Beranda > BERITA > SUKHOI Superjet 100 Tergeletak di tumpukan Salak

SUKHOI Superjet 100 Tergeletak di tumpukan Salak


Pilot Aleksandr Yablontev dan Kopilot Aleksandr Kochetkov di dalam cockpit pesawat.

Majalah Detik – Mengenakan kacamata hitam, Aleksandr Yablontsev tertawa lebar. Bersama Aleksandr Kochetkov, ia diapit dua pramugari cantik berpose di depan pesawat Sukhoi Superjet 100. Pose itu diambil pada Rabu, 9 Mei 2012, sebelum Yablontsev menerbangkan pesawat komersial buatan Rusia itu. Nahas, pesawat menabrak Gunung Salak di Bogor, Jawa Barat. Seperti dilansir Reuters, 45 orang termasuk Yablontsev dan Kochetkov yang merupakan kopilot, yang menaiki pesawat itu tewas. Sukhoi nahas itu, sejatinya saat itu sedang melakukan joy flight, uji terbang untuk promosi.

Pesawat ini didatangkan ke Indonesia oleh PT Trimarga Rekatama, agen Sukhoi di Indonesia, terkait pesanan Maskapai Kartika Airlines dan PT Sky Aviation. Persiapan matang telah dilakukan untuk demo tersebut. Apalagi demo itu dilakukan di hadapan orang-orang penting. Hadir dalam demo itu sejumlah perwakilan dari Kementerian Perhubungan, perusahaan maskapai penerbangan nasional dan staf Kedubes Rusia di Jakarta.

“Buktinya pada demo flight pertama tidak mengalami kendala,” kata Wakil Menteri Perindustrian dan Perdagangan Rusia, Yuri Slyusar dalam jumpa pers di Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta, Jumat 11 Mei 2012. Penerbangan yang melintasi Gunung Salak memang merupakan demo kedua. Sebelumnya, pagi harinya, pesawat itu memang sukses menerbangi di sekitar kawasan Halim. Sebelum demo di Jakarta pun, Sukhoi komersial itu sudah sukses terbang di Myanmar, Pakistan, dan Kazakhstan.

Pemerintah Rusia juga mengklaim tidak ada yang salah pada mesin Sukhoi Superjet 100. Sukhoi yang nahas itu sudah dilengkapi teknologi canggih. “Saya mau memberi tahu bahwa tidak ada berita apapun terkait kesalahan teknis pesawat,” kata Yuri. Selain pesawat canggih, persiapan sudah matang, sang pilot pun diklaim sebagai pilot terbaik Rusia. Yablontsev merupakan orang yang membawa Sukhoi dari nol sampai memiliki sertifikat. Ia juga memiliki pengalaman terbang lebih dari 10 ribu jam. Dengan segala hal seolah tanpa cela, tentu mengherankan mengapa Sukhoi itu sampai celaka di Gunung Salak. Sesungguhnya apa yang terjadi? Mengapa pesawat canggih itu sampai menabrak lereng Gunung Salak dan menyebabkan 45 penumpangnya celaka?

Hingga kini penyebab kecelakaan ini masih misteri. Pengamat penerbangan Alvin Lie mengatakan, ada tiga macam jenis penyebab kecelakaan pesawat. Pertama human error , kedua faktor cuaca, ketiga adalah kondisi pesawat sendiri. Untuk kondisi pesawat, masih terbagi lagi menjadi tiga. Pertama disebabkan kesalahan pada struktur pesawat seperti sayap atau roda,   kedua kesalahan mekanis seperti sistem kontrol, hidrolik, atau sensor. Terakhir pada sistem elektrik atau elektrilisasi pesawat.

Sementara Rusia menyatakan kemungkinan besar kecelakan itu terjadi karena human error atau kesalahan manusia. “Para pakar berpendapat teknologi (Sukhoi) berfungsi dengan baik dan penyebabnya kemungkinan human error ,” papar Pejabat Wakil Presiden Rusia Dmitry Rogozin seperti dikutip situs berita Rusia RT.com, Kamis 10 Mei 2012. Kemungkinan human error ini bisa saja terjadi. Meskipun Yablontsev merupakan pilot terbaik Rusia, harus diingat ia mungkin saja kelelahan.

Ia dan kopilotnya sudah menjalani penerbangan marathon sejak 3 Mei 2012, sebelum ke Jakarta, pasangan ini juga telah menerbangkan pesawat ini ke Kazakhstan, Pakistan dan Myanmar. Selain itu, Yablontsev juga belum pernah terbang ke Indonesia sehingga tidak menguasai medan.

Namun, tidak berarti Sukhoi bukan tanpa masalah. Baru empat tahun terbang, pesawat ini sudah mengalami gangguan. Salah satu penerbangan dari Moskow ke Astrakhan sempat ditunda karena gangguan pada roda mesin. Sementara Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) menyebut kemungkinan penyebabnya adalah cuaca buruk. Saat kejadian kondisi cuaca buruk akibat awan Cumulonimbus (CB). Awan ini sangat berbahaya untuk dimasuki pesawat karena kondisinya sangat pekat. Kalau masuk pesawat bisa mengalami seperti terhantam benda keras, atau turun naik, bisa terpelanting ataupun pecah, dan hilang kendali.

BMKG membantah analisis Lapan. Sebab menurut pencitraan satelit BMKG, pada saat kecelakaan pesawat  di sekitar lokasi tidak terdeteksi kemunculan awan Cumulonimbus (CB). Hanya terdeteksi kemunculan awan menengah, jenis Altostratus dan Altocumulus. Namun jika masalah cuaca semestinya, Sukhoi bisa mengatasinya.  Pesawat ini juga dilengkapi radar cuaca sehingga pilot mampu melihat apakah awan yang mengadang di depan dalam kondisi aktif atau tidak.

Selain itu joy flight ini juga menyimpan banyak kejanggalan. Pertama, joy flight dari Bandara Halim Perdanakusuma, melewati rute Pelabuhan Ratu yang melintasi wilayah pegunungan yang gelap, sangat aneh. “Ini tidak lazim. Karena biasanya joy flight dilakukan pada rute yang lebih terang, yakni melintasi wilayah laut. Apalagi saat berada di pegunungan pilot minta izin turun di ketinggian ke 6.000 kaki. Padahal ketinggian Gunung Salak mencapai 7.000 kaki,” jelas pengamat penerbangan yang juga mantan petinggi Pelita Air, Samudera Sukardi.

Kejanggalan kedua, saat hilang kontak, ATC di Bandara Soekarno-Hatta,  Cengkareng, tidak menerima sinyal darurat, yang dikenal dengan Emergency Locator Transmitter (ELT). Alat ini secara otomatis akan memancarkan sinyal dalam keadaan darurat.

Padahal spesifikasi pesawat dari situs Sukhoi, dijelaskan pesawat Sukhoi Superjet 100 itu dilengkapi pendeteksi kegagalan sistem. Termasuk dilengkapi Traffic Collision Avoidance System (TCAS) generasi kedua alias sistem yang bisa mendeteksi bila pesawat itu akan mengalami tumbukan dengan pesawat atau objek lain. Sistem avionik pesawat ini juga memiliki keunggulan keselamatan penerbangan dan keandalan yang tinggi.

Jumlah penumpang juga simpang siur. Awalnya PT Trimarga Rekatama agen penjual Sukhoi Superjet 100 di Indonesia memastikan di joy flight kedua pesawat ini, ada 50 orang yang diangkut. Namun kemudian direvisi menjadi 48 orang lalu 47 orang. Dan yang terakhir dipastikan jumlah penumpang dan kru totalnya berjumlah 45 orang. Kini semua pihak sama-sama menanti hasil analisis dari kotak hitam yang ada di pesawat. Dengan alat ini bisa diketahui pembicaraan antara pilot dan pemandu lalu lintas udara atau ATC. Selain itu alat tersebut juga bisa mengetahui tekanan udara dan kondisi cuaca selama penerbangan. Untuk membaca informasi di kotak hitam tersebut dibutuhkan waktu paling tidak selama dua minggu. (den/Yog)

Baca juga Yang Mistis dan Yang Ilmiah di Gunung Salak dan Spesifikasi Sukhoi

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: