Beranda > KELUARGA, TOP TEN > 7 CARA MENCIPTAKAN CINTA KASIH DALAM DIRI ANAK

7 CARA MENCIPTAKAN CINTA KASIH DALAM DIRI ANAK


Salah satu kebutuhan dasar anak-anak adalah cinta kasih. Ketika seorang anak mendapatkan dirinya dicintai, kelak ia akan berkembang menjadi anak yang tahu mencintai orangtua, mencintai dirinya, dan mencintai orang lain. Sesungguhnya orang yang mengenal dicintai dan mencintai adalah kebahagiaan hidup yang sejati.

Apakah Saudara merindukan agar anak-anak Saudara dapat menjadi anak yang bertumbuh dalam cinta kasih yang membawa kebahagiaan? Bukan kebencian, kepahitan dan dendam yang membawa penderitaan dan kesusahan? Kalau ya, ikutilah tujuh cara di bawah ini.

1.        PERLIHATKAN CINTA KASIH ANTARA SUAMI DAN ISTRI
Hampir semua karakter anak-anak dipelajari dari meniru orangtua mereka. Jika anak-anak sering melihat orangtuanya bertengkar, marah-marah, saling membenci, saling menghina dan saling memusuhi, secara tidak sadar otak dan hatinya akan merekam semua peristiwa yang menyakitkan tersebut. Lama-kelamaan anak-anak akan bertumbuh menjadi anak yang juga berwatak keras, pembenci, dendam, suka bertengkar, bermusuhan, dan tidak tahu mengasihi.

2.        MENERIMA ANAK SEBAGAIMANA ADANYA
Semua anak adalah unik. Artinya tidak ada dua orang anak yang sama 100% walaupun mereka kembar. Sebab itu orangtua harus mampu mengenal dan menemukan keunikan anaknya masing-masing. Selanjutnya orangtua harus menerima keberadaan anaknya secara utuh tanpa harus membanding-bandingk an dengan anak yang lain. Maka, anak tersebut akan bertumbuh menjadi anak yang percaya diri, tahu menghargai diri, dan tahu menghargai orang lain.

Sebaliknya jika orangtua menuntut anaknya menjadi seperti orang lain, mis: meniru kakaknya, atau menjadi seperti ayah, atau ibu, atau “seseorang” lain, anak tersebut akan merasakan “tekanan” pada dirinya, yang pada akhirnya mengakibatkan frustrasi, depresi, atau kebencian terhadap orangtua. Alhasil, anaknya tidak merasakan dicintai, dan tidak akan pernah belajar mencintai pula.

3.        MENGHARGAI ANAK MELEBIHI MATERI
Ada sebagian orangtua yang begitu mementingkan materi (uang, harta benda) sehingga tidak perna ada waktu yang disediakan bagi anak; atau bahkan ada yang tidak sungkan-sungkan mempertaruhkan nilai moral dan harga diri demi sejumlah uang. Misalnya: berdusta, berjudi, melanggar hukum, atau melakukan kejahatan lainnya. Hal-hal ini akan membuat anak memiliki konsep yang salah terhadap nilai seorang manusia. Dia akan bertumbuh menjadi seorang yang lebih menghargai materi daripada harga dirinya, atau harga diri orang lain. Materi baginya segala-galanya seperti yang diterima dan dialami dalam keluarganya.

Setelah dia dewasa, dia akan lebih mencintai uang daripada mencintai orangtua; lebih mementingkan uang daripada harga dirinya atau nyawanya; dan tidak pernah akan belajar menghargai manusia lebih daripada materi dan harta benda lainnya. Ini sangat berbahaya.

4.        MELAKUKAN TINDAKAN KASIH YANG NYATA
Cinta kasih bukanlah kata benda, melainkan kata kerja. Dengan kata lain, cinta kasih haruslah dipraktikkan dalam perbuatan-perbuatan baik dan nyata. Kasih tidak ada gunanya jika hanya dibicarakan, didiskusikan, dan diperdebatkan. Orangtua yang ingin anaknya kelak memiliki watak cinta kasih, hendaklah mulai menanamkan perbuatan-perbuatan baik kepada anak-anaknya sejak umur dini. Untuk itu sering kali dibutuhkan kerelaan untuk berkorban bagi anak-anak; bukan saja secara materi, yang lebih penting adalah waktu, perhatian, tenaga, dan bantuan-bantuan lainnya.

Anak yang mengalami tindakan-tindakan kasih dari orangtuanya akan bertumbuh menjadi seorang yang berjiwa besar dan berhati lembut dan berwatak rela untuk menolong siapa saja yang membutuhkan. Kelak, dia akan sangat berterima kasih kepada orangtuanya, dan akan sangat mencintai mereka, serta menjadi berkat bagi banyak orang lain.

5.        SUKA MENDENGARKAN ANAK
Pada umumnya orangtua cenderung membangun komunikasi satu arah dengan anaknya, yaitu hanya memberikan nasihat, menggurui, dan menuntut sang anak mendengarkan, taat, dan mendengarkan. Anak tidak diijinkan banyak bicara apalagi membantah. Akibatnya tidak sedikit anak yang “tertekan”, “main pintu belakang”, diam-diam memberontak atau terang-terangan menunjukkan kebencian terhadap orangtuanya, karena mereka merasakan haknya untuk berbicara dan didengar telah direbut oleh orangtuanya.

Jika orangtua ingin anaknya menciptakan pertumbuhan yang normal dan sehat pada anak, khususnya memiliki watak dan pribadi yang tahu mencintai dan menghargai orang lain, maka adalah mutlak orangtua harus menghargai hak anak untuk berbicara dan didengarkan. Memang tidak mudah. Namun tidak berarti mustahil bukan? Orangtua perlu menyediakan waktu untuk mendengarkan anak-anaknya berbicara, mengeluh, menyampaikan ketidak-setujuan, mengajukan pendapatnya, bahkan menyatakan protesnya. Janganlah mendengarkan sambil membaca koran, menonton TV, atau mengerjakan sesuatu yang lain. Belajarlah menghargai mereka dengan mendengarkan secara serius dan penuh perhatian serta memandang matanya. Setelah itu barulah orangtua mengarahkan anaknya ke jalan yang benar melalui komunikasi dua arah. Sesungguhnya, komunikasi itu bukan saja berbicara, tetapi mendengarkan. Ya. Mendengarkan.

6.        PERCAYA KEPADA ANAK
Anak yang dipercayai perkataannya dan perbuatannya oleh orangtuanya akan merasakan dirinya diakui eksistansinya, dihargai, dan dicintai. Sebaliknya anak yang sering dicurigai – biasanya karena pernah berdusta atau melakukan kesalahan – akan merasakan dirinya tidak berguna lagi. Walaupun ia sudah mencoba berubah dan melakukan hal-hal yang benar, namun orangtua tidak pernah sungguh-sungguh memaafkannya dan mempercayainya. Akibatnya ia akan merasa tidak berharga, najis, tidak dimiliki, dan ia akan nekad untuk melakukan hal-hal yang lebih jahat lagi. Mungkin mottonya: “Toh, sudah kepalang basah, dan tidak pernah dipercaya lagi, untuk apa saya berbuat baik dan mengasihi mereka? Sekalian saja saya rusak!”

Sebaliknya jika orangtua mengenal ketidak-sempurnaan manusia, ia akan belajar memaafkan kesalahan, menerima kembali anak secara utuh, dan mempercayai anaknya sepenuhnya. Hal ini akan membuat anak merasakan dicintai, diterima, dan dipulihkan dari segala kelemahan dan kesalahannya. Akibatnya segala kepahitan, atau kebencian, atau luka-luka batin akan sembuh dan digantikan dengan sukacita, damai, rasa aman, penuh semangat, dan percaya diri. Semua ini akan membangun watak cinta kasih yang sangat mulia.

7.        MEMBAGI PENGALAMAN
Pengalaman adalah guru yang terbaik. Namun jarang sekali orangtua yang mau membagi-bagikan pengalaman pribadi mereka kepada anak-anaknya. Mungkin ada pengalaman yang kurang baik, menyakitkan, atau kurang membangun. Namun sesungguhnya melalui pembagian pengalaman inilah anak-anak akan belajar fakta-fakta hidup yang sebenarnya. Selain itu anak akan diajar untuk terbuka karena orangtua berani untuk membuka dirinya.

Keterbukaan adalah salah satu syarat mutlak untuk menciptakan watak cinta kasih. Karena kasih itu jujur dan terbuka, berani mengaku salah, dan rela memaafkan. Pengalaman yang pahit ataupun manis, berhasil ataupun gagal, baik atau buruk, memiliki pelajaran yang sama berharganya bagi anak-anak. Mereka akan merasakan dilibatkan dalam kehidupan yang sesungguhnya, dihargai, dicintai. Plus, mereka akan tahu menghargai dan mencintai kehidupan ini, serta mengasihi orangtuanya sebagaimana adanya.

Saudara, mari kita belajar bersama untuk menciptakan anak-anak yang bertumbuh dan berkembang dalam cinta kasih; mengalami apa itu dicintai dan mencintai. Karena inilah sesungguhnya makna dan tujuan membangun keluarga yang sehat dan bahagia.

Sumber: http://www.gky.or.id/buletin12/disiplin.htm

by Pdt. Eddy Fances, M.Div., D.Min. adalah gembala sidang Indonesian Good News Church of Los Angeles, U.S.A. Beliau adalah alumni Institut Alkitab Tiranus (IAT) Bandung dengan gelar Master of Divinity (M.Div.) dan menyelesaikan studi Doctor of Ministry (D.Min.) di Reformed Theological Seminary, Jackson, Mississippi, U.S.A.

Editor dan Pengoreksi: Denny Teguh Sutandio
“Tidak mau meminta nasihat dalam keputusan-keputusan berat merupakan tanda kesombongan dan ketidakdewasaan. Selalu ada orang yang mengenal Alkitab, sifat manusia, dan karunia serta keterbatasan kita sendiri, lebih baik daripada kita.”
(Prof. J. I. Packer, D.Phil., Mengenal Allah, hlm. 305)

Iklan
Kategori:KELUARGA, TOP TEN Tag:
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: