Beranda > EKONOMI > MLM = Menipu Lewat Menjual ?

MLM = Menipu Lewat Menjual ?


(www.yabina.org, Judul sebelumnya 10 MENIPUNYA MLM) Kita tentu sering menerima ajakan ber’investasi’ secara berantai atau bergabung dalam MLM yang menjanjikan keuntungan besar, baik keuntungan berupa harapan indah, keuntungan uang berlimpah, atau pensiun dini. Darimanakah uang berlimpah yang menggiurkan itu? Mungkinkah seseorang memperoleh keuntungan berlimpah tanpa mengorbankan jutaan lainnya yang merana?

MLM / Investasi berantai adalah sistim pemasaran berjenjang atau pelipat-gandaan mengikuti deret ukur dan mengikuti hukum piramid, yaitu puncak yang sedikit dengan makin kebawah makin berlipat ganda. Gambar disamping memberi gambaran, bahwa seorang dengan downline 2 orang akan membentuk deret ukur 1 – 2 – 4 – 8 – 16 – 32 – 64 – 128 – 256 – 512 dan pada lapis ke-11 berjumlah 1.024 downline. Kalau downlinenya  4 angka itu sudah tercapai pada lapis ke-6, sedangkan lapis ke-11 akan berjumlah 1.048.576 downline, 1000 kali lebih banyak! Ada MLM yang dibatasi dengan downline hanya 2 (binary) tapi umumnya tidak terbatas jumlahnya. Bentuk pertama tanpa melibatkan uang adalah ‘surat berantai’ yang bisa positip (kalau menyebarkan ayat Alkitab/PI) tetapi bisa negatip kalau sifatnya menakut-nakuti (kalau tidak meneruskan akan sial/mati). Bentuk kedua adalah ‘arisan berantai’ (money game) yang melibatkan uang yang diinvestasikan (bisa sedikit bisa banyak seperti ‘ponzi’), sedangkan bentuk ketiga ‘melibatkan produk’ (MLM). Kasus Murdock yang mengacaukan ekonomi dunia merupakan contoh ‘investasi berantai’ dengan kedok ‘investasi dengan janji keuntungan yang besar.’

Beberapa strategi terselubung MLM adalah dengan cara memberikan sugesti positip berikut:

1.                  MLM Bukan Piramid.

Pada umumnya perusahaan MLM menyebutkan bahwa mereka bukan Piramid dan menyalahkan bisnis Money Game, namun kalau diteliti, MLM menyalahkan bisnis Piramid yang dibatasi hanya dengan pengertian Arisan Berantai atau Money Game tanpa barang yang dijual dimana  ibarat gunung es, hanya sedikit di atas untung (winner) dan sebagian besar di bawah rugi (loser). Sejujurnya, pernyataan itu menipu, karena faktanya MLM juga menjalankan sistem pemasaran berjenjang (multi-level) yang sama dimana hanya sedikit yang untung yaitu beserta terdahulu diatas yang sedikit dan kebanyakan dibawah akan rugi agar terkumpul dana untuk sedikit yang untung dengan skema piramid yang sama dengan Money Game. Yang membedakan adalah bahwa Money Game adalah bisnis Piramid yang tidak melibatkan produk selain uang investasi (naked Pyramid) sedangkan MLM melibatkan produk (product based Pyramid). Faktanya uang yang beredar pada MLM produk bila dikurangi dengan harga produk, sebenarnya sisanya menjadi investasi money game pula. Ada MLM dengan satu juta distributor setiap tahun mensyaratkan pendaftaran ulang Rp.50.000 per distributor, ini berarti setiap tahun puncak piramid (pengusaha MLM) mengeruk dana 50 milyar tanpa ada yang dibagikan pada distributor, ini lebih menipu daripada Money Game;

2.                  MLM Adalah Usaha Kemitraan.

MLM mempromosikan bahwa sistem bisnis MLM adalah sistem kemitraan dimana tidak ada perusahaan atasan karena semua distributor adalah investor pemilik usaha. Faktanya, setiap saat perusahaan bisa memutuskan hubungan kerja dan meninggalkan banyak distributor diambil hak bonusnya oleh sipengusaha, dan tinggallah ribuan orang yang belum menikmati janji-janji itu untuk gigit jari tanpa daya. Ada beberapa titik rawan yang menunjukkan bahwa dalam bisnis MLM mereka bukan mitra perusahaan tetapi karyawan tak berdaya, yaitu a.l.: (1) Sewaktu-waktu secara sepihak persentasi bonus/komisi bisa diturunkan oleh perusahaan; (2) Bila dianggap kurang aktif, bonus/komisi bisa tidak dibayarkan atau dicoret dari keanggotaan; dan (3) Dicoret dari distributorship kalau tidak membayar pendaftaran ulang tahunan. Tidak ada RUPS dan juga tidak ada Assosiasi Distributor yang melindungi hak mereka;

3.                  MLM Pilihan Terbaik Usaha Mandiri.

MLM dipromosikan demikian seperti oleh Robert Kiyosaki dalam buku-bukunya. Orang dijanjikan harapan (not soap but hope) bahwa usaha MLM adalah pekerjaan mandiri milik sendiri dengan penghasilan yang tak terbatas untuk mencapai kebebasan finansial seumur hidup (pensiun dini). Inilah gejala bisnis Piramid bahwa seseorang dijanjikan mendapat passive income yang terus menerus yang faktanya didukung oleh ribuan downline dibawahnya yang membayar untuknya. Sebenarnya bukan usaha mandiri karena sewaktu-waktu hubungannya dengan perusahaan bisa dihentikan dan pendukung di bawahnya bisa jenuh, berkurang karena persaingan, atau terhenti kalau ada bencana alam atau perang. Sebenarnya distributor MLM lebih buruk posisinya yang dimanfaatkan perusahaan MLM selama mereka menghasilkan, distributor dilarang menjadi distributor MLM lain, dan bila diputuskan hubungannya, jajaran downline yang direkrutnya tetap menghasilkan keuntungan bagi perusahaan;

4.                  MLM Menjanjikan Penghasilan Tak Terbatas.

Inilah janji-janji muluk perusahaan MLM yang menjanjikan bahwa semua bisa mencapai tangga sukses dan kaya raya. Janji yang menipu ini biasanya dipromosikan dengan kesaksian mereka (yang sedikit) yang telah mencapai level Silver atau Diamond dengan tabungan berlimpah, mobil mewah, jalan-jalan keluar negeri, dan pensiun dini, tetapi fakta adanya jutaan pendukung yang berpenghasilan sedikit atau merugi tidak dikemukakan. Gejala gunung es berlaku untuk semua bisnis MLM apapun namanya, apakah Money Game, Investasi Berantai, Binari, atau MLM, bahwa untuk menghasilkan satu orang untung (winner) dibutuhkan sekitar 1.000 lebih pendukung (loser), dan agar yang 1.000 menjadi untung dibutuhkan 1.000.000 lebih pendukung. Di Amerrika seorang success story MLM menyebut bahwa ia berhasil setelah memperoleh 5.000 downline, Stephen Butterfield, mantan distributor aktif perusahaan MLM besar meneliti laporan tahunan dan menemukan fakta bahwa hanya 1-2% distributor yang mampu menyamai penghasilan rata-rata di masyarakat, yang mencapai level diamond hanya 0,048%, dan agar seseorang berhasil meningkatkan kelas sosialnya harus dimasukkan 2.083 downline baru. Kiyosaki dalam bukunya menyebut bahwa akan banyak orang berhasil di bisnis MLM setelah masuknya jutaan baby boomers.

5.                  MLM Adalah Bisnis Mereka Yang Berfikir & Bermental Positif.

MLM dalam promosinya selalu menekankan bahwa MLM adalah bisnisnya mereka yang berfikir dan bermental positif untuk mencapai hidup maju dalam kebebasan finansial. Sangat disayangkan folosofi demikian yang tidak membuka mata bahwa keberhasilan seseorang dalam bisnis ini berarti kerugian banyak orang dibawahnya. Kita tidak harus berfikir dan bermental positif, cukup dengan berfikir benar dan realistis, kita akan melihat kenyataan bahwa ibarat piramid, firaun yang kaya raya mengorbankan ribuan rakyat dibawahnya, demikian pun perusahaan Investasi Berantai / MLM. Sebaiknya sebelum seseorang bergabung dengan MLM meneliti dulu berapa success story yang dipromosikan dan berapa sudah jumlah anggota MLM. MLM besar di Indonesia yang mengklaim punya satu juta lebih distributor, namun hanya beberapa ratus success story yang tercantum dalam buku ‘Maha Bintang’ yang diterbitkan setiap tahun.  MLM memang cenderung mengindoktrinasi para distributor dengan pelatihan-pelatihan yang bernada ‘New Age’ ke arah Positive Thinking. Paulus mengajar kita berfikir dan bermental benar dihadapan Allah:

“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” (Flp.4:8).

Apakah benar, mulia dan adil, dan bisa disebut kebajikan, bila menjalankan investasi bisnis yang menguntungkan sedikit orang atas kerugian jauh lebih banyak orang?

6.                  MLM Membuka Banyak Lapangan Kerja.

MLM sering dipromosikan sebagai pembuka lapangan kerja yang efektif, karena sejauh ini anggota APLI (Asosiasi MLM) yang 60-an itu sudah memiliki anggota 4.000.000 lebih, belum termasuk perusahaan MLM yang berada di luar APLI. Angka-angka jutaan itu kelihatannya meyakinkan sebagai solusi masalah ketenagakerjaan di Indonesia namun sebenarnya menipu, karena faktanya, dari yang jutaan itu, hanya perusahaan yang maha untung, puluhan level diamond yang untung besar, ratusan level silver yang untung, atau ribuan yang untung/rugi sedikit, namun sisanya jutaan yang mayoritas sudah mengeluarkan uang pembeli produk mahal tetapi masih merugi. Jadi sebagian besar dari yang jutaan itu tidak bekerja dengan gaji cukup tetapi masih underpaid atau lost. Dalam perusahaan umum, umumnya semua pegawai menerima gaji dan jaminan sosial, dari direktur sampai tukang sapu, sesuai kadar pekerjaan mereka;

7.                  MLM bukan judi.

MLM dikatakan sebagai bisnis yang jujur dimana semua orang bisa berhasil asalkan rajin, juga dikatakan berbeda dengan judi yang hanya sedikit orang yang menikmati karena kekalahan banyak orang. Sebenarnya pernyataan ini menipu, karena: (1) MLM sama dengan judi dalam hal bahwa hanya sedikit yang menang (beruntung) dibanding sebagian besar yang kalah (merugi); namun, (2) MLM lebih menipu dari judi karena dalam judi, SEMUA orang memiliki kesempatan yang sama untuk menang, sedangkan dalam MLM HANYA MEREKA YANG DEKAT PUNCAK PIRAMID yang minoritas yang akan menikmati kemungkinan itu, dan yang yang jauh dibawah puncak piramid yang jutaan mayoritas akan rugi;

8.                  MLM adalah sistem bisnis yang banyak memberikan seminar pendidikan.

Disatu sisi kelihatan memang MLM menyelenggarakan seminar pelatihan yang sering dibandingkan perusahaan lain, namun kalau diperhatikan berbeda dengan pelatihan yang umumnya dilakukan perusahaan yaitu pelatihan tehnik/ketrampilan, MLM biasa menjalankan ‘motivational training’ yang cenderung mendongkrak kepercayaan diri seseorang dengan yel-yel mendongkrak motivasi yang menggairahkan. Dalam pelatihan ‘I Can’ slogan ‘Saya pasti bisa’ terus menerus didengungkan agar merasuk pemikiran peserta. MLM menjalankan pelatihan yang cenderung mendewakan ‘Aku’manusia dan kehausan manusia akan sukses materi (New Age). Kita harus juga berhati-hati karena perusahaan umum juga sering tergoda ‘sukses instan’ dengan juga mengadakan training ‘motivational’ disamping yang ‘technical’;

9.                  MLM memberikan keuntungan lebih baik dari sistem bisnis yang lain.

Biasanya MLM dipromosikan sebagai sistem bisnis yang lebih baik dari sistem bisnis yang lain, karena menjanjikan hasil besar, keuntungan dalam waktu singkat, waktu kerja yang sedikit, penghasilan abadi (pensiun dini), dan semua janji-janji muluk dengan contoh beberapa peserta puncak yang sukses (mendapat hadiah mobil mewah, rumah besar, melancong ke mancanegara, dan pensiun dini). Ini jelas menipu, karena dalam MLM hanya sedikit sekali yang dipuncak piramid yang akan mengalami hal itu, sedangkan sebagian besar peserta merugi agar dapat menguntungkan para ‘elit yang sedikit’ itu. Dalam perusahaan umum, dari Direktur sampai tukang sapu mendapat gaji yang sesuai dengan jabatan dan fungsi mereka, jadi tidak ada yang mengalami resiko rugi seperti yang dialami mayoritas distributor MLM. Yang jelas produk MLM biasa dijual lebih mahal dari barang sejenis dipasaran, karena pada umumnya bisnis MLM membagi harga produk menjadi 3 bagian, satu bagian sebagai keuntungan perusahaan (harap maklum mengapa pengusaha MLM superkaya), satu bagian dibagikan sebagai komisi bagi upliner, dan satu bagian untuk pembelian produk. Banyak usaha MLM membeli produk populer perusahaan lain lalu mengemasi dengan etiket MLM lalu mempromosikan sebagai ‘obat manjur’;

10.              MLM adalah perusahaan sah yang diakui karena bergabung dalam APLI.

MLM memang belum tersentuh hukum dan keanggotaan dalam APLI (Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia) juga tidak membuktikan sah-tidaknya MLM tersebut karena APLI dibentuk oleh perusahaan-perusaha an MLM. Di Amerika Serikat, banyak MLM disalahkan dan ditutup karena terbukti melakukan penipuan terhadap distributor, namun segera setelah ada yang bubar perusahaan MLM bisa dengan mudah berdiri lagi dengan nama baru. Belum ada hukum yang melindungi distributor apalagi mereka tidak bergabung dalam assosiasi distributor MLM, dan kalau kasusnya bisa dibawa kepengadilan, ini membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menyelesaikannya karena perusahaan MLM sangat kaya raya dan mereka bisa membayar banyak pengacara untuk membela mereka. Banyak hukum negara bagian di Amerika Serikat mengharuskan MLM menjual produknya sampai 70% kepada umum (non-distributor) agar memenuhi hukum persaingan bisnis, dilihat dari hukum ini tidak ada MLM yang memenuhi syarat, karena umumnya MLM menjual produk secara eksklusif hanya kepada distributor (APLI juga mensyaratkan produk juga dijual kepada umum). ***

Iklan
Kategori:EKONOMI
  1. 15 Juli 2010 pukul 2:03 AM

    Salam Damai,
    Kelihatannya Bung Dede ini sangat anti dengan MLM. Apakah Bung Dede pernah ikut salah satunya? Atau mungkin pernah menjadi korban MLM? Mungkin bisa disharingkan juga bila ada pengalaman-pengalaman seperti itu? Terima kasih sebelumnya…

  2. 18 Desember 2018 pukul 12:37 PM

    If some one desires to be updated with most up-to-date technologies after that he must be pay
    a quick visit this site and be up to date all the time.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: