Beranda > BERITA > 2 Tokoh KRISTEN Jadi PAHLAWAN NASIONAL

2 Tokoh KRISTEN Jadi PAHLAWAN NASIONAL


Reformata.com – DUA tokoh Kristen masing-masing Dr. Johannes Leimena dan Johannes Abraham Dimara, dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara, Jakarta, Kamis (11/11) hari ini. Selain gelar Pahlawan Nasional, Presiden juga memberikan tanda jasa dan tanda kehormatan kepada sejumlah anak bangsa. Di antara nama-nama yang mendapat tanda jasa, nampak pula Romo Yosef Bilyarto Mangunwijaya, Dipl. Ing., yang lebih dikenal dengan YB. Mangunwijaya. Arsitek, novelis, budayawan serta rohaniwan Katolik ini mendapatkan anugerah Bintang Budaya Parama Dharma.

Dr. Johannes Leimena adalah pejuang kemerdekaan asal Maluku yang meningalkan jejak patriotisme yang kuat dalam sejarah Indonesia. Pria kelahiran Ambon 6 Maret 1905 ini pernah menjadi Wakil Perdana Menteri dari 1957-1966 dan sebagai Menteri Kesehatan di era Presiden Soekarno (1946-1956). Di kalangan Kristen, ia lebih dikenal sebagai pendiri Parkindo (Partai Kristen Indonesia) pada tahun 1950. Dia juga pernah beberapa kali menjadi pejabat presiden ketika Presiden Sukarno melawat ke luar negeri.
Sementara Johannes Abraham Dimara adalah lulusan sekolah guru Protestan di Pulau Buru pada 1941 dan pernah menjad anggota HEIHO, ketua Persatuan Indonesua Meredeka (PIM), serta terlibat dalam berbagai perjuangan merebut kemerdekaan. Dia wafat pada Oktober 2000, dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Paul Mkgr

Jakarta – Pemerintah menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada dua tokoh nasional. Selain itu, 20 orang tokoh nasional lainnya dianugerahi bintang tanda kehormatan.

Penganugerahan ini bagian prosesi puncak peringatan Hari Pahlawan. Upacara digelar di Istana Negara, Jl Veteran, Jakarta, Kamis (11/11/2010).

Dua pejuang kemerdekaan yang kali ini dianugerahi gelar pahlawan nasional adalah almarhum DR J Leimena (gambar) dan almarhum Johanes Abraham Dimara. Leimena adalah tokoh dari Maluku yang pernah menjadi menteri kesehatan di era Presiden Soekarno. Johanes Abraham Dimara dari Papua adalah pejuang pembebasan Irian Barat.

Pada upacara pagi tadi, juga telah Presiden SBY anugerahkan Tanda Kehormatan Bintang Mahaputera kepada 9 orang putra terbaik bangsa. Mereka adalah;
1. Pangeran Mangkunegara IV (Raja Mangkunegaran)
2. Sayyid Idrus Bin Salim Segaf Al Jufrie (pejuang dari Sulteng)
3. Sutan Takdir Alisjahbana (sastrawan)
4. Raden Ngabehi Ronggowarsito (pujangga)
5. Raden Saleh Syarif Bustaman (pelukis)
6. Andi Makkasau Parenrengi Lawawo (pejuang dari Sulsel)
7. Hj Andi Deppu (pejuang dari Sulbar)
8. Alexius Impurung Mendur (pejuang foto jurnalistik)
9. Frans Sumarto Mendur (pejuang foto jurnalistik)

Sedangkan untuk Tanda Kehormatan Bintang Jasa Pratama dan Nararya diberikan kepada 2 putra terbaik bangsa. Yakni;
1. Marwoto Hadi Soesastro (executive director CSIS)
2. Abdul Kadir (seniman didong, Aceh)

Delapan orang budayawan juga dianugerahi Tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma. Mereka adalah;
1. Prof Syafei Soemardja (pendidik dan pelukis)
2. Ki Nartosabdo (seniman musik dan dalang)
3. Affandi Koesuma (pelukis)
4. Romo Yusuf Bilyarta Mangunwijaya (budayawan dan novelis)
5. Sjumandjaja (sutradara film dan budayawan)
6. WS Rendra (sastrawan, aktor dan penyair)
7. Mimi Rasinah (penari topeng)
8. Udjo Ngalagena (seniman angklung).

Mensos Salim Segaf Al Jufri dalam siaran pers, Rabu (10/11/2010) menjelaskan, perdebatan tentang peran seorang tokoh wajar terjadi, tapi hikmahnya harus memperkuat kebangsaan.

“Karen pahlawan berkorban untuk kemajuan bangsa di masa kini dan nanti. Bukan untuk diri sendiri,” tambah Salim.

Menurutnya pula, penetapan itu tidak ada intervensi atau nepotisme. Karen tim pengkaji dan Dewan Gelar bekerja obyektif dan independen.

“Spirit kepahlawanan tak boleh mati, meski jasad pahlawan nasional telah dimakamkan,” urainya.

Salim juga mengapresiasi pengorbanan relawan di daerah bencana yang bertaruh nyawa untuk menyelamatkan pengungsi. “Mereka ‘pahlawan kemanusiaan’. Kita juga saksikan tokoh lokal dan aktivis pemberdayaan masyarakat di daerah perbatasan dan komunitas adat terpencil. Mereka yang berjasa merekatkan kita dengan saudara-saudara yang jauh sebagai satu bangsa,” tutupnya.

Pemerintah sudah menyaring 10 nama calon Pahlawan Nasional. Mereka adalah Ali Sadikin dari Jawa Barat, Habib Sayid Al Jufrie dari Sulteng, HM Soeharto dari Jawa Tengah, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dari Jawa Timur, Andi Depu dari Sulawesi Barat, Johanes Leimena dari Maluku, Abraham Dimara dari Papua, Andi Makkasau dari Sulawesi Selatan, Pakubuwono X dari Jawa Tengah, dan Sanusi dari Jawa Barat.

Nama yang mengundang kontroversi yakni Soeharto. Banyak kritikan mengarah saat nama Soeharto muncul. Banyak yang menilai Soeharto masih belum pantas mendapat gelar pahlawan. (lh/fay)

About these ads
Kategori:BERITA
  1. angela
    17 November 2011 pukul 11:55 AM | #1

    jelek masa gak ada tanggal lahirnya sih ini kan juga pahlawan masa orang lain jelek jelek jelek dan jelek!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

  2. 18 November 2011 pukul 5:46 PM | #2

    Maksudmu tanggal lahirnya siapa? kalau Dr. Johannes Leimena, tanggal lahirnya ada tertulis di atas: Pria kelahiran Ambon 6 Maret 1905. Yang lain memang dalam artikel tidak dicantumkan oleh penulisnya. Namun dapat dicari di Om Google.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: