Beranda > FILM > HACHIKO: A DOG’S STORY

HACHIKO: A DOG’S STORY


Pendahuluan
Hachiko: A Dog’s Story merupakan sebuah film Amerika (mulai diputar pada tahun 2009) yang merupakan karya sutradara Lasse Hallström dan dibintangi oleh Richard Gere dan Joan Allen. Film ini diadaptasi dari cerita/fakta nyata di Jepang. Berikut keterangan singkat tentang anjing yang bernama Hachiko tersebut dari situs Wikipedia:

Hachikō (ハチ公) (10 November 1923-8 Maret 1935) adalah seekor anjing jantan jenis Akita Inu kelahiran Ōdate, Prefektur Akita. Ia terus dikenang sebagai lambang kesetiaan anjing terhadap majikan. Setelah majikannya meninggal, Hachikō terus menunggu majikannya yang tidak kunjung pulang di Stasiun Shibuya, Tokyo.

Julukan baginya adalah Hachikō Anjing yang Setia (忠犬ハチ公 ,Chūken Hachikō). Patung Hachikō di depan Stasiun Shibuya telah menjadi salah satu marka tanah di Shibuya. Sewaktu membuat janji untuk bertemu di Shibuya, orang sering berjanji untuk bertemu di depan patung Hachikō.[1]

Plot Cerita [2]
Film karya sutradara Lasse Hallström ini dimulai dengan adegan siswa-siswa yang memperkenalkan siapa tokoh pujaan mereka di depan kelas. Di awal film itu dikisahkan seorang siswi baru menceritakan tokoh pujaannya dan kemudian disusul dengan seorang siswa yang bernama Ronnie yang menceritakan tokoh pujaannya yang adalah seekor anjing yang bernama Hachiko. Di akhir film ini, kita mendapatkan informasi bahwa Ronnie adalah seorang cucu dari seseorang yang memelihara Hachiko, yaitu kakek Parker Wilson (dibintangi Richard Gere). Kembali, anak ini kemudian menceritakan bahwa anak anjing (puppy) Hachiko yang tidak diketahui asal-usulnya ini ternyata tiba di Amerika dari Jepang. Di tengah jalan di Amerika, Hachiko terlepas dari kandangnya. Setelah itu, Hachiko kemudian berhenti di depan Parker Wilson dan seketika itu juga, Parker menyukai Hachiko. Kemudian, Parker mencoba menyerahkan anak anjing ini kepada petugas stasiun, namun sayangnya petugas itu tidak mau merawatnya. Akhirnya, Parker terpaksa membawa Hachiko ke rumah Parker. Karena mengetahui bahwa istrinya, Cate (dibintangi Joan Allen) tidak menyukai anjing, maka Parker menyembunyikan Hachiko ini di ruang kerja Parker, namun sayangnya, Hachiko keluar dari ruang kerja itu dan menemui Parker dan istrinya yang sedang berduaan di tempat tidur mereka di kamar di lantai atas. Spontan, si istri kaget dan kemudian dengan terpaksa, Parker berjanji akan mengembalikan Hachiko ke pemiliknya. Namun, pemiliknya tidak ditemukan. Akhirnya, Parker membawa Hachiko pulang kembali ke rumah Parker dan meletakkan Hachiko di gudang miliknya di depan rumahnya. Tak disangka, anak perempuan dari Parker menyukai Hachiko. Beberapa waktu kemudian, Parker mulai melatih anak anjing ini bermain bola. Dan di saat itu, Cate dan anak perempuannya melihat betapa Parker menyukai anak anjing itu, sehingga ketika ada orang yang menelpon istrinya hendak memungut Hachiko, si istri langsung menjawab telpon tersebut bahwa Hachiko sudah diambil pemiliknya.

Meskipun demikian, Parker heran Hachi menolak untuk melakukan kebiasaan normal seekor anjing seperti mengejar dan memungut bola. Ken Fujiyoshi, temannya memberi tahu bahwa Hachi hanya akan mau mengambil bola untuk alasan yang istimewa. Suatu pagi, ketika Parker berangkat kerja, Hachi menyelinap ke luar, dan mengikutinya hingga sampai di stasiun kereta api. Hachi menolak ketika disuruh pulang hingga Parker harus mengantarkannya pulang ke rumah. Sore itu, Hachi kembali pergi ke stasiun, dan menunggu hingga kereta api yang dinaiki tuannya datang. Parker akhirnya menyerah, dan membiarkan Hachi mengantarnya ke stasiun setiap hari. Setelah kereta api tuannya berangkat, Hachi pulang sendiri ke rumah, tapi ketika hari sudah sore, ia kembali lagi ke stasiun untuk menjemput. Kebiasaan Hachi mengantar dan menjemput Parker berlangsung beberapa lama. Kebiasaan ini juga mengajar orang-orang di sekeliling stasiun tersebut yaitu Jasjeet, pedagang hot dog di sekitar stasiun yang menjadi langganan Parker Wilson (dibintangi oleh: Eric Avari) dan pemilik toko daging itu tentang arti kesetiaan. Namun pada suatu siang, Hachi menolak mengantar Parker yang ingin berangkat mengajar. Parker akhirnya berangkat sendirian, tapi Hachi mengejarnya sambil membawa bola. Parker terkejut, tapi senang Hachi akhirnya mau diajak bermain bola. Parker tidak ingin terlambat mengajar, dan pergi juga walaupun dilarang Hachi uang terus menggonggong. Siang itu, Parker yang mengajar sambil memegang bola milik Hachi, terjatuh tak sadarkan diri, dan meninggal dunia. Di stasiun, Hachi dengan sabar menunggu kedatangan kereta api yang biasanya dinaiki tuannya ketika pulang, namun tuannya tidak juga pulang. Dia menunggu, dan menunggu hingga Michael, menantu Parker membawanya pulang. Keesokan harinya, Hachi kembali ke pergi ke stasiun dan menunggu tuannya. Ia menunggu sepanjang hari dan sepanjang malam. Setelah suaminya meninggal, Cate menjual rumah mereka, dan memberikan Hachi untuk dipelihara oleh anak perempuan Cate yang bernama Andy Wilson (dibintangi oleh: Sarah Roemer). Hachi pindah ke rumah Andy yang tinggal bersama suami bernama Michael (dibintangi oleh: Robbie Sublett). Keduanya memiliki bayi bernama Ronnie (dibintangi oleh: Kevin DeCoste). Hachi tak lama kemudian lari untuk pulang ke rumah tempat tinggalnya dulu. Ia lalu kembali menunggu tuannya yang tidak kunjung pulang di stasiun. Hachi selalu duduk menunggu di tempat ia biasa menunggu. Penjual makanan di stasiun bernama Jas merasa kasihan, dan memberinya makan hot dog. Andy mencari-cari Hachi, dan menemukannya di stasiun. Hachi diajak pulang, namun keesokan harinya dibiarkan untuk kembali pergi ke stasiun.

Hachi mulai tidur di gerbong kereta yang rusak. Ia berjaga menunggu tuannya sewaktu siang, dan hidup dari makanan dan air yang diberikan oleh Jas dan seorang tukang daging. Pada satu hari, wartawan surat kabar bernama Teddy ingin tahu soal asal usul Hachi. Ia bertanya apakah dirinya dibolehkan menulis cerita tentang anjing itu. Setelah membaca artikel di surat kabar, orang-orang mulai mengirimi Carl uang, dengan pesan agar uang tersebut dibelikan makanan untuk Hachi. Ken sahabat Parker membaca artikel yang ditulis Carl, dan menyatakan kesediaan untuk membayari biaya hidup Hachi. Walaupun Parker sudah setahun meninggal dunia, Ken menyadari Hachi masih ingin dan merasa harus menunggu kepulangan tuannya, serta berharap tuannya masih hidup.

Tahun demi tahun berlalu, dan Hachi masih tetap menunggu di stasiun. Ketika mengunjungi makam Parker, Cate bertemu dengan Ken, dan mengaku dirinya masih merasa kehilangan suaminya yang sudah meninggal sepuluh tahun lalu. Cate lalu pergi ke stasiun tempat Hachi menunggu. Ia terkejut melihat Hachi yang sudah tua, kotor, dan lemah, namun terus setia menunggu tuannya. Ketika kembali ke rumah, Cate bercerita soal Hachi kepada Ronnie yang sudah berusia 10 tahun. Malam itu, Hachi menunggu di tempatnya biasa menunggu, tempatnya berbaring dan jatuh terlelap, bermimpi bertemu Parker.

Selesai sudah laporan Ronnie tentang Hachi kepada teman-temannya sekelas. Kesetiaan Hachi menunggu Parker, kakek Ronnie, menjadikan Hachi sebagai pahlawan selama-lamanya di mata Ronnie. Sore itu, Ronnie berjalan-jalan bersama seekor anak anjing Akita di tempat kakeknya pernah berjalan-jalan bersama Hachi.

Refleksi Iman Kristen
Terus terang saya sudah membeli DVD film ini beberapa bulan yang lalu, namun saya belum menontonnya. Tetapi setelah mendengar beberapa teman saya baik secara langsung maupun tidak langsung (melalui status di Facebook), saya akhirnya tergerak menonton DVD film ini tadi pagi (Minggu, 16 Mei 2010). Pada saat dan setelah melihat film ini, hati saya tersentuh dan kemudian mulai terpikir hal-hal mengenai kasih dan kesetiaan. Mari kita merenungkan dua poin penting ini dari perspektif iman Kristen.

Pertama, KASIH. Dunia kita hari-hari ini sibuk berkoar-koar tentang kasih dan tentunya definisi kasih yang mereka gembar-gemborkan bukanlah kasih sejati. Mengapa? Karena mereka hanya pintar bersuara tentang kasih namun kasih mereka tidak ada sumbernya. Dengan kata lain, kasih mereka terlepas dari Sumber Kasih. Mereka menawarkan kasih versi manusia berdosa yang menolak kasih dari Allah yang adalah Kasih. Sebuah logika yang lucu sich, hehehe… So, apa itu kasih? Kasih bukan hanya suatu perasaan atau perkataan, karena perasaan atau perkataan itu hanya sementara sifatnya. Sebuah judul buku dari Gary Chapman, Ph.D. menjelaskan kepada kita tentang kasih, yaitu: Love is a Verb. Ya, kasih adalah sebuah kata kerja. Kasih bukan hanya dikatakan, tetapi diperbuat. Kalau mau ditelusuri lebih tajam, kasih bukan hanya sekadar tindakan, namun keluar dari hati yang terdalam. Itulah yang telah diteladankan oleh Allah yang adalah Kasih kepada umat-Nya. Karena mengasihi umat-Nya yang berdosa (dan tidak ingin mereka binasa akibat dosa), Allah menyediakan jalan keluar dengan mengutus Putra Tunggal-Nya, Tuhan Yesus Kristus untuk menebus dan menyelamatkan mereka dari dosa-dosa mereka agar mereka dapat hidup bagi Kristus. Kasih inilah yang membangkitkan dan mendorong kita untuk terus-menerus mengasihi Allah yang telah menebus dan menyelamatkan kita. Kita mengasihi Allah dengan menyangkal diri, yaitu: menyukai apa yang Tuhan suka dan membenci apa yang Tuhan benci (mengutip perkataan Pdt. Dr. Stephen Tong). Hal ini juga nampak pada film Hachiko. Hachiko yang telah ditemukan oleh Prof. Parker Wilson dan diajari bermain bola (bahkan Parker melatih Hachiko kecil untuk bermain bola dengan memeragakan dirinya sendiri seperti anjing yang mengambil bola dengan menggigitnya dengan mulut) meresponi cinta kasih Prof. Parker dengan mengikuti terus Prof. Parker bahkan pada saat pesta pernikahan anak perempuannya, Andy. Ironisnya, istri Parker, Cate tidak seperti Hachiko ini. Ini menjadi pelajaran bagi kita. Ini bukan sekadar pelajaran balas budi, tetapi pelajaran sebuah tindakan kasih karena telah dikasihi. Seekor anjing bisa mengerti bagaimana mengasihi tuannya yang telah terlebih dahulu mengasihi dan merawatnya. Namun sayangnya manusia yang katanya mengklaim memiliki rasio/pikiran (sedangkan binatang hanya mengandalkan insting) tidak memiliki reaksi seperti yang ditunjukkan Hachiko, malah bahkan ada yang lebih parah dari Hachiko. Bagaimana tidak, banyak orang Kristen bahkan yang mengklaim diri sedang “melayani Tuhan” atau anak seorang aktivis gereja tidak menunjukkan cinta kasih kepada Allah lebih dari segalanya. Orang ini di dalam gereja memuji Tuhan, “I love You, Jesus”, namun setelah pulang dari gereja, kata-kata yang di“iman”inya selama ini, “I love You, Myself” dan mencari pasangan hidup yang jelas-jelas tidak seiman (namun masih berargumentasi, “cocok” dan “bergumul”). Dari sini, kita makin sadar, yang sebenarnya layak dan pantas disebut hewan itu siapa: Hachiko ini atau justru beberapa (bahkan mungkin banyak) orang “Kristen” yang gembar-gembor mengklaim diri “melayani Tuhan”? Yang diberi rasio oleh Tuhan untuk berpikir malah tidak dipergunakan dengan bertanggungjawab, sebaliknya yang tidak diberi rasio oleh Tuhan malah lebih “mulia” dari yang diberi rasio oleh Tuhan. Biarlah ini menjadi refleksi bagi kita masing-masing. Jangan berani mengatakan bahwa kita mencintai Allah kalau di dalam iman dan kehidupan kita sehari-hari, kita masih men-Tuhan-kan diri dan nafsu kita sendiri dengan segudang argumentasi “rohani”. Kalau kita berani mengklaim diri mencintai Allah, maka tunjukkan itu dengan men-Tuhan-kan dan me-Raja-kan Kristus di dalam iman, hati, rasio, perkataan, dan perbuatan kita sehari-hari. Kita tunduk mutlak akan apa yang Alkitab ajarkan dan perintahkan. Kalau Alkitab mengajar kita untuk mencari pasangan hidup yang seiman, ya, taatilah. Itu tandanya kita benar-benar mencintai Allah. Jangan sampai kita gembar-gembor menyanyi bahwa kita mencintai Yesus, tetapi firman-Nya yang mengajar untuk mencari pasangan yang seiman dilanggar. Bagaimana dengan Anda? Sudah layakkah Anda mengatakan bahwa kita mencintai Allah? Jika Anda mengatakan sudah layak, maka kiranya Tuhan menuntun kita untuk berbuat/mengasihi-Nya sebagai wujud kasih yang telah Ia berikan kepada Anda.

Kedua, KESETIAAN. Kasih sejati ditunjukkan dengan kesetiaan. Seorang yang mengasihi Tuhan dan orang lain yang dia cintai pasti setia dengan Tuhan dan orang lain/pasangannya itu. Hal ini juga nampak pada film Hachiko ini. Hachiko yang telah dikasihi Prof. Parker mengasihi tuannya dengan setia mengikut ke mana tuannya pergi. Bahkan Hachiko rela mengantar tuannya setiap pagi ke stasiun untuk bekerja dan pada sore hari menunggu tuannya di stasiun dari pulang kerja. Bahkan sesudah Prof. Parker meninggal, selama 9 tahun tanpa absen, Hachiko tetap setia menunggu kepulangan tuannya dari stasiun meskipun dia harus menggigil kedinginan dan mengharapkan bantuan dari Jasjeet dan tukang daging. Saya kagum dengan Hachiko. Anjing bisa setia kepada tuannya. Anjing yang katanya lebih banyak menggunakan insting lebih “mulia” daripada manusia yang katanya dikaruniai rasio untuk berpikir bisa setia kepada tuannya yang telah mengasihi dan merawatnya, namun banyak manusia justru gemar tidak setia alias berselingkuh. Kepada tuannya yang adalah seorang manusia, seekor anjing bisa setia sampai 9 tahun bahkan sampai anjing ini meninggal, namun tidak demikian halnya dengan banyak manusia hari-hari ini. Dengan Tuhan yang mencipta, memelihara, dan menebus umat-Nya, banyak orang Kristen tidak setia. Dengan pasangan hidupnya yang juga sama-sama manusia, banyak manusia juga tidak setia. Manusia bisa berselingkuh dari pacar atau pasangan (suami/istri)nya dengan berbagai macam rasionalisasi. Biasanya kita menjumpai banyak cowok yang suka berselingkuh dari pacarnya, namun fakta juga mengajar kita bahwa ada juga cewek yang suka berselingkuh dari pacar/pasangannya. Di dunia artis, kita telah memiliki contoh praktis, di mana si istri menceraikan suaminya karena ada “orang ketiga” dan fakta menunjukkan bahwa si istri memang perempuan tidak beres. Saya pribadi telah menemukan dua contoh nyata dan dua contoh ini uniknya dialami oleh sepupu saya sendiri (kakak laki-laki dan adik laki-laki sepupu saya). Mereka memiliki cerita yang sama, yaitu ditinggal selingkuh oleh pacarnya. Adik laki-laki sepupu saya dikhianati pacarnya karena pacarnya berada jauh dari adik laki-laki sepupu saya dan pacarnya ini sudah dirayu oleh cowok lain. Ketika mau putus, si pacar mengatakan kepada adik sepupu laki-laki saya, “Ko, kamu masih cinta sama aq?” Pertanyaan klise yang berujung pada putus. Kakak laki-laki sepupu saya juga demikian. Waktu kakak laki-laki saya mengunjungi rumah pacarnya, di rumah pacarnya sudah ada cowok yang bertamu dan jelas kelihatan bahwa pacarnya selingkuh dan si pacar lebih memilih cowok itu ketimbang kakak laki-laki saya. Anehnya, setelah menikah, si pacar ini masih menghubungi kakak laki-laki sepupu saya ini. Dan yang lebih parah lagi, dua cewek yang saya ceritakan di atas beragama “Kristen” (tepatnya: Kristen Katolik). Kekristenan bukan menjadi saksi dan berkat bagi orang di sekitarnya, tetapi justru menjadi batu sandungan bagi yang lain. Ini menjadi pelajaran berharga bagi kita.

Dunia kita sudah anti terhadap kesetiaan, bagaimana dengan Kekristenan sejati? Sebelum kita masuk ke dalam konsep kesetiaan Kristen, maka kita perlu meneladani Pribadi Kristus. Kristus adalah Pribadi Allah yang setia mengemban tugas mulia dari Bapa untuk menebus dosa-dosa manusia. Di dalam menunaikan tugasnya ini, Ia pasti mendapat tantangan, ancaman, dan tipuan, bahkan yang paling menyakitkan, Ia “ditipu” oleh salah satu “murid”-Nya, yaitu Yudas Iskariot yang di kemudian hari menjual Kristus untuk disalib. Kesemuanya itu tidak menghalangi Kristus dalam menunaikan mandat dari Bapa bahkan Ia telah menuntaskan semua tugas yang diemban dari Bapa. Meneladani Kristus, orang Kristen yang telah menerima anugerah Allah melalui keselamatan, pengampunan dosa, iman, dan kehidupan kekal di dalam Kristus secara cuma-cuma seharusnya menunjukkan cinta kasihnya kepada Allah dengan setia kepada-Nya: setia mengikuti dan taat firman-Nya. Orang Kristen harus setia kepada Allah, mengikuti dan taat mutlak kepada kehendak-Nya di dalam seluruh aspek kehidupannya. Kesetiaan itu diuji dengan berbagai macam penderitaan yang mengancam. Orang yang mengaku beriman kepada Kristus pasti menderita aniaya (Mat. 10:38; 16:24) dan kesetiaan kita kepada Kristus diuji melaluinya. Jika kita hanya mengaku Kristus di dalam mulut kita, itu akan ketahuan tatkala penderitaan datang menerpa kita, kita pasti langsung mengomel bahkan murtad. Tidak usah jauh-jauh, atas nama “kasih” (“toleransi”), beberapa pemimpin gereja telah mengompromikan iman mereka dan telah berzinah rohani, lalu mengajar bahwa keselamatan tidak hanya ada di dalam Yesus Kristus. Ketika penderitaan dan pluralitas menyerang Kekristenan, beberapa (atau bahkan mungkin banyak) orang “Kristen” dan pemimpin gereja bersiap-siap untuk berzinah rohani. Namun bagi kita yang sungguh-sungguh setia kepada Kristus, maka tatkala penderitaan datang menerpa, kita tetap teguh beriman, bukan karena kehebatan kita, tetapi karena anugerah pemeliharaan-Nya atas umat pilihan-Nya.

Kedua, selain setia kepada Tuhan, kita juga harus setia kepada pasangan kita baik calon pacar, pacar, maupun istri/suami kita. Konsep dunia baik melalui contoh para artis dan lagu “Putus Nyambung” sudah meracuni pikiran dan sikap kita tentang makna komitmen. Bagi banyak orang dunia, pacaran dan pernikahan hanyalah senang-senang saja, sehingga tidak heran, putus nyambung dan perceraian begitu akrab di telinga mereka. Perzinahan telah menjadi kegemaran mereka. Kekristenan harus tampil beda dari dunia. Orang Kristen harus menunjukkan bahwa mereka adalah pengikut Kristus yang TIDAK akan mau berzinah dengan pasangannya. Mereka akan menjaga jarak jika salah satu mereka didekati oleh lawan jenis. Contoh jika seorang cowok dan cewek lagi berhubungan dekat untuk menjadi pacar (ataupun sudah jadian), maka jika ada cowok lain yang mencoba mendekati si cewek ini dengan alasan apa pun, si cewek harus cepat berhati-hati. Si cewek harus bisa menempatkan diri khususnya dengan lawan jenis. Jika si cewek menganggap teman lawan jenisnya hanya sebagai teman dan tidak ada rasa apa pun, maka si cewek harus berani menjaga sikap. Jangan sampai sudah pacaran, si cewek masih gemar berjalan berdua dengan teman lawan jenisnya (bukan pacar), lalu ketika ditanya sang pacar, si cewek selalu berkelit, “Itu hanya teman” (padahal dalam hati, si cewek juga naksir si cowok ini). Ini bukan masalah cemburuan, tetapi ini masalah komitmen. Kalau Anda sebagai anak muda sudah berani menjalin sebuah komitmen serius (masa pedekate/PDKT, pacaran, atau bahkan pernikahan), ya, jalankan komitmen itu, setialah, dan jangan menyakiti hati pasangan Anda. Kalau Anda ingin pasangan Anda setia, maka Anda terlebih dahulu harus membuktikan kesetiaan Anda. Jangan suka menuntut orang lain untuk setia kepada Anda. Anda yang harus pertama kali setia dengan pasangan Anda. Anak muda dunia telah meracuni banyak anak muda Kristen, biarlah kita sebagai anak muda Kristen yang takut akan Tuhan tidak mau dipengaruhi oleh konsep-konsep tersebut.

Film Hachiko adalah salah satu film langka yang diproduksi oleh Amerika Serikat (diadaptasi dari film Jepang) yang mengajarkan banyak pengajaran berharga. Melalui film ini, biarlah kita diingatkan kembali tentang makna kasih dan kesetiaan yang telah kita pelajari sebelumnya dari sumber aslinya, yaitu pribadi Kristus dan Alkitab.

Di dunia yang anti-Tuhan, anti-konsep, dan anti-komitmen ini, dari Sorga, Allah melihat, masih adakah orang yang mengasihi-Nya dan setia? Masihkah orang Kristen yang mengaku mengikut Kristus mencintai-Nya dengan menjalankan kesetiaan baik kepada Allah dan pasangannya? Tuhan tidak menginginkan perkataan yang kita ucapkan bahwa kita mengasihi-Nya dan setia. IA menginginkan sikap hati dan tindakan kita di dalam menjalankan apa yang telah kita pelajari dan mengerti. Manusia tak mengetahui motivasi hati Anda, hanya Allah saja yang mengetahui motivasi hati Anda yang terdalam. Biarlah kita masing-masing mengintrospeksi diri kita masing-masing di hadapan Allah yang Mahatahu. Amin. Soli Deo Gloria…  (Sebuah Refleksi (Iman Kristen) tentang Kasih dan Kesetiaan, oleh: Denny Teguh Sutandio)

[1] Kisah selengkapnya baca di: http://id.wikipedia.org/wiki/Hachik%C5%8D

[2] Diringkas sendiri dan diambil dari: http://id.wikipedia.org/wiki/Hachiko:_A_Dog%27s_Story

“Tidak mau meminta nasihat dalam keputusan-keputusan berat merupakan tanda kesombongan dan ketidakdewasaan. Selalu ada orang yang mengenal Alkitab, sifat manusia, dan karunia serta keterbatasan kita sendiri, lebih baik daripada kita.” (Prof. J. I. Packer, D.Phil., Mengenal Allah, hlm. 305)

Kategori:FILM
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: