Beranda > DOKTRIN GEREJA > JEMAAT DARI TUHAN YANG HIDUP

JEMAAT DARI TUHAN YANG HIDUP


Jadi jika aku terlambat, sudahlah engkau tahu bagaimana orang harus hidup sebagai keluarga TUHAN, yakni jemaat dari TUHAN yang hidup, tiang penopang dan dasar kebenaran. 1 Tim. 3:15

Rasul Paulus menyebut orang-orang percaya yang digembalakan Timotius dengan empat istilah. Pertama sebagai keluarga TUHAN (oi;kw| qeou/) secara literal ‘rumah TUHAN, atau rumah tangga TUHAN’. Betul sekali bahwa orang-orang percaya yang berkumpul adalah rumah tangga TUHAN. Setiap orang yang tergabung ke dalam kumpulan, mereka adalah orang yang telah dilahirkan kembali oleh Roh TUHAN dan menjadi salah satu anak-anak TUHAN. Orang-orang yang menyaksikan kehidupan mereka dapat melihat model rumah tangga TUHAN. Untuk istilah ini penekanannya adalah keharmo­nisan ke dalam.

Kedua, rasul Paulus menyebut mereka jemaat TUHAN yang hidup (evkklhsi,a qeou/ zw/ntoj). Pada zaman itu ada banyak jemaat, karena kata ekklesia juga dipakai untuk perkumpulan­perkumpulan seperti dewan kota dan lain-lain. Oleh sebab itu rasul Paulus menegaskan bahwa ekklesia mereka adalah khusus milik TUHAN yang hidup, bukan kumpulan aneh-aneh yang ada waktu itu. Tentu waktu itu ada kumpulan pengacau (Kis.19:40), dan berbagai kumpulan seperti hari ini ada partai, LSM, arisan dll. Perkumpulan anda setiap minggu itu perkumpulan apa? Milik siapa? Apakah itu perkumpulan dari TUHAN yang hidup?

Ketiga, tiang penopang kebenaran (stu/loj th/j avlhqei,aj) tentu ini maksudnya adalah sebuah tiang yang dasarnya adalah kebenaran yang dimana semua pencari kebenaran bisa menopang padanya. Jemaat yang adalah tiang kebenaran harus sangat benar agar pencari kebenaran yang mencoba bersandar kepadanya tidak jatuh. Apakah yang membuat sebuah jemaat menjadi tiang kebenaran? Tentu Alkitab, Firman TUHAN yang benar yang menjadi anggaran dasar dari jemaat itu. Tiang kebenaran tentu harus sangat kokoh. Ia tidak boleh bergoyang dan tidak boleh melengkung apalagi patah atau roboh.

Itulah sebabnya pengajaran sebuah jemaat lokal harus sangat mantap, tidak boleh ragu-ragu, tidak boleh abu-abu, pendapatnya harus setegas putih atau hitam. Contoh, kalau baptisan yang benar adalah selam berarti percik salah, dan kalau yang percik adalah yang benar berarti selam salah. Masuk Sorga itu melalui bertobat dan percaya atau melalui dipilih, harus tegas.

Keempat, jemaat disebut sebagai dasar kebenaran (e`drai,wma th/j avlhqei,aj). Dasar atau fondasi adalah sesuatu yang menjadi tumpuan dari apapun yang dibangun di atasnya. Tuhan ingin jemaat menjadi kuat, bisa diandal­kan untuk menaruh harapan di atasnya. Jemaat harus sangat kokoh agar apapun yang dibangun di atasnya akan berdiri tegak selamanya.

Yesus Kristus adalah batu penjuru, dan para Rasul dan Nabi adalah fondasi (Ef.2:19-20). Apanya Rasul dan apanya Nabi yang adalah fondasi jemaat? Tentu pengajaran para Rasul dan Nabi yang dimaksudkan. Pengajaran lisan mereka sudah tidak bisa diakses manusia zaman sekarang, namun tulisan mereka bisa diakses oleh manusia segala zaman. Dengan kata lain, Alkitab PL & PB, adalah fondasi jemaat dan sekaligus yang membuat jemaat menjadi fondasi kebenaran.

Keempat posisi yang disebut oleh Rasul Paulus kepada jemaat lokal ini dulu dipegang oleh ayah. Kemudian posisi ini dialihkan untuk dijabat oleh bangsa Yahudi. Dan kini posisi ini dipegang oleh sekelom­pok orang yang menyambut janji TUHAN, yang mengaminkan bahwa Sang Jurusela­mat Yesus Kristus dihukumkan baginya, dan ia sadar bahwa ia hidup bagiNya. Orang ini menjadi salah satu anak-anak TUHAN, dan ketika mereka berkumpul maka mereka disebut keluarga TUHAN. Mereka juga disebut jemaat TUHAN artinya kumpulan milik TUHAN, dan diharapkan berfungsi sebagai tiang kebenaran serta dasar kebenaran bagi dunia yang gelap serta kabur akan kebenaran.

Jika sebuah jemaat lokal tidak mengerti posisinya, dan tidak senantiasa memeriksa pengajarannya, maka ia pasti bukan keluarga TUHAN dan bukan kumpulan miliki TUHAN, maka ia pasti tidak mungkin berfungsi sebagai tiang dan dasar kebenaran. Yang membuat sebuah jemaat berada pada posisi tersebut di ayat ini adalah sikapnya terhadap kebenaran, posisinya terhadap kebenaran.*** (PEDANG ROH 60 Juli-Sept 2009)

Iklan
Kategori:DOKTRIN GEREJA
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: