Beranda > DOKTRIN GEREJA, TOP TEN > 6 Ciri PENYEMBAHAN ALKITABIAH

6 Ciri PENYEMBAHAN ALKITABIAH


Ada penekanan besar dalam jemaat-jemaat masa kini pada “pelayanan penyembahan” (worship services). Biasanya, jemaat-jemaat memakai iringan “band pemuji” dan seorang “pemimpin penyembahan” (worship leader). Himne tradisional tidak lagi dipakai dan digantikan dengan lagu-lagu rohani popular yang dapat menyentuh hati orang banyak. Undangan diberikan kepada anggota jemaat untuk mengikuti alunan musik dan membebaskan diri dalam melakukan penyembahan kepada Allah. Biasanya, ada pula penekanan untuk mengundang Roh Kudus untuk bekerja atas diri orang yang hadir. Dalam acara tersebut, biasanya terdapat konsep bahwa Roh Kudus seharusnya tidak di “put in a box,” sehingga tidaklah salah jika ada manifestasi aneh seperti bergetar dan jatuh selama penyembahan. Tidaklah aneh jika kita juga menemukan kekacauan, kebingungan, para pemimpin perempuan, dan berbagai hal yang jelas-jelas tidak alkitabiah dalam kebaktian penyembahan kontemporer.
Perjanjian Baru memang tidak memberikan pola tertentu untuk melakukan kebaktian penyembahan bersama dalam jemaat. Orang yang coba mencari pembenaran alkitabiah untuk kebaktian penyembahan tidak akan mendapatkannya dalam tulisan para rasul. Mereka harus melihat referensi penyembahan bait Allah di Perjanjian Lama atau Kitab Wahyu, padahal pola untuk jemaat adalah tulisan para rasul. Ada tiga kata kunci untuk penyembahan (worship) dalam Perjanjian Baru: menyembah (worship), memuji (praise), dan memuliakan (glorify) dan kesemuanya tidak digunakan dalam konteks ibadah penyembahan di jemaat secara bersama. Satu-satunya kata “worship” dipakai dalam hubungannya dengan penyembahan jemaat ada di dalam 1Kor. 14:25, dan itu berbicara tentang penyembahan individu/pribadi, bukan penyembahan korporat. Demikian pula, kata “memuji” atau “memuliakan” tidak pernah dipakai dalam Perjanjian Baru sehubungan dengan penyembahan bersama dalam pertemuan jemaat. Semuanya dipakai dalam ibadah pribadi melalui ucapan syukur dan hidup saleh (Kis. 2:47; Rm. 15:5-6; 1Kor. 6:20; Flp. 1:11; Ibr. 13:15; 1Ptr. 4:16).
Ini tidak berarti bahwa salah jika jemaat menyembah Tuhan bersama-sama karena itulah yang juga kita lakukan selama kebaktian jemaat. Faktanya, terdapat kurangnya kesadaran penyembahan dalam rata-rata kebaktian jemaat yang sungguh-sungguh percaya Alkitab. Akibatnya, penyembahan hanya bagaikan bergumam atau pun sekadar ritual dan bukannya sarana mengarahkan hati kepada Allah.
Lalu, apakah perbedaan antara kebaktian penyembahan kontemporer dan pola penyembahan alkitabiah dalam jemaat?
(1)   Penyembahan yang alkitabiah dalam jemaat tidak menekankan pada penggunaan musik. Dua kali penyebutan musik dalam surat-surat di Perjanjian Baru berfokus pada pembangunan (edifying) orang-orang kusud saat dinyanyikan kepada Tuhan (Ef. 5:19; Kol. 3:16). Sesungguhnya, penyembahan alkitabiah menekankan bahwa Allah disembah melalui segala sesuatu yang dilakukan dalam jemaat daripada sekadar satu jenis penyembahan yang dinaikkan kepada-Nya saat waktu pujian (1Ptr. 4:11). Berlawanan dengan ini, penyembahan kontemporer hamper berfokus secara eksklusif pada satu jenis penyembahan kepada Allah, yaitu saat menyembah dengan musik kontemporer tersebut.
(2)   Penyembahan yang alkitabiah dalam jemaat tunduk pada ajaran para rasul yang menuntut bahwa segala sesuatu harus dilakukan dengan sopan dan teratur, sehingga tidak ada kebingungan, bahwa perempuan tidak boleh memimpin, dll. (1Kor. 11:2; 14:37). Ini berarti bahwa segala hal yang tidak alkitabiah, yang berhubungan dengan penyembahan kontemporer, khususnya karismatik, harus ditolak.
(3)   Penyembahan yang alkitabiah dalam jemaat menekankan pemahaman daripada emosi (1Kor. 14:15). Penekanannya bukanlah “merasakan hadirat Allah”, melainkan pada pemahamam dan pengenalan akan Allah melalui kebenaran Firman-Nya. Kita melihat ini terpancar dalam himne tradisional. Para penulis himne itu bertujuan untuk membangun pengertian dan bukan menciptakan getaran emosi. Dalam ibadah kontemporer, “puji-pujian dipilih untuk menstimulasi/merangsang (to induce) perasaan para penyembah … [to induce] suatu keadaan mengubah keadaan sadar dengan manipulasi nyata” (Alan Morrison, The New Style of Worship and the Great Apostasy).
(4)   Penyembahan yang alkitabiah dalam jemaat menekankan kesatuan iman dan bukan konsep ekumene, berbeda-beda tetapi satu sebagai hal yang lazim dalam penyembahan Kristen kontemporer (Rm. 15:6; Mat. 15:9; Yoh. 4:24). Tidak aka nada penyembahan yang sejati tanpa komitmen yang sepenuhnya terhadap doktrin yang sesuai Alkitab. Doktrin campuran yang ada dalam ibadah ekumene tidak memuliakan Allah dan tidak diterima-Nya, betapa pun antusias dan sungguh-sungguhnya para penyembah itu melakukannya.
(5)   Penyembahan yang alkitabiah dalam jemaat menuntut kesucian moral dan keterpisahan dari dunia (Rm. 12:1-2; Flp. 1:11), berlawanan dengan penyembahan kontemporer yang menolak pemisahan dan yang membangun jembatan dengan dunia melalui penggunaan musik, pakaian, dll. yang duniawi. Tidak peduli bagaimana pun hidup dan sikapnya, cukuplah bagi mereka untuk masuk ke dalam “saat penyembahan” dengan antusiasme besar. Di kalangan jemaat dengan haya penyembahan kontemporer, hanya ada sedikit khotbah melawan dunia secara jelas dan praktis dan hanya sedikit pula memraktikkan disiplin jemaat.
(6)   Penyembahan yang alkitabiah dalam jemaat harus terus menerus waspada terhadap bahaya-bahaya rohani (1Ptr. 5:8; 2Kor. 11:1-4). Setidaknya 11 kali, para rasul mengingatkan orang percaya untuk “bijaksana’/sober. Para gembala harus bijaksana (Ti. 1:8); orang tua harus bijaksana (ti. 2:2); perempuan harus bijaksana (Ti. 2:4); orang muda juga harus bijaksana (Ti. 2:6); isteri gembala dan diakon juga demikian (1Tim. 3:11). Ternyata, 1Tes. 5:6 dan 1Ptr. 5:8 menjelaskan arti bijaksana/sober ini yaitu secara rohani waspada, hati-hati, dan sadar. Sementara itu, penyembahan kontemporer mengajarkan orang untuk terbukapada pengaruh-pengaruh roh tanpa sadar adanya bahaya atau tipuan. Mereka meminta penyembah untuk “terbuka dan rendah hati,” “membuka diri terhadap Roh Kudus,” “mengundang Roh Kudus datang dan bekerja,” “bersiap untuk hal yang tidak terduga.” Tak ada satu pun hal itu yang diajarkan dalam Alkitab. Para rasul dan jemaat mula-mula tidak memraktikkannya. Saat jemaat Korintus melakukan hal yang demikian dan membiarkan kebingungan dan ketidakteraturan terjadi, Paulus menegur dan memperbaiki kesalahan itu (Yoh. 4:24).
Dari sini, jemaat-jemaat yang menjunjung tinggi Alkitab kiranya dapat belajar bagaimana jemaat dapat membangun suatu pelayanan penyembahan yang benar. Konsep menyembah yang benar itu harus benar-benar tertanam dan dipraktikkan pula secara benar oleh jemaat Tuhan. Solusi kedinginan dan keengganan anggota jemaat dalam menyembah, memuji, dan memuliakan Allah bukanlah dengan menggantikan himne tradisional dengan penyembahan kontemporer, tetapi memastikan bahwa kita adalah penyembah-penyembah benar yang menyembah Allah dalam roh dan kebenaran (Yoh. 4:24).
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: