh dunia sekalipun tidak dapat
memuatnya.
Sebelum memulai pekerjaan-Nya di hadapan umum, Yesus dibaptis dalam
air oleh Yohanes Pembaptis, dan melalui baptisan-Nya oleh Roh Kudus
Ia diteguhkan menjadi anak Allah. Itu membuktikan bahwa seluruh
pekerjaan Yesus berasal dari Allah, dan sesuai dengan kehendak
Allah. Sesudah berpuasa selama 40 hari 40 malam di padang gurun,
Yesus digoda oleh Setan. Namun, Ia berhasil mengusir setan itu
dengan jalan mengutip Firman Allah. Sejak saat itu pelayanan-Nya
yang penuh dengan kuasa dimulai, dan kehidupan Yesus yang singkat
itu dapat diringkaskan sebagai berikut : kelahiran, penderitaan,
kematian, kebangkitan dan kenaikan-Nya. Pelayanan Yesus terutama
meliputi hal pemberitaan kabar baik tentang kerajaan surga,
penyembuhan orang sakit, dan penghancuran pekerjaan iblis
Bila Kita Adalah PengikutNya, maka kita wajib menjalankan perintah
dan mencontoh kehidupan Tuhan Yesus.
1. Tuhan Yesus Dibaptis
Matius 3:13-17
“Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya.”
Roma 6:15
Makna dan pentingnya baptisan.
Meskipun Yesus Anak Allah, Ia dibaptis sebagaimana kita orang
berdosa yang harus dibaptis. Yesus dibaptis oleh siapa ?(Matius 3:13)
Yesus dibaptis bersama siapa ?(Lukas 3:21)
Dua hal yang dilakukan Yesus ketika langit terbuka, dan Roh Kudus turun ke atas-Nya. (Lukas 3:21-22)
Dipadang gurun, Yohanes Pembaptis berteriak menyampaikan berita
Illahi yang diamanatkan Allah melalui dirinya, “Bertobatlah karena
kerajaan surga sudah dekat.” Di samping itu, Ia juga membaptis orang
banyak di Sungai Yordan. Sesudah menjalani kehidupan pribadi-Nya
selama tiga puluh tahun di Galilea, Yesus datang ke Sungai Yordan
dengan tujuan dibaptis. Sesudah melihat bahwa Yesus siap dibaptis,
Yohanes Pembaptis cepat-cepat menolak sambil berkata,
“Akulah yang seharusnya Engkau baptis. Tetapi kini ternyata justru
Engkau yang meminta supaya aku baptis?”
tetapi Yesus menjawab,
“Biarlah hal itu terjadi, karena demikian sepatutnya kita
menggenapkan seluruh kehendak Allah” (Matius 3:15)
Ia kemudian menawarkan diriNya agar dibaptiskan oleh Yohanes.
Ketika Yesus dibaptis sebagaimana orang-orang yang lain, dan
sementara dibaptis, Ia berdoa. Tiba-tiba langit pun terbuka dan Roh
Kudus turun ke atas diri-Nya seperti seekor burung merpati (Lukas
3:21). Melalui pembaptisan Yesus, kita dapat mempelajari beberapa
hal yang diajarkan Allah.
Baptisan air
Sebelum melayani orang banyak, Yesus menerima baptisan air yang
dilakukan oleh Yohanes. Tentu saja Yesus Kristus tidak mengenal
dosa, dan ia tidak melakukan suatu dosa pun. Ia tidak bercacat cela,
namun menerima baptisan pertobatan sebagaimana yang kita terima
sebagai orang berdosa. Tujuan-Nya adalah supaya Yesus dapat menebus
manusia dari dosa. Dengan kasih itulah Allah mengasihi kita.
Baptisan Yesus itu mengajarkan hal berikut kepada kita : Pada waktu
bertobat, kita pun harus dibaptis sebagai tanda atau kesaksian
kepada dunia, bahwa kita betul-betul menyesali kehidupan lama yang
berdosa, dan bersedia untuk menghasilkan buah pertobatan. Turun ke
dalam air berarti makanan yang ada. Mungkin tidak ada seorang pun
yang menyangka bahwa akan terdapat kelebihan makanan. Tetapi
ternyata sesudah dikumpulkan dan dihitung, kelebihannya sampai dua
belas bakul penuh.
Kunci keberhasilan dalam kehidupan kita terletak pada sikap kita.
Kita pun punya banyak persoalan yang harus diselesaikan. Sebab itu
marilah kita miliki sikap seperti Andreas jika menghadapi persoalan-
persoalan kita. Marilah kita selalu mengingat prinsip ini, “kalau
persoalanku aku bawa kepada Yesus, Ia selalu mempunyai jalan
keluarnya.”
Benih iman
———-
Yang berada di balik mujizat besar itu adalah adanya iman seorang
anak laki-laki kecil. Baginya, mengurbankan bekal makan siangnya
yang terdiri dari 5 ketul roti dan 2 ekor ikan tentulah sesuatu yang
besar artinya. Seperti orang-orang dewasa yang berada di
sekelilingnya, anak kecil yang sedang bertumbuh itu tentulah juga
merasa sangat lapar pada petang hari itu. Tetapi saat ia
mengurbankan jatah makanannya, anak itu menanamkan benih iman. Pada
saat Yesus memberkati benih iman yang kecil itu, mujizat
pelipatgandaan makanan yang cukup untuk 5.000 orang itu pun
terjadilah. Bahkan kelebihannya sampai mencapai dua belas bakul
penuh.
Kebenaran-sejati yang perlu dipelajari dan dihayati adalah perintah
Yesus kepada para murid-Nya agar secara seksama mengumpulkan
kelebihan makanan yang ada. Berkat Allah yang diberikan kepada kita
tidak pernah dimaksudkan agar kita boroskan atau sia-siakan. Kita
harus memperlakukan sebaik-baiknya berkat yang diberikan Allah. Kita
harus membagikannya kepada orang-orang lain yang memerlukan. Segala
sesuatu yang telah dijadikan atau dikerjakan Allah bagi kita tidak
boleh diboroskan.
Di manakah terjadinya mujizat pelipatgandaan makanan yang dibuat Yesus dari 5 ketul roti dan 2 ekor ikan itu ? (Lukas 9 : 10)
Berapa banyak makanan yang diberikan Yesus kepada orang banyak itu ? (Lukas 9 : 17)
Ke manakah Yesus pergi seorang diri sesudah mengadakan
mujizat itu? (Yohanes 6 : 15)
PENERAPAN
———
1. Sekalipun dihimpit oleh permasalahan yang kelihatannya mustahil
dapat dipecahkan, marilah kita selalu mempertahankan sikap yang
positif seperti Andreas. Andreas mengajarkan pada kita bahwa kita
memiliki Yesus yang selalu dapat mengadakan mujizat dalam kehidupan
kita. Dalam keadaan hidup yang bagaimanapun, marilah kita hidup
secara positif, dan bertindak dalam iman.
2. Seperti anak laki-laki kecil yang mengurbankan makanannya itu,
marilah kita memberikan dengan penuh sukacita apa yang telah kita
miliki kepada Yesus. Jika kita mau menabur benih, kita akan menuai
kehidupan yang melimpah sesuai dengan apa yang sudah kita tabur.
2. Yesus Dicobai Iblis
Matius 4:10
“Maka berkatalah Yesus kepadanya: “Enyahlah, iblis! Sebab ada
tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada
Dia sajalah Engkau berbakti.”
Kejadian 3:6; Ibrani 4:15
a. Ketahuilah bahwa Yesus menjadi Juru Selamat orang berdosa dengan
jalan melawan pencobaan Setan (I Korintus 15:45).
b. Ketahuilah bahwa Yesus senantiasa menolong kelemahan kita, dan
menuntun kepada kemenangan.
c. Arahkan selalu kehidupan kita yang berpusatkan pada Firman Allah,
sebagaimana yang diteladankan oleh Yesus sendiri.
Bagaimanakah keadaan tubuh jasmani Yesus pada saat Ia dicobai?
(Matius 4:2)Tulislah ketiga pencobaan yang dihadapi Yesus. (Matius
4:3, 6, 9) Bagaimanakah cara Yesus mengalahkan pencobaan Setan?
(Matius 4:4, 7, 10)
Setelah dibaptis oleh Yohanes Pembaptis di Sungai Yordan, seketika
itu juga Yesus dituntun Roh Kudus memasuki padang gurun. Sesudah
berpuasa selama 40 hari 40 malam, Ia dicobai Setan dengan tiga
percobaan. Tetapi, melalui Firman Allah Yesus mengalahkannya.
Melalui pelajaran tentang kemenangan Yesus atas pencobaan, hari ini
kita akan mempelajari tentang kasih Allah terhadap kita. Kita juga
akan belajar tentang campur tangan Allah yang luar biasa dalam
melepaskan kita dari jerat serta pencobaan si Setan.
Mengapa Yesus Dicobai?
Segera setelah dibaptis oleh Yohanes Pembaptis, Yesus dituntun Roh
Kudus memasuki padang gurun. Sesudah berpuasa selama 40 hari 40
malam, Yesus dicobai oleh Setan. Yesus membuktikan diri bahwa Ia
juga seorang manusia biasa yang sama sekali tidak berbeda dari Adam.
Itulah alasan pertama mengapa Yesus dicobai oleh iblis.
Kedua, Yesus dicobai dengan tujuan diuji ketaatanNya kepada Allah.
Adam yang pertama tidak dapat mengalahkan pencobaan yang menghadang
dirinya,dan akhirnya memakan buah pohon pengetahuan tentang baik dan
yang jahat. Dengan kata lain, Adam menginjak-injak otoritas Allah,
dan berlaku tidak taat. Kini pencobaan yang sama itu datang lagi dan
menghadang diri Yesus. Dapat diistilahkan bahwa pencobaan itu adalah
suatu “persimpangan jalan.” Dalam hal itu Yesus harus memilih salah
satu di antara dua arah yang dapat dipilihNya: melaju ke arah jalan
yang mengakui hak kedaulatan mutlak Allah dan berlaku taat, ataukah
menyimpang ke tindakan-tindakan yang melawan Dia.
Pada saat diuji, Yesus menaklukkan pencobaan itu, dan patuh kepada
Allah sehingga mati di kayu salib.
Tiga Pencobaan Yesus
Ada dua macam pencobaan yang disebutkan dalam Firman Allah. Yang
pertama adalah dokimajo dalam bahasa Yunaninya. Ujian itu diberikan
oleh Allah sebagai batu loncatan untuk menerima berkat-berkat lebih
besar yang rindu dianugerahkan Allah kepada anak-anakNya. Allah
mengijinkan kita melewati jenis-jenis ujian dan pencobaan semacam
itu. Kalau kita dapat bertahan menghadapi kesukaran dan dengan iman
yang tertujukan kepada Kristus menjadi menang, kita masing-masing
dinyatakan lulus, dan diakui sebagai orang kudus yang memenuhi
syarat.
Dalam bahasa Yunani, jenis ujian yang lain dinamakan peirajo. Itu
adalah jenis percobaan yang berasal dari Setan, yang dalam bahasa
Indonesia paling tepat dinamakan `godaan’. Melaluinya Setan
mendatangkan musibah, penderitaan, sengsara dan kesesakan. Tujuannya
adalah untuk merampok, membunuh danmembinasakan kita. Setan tidak
pernah memberi kita dohimajo `ujian’ yang membuat iman kita dapat
naik kelas. Setan hanya membuat kita tersandung dengan jalanmembuat
kita terperangkap dalam jerat dosa-dosa kita.
Setan tahu bahwa sekali kita menyerah dan terjatuh ke dalam
godaannya, kita pasti akan menerima hukuman Allah. Jadi Setan selalu
berkeliling mengendap-endap seperti seekor singa lapar yang mengaum-
aum, dan bermaksud hendak memangsa kita (I Petrus 5:8). Kini kita
sendiri dapat mengerti bahwa di tempat-tempat tertentu Allah tidak
dapat memakai kita. Sebab kita selalu menyerah kalah terhadap godaan-
godaan setan yang dibuat untuk membinasakan kita, kecuali kalau kita
benar-benar hidup mendekatkan diri kepada Allah. Itulah sebabnya,
bagaikan singa yang lapar layaknya, si iblis mengaum-aum dan mencari
mangsa yang dapat dilahapnya.
Setan mencobai Adam dan Hawa dengan memakai peirajo `godaan’ itu.
Nenek moyang pertama kita gagal karena mereka menyerah kalah kepada
godaan keinginan daging, keinginan mata dan kesombongan kehidupan (I
Yohanes 2:15-17). Itu sebabnya mereka diusir keluar dari hadirat
Allah. Kali ini, sekali lagi si setan mengiming-imingi Yesus dengan
peirajo `godaan’ itu. Tetapi Yesus tidak menyerah kalah kepada tipu
daya Setan. Stan pun tahu betapa laparnya Yesus sesudah berpuasa
selama 40 hari 40 malam. Pertama-tama ia mencobai Yesus supaya
mengisi perutNya yang kosong itu dengan jalan membuat roti dari
batu. Setan menggunakan keinginan daging atau nafsu kedagingan
sebagai batu penguji. Dalam hal itu Hawa gagal dan memakan buah
pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, yang lezat bagi
keinginan dagingnya. Tetapi minat utama Yesus adalah taat kepada
Firman Allha semata-mata. Minat agung itu jauh lebih mulia daripada
keinginan daging, dan itu dibuktikan Yesus melalui ucapanNya,
“Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari
setiap firman yang keluar dari mulut Allah” (Matius 4:4)
Sesudah gagal dengan godaan pertamanya, kini Setan beralih ke godaan
yang kedua. Itu dilakukannya dengan jalan mengutip ayat-ayat dalam
Mazmur 91:11 dan 12. Ia membujuk Yesus supaya melompat dari atas
puncak bait Allah. Setan bermaksud hendak menghasut Yesus supaya
mencobai kemahakuasaan Allah, dan bergaya memperagakan jati diriNya
sebagai anak Allah yang sesungguhnya di hadapan mata orang Yahudi.
Di Taman Eden, Hawa juga terjerat oleh keinginan matanya dan
terjatuh. Hawa memetik buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan
yang jahat. Tidak perlu disebutkan di sini bahwa sebenarnya dengan
mudah bisa saja Yesus melompat tanpa mencelakakan diriNya. Kalau Ia
mau, sekalipun Ia melompat dari puncak bait Allah sampai ke lembah
maut Kidron yang amat sangat jauh letaknya, jari kakiNya pun tidak
akan sampai terkilir. Kalau Yesus sampai tergoda dan mau mengadakan
lompatan acrobat semacam itu pada saat orang Yahudi sedang
mengadakan kurban petang hari, tentu hal itu merupakan suatu
pemandangan yang amat mencengangkan bagi orang banyak yang
menyaksikanNya. Dan mungkin seketika itu juga orang banyak itu
mengangkat Dia sebagai pemimpin besar mereka dan mengikut Dia.
Tetapi Yesus menaklukkan keinginan mata itu. Ia melawan Setan dengan
jalan mengutip Firman Allah,
“Ada tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!” (Matius 4:7).
Yang terakhir, setan si pencoba itu membawa Yesus ke sebuah gunung
yang tinggi, dan menunjukkan kepadaNya seluruh kemuliaan kerajaan-
kerajaan yang berada di dunia ini. Setan menawarkan hendak
memberikan semua itu kepada Yesus, kalau Dia mau menyembahnya.
Tindakan itu dapat saja merupakan suatu cara yang dipakai Yesus
untuk merampas kembali jagad raya dan umat manusia yang secara sah
telah diserahkan hak kekuasaannya kepada Setan karena kejatuhan
Adam. Bukankah Yesus datang ke dunia ini untuk tujuan itu? Tetapi
Yesus betul-betul tahu, bahwa kalau Ia menerima begitu saja cara
licik yang ditawarkan Setan, hal itu hanya akan mendatangkan
kehancuran. Yesus tidak memilih atau bertindak menurut kemauanNya
sendiri. Dia tidak mengambiljalan pintas yang begitu mudah itu untuk
menyelesaikan permasalahan umat manusia. Sebaliknya, Ia memilih
jalan kematian di atas kayu salib, yaitu cara yang telah ditentukan
oleh Allah sendiri. Melalui pengakuan mulutNya, Yesus Kristus
menunjukkan ketaatan mutlakNya terhadap Allah,
“Enyahlah, iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan,
Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah Engkau berbakti.” (Matius 4:9)
Tetapi Hawa yang memburu kesombongan kehidupan berani mencoba-coba
untuk menjadi bijaksana seperti Allah, menurut cara licik yang
disodorkan Setan. Dan ternyata ia jatuh.
Yesus mengalahkan semua peirajo `godaan’ Setan itu. Melalui ketaatan
mutlakNya terhadap Allah, Yesus menjadi kurban dosa bagi kita.
Bila Kita Dicobai
———— —–
Apakah pelajaran-pelajaran yang dapat kita petik melalui semua
pencobaan yang dihadapi Yesus itu?
Pertama, Yesus dicobai Setan tepat sesudah Roh Kudus turun kepada
diriNya seperti burung merpati, dan juga setelah ada suara dari
surga yang terdengar. Saat ini keadaannya juga sama. Setan mencobai
kita pada saat segala sesuatu berjalan lancar dalam kehidupan kita:
pada saat kita sedang mengalami kenaikan pangkat, dipuji oleh banyak
orang, mulai hidup nyaman, menjadi kaya raya, atau ketika memasuki
hubungan yang lebih erat dengan Allah atau menerima berkat
pertumbuhan yang luar biasa pesatnya. Justru pada saat-saat itulah
Setan mencobai kita. Setan betul-betul sangat membenci iman dan
kehidupan kita, pada saat segala sesuatunya berjalan lancar. Setan
mencobai kita pada saat kita segar bugar, seperti seorang pemburu
yang hanya mengarahkan bidikan senjatanya kepada binatang yang
hidup, bukan yang sudah mati dan menjadi bangkai busuk. Jadi Rasul
Paulus mengingatkan kita,
“Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-
hatilah supaya ia jangan jatuh!”
(I Korintus 10:12)
Kedua, kita dapat memperhatikan tempat Yesus dicobai, yaitu padang
gurun. Di sini kita juga dapat melihat kesejajaran rohani. Padang
gurun adalah kehidupan kita yang sekarang ini. Bangsa Israel memang
dilepaskan dari perbudakan di Mesir, tetapi sebelum memasuki Tanah
Perjanjian Kanaan, mereka melewati masa peralihan dengan jalan
terputar-putar, tak menentu selama empat puluh tahun di padang
gurun. Pada saat menerima Yesus Kristus sebagai Juru Selamat, kita
pun dilepaskan dari dunia yang jahat yang adalah Mesir kita. Tetapi
kita juga telah ditentukan untuk menghayati kehidupan seorang
musafir di “padang gurun” yang adalah dunia tempat kita hidup
sekarang ini. Kelak di dalam surga, sekali kita memasuki kerajaan
kekal itu, tidak akan ada pencobaan yang menghadang jalan kita.
Tetapi sementara menghayati kehidupan di padang gurun kehidupan kita
pada saat ini, kita tidak mempunyai pilihan lain. Mau tidak mau kita
harus memperhadapi badai, kelaparan, kehausan, kesalahpahaman, dan
panasnya terik matahari yang terasa sangat tajam menyengat. Itulah
sebabnya, dalam padang gurun kehidupan sekarang ini kita harus
senantiasa berjaga-jaga dan berdoa kepada Bapa kita, “Janganlah
menuntun kami ke dalam pencobaan.” (Matius 6:13)
Ketiga, bila dicobai, secara tegar kita harus mendisiplin diri agar
tetap berlaku taat kepada Allah! Jangan pernah meninggalkan
keyakinan iman kita. Sebaliknya kita justru harus tetap berpegang
teguh kepada kebenaran sejati ini: yaitu bahwa Allah adalah Allah
yang baik, dan Dia akan menyelamatkan kita. Tidak peduli apapun
keadaan kehidupan yang sedang menimpa, dengan tetap teguh kita harus
memutuskan untuk selalu taat kepada Allah. Kitapun harus melawan
pencobaan itu dengan Firman Allah sebagaimana yang dilakukan Yesus,
dimulai dengan pengakuan teguh, “‘ Ada tertulis …” Kita harus
memiliki kepastian yang teguh dan mantap di dalam hati serta akal
kita, bahwa secara mutlak kita mau bersandar percaya dan taat kepada
Allah. Tanpa dipersenjatai dengan hal-hal itu, tidakmungkin kita
dapat menjadi pemenang yang dengan mudah sanggup mengalahkan
pencobaan Setan. Firman Allah bukanlah mantera yang sekadar perlu
kita kutip saja begitu saja. Hanya mengakui atau mengucapkannya
tidak akan membuat kita mengalahkan Setan. Bukankah kadang-kadang ia
sendiri juga mengutip Firman Allah? Lebih lanjut, dalam setiap
pencobaan kita harus senantiasa mencari pertolongan Roh Kudus,
karena Dia adalah Penghibur yang diutus Bapa, dan yang senantiasa
siap melepaskan kita setiap kali kita terjerumus ke dalam kesukaran.
Siapakah satu-satunya yang harus kita sembah dan layani? (Matius
4:10)Bagaimana cara suatu pencobaan mulai menarik perhatian kita?
(Yakobus 1:14) Kita dilarang mengasihi hal-hal duniawi. Apakah yang
dihasilkan oleh “kasih terhadap hal-hal duniawi” itu di dalam diri
seseorang, yang kemudian berkembang ke arah pencobaan? (I Yohanes
2:16)
1. Marilah kita berusaha sekeras-kerasnya untuk menjadi anak Allah
yang secara mutlak taat kepada Allah.
2. Marilah kita menjadi orang-orang percaya yang dipenuhi Roh Kudus,
yang sanggup melawan pencobaan si Setan.
3. Renungkanlah selalu Firman Allah. Simpanlah isinya di dalam hati
anda. Kutiplah sebagai senjata yang Anda perlukan untuk mengalahkan
Setan.
3. Yesus Memberitakan Kabar Baik Tentang Kerajaan Surga
———— ——— ——— ——— ——— ——-
Matius 4:12-17
“Sejak waktu itulah Tuhan Yesus memberitakan: “Bertobatlah, sebab
Kerajaan Sorga sudah dekat!”
Markus 1:15; Lukas 17:20, 21
\a. Marilah kita menyebarluaskan kabar baik tentang kerajaan Allah
sebagaimana yang dilakukan Tuhan Yesus.
b. Marilah kita selalu ingat bahwa bila kita memberitakan Injil,
iblis akan lari, dan kerajaan Allah akan berkembang. Kita tidak
boleh melupakan fakta itu.
Nubuat siapa yang digenapkan pada saat Yesus meninggalkan Nazaret
dan pindah ke Kapernaum? (Matius 4:13, 14)
Injil apa yang diberitakan Tuhan Yesus? (Markus 1:14)
Mengapa Tuhan Yesus berkata, “Bertobatlah dan percayalah kepada
Injil”? (Markus 1:15)
Sesudah dibaptis dan dicobai Iblis, Tuhan Yesus pergi ke daerah
Galilea. Sebagai perintis, Yohanes Pembaptislah yang lebih dahulu
memberitakan kabar baik dan mempersiapkan jalan bagi Tuhan Yesus.
Sesudah Yohanes Pembaptis menyelesaikan tugasnya dan dimasukkan ke
dalam penjara, barulah Tuhan Yesus mulai memberitakan kabar baik.
Itu dapat kita baca dalam Markus1:15,
“Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan
percayalah kepada Injil!”
Hari ini kita akan mempelajari intisari Injil yang diberitakan Yesus
itu.
Kerajaan Allah Sudah Dekat
———— ——— —–
Tuhan Yesus memberitakan, “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah
sudah dekat.”
Ucapan itu memberitahu kita bahwa kegenapan waktu yang ditetapkan
Allah untuk menebus umat manusia telah tiba, dan kerajaanNya sudah
dekat. Makna yang terkandung dalam ucapan Tuhan Yesus
bahwa “Kerajaan Allah sudah dekat” jauh lebih dalam daripada yang
biasa kita artikan. Itu bukan sekadar berarti bahwa kerajaan Allah
sudah sangat dekat, di ambang pintu, atau bahwa kerajaan itu sudah
hadir di sini.
Sebagai Putra Allah, Tuhan Yesus sendiri juga Allah. Di mana dan
bilamana Allah berada, kerajaan Allah pun berada disana juga. Itulah
sebabnya, bilamana dan dimana Allah Sang Putra itu berdiri ,
terbungkus dalam daging manusia, kerajaan Allah pun berada di tempat
itu juga. Jadi, pada saat kaum Farisi bertanya, bilakah kerajaan
Allah akan datang, Tuhan Yesus menjawab mereka,
“Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah, juga orang tidak
dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab
sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu” (Lukas 17:20-21).
Karena pada saat kita mengakui Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juru
Selamat, pada saat kita mengundang Dia masuk ke dalam hati dan
kehidupan kita agar Dia hidup danmemerintah di dalamnya, pada saat
kita mulai bergantung kepadaNya… di situlah kerajaan Allah berada,
itulah kerajaan Allah.
Ketika orang-orang Farisi memfitnah Tuhan Yesus,
“Dengan Beelzebul, penghulu setan, Ia mengusir setan.” Fitnahan itu
ditangkisNya, “Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Roh
Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu”
(Bacalah Matius 12:24, 28)
Bukan hanya itu. Pada waktu Yohanes Pembaptis mengutus para muridnya
supaya menanyai Yesus,
“Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang
lain?”
Jawaban yang diberikanNya ialah,
“Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan
kamu lihat: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta
menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan
kepada orang miskin diberitakan kabar baik” (Matius 11:2-6).
Sebenarnya Yohanes Pembaptis sedang mengajukan pertanyaan, “Benarkah
kerajaan Allah telah tiba ataukah belum?”, dan pada saat itu Tuhan
Yesus menegaskan kehadiran kerajaan Allah yang telah berada di
tengah-tengah mereka, yang disertai dengan beraneka ragam tanda
ajaib yang membuktikan kebenarannya.
Pada saat inipun Tuhan Yesus Kristus berada di dalam diri kita
melalui RohNya yang kudus itu. Roh itu adalah Penghibur yang lain
(Yohanes 14:16). Pada hakikatnya Dia adalah Allah yang sama,
sebagaimana Tuhan Yesus sendiri. Dimanapun Tuhan Yesus berada, di
tempat itu juga terdapat kerajaan Allah. Bila kerajaan Allah datang,
iblis lari tunggang langgang, orang yang sakit disembuhkan, dosa
diampuni, Injil diberitakan. Pekerjaan-pekerjaan ini terus menerus
terjadi. Dan sekarang gereja adalah kerajaan Allah, dimana di
dalamnya keajaiban karya-karya Allah itu terjadi terus menerus tanpa
henti-hentinya.
Bertobatlah dan Percayalah kepada Injil
———— ——— ——— ———
Dalam bahasa Yunani, Injil adalah “euaggelion” yang berarti “kabar
baik”. Sebenarnya, apakah yang dapat menjadi “kabar baik’ yang
terbaik bagi manusia? Apakah yang benar-benar didambakan oleh umat
manusia, dari generasi ke generasi, sesuatu yang didambakan dari
dalam lubuk hatinya?
Yang dirindukannya tidak lain adalah berita tentang dosa-dosa yang
diampuni dan pemulihan hubungan yang benar dengan Allah. Sejak
kejatuhan Adam dan Hawa, umat manusia menjadi “sebuah keberadaan
yang hilang.” Manusia kehilangan penciptanya, yaitu Allah. Manusia
kehilangan sukacita kehidupan ini yang dahulu didapatkannya di Taman
Eden. Manusia kehilangan sesamanya. Manusia kehilangan jati diri
yang sebenarnya. Orangtidak tahu mereka berasal dari mana, mengapa
mereka hidup, dan kemana mereka akan pergi. Mereka berputar-putar
kesana kemari tanpa ada ujung pangkalnya.
Bagi umat manusia yang terhilang itulah kabar baik yang berasal dari
Allah tiba.
Baik dahulu maupun sekarang, kabar baik itu tetap sama yaitu:
“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah
mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya
kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yohanes
3:16).
Kabar baik itu adalah Tuhan Yesus Kristus.
Dimanapun Injil itu diberitakan, yang artinya dimanapun Tuhan Yesus
bekerja, ada banyak hal baik yang terjadi. Orang buta melihat. Orang
tuli mendengar. Yang dirasuk setan dilepaskan. Yang miskin dan
terbuang dihormati. Mereka yang diasingkan, misalnya wanita Samaria
dan Zakheus, mencicipi sukacita kehidupan yang sebelumnya sama
sekali tidak pernah mereka rasakan.
Itulah sebabnya, pada saat Tuhan Yesus berkata, “Percayalah kepada
Injil”, sebenarnya yang dimaksudkanNya adalah, “Percayalah kepadaKu,
Yesus Kristus!” Ia mempersamakan diriNya dengan InjilNya dengan
mengatakan,
“Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan
nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan
karena Injil, ia akan menyelamatkannya” (Markus 8:35).
Untuk dapat mempercayai Injil dan memasuki kerajaan Allah,
seseorang harus mengalami pertobatan lebih dahulu. Dalam bahasa
Yunani kata untuk `pertobatan’ adalah metanoia. Artinya ialah
perubahan arah 180 derajat, dari arah kehidupan lama yang berdosa ke
arah kehidupan yang baru. Orang yangbertobat itu harus meninggalkan
kehidupan lamanya, yaitu kehidupan yang semata-mata berdasarkan pada
kemauan diri sendiri dan bukan kehendak Allah. Pertobatan bukanlah
hanya sekadar berdukacita terhadap dosa-dosa yang lampau, mereka
menyesal atau malu bila mengingatnya. Bila Anda benar-benar
bertobat, berarti Anda berbalik dari cara kehidupan lama itu;
berarti “melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri
kepada apa yang di hadapanku” (Filipi 3:13).
Jika kita telah mengakui dosa-dosa kita di hadapan Allah dan memohon
pengampunanNya, kita harus percaya sepenuhnya bahwa Allah benar-
benar telah mengampuni kita.
Tepatnya, kita dapat mengatakan hal itu sebagai berikut: Pertobatan
Bukanlah sebuah pandangan ke belakang atau meninjau kembali masa
lalu, melainkan sebuah pandangan ke masa depan. Pertobatan
memungkinkan seseorang memandang jauh ke depan, dan membuatnya
berjalan maju dengan langkah mantap dalam kehidupan yang penuh
percaya dan harapan. Itulah sebabnya dapat kita katakan bahwa
pertobatan dan iman bekerja sama serta berjalan berdampingan pada
waktu yang bersamaan.
Beritakanlah Kabar Baik
———— ——— –
Kita mempunyai tanggung jawab yang besar dan mengagumkan, yaitu
harus memberitakan kabar baik itu ke seluruh dunia.
“Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah
pula dengan cuma-cuma” (Matius 10:8).
Kita dipanggil Allah agar membawa masuk anggota keluarga masing-
masing dan juga sesama kita ke dalam kerajaan Allah. Supaya berhasil
melaksanakannya, kita harus memberitakan Injil Yesus Kristus itu.
Kita harus memberitakan satu hal saja, yaitu Injil. Yang harus kita
beritakan bukanlah pengetahuan ataupun gagasan kita sendiri. Yesus
Kristus sendiripun bahkan tidak pernah memberitakan tentang diriNya
sendiri. Ia senantiasa bersaksi tentang Allah BapaNya,
“AjaranKu tidak berasal dari diriKu sendiri, tetapi dari Dia yang
telah mengutus Aku” (Yohanes 7:16).
“Sebab Aku berkata-kata bukan dari diriKu sendiri, tetapi Bapa,
yang mengutus Aku, Dialah yang memerintahkan Aku untuk mengatakan
apa yang harus Aku katakana dan Aku sampaikan” (Yohanes 12:49).
Sebab itu, bila kita menginjil, kita harus memberitakan Yesus
Kristus saja. Sebagai para murid Yesus yang diutus olehNya, kita
tidak boleh malu terhadap InjilNya. Kalau kita malu terhadap
InjilNya, berarti kita malu terhadap Yesus. Rasul Paulus menyatakan,
“Karena aku tidak malu terhadap Injil Kristus: karena hal itu adalah
kuasa Allah yang mendatangkan keselamatan bagi setiap orang yang
percaya” (Roma 1:16; dari terjemahan Inggris).
Kitapun tidak boleh malu terhadap Injil Kristus. Kita harus
memberitakannya agar kuasa Allah itu dapat dinyatakan.
Bila kita memberitakan Yesus Kristus, kerajaan Allahpun datang ke
atas kehidupan orang yang mendengarkannya, dan Allah memerintah
secara berdaulat melalui kuasaNya yang bersifat supra alamiah.
Mujizat yang mengubahkan perikehidupan kita dan orang-orang di
sekitar kita akan senantiasa terjadi!
Pertanyaan untuk Didiskusikan
———— ——— ——–
Apakah isi perintah Allah yang harus disampaikan oleh Tuhan Yesus
Kristus bila Ia berkata-kata tentang Bapa-Nya? (Yohanes 12:49, 50)
Apakah yang menjadi alasan Paulus sehingga ia tidak merasa malu
terhadap Injil Kristus? (Roma 1:16)
Dua hal apa yang membawa kita masuk ke dalam kerajaan Allah? (Roma
1:15)
1. Tanyalah diri anda sendiri: Anda malu terhadap Injil Kristus atau
tidak? Injil Kristus adalah kuasa Allah yang mendatangkan
keselamatan bagi semua orang yang mempercayai beritanya. Marilah
kita memberitakan Injil itu dengan penuh keberanian.
2. Bila kita berusaha memenangkan jiwa-jiwa bagi Tuhan, dengan rajin
marilah kita memberitakan Firman Allah, sebagaimana yang dilakukan
olehTuhan Yesus dan Paulus. Kemudian kita akan menyaksikan
terjadinya mujizat-mujizat ajaib yang jelas dimanifestasikan dalam kehidupan kita.