Beranda > DEBAT TEOLOGI, ISU POPULER, KESELAMATAN > Apakah Seseorang Yang Sudah Diselamatkan Dapat Meninggalkan Iman dan Terhilang

Apakah Seseorang Yang Sudah Diselamatkan Dapat Meninggalkan Iman dan Terhilang


Apakah Seseorang Yang Sudah Diselamatkan Dapat Meninggalkan Iman dan Terhilang

Ini adalah sebuah topik yang diperdebatkan dengan sengit dalam kalangan orang Kristen. Maka tidak mengherankan bahwa masing-masing pandangan memiliki pendukung setia, dan diskusi biasanya berlangsung dengan semangat dan berapi-api. Namun demikian, kita harus selalu mengingat bahwa yang kita cari adalah kebenaran, bukan sekedar suatu cara untuk mempertahankan pendapat atau doktrin kita.

Seharusnya kita sebagai orang percaya selalu menjadi hamba kebenaran, sebagaimana Paulus katakan: “Karena kami tidak dapat berbuat apa-apa melawan kebenaran; yang dapat kami perbuat ialah untuk kebenaran” (2 Kor. 13:8). Jika anda hanya mencari cara untuk membenarkan apa yang anda selama ini percayai, atau apa yang diajarkan pada anda, maka mata anda tidak akan pernah terbuka. Saya sendiri pernah diajar dan pernah percaya bahwa “sekali diselamatkan, kamu tidak bisa meninggalkan iman.” Saya berusaha untuk mempertahankan ajaran ini mati-matian, sampai akhirnya saya tidak dapat lagi menutup mata pada banyaknya bukti Alkitab bahwa hal tersebut tidak benar. Nah, berikut ini adalah rangkuman dari penyelidikan saya mengenai topik ini, dari Alkitab.

Pertama-tama, marilah kita memperhatikan beberapa hal mendasar mengenai keselamatan. Saya akan paparkan ini dalam bentuk poin-poin, dan setiap poin akan membangun di atas poin sebelumnya, sehingga kebenaran tentang hal ini dipaparkan bukan saja secara Alkitabiah, tetapi juga sistematis.

1. Keselamatan adalah karena Kasih Karunia Allah, dan didapatkan melalui Iman

Pertama-tama, saya berasumsi bahwa anda bukanlah seorang Hiper-Kalvinis. Seorang Hiper-Kalvinis meyakini bahwa manusia sama sekali tidak memiliki tanggung jawab dalam hal keselamatannya. Hiper-Kalvinis (walaupun banyak yang mengajarkan Hiper-Kalvinisme, jarang ada yang mau mengaku sebagai Hiper-Kalvinis) percaya bahwa Allah menyelamatkan manusia dengan cara memaksa kehendak manusia tersebut (manusia tidak punya kehendak bebas), dengan Irresistible Grace (Kasih Karunia yang tak dapat ditolak). Jadi, pada intinya, menurut mereka sebagian manusia dibuat menjadi percaya oleh Allah karena mereka orang pilihan, sedangkan yang lainnya tidak dapat percaya karena mereka non-pilihan.

Puji syukur pada Tuhan, mayoritas pembaca Alkitab yang masih waras, dapat melihat bahwa Allah menuntut tanggung jawab manusia untuk bertobat dan percaya pada Yesus Kristus sebagai syarat mendapatkan keselamatan yang telah Kristus sediakan karena kasih karuniaNya. Oleh sebab itulah, Efesus 2:8-9 menyatakan dua hal sebagai komponen kunci dalam keselamatan, yaitu kasih karunia dan iman. Kasih karunia adalah komponen dari pihak Allah, dan iman adalah komponen dari manusia. Agar seseorang diselamatkan, Allah harus memberikan kasih karuniaNya (yang sudah Ia lakukan), dan orang tersebut harus percaya atau dengan kata lain beriman. Ingat bahwa iman bukanlah “membantu Allah” dalam proses keselamatan, tetapi adalah menerima kasih karunia Allah.

2. Iman adalah syarat keselamatan, bukan perbuatan

Kepala penjara Filipi bertanya, “apakah yang harus aku perbuat, supaya aku selamat?” Paulus menjawab, “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus.” Ini tidak berarti bahwa kita diselamatkan karena perbuatan atau pekerjaan. Seseorang harus percaya (beriman) untuk mendapatkan keselamatan. Keselamatan (termasuk di dalamnya pendamaian dari dosa, pembenaran, kelahiran kembali, dan seluruh paket keselamatan) disediakan untuk semua umat manusia oleh Kristus (1 Yohanes 2:2), tetapi hanya diterapkan kepada mereka yang percaya (Yoh. 3:16).

Jadi, mengatakan bahwa “engkau harus percaya (beriman) untuk dapat diselamatkan,” bukanlah Keselamatan-karena-usaha. Hal ini jelas terlihat dari Roma 4:2-9. Karena iman Abraham, Allah memperhitungkannya sebagai orang benar, dan iman ini tidak sama dengan “perbuatan.” Harus diperjelas di sini, bahwa iman adalah syarat keselamatan bukan dasar keselamatan. Iman tidak membuat kita layak masuk surga, tetapi adalah syarat yang Allah sendiri tentukan untuk mendapatkan keselamatan yang berdasar pada kasih karuniaNya dan pekerjaan Yesus Kristus yang telah selesai di kayu salib.

3. Karena Iman adalah Syarat untuk mendapatkan Keselamatan, maka Iman juga adalah Syarat untuk Tetap dalam Keselamatan

Pertanyaannya berpusat di poin ini. Alkitab cukup jelas, bahwa ada syarat untuk mendapatkan keselamatan – iman! Nah, kalau begitu, adakah syarat untuk tetap di dalam keselamatan ini? Jika kita menyelidiki Alkitab, maka jawabannya jelas: ada, yaitu – iman!

Beberapa ayat Firman Tuhan yang mengajarkan hal ini dengan sangat jelas:

ù “Oleh Injil itu kamu diselamatkan, asal kamu teguh berpegang padanya, seperti yang telah kuberitakan kepadamu kecuali kalau kamu telah sia-sia saja menjadi percaya.” (1 Kor. 15:2)

ù “tetapi Kristus setia sebagai Anak yang mengepalai rumah-Nya; dan rumah-Nya ialah kita, jika kita sampai kepada akhirnya teguh berpegang pada kepercayaan dan pengharapan yang kita megahkan.” (Ibrani 3:6)

ù “Karena kita telah beroleh bagian di dalam Kristus, asal saja kita teguh berpegang sampai kepada akhirnya pada keyakinan iman kita yang semula.” (Ibrani 3:14)

ù “Tetapi orang-Ku yang benar akan hidup oleh iman, dan apabila ia mengundurkan diri, maka Aku tidak berkenan kepadanya.” (Ibrani 10:38)

ù “sekarang diperdamaikan-Nya, di dalam tubuh jasmani Kristus oleh kematian-Nya, untuk menempatkan kamu kudus dan tak bercela dan tak bercacat di hadapan-Nya. Sebab itu kamu harus bertekun dalam iman, tetap teguh dan tidak bergoncang, dan jangan mau digeser dari pengharapan Injil, yang telah kamu dengar dan yang telah dikabarkan di seluruh alam di bawah langit, dan yang aku ini, Paulus, telah menjadi pelayannya.” (Kol. 1:22-23)

Sungguh mengherankan bagi saya bahwa ada orang-orang yang berani berkata bahwa tidak ada syarat untuk mendapatkan janji-janji keselamatan Allah dan berkat-berkat dalam keselamatan! Alkitab sangat jelas. Kata “jika” dan “asal” tidak terlalu sulit dimengerti. Toh mereka hanya terdiri dari empat huruf, dan kata-kata itu mengindikasinya adanya suatu syarat!! 1 Korintus 15:2 berkata, “Oleh Injil itu kamu diselamatkan, asal kamu teguh berpegang padanya, seperti yang telah kuberitakan kepadamu kecuali kalau kamu telah sia-sia saja menjadi percaya.” Bagian mana dari ayat ini yang sulit untuk dimengerti?

Paulus mengajarkan bahwa orang Kristen harus tetap percaya pada Injil yang telah ia beritakan, agar keselamatan yang telah mereka terima tetap diterapkan pada mereka. Jika mereka tidak percaya lagi, maka kepercayaan mereka yang pertama akan sia-sia. Pengajaran ini sedemikian jelas, sehingga orang yang hendak menolaknya harus melakukan akrobatik penafsiran sedemikian rupa untuk memutarbalikkan artinya.

Alkitab mengajarkan hal ini dengan begitu jelas, saya sering rindu semua doktrin diajarkan sejelas ini dalam Alkitab. Jadi, iman bukan hanya syarat untuk mendapatkan keselamatan, tetapi juga adalah syarat untuk tetap dalam keselamatan, dan menerima fase akhir dari keselamatan kita: kemuliaan di Surga bersama Kristus!

Nah, orang-orang yang percaya “sekali selamat tetap selamat” (SSTS, tanpa peduli orang itu beriman atau tidak), mereka akan mengatakan bahwa apa yang percaya adalah “keselamatan karena usaha manusia.”

Tetapi hal ini tidak benar. Syarat keselamatan adalah iman, bukan usaha!! Dan Alkitab membedakan antara keduanya. Ada orang yang mengajarkan bahwa kalau anda jatuh dalam dosa, maka keselamatanmu hilang.

Pengajaran ini juga bertentangan dengan Alkitab! Satu-satunya cara kehilangan keselamatan adalah dengan meninggalkan iman yang telah menyelamatkanmu! Semua dosamu telah diperdamaikan oleh Yesus! Jadi, tidak ada dosa yang dapat membuat kita terhilang lagi. Tetapi, Allah menuntut iman agar pendamaian ini diterapkan pada setiap inpidu. Iman adalah syaratnya. Jika kita melangkah keluar dari iman, maka hak kepada hidup yang kekal dibatalkan, sebagaimana diajarkan dengan jelas dari perikop berikut:

ù “Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan. Sesungguhnya, aku, Paulus, berkata kepadamu: jikalau kamu menyunatkan dirimu, Kristus sama sekali tidak akan berguna bagimu.

Sekali lagi aku katakan kepada setiap orang yang menyunatkan dirinya, bahwa ia wajib melakukan seluruh hukum Taurat. Kamu lepas dari Kristus, jikalau kamu mengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat; kamu hidup di luar kasih karunia. Sebab oleh Roh, dan karena iman, kita menantikan kebenaran yang kita harapkan.” (Gal. 5:1-5)

ù “Tetapi orang-Ku yang benar akan hidup oleh iman, dan apabila ia mengundurkan diri, maka Aku tidak berkenan kepadanya.” (Ibrani 10:38)

ù “Sebab mereka yang pernah diterangi hatinya, yang pernah mengecap karunia sorgawi, dan yang pernah mendapat bagian dalam Roh Kudus, dan yang mengecap firman yang baik dari Allah dan karunia-karunia dunia yang akan datang, namun yang murtad lagi, tidak mungkin dibaharui sekali lagi sedemikian, hingga mereka bertobat, sebab mereka menyalibkan lagi Anak Allah bagi diri mereka dan menghina-Nya di muka umum.” (Ibrani 6:4-6)

ù “yang telah menyimpang dari kebenaran dengan mengajarkan bahwa kebangkitan kita telah berlangsung dan dengan demikian merusak iman sebagian orang.” (2 Tim. 2:18)

ù “Sebab jika mereka, oleh pengenalan mereka akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus, telah melepaskan diri dari kecemaran-kecemaran dunia, tetapi terlibat lagi di dalamnya, maka akhirnya keadaan mereka lebih buruk dari pada yang semula. Karena itu bagi mereka adalah lebih baik, jika mereka tidak pernah mengenal Jalan Kebenaran dari pada mengenalnya, tetapi kemudian berbalik dari perintah kudus yang disampaikan kepada mereka. Bagi mereka cocok apa yang dikatakan peribahasa yang benar ini: “Anjing kembali lagi ke muntahnya, dan babi yang mandi kembali lagi ke kubangannya.” (2 Petrus 2:20-22)

Jadi, penyelidikan yang jujur dan terbuka atas Firman Tuhan, menempatkan iman sebagai syarat mendapatkan dan terus di dalam keselamatan, dan hal ini membuka kemungkinan bagi mereka yang sudah selamat (sudah memiliki iman) untuk meninggalkan iman (dan terhilang).

Pendukung SSTS suka menunjuk pada ayat-ayat yang mengandung janji-janji yang indah dari Allah, dan mengatakan bahwa pada ayat-ayat ini tidak tercantum adanya syarat. Sebenarnya, harus dimengerti bahwa Alkitab itu adalah satu kitab. Allah tidak perlu mengulangi hal yang sama dalam setiap ayat. Jika sudah jelas tercantum dalam ayat-ayat yang kita bahas di atas, bahwa tinggal dalam iman (tetap percaya Yesus) adalah syarat untuk keselamatan, maka Allah tidak perlu mengulangi syarat ini setiap kali Ia memberikan sebuah janji. Sekali syarat itu sudah dinyatakan dengan jelas di minimal satu perikop (dan dalam Alkitab terdapat banyak), maka syarat itu tentunya berlaku pada semua perikop dalam Alkitab.

4. Semua Berkat yang Terkait dengan Keselamatan Adalah Milik Saya Karena Saya Ada Dalam Kristus

Banyak pendukung “sekali selamat tetap selamat” (SSTS), menggunakan argumen-argumen yang bersifat emosional, yang sesungguhnya tidak lulus jika dicermati secara Alkitabiah. Mereka menggunakan argumen seperti: “Agar saya dapat kehilangan keselamatan saya, saya harus merebut jiwa saya sendiri dari tangan Allah, membongkar meterai Roh Kudus, menyangkal bahwa saya anak Allah, membatalkan kewargaan saya di surga, dan lain-lain.” Argumen seperti ini menunjukkan salah pengertian yang mendalam tentang gambaran yang sebenarnya di mata Allah.

Alkitab mengatakan bahwa semua berkat yang kita miliki, kita miliki dalam Kristus! “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga” (Ef. 1:3). Bacalah Efesus 1:1-14, dan penekanan perikop itu adalah tentang apa yang kita miliki “dalam Kristus,” termasuk semua berkat, pemilihan kita, status kita sebagai anak, penebusan, pengampunan dosa, dan meterai Roh Kudus. Kita memiliki semua ini bukan karena kehebatan kita sendiri ataupun karena kita layak, tetapi karena kita berhubungan dengan Kristus. Dengan kata lain, ketika Allah Bapa melihat kita, Ia melihat kita sebagai anak-anakNya, bukan karena sesuatu dalam diri kita sendiri, tetapi karena kita terhubung dengan Kristus. Baca Galatia 3:29 “Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah.” Perhatikan kata “jika”!! Jika kamu milik Kristus, kamu memiliki semua janji Allah. Jadi, barangsiapa tidak ada di dalam Kristus, maka ia tidak memiilki janji-janji itu. Pertanyaannya ialah, bagaimanakah kita bisa berada dalam Kristus atau terhubung dengan Kristus? Jawabannya adalah dengan iman!!

Kristus disebut Adam kedua. Kita terhubung dengan Adam pertama melalui proses kelahiran, dan kita akan mati karena hubungan kita kepada Adam pertama itu. Kita dapat terhubung pada Adam Kedua, bukan melalui kelahiran, tetapi melalui iman (kelahiran kembali). Jadi, kondisi berada dalam Kristus, itu bergantung pada iman kita padaNya. Jika kita tidak memiliki iman, kita tidak ada dalam Kristus. Mereka yang beriman adalah mereka yang ada dalam Kristus. Efesus 3:17 sangat jelas, “sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih.” Alkitab penuh dengan referensi bahwa kita berada dalam Kristus, atau terhubung dengan Kristus, melalui iman.

Jadi, sungguh adalah kesalahpahaman jika ada yang berkata, “kamu tidak dapat terhilang lagi, karena kamu adalah anak Allah, kamu memiliki kewargaan surga, dll.” Argumen seperti ini seolah-olah menyatakan bahwa semua berkat tersebut adalah sesuatu yang melekat pada diri saya karena diri saya sendiri. Tetapi Alkitab berkata bahwa di luar Kristus, kita bukanlah apa-apa dan tidak dapat melakukan apa-apa (Yoh. 15:4-5). Jadi, jauh lebih Alkitabiah untuk melihat semua berkat tersebut bukan melekat pada diri orang itu, tetapi berkat-berkat tersebut datang karena ia ada “dalam Kristus.” Jadi, jika seseorang lepas dari Kristus (karena tidak beriman) maka hubungannya dengan Kristus akan hilang, dan demikian juga semua berkat keselamatan. Seseorang yang adalah warga surga, ia warga surga karena ia ada dalam Kristus. Jika ia lepas dari Kristus, ia bukan warga surga lagi. Seseorang yang dimeteraikan Roh Kudus, ia dimeteraikan karena ia percaya (beriman), dan ada dalam Kristus. Jika ia lepas dari Kristus, maka meterai tersebut dicabut dari dirinya.

Dapatkah seorang yang sudah percaya lepas dari Kristus? Jawabannya, menurut Alkitab adalah YA yang lantang, lihat Galatia 5:1-6 (sudah dikutip di atas), dan juga Yohanes 15:4-9: “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.

Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar. Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku.” “Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu.”

Pertama-tama, perhatikan perintah untuk tinggal di dalam. Yesus mengatakan semua ini kepada orang yang sudah percaya. Mereka sudah “ada dalam Kristus,” barulah bisa ada perintah untuk “tinggal di dalam.” Jika orang percaya tidak mungkin tidak “tinggal,” maka tidak akan ada perintah untuk “tinggal.” Adanya suatu perintah, tentunya berarti bahwa ada kemungkinan untuk tidak melakukan perintah itu. Jika seorang tidak tinggal dalam Kristus (yaitu terus percaya padaNya), maka ia diperhadapkan pada penghakiman yang digambarkan dengan kata-kata “dicampakkan ke dalam api lalu dibakar.” Ini adalah acuan pada hukuman kekal. Keith Piper mencoba untuk mengelak dengan berkata bahwa yang dikumpulkan untuk dibakar adalah perbuatan orang tersebut, bukan orangnya sendiri. Jadi, menurut Piper, yang terbakar adalah “perbuatannya,” bukan orangnya. Pemikiran seperti ini salah dalam minimal tiga hal. Pertama, konteks perikop ini bukan berbicara mengenai perbuatan seseorang, perikop ini berbicara mengenai ranting, yang diidentifikasi dalam perikop sebagai orang yang percaya pada Kristus. Jadi, bukan perbuatan yang disorot di sini, tetapi orangnya.

Kedua, ranting tersebut dikatakan “dibuang keluar seperti ranting dan menjadi kering.” Jelas, yang dibuang adalah ranting, dan bukan buah (perbuatan). Ranting menjadi kering karena tidak lagi ada dalam pokok yang benar, yaitu Kristus. Ketiga, jika apa yang dikatakan Piper benar, bahwa orang yang bersangkutan masih masuk surga maka lucu sekali akan ada orang yang “di luar Kristus,” tetapi masuk surga. Ide seperti itu sama sekali tidak ada dalam Alkitab.

5. Janji-janji dalam Alkitab selalu bersyarat pada Iman
Masih berhubungan dengan argumen di poin sebelumnya, ingat bahwa semua yang kita miliki, kita miliki dalam Kristus. Kita berada dalam Kristus karena kita percaya padaNya (beriman padaNya). Jadi, semua janji dalam Alkitab sebenarnya bersyarat pada percaya! Nah, percaya macam apa yang dimaksud?

Mayoritas janji-janji Allah yang tercatat dalam Alkitab, menggunakan kata kerja present tense ketika mengacu pada “percaya” yang mendatangkan hidup kekal. Beberapa contoh cukup:
ù “supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.” (Yoh. 3:15)

ù “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yoh. 3:16)

ù “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup.” (Yoh. 5:24)

ù “Kata Yesus kepada mereka: “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.” (John 6:35)

ù “Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman.” (Yoh. 6:40)

ù “Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku.” (Yoh. 10:27-28)

Semua kata kerja yang dicetak tebal di atas adalah dalam bentuk present tense. Sebagaimana diketahui oleh semua murid Yunani, present tense berarti aksi yang terus menerus. Jadi, keselamatan itu bersyarat, bukan pada iman yang hanya sekali waktu, tetapi iman yang terus menerus pada Yesus.

6. Manusia Tidak Kehilangan Kehendak Bebas Ketika Ia Percaya
Doktrin SSTS pada dasarnya menghilangkan kehendak bebas dari manusia ketika ia menjadi percaya. Ironisnya, kehendak bebas ini hanya dihilangkan dalam hal keselamatan. Pendukung SSTS akan mengakui bahwa ada kehendak bebas dalam semua aspek kehidupan lainnya (seorang Kristen dapat mundur imannya, dapat melakukan hal-hal yang menyedihkan hati Tuhan), tetapi sama sekali tidak punya kehendak bebas dalam hal menolak iman yang pernah ia terima.

Pendukung SSTS mencoba untuk memaksakan bahwa orang yang percaya itu permanen percaya, dengan mengutip ayat-ayat seperti Yoh. 5:24, “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup.”

Nah, kata mereka, ayat ini memproklamirkan bahwa orang percaya “tidak turut dihukum.” Tetapi mereka lupa bahwa ayat ini memberikan janji tersebut kepada orang percaya. Sebagai perbandingan, mari kita lihat Yohanes 3:36: “Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya.”

Kalau kita bandingkan:
Yohanes 5:24 Yohanes 3:36
barangsiapa….percaya barangsiapa….tidak taat [tidak percaya]
tidak tidak
turut dihukum akan melihat hidup

Picirilli menyatakan: Secara grammatis, jika [pernyataan] yang pertama berarti bahwa keadaan orang percaya tidak dapat berubah, maka [pernyataan] kedua juga berarti bahwa keadaan orang yang tidak percaya juga tidak dapat diubah.

Sebenarnya, kedua perikop ini tidak sedang berbicara tentang itu [apakah keadaannya dapat diubah] … Setiap janji tersebut berlaku dengan kuasa yang sama pada mereka yang terus menetap pada keadaan yang digambarkan [percaya atau tidak percaya].

Hal yang sama dapat dikatakan tentang semua janji bahwa orang percaya “tidak akan binasa.” Saya kutip lagi satu pemikiran: “Tidak ada yang berani mengatakan, bahwa karena orang yang tidak percaya dinyatakan tidak akan melihat hidup, maka ia secara permanen terikat tanpa pengharapan pada kondisi itu. Sebenarnya, adalah benar bahwa sebagai seorang yang tidak percaya, ia tidak akan melihat hidup, tetapi jika ia kemudian menjadi percaya, maka ia akan melihat hidup. Nah, kalau kata-kata “tidak akan melihat hidup” yang diterapkan pada orang yang tidak percaya, ternyata tidak dilanggar jika orang tidak percaya tadi menjadi percaya dan akhirnya melihat hidup, maka mana kontradiksinya jika seorang percaya dikatakan “tidak akan binasa,” tetapi jika ia menjadi tidak percaya, maka ia binasa? Faktanya, sebagai seorang percaya, selama ia tetap percaya, ia tidak akan binasa.”

Pada akhirnya:
ù Jika seseorang dapat menerima atau menolak Kristus sebelum ia diselamatkan, mengapa, kapan, dan bagaimanakah ia kehilangan kehendak bebas itu? Jawaban Alkitabiah adalah bahwa ia tidak kehilangan kehendak bebas itu dan masih dapat meninggalkan iman.
ù Jika keselamatan itu bersyarat pada awalnya (seseorang harus percaya Kristus), sejak kapan, mengapa, dan bagaimanakah sifat keselamatan itu tiba-tiba berubah menjadi tidak bersyarat kemudian? Jawaban Alkitabiah sekali lagi adalah bahwa keselamatan masih bersyarat pada iman.

7. Ada begitu banyak Firman Tuhan yang mendukung Kemungkinan Meninggalkan Iman

Perikop-perikop ini terbagi menjadi beberapa kategori:
A. Perikop yang dengan jelas mengacu pada kejadian meninggalkan iman
ù 1 Tim. 4:1
ù 1 Tim. 1:18-20
ù 2 Tim. 2:16-18

B. Perikop yang memperingatkan bahaya murtad atau meninggalkan iman (yang berarti ada kemungkinannya)
ù Ibr. 6:4-6
ù Ibr. 10:19-39
ù 2 Pet. 2:20-22
ù Yoh. 15:1-9
ù Ibr. 12:25
ù 2 Tim. 2:11-13
ù 2 Yoh 1:9

C. Perikop tentang keselamatan yang diperoleh atas syarat iman yang terus menerus
ù Kolose 1:21-23
ù 1 Kor. 15:1-4
ù Ibr. 3:6, 14
ù Ibr. 10:38
ù Gal. 5:1-6

Ijinkan saya untuk memotong sebentar di sini untuk menunjukkan suatu poin kebenaran yang sangat penting. Dalam sebuah dokumen, katakanlah sebuah kontrak, atau surat persetujuan antara dua pihak, maka jika suatu syarat dinyatakan dengan jelas di salah satu bagian kontrak atau persetujuan tadi, syarat itu berlaku dan mengikat, walaupun hanya satu kali dinyatakan!!

Di bawah ini saya berikan suatu contoh fiktif, yaitu sebuah surat imajiner dari seorang raja kepada rakyatnya: Rakyatku yang ku kasihi, saya menulis untuk memberitahukan kalian suatu kabar baik. Untuk memperingati ulang tahunku yang kelima puluh, yang akan jatuh satu bulan dari sekarang, saya telah memutuskan untuk membagikan banyak hadiah dan berkat. Hadiah dan berkat ini adalah bagi semua yang turut memperingati ulang tahunku. Anda harus memakai pita yang akan saya bagikan dalam satu bulan ini.

Barangsiapa yang memakai pita, maka ia berhak atas semua hadiah dalam pesta ulang tahun saya. Apa saja hadiah yang saya sediakan? Bagi semua kalian yang berhutang uang pada negara, maka saya telah mempersiapkan uang pribadi saya untuk melunasi hutangmu. Ketahuilah bahwa dana saya tidak terbatas, dan saya dapat membayar hutang semua orang. Selain itu, orang yang ikut merayakan ulang tahun saya juga akan saya pekerjakan di pabrik saya. Saya ingin tegaskan, bahwa saya akan memberi gaji yang sangat bagus untuk pekerja pabrik saya. Lowongan pekerjaan tidak akan habis. Ingat, jangan takut akan semua hutangmu, karena saya akan bayarkan itu semua. Hadiah saya juga termasuk hak untuk menikmati taman saya yang indah setiap hari. Kalian juga boleh memanggil saya dengan panggilan khusus, yaitu Tuan yang Baik. Sungguh, kalian mendapatkan hadiah yang sedemikian hebat. Ingat, bahwa kalian harus memakai pitaku hingga akhirnya, jika tidak sia-sia saja kalian mendapat pita. Tetapi saya menulis kepada semua pemakai pitaku, bahwa kalian dapat tahu dengan pasti, bahwa hutang kalian semua telah dibayarkan untuk selama-lamanya.

Nah, ini hanyalah suatu surat imajiner yang pendek. Saya bukan ingin mengatakan bahwa surat ini persis sama menggambarkan keselamatan yang kita terima dari Allah, tetapi surat fiktif ini membuat sebuah poin. Walaupun janji sang Raja banyak sekali, dan sangat indah dalam dokumen ini, juga ada syarat (memakai dan terus memakai pita) yang dinyatakan dengan jelas. Jadi, tidak peduli ada berapa janji yang diberikan dan diulangi lagi setelah ini, syarat itu berlaku, walaupun syarat mungkin tidak disebut ulang bersama tiap janji.

Hal yang sama terjadi dalam Alkitab. Alkitab adalah satu dokumen. Jika Allah dengan tegas menyatakan syarat keselamatan dalam minimal satu bagian Alkitab, maka syarat tersebut berlaku pada semua janji Alkitab mengenai keselamatan. Nyatanya, dalam Alkitab lebih indah lagi: Allah menyatakan syarat yang Ia tuntut untuk mendapatkan keselamatan yang Ia sediakan, bukan sekali, bukan dua kali, tetapi berulang-ulang kali. Syarat yang dimaksud adalah iman, dan bukan iman yang hanya bertahan satu detik, satu hari, satu tahun, tetapi iman yang terus sampai akhirnya. Juga, sama sekali tidak masuk akal untuk berkata, “ya, sekali saya beriman, saya tidak bisa kehilangan iman itu.” Kalau demikian, mengapa Allah berulang kali memperingatkan orang percaya!! tentang tanggung jawab mereka untuk tetap tinggal dalam iman? Jika seorang percaya tidak dapat meninggalkan iman, maka sama sekali tidak perlu untuk memperingatkan dia tentang hal itu. Mengapa perlu memperingatkan seorang anak untuk tidak melompat terlalu tinggi hingga sampai ke bulan? Wah, itu hal yang konyol, anda berkata, mungkin bahkan dalam kategori membohongi anak kecil. Ya, memang benar demikian. Karena tidak mungkin ia melompat sampai ke bulan. Allah juga tidak menipu orang percaya dengan cara memperingatkan kita tentang hal yang tidak mungkin terjadi. Allah tidak memberikan peringatan palsu.

D. Perikop yang memerintahkan kita untuk tinggal dalam Kristus atau memegang teguh iman kita (yang berarti ada kemungkinan tidak mentaati perintah ini)
ù Yohanes 15:4-6
ù Yudas 1:21
ù Wahyu 2:10
ù Matius. 10:22
ù Ibrani 10:35

E. Perikop yang menyatakan kekhawatiran Paulus bahwa jerih payahnya akan sia-sia (karena bahaya bahwa mereka yang telah ia menangkan bagi Kristus meninggalkan iman)
ù Filipi 2:15-16
ù 1 Tesalonika 3:5
ù Galatia 1:6; 4:9-11

Ada begitu banyak ayat yang jelas mengajarkan kemungkinan murtad, atau meninggalkan iman, atau menolak Kristus setelah pernah menerima Dia. Lalu mengapakah banyak orang menentang doktrin ini? Ya, sebenarnya karena mereka sudah diajarkan doktrin yang bertentangan. Mereka telah diajarkan berbagai ayat yang seolah-olah mendukung SSTS, dan SSTS sudah mendarah daging dalam diri mereka, sehingga mereka menolak untuk melihat bukti yang begitu banyak menentang SSTS. Sama seperti seorang Kalvinis yang telah dicekoki dengan doktrin Limited Atonement (bahwa Yesus mati bukan untuk semua manusia).

Ketika kita menunjukkan pada mereka ayat-ayat yang mengajarkan bahwa “Yesus mati untuk semua manusia,” apa respons mereka biasanya? Mereka akan berkata, “Semua tidak berarti semua.”

Pendukung SSTS mempertunjukkan pola yang sama. Ketika kita menunjukkan kepada mereka ayat yang berkata, “murtad,” mereka berkata, “ya, murtad tidak berarti murtad….tapi mereka belum pernah percaya.” “Lepas dari Kristus” itu bukan artinya mereka belum pernah percaya Kristus. Jadi, mereka mendefinisikan ulang kata “murtad,” dan pengertian “lepas dari Kristus,” bertentangan dengan aturan bahasa yang berlaku. Cara menafsir seperti ini tidak jujur terhadap fakta Alkitab, dan datang dari pikiran yang mati-matian membela kepercayaan yang sudah dipegang. Apakah yang akan anda pertahankan? Saya lebih suka mempertahankan kebenaran, walaupun itu berarti mengubah kepercayaan saya.

8. Perikop-Perikop Lain Dijelaskan

Jadi, bagaimana dengan semua ayat-ayat yang katanya mengajarkan bahwa seseorang yang telah diselamatkan tidak dapat meninggalkan iman? Rupanya, setelah penyelidikan yang mendalam, saya dapatkan bahwa tidak ada ayat yang menyatakan bahwa seorang yang sudah selamat tidak dapat meninggalkan imannya. Ayat-ayat yang biasanya dipakai untuk mengajarkan hal ini hanya dapat dipakai demikian jika dibaca dengan asumsi dan pemikiran theologis tertentu. Nah, berikut ini beberapa ayat yang disalahgunakan:

ù “Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku. Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar dari pada siapapun, dan seorangpun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa.” Yohanes 10:27-29.

Ayat ini sama sekali tidak menyulitkan posisi saya, bahkan adalah perikop yang begitu menguatkan saya. Karena ayat seperti inilah saya dapat memiliki kepastian keselamatan. Saya ada dalam tangan Yesus, dan juga dalam tangan Bapa, dan tidak ada seorangpun, atau suatu kuasapun yang dapat merebut saya keluar. Amin!!

Namun, perhatikan, bahwa ayat ini sama sekali tidak berkata bahwa kalau saya sendiri mau keluar, maka saya tidak bisa. Argumen yang sering diajukan adalah seperti ini: “Akankah Allah membiarkan seorang yang telah diselamatkan untuk keluar? Jika anda memiliki seorang anak yang anda kasihi, akankah anda melepaskan dia dari genggaman tangan anda?” Argumen seperti ini kedengarannya indah dan menggugah perasaan, tetapi sama sekali tidak memiliki dasar Alkitab. Firman Tuhan di bagian lain membuat sangat jelas bahwa saya dapat meninggalkan iman jika saya memilih untuk melakukannya, seperti dalam 1 Timotius 4:1. Allah tidak pernah memaksa seseorangpun untuk menerima Dia, dan Allah juga tidak memaksa seseorangpun untuk tetap beriman.

Allah menciptakan manusia dengan kehendak bebas, yang berarti manusia dapat benar-benar memilih Allah atau memilih untuk tidak taat. Karena Allah jugalah yang menciptakan manusia dengan kehendak bebas itu, Ia akan konsisten pada rencanaNya untuk membiarkan manusia membuat keputusan. Tentunya ada begitu banyak faktor yang mempengaruhi keputusan seseorang, tetapi pada akhirnya, keputusan yang ia ambil adalah keputusan atas kehendak bebasnya. Demikian juga dalam hal keselamatan. Allah tidak melanggar kehendak bebas yang Ia berikan pada manusia, dan tidak memaksa siapapun untuk diselamatkan.

Kalau demikian, Allah juga tidak akan menghilangkan kehendak bebas manusia setelah dia diselamatkan, dan memaksa dia untuk tetap percaya pada Kristus. Lalu bagaimana dengan kasih Kristus? Bagaimana mungkin Allah, yang mengasihi orang percaya, membiarkan mereka meninggalkan iman? Sekali lagi, ini argumen yang emosional, dan bukan Alkitabiah.

Dalam Alkitab, kasih Allah adalah kasih yang tidak memaksa siapapun. Kasih tidak dapat dipaksakan. Yohanes 3:16, misalnya, mendeklarasikan bahwa Allah mengasihi seluruh dunia, sedemikan kasihNya, sehingga Ia mengirim Kristus untuk mati bagi dunia. Namun, faktanya adalah sebagian besar dunia, yang toh dikasihi Allah itu, akan binasa selama-lamanya, karena mereka menolak kasih Allah itu dan tidak mau percaya. Kalau demikian adanya, mengapa sulit bagi kita untuk melihat bahwa walaupun Allah mengasihi kita sedemikian rupa sebagai orang percaya, tetapi jika kita tidak beriman lagi pada AnakNya, maka kita akan binasa?

Perhatikan juga, dalam perikop ini, siapakah yang aman di tangan Yesus? Adalah domba-dombaNya. Siapa yang tidak dapat direbut? Domba-domba. Kepada siapakah Yesus sedang berikan hidup yang kekal? Domba-domba. Siapa domba? Apa kriteria domba? Menurut Yoh. 10:26, domba adalah mereka yang percaya! Jadi, yang aman dalam tangan Yesus, adalah yang merupakan domba, yaitu mereka yang percaya!

Mereka yang tidak percaya, bukan domba, dan janji keamanan ini tentu bukan untuk mereka. Mungkin argumen lain yang terkadang muncul adalah: mengapakah ada orang yang sudah sungguh selamat mau meninggalkan iman lagi? Sejujurnya, saya juga tidak tahu dan tidak mengerti mengapa ada orang yang sudah selamat ada yang mau meninggalkan iman. Namun, saya tidak boleh membiarkan perasaan saya untuk mendikte doktrin saya, karena Alkitab dengan jelas mengajarkan bahwa kemurtadan akan terjadi, dan orang akan meninggalkan iman. Dalam hal ini saya juga teringat, bahwa Adam dan Hawa, saat di taman Eden, waktu itu belum memiliki sifat dosa, tetapi toh dapat juga memilih perkataan Iblis daripada perkataan Tuhan.

ù “Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? Seperti ada tertulis: “Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan.” Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita. Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang” Roma 8:35-39

Ayat ini juga merupakan ayat yang sangat menghibur saya. Tidak ada sesuatu apapun yang dapat memisahkan saya dari kasih Kristus, dan saya katakan Amin!! Tetapi, kita tidak dapat membangun doktrin hanya berdasarkan sebagian ayat-ayat Alkitab, kita harus melihat keseluruhan kesaksian Firman Tuhan.

Ayat-ayat lain dengan jelas menunjukkan bahwa keselamatan kita miliki dengan syarat iman/percaya, dan juga mengajarkan kemungkinan kita meninggalkan iman itu. Dan sambil saya mempelajari ayat ini, saya dapatkan bahwa yang disebut hanyalah kekuatan di luar diri saya sendiri, dan tidak ada dari mereka yang dapat menghalangi saya dari kasih Kristus. Tidak ada satu bagian pun dari ayat ini yang mengatakan bahwa saya tidak dapat menolak kasih itu. Kasih yang tidak dapat ditolak itu seperti konsep kacau tentang Kasih Karunia yang Tak Dapat diTolak (Irresistible Grace) milik Kalvinis. Jadi, tidak ada apapun, tidak orang, tidak benda, tidak kuasa manapun, yang dapat memisahkan saya dari kasih Kristus, tetapi saya harus tetap menerima kasih itu melalui iman. Hal ini sesuai dengan pengajaran Yudas 1:21: “Peliharalah dirimu demikian dalam kasih Allah sambil menantikan rahmat Tuhan kita, Yesus Kristus, untuk hidup yang kekal.” tidak ada yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus, tetapi kita harus tinggal dalam kasih itu, melalui iman kepadaNya.

ù “Yaitu kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah karena imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang telah tersedia untuk dinyatakan pada zaman akhir.” 1 Petrus 1:5
Sungguh mengejutkan bahwa ada orang yang berani memakai ayat ini untuk mendukung posisi “sekali selamat tetap selamat” (SSTS). Kita dipelihara dalam kekuatan Allah! Amin! Saya tidak akan komplain apa-apa tentang ayat ini. Jika saya harus memelihara diri saya sendiri, saya tidak akan selamat bahkan untuk satu detik. Tetapi, itu tidak berarti saya tidak punya tanggung jawab. Tanggung jawab saya adalah untuk percaya pada Kristus, atau dengan kata lain, beriman. Ayat ini toh mengajarkan hal itu juga, “dipelihara…karena imanmu.” Jadi, iman adalah syarat yang Allah berikan. Yang memelihara tetap Allah, dengan memakai kekuatanNya. Tidak bisa itu dilakukan dengan kekuatan Allah. Tetapi, Allah mengatakan bahwa saya harus percaya, barulah Ia mau memelihara saya.

ù “Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan.” Efesus 4:30. Ayat ini sama sekali tidak mendukung doktrin “berbuat apapun tidak akan terhilang” jika kita sudah memiliki konsep yang Alkitabiah tentang keselamatan yang bersyarat pada iman. Yang diajarkan oleh ayat ini adalah bahwa Roh Kudus adalah jaminan kita, bahwa sebagai orang percaya kita akan diselamatkan. Roh Kudus adalah “uang muka,” boleh dibilang, dari kemuliaan yang menanti kita. Roh Kudus adalah juga bukti dari iman kita (Ef. 1:13), dan kita menerima Roh Kudus saat kita percaya.
Ayat ini sama sekali tidak mengatakan bahwa seorang percaya tidak dapat meninggalkan iman. Tidak ada juga di ayat ini dikatakan bahwa Allah sendiri tidak dapat mencabut meterai itu, misalnya karena orang yang bersangkutan tidak memiliki iman, karena toh iman adalah syarat awal agar seseorang dimeteraikan. Kita harus berhati-hati untuk tidak menyalahgunakan analogi dalam Alkitab. Ayat ini mengajarkan bahwa kita dimeteraikan. Di tempat lain, Ia mengajarkan bahwa kita harus tetap memegang iman, kalau tidak kepercayaan awal kita menjadi sia-sia (1 Kor. 15:2). Jadi, kita tidak boleh membuat kesimpulan yang manusiawi dan salah bahwa: “sekali dimeteraikan, tetap dimeteraikan.” Hal itu tidak ada dalam Alkitab, tetapi diasumsikan begitu saja. Sebuah meterai efektif untuk melawan otoritas dari luar yang berusaha masuk. Tidak boleh ada orang yang tidak berotoritas membuka meterai itu. Tetapi, dia yang pada awalnya menaruh meterai itu, maka secara alami ia memiliki hak untuk membuka meterai itu jika memang ada alas an untuk melakukannya.

Mempelajari Galatia pasal 3 sungguh adalah pengalaman yang membukakan mata rohani saya. Galatia adalah surat yang spesial berhubungan dengan topik yang sedang kita bahas ini. Orang-orang Galatia sedang dalam bahaya meninggalkan iman mereka yang mula-mula, dan mengikuti suatu Injil palsu (menambahkan sunat). Paulus menyadari bahayanya kesesatan seperti itu, dan dengan cepat menulis surat ini untuk memperingatkan mereka. Dalam Galatia pasal 5, ia memperingatkan mereka, bahwa jika mereka percaya pada sunat, maka Kristus sama sekali tidak berguna bagi mereka. Untuk memperkuat peringatan ini, ia katakan bahwa mereka akan lepas dari Kristus. Bagi pikiran yang belum terpengaruh oleh doktrin manapun, surat Galatia ini jelas mengajarkan bahwa seseorang yang sedang berada dalam Kristus, dan sedang menerima berkat penebusan Kristus melalui iman, dapat lepas dari Kristus, dan kehilangan segala berkat dalam Kristus, jika ia meninggalkan iman sejatinya yang semula.

Tetapi, perhatikan apa yang diajarkan Galatia pasal 3 tentang Roh Kudus. Perhatikan penekanan pada kata “iman.” Dalam 6 pasal kitab Galatia, kata “iman” atau “beriman” muncul 23 kali. Dalam Galatia 3:14, “oleh iman kita menerima Roh yang telah dijanjikan itu.” Dalam Galatia 3:11, “orang yang benar akan hidup oleh iman.” Jelas sekali, bahwa Roh Kudus diberikan kepada kita, oleh kasih karunia Allah, hanya jika kita memiliki iman. Lebih mengena lagi adalah pertanyaan ini oleh Paulus: “Hanya ini yang hendak kuketahui dari pada kamu: Adakah kamu telah menerima Roh karena melakukan hukum Taurat atau karena percaya kepada pemberitaan Injil? Adakah kamu sebodoh itu? Kamu telah mulai dengan Roh, maukah kamu sekarang mengakhirinya di dalam daging? Sia-siakah semua yang telah kamu alami sebanyak itu? Masakan sia-sia!” (Gal. 3:2-4) Jadi, orang yang mulai dengan Roh, waktu mereka beriman dan percaya pada Injil yang benar. Kini, ada bahaya mereka percaya Injil yang palsu, dan jika demikian mereka akan mengakhirinya dalam daging. Jadi, apa kesimpulan pengajaran Alkitab tentang Roh Kudus? Bahwa Roh Kudus adalah meterai bagi kita dengan syarat iman. Hal ini konsisten dengan semua aspek pengajaran tentang keselamatan lainnya.

ù “Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.” Ibrani 12:2.

Pendukung Jaminan Kekal Tak Bersyarat menunjuk pada ayat ini dan berkata, “Yesuslah yang membawa iman kita pada kesempurnaan.” Jadi, menurut mereka, iman kita tidak tergantung pada diri kita sendiri, dan karenanya kita tidak bisa meninggalkan iman.

Pemikiran seperti ini sungguh salah. Jika kita menerapkan logika ini, maka sungguh berbahaya. Jika iman kita sungguh adalah urusan Yesus saja, dan tidak ada tanggung jawab kita, untuk apa dalam Alkitab ada begitu banyak ayat yang menyuruh kita untuk beriman? Ada begitu banyak ayat yang menyuruh kita tetap pada iman. Bukankah Yesus yang beriman untuk kita? Nah, disinilah terlihat kebodohan dari pemikiran seperti ini. Tidak ada orang lain yang dapat beriman untuk orang lain. Ayat ini mengajarkan doktrin bahwa Yesuslah yang memungkinkan adanya iman. Tanpa Yesus, manusia bahkan tidak dapat memilih antara percaya Yesus atau tidak. Tanpa Yesus, tidak ada objek yang dapat kita imani. Yesus pulalah yang memberikan kita kekuatan untuk terus beriman, dan memungkinkan iman kita bertumbuh. Jika kita memegang teguh iman kita, itu adalah karena Yesus! Tetapi tidak berarti kita tidak punya tanggung jawab untuk tinggal dalam iman. Juga tidak berarti kita tidak dapat memilih untuk keluar dari iman.

ù “Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus.” Filipi 1:6.

Ini adalah argumen favorit lainnya dari pendukung Jaminan Kekal Tak Bersyarat yang sebenarnya gagal untuk berurusan dengan inti permasalahan. Keyakinan Paulus adalah bahwa Yesus akan menyelesaikan apa yang Ia mulai, dalam hal keselamatan. Tuhan Yesus telah memulai pekerjaan yang baik di antara orang Korintus. Tetapi apakah pekerjaan baik yang Yesus mulai itu dimulai dengan syarat tertentu? Ya, kesaksian Alkitab jelas, dan Filipi 1:5 juga membuatnya jelas, bahwa persekutuan orang Filipi dalam berita Injil adalah syarat pekerjaan baik yang telah mulai.

Nah, jika awal dari pekerjaan yang baik itu bersyarat (yaitu bahwa seseorang harus percaya untuk diselamatkan), maka tidak ada alasan untuk menolak bahwa penerusan keselamatan itu hingga pada hari Kristus Yesus juga bersyarat. Yang jelas, ayat ini tidak sedang berbicara masalah persyaratan. Ayat ini mengajarkan aspek bahwa Allah akan melakukan bagianNya. Janji Allah adalah: jika kamu percaya Kristus, kamu akan diselamatkan. Allah akan menepati janjiNya itu. Itulah yang diajarkan ayat ini, dan yang merupakan keyakinan Paulus. Allah tidak akan tiba-tiba berubah pikiran. Ia akan menyelamatkan mereka yang beriman. Ia akan meneruskan pekerjaan baik itu. Tetapi, tentunya, jika orang itu tidak beriman lagi, maka Allah sama sekali tidak terikat untuk menyelamatkan dia.

Yang penting untuk diingat adalah, bahwa ayat seperti ini dan yang lainnya, tidak menghilangkan ayat-ayat lain yang mengajarkan bahwa kita harus tinggal dalam iman untuk diselamatkan. Kita harus membangun doktrin kita atas semua ayat, bukan hanya sebagian ayat Alkitab.

9. Keyakinan akan Keselamatan
Pendukung SSTS secara rutin menuduh apa yang saya percayai (Jaminan Kekal Bersyarat) sebagai posisi yang tidak menawarkan keamanan (jaminan) dan tidak ada keyakinan akan selamat. Hal ini tidak benar. Tentunya, jaminan dan keyakinan saya berbeda dengan yang dimiliki SSTS. SSTS mendapatkan jaminan dan keyakinan dari doktrin mereka, yang telah kita lihat adalah tidak Alkitabiah. Jadi, mereka mendapatkan jaminan dari doktrin buatan manusia. Saya sudah sering mendengar mereka berkata, “Saya tahu saya pasti ke Surga, karena saya sudah diselamatkan umur sekian (10 tahun misalnya) dan sekali selamat, tetap selamat.”
Tetapi, ini adalah jaminan yang palsu. Dalam skenario terburuk, bisa saja orang itu suatu hari menyangkal Kristus dan menolakNya, sambil berpikir, “toh saya masih diselamatkan.”

Jaminan yang Alkitabiah adalah seperti yang ada dalam 1 Yohanes 5:13. Bagaimanakah seseorang dapat tahu bahwa ia memiliki hidup yang kekal? Apakah karena “sekali selamat tetap selamat”? Tidak!!

Jaminan yang Alkitabiah berkata, “kamu yang percaya [sedang percaya, present tense] kepada nama Anak Allah, tahu, bahwa kamu memiliki hidup yang kekal.” Jadi, rahasia jaminan Alkitabiah adalah percaya (saat ini, present tense). Jika saya menguji diri sendiri, dan saya sekarang adalah seorang yang beriman (bukan bahwa dulu saya pernah beriman), maka saya memiliki hidup yang kekal. Pendukung SSTS mungkin tidak suka jaminan yang seperti ini, tetapi inilah jaminan dan keyakinan yang kita dapatkan dalam Alkitab.

Untuk membandingkan: SSTS memiliki jaminan yang didasarkan pada doktrin mereka “sekali selamat tetap selamat.” Saya, di lain sisi, memiliki jaminan karena posisi saya yang saat ini percaya dalam Kristus.

10. Argumen-Argumen Lain Melawan Jaminan Kekal Tak Bersyarat
A. Orang Kristen mula-mula, sebelum Agustinus yang sangat Kalvinistik, tidak percaya doktrin “jaminan kekal tak bersyarat.”

Berikut ini ada beberapa kutipan dari Irenaeus, Cyprian, dan Tertullian:
Irenaeus (120-205 AD), Adv. Haer. 4,27,2 ,”Christ will not die again on behalf of those who now commit sin because death shall no more have dominion over Him…. Therefore we should not be puffed up…. But we should beware lest somehow, after [we have come to] the knowledge of Christ, if we do things displeasing to God, we obtain no further forgiveness of sins but rather be shut out from His kingdom” (Heb. 6:4-6). “Kristus tidak akan mati lagi bagi mereka yang sekarang melakukan dosa karena maut tidak akan lagi berkuasa atas Dia….oleh karena itu kita jangan sombong…..tetapi kita harus berjaga-jaga, agar jangan, setelah [kita memiliki] pengenalan akan Kristus, jika kita melakukan hal-hal yang mendukakan Allah, kita tidak mendapatkan pengampunan dosa, tetapi tertutup dari kerajaanNya.” (Ibrani 6:4-6)

Cyprian (200-258 AD), Unity of the Church, sec. 21 , “It is written, ‘He who endures to the end, the same shall be saved’ [Matt. 10:22]. So whatever precedes the end is only a step by which we ascend to the summit of salvation. It is not the final point wherein we have already gained the full result of the ascent.”

“Ada tertulis, `Ia yang bertahan sampai akhirnya, ia akan diselamatkan’ [Mat. 10:22]. Jadi, apapun yang terjadi sebelum akhirnya hanyalah satu jenjang yang kita naiki untuk mencapai puncak keselamatan. Itu bukanlah titik akhir di mana kita telah mendapatkan hasil penuh dari pendakian.”

Tertullian (140-230 AD), On Repentance ch. 6 , “Some people act as though God were under an obligation to bestow even on the unworthy His intended gift. They turn His liberality into slavery…. For do not many afterwards fall out of grace? Is not this gift taken away from many?”
“Ada orang yang bertindak seolah Allah wajib untuk memberikan KaruniaNya bahkan pada mereka yang tidak layak. Mereka mengubah kemurahanNya menjadi perbudakan…Karena bukankah banyak yang akhirnya jatuh dari kasih karunia? Bukankah anugerah ini diambil dari banyak orang?”

Hal ini mendukung teori bahwa doktrin SSTS berasal dari pengaruh Kalvinis.

B. Ada begitu banyak ayat yang mengajarkan bahwa orang percaya harus memiliki iman hingga pada akhirnya. Mereka yang bertahan hingga akhir akan diselamatkan.
“Dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.” Mat. 10:22, lihat juga Mar. 13:13.
“Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.” Mat. 24:13
“…Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan.” Wah. 2:10

C. Kemungkinan bahwa nama seseorang dapat dihapuskan dari buku kehidupan berarti orang itu dapat meninggalkan iman.

“Dan jikalau seorang mengurangkan sesuatu dari perkataan-perkataan dari kitab nubuat ini, maka Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan [dalam bahasa aslinya "buku kehidupan] dan dari kota kudus, seperti yang tertulis di dalam kitab ini.” (Wah. 22:19)
“Barangsiapa menang, ia akan dikenakan pakaian putih yang demikian; Aku tidak akan menghapus namanya dari kitab kehidupan, melainkan Aku akan mengaku namanya di hadapan Bapa-Ku dan di hadapan para malaikat-Nya.” (Wah. 3:5).
“Tetapi sekarang, kiranya Engkau mengampuni dosa mereka itu dan jika tidak, hapuskanlah kiranya namaku dari dalam kitab yang telah Kautulis.” Tetapi TUHAN berfirman kepada Musa: “Siapa yang berdosa kepada-Ku, nama orang itulah yang akan Kuhapuskan dari dalam kitab-Ku.” (Kel. 32:32-33)

D. Yang mana yang lebih baik: Mengajarkan orang Kristen bahwa mereka harus memegang iman mereka dengan teguh (pengajaran yang Alkitabiah), atau mengajarkan orang Kristen bahwa tidak peduli apapun juga yang mereka lakukan, mereka akan masuk surga? Dalam hal ini, saya memperhatikan suatu dampak yang sudah dapat diperkirakan: gereja-gereja yang mengajarkan SSTS tidak menekankan pada anggota mereka untuk tetap beriman. Hal ini wajar, karena tidak ada motivasi bagi mereka untuk melakukan hal itu, karena mentalitasnya adalah “toh mereka tidak mungkin meninggalkan iman.” Tetapi, para Penulis Alkitab memiliki pandangan yang berbeda. Banyak sekali ayat yang menghimbau kita untuk bertahan dalam iman, untuk bertahan hingga akhirnya, memegang teguh iman, dsb. Paulus beberapa kali khawatir, bahwa jika orang-orang yang dia menangkan meninggalkan iman, maka segala jerih payahnya menjadi sia-sia. Mentalitas para Penulis Alkitab berbeda jauh dari pada pengajar SSTS.

E. Kita tidak percaya Irresistible Grace (Kasih Karunia yang Tidak Dapat Ditolak). Istilah Kasih Karunia berkontradiksi dengan istilah “tidak dapat ditolak.” Namun demikian, para pendukung SSTS, pada hakekatnya berkata, “Setelah seseorang diselamatkan, maka kasih karunia baginya menjadi tidak dapat ditolak.” Ini adalah suatu ketidak-konsistenan!

(Dr. Steven Einstain Liauw, Purek Akademis Graphe International Theological Seminary, Gembala GBIA Graphe)

About these ads
  1. 24 November 2011 pukul 5:30 AM

    penjelasan yang lengkap sekali….

  2. Al Q
    26 November 2011 pukul 5:03 AM

    Menurut Dede… mungkinkah Dede bisa meninggalkan Iman kepada Kristus? Bisakah org yg telah memiliki hati dan roh yg baru melepskan kepercayaannya kepada Kristus? Coba dipikirkan kehendak bebas dari seorang yg belum diselamatkan dengan yg telah diselamatkan. Apakah masih sama? Bukankah ia tlah dilahirkan kembali oleh Roh Kudus?

  3. papa&mama
    26 Desember 2011 pukul 3:01 PM

    semuanya adalah penginjil dan mau jd penginjil dan tafsir kitab wkwkwkwk siapa yg jadi wasit??? ketika berbeda beda siapakah yg tercela ??? siapa yg ahli bual ??? yang jadi bonekalah yg paling apes wkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwk

  4. Joe
    24 Juli 2012 pukul 3:09 AM

    Penjelasan yg cukup Alkitabiah.. Biarlah pendukung doktrin ssts sadar akan kesalahan doktrinnya & melihat secara keseluruhan isi Alkitab. Hati2..!! iblis pun dpt menjadi malaikat terang & kemungkinan teori ssts dpt dipakai iblis menjadi senjatanya..

  1. No trackbacks yet.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: