Bahaya dari Handphone dan Gadget Berlayar Lainnya

17 November 2018 Tinggalkan komentar

Berikut ini disadur dari “A Dark Consensus about Screens,” New York Times, 26 Okt. 2018: “Para ahli teknologi mengetahui dengan sungguh-sungguh cara kerja thandphone, dan banyak di antara mereka telah memutuskan bahwa mereka tidak mau anak-anak mereka dekat-dekat dengan barang-barang itu. Suatu rasa waspada yang telah perlahan mengetas kini telah menjadi konsensus umum: keuntungan dari menggunakan alat-alat berlayar untuk pembelajaran telah dibesar-besarkan, dan resiko kecanduan dan pemandekan perkembangan sepertinya tinggi. Perdebatan di Silicon Valley saat ini adalah mengenai berapa banyak pemaparan terhadap handphone adalah dalam batas OK. Baca selanjutnya…

Iklan

Seminar Pengaruh Gadget Zaman Now

16 November 2018 Tinggalkan komentar

IMG-20181025-WA0002

Hormat dan Kasih terhadap Gembala-Gembala yang Saleh

Berikut ini dicuplik dari buku The Pastor’s Authority and the Church Member’s Responsibility, edisi Juli 2018, yang bisa didapatkan secara gratis dalam bentuk eBook dari www.wayoflife.org

Ketika memberikan berbagai nasihat kepada para anggota jemaat, kami akan mengatakan, pertama-tama, bahwa mereka sepatutnya menghormati dan mengasihi para gembala.

Kami minta kepadamu, saudara-saudara, supaya kamu menghormati mereka yang bekerja keras di antara kamu, yang memimpin kamu dalam Tuhan dan yang menegor kamu; dan supaya kamu sungguh-sungguh menjunjung mereka dalam kasih karena pekerjaan mereka. Hiduplah selalu dalam damai seorang dengan yang lain” (1 Tesalonika 5:12-13). Baca selanjutnya…

Bahaya Kecanduan Smartphone dan Media Sosial

Berikut ini adalah kutipan-kutipan dari dokumentari BBC Mind Control: The Dark Side of Your Phone – “’Orang-orang dalam memberitahu kita bahwa perusahaan-perusahaan media sosial, melacak begitu banyak data, setiap swipe dan klik anda, dan menganalisa semua itu secara langsung.’ Lalu Artificial Intelligence akan memakai semua itu untuk mengadaptasikan apa yang anda lihat di layar anda supaya anda akan kembali lagi terus dan terus. Asa Raskin, yang mendesain scroll tak berujung [endless scroll] dan fitur-fitur app populer lainnya, mengatakan ‘Kita sedang berada dalam eksperimen perilaku terbesar yang pernah dilihat di dunia. Anda sedang berada dalam eksperimen senantiasa. Hal-hal seperti mengubah warna tombol ‘like’ anda. Apakah biru yang seperti ini, ataukah seharusnya sedikit lebih merah? Baca selanjutnya…

Video Game dan Kecanduan

Video game online multiplayer memiliki potensi besar untuk menjadi suatu kecanduan. Telah diperkirakan bahwa sekitar 10% gamer di seluruh dunia, adalah orang-orang yang kecanduan. Sedikitnya 10 gamer telah meninggal karena gejala-gejala yang berkaitan dengan sistem jantung-paru, di berbagai kafe-kafe internet, setelah sesi-sesi gamingmarathon. Ada satu orang muda yang meracuni orang tuanya karena mereka memberikan batasan pada aktivitas gaming-nya (“Gaming Addiction a Serious Problem in Asia,” 7 Mar. 2014, http://www.thecabinchiangmai.com). Sepasang suami istri menelantarkan putri mereka yang berusia tiga bulan hingga meninggal, sambil mereka main game-game online. Baca selanjutnya…

Orang-Orang yang di Tengah-Tengah

James Henley Thornwell adalah seorang pengkhotbah Presbyterian zaman dulu yang dengan gigih berjuang melawan modernisme theologi di abad ke-19. Sebagai presiden keenam dari South Carolina College (hari ini namanya adalah University of South Carolina), Thornwell sangat capek dengan “orang-orang yang di tengah” pada zmaan dia, yang mengatakan bahwa mereka mencintai kebenaran tetapi mereka lemah dalam berposisi dan tidak mau dengan berani melawan kesalahan. “Menggunakan kata-kata yang gemulai dan dimanis-maniskan dalam membahas topik-topik yang memiliki nilai abadi; memperlakukan kesalahan-kesalahan yang menyerang fondasi segala pengharapan manusia, seolah-olah ini adalah kekhilafan yang wajar dan tidak berbahaya; memberkati hal-hal yang Allah tidak senangi, dan beramah tamah pada tempat-tempat Dia memanggil kita untuk berdiri seperti laki-laki dan tegas, walaupun adalah cara yang paling cocok untuk mendapatkan pujian populer di zaman yang canggih ini, sebenarnya adalah kekejaman terhadap sesama manusia dan pengkhianatan terhadap Sorga. Orang-orang yang pada topik-topik ini lebih mementingkan aturan-aturan kesopanan daripada poin-poin kebenaran, tidaklah membela benteng, tetapi menyerahkannya ke tangan para musuhnya. KASIH AKAN KRISTUS, DAN AKAN JIWA-JIWA YANG UNTUKNYA DIA MATI, AKAN MENJADI TAKARAN SEMANGAT KITA DALAM MEMBONGKAR BAHAYA-BAHAYA YANG MEMERANGKAP JIWA-JIWA MANUSIA” (dikutip dalam sebuah khotbah oleh George Sayles Bishop, penulis dari The Doctrines of Grace and Kindred Themes, 1910).

(Berita Mingguan GITS 22 September 2018 diterjemahkan oleh Dr. Steven Liauw, sumber: www.wayoflife.org)

Menjadi Kontemporer

“Menjadi Kontemporer” (Gone Contemporary) adalah judul dari sebuah artikel yang ditulis oleh Dave Mallinak, yang memaparkan kesalahan dan bahaya dari filosofi musik kontemporer yang sudah dianut oleh dunia kekristenan pada umumnya, dan sedang melanda gereja-gereja Baptis juga. Kami merekomendasi seluruh tulisan tersebut, yang juga memberikan tautan-tautan kepada contoh-contoh kebaktian-kebaktian Baptis Independen yang sudah menggunakan musik kontemporer, dan juga sebuah video dialog antara Josh Teis dan Robert Bakss, penulis dari buku Worship Wars. Berikut ini cuplikan dari laporan tersebut yang berkaitan dengan inti dari masalah ini, dan dengan tepat menyerukan separasi dari mereka yang sudah berkomitmen pada filosofi kontemporer: “Seruan untuk musik kontemporer adalah raungan kematian dari suatu gereja yang sekarat. Baca selanjutnya…