Beranda > Fakta Unik, RENUNGAN, TOKOH > Konosuke Matsushita

Konosuke Matsushita


Baca: Amsal 14:21-22
Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran (Amsal 17:17).

Tahun 1918 Konosuke Matsushita mendirikan Matsushita Electric Industrial (MEI) sekarang Panasonic Corporation, dengan merek yang populer seperti National dan Panasonic. Tahun 1994 perusahaan elektronik ini mencapai kejayaannya sebagai bisnis paling sukses. Namun yang lebih menggetarkan hati adalah kepiawaian Matsushita yang berhasil memimpin MEI keluar dari masa-masa sulit. Saat resesi 1929, pertumbuhan ekonomi Jepang anjlok. GNP turun dratis, yang berarti daya beli masyarakat menurun. Dunia bisnis panik. Saat itu General Motor Amerika yang memiliki 92.829 pekerja terpaksa mem-PHK separo karyawannya.

Matsushita menyikapi resesi lebih arif dengan melakukan terobosan yang manusiawi. Ia memangkas setengah kapasitas produksi MEI tetapi tidak seorang pegawai pun di-PHK. Matsushita kemudian membekali separo karyawan produksi dengan keahlian salesmanship, jadilah mereka laskar penjual MEI door-to-door.

Matsushita bukan pemimpin yang secara sepihak tega mengorbankan karyawannya. Ia pemimpin empatif yang memperlakukan karyawannya sebagai sahabat dan saudara sendiri. Kearifan Matsuhita mengingatkan kita pada amsal Salomo yang mengatakan: “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran (17:17). Akhirnya, Matsushita bersama seluruh karyawan MEI selamat dari resesi 1929 dan tetap survive.

Enam belas tahun kemudian, kepedulian Matsushita terhadap semua karyawan MEI mendapatkan balasan yang manis. Ia menerima anugerah dari para karyawan yang pernah ditolongnya. Saat itu Perang Dunia II berakhir, Jenderal McArthur menguasai Jepang, menangkap dan mengadili semua pengusaha negara itu yang terlibat dalam perang. Konon pada tahun 1930-an, Matsushita dan para pengusaha lainnya mendapat tekanan rezim militer Jepang untuk memproduksi senjata dan logistik militer lainnya. Jadi, Matsushita pun ikut dipenjara.

Ketika serikat pekerja MEI mendengar bahwa Matsushita menjadi tawanan Jenderal McArthur atas tuduhan keterlibatan perang, sekitar 15.000 pekerja bersama keluarga mereka membubuhkan tanda tangan dalam petisi pembelaan untuk Matsushita. Jenderal McArthur salut dan menerima petisi tersebut, kemudian membebaskan Matsushita. Selain Matsushita, tidak seorang pun pengusaha atau pemimpin industri Jepang yang dibebaskan McArthur. Matsushita terus memimpin MEI sampai perusahaan ini menjadi raksasa elektronik dunia, dan baru pensiun tahun 1989 saat berusia 94 tahun.

Ya, sekali lagi benar kata Salomo, “…berbahagialah orang yang menaruh belas kasihan kepada orang yang menderita… yang merencanakan hal yang baik memperoleh kasih dan setia (Amsal 14:21-22). Marilah berdoa untuk pemimpin dan penguasa di negeri ini, kiranya mereka memimpin dengan arif dan penuh hikmat Tuhan. Kita begitu rindu memiliki pemimpin yang bersahabat dan tak menampik kesulitan rakyat..

Kasih dan setia melindungi raja, dan dengan kasih ia menopang takhtanya. —Amsal  20:28

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: