Beranda > AKHIR ZAMAN, BERITA > Berita Mingguan GITS 19 Maret 2011

Berita Mingguan GITS 19 Maret 2011


Gempa Bumi di Berbagai Tempat
Salah satu bukti yang tidak terbantahkan bahwa Alkitab adalah sebagaimana yang Alkitab sendiri klaim, yaitu Firman Allah yang diilhami secara ilahi, adalah nubuat yang tergenapi. Dua ribu tahun yang lalu Tuhan Yesus Kristus memberikan banyak nubuat yang mendetil tentang masa depan. Salah satu nubuat itu adalah kehancuran Bait Yerusalem, yang digenapi 40 tahun kemudian pada tahun A.D. 70 oleh Legiun Kesepuluh Romawi di bawah Jenderal Titus. Yesus menubuatkan bahwa “tidak satu batupun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain, semuanya akan diruntuhkan” (Markus 13:2). Sebagian batu yang dibongkar dan dilemparkan dari Bait tersebut baru-baru ini ditemukan di sepanjang Tembok Barat, di mana mereka dapat dilihat hari ini sebagai saksi bisu bahwa Yesus mengetahui masa depan. Dalam nubuat yang lain, Yesus mengatakan bahwa salah satu tanda akhir zaman adalah adanya “gempa bumi di berbagai tempat” (Matius 24:7). Penggenapan yang paling mutakhir akan nubuat ini adalah gempa bumi yang meluluhkan Jepang utara minggu lalu dan melumpuhkan raksasa ekonomi ini hanya dalam beberapa saat saja. Ribuan orang mati; sebuah kota pelabuhan modern tersapu ke laut; empat reaktor nuklir rusak, dan satu telah meledak. Negara itu bahkan telah melakukan pemadaman bergilir untuk menghemat energi. Sistem kereta apinya yang hebat berhenti total. Para pemimpinnya telah menyatakan bahwa mereka menghadapi krisis yang paling parah sejak Perang Dunia II. Gempa Jepang hanyalah yang paling terakhir dari serangkaian “gempa bumi di berbagai tempat.” Sekitar 40.000 mati di Asia Selatan pada bulan Oktober 2005; 220.000 di Indonesia tahun 2004; 31.000 di Iran pada tahun 2003; 13.000 di India bulan Januari 2001; 17.000 di Turki barat pada Agustus 1999; 10.000 di Latur, India pada September 1993; 50.000 di Iran utara pada Juni 1990. Menurut nubuat Alkitab, semua ini hanyalah cicipan dari apa yang akan datang. Satu gempa bumi di masa yang akan datang akan menyebabkan semua pulau tenggelam dan gunung-gunung jatuh (Wahyu 16:18-21). Kabar baiknya adalah bahwa tidak ada satu orangpun yang hidup saat ini yang harus merasakan semua penghakiman masa depan yang menakutkan itu. Kita masih hidup di zaman “ kesukaan besar untuk seluruh bangsa” (Lukas 2:10), yaitu Injil bahwa Yesus mati bagi dosa-dosa kita, dikuburkan, dan bangkit lagi pada hari ketiga untuk memberikan keselamatan kekal bagi siapapun yang bertobat dan percaya kepadaNya sebagai Tuhan dan Juruselamat. Alkitab mengatakan Allah tidak berkenan kepada kematian orang fasik (Yeh. 33:11). Adalah kehendakNya yang rahmani, bahwa semua orang diselamatkan (1 Tim. 2:3-4; 2 Pet. 3:9).

Injili dan Mormon Bersama
Pemimpin-pemimpin Injili yang “prominen” bertemu dengan orang-orang Mormon di Salt Lake City dalam sebuah “dialog” untuk mencari saling pengertian yang lebih mendalam. Para Injili yang terlibat antara lain adalah Leith Anderson, presiden dari National Association of Evangelicals; Richard Mouw, presiden dari Fuller Seminary; dan David Neff, editor utama dari Christianity Today. Anderson mengatakan, “Kami berharap waktu dialog dengan pemimpin-pemimpin LSD (Latter Day Saints, nama yang dipakai oleh Mormon bagi diri mereka sendiri) ini akan memperdalam pengertian kami akan iman Mormon dan bersumbangsih kepada karya para Injili di Utah” (“Evangelicals, Mormon,” Christian Post, 10 Maret, 2011). Ini adalah kelanjutan dari apa yang dimulai beberapa tahun yang lalu. Pada bulan November 2004, sebuah acara “Evening of Friendship” di Mormon Tabernacle di Salt Lake menampilkan beberapa tokoh Injlli yang mencari pemahaman dan hubungan yang lebih baik dengan Mormon. Ravi Zacharias, pembicara utama, ditemani oleh Richard Mouw, Craig Hazen (profesor di Biola), Joseph Tkach, J., kepala dari World Wide Church of God, dan musisi CCM Michael Card. Dalam acara Deseret Morning News, Card dikutip mengatakan bahwa “dia tidak melihat Mormonism dan kekristenan Injili bertentangan satu sama lain; mereka lebih seperti dua ujung dari satu benang yang panjang – bagian dari barang yang sama.” Menggumamkan filosofi CCM yang ekumenis dia mengatakan, “Semakin saya bertambah usia, saya rasa saya lebih ingin menintegrasikan segala sesuatu. Saya pikir lebih penting untuk setia daripada benar” (16 Nov. 2004). Acara tahun 2004 itu dan dialog yang baru-baru ini semua disponsori oleh Standing Together Ministries, yang dibentuk tahun 2001 oleh pengkhotbah “injili” Greg Johnson, yang telah melakukan “dialog-dialog” dengan profesor Mormon Robert Millet. Johnson adalah seorang ekumenis radikal. Website dia mengatakan, “Kami menegaskan bahwa ada satu Gereja di Utah yang bertemu di berbagai lokasi,” dan “Persatuan yang tak pernah ada sebelumnya akan menghasilkan gereja-gereja lokal yang lebih sehat dan mengubah ribuan hidup.” “Fokus pelayanan” yang paling pertama didaftarkan adalah “Mempersatukan tubuh.” Johnson sangatlah instrumental dalam usaha membuat Craig Blomberg dari Denver Seminary dan Steve Robinson dari Brigham Young University (Universitas utama Mormon) untuk “dialog” bersama dan menghasilkan sebuah buku berjudul How Wide the Divide (Seberapa Lebar Perbedaan), yang mengambil kesimpulan bahwa perbedaan antara Mormon dan orang Kristen percaya Alkitab tidaklah selebar yang selama ini dibayangkan. Kita bertanya-tanya, apanya mengenai Mormonisme dan injil palsunya dan kristus palsunya yang tidak dimengerti oleh para Injili ini. Kita juga bingung mengapa mereka berdialog dengan penyesat padahal Alkitab menegaskan bahwa kita harus menandai mereka dan menjauhi mereka, dan menolak mereka (Roma 16:17-18; 2 Timotius 3:5; Titus 3:10-11). Rasul Paulus bukan seorang yang banyak berdialog. Dia menyebut para pengajar palsu sebagai “anjing-anjing” dan “pekerja-pekerja yang jahat” (Filipi 3:2). Mengenai mereka yang membelokkan Injil, dia mengatakan, “Terkutuklah dia” (Galatia 1:8, 9). “Ia menyebut mereka “orang jahat dan penipu” (2 Tim. 3:13), “bobrok dan tidak tahan uji” (2 Tim. 3:8), “rasul-rasul palsu, pekerja-pekerja curang” (2 Kor. 11:13). Hati-hatilah terhadap “Injili” modern.
EDITOR: Mormonisme adalah bidat yang dimulai oleh Joseph Smith. Joseph Smith mengatakan bahwa dia menerima wahyu tambahan dalam bentuk lempengan-lempengan emas dari seorang malaikat bernama Moroni. Tidak ada orang yang diperbolehkan melihat lempengan emas ini, dan isinya dituangkan oleh Joseph Smith dalam Kitab Mormon. Ini semua terjadi sekitar tahun 1820-30an. Mormon mengajarkan banyak kesesatan, antara lain poligami, dan bahwa manusia pada akhirnya akan menjadi Allah. Berdialog dengan Mormon untuk “saling memahami” adalah suatu kesalahan dan kompromi.

Editor: Dr. Steven E. Liauw
Graphe International Theological Seminary (www.graphe-ministry.org)
(Didistribusikan dengan gratis, dengan mencantumkan informasi sumber di atas)
Untuk berlangganan, pilih opsi “Join Group” di: http://groups.yahoo.com/group/gits_buletin/ dan ikuti petunjuk selanjutnya di layar  komputer

Kategori:AKHIR ZAMAN, BERITA
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: