Beranda > Fakta Unik, MUSIK dan LAGU > Kisah dibalik Lagu AKU IKUT YESUS

Kisah dibalik Lagu AKU IKUT YESUS


AKU IKUT YESUS

oleh Mangapul Sagala

Siapakah yang harus aku ikuti,
Selama hidup di dunia
Apakah yang harus ku kerjakan,
Yang kekal tak akan binasa

Aku ikut Yesus, Juruselamatku
Aku ikut Yesus, Dialah Tuhanku
Dia memanggilku menjadi hamba-Nya
Membritakan Injil ke s’luruh dunia

Lagu AKU IKUT YESUS tersebut di atas adalah deklarasi pernyataan iman saya untuk tidak mundur dari penyerahan melayani Tuhan secara full time. Sejak thn 1976, yaitu ketika saya masih mahasiswa tingkat dua di Fakultas Teknik Universitas Indonesia, saya sudah bergumul untuk menjadi hamba Tuhan. Namun demikian, barulah pada tgl 30-6-1979 saya menerima tantangan untuk menjadi hamba Tuhan secara full time, melalui hambaNya Dr. Iman Santoso. Hal itu terjadi pada sebuah kamp persiapan pelayanan yang diadakan oleh yayasan Perkantas. Pada saat itu, seingat saya ada 13 orang yang menyerahkan diri, antara lain, Ir. Tadius Gunadi, Ir. Ruly Simanjuntak, Ir. Sunarjo. Ketika tantangan diberikan oleh hambaNya, saya sungguh bergumul untuk menjadi pelayan full time. Ah, buat apa harus menjadi full time? Saya dapat melayani melalui profesi saya. Dan lagi, bukankah orang tua telah sedemikian rupa, berjuang dan berkorban untuk menyekolahkan saya? Itulah beberapa pemikiran dan pertanyaan yang muncul dalam pikiran saya.

Namun, seiring dengan pergumulan tsb, Firman Tuhan yang berbicara memenuhi hati dan pikiran saya ketika itu adalah 2 Kor.5:15 yang berbunyi, Kristus sudah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup tidak lagi hidup untuk diri sendiri, tetapi untuk DIA YANG TELAH MATI DAN TELAH DIBANGKITKAN BAGI MEREKA. Itulah sebabnya saya tunduk dan menyerahkan diri maju ke depan jemaat, bersujud untuk didoakan menjadi hambaNya.

Walau telah menyerahkan diri, ternyata tidak mudah untuk benar-benar memenuhi panggilan tsb, apalagi godaan sebagai seorang teknik metalurgi sangat besar. Perusahaan-perusahaan besar seperti Krakatau Steel sangat menjanjikan masa depan yang baik. Saya juga teringat janji dari seorang General Manager kepada saya, yaitu ketika saya masih tingkat tiga. Ketika saya sedang mengadakan kerja praktek di sebuah perusahaan baja di Pulogadung, GM tsb menjanjikan salary yang besar serta berbagai fasilitas jika saya gabung dengan perusahaan tsb. Saya juga sempat semakin jauh dari panggilan menjadi hamba Tuhan tsb ketika saya sempat menggantikan kakak ipar saya (lae) menjadi direktur sebuah PT/perusahaan kontraktor. Saya mengambil alih posisi tersebut karena beliau meninggal secara mendadak akibat serangan jantung. Selama enam bulan saya memegang posisi tersebut, saya bertemu dengan kontraktor lain yang pada umumnya mendorong saya untuk terus memegang posisi tersebut.

Ketika saya mengatakan bahwa saya hanya memegang itu sementara waktu saja, sampai semua pekerjaan/proyek yang terlanjur dikerjakan diselesaikan, maka rekan-rekan tersebut sangat menyayangkan keputusan itu. Seorang Kristen, yang juga kontraktor ‘menyadarkan’ saya akan pentingnya dana dalam pelayanan dan pekerjaan Tuhan. Karena itu dia berkata: “Alangkah baiknya jika kita sebagai kontraktor yang dikarunia uang banyak dapat mendukung berbagai kegiatan tsb…” Teman lain, yang juga alumni UI pernah meresponi sharing saya untuk menjadi hamba Tuhan sbb: “Kamu, mau jadi staf Perkantas? Kamu dan anak-anakmu mau makan apa? Istrimu mau kasih lipstik apa?…” Pergumulan saya menjadi full time memang luar biasa beratnya ketika itu. Hal itu ditambah lagi dengan desakan keluarga untuk bekerja di bidang sekuler.

Pada hari ulang tahun saya Mei 1983, saya meminta hadiah khusus dari Bapa, yaitu memberikan saya kepastian apakah saya akan tetap sebagai kontraktor atau menjadi hamba Tuhan full time. Syukur kepadaNya, melalui bahan saat teduh hari itu, Tuhan dengan jelas meneguhkan panggilanNya dari firman Tuhan, yaitu Luk.5:27-28. Bagi saya, firman Tuhan ini menjadi klimaks yang membawa saya kepada penyerahan hamba Tuhan full time. Sejak penyerahan pada tgl 30-6-79 tsb di atas, saya sudah beberapa kali ragu dan berkali-kali juga diteguhkan melalui firmanNya. Salah satu peristiwa yang saya ingat adalah ketika saya menerima panggilan dari kantor DKI untuk tender baru. Sebagai direktur, saya sangat bergumul untuk berangkat esok harinya. Jika PT yang saya pimpin menang, itu berarti saya akan semakin jauh masuk ke pekerjaan sekuler, demikian pergumulan saya. Karena itu, di pagi hari sebelum berangkat ke Jatibaru, saya berdoa memohon firman Tuhan. Ajaib sekali, ketika saya bersujud, pikiran saya teringat satu ayat yang tidak jelas isinya. Ayat tsb adalah Yes. 42:6. Segera saya mengambil Alkitab dan membaca apa isinya. Ternyata isinya adalah: “Aku ini, TUHAN, telah memanggil engkau untuk maksud penyelamatan, telah memegang tanganmu. Aku telah membentuk engkau dan memberi engkau menjadi perjanjian bagi umat manusia, menjadi terang untuk bangsa-bangsa”. Setelah membaca ayat firman Tuhan ini, saya segera membatalkan kepergian saya untuk mengikuti tender proyek baru pada hari itu.

Namun sebagaimana saya tuliskan di atas, seiring dengan berjalannya waktu, keraguan muncul lagi. Itulah sebabnya, ketika saya menerima peneguhan pada hari HUT saya tersebut di atas, saya merasa perlu membuat semacam ‘monumen’, di mana saya tidak boleh ragu dan ingkar lagi. Itulah sebabnya saya mengabadikan hari peneguhan tsb, yang memang sangat unik ketika itu. Firman Tuhan ketika itu bukan saja jelas dan tegas; lebih lagi, saya dibawa kepada sebuah pengalaman rohani yang khusus yang tidak biasa saya alami. Pada waktu itu, bukan saja Bapa surgawi terasa sedemikian dekat, malaikat-malaikatNya juga seakan-akan hadir menjadi saksi. Karena itu, saya sujud di hadapanNya sambil menyerahkan diri lebih sungguh. Segera setelah itu, saya menciptakan lagu tersebut di atas.

Sedikit komentar tentang syair dan melodinya. Bait pertama merupakan pergumulan, di mana syairnya dalam bentuk pertanyaan: Siapakah yang harus aku ikuti (maksudnya, bekerja di mana? Siapa bossnya?). Apakah yang harus aku kerjakan? (ketika itu ada beberapa lowongan pekerjaan yang terbuka). Tetapi ketika pagi itu Tuhan meneguhkan panggilanNya, maka keyakinan akan panggilan itu saya taruh di dalam refrainnya. Syair lagu dalam ref bukan saja yakin, melodinya juga saya pilih dengan nada-nada pasti dan nada tinggi (cat. aslinya lagu ini adalah dalam nada dasar C. Ketika dinyanyikan dalam berbagai ibadah kampus, gereja, ternyata nada itu terlalu tinggi. Karena itu, dinyanyikan dengan nada dasar bes/A).

Saya bersyukur karena syair lagu ini telah menjadi berkat bagi banyak orang. Saya terkejut, surprise ketika melihat syair lagu itu ditempel pada sebuah dinding kamar pemuda di Perth, Australia. Karena penasaran, saya bertanya: “Dari mana dapat hiasan dinding yang berisi syair lagu AKU IKUT YESUS itu?”. Pemuda itu menjawab bahwa itu diperoleh dari Gereja sebagai gift setelah selesai mengikuti training. Entah siapa yang telah menulis kembali syair lagu tsb dalam bentuk baris puisi dan menjadikan itu menjadi hiasan dinding. Saya sungguh bersyukur bahwa syair lagu tsb telah disebarluaskan, bukan saja melalui nyanyian, tapi juga melalui bacaan di dinding. – * – Soli Deo gloria. – * –

Iklan
  1. percaya yesus
    17 Juli 2012 pukul 6:57 AM

    Benarkah yesus tuhan? pernahkan yesus mengklaim bahwa dirinya tuhan?

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: