Beranda > INDONESIA > Negara Itu Hamba Allah?

Negara Itu Hamba Allah?


Basuki Tjahaja Purnama

Nimrod adalah orang pertama yang membentuk pemerintahan di muka bumi (Kej 10:8) dan sudah jelas bahwa pemerintahan Nimrod tidak berkenan kepada Allah. Buktinya ketika ia memimpin rakyatnya membangun menara Babel, Tuhan mengacaukan bahasa mereka.

Lalu dalam pengertian apakah ketika Rasul Paulus mengatakan, “Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah. Sebab itu barangsiapa melawan pemerintah, ia melawan ketetapan Allah dan siapa yang melakukannya, akan mendatangkan hukuman atas dirinya. Sebab jika seorang berbuat baik, ia tidak usah takut kepada pemerintah, hanya jika ia berbuat jahat. Maukah kamu hidup tanpa takut terhadap pemerintah? Perbuatlah apa yang baik dan kamu akan beroleh pujian dari padanya. Karena pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikanmu. Tetapi jika engkau berbuat jahat, takutlah akan dia, karena tidak percuma pemerintah menyandang pedang. Pemerintah adalah hamba Allah untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat. Sebab itu perlu kita menaklukkan diri, bukan saja oleh karena kemurkaan Allah, tetapi juga oleh karena suara hati kita. Itulah juga sebabnya maka kamu membayar pajak. Karena mereka yang mengurus hal itu adalah pelayan-pelayan Allah” (Rom.13:1-6)

Pemerintahan yang Ideal di Mata Tuhan
Dari tulisan Paulus di atas tergambarkan dengan jelas tentang pemerintah yang diinginkan dan diharapkan Tuhan. Ayat-ayat tersebut memberitahukan bahwa Allah mengadakan pemerintah demi ketertiban hidup manusia. Memberitahukan bahwa tugas pemerintah ialah memberi hadiah kepada yang berbuat baik dan menghukum yang berbuat jahat. Tugas utama pemerintah ialah menjaga ketertiban antarmanusia, bukan mengurusi sikap seseorang atau iman seseorang kepada Tuhan yang diyakininya. Jadi setelah manusia semakin banyak, dan persoalan antar manusia juga semakin banyak, maka Allah sangat menghendaki adanya pemerintah yang mengatur antar manusia. Tiap-tiap kejahatan harus dihukum dan tiap-tiap kebaikan harus mendapat apresiasi dari pemerintah.

Setiap orang Kristen bahkan setiap manusia yang ingin hidup damai, setuju bahwa harus ada pemerintah. Seandainya di antara manusia yang berjumlah ratusan juta tanpa ada pemerintah, maka pasti akan terjadi kekacauan yang luar biasa. Dalam situasi demikian yang paling galak dan paling bengis itu akan menguasai yang lemah. Pada situasi itu tentu orang bukan belajar bahasa atau belajar berhitung melainkan akan belajar bela diri (Kung Fu), atau masing-masing akan beli pistol dan menggantungkannya di pinggang.

Jadi, betapa benarnya pernyataan Rasul Paulus bahwa pemerintah adalah “hamba Allah” karena tanpa pemerintah maka dunia ini akan kacau dan orang-orang baik yang mengasihi Allah tidak akan dapat melaksanakan kebaikan yang Tuhan inginkan. Dengan kehadiran pemerintah yang baik, maka orang baik dapat hidup baik, sehingga ketika dijahati dia tidak perlu membalas karena negara ada polisi yang akan menangkap orang jahat tersebut dan pengadilan akan menghukumnya. Kalau tetangganya tidak tahu diri, misalnya membangun pagar di tengah malam dengan mesin las yang ribut, orang baik tidak perlu menegurnya langsung yang mungkin bisa menimbulkan pertengkaran, melainkan yang bersangkutan akan ditegur oleh RT atau RW atau polisi.

Di dalam negara yang berstatus hamba Allah masyarakat tidak memerlukan izin untuk melakukan hal yang baik. Pengaturan perizinan sifatnya untuk keteraturan dan untuk pemungutan pajak. Sebaliknya di negara yang berstatus hamba iblis, untuk melakukan kebajikan pun memerlukan ijin. Biasanya perizinan ditambah-tambahkan oleh aparat yang korup. Dalam situasi demikian semakin banyak perizinan dibutuhkan akan semakin memberi peluang bagi aparat-aparat korup untuk mendapatkan peluang memeras orang.

Dalam Roma pasal 13 Rasul Paulus menuliskan bahwa pemerintah adalah hamba Allah, dan ia tidak berhenti pada kalimat itu. Ia memberi gambaran hal-hal yang dilakukan oleh pemerintah yang berstatus sebagai hamba Allah itu. Seharusnya tidak ada orang yang berkesimpulan bahwa pemerintahan Nimrod itu hamba Allah, atau negara Korea yang di bawah pemerintah Kim Jong Il itu hamba Allah, atau negara China ketika di bawah pemerintahan Mao Tje Tung itu hamba Allah.

NEGARA BISA JADI HAMBA IBLIS
Ketika sebuah pedang berada di  tangan pahlawan yang baik hati, pedang  itu akan berfungsi sebagai alat yang sangat berguna untuk  membela  kebenaran.  Tetapi  ketika pedang  itu  jatuh ke  tangan penjahat, pedang itu bukan lagi sebagai alat untuk membela kebenaran  melainkan  alat  yang  sangat mengerikan.

Ketika  sebuah  negara  dikuasai  iblis, negara itu tidak memberi kebebasan kepada rakyatnya untuk mencari kebenaran, bahkan menghalang-halangi rakyatnya mendapatkan kebenaran, maka negara  itu bukan  lagi sebagai hamba Allah, melainkan telah menjadi hamba  iblis.

Negara  yang  dikuasai  iblis  biasanya tidak  mengijinkan  rakyatnya  untuk memilih obyek imannya karena iblis sesuai dengan  karakternya  adalah  menjajah. Biasanya negara yang dikuasai  iblis  tidak akan  menghasilkan  aturan  hukum  yang baik karena sifat iblis yang pada dasarnya tidak  menghendaki  keteraturan.  Dengan produk hukum yang  tidak bagus otomatis juga akan berpasangan dengan aparat yang tidak baik pula. Di dalam negara demikian korupsi akan merajarela, dan  tidak akan ada keadilan karena pengadilan bahkan aparat hukumnya korup.

Biasanya di negara yang dikuasai iblis rakyat yang baik justru takut kepada pemerintah  dan  yang  jahat  menjadi  sahabat pemerintah. Biasanya di negera demikian rakyatnya  sangat  dibatasi  berbagai  perizinan  bahkan  untuk melakukan  kebaikan pun memerlukan  izin.

TUJUAN  IBLIS MENCIPTAKAN  AGAMA
Apakah tujuan iblis menguasai sebuah negara? Sudah pasti bahwa bukan karena iblis ingin memperoleh keuntungan materi Iblis telah berlimpahan materi sehingga ia bahkan pernah menawarkan materi kepada Tuhan  Yesus  untuk  menukarkan  sembah sujud kepadanya.

Tujuan utama pembangkangan Lucifer ialah menempatkan dirinya sejajar bahkan lebih  dari  Allah  Pencipta.  Ia  tidak  puas menjadi nomor dua melainkan menginginkan posisi nomor  satu.  Ia  ingin disembah sebagai yang maha  tinggi. Sesungguhnya  atas  keinginan  inilah iblis melakukan  segala  hal. Apapun  juga yang bisa dipakainya  sebagai alat,  termasuk  negara,  akan  dipakainya  untuk mencapai  keinginannya.  Bahkan  negara akan  berfungsi  sebagai  alat  yang  paling efektif untuk mencapai  tujuannya.

Ketika sebuah negara berada di bawah kuasa Tuhan dan berfungsi sebagai hamba Allah, maka  hal  utama  yang  terjadi  di negara tersebut ialah kebebasan beragama. Bahkan ciri utama agama yang berasal dari Allah Pencipta langit dan bumi ialah yang memberi kebebasan kepada umatnya untuk memilih. Kalau  setelah  seseorang masuk agama  tersebut  lantas  kemudian  tidak boleh bahkan tidak bisa keluar lagi, maka itu  pasti  bukan  agama  dari  Allah, melainkan perangkap  iblis. Allah Pencipta yang maha kuasa dan maha  adil  ketika  menciptakan  manusia telah memberikan manusia akal-budi, hati nurani  dan  kehendak  bebas.  Allah  yang memberikan kehendak bebas  tidak mungkin melarang  penerimanya mempergunakan  kehendak  bebas  yang  diberikanNya.

Atas  ketetapan  ini  Allah  tidak  pernah menyesal  sekalipun  ada  resiko  manusia akan menolakNya. Karena Allah menghendaki  manusia  bukan  terpaksa  bersikap positif  kepadaNya,  melainkan  karena menyadari akan kasih dan kemurahanNya. Allah  merindukan  kasih  sayang  manusia yang diciptakanNya.

Sebaliknya  iblis  tahu  persis  bahwa manusia tidak mungkin bisa mengasihinya karena memang  tidak  ada  kebaikan  iblis yang  patut  mendapatkan  kasih  sayang manusia. Oleh sebab itu yang iblis lakukan ialah  memasang  perangkap  dengan berbagai agama dan ajaran-ajaran agama, kalau tidak cukup ratusan maka dibuatkan ribuan,  sehingga  kalau  bisa melalui  alat-alat itu ia dapat menjebak sebanyak mungkin manusia.  Oleh  sebab  itu  agama  atau ajaran  agama  yang  diadakan  oleh  iblis berciri-khas kalau sudah masuk tidak akan dibiarkan keluar lagi. Ia akan menetapkan bahwa  yang  coba-coba  keluar  perlu dibunuh  untuk menakuti  siapa  saja  yang sudah masuk agar  tidak coba-coba keluar.

Sampai sejauh ini pembaca yang bijak dan  pintar  pasti  dapat  melihat  betapa efektifnya iblis  dalam  melaksanakan programnya jika ia bisa menguasai sebuah negara. Bahkan dalam Wahyu pasal 13:11-18  telah  dinubuatkan  bahwa  pada  akhir zaman  iblis akan menguasai bukan hanya sebagian negara melainkan  semua negara sehingga  ia  akan  dengan  efektif memaksakan kehendaknya.

TUJUAN  IBLIS MENGUASAI NEGARA
Dengan menguasai sebuah negara  iblis akan  menciptakan  kondisi  kacau  dalam negara  tersebut. Caranya? Ia akan membuat undang-undang yang bertentangan dengan akal  sehat.  Kini  baik  di  Eropa  maupun Amerika, wanita yang hamil di luar nikah diberi tunjangan,  sedangkan  yang  kawin baik-baik harus  membayar  pajak, yang tentu dipakai untuk menunjang yang hamil tanpa  suami. Lama-kelamaan  pasti  akan semakin sulit ditemukan wanita yang akan menikah secara baik-baik melainkan lebih memilih melahirkan anak  tanpa  suami. Undang-undang  anti  korupsi  dipikirkan  oleh  para  koruptor,  yang  tentu  hasilnya  adalah  undang-undang  anti  korupsi yang  kepalang  tanggung  yang menyisakan  banyak  lubang  untuk  korupsi  karena dibuat  oleh  para  koruptor.  Iblis  akan menciptakan  kekacauan  demi  kekacauan karena di dalam kekacauan  itulah  ia akan mendapatkan keuntungan.

Tetapi ini semua bukan tujuan utamanya. Tujuan  utama  yang  sesungguhnya adalah  yang  bersifat  keagamaan  karena yang  iblis  paling  peduli  adalah  urusan sembah-menyembah. Setelah iblis menguasai sebuah negara, selain menghancurkan sistem  sosial yang masuk akal, iblis akan bergerak ke pelarangan orang untuk mencari kebenaran. Ibis pasti akan bergerak ke aspek  kebebasan  beragama  karena  iblis tidak rela ada orang yang karena kebebasan beragama berhasil mendapatkan kebenaran dan meninggalkannya.

Negara-negara komunis selain menghancurkan sistem sosial dengan menyangkali kebebasan pribadi dalam menyimpan hasil  keringatnya,  juga  melarang  orang mempercayai  sesuatu  yang  diyakininya benar.  Iblis  tidak  rela  memberikan kebebasan kepada manusia untuk memilih sebagaimana    Allah  berikan,  melainkan ingin menguasai manusia agar menyembah hanya kepadanya.

Pembaca yang budiman, demi mencapai tujuannya, bukankah menguasai negara adalah  langkah  yang  strategis?  Jadi, herankah  pembaca  kalau  iblis  berjuang habis-habisan  untuk  menguasai  negara demi negara? Kalau begitu apakah semua negara  tanpa  peduli  pada  tindakan  dan kondisi negara itu semuanya adalah hamba Allah?  Jawabannya,  tentu  tidak!

Ada negara yang masih dalam kondisi baik, berfungsi dengan baik sebagai hamba Allah  dalam  menegakkan  keadilan, menjaga  hubungan  baik  antara  manusia, dan memberi  kebebasan  kepada manusia untuk  mencari  kebenaran.  Tetapi  tidak sedikit negara yang telah berada di bawah cengkeraman  iblis. Berhikmatlah!***

Sumber: Pedang Roh Edisi 69 Edisi LXIX Tahun XVI Editor: Dr. Suhento Liauw, Oktober – November Desember 2011

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: