Beranda > CALVINISME > PENYESATAN TULIP: UNCONDITIONAL ELECTION (Bag. 3)

PENYESATAN TULIP: UNCONDITIONAL ELECTION (Bag. 3)


Sembilan hal yang menyatakan bahwa Allah tidak menetapkan segala sesuatu, dimana hal ini sangat bertentangan dengan konsep Kalvinis yang menyatakan bahwa Allah dalam kedaulatanNya telah menetapkan segala sesuatu.

1. Allah tidak mungkin menetapkan hal yang buruk karena hal yang buruk tidak timbul dalam hatiNya (Yeremia 19:5)

2. Sifat Allah yang Kudus dan tidak mempermainkan manusia. Dalam Yesaya 45:19 “tidak pernah Aku berkata dengan sembunyi atau di tempat bumi yang gelap. Tidak pernah Aku menyuruh keturunan Yakub untuk mencari Aku dengan sia-sia! Aku, TUHAN, selalu berkata benar, selalu memberitakan apa yang lurus” Allah tidak pernah memerintahkan manusia untuk percaya kepadaNya, tetapi Ia sendiri telah menetapkan orang tersebut masuk neraka. Bila hal itu benar, maka Allah membohongi manusia dan telah menyangkal diriNya sendiri. Tentu hal ini tidak akan Allah lakukan.

3. Adanya perbedaan antara Allah ijinkan dengan Allah tetapkan. Seperti kasus Ayub yang Allah ijinkan bukan Allah tetapkan. Kasus Daud dalam II Samuel 24:1 “Tuhan menghasut Daud” bandingkan I Tawarikh 21:1 “Iblis bangkit melawan Israel dengan membujuk Daud” ayat ini sering dipakai oleh kalangan liberal untuk memojokkan orang kristen, bahwa Alkitab salah tulis. Tetapi perlu diketahui, bahwa Allah sering memakai tangan ketiga dengan mengijinkan Iblis menghasut Daud. Ada konsep Allah “mengijinkan”


4. Adanya tanggungjawab manusia, dan Allah tidak menetapkan segala sesuatu. Bila orang gila merusak sesuatu, maka manusia yang normal tidak akan menuntut pertanggunganjawab atas perlakuannya. Karena ia tidak memiliki kesadaran diri atau “gila.” Contoh lain, seseorang yang dipaksa oleh teroris untuk meledakkan bom melalui pemicu yang ada di tangannya. Hukum normal tidak akan menuntut orang tersebut mempertanggungjawabkan perbuatannya karena ia dipaksa, bukan karena keinginan hatinya. Allah tidak pernah memaksa manusia untuk berbuat dosa dan Allah tidak pernah memaksa manusia untuk percaya.

5. Kehendak bebas manusia. Ezra 7:13 “willing” “kerelaan” “dan yang rela pergi ke Yerusalem, boleh turut pergi dengan engkau” manusia memiliki kehendak untuk memilih dalam hidupnya sehari-hari, mengapa Kalvinis mengatakan, bahwa manusia tidak bebas untuk percaya? Ini konsep yang aneh dan tidak bisa diterima logika manusia. Yohanes 15:5 “minta apa saja yang kamu kehendaki” Manusia memiliki kehendak untuk memilih. Allah tidak pernah mempermainkan manusia dengan meminta supaya setia dan percaya, tetapi Allah sendiri telah menetapkan manusia itu tidak setia dan tidak percaya. I Korintus 9:17 “Kalau andaikata aku melakukannya menurut kehendakku sendiri, memang aku berhak menerima upah. Tetapi karena aku melakukannya bukan menurut kehendakku sendiri, pemberitaan itu adalah tugas penyelenggaraan yang ditanggungkan kepadaku” bisa saja Paulus melakukan tugas penginjilan itu dari hatinya, tetapi harus diketahui bahwa Paulus diberi tugas oleh Allah untuk penginjilan dan Paulus juga dapat melalaikan tugasnya.

6. Doa. Doa banyak mengubah keadaan. Kalau konsep Kalvinisme ditarik dalam aplikasi kehidupan sehari-hari, maka doa itu tidak perlu. Karena Allah sudah tetapkan untuk apa berdoa? Berdoa sampai bercucuran darahpun tidak akan mengubah keadaan karena toh Allah sudah tetapkan demikian. Tetapi dalam konsep Alkitab, doa dapat mengubah banyak hal. Contoh dalam II Raja-raja 20:1-6 ”Hizkia berdoa agar Tuhan memperpanjang usianya dan Allah menambahkan usianya 15 tahun lagi.” Juga dalam Ulangan 9:18-20 “Musa berdoa 40 hari 40 malam agar bangsa Israel tidak dibinasakan oleh Allah.”

7. Adanya kemungkinan. Bila segala sesuatu telah Allah tentukan, tentu tidak ada lagi kata “kemungkinan” atau”barangkali” dalam Yehezkiel 12:3 “barangkali mereka akan insaf.” Hal ini sama sekali tidak membuktikan bahwa mereka tidak akan insaf, tetapi ini membuktikan Allah memberikan kesempatan kepada manusia untuk berbalik kepadaNya, sekalipun Allah tahu mereka akan insaf atau tidak.

8. Adanya pemakaian istilah “Barangsiapa” yang mengindikasikan adanya kebebasan.

9. Akal sehat manusia. Bila ada manusia yang berbuat anarkisme atau tindakan kejahatan, maka Allah tidak mugkin melakukan atau menetapkannya. Bertentangan dengan konsep Kalvinisme, bahwa manusia dapat melakukan segala sesuatu karena Allah telah menentukan demikian. Ini adalah konsep yang membunuh moralitas dan iman Kristen sejati. Kalvinisme percaya, bahwa Allah telah menetapkan segala sesuatu tetapi aplikasinya berbeda. Kalau Allah menetapkan segala sesuatu, maka dosa, kejahatan, kebejatan, tipu muslihat, dusta, fitnah dan lain sebagainya sudah Allah tetapkan dan ini adalah bersumber dari Allah itu sendiri. Ini adalah konsep yang sangat jahat di dalam dunia ini karena sama saja menjadikan Allah sebagai pembuat kejahatan.

Sistem Lapsarianisme

Lapsarianisme berasal dari kata “lapsus”=jatuh. Ini adalah system yang dibuat oleh kalangan Kalvinis untuk menjelaskan kronologis keputusan Allah. Kalvinis mencoba menjelaskan urut-urutan dari keputusan Allah, walaupun ini tidak konsisten karena mereka percaya satu keputusan Allah, tetapi heran juga ada urut-urutannya. Apa hubungan keputusan Allah dengan kejatuhan dalam dosa?

Supralapsarianisme

Mereka yang menganut Lapsarianisme ekstrim mengurutkannya demikian:

1. Election dan Reprobation
2. Penciptaan (creation)
3. Kejatuhan (Fall)
4. Penebusan untuk orang-orang percaya
5. Keselamatan untuk orang-orang pilihan

Kelompok ini dikatakan Supralapsarianisme karena penetapan pemilihan dulu setelah itu kejatuhan. Tokoh Kalvinis yang menganut posisi ini antara lain J. Calvin dan T. Beza. Dimana mereka percaya bahwa Allah menetapkan orang masuk surge/neraka bahkan sebelum penciptaan dan kejatuhan. Jadi, kejatuhan adalah alas an yang ditetapkan supaya reprobation masuk neraka.

Infralapsarianisme, mengurutkan demikian:
1. Penciptaan
2. Kejatuhan
3. Election dan Reprobation
4. Penebusan untuk orang-orang pilihan
5. Keselamatan untuk orang-orang pilihan
Menurut Infralapsarianisme, Reprobation terbagi menjadi dua:
• Preterition = Melewatkan beberapa orang waktu pemilihan (bersifat unconditional)
• Condemnation= Setelah lewat barulah penghukuman karena dosa-dosa manusia (bersifat conditional)

Preterition = Allah sengaja melewatkan beberapa orang yang tidak dipilih setelah itu Allah melakukan condemnation (penghukuman) kepada mereka yang direprobasi karena dosa mereka yang tidak percaya. Preterition ini terjadi di dalam kekekalan.

Baik Preterition maupun Reprobotion tidak ada di dalam Alkitab dengan kata lain konsep ini bukan konsep dari Allah, tetapi konsep jadi-jadian pencinta John Calvin hasil dari penalaran sistematika theology mereka saja.

Argumen Kalvinis tentang hal ini:

Allah menyelamatkan sebagian itu sudah syukur, dari pada tidak sama sekali. Untung masih ada sebagian yang diselamatkan.

1. Jikalau anda yang kebetulan dipilih anda akan mengucap syukur, tetapi jika anda tidak dipilih bagaimana?
2. Ada Allah Yang Mahakasih dan bisa menyelamatkan semuanya kenapa Ia tidak menyelamatkan semuanya saja. Allah memang punya hak untuk menyelamatkan sebagian, tetapi bukankah ini bertentangan dengan sifat-sifatNya? Contoh dalam Lukas 10 “Tentang orang Samaria yang baik hati,” menolong orang Yahudi yang kena rampok dan dipukuli. Orang Samaria itu menolongnya sedangkan imam dan orang Lewi hanya melewatinya saja tanpa menolongnya. Yesus memberitahu kepada audience sikap 2 orang yang melewati korban perampokan yang tidak baik. Bagaimana mungkin Ia mengajarkan dan menjadikan ini contoh sekaligus Ia melanggarnya? Tentu Allah tidak akan melakukan hal ini, kecuali allahnya Kalvinis. Allah memang menyatakan tentang keselamatan, tetapi tidak pernah mengajarkan reprobation.

Ayat-ayat yang mendukung reprobation menurut Kalvinis:

Yosua 11:20 “Tuhan menyebabkan hati orang-orang itu menjadi keras”
Kalvinis tidak pernah bertanya apa yang menyebabkan Tuhan mengeraskan hati mereka? Allah tidak akan melakukan sesuatu tanpa ada alasan dan tujuan. Dalam konteks ini ada hal-hal yang menyebabkan Tuhan mengeraskan hati bangsa itu (Kanaan). Bangsa Kanaan adalah bangsa yang sangat bejat dan jahat, sehingga Allah mengeraskan hati mereka dan menyediakan hari kebinasaan bagi mereka (Kejadian 15:16) dan dalam Imamat 18:24 “janganlah kamu menajiskan dirimu dengan semuanya itu, sebab dengan semuanya itu bangsa-bangsa yang akan kau halaukan dari depanmu telah menjadi najis” sudah sekian lama bangsa Kanaan dalam kondisi kebejatannya sehingga Allah mempersiapkan bangsa Israel untuk membasmi mereka sampai musnah. Sifat bangsa ini sangat najis dan kejam. Inilah alasan mengapa Tuhan mengeraskan hati mereka. Kalvinis tidak pernah berfikir sampai sejauh ini karena sudah terpatok konsep John Calvin. Alasan Tuhan menghukum mereka karena Allah telah memberikan taurat dalam hati setiap manusia. Roma 2:17-29 “bahwa setiap manusia ada hukum taurat dalam hatinya yang akan menghakiminya atas segala perbuatannya yang jahat” Dalam kitab Ibrani 3:13,15 dikatakan, “jangan ada di antara kamu yang mengeraskan hatinya untuk kebenaran Allah” Allah katakan jangan keraskan hatimu! Tetapi manusia itu tetap saja mengeraskan hatinya, sehingga Allah mengeraskan hatinya (contoh kasus Firaun). Dari hal ini kita juga menemukan bahwa penetapan penghukuman bersifat conditional bukan unconditional.

Sublapsarianisme

Ada yang menyamakan dengan infralapsarianisme, tetapi ada juga yang tidak setuju. Tokoh yang berkenaan dengan hal ini adalah Moyce Amyraut, orang yang pertama menyatakan dirinya percaya empat point Kalvinis.

Urut-urutan Sublapsarianisme
1. Penciptaan
2. Kejatuhan
3. Penebusan untuk semua
4. Election dan Reprobation
5. Keselamatan untuk orang pilihan.

Ayat-ayat yang sering digunakan oleh Kalvinis untuk mendukung konsep mereka:

1. Amsal 16:4”Tuhan membuat segala sesuatu untuk tujuannya masing-masing, bahkan orang fasik dibuatnya untuk hari malapetaka.” Apakah Allah telah menetapkan manusia yang Ia ciptakan sebagian untuk binasa dan sebagian untuk menikmati kesenangan di Surga? Ayat ini menyatakan, bahwa Allah dalam menciptakan sesuatu memiliki tujuan tersendiri sesuai dengan maksud dan rencanaNya, termasuk manusia.
Orang fasik bukan Allah tentukan, tetapi mereka menjadi fasik karena itu yang ada di dalam hati mereka, sehingga Allah sediakan hari untuk kebinasaan mereka. Semua diciptakan Allah sama, Allah tidak menciptakan penjahat apalagi dosa.

2. I Tesalonika 5:9 “Ada yang ditetapkan untuk dimurkai dan ada yang ditetapkan untuk selamat” Konteks ayat ini tidak ada hubungan Surga dan Neraka, tetapi mengenai hari murka di masa tribulasi. Ayat ini justru mendukung Premill.

3. I Petrus 2:8 “Mereka tersandung padanya, karena mereka tidak taat kepada Firman Allah; dan untuk itu mereka juga telah disediakan” Ayat ini tidak boleh dilepaskan dari konteks, karena pada ayat 7 bahwa ia mahal dan mereka yang tidak percaya menjadi batu sandungan (Yun: skandalaon). Ayat 8 Allah telah tentukan mereka karena kondisi mereka yang tidak mau percaya.

4. II Tesalonika 2:11-12 “dan itulah sebabnya Allah mendatangkan kesesatan atas mereka, yang menyebabkan mereka percaya akan dusta, supaya dihukum semua orang yang tidak percaya akan kebenaran dan yang suka kejahatan”
Allah mendatangkan kesesatan atas mereka? Perlu diperhatikan ayat 9, 10, 12. Perikop ini sedang membicarakan mengenai keadaan di masa tribulasi atau kejadian/malapetaka setelah gereja diangkat dari dunia.

Mereka harus binasa. Mengapa?
1. Mereka tidak menerima kebenaran
2. Mereka tidak mengasihi kebenaran

Itulah sebabnya Allah mendatangkan kebinasaan bagi mereka. Jadi kebinasaan yang Allah tetapkan bukan tanpa kondisi, tetapi kondisi mereka tidak percaya. Bila mereka percaya tentu mereka tidak akan mengalami kebinasaan dan mereka sudah diangkat bersama orang-orang percaya.

5. II Petrus 2:17 “Guru-guru palsu itu adalah seperti mata air yang kering, seperti kabut yang dihalaukan oleh taufan; bagi mereka tersedia tempat dalam kegelapan yang paling dahsyat”

6. Yudas 4 “ada yang menyusup yang telah lama ditentukan untuk dihukum”
Perlu diperhatikan, bahwa tidak ada penentuan dalam kekekalan dalam ayat ini. Surat Yudas banyak berbicara mengenai orang-orang fasik yang dimulai dari ayat 5-14, dan dalam ayat ini membuktikan mereka pantas dimurkai. Jadi murka Allah bukan tanpa alasan atau sebab musabab, yakni kondisi mereka yang fasik.

Allah yang berdaulat dapat menciptakan manusia dengan kehendak bebas yang sejati atau sesuai dengan pengertian umum, bukan seperti dalam pengertian Kalvinis. Dapatkah manusia menentang Allah? Ya! Karena ia memiliki kehendak bebas untuk menentang dan memuji Allah. Bila manusia menentangNya hati-hatilah karena pasti ada konsekuensinya.

Kalvinis memiliki pandangan yang salah mengenai kehendak bebas dan kedaulatan Allah. Apabila manusia memiliki kehendak bebas, maka itu akan mengancam kedaulatan Allah menurut Kalvinisme. Contoh klasik, bahwa manusia memiliki kehendak bebas, yakni kisah Yunus yang Allah perintahkan untuk menyampaikan berita ke kota Niniwe agar mereka bertobat, tetapi Yunus mencoba untuk menghindar. Mungkin ia merasa tidak senang bangsa yang menindas Israel harus di tolong agar bertobat. Dalam konsep Yunus harusnya bangsa itu dibinasakan. Mungkin ini alasannya menghindar. Tetapi kisah ini membuktikan, bahwa manusia memiliki kebebasan untuk menentang Allah atau mengikutiNya.

sumber: http://gbiasemarang.blogspot.com/2009/02/unconditional-election-bag3.html

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: