Beranda > KESELAMATAN > KAPANPUN SAYA MATI, SAYA PASTI MASUK SURGA

KAPANPUN SAYA MATI, SAYA PASTI MASUK SURGA


Ketika seseorang terhindar dari suatu malapetaka, ia akan diucapkan selamat oleh orang-orang di sekelilingnya walaupun keselamatan yang diperolehnya adalah keselamatan yang semu dan sangat sementara sifatnya. Mengapa dikatakan semu dan sementara? Karena pada hakekatnya ketika seseorang terhindar dari suatu malapetaka, sangat mungkin malapetaka lain sedang menantinya.

Tidak ada satu manusia pun yang dapat memiliki keselamatan yang sejati dalam hidupnya sebelum ia terhindar atau dijamin pasti akan terhindar dari malapetaka yang terakhir. Karena sekalipun ia terhindar dari satu malapetaka, sesungguhnya masih ada banyak malapetaka lain sedang menantinya.

Semestinya tidak ada seorang pun yang tidak mendambakan keselamatan yang sejati itu karena terhadap keselamatan yang semu saja manusia sudah sedemikian mendambakannya sehingga ketika pada hari-hari tertentu ia ingin sekali diucapkan selamat sekalipun itu hanya sekedar penghiburan saja, bayangkan kalau ia bisa mendapatkan keselamatan yang sejati itu.

Ada sebagian manusia yang kelihatannya seperti tidak mempedulikan keselamatan yang sejati, namun sebenarnya ia sedang dihasut untuk tidak mempedulikannya. Sebagian lagi mungkin karena tidak mengetahui dengan jelas malapetaka apakah yang akan dihadapinya. Ia tidak pernah mendengar bahwa manusia yang sudah mati akan menghadap Penciptanya untuk dihakimi. Ia menyangka kehidupan manusia itu sama dengan kehidupan ayam yang dipotong tiap hari. Namun sekalipun ia beranggapan demikian ia tetap tidak mau dianggap atau disamakan dengan ayam melainkan tetap percaya bahwa manusia itu lebih khusus. Memang manusia itu makhluk khusus yang Tuhan hembusi roh ketika diciptakanNya. Oleh sebab itu manusia bisa berpikir, memiliki kesadaran diri serta mempunyai nilai moral.

Suatu tempat penghukuman terakhir bagi orang-orang yang membangkang terhadap Allah yang oleh manusia disebut Neraka. Tentang tempat itu dijelaskan dengan lebih lengkap lagi di bagian lain dari Alkitab. Hampir setiap bangsa di dunia ini mempunyai dongengnya tersendiri tentang tempat yang mengerikan itu. Mengapa demikian? Karena sesungguhnya di dalam lubuk hati manusia yang paling dalam ia menyadari dan mengakui adanya ketidakberesan dalam hidupnya dan itu akan menyulitkannya untuk mempertanggungjawabkan hidupnya di hadapan Penciptanya.

Dosa yang diperbuat manusia menyebabkan ia tidak bisa menghampiri Allah karena Allah adalah Pribadi yang maha-suci. Tempat bagi semua manusia ialah Neraka, karena semua manusia telah berbuat dosa. Seperti ada tertulis, tidak ada yang benar, seorang pun tidak (Roma 3:10). Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23).

Lalu bagaimanakah manusia yang berdosa itu mungkin kembali ke hadirat Allah untuk menikmati kemuliaan dan kebahagiaan bersamaNya? Tidak ada cara lain kecuali dosa, yaitu penyebab malapetaka itu disingkirkan. Dosa inilah penyebab kecelakaan terbesar yang harus dialami manusia, yaitu mati dan dihakimi.

Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi (Ibrani 9:27).

Terhindar dari malapetaka yang terbesar inilah yang kita sebut memperoleh keselamatan yang sejati karena sesudah malapetaka yang satu ini selanjutnya tidak ada malapetaka lain lagi. Selanjutnya bagaimanakah cara untuk memperolehnya? Ada yang pergi bertapa, ada yang berusaha dengan berpuasa, bahkan ada yang berusaha mendapatkannya dengan amal. Seandainya ada patokan harga yang ditetapkan untuk dibayar agar bisa masuk Surga, tentu banyak orang akan berusaha keras untuk membayarnya.

Keselamatan yang sejati itu bisa diperoleh kalau penyebab malapetaka terbesar itu bisa diatasi atau dibereskan. Penyebab malapetaka terbesar itu ialah dosa manusia. Karena dosa itulah maka manusia tidak mungkin menghampiri Allah. Itu sama sekali bukan karena Allah sangat jahat sehingga Ia tidak memperbolehkan manusia berdosa menghampiriNya, melainkan karena sifatNya yang maha-suci itu tidak memungkinkanNya dihampiri oleh manusia yang berdosa.

Sesungguhnya Allah sangat ingin agar semua manusia yang telah diciptakanNya itu bisa kembali kehadiratNya untuk menikmati kemuliaan dan kebahagiaanNya.Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat (II Pet 3:9).

Ayat tersebut di atas membuktikan bahwa Allah sangat menghendaki agar manusia bisa kembali kehadiratNya. Apapun akan dilakukanNya demi untuk menyelamatkan manusia. Namun Allah tidak bisa melakukan hal yang bertentangan dengan sifatNya. Kalau Allah sangat rindu menyelamatkan manusia, pertanyaan yang layak untuk dipertanyakan ialah, apakah manusia yang bersangkutan merindukan keselamatan dirinya? Adakah manusia memikirkan keselamatan jiwanya? Bagaimana dengan anda?

Seandainya ada semacam alat atau bahan pencuci dosa, maka suasana di dunia ini pasti menjadi lain. Pastilah bahan atau alat itu akan laku keras dan ia merupakan komoditi pendatang devisa yang paling dominan, seperti yang pernah dibuat zaman dulu, yaitu surat pengampunan dosa yang diperjual belikan Gereja Roma Katolik.

Kalau alat atau bahan itu mahal maka yang akan selamat adalah orang kaya, dan pasti orang kaya akan semakin sombong sehingga sangat dibenci, sementara yang membenci menambahi dosa mereka sehingga semakin sulit mengatasinya. Tetapi seandainya alat atau bahan itu murah sekali, maka orang akan semakin berani berbuat dosa karena alat pencucinya murah serta gampang diperoleh di mana-mana. Keadaan itu akan menyebabkan orang-orang di dunia ini semakin jahat sehingga kita semua tidak tahan hidup di dunia ini. Atau dunia ini akan langsung berubah menjadi Neraka.

Ada yang berusaha memperbaiki suasana di Neraka agar orang yang dikasihinya tidak terlalu menderita di sana. Mereka mengirim televisi, dan ada yang mengirim kulkas, bahkan ada yang mengirim pembantu untuk dinikmati orang yang dicintai mereka. Untung boneka pembantu itu tidak ditulisi nama, kalau ditulisi nama, maka dapat kita bayangkan kalau kebetulan namanya persis dengan nama salah seorang pengunjung/ pelayat.

Bersiap-siap masuk Neraka itu sebuah cerminan keputusasaan sebagian manusia karena tidak mendapatkan cara untuk masuk Surga. Berbagai cara telah diusahakan manusia sejak zaman dahulu kala. Ada yang berusaha masuk Surga dengan bertapa. Usaha semacam ini dimaksudkan agar hati nurani yang bersangkutan dapat dimurnikan dengan banyak merenung dan berdiam diri. Andai kata pada saat seseorang sedang bertapa itu ia tidak berbuat dosa, namun bagaimana dengan dosanya yang sudah pernah dibuat? Dan, setelah ia keluar dari pertapaan, apakah ia tidak akan berbuat dosa lagi? Siapapun yang berakal sehat akan menjawab, selagi kita hidup di dunia ini kita tetap mempunyai kemungkinan melakukan dosa.

Kalau dengan bertapa manusia dapat menghapuskan dosanya, maka semestinya sejak lahir ia sudah mulai bertapa hingga ia mati.

Sebagian lagi mengajarkan bahwa dosa dapat dihapuskan dengan mengikuti rituil upacara-upacara yang khusyuk atau berpuasa. Banyak orang yakin usaha ini akan berhasil sebab hati nurani mereka sedikit terobati oleh rituil upacara yang dibuat sedemikian rupa, atau usaha menahan lapar yang sangat berat sehingga hal-hal itu membawa kesan secara psikologis bahwa itu tidak mungkin sia-sia. Namun, pasti tidak ada seorangpun yang akan setuju jikalau anggota keluarganya dibunuh oleh seseorang dan pembunuh itu hanya diperintahkan untuk melakukan sejumlah upacara, atau berpuasa dalam suatu jangka waktu, dan sesudah itu habis perkara. Kita yang bodoh saja tahu bahwa tidak adil kalau seseorang yang telah membunuh itu hanya diminta untuk melaksanakan upacara tertentu atau hanya disuruh untuk berpuasa apalagi Allah, betul?

Mungkinkah keselamatan itu diperoleh dengan melakukan kewajiban agama atau upacara-upacara? Dapatkah dosa dihapuskan dengan upacara? Jawablah sendiri dengan akal sehat anda! Kalau bisa maka pemerintah kita tidak memerlukan penjara lagi. Mereka mengatakan bahwa Allah akan mempertimbangkan jumlah dosa dan jumlah amal yang telah dilakukan seseorang di dunia. Kalau ternyata dosa seseorang itu lebih banyak dari amalnya orang tersebut tidak dapat masuk Surga, sedangkan kalau ternyata amalnya lebih banyak dari dosanya orang tersebut boleh masuk Surga, maka itu berarti manusia yang ingin masuk Surga harus rajin berbuat amal.

Namun anehnya mereka tidak mengetahui tentang patokan yang dipakai untuk mengukur amal dan dosa, yaitu per-kilogram, per-meter kubik atau per-liter. Mereka juga tidak dapat mengetahui dosa jenis tertentu itu sekian beratnya dan amal jenis tertentu itu sekian beratnya. Kalau manusia dapat masuk Surga dengan amal yang lebih banyak daripada dosa, mestinya ada tabel dosa dengan ukurannya, barulah manusia dapat memastikan, apakah ia sudah pasti masuk Surga atau masih memerlukan tambahan amal?

Mungkinkah dengan mengandalkan prestasi manusia Surga itu dicapai? Kalau mungkin, itu berarti sebuah prestasi manusia yang gilang gemilang dan sangat patut dibanggakan. Setiap orang yang memiliki pikiran yang sehat pasti tidak akan setuju jikalau ada seorang penjahat yang telah membunuh seseorang kemudian dinyatakan tidak perlu dihukum melainkan cukup diwajibkan berbuat amal secukupnya. Mengapa tidak setuju? Pasti orang kaya akan lebih leluasa membunuh orang yang tidak disukainya dan kemudian mendirikan panti asuhan atau panti werda atau bahkan membagi-bagikan harta mereka di tepi jalan.

Sesungguhnya amal hanya dapat membantu menjadikan kehidupan ini tidak terlalu menyeramkan. Memang tidak dapat disangkal bahwa amal akan membuat seseorang kelihatan seperti orang baik, namun itu hanya pada aspek luar saja. Sebab ketika seseorang mengambil uang yang tidak menjadi haknya biasanya dilakukannya secara sembunyi-sembunyi. Tetapi giliran saat ia menyumbang kepada suatu korban bencana alam atau pada fakir miskin, pada umumnya dilakukan dengan terbuka atau bahkan mengundang wartawan agar diberitakan. Ketahuilah amal tidak dapat menghapuskan dosa, ia cuma membuat dosa kelihatan kurang jelas.

Jika sebuah gelas yang kita umpamakan sebagai kehidupan manusia itu kita isi cairan racun nyamuk baygon seperempat gelas, dan baygon itu kita umpamakan dosa, apakah dengan menambahkan air tawar yang kita umpamakan amal itu baygonnya akan hilang? Tidak mungkin! Air tawar itu hanya membuat racunnya agak tawar dan menjadi kurang jelas, namun tetap masih ada di dalam gelas. Demikian juga dengan kehidupan kita. Dapatkah dosa dihilangkan dengan menambahkan amal? Tidak mungkin! Itu hanya sekedar membuat kejahatan manusia menjadi kurang jelas, namun kejahatan yang pernah dibuatnya tetap masih ada. Cairan baygon masih tetap ada di dalam gelas, namun tidak terlihat jelas karena tercampur dengan air tawar. Jika gelas itu dibawa ke laboratorium, maka akan sangat gampang bagi seorang ahli kimia untuk memisahkan racun baygon itu dari air tawar.

Hal ini sama persis dengan keadaan manusia yang mencoba menyelesaikan masalah dosanya dengan amal. Kehidupannya dianggap baik oleh orang- orang di sekelilingnya karena telah dicampurkan dengan amalnya. Ia dapat membagikan hadiah dan pada momen-momen tertentu ikut aksi sosial. Pokoknya semua orang akan mengatakan bahwa ia benar-benar orang baik yang amalnya berlimpah-ruah. Namun tentu ia tidak dapat mengelabui Allah yang maha suci dan maha tahu. Betul, amalnya banyak, tetapi itu sama sekali tidak menghilangkan dosanya. Bahkan Allah tahu bagaimana cara ia mendapatkan uang yang telah memungkinkan ia melakukan action munafiknya.

Ada juga orang yang tidak bergiat berbuat amal namun ia yakin bahwa ia telah menghidupi kehidupan yang baik. Ia tidak membunuh, tidak merampok, tidak mencuri, oleh sebab itu ia yakin bahwa dirinya pasti akan masuk Surga. Orang demikian lupa bahwa yang menyebabkan manusia tidak masuk Surga itu bukan karena jumlah dosanya yang terlalu banyak, melainkan hanya karena ada dosa. Bukan karena banyak-sedikitnya tetapi karena ada-tidaknya. Ketika engkau disebut `orang berdosa’ maka engkau tidak diperbolehkan masuk Surga. Untuk menyandang nama itu tidak diperlukan dosa yang lebih banyak dari amal, melainkan satu dosa saja cukup untuk menyandang predikat ‘orang berdosa’.

Manusia masuk Neraka itu karena tidak bisa masuk Surga karena memang hanya ada dua tempat bagi manusia ketika ia meninggal dunia. Oleh sebab itu kalau ia tidak bisa kembali ke Surga menikmati kebahagiaan dan kemuliaan Allah, maka tidak ada tempat lain lagi selain Neraka. Alkitab memberitahukan kita bahwa sesungguhnya hanya ada dua kelompok manusia saja, yaitu yang mempedulikan Allah dan yang mengabaikan Allah, atau yang di luar Allah dan yang di dalam Allah.

Agar berada di dalam Allah tentu perlu didahului sikap mempedulikan Allah. Kepedulian terhadap Allah Pencipta akan menuntun seseorang menghargai jalan yang ditawarkanNya, apalagi jalan itu adalah jalan yang justru untuk menyelamatkan manusia. Bagaimana dengan anda?

Alkitab mengatakan bahwa setiap manusia yang telah berdosa itu harus mati dan kemudian akan dihakimi Allah. Tidak ada jalan lain bagi manusia kecuali mati dan menerima penghakiman (Ibrani 9:27).

Setelah pencuri ayam yang kita jadikan perumpamaan itu meringkuk di dalam penjara selama tiga bulan, kemudian tibalah hari yang dinanti-nantikannya yaitu tanggal 1 April. Pada hari itu ia akan dibebaskan. Dan pada saat ia dibebaskan ia bukan narapidana lagi karena ia telah menjalani penghukuman atas dosa yang dilakukannya.

Karena tidak ada jalan untuk membereskan dosa selain menjalani penghukuman yang telah ditetapkan, maka Allah yang Maha Suci, yang Maha Adil akan menjatuhkan penghukuman terhadap setiap manusia yang berdosa. Namun karena kasihNya yang amat besar, yang sama besar dengan sifat keadilanNya itu menuntutNya bertindak untuk melakukan sesuatu, maka Ia merencanakan jalan keselamatan yang tidak mungkin bertentangan dengan sifat kemaha-adilanNya dan kemahasucianNya. Ia merencanakan untuk menjadi manusia yang tidak berdosa untuk menerima hukuman yang telah ditentukan, bahkan turun ke Neraka.

Jauh sebelum apa yang direncanakan ini dilaksanakanNya, Ia memerintahkan manusia yang ingin diselamatkan untuk mempersembahkan korban, yaitu mengambil seekor domba, sambil memegang kepala domba itu dombanya disembelih. Maksudnya ialah dosa orang yang bersangkutan ditanggungkan ke atas domba itu. Hal ini diperintahkan demi mengajarkan konsep penghukuman terhadap dosa yang digantikan oleh domba. Domba itu hanya sekedar gambaran saja, ia tidak mungkin dapat menggantikan manusia menanggung dosa, karena apalah kehebatan domba sehingga ia layak menanggung dosa manusia?

Ayat 4 mengatakan: “Sebab tidak mungkin darah lembu jantan atau darah domba jantan menghapuskan dosa”. Janganlah ada orang menyangka bahwa dosanya dapat disucikan dengan mengorbankan seekor domba. Dan hendaknya setiap orang memahami bahwa semua itu hanya sekedar gambaran saja. Ketika Yohanes Pembaptis melihat Allah yang menjelma menjadi manusia, yaitu Yesus, yang sedang lewat di depannya berkatalah ia: “Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia”.

Yesus, yang digambarkan dengan domba pada zaman Musa adalah Juruselamat yang ditentukan Allah bagi setiap manusia di segala zaman, termasuk mereka yang hidup sebelum kelahiranNya karena setiap orang yang percaya kepada darah domba yang dipersembahkan, berarti ia telah percaya juga kepada Domba Allah yang dijanjikan walaupun masih dalam penggambaran. Dosanya telah ditanggung bukan oleh domba yang dipersembahkannya pada waktu itu, melainkan oleh Domba Allah yang sedang dijanjikan, yaitu Yesus Kristus yang akan datang.

“Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuatNya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah” (II Kor 5:21).

Jelas sekali bagi kita bahwa posisi domba dalam Perjanjian Lama (masa sebelum Yesus dilahirkan) yang menjadi pengganti orang berdosa menerima penghukuman itu hanya menggambarkan Yesus yang akan datang. Ketika Ia tergantung di atas kayu salib posisiNya adalah posisi manusia yang paling berdosa yang sedang memikul dosa seisi dunia. Itulah sebabnya Allah Bapa yang maha suci tidak bersamaNya, maka Ia berseru: “Eli, Eli, Lama Sabakhtani,” yang berarti:”AllahKu, AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Mat 27:46).

Yesus bukan tidak tahu mengapa Allah meninggalkanNya. Pertanyaan itu dipertanyakanNya agar kita tahu bahwa pada saat itu Ia menempati posisi orang yang paling berdosa sehingga Allah Bapa meninggalkanNya. Dosa yang ditanggungNya bukanlah dosa yang dilakukanNya, juga bukan hanya dosa umat pilihanNya, melainkan dosa seisi dunia (Ibr 2:9 I Yoh 2:2), termasuk dosa anda dan dosa saya.

Alkitab menyatakan kebenaran ini dengan jelas sekali yaitu bahwa Yesus diserahkan untuk menerima penghukuman karena pelanggaran manusia, dan dibangkitkan untuk membenarkan manusia yang percaya.

“….. Yesus, yang telah diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitkan karena pembenaran kita” (Roma 4:25).

Maksudnya, Ia telah dihukumkan untuk menggantikan manusia dan dibangkitkan serta menghadap Allah Bapa untuk menyatakan bahwa Ia telah menanggung hukuman yang dicanangkan bagi manusia. Orang yang telah percaya kepadaNya telah menjadi orang benar di hadapan Allah. Benar karena apa? Karena dosanya telah dibereskan melalui penghukuman yang telah diterima Yesus baginya.

Jadi, seseorang dibenarkan di hadapan Allah itu bukan karena ia hebat, melainkan karena ia percaya kepada Tuhan Yesus yang telah menggantikannya menerima penghukuman, dan yang pergi menghadap Allah Bapa untuk menyatakan bahwa ia tidak berdosa lagi, melainkan telah dikuduskanNya.

“….Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita” (I kor l:30)

Dosa manusia yang tidak mungkin diselesaikan dengan amal, pertapaan, rituil upacara agama, puasa dan lain sebagainya itu diselesaikan melalui percaya kepada Yesus Kristus. Karena ketika seseorang percaya, maka hal itu sama dengan menyerahkan semua dosanya kepada Yesus yang telah menjalani penghukuman atas dosa-dosa itu.

“Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan” (Roma 10:10).

Yang terpenting adalah percaya di dalam hati, karena tanpa dibenarkan terlebih dulu tidak mungkin seseorang bisa masuk Surga yang mulia. Walaupun ada orang yang telah mengaku sejuta kali, namun jika hatinya tidak percaya, maka ia tidak dapat masuk Surga karena ia belum dibenarkan. Ingat, Surga hanya dapat dimasuki oleh orang-orang benar saja.

Jalan menuju ke Surga yang telah diselesaikan Tuhan Yesus itu benar- benar telah selesai, karena sebelum Ia menyerahkan nyawaNya, Ia berseru; “Sudah selesai” (Yoh 19: 30). Artinya, tidak perlu ditambah dengan berbuat baik atau dengan hal-hal lain lagi karena sudah selesai! Jangan ada orang yang berpikir bahwa selain percaya kepada Tuhan Yesus ia perlu rajin berbuat baik agar dapat masuk Surga. Orang yang berpikir demikian itu pasti karena terpengaruh oleh berbagai pengajaran yang salah.

Memang benar bahwa orang kristen diperintahkan untuk berbuat baik, tetapi bukan untuk mendapatkan keselamatan, melainkan untuk membuktikan diri sebagai orang yang telah mengenal Allah. Tidak ada manusia yang boleh menjadikan hasil perbuatan baiknya sebagai alasan untuk masuk Surga karena karya keselamatan itu telah diselesaikan Tuhan Yesus. Jalan keselamatan yang Allah sediakan itu sifatnya murni KASIH KARUNIA atau ANUGERAH, sama sekali tidak memerlukan andil dari pihak manusia. Kalau ada andil dari pihak manusia, walaupun 0,00000001 persen, maka itu sudah berarti bukan lagi murni KASIH KARUNIA, melainkan ada andil dari pihak manusia, dan manusia dapat membanggakannya walaupun hanya yang sedikit itu.

“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri (Ef 2:8-9)”.

Orang kristen diperintahkan untuk berbuat baik karena setelah ia diselamatkan, ia menyandang predikat baru yaitu anak-anak Allah, orang kudus, orang benar, warga negara Surga dll. Predikat itulah yang mendorongnya untuk hidup kudus, hidup benar, yaitu untuk menjaga nama baik Bapanya yang di Surga, dan otomatis juga nama bapa jasmaninya.

Kematian Tuhan Yesus di atas kayu salib itu untuk menanggung dosa yang terbesar, yaitu dosa isi dunia (I Yoh 2:2). Artinya hukuman yang ditanggungNya adalah hukuman yang diperuntukan bagi seluruh manusia berdosa yang pernah dilahirkan. Hal ini juga berarti bahwa seluruh dosa kita, yaitu dosa kita yang lampau, yang sekarang, bahkan yang akan datang telah ditanggungNya. Ia telah menanggung dosa semua manusia.

Yang perlu dilakukan oleh manusia hanyalah mengakui keadaannya yang berdosa dan tidak berpengharapan serta menerima anugerah yang telah disediakanNya.

Sekalipun Ia telah menanggung dosa semua manusia, itu tidak berarti orang yang memusuhiNya dan yang menolakNya akan mendapat implementasinya. Alkitab memberitahukan kita bahwa orang yang tidak akan dihukumkan lagi itu adalah orang yang ada di dalam Yesus Kristus (Rom 8:1, Wah 14:13). Berarti orang yang berada di luar Dia tetap akan dihukum. Memang anugerah keselamatan telah tersedia bagi mereka dan bagi semua orang. Mereka hanya perlu melangkah masuk ke dalam anugerah Allah, yaitu dengan mengakui kondisi mereka dan menerimaNya sebagai Juruselamat pribadi mereka.

Proses pengakuan kondisi mereka yang berdosa dan penyambutan terhadap Sang Juruselamat itu dapat dikatakan sebagai proses transaksi dosa dan keselamatan. Orang berdosa mengaku dan menyerahkan dosa mereka kepada Kristus, kemudian Kristus menyerahkan kepada mereka keselamatan yang mereka sangat perlukan. Sejak saat itu seluruh dosa mereka telah tertanggung ke atas Dia. Ingat, seluruh adalah benar-benar seluruh bukan separuh. Seluruh dosa orang yang percaya kepadaNya, yaitu mulai dari sifat dosa yang diwariskan Adam, sampai dosa yang terakhir yang belum dibuatnya telah ditanggung Yesus Kristus di kayu salib. Jadi, sesungguhnya hanya melalui percaya kepada Tuhan Yesus maka jaminan keselamatan itu sudah pasti bagi kita.

Tindakan menambahkan seseorang atau sesuatu sebagai obyek iman tambahan misalnya Maria, Budha, Kong Fu Tsu dan lain sebagainya adalah suatu penghinaan terhadap Tuhan Yesus karena hal itu merupakan sebuah pernyataan bahwa kematian Tuhan Yesus belum cukup untuk menyelesaikan dosanya.

Mereka mengajarkan kalau seseorang telah percaya namun belum dibaptiskan maka ia tidak dapat masuk Surga. Jadi, bagi mereka baptisan itu sangat menentukan kepastian seseorang untuk masuk Surga. Padahal jelas sekali penjahat yang disalibkan di sebelah Tuhan Yesus yang percaya kepadaNya namun tidak dibaptis itu ternyata dinyatakan Tuhan Yesus sendiri bahwa ia masuk Surga.

Ada begitu banyak agama dan pengajaran di dunia ini yang mengajarkan bahwa untuk masuk Surga diperlukan usaha atau andil dari pihak manusia, sehingga hal ini mempengaruhi sebagian orang Kristen yang kurang memahami kebenaran Alkitab. Siapa saja yang menambahkan apa saja untuk masuk Surga selain hanya bertobat dan percaya kepada Tuhan Yesus itu berarti menghina KASIH KARUNIA yang disediakan Allah melalui Tuhan Yesus.

Kalau ada orang yang sedang sakit keras di rumah sakit mau bertobat dan percaya Tuhan, perlukah ia terburu-buru dibaptiskan? Kalau ia telah bersungguh-sungguh hati bertobat dan percaya kepada Tuhan Yesus, maka tanpa dibaptis pun ia pasti masuk Surga (Rom 3:21-25, 5:1-11, 8:1 dan 10:10 Ef 1:13, 2:8-9).

Namun ada banyak simpatisan kekristenan yang belum mengerti, yang kadang-kadang beranggapan bahwa seseorang itu benar-benar jadi kristen pada saat ia dibaptis. Hal itu terlihat jelas dari jumlah orang yang sedang sakit yang meminta agar ia segera dibaptis. Anggapan mereka kalau mereka dibaptiskan maka resmilah mereka sebagai orang Kristen. Padahal seseorang itu resmi mendapatkan keselamatan atau menjadi Kristen itu bukan pada saat ia dibaptis, melainkan pada saat ia mengakui dirinya orang berdosa dan menyambut Yesus ke dalam hatinya sebagai Juruselamat.

Orang yang sedang sekarat sangat ingin tahu, apakah ada keselamatan bagi orang yang tidak dapat berbuat amal dan tidak dapat bertapa? Ia sedang sekarat, ia tidak dapat berbuat amal, juga tidak dapat pergi bertapa lagi, yang sangat dibutuhkannya ialah kabar baik bahwa Yesus telah menanggung semua dosanya di kayu salib.

Bertobat dan menyambut Yesus Kristus sebagai Juruselamatnya adalah hal terutama di saat yang sangat kritis itu. Ia sangat membutuhkan kepastian keselamatan. Ia perlu tahu bahwa Kristus telah mati di kayu salib untuk menanggung semua dosanya. Setelah ia mendengar kabar baik itu selanjutnya adalah tanggung jawabnya, apakah ia akan menyambut berita itu dan mengucap syukur kepada Tuhan Yesus yang rela menanggung dosanya atau sebaliknya yaitu menolakNya. Tentu kita mengharapkan ia akan menerimaNya, bahkan bukan hanya dia, melainkan semua manusia bisa menerima Yesus, Juruselamat mereka, tentu termasuk anda.

Resapilah di dalam hatimu dan katakanlah dengan mulutmu kalimat-kalimat berikut: “Saya menyadari bahwa saya seorang berdosa yang seharusnya menerima penghukuman. Namun Allah sangat mengasihi saya sehingga Ia mengutus Yesus Kristus untuk menerima hukuman itu dengan mati di kayu Salib dan turun ke dalam alam maut untuk menggantikan saya. Pada hari ketiga, Ia telah dibangkitkan serta menghadap Allah untuk mengatakan kepadaNya bahwa Ia telah menanggung semua dosa saya. Sekarang saya percaya kepadaNya, bahkan berhutang kepadaNya. Oleh sebab itu saya sangat bersyukur kepadaNya, bahkan akan bersyukur terus kepadaNya dalam sepanjang hidup saya. Tuhan Yesus, Engkaulah Juruselamat saya”.

Setiap manusia yang sudah bisa berbicara akan sanggup mengucapkan kalimat di atas. Namun apakah ucapan itu hanya sekedar di mulut saja atau betul-betul keluar dari dalam hati itu hanya dirinya dan Allah saja yang tahu. Bahkan bisa terjadi kadang-kadang ada orang yang meragukan keseriusan diri sendiri. Oleh sebab itu sepatutnya setiap orang bertanya, “apakah saya sudah sungguh-sungguh diselamatkan?

Bukti seseorang telah memiliki jaminan kepastian masuk Surga, atau telah dilahirkan kembali di dalam Kristus Yesus, atau telah sungguh-sungguh dengan sepenuh hati percaya kepada Tuhan Yesus adalah adanya ucapan syukur yang dinyatakan dalam kata-kata maupun dalam kehidupan. Ucapan syukur yang tulus itu adalah reaksi dari rasa tertolong atau reaksi dari menerima sesuatu.

Rasa syukur akan muncul di hati orang yang menyadari akan posisi asalnya serta menyadari tentang kebinasaan yang akan dihadapinya seandainya ia tidak memperoleh Kasih Karunia yang Allah sediakan melalui Tuhan Yesus Kristus. Orang yang tidak menyadari posisi serta kemalangan yang akan dituainya tidak akan menerima pertolongan Tuhan Yesus, apalagi mengucap syukur kepadaNya. Kalau hanya menyadari posisi serta kemalangan yang akan dihadapi, namun belum menerima pertolongan Tuhan Yesus, orang demikian pun tidak bisa bersyukur, karena syukur atas apakah yang dapat diucapkan oleh seorang yang belum tertolong?

Kapankah seseorang mengucapkan terima kasih kepada orang lain? Umumnya ialah pada saat orang tersebut menerima sesuatu dari orang lain, entah itu sebuah hadiah, entah itu bantuan atau pertolongan. Kadar rasa syukur seseorang sangat tergantung pada nilai hadiah atau pertolongan yang diterimanya. Kalau hadiah yang diterimanya hanya sebuah pen yang harganya tidak mahal atau ditolong menyeberang jalan saja, tentu hal itu tidak sampai mempengaruhi seluruh kehidupannya. Namun jika hadiah yang diterima adalah sesuatu yang sangat bernilai, atau pertolongan yang diterimanya adalah yang menyangkut keselamatan nyawa, maka rasa syukur akan terus bertumbuh dalam hati sang penerima. Rasa syukur yang timbul atas penghayatan terhadap pertolongan yang telah diterima itu harus bersifat otomatis jangan seperti diprogramkan atau perlu dihimbau-himbau.Ucapan syukur akan terus mengalir di dalam hidup seseorang yang telah mengenal siapa dirinya serta yang merasa mendapat pertolongan keselamatan dari Tuhan

Yesus.Datang ke gereja untuk berbakti, memuji nama Tuhan dengan pujian yang merdu dari mulut dan hati, mendengarkan khotbah dari Alkitab serta mempelajarinya adalah kesukaan orang yang telah dilahirbarukan di dalam Kristus Yesus. Semua itu akan diusahakan dan disenangi dengan tidak perlu didorong, dihimbau dan lain sebagainya.

Semakin seseorang merasa tertolong serta merasa pertolongan itu sangat berarti, maka semakin mengucap syukurlah ia.

Mungkinkah seseorang yang telah menyadari bahwa upah dosa yang harus diterimanya itu telah ditanggung oleh Tuhan Yesus di kayu Salib akan dapat tetap tinggal di dalam dosa itu tanpa merasa bersalah kepada Juruselamat yang telah menderita bagi dosa itu? Kalau memang ada rasa syukur, maka berarti telah menyadari tentang dosa serta kebenaran dan juga telah mengerti tentang penghakiman. Rasa syukur itu akan mendorong seseorang untuk berbuat sesuatu bagi Pribadi yang memberi rasa syukur, yaitu Tuhan yang telah berkorban untuk menanggung dosanya.

Tetapi jatuh ke dalam dosa itu bukan hidup di dalam dosa! Ini harus dapat dibedakan. Hidup di dalam dosa itu berarti selalu berdosa, tidak merasa bersalah kepada siapapun dan tidak berusaha keluar dari dosa itu. Sedangkan jatuh ke dalam dosa ialah tanpa sengaja melakukan dosa serta merasa sangat bersalah, sedih, dan malu terhadap Tuhan dan diri sendiri, serta berusaha menjauhinya dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi.

Bagaimana dengan dosa yang dilakukan seseorang setelah dilahirbarukan? Di bagian depan telah kita bahas bahwa pada saat seseorang bertobat dan percaya kepada Tuhan Yesus, maka semua dosa, yaitu dosa dari dalam kandungan hingga dosa terakhir menjelang kematiannya itu telah tertanggung oleh Tuhan Yesus di kayu Salib. Berarti dosa yang dilakukannya sesudah kelahiran barunya juga sudah tertanggung oleh Tuhan Yesus di kayu Salib.

Terhadap dosa yang dilakukan oleh orang yang telah lahir baru, firman Tuhan memerintahkan agar ia mengakuinya di hadapan Tuhan, bukan di hadapan manusia. Adapun maksud Tuhan memerintahkan kita mengakui setiap dosa yang kita perbuat (1 Yoh 1:8-9) adalah agar kita malu pada diri kita sendiri dan juga pada Tuhan yang telah menanggung dosa itu di kayu Salib.

Akhirnya, menghidupi kehidupan yang selalu mengucap syukur atas dosa yang telah diampuni sambil mengingat akan kematian Tuhan Yesus di kayu salib karena menggantikan kita menerima penghukuman itu adalah kehidupan orang yang telah diselamatkan, yaitu yang telah memiliki kepastian masuk Surga.

Setelah saya bertobat dan percaya dengan segenap hati kepada Tuhan Yesus, maka kapan saja saya mati saya pasti akan masuk Surga karena semua dosa saya telah dijatuhi hukuman, dan hukuman itu telah ditanggung Yesus ketika Ia dihukum di kayu salib. Sesungguhnya dosa anda juga telah ditanggungNya (I Yoh 2:2). Oleh sebab itu anda juga akan mendapatkan kepastian masuk Surga jika anda bertobat dan percaya kepadaNya dengan segenap hati anda.

Oleh : Dr. Suhento Liauw.

Rektor : Sekolah Tinggi Theologia GRAPHE

Gembala : Gereja Baptis Independen Alkitabiah GRAPHE

Kategori:KESELAMATAN
  1. mei
    4 Agustus 2011 pukul 4:37 PM

    Ehmmm saya setuju bngt dgn awal artikel ini kalo dosa/karma buruk *istilah dlm agama saya* tdk dpt di hapus dgn perbuatan baik or yg lain. Nah tp knp pas di akhir artikel ini malah bertentangan dgn awalnya dgn mengatakan dosa dpt dgn hanya percaya pd yesus ? *binggung deh gw*

    Hanya dgn percaya dan yakin saja sudah bs menghapus dosa kita bahkan dosa yg blm kt perbuat jg udah di hapus. . . WOW. . . it’s just that simple ? Ini bhkan lbh mudah dr pd umat agama lain

  2. 5 Agustus 2011 pukul 6:00 AM

    Karena semua Manusia SUDAH BERDOSA di hadapan Tuhan, sehingga apapun yang dilakukan manusia untuk menebus DOSA, tidak akan BISA karena Manusia semuanya sudah BERDOSA… Haruslah ada PENEBUSAN DOSA oleh orang YANG TIDA PERNAH BERDOSA, baru diterima Tuhan. Nah karena semua manusia sudah berdosa, maka Tuhan berinisiatif untuk datang ke dalam Dunia menjadi JURUSELAMAT PENEBUS DOSA dengan Inkarnasi jadi seorang Anak Manusia yang Tanpa Dosa, lahir dari Perawan Maria, bukan lewat hubungan suami istri. YESUS layak menjadi PENEBUS DOSA, karena Dia tidak BERDOSA. Manusia lain tidak mungkin, karena semuanya sudah berdosa.

    Yoh 3:16 Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

    Manusia Berdosa HARUS mengimani Penebusan yg dilakukan YESUS di Kayu Salib menanggung Dosa seluruh umat Manusia, baru Bisa DIPERDAMAIKAN dengan Tuhan dan Layak Masuk Surga. Barangsiapa yang menolak Hal ini, Dirinya akan menanggung Dosanya sendiri dan berakhir ke api kekal/Neraka. Karena Perbuatan Baiknya TIDAK MUNGKIN bisa menebus STATUS dirinya yang TELAH BERDOSA. Sehingga:

    Tit 3:3 Karena dahulu kita juga hidup dalam kejahilan: tidak taat, sesat, menjadi hamba berbagai-bagai nafsu dan keinginan, hidup dalam kejahatan dan kedengkian, keji, saling membenci.
    Tetapi ketika nyata kemurahan Allah, Juruselamat kita, dan kasih-Nya kepada manusia, pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus, yang sudah dilimpahkan-Nya kepada kita oleh Yesus Kristus, Juruselamat kita, supaya kita, sebagai orang yang dibenarkan oleh kasih karunia-Nya, berhak menerima hidup yang kekal, sesuai dengan pengharapan kita. Perkataan ini benar dan aku mau supaya engkau dengan yakin menguatkannya, agar mereka yang sudah percaya kepada Allah sungguh-sungguh berusaha melakukan pekerjaan yang baik. Itulah yang baik dan berguna bagi manusia. (Titus 3:4-8)

  3. Mei
    5 Agustus 2011 pukul 6:17 AM

    Manusia siapa yang ciptakan ? Tuhan kan katanya ? kalau emang Tuhan kenapa tidak menciptakan manusia yang TANPA DOSA ? Kenapa harus menciptakan manusia BERDOSA ?
    Bagaimana anda tahu seseorang berdosa or tidak? anda toh bukan Tuhan kan ? anda toh bukan orang yang bisa melihat beban dosa or kebaikan yang di miliki setiap orang, dan begitu juga orang orang yang menulis buku suci tersebut jadi tolong jangan bilang ada kutipan di buku suci anda lagi……

    Kembali lagi saya tekan kan disini ….. HANYA dengan PERCAYA dan YAKIN terhadap seseorang or sesuatu ajaran tertentu TIDAK akan membuat anda terbebas dari yang namanya DOSA yang telah diperbuat, Karna DOSA TIDAK dapat di hapuskan …….

    Satu kutipan dari Bhante ^_^

    “Anda telah melakukan Kamma buruk dengan memutar balikkan fakta yang ada dimana yang merupakan Dhamma anda katakan bukan Dhamma, dan yang bukan Dhamma anda katakan Dhamma”

    Cuma sharing aja kok itu ^_^

  4. 16 Oktober 2011 pukul 4:30 AM

    ini namanya sudah sombong bro…

  5. 26 September 2013 pukul 7:16 AM

    Baca artikel diblog ini jd ketawa.wkwkwkwkwkkk……….memangnya anda mahluk hebat apa.sehingga tuhan harus berkorban utk manusia & menyiapkan surga utk kalian.dasar goblok.surga yg anda maksud cuma angan angan belaka.biktikan kalau anda adalah org yg benar

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: