Beranda > AKHIR ZAMAN > KEMULIAAN YANG HIDUP

KEMULIAAN YANG HIDUP


KEMULIAAN YANG HIDUP (THE LIVING GLORY)

Dr. W. A. Criswell

Wahyu 1:12-18, Khotbah 04-22-73

Kami mengucapkan selamat datang bagi anda semua yang sedang bergabung di dalam ibadah kami, baik yang mendengarkannya melalui siaran radio, mau pun bagi anda yang sedang menyaksikan ibadah ini melalui siaran televisi. Ini adalah Gereja First Baptist Dallas, dan saya adalah pendeta yang sedang menyampaikan khotbah yang berjudul: Kemuliaan Yang Hidup. Ini adalah sebuah eksposisi dari Kitab Wahyu pasal pertama ayat 17 dan 18. Dan saya akan membaca teks dari bagian ini, dimulai dari ayat 9:

Aku, Yohanes, saudara dan sekutumu dalam kesusahan, dalam Kerajaan dan dalam ketekunan menantikan Yesus, berada di pulau yang bernama Patmos oleh karena firman Allah dan kesaksian yang diberikan oleh Yesus.

Pada hari Tuhan aku dikuasai oleh Roh dan aku mendengar dari belakangku suatu suara yang nyaring, seperti bunyi sangkakala, katanya: “Apa yang engkau lihat, tuliskanlah di dalam sebuah kitab dan kirimkanlah kepada ketujuh jemaat ini: ke Efesus, ke Smirna, ke Pergamus, ke Tiatira, ke Sardis, ke Filadelfia dan ke Laodikia.”

Lalu aku berpaling untuk melihat suara yang berbicara kepadaku. Dan setelah aku berpaling, tampaklah kepadaku tujuh kaki dian dari emas.

Dan di tengah-tengah kaki dian itu ada seorang serupa Anak Manusia, berpakaian jubah yang panjangnya sampai di kaki, dan dadanya berlilitkan ikat pinggang dari emas.

Kepala dan rambut-Nya putih bagaikan bulu yang putih metah, dan mata-Nya bagaikan nyala api.

Dan kaki-Nya mengkilap bagaikan tembaga membara di dalam perapian; suara-Nya bagaikan desau air bah.

Dan di tangan kanan-Nya Ia memegang tujuh bintang dan dari mulut-Nya keluar sebilah pedang tajam bermata dua, dan wajah-Nya bersinar-sinar bagaikan matahari yang terik. [Wahyu 1:9-16].

Dan sekarang yang menjadi teks kita: “Ketika aku melihat Dia, tersungkurlah aku di depan kaki-Nya sama seperti orang yang mati; tetapi Ia meletakkan tangan kanan-Nya di atasku lalu berkata: “Jangan takut! Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir, Dan Yang Hidup. Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup, sampai selama-lamanya dan Aku memegang segala kunci maut dan kerajaan maut” [Wahyu 1:17, 18].

Ini adalah sebuah ekspresi yang kuat: “Ketika aku melihat Dia, tersungkurlah aku di depan kakiNya, hos nekros, seperti orang yang mati.” Dia tidak dapat melihatNya. Cahaya yang kemilau dari kemuliaan di wajah Yesus membutakan dia. Dia tidak dapat mendengar suara seperti desau air bah. Suara seperti sebuah sangkakala yang menyumbat telinganya. Dia kehilangan kesadaran. Berat yang lebih dari kemuliaan penglihatan itu mengambil kesadaran hidupnya: “Ketika aku melihat Dia, tersungkurlah aku di depan kakiNya, hos nekros, seperti orang yang mati.”

Ini merupakan sebuah hal yang mengherankan bagi saya ketika saya membayangkan siapakah yang menulis kesaksian itu. Yohanes telah bersama-sama dengan Yesus sepanjang hidupnya. Mereka adalah sepupu dekat. Ibu mereka bersaudara. Dan tanpa ragu mereka tumbuh bersama di Galilea dan telah saling mengenal sejak kecil. Rasul Yohanes adalah murid dari Yohanes Pembaptis, dan merupakan murid Tuhan yang pertama bersama dengan Andreas. Dia telah mengikut Tuhan dalam seluruh pelayananNya. Dia membaringkan kepalanya di bahu Tuhan pada saat Perjamuan Tuhan. Dia berdiri di dekat salib pada saat Tuhan mati. Dia mengambil ibu Tuhan—membawa Maria ke dalam rumahnya dan merawatnya. Dia hadir bersama dengan murid-murid ketika Tuhan menampakkan diri di hadapan murid-murid setelah kebangkitanNya. Dia dan Simon Perus adalah orang pertama yang berlari ke kuburan. Dia mengikuti Tuhan selama empat puluh hari dan menyaksikanNya naik ke sorga. Di dalam seluruh kehidupan dan pelayanan Tuhan Yesus, orang ini, Rasul Yohanes ini berada di sisiNya. Akan tetapi, dia menulis: “Ketika aku melihat Dia, tersungkurlah aku di depan kakiNya, hos nekros, seperti orang yang mati.”

Anda mungkin akan berpikir bahwa ketika Yohanes melihat kemuliaan Tuhan yang telah bangkit dan kekal dia akan dipenuhi dengan sukacita yang melimpah. Akan ada sebuah kebahagiaan yang luar biasa. di dalam Lukas pasal dua puluh empat disebutkan: “Dan ketika murid-murid melihat Tuhan: Mereka belum percaya karena girangnya dan masih heran” (Lukas 24:41. Betapa merupakan sebuah kebahagiaan, saat yang mulia bagi Rasul Yohanes yang berada di Pulau Patmos. Dan akan tetapi, kebalikan dari sukacita dan kegirangan itu, dia dipenuhi dengan rasa takut dan menjadi sama seperti orang mati. Mengapa? Ada dua alasan. Alasan yang pertama: Yohanes sekarang sedang melihat keilahian yang tidak terselubung, dan yang tidak tertutup serta tidak disembunyikan. Pada masa Tuhan kita diam di antara manusia, keilahianNya ditutupi. Diselubungi dengan kedaginganNya. Hanya sekali keilahian itu memancar dengan penuh kemilau, yaitu ketika Tuhan mengalami transfigurasi dan wajahnya berkilau seperti terik matahari. Dan ketika Tuhan melayani di dunia ini, gemilang dari kemuliaan sorgawinya disembunyikan. Tuhan telah mengosongkan dirinya sendiri dan mengambil rupa manusia dan menjadi seorang hamba. KeAllahanNya ditutupi oleh dagingNya, oleh tubuh manusiaNya. Tetapi di sini, Yohanes melihatNya dalam seluruh keilahianNya. Wajah-Nya bersinar-sinar bagaikan matahari yang terik.  Mata-Nya bagaikan nyala api. Dan kaki-Nya mengkilap bagaikan tembaga membara di dalam perapian; suara-Nya bagaikan desau air bah, yang pada suatu hari akan membangkitkan orang mati dari kuburan mereka. Dan ketika Yohanes melihat keilahian yang tidak ditutup dan yang tidak diselubungi itu: “Ketika aku melihat Dia, tersungkurlah aku di depan kakiNya, hos nekros, seperti orang yang mati.” Yohanes yang sama ini, ketika Wahyu ini terus berlangsung, dia melihat takhta Allah seperti permata yaspis tetapi tidak gemetar. Dia melihat tujuh obor dan ketujuh Roh Allah, yang menunjukkan kepenuhan Roh Allah, yang menyala-nyala di hadapan takhta Allah, dia tidak merasa takut. Dia melihat pelangi yang gilang gemilang bagaikan zamrud dan tidak gemetar. Ketika dia melihat lautan kristal yang terbakar seperti api, dia melihatnya dengan penuh sukacita. Dia bahkan melihat melalui pintu sorga dan memandang  melalui pintu neraka ke dalam jurang maut dan tidak merasa takut. Akan tetapi, di sini, ketika dia memandang wajah Kristus di dalam kemuliaanNya: “Dia tersungkur di depan kakiNya, hos nekros, seperti orang yang mati”

Alasan kedua mengapa Yohanes kehilangan kesadarannya di hadapan kemuliaan yang luar biasa itu. Bagaimana seorang manusia yang dibuat dari debu tanah dapat melihat yang ilahi, dapat melihat Allah dan mendapati dirinya tanpa kekuatan dan tanpa kehidupan? Bagaimana seorang manusia yang berdosa yang tidak mengetahui apa-apa selain dari pada kesalahan dan keburukan dalam hidupnya yang dikandung dalam kesalahan dan lahir di dalam dosa, bagaimana seorang manusia yang fana memandang kekudusan dan kemurnian dan kemuliaan Allah dan tetap hidup? Bagaimana seekor serangga dapat bertahan di cauldron matahari yang terbakar? Lalu, Yohanes melihat Tuhan di dalam kemuliaanNya, melihat keilahianNya dan tersungkur di depan kakiNya,    hos nekros, seperti orang yang mati. Sama seperti umat Israel yang pergi di depan Gunung Sinai. Mereka melihat Allah turun dalam nyala api dan suaranya bagaikan guruh. Dan anak-anak Israel berseru kepada Musa: Biarlah Allah berbicara kepadamu dan engkau beritahukanlah apa yang difirmankan Allah. Tetapi janganlah kami mendengar suara Allah atau melihat Allah, karena kami akan mati. Hal itu sama seperti Yesaya di dalam pasal enam, yang melihat Tuhan di atas takhta yang tinggi dan menjulang, dan berseru: “Celakah aku! Aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir” (Yesaya 6:5). Sama seperti Daniel di Sungai Ulai, di tepi Sungai Tigris, melihat teofani Kristus—manifestasi Kristus. Dia berkata bahwa dia terkejut  dan jatuh tertelungkup. Jadi seperti inilah yang terjadi: “Dan ketika Aku melihat Dia—kemuliaan yang luar biasa, Kristus yang telah bangkit, kemuliaan dan selubung wajahNya disingkirkan dan kemuliaan keilahian Allah bersinar-sinar seperti matahari terik—“Aku tersungkur di bawah kakiNya sama seperti orang mati, tetapi Ia meletakkan tangan kanan-Nya di atasku lalu berkata: “Jangan takut!” [Wahyu 1:17].

Ada sebuah perbedaan di sini, antara Yesus yang kita kenal di pelayananNya terhadap orang-orang miskin dan orang-orang sakit serta kematianNya di kayu salib. Ada sebuah perbedaan di sini antara Yesus yang kita ketahui memecahkan roti dengan dua orang murid di Emaus dan yang mengenali Dia saat mengucap berkat. Ada sebuah perbedaan antara Yesus yang berbelas kasihan dan penuh kasih dan Allah mulia yang dilihat Yohanes di sini di dalam Wahyu. Akan tetapi kita tidak harus berpikir demikian. Dia tidak berubah. Yohanes berkata, “Tetapi Ia meletakkan tangan kanan-Nya di atasku lalu berkata: “Jangan takut!” Itu adalah sikap gerak tubuh Yesus yang menjadi ciri khas dari Tuhan Yesus. Dan Dia meletakkan tangan kananNya di atas Yohanes. Seberapa sering dan seberapa banyak anda membaca di dalam kehidupan Tuhan kita dimana Dia menjamah orang buta dengan tanganNya, sehingga orang buta itu dapat melihat? Dia menjamah telinga orang buta dengan tanganNya, sehingga dia dapat mendengar. Dia menjamah orang-orang yang sakit dengan tanganNya dan mereka menjadi sembuh. Dia memeluk bayi-bayi dan memberkati mereka.

Tidak ada sebuah kisah yang paling dramatis di dalam seluruh firman Allah selain dari pada yang terdapat dalam Matius pasal delapan, di mana di situ dikatakan: “Maka datanglah seorang yang berpenyakit kusta” (Matius 8:1)— Maka datanglah seorang yang berpenyakit kusta kepadaNya. Bagaimanakah dia dapat datang kepada Yesus?  Tuhan dikerumuni oleh sekumpulan orang yang mendesaknya dari berbagai sisi. Akan tetapi orang kusta itu dapat menghampiriNya. Bagaimana hal itu dapat terjadi? Jawabannya sangat jelas. Berdasarkan hukum Musa, orang yang sakit kusta harus menutupi wajahnya, menutupi mulutnya dan berseru kemanapun dia pergi, “Najis, najis, najis.” Dan ketika orang-orang mendengar teriakan itu dan melihat orang yang menjijikkan dan berpakaian kumal itu, mereka akan menghindar. Dia akan selalu berjalan dalam sebuah lingkaran terbuka ketika orang-orang menghindari orang yang menjijikkan itu. Akan tetapi tidak demikian dengan Tuhan. Dia hanya berdiri di sana, dan orang yang sakit kusta itu datang kepadaNya. Dan Alkitab berkata: Lalu Yesus mengulurkan tanganNya dan menjamah orang itu, dan berkata: “Aku mau jadilah engkau tahir” (Matius 8:3). Itu adalah setengah penyembuhan. Dia telah lupa bagaimana rasanya, hangatnya sentuhan tangan seorang manusia. “Tetapi Ia meletakkan tangan kanan-Nya di atasku lalu berkata: ‘Jangan takut!”’

Karena Tuhan tidak berubah. Dia tetap sama. Hati yang berdetak di bawah ikat pinggang emas adalah hati yang sama, yang tergerak oleh belas kasihan atas orang banyak yang sama seperti domba-domba yang hilang. Tangan yang memegang ketujuh bintang itu adalah tangan yang sama yang dipaku di atas kayu salib. Mata yang menyala seperti suluh api itu adalah mata yang sama yang mengucurkan air mata di depan kuburan Lazarus. Di Getsemani dan di atas Kota Yerusalem, dan bibir serta lidah yang berbicara dengan otoritas dan suatu hari akan mengontrol dan memerintah dengan dengan roda besi, adalah bibir yang sama yang mengucapkan undangan yang berkata: “Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Dia tidak berubah. Hatinya tetap sama. Sekalipun dalam kesederhanaanNya dalam masa pelayananNya di dunia, sekalipun ketika Dia ditinggikan dan dimahkotai dengan raja kemuliaan, Dia tetap sama. “Tetapi Ia meletakkan tangan kanan-Nya di atasku lalu berkata: ‘Jangan takut!”’ Tersungkur  di bawah kaki Yesus dan sama seperti orang mati adalah jauh lebih baik dari pada hidup di tempat lain di dunia ini. Dan Dia akan menolong kita pada saat kita membutuhkan tepat pada waktunya. “Tetapi Ia meletakkan tangan kanan-Nya di atasku lalu berkata: ‘Jangan takut!”’

Kemudian kita memiliki sebuah gambaran pribadi dari keilahian Tuhan kita: “Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir, Dan Yang Hidup. Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup, sampai selama-lamanya dan Aku memegang segala kunci maut dan kerajaan maut” [Wahyu 1:17, 18].  Akulah yang awal dan yang akhir. Kita sangat terbiasa dengan dengan perkataan itu karena Allah Bapa di dalam menggambarkan diriNya sebagai yang awal dan yang akhir. Itu adalah sifat Ilahi. Dia adalah preeksistensi. Dia selalu ada. Tidak pernah ada sebuah waktu di mana Allah tidak ada, dan Allah itu adalah Kristus.

Pada mulanya adalah—ho logosFirman dan Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah—pros ton theon, muka dengan muka. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan…. Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran [Yohanes 1:1-14].

Akulah yang awal.  Ketika Yohanes memperkenalkan Dia, Yohanes berkata: “Dialah yang kumaksud ketika kukatakan: Kemudian dari padaku akan datang seorang, yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku” [Yohanes 1:30].  Kristus telah ada sejak awal. Tuhan berkata kepada orang-orang Yahudi “Sebelum Abraham jadi, Aku telah ada” [Yohanes 8:58]—“AKU ADALAH AKU” [Keluaran 3:14].  Tuhan Allah Mahabesar, Yehova Kristus, Tuhan Kristus—“Akulah yang awal dan yang akhir.”

Setelah raja-raja dibuang ke dalam debu tanah dan kekuasaan mereka berakhir, setelah kekayaan dunia berubah ke dalam bentuk dasar mereka dan setelah monumen dunia disingkirkan, dan dilupakan, Dia akan berkuasa sampai selama-lamanya.

Bahkan langit akan berlalu;

Dan sama seperti sebuah pakaian Engkau akan menggulungnya dan menyingkirkannya.

Tetapi Engkau, O Allah, dari kekal hingga kekal, dan tahun-tahunMu tidak akan ada habis-habisnya.

“Akulah yang awal dan yang akhir—Allah. Dan Akulah yang  hidup.” Semua kehidupan lainnya mengambil eksistensinya dari sumber-sumber lain. Bahkan dari dalam tanah, pada saat musim semi, nafas kita adalah pinjaman. Hidup kita diberikan kepada kita, tetapi Dia adalah  ha zon,—pribadi yang hidup. Dia memiliki kehidupan di dalam diriNya sendiri, “ “Dan aku mati—egenomen.—Aku akan mati,” “firman itu telah menjadi manusia” (Yohanes 1:14). Kata kerja yang berada dalam bentuk masa lampau: Aku telah mati. Tidak ada salib yang menggambarkan Yesus pada hari ini. Itu adalah sebuah salib yang kosong. Dan tanda serta abad-abad dari iman Kristen adalah sebuah salib tanpa Kristus di atasnya. Dia telah mati. Dia mati di sana untuk dosa-dosa kita. Dia adalah korban untuk jiwa-jiwa kita. Dia telah mati. Tetapi lihatlah, Aku hidup sampai selama-lamanya. Dan lagi, itu merupakan sebuah hal yang sangat jelas—idou zon emei.  Dia berkata, “Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup, sampai selama-lamanya”—eis tous aionas tou aionon, sampai selamanya-lamanya, dalam seluruh abad, dalam kekekalan hingga kekekalan—“ Aku hidup—seorang Pribadi yang hidup. Amin.  Dan Aku memegang segala kunci maut dan kerajaan maut” [Wahyu 1: 18].  Mereka berada di dalam tanganNya yang mulia. Saya tidak akan mati sampai Dia menghendakinya. Dan ketika hari itu datang, maka tangan yang telah di paku itulah yang akan membuka pintu anugerah, yang membuka pintu kemuliaan bagi saya. Dan Aku memegang segala kunci maut dan kerajaan maut. Mereka berada di dalam tangan Tuhan kita yang telah terpaku. Janglah takut.

Sekarang, untuk sejenak, dan saya masih memiliki waktu, bolehkan saya menyampaikan sebuah hal: “Lihatlah, Aku hidup, sampai selama-lamanya.” Lalu, Dia pastilah berada di sebuah tempat pada saat ini, bukankah begitu? Jika Dia hidup, Dia pasti berada di suatu tempat sekarang ini. Dimanakah Dia, dan apa yang sedang Dia lakukan? Dan bagaimana kita mengetahui bahwa Dia hidup? Saudaraku, setiap warga negara dalam imperium Roma telah melihat Dia hidup dan jika catatan wali negeri Roma telah  memberikan garis besar tentang kebangkitanNya, kesaksian dari manusia dua ribu tahun yang lalu tidak akan berkaitan dan berkuasa seperti pada hari ini. Apakah Dia hidup? Benarkah? Lalu, bagaimana anda tahu dan dimanakah Dia? Itu adalah hal yang sama seandainya ada seseorang di sebuah pengadilan yang sedang didakwa karena membunuh orang lain, dan sementara terjadi perdebatan apa yang sedang terjadi, orang yang diduga telah dibunuh berjalan ke pengadilan. Dapatkah anda membayangkan apa yang terjadi dengan bukti itu? Bukankah sama seperti itu. Bukti dari dua ribu tahun yang lalu, tidak memiliki kuasa dan kaitan sama seperti bukti yang ada sekarang ini. Jika Kristus hidup? Jika Dia hidup, dimanakah Dia dan apa yang sedang Dia lakukan? Lihatlah, Aku hidup, sampai selama-lamanya. Aku hidup sampai selama-lamanya. Lalu apakah dia di sini hari ini. Dimana?  Dan apa yang sedang Dia lakukan? Dan bagaimana anda mengetahuinya? Ini adalah sebuah kesaksian pada hari ini. Bagaimana anda mengetahui bahwa Dia hidup? Karena, yang pertama, Dia masih tetap menyembuhkan. Dia masih menyembuhkan.

Setelah ibadah pagi ini padal pukul 8.15, salah seorang anggota jemaat berkata kepada saya, “Saya akan pergi ke rumah sakit untuk sebuah operasi yang serius. Pendeta, maukah anda berdoa untuk saya? Maukah anda mengingat saya? Mintalah kepada Allah untuk memberkati dan menyembuhkan saya.” Dapatkah saya melakukan hal itu? Saya mungkin tidak akan percaya kepada penyembuh-penyembuh ilahi, tetapi saya percaya akan kesembuhan ilahi. Dokter dapat menulis resep obat dan ahli operasi dapat, tetapi hanya Allah yang dapat menyembuhkan, dan Dia tetap menyembuhkan. Dan Dia meletakkan tanganNya atas orang sakit. Dia melembutkan bantal yang di atasnya orang-orang yang berada di ranjang kesakitan meletakkan kepalanya. Dan ujung jubahnya dijamah oleh orang-orang yang membutuhkan kesembuhan anugerahNya. Dia masih tetap menyembuhkan.

Bagaimana anda tahu Dia hidup? Bagaimana anda tahu bahwa Dia melihat kita dan hadir bersama dengan kita? Bagaimana anda tahu? Alasan yang kedua bahwa Dia hidup adalah karena Dia tetap menjawab doa. Oh, seberapa sering kita berlutut di  hadapan Allah dan Tuhan menundukkan telingaNya untuk mendengar dan memberikan jawaban serta jaminan dari sorga? Dia masih tetap menjawab doa.

Yang ketiga, bagaimana anda tahu bahwa Dia hidup? Bagaimana anda tahu bahwa Dia mendengar? Bagaimana anda tahu bahwa itu adalah Dia? Alasan yang ketiga adalah karena Dia masih menyelamatkan jiwa-jiwa. Sebagaimana Dia telah menyelamatkan murid-murid, sebagaimana Dia telah menyelamatkan Saulus dari Tarsus, sebagaimana Dia telah menyelamatkan Timotius dan Titus, sebagaimana Dia telah menyelamatkan Polikarpus dan Papias, sebagaimana Dia telah  telah menyelamatkan Anathasius dan Ambrose, sebagaimana Dia telah menyelamatkan Savonarola dan John  Wycliffe, sebagaimana Dia telah menyelamatkan John Hus dan Felix Manz dan Balthasar Hubmaier, dan sebagaimana Dia telah menyelamatkan John Wesley dan George Whitefield dan sebagaimana Dia telah menyelamatkan Dwight L Moody dan Charles Haddon Spurgeon, dan sebagaimana Dia telah menyelamatkan B.H. Carroll dan George W. Truett, Dia masih tetap menyelamatkan. Dia telah menyelamatkan anda. Ada suatu hari ketika anda merasakan tarikan dari kehadiranNya dan mendengar suaraNya, undangan untuk datang kepadaNya. Dan anda menemukan Tuhan. Dia tetap menyelamatkan. Dia hidup. Dia tetap berkuasa. Untuk sementara bumi bukan sebagai penopang kakiNya, dan untuk sementara allah dunia ini membawa penderitaan dan masalah serta kedukaan bagi orang-orang kudus Allah, tetapi Dia sedang bertakhta di atas sorga, dan pada suatu hari Dia akan datang kembali. “Lihatlah, Ia datang dengan awan-awan dan setiap mata akan melihat Dia” (Wahyu 1:7), yang merupakan teks dari Wahyu yang mulia, penyingkapan Tuhan.

Dan yang terakhir, bagaimana anda tahu bahwa Dia hidup? Dimanakah Dia? “Aku mendengar dari belakangku suatu suara yang nyaring, seperti bunyi sangkakala Lalu aku berpaling untuk melihat suara yang berbicara kepadaku. Dan setelah aku berpaling, tampaklah kepadaku tujuh kaki dian dari emas. Dan di tengah-tengah kaki dian itu ada seorang serupa Anak Manusia” [Wahyu 1:12, 13].  Anak Allah—Yesus, sedang berjalan di antara jemaat-jemaatNya. Ketika umat Allah berkumpul, Ia ada di sana—ia ada di sini pada hari ini. Seringkali di hadapan Allah, di dalam kumpulan umat yang telah ditebusNya, hanya dengan duduk di sini, saya sangat merasakan kehadiranNya, yang kadang-kadang hal itu membuat saya menangis. Yesus ada di sisi, sekarang dan sampai selama-lamanya. Dia tidak akan mengambil RohNya. Dan kehadiranNya, dirasakan dan dilihat oleh mata iman, dan pada suatu hari akan dilihat oleh mata dari tubuh yang telah dibangkitkan.  “Tetapi aku tahu: Penebusku hidup, dan akhirnya Ia akan bangkit di atas debu. Juga sesudah kulit tubuhku sangat rusak, tanpa dagingkupun aku akan melihat Allah, yang aku sendiri akan melihat memihak kepadaku; mataku sendiri menyaksikan-Nya dan bukan orang lain. Hati sanubariku merana karena rindu.” [Ayub 19:25-27].  Dia hidup. Dia hidup. Dia ada di sini, dan Dia adalah Allah kita dan percaya kepadaNya dan mengkomitmenkan hidup dan jiwa kita kepadaNya.

Maukah anda melakukannya? Hari ini—pada hari Paskah ini, Hari Tuhan yang kudus ini, katakanlah, “Hari ini Aku memberikan hidupku dalam iman dan percaya kepada Tuhan yang mulia.” Maukah anda melakukannya? Bagi anda yang berada di atas balkon, dan bagi anda yang berada di lantai bawah, seseorang anda anda, maukah anda berkata, “Hari ini, saya membuat keputusan itu untuk Kristus.” Dalam sebuah kesempatan, ketika kita berdiri dan menyanyikan himne permohonan kita, dan saat kita menyanyikannya, sebuah keluarga, sebuah pasangan, atau seseorang dari anda, katakanlah, “Hari ini saya datang.” Letakkanlah hidup anda di dalam persekutuan jemaat ini. Berikanlah hidup ada ke dalam sebuah jalan yang baru di dalam Tuhan. Terimalah Tuhan sebagai Juruselamat anda. Ketika Roh Kudus menekankan seruan itu ke dalam hati anda, datanglah sekarang. Jawablah sekarang dengan seluruh hidup anda. Saat kita menyanyikan lagu kita pada baris yang pertama, datanglah. Jika anda berada di atas balkon bagian atas, di kursi yang terakhir. Datanglah dan turunlah melalui salah satu tangga itu. Dan jika anda berada di lantai bawah, berjalanlah melalui salah satu lorong bangku ini, dan majulah ke depan. Katakan, “Pendeta, inilah saya. Saya membawa seluruh keluarga saya. Ini istri saya dan anak-anak saya. Kami datang semua pada pagi hari ini.” Ketika Tuhan berbicara dan berseru di dalam hati anda, datanglah sekarang. Jawablah sekarang. Saat kita berdiri dan menyanyikan lagu permohonan kita.

Alih Bahasa: Wisma Pandia, Th.M.

Sumber: http://www.wacriswell-indo.org/wahyu%204%20-%20kemuliaan_yang_hidup.htm

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: