Beranda > BERITA > Berita Mingguan 26 Maret 2011

Berita Mingguan 26 Maret 2011


SERANGAN BARU ROB BELL TERHADAP NERAKA
Buku baru Rob Bell yang berjudul Love Wins telah menimbulkan kontroversi besar, yang cukup membingungkan. Orang tersebut telah menyangkal adanya suatu neraka yang berapi-api kekal dan mengajarkan iman universalism (bahwa semua orang pada akhirnya akan masuk Surga) sejak lama. Dalam suatu wawancara tahun 2005 dengan Beliefnet, Bell mengatakan “gereja harus berhenti melihat semua orang dalam kategori masuk atau keluar, selamat atau tidak selamat, orang percaya atau orang bukan percaya.” Dalam bukunya yang berpengaruh, Velvet Elvis, yang populer di kalangan Southern Baptist, dia menggambarkan suatu pernikahan yang dia laksanakan bagi dua orang yang tidak percaya yang memberitahu dia bahwa “mereka tidak mau Yesus atau Allah atau Alkitab atau agama dibicarakan” tetapi mereka mau dia membuat pernikahan itu “serohani mungkin” (hal. 76). Bell setuju dengan permintaan yang sangat konyol ini dan mengatakan bahwa teman-teman kafirnya itu “bergema dengan Yesus, entah mereka mau mengakuinya atau tidak” (hal 92). Buku Bell yang paling baru, Love Wins, meneruskan hal-hal yang sama. Bukan hanya dia mengajarkan hampir-universalisme (dia menyangkal mengajarkan universalisme, tetapi pada kenyataannya memang demikian), ia memberitakan allah palsu, kristus palsu, injil palsu, surga palsu, dan neraka yang palsu. Ia sangat ahli dalam hal mengutip Alkitab di luar konteks dan memasukkan kesesatan-kesesatannya ke dalam teks. Walaupun Bell menyangkal dia percaya universalisme, dengan jelas dia mendukung hal itu dalam buku ini, walaupun dia bisa saja menyisakan ruang bagi orang-orang tertentu untuk masuk ke semacam neraka untuk sementara waktu. Perhatikan dua dari sekian banyak kutipan sebagai bukti: “Penekanan bahwa Allah akan bersatu dan berdamai dengan semua manusia adalah suatu tema yang para penulis dan para nabi ulangi terus menerus . . . Allah yang Yesus ajarkan tidak pernah menyerah hingga segala sesuatu yang terhilang telah ditemukan. Allah ini tidak pernah menyerah. Tidak pernah” (Love Wins, Kindle location 1259-1287). “Kasih Allah akan melumerkan semua hati yang keras, dan bahkan ‘orang berdosa yang paling parah’ sekalipun pada akhinrya akan menyerah dalam perlawanan mereka dan kembali kepada Allah. Dan demikianlah, mulai dari gereja awal, ada tradisi Kristen yang sejak kuno bahwa Allah pada akhirnya akan merestorasi segala sesuatu dan semua orang” (Love Wins, location 1339-1365) Bell bahkan mengklaim bahwa Sodom dan Gomora akan direstorasi (location 1057-1071, 1071-1082). Bell hanya punya olok-olok bagi berita Injil bahwa Yesus mati bagi dosa-dosa manusia dan bahwa mereka yang bertobat dan percaya (dan hanya mereka yang bertobat dan percaya) akan diselamatkan. Sebagaimana gaya kebanyakan penyesat, Bell meredefinisi ulang istilah-istilah Alkitab. Ia mendefinisikan baik surga maupun neraka sebagai realita di bumi ini. Ia mengatakan bahwa pernyataan-pernyataan dalam Alkitab mengenai neraka sebagai tempat api dan penyiksaan hanyalah puisi.

ALLAH BARU ROB BELL
Dalam buku barunya, Love Wins, Rob Bell bukan hanya menolak doktrin Alkitab mengenai neraka; dia menolak Allah dalam Alkitab dan dalam aksinya itu ia menolak Allah yang disembah oleh kakek neneknya. Allah-nya Bell bukanlah Pemberi Hukum yang kudus, kudus, kudus, yang membenci dosa. Dalam buku Love Wins, ada foto akan sebuah lukisan yang tergantung di rumah nenek Bell. Lukisan itu menggambarkan surga sebagai suatu kota yang bersinar-sinar di ujung jauh dari sebuah jurang yang gelap dan membara. Membentangi jurang itu adalah sebuah salib di atas mana orang-orang dapat berjalan menuju selamat. Bell mengklaim bahwa Allah yang digambarkan oleh lukisan ini tidaklah agung atau berkuasa (Love Wins, location 1189-1229). Ia menyebut tindakan pemberitaan neraka yang kekal sebagai sesuatu yang “salah dan beracun,” suatu “pandangan murahan tentang Allah,” dan “mematikan” (location 47-60, 2154-2180). Ia mengimplikasikan bahwa Allah seperti ini bukanlah teman sejati dan pelindung; ia mengatakan bahwa ada yang salah dengan Allah semacam ini dan menyebutNya “menakutkan dan membuat trauma dan menyebalkan” (location 1273-1287, 2098-2113). Dia bahkan mengatakan bahwa jika seorang ayah di bumi berlaku seperti Allah yang mengirim orang ke neraka, “kita akan menelpon petugas sosial sesegera mungkin” (location 2085-2098). Jelas sekali bahwa Bell sama sekali tidak mau berurusan dengan Allah yang disembah oleh nenek moyangnya. Allahnya Bell lebih mirip allah New Age yang panentheistik daripada Allah Alkitab. Ia menggambarkan Allah sebagai “suatu kuasa, suatu energi, suatu pribadi yang memanggil kita dalam berbagai bahasa, menggunakan berbagai cara dan tindakan” (Love Wins, location 1710-1724). Bell juga menyembah suatu kristus yang palsu. Yesus dia adalah “di atas budaya … hadir dalam semua budaya … menolak untuk dimiliki oleh budaya manapun … Dia bahkan tidak pernah menyatakan bahwa mereka yang datang kepada Bapa melalui Dia akan tahu bahwa mereka hanya bisa datang melalui Dia … hanya ada satu gunung, tetapi banyak jalan. …Orang datang kepada Yesus melalui berbagai jalan … Kadang-kadang orang memakai namaNya; di saat lain mereka tidak memakai namaNya” (Love Wins, location 1827-1840, 1865-1878, 1918-1933).

BAGAIMANA DENGAN MEREKA YANG TIDAK PERCAYA YESUS SECARA PRIBADI?
Apakah semua orang yang tidak beriman kepada Kristus akan masuk neraka, apa itu neraka, dan apakah penghakiman itu kekal sifatnya, adalah topik-topik yang penting dalam pemberitaan Injil. Apakah Allah “menyelamatkan sebagian orang yang tidak pernah beriman kepada Yesus Kristus?” Alkitab mengatakan sama sekali tidak! Efesus pasal dua memberitahu kita tentang kondisi setiap individu di luar iman yang menyelamatkan dalam Kristus Yesus. Dia mati dalam pelanggaran dan dosa (ay. 1), dikuasai dan hidup menurut kuasa Setan (ay. 2), orang durhaka (ay. 2), menuruti hawa nafsu daging (ay. 3), pada dasarnya orang yang harus dimurkai (ay. 3), tanpa Kristus (ay. 12), tidak mendapat bagian dalam janji Allah (ay. 12), TANPA PENGHARAPAN (ay. 12), TANPA ALLAH DI DALAM DUNIA (ay. 12), jauh dari Allah (ay. 13). Alkitab sama sekali tidak memberikan pengharapan bagi mereka yang mati tanpa iman pribadi kepada Kristus. Tuhan Yesus Kristus telah menuntaskan masalah ini sebelum kitab Efesus ditulis. Dalam percakapanNya dengan Nikodemus, Kristus mengatakan dengan tegas, “Yesus menjawab, kata-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah” (Yoh. 3:3). Nikodemus adalah seorang Yahudi yang sangat beragama dan tulus, dan jikalau ada tipe orang yang bisa ke Surga tanpa lahir kembali, mestinya itu adalah orang seperti dia. Yesus Kristus mengatakan bahwa itu tidak akan terjadi. Dalam percakapan yang sama Yesus mengatakan, “Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia TELAH BERADA DI BAWAH HUKUMAN, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah” (Yoh. 3:18), dan “Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya” (Yoh. 3:36). Puji Tuhan untuk keselamatan penuh yang dibeli oleh darah Yesus Kristus bagi semua yang mau berseru kepadaNya dalam pertobatan dan iman. Allah ADALAH BAIK; Dia membayar harga penuh keselamatan dengan diriNya sendiri. Kita berdosa, tetapi Allah menderita menggantikan kita. Tidak ada tuduhan ketidakbenaran yang dapat dilontarkan kepada Allah. Marilah kita yang mengenal Tuhan tidak bersalah dalam hal malas memberitakan Injil ke segala penjuru bumi.

PRESIDEN FULLER SEMINARY MEMUJI BUKU ROB BELL
Richard Mouw, Presiden dari Fuller Theological Seminary, memberitahu USA Today bahwa “buku baru Rob Bell, Love Wins, adalah buku yang bagus dan bahwa saya pada dasarnya setuju dengan theologinya” (“The Orthodoxy of Rob Bell,” Christian Post, 20 Maret 2011). Ini memberitahu kita betapa jauhnya Fuller Seminary telah meninggalkan akarnya yaitu pelayanan penginjilan “hanya melalui darah” yang dilakukan oleh Charles Fuller. Mouw setuju dengan Bell bahwa adalah salah untuk mengatakan, “Terima Yesus sekarang juga, karena jika sepuluh menit dari sekarang kamu mati tanpa menerima tawaran ini Allah akan menghukummu selamanya dalam api neraka.” Mouw berkomentar, “Allah seperti apa yang kita presentasikan kepada orang tersebut?” Jawabannya adalah Allah Alkitab dan Allah yang dikhotbahkan oleh pendiri Fuller Theological Seminary. Adalah Bell dan Mouw yang memiliki allah baru. Mouw mengatakan bahwa setelah seorang teman dia, seorang rabbi, meninggal, dia “berharap bahwa ketika dia melihat Yesus dia akan mengakui bahwa selama ini Dialah yang benar, dan bahwa Yesus akan menyambut dia ke lingkup surgawi.” Saya tidak pernah membaca hal seperti itu dalam Alkitab, tetapi C.S. Lewis mengajarkan hal ini. Mouw mengatakan bahwa mereka yang mempertanyakan keselamatan Bunda Teresa hanya karena dia percaya Injil palsu seharusnya malu akan diri mereka sendiri. Mouw mengimplikasikan bahwa para pengritik Bell hanya mau membuat orang tidak masuk Surga, yang jelas adalah tuduhan yang konyol dan fitnah. Mouw ingin kita percaya bahwa dia lebih kasih daripada Yesus, yang dengan tajam berkata, “Jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian” (Lukas 13:3, 5). Baik Bell maupun Mouw komplain tentang “pengritik” mereka, tetapi mereka tidak segan-segan untuk menyerang dengan hebat para “fundamentalis.” Bell menyebut khotbah tentang api neraka sesuatu yang “mematikan,” “beracun,” “tidak mengasihi,” “menakutkan,” suatu “pandangan murahan tentang Allah.” Hey, tidak ada yang menghakimi siapapun kan! Semuanya hanyalah dialog yang penuh kasih dan toleran!

PENGARUH C.S. LEWIS DALAM MEMBUAT KAUM INJILI LEMAH MENGENAI NERAKA
C.S. Lewis (1898-1963) disebut “Superstar” oleh majalah Christianity Today. Dalam sebuah jajak pendapat tahun 1998, C.S. Lewis mendapat suara sebagai penulis Injili yang paling berpengaruh, dan mengingat betapa kacaunya kondisi rohani-doktrinal-moral kaum Injili hari ini, hasil jajak pendapat ini sungguh mencelikkan. Salah satu cara Lewis telah mempengaruhi Injili adalah dalam hal yang sangat fondasional yaitu neraka dan eksklusivitas keselamatan melalui nama Kristus. Lewis mengatakan bahwa tidaklah terlalu salah untuk berdoa kepada Apollo, karena melakukan itu adalah “berbicara kepada Kristus sub specie Apollonius” (C.S. Lewis kepada Chad Walsh, 23 Mei 1960, dikutip dari George Sayer, Jack: A Life of C.S. Lewis, 1994, hal. 378). Lewis di tempat lain mengklaim bahwa para pengikut agama-agama kafir dapat diselamatkan tanpa iman pribadi dalam Kristus Yesus (C.S. Lewis, Mere Christianity, HarperSanFrancisco edition, 2001, hal. 64, 208, 209). Dalam seri Narnia yang populer, yang telah mempengaruhi banyak sekali anak-anak, Lewis mengajarkan bahwa mereka yang melayani Setan dengan tulus (yang disebut Tash) sebenarnya melayani Kristus (Aslan) dan pada akhirnya akan diterima oleh Allah. “Tetapi saya kata, ‘Ah, sayang sekali, Tuhan, saya bukan anakmu melainkan hamba Tash.’ Dia menjawab, ‘Anak, semua yang kau lakukan bagi Tash, saya hitung sebagai pelayanan terhadap ku.’ ….Jadi, jika seseorang bersumpah demi Tash dan menepati sumpahnya demi sumpah itu, sebenarnya dia bersumpah demiku, walaupun dia tidak mengetahuinya, dan adalah Aku yang memberinya pahala” (The Last Battle, pasal 15, “Further Up and Further In”). Jadi, tidaklah mengherankan bahwa Lewis dikutip sebagai pengaruh yang besar oleh para Injili yang lunak perihal neraka. Clark Pinnock mengatakan, “Ketika saya seorang percaya yang muda pada tahun 1950an, C.S. Lewis membantu saya mengerti hubungan antara kekristenan dan agama-agama lain dengan cara yang inklusif” (“More Than One Way? Zondervan, 1996, hal. 107). Richard Mouw mengatakan, “Jika saya diberi tugas untuk menulis suatu esai theologis tentang “Eskatologinya Rob Bell,” saya akan mulai tugas itu dengan membeberkan dasar-dasar perspektif C.S. Lewis mengenai surga dan neraka” (“The Orthodoxy of Rob Bell,” Christian Post, 20 Maret 2011). Dalam bagian Ucapan Terima Kasih dalam buku Love Wins, Rob Bell menulis, “….kepada orang tua saya, Rob dan Helen, karena menyarankan ketika saya SMA untuk membaca C.S. Lewis.” Hati-hati terhadap C.S. Lewis. Bahwa dia dicintai sama rata oleh “Injili yang konservatif,” para emergent yang menolak neraka, rocker Kristen, Katolik, Mormon, dan bahkan sebagian Atheis, sudah cukup sebagai peringatan bagi mereka yang memiliki telinga untuk mendengar.

Berita Mingguan 26 Maret 2011, sumber: http://www.wayoflife.org
Editor: Dr. Steven E. Liauw
Graphe International Theological Seminary (www.graphe-ministry.org)
(Didistribusikan dengan gratis, dengan mencantumkan informasi sumber di atas)
Untuk berlangganan, pilih opsi “Join Group” di: http://groups.yahoo.com/group/gits_buletin/ dan ikuti petunjuk selanjutnya di layar komputer

Kategori:BERITA
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: