Beranda > BERITA > Yang Mistis dan Yang Ilmiah di Gunung Salak

Yang Mistis dan Yang Ilmiah di Gunung Salak


Spesifikasi Sukhoi Superjet 100

Majalah Detik – Sukhoi Superjet 100 (SSJ 100) merupakan pesawat yang dikembangkan Rusia untuk tujuan sipil pascaruntuhnya Uni Soviet. Pesawat ini tergolong sebagai pesawat regional yang bersaing dengan Bombardier (Kanada), Embraer E Jet (Brazil), dan  Antonov An-148 (Ukraina). SSJ 100 memiliki empat macam varian dengan dua kelas. Kelas pertama adalah SSJ 100–75 dan SSJ 100-75LR. Kelas ini dapat menampung penumpang 83, 78, atau 68 tempat duduk.

Secara fisik, kelas pertama memiliki panjang 26,44 meter, tinggi 10,3 meter, dan rentang sayap 27,8 meter. Kebutuhan landas pacu pesawat ini adalah 1.515 meter. Landasan ini menahan bobot pesawat 38.820 kg ketika tinggal landas dan 35.000 kg ketika mendarat. Pembeda varian dalam kelas ini adalah jarak tempuh. SSJ 100-75 dapat menempuh jarak 2.900 km sedangkan SSJ 100-75 LR dapat menempuh jarak 4.550 km.

Kelas kedua adalah SSJ 100-95 dan SSJ 100-95 LR. Kelas ini mampu menampung penumpang 103, 98, atau 86 penumpang. Kelas kedua memiliki panjang 29,9 meter, tinggi 10,3 meter, dan rentang sayap 27,8 meter. Pesawat kelas kedua memerlukan landas pacu sepanjang 1.803 meter. Landasan ini untuk menahan bobot 45.880 kg ketika tinggal landas dan 41.245 kg ketika mendarat. Jarak tempuh SSJ 100-95 adalah 2.048 km dan SSJ 100-95 LR dapat menempuh jarak 4.578 km.

Seluruh varian SSJ 100 mengandalkan dua mesin PowerJet SaM146 dengan kekuatan 156.000 lb. Mesin buatan Perancis dan Rusia ini mampu memberikan kecepatan maksimum 0,81 Mach atau 870 km/ jam.

Yang Mistis dan Yang Ilmiah di Gunung Salak

Gunung Salak Sering menjadi kuburan bagi peSawat yang melintas di atasnya. banyak misteri, ada yang bisa dijelaskan Secara ilmiah, ada yang mistis.

RuMah Haji Marsa tidak lagi seperti biasanya. Rumah yang terletak di kaki Gunung Salak itu jadi sangat ramai. Orang-orang berbondong-bondong menyambangi rumah itu sejak Kamis sore, 10 Mei 2012. Marsa kini memang menjadi ‘orang penting’ setelah pesawat Sukhoi Superjet 100, jatuh di kawasan Gunung Salak, Rabu, 9 Mei. Maklum Marsa adalah juru kunci gunung yang berdiri di perbatasan Bogor dan Sukabumi itu.

Awalnya polisi, Tim SAR, TNI, yang datang ke rumah Marsa. Namun kemudian, puluhan orang berbondong-bondong ke rumah yang terletak di Desa Cipelang, Kecamatan Cijeruk, Bogor, Jawa Barat itu. Mereka datang untuk tawasulan atau doa bersama untuk para korban.

“Mereka minta dimudahkan jalannya dan minta dimunculkan mayat para korban. Kalau gambaran puingnya kan ada, kalau mayatnya kan belum. Soalnya kalau tidak kita mudahkan, kalaupun di situ ada bangkai pesawat-nya poek bae teu kaciri (gelap tidak terlihat),” ujar Marsa saat berbincang dengan majalah detik.

Selain melakukan doa bersama, mereka juga minta Marsa ikut melakukan pencarian korban. Namun karena banyak kesibukan, Marsa hanya menitipkan kemenyan kepada rombongan pencari korban. Dengan “media” menyan, Marsa mengaku bisa melihat dari jauh lokasi dan posisi korban, dan dengan bantuan batin, Marsa meyakini jasad korban bisa ditemukan.

Gunung Salak merupakan gunung berapi dengan tinggi 2.221 meter yang terletak di Jawa Barat. Jarak gunung ini sekitar 64 kilometer dari arah selatan Jakarta. Secara administratif, Gunung Salak termasuk dalam wilayah Kabupaten Sukabumi dan Bogor. Sementara letak astronomis puncak gunung ini ialah pada 6°43’ LS dan 106°44’ BT. Gunung ini memiliki tiga puncak, yakni Puncak Salak I (2.211 m dpl), Puncak

Salak II (2.180 m dpl), dan Puncak Sumbul (1.926 m dpl). Meski bukan gunung yang tinggi, gunung yang namanya berasal dari bahasa Sansekerta, Salaka yang berarti perak ini dikenal punya medan pendakian yang sulit. Banyak para pendaki yang hilang dan tewas di gunung ini. Selain kisah sedih pendakian, gunung ini juga menyimpan tragedi dunia penerbangan. Paling tidak, dalam sepuluh tahun terakhir ini, tercatat 7 pesawat jatuh di sekitar gunung tersebut. Secara ilmiah, kawasan Gunung Salak memang kurang ramah bagi para penerbang khususnya pesawat ukuran kecil.

Kabut dan awan gelap yang mengandung listrik aktif kerap muncul secara tiba-tiba. “Pesawat tidak boleh terbang terlalu dekat dengan gunung. Pasalnya terdapat rotor angin yang dapat menarik pesawat turun. Hingga menyebabkan pesawat menabrak lereng,” kata Alvin, mantan pilot senior itu. Tragedi jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100 diduga akibat cuaca yang tidak bersahabat ini. Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) mengungkapkan, data satelit menunjukkan ada awan setinggi 37 ribu kaki saat pesawat dari Rusia itu menghilang.

“Data Multifunctional Transport Satellites (MTSAT) menunjukkan sekitar waktu kejadian, awan di sekitar Gunung Salak tampak sangat rapat dengan liputan awan lebih dari 70 persen,” ujar Profesor Riset Astronomi Astrofisika Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Thomas Djamaluddin kepada majalah detik.

Analisis indeks konveksi menggambarkan ketinggian awan juga menunjukkan adanya awan jenis CB alias Cumulonimbus yang menjulang tinggi sampai sekitar 37.000 kaki atau 11,1 km. “Data satelit itu memberi gambaran bahwa saat kejadian, pesawat dikepung awan tebal yang menjulang tinggi,” sambung Djamaluddin. Kasubdit Informasi Meteorologi Penerbangan BMKG Rekso Hartono menyatakan, awan CB sangat berbahaya untuk dimasuki pesawat karena kondisinya sangat pekat.
“Kalau masuk, pesawat bisa mengalami seperti terhantam benda keras, atau turun naik, bisa terpelanting ataupun pecah, dan hilang kendali. Seperti kecelakaan kendaraan menabrak lubang di jalan,” kata Rekso.

Namun Rekso menyatakan tidak memiliki data adanya awan CB saat terjadi musibah Sukhoi. Sesuai pencitraan satelit BMKG, pada saat kecelakaan pesawat, Rabu, 9 Mei pukul 14.12 WIB itu di sekitar lokasi tidak terdeteksi kemunculan awan CB. “Hanya terdeteksi kemunculan awan menengah, jenis Altostratus dan Altocumulus. Jenis awan ini tidak menyebabkan hujan lebat atau angin kencang, ini tidak membahayakan penerbangan,” tegas Rekso. Awan CB terpantau di sekitar stasiun pemantau BMKG di Dermaga, Bogor, sekitar 18 kilometer dari titik lokasi Sukhoi nahas. Awan CB di lokasi ini terpantau muncul pukul 14.00-16.00 WIB.

Banyaknya pesawat yang jatuh di sekitar Gunung Salak tidak lagi membuat heran warga di sekitar gunung. Bila secara ilmiah bisa diuraikan masalah cuaca, warga memiliki versi sendiri soal bahaya pesawat melintas di atas gunung berjuluk gunung perak itu. Ada cerita turun-temurun yang meramalkan Gunung Salak bakal menjadi kuburan pesawat. “Nah sekarang kebetulan banyak kejadian pesawat jatuh,” ujar Marsa, Juru Kunci Gunung Salak.

Gunung Salak bagi warga sekitar merupakan tempat yang dianggap wingit atau angker. Kisah tempat angker itu muncul tidak lepas dari mitos tentang Prabu Siliwangi, Raja Padjajaran yang sampai saat ini belum diketahui keberadaanya (kuburannya).  Konon, Prabu Siliwangi menghilang di Gunung Salak untuk menghindari kejaran Kian Santang agar masuk Islam. Prabu Siliwangi yang bersembunyi di belantara kemudian terkepung. Tapi ajaibnya, sang Prabu bisa meloloskan diri dengan mengapung ke udara.

Tempat yang diduga tempat menghilangnya Prabu Siliwangi kemudian dinamakan pengapungan. Lokasinya tidak jauh dari Kawah Ratu. “Bukan hanya tubuhnya saja yang mengapung, tanah yang dipijaknya juga ikut terangkat,” kata Marsa. Gunung Salak dianggap angker juga karena ada banyak makam para raja di sana. Di kawasan ini terdapat paling tidak 40 makam kuno yang berusia ratusan tahun.
Selain makam, di sini juga ada petilasan suci yang tersebar di berbagai titik. Seperti petilasan milik Raja Padjajaran, Prabu Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi di kaki Gunung Salak di daerah Bogor dengan total mencapai lebih dari 91 lokasi.
Karena keramat, warga meyakini tidak boleh ada yang lewat di Gunung Salak terlebih dengan angkuh. Setelah banyaknya kecelakaan, masyarakat minta pemerintah mendirikan mercusuar supaya jadi petunjuk pesawat yang lewat di kawasan itu. Namun sampai sekarang usulan itu tidak kunjung ada tanggapan.

Jualan Sukhoi dari Pasar Asemka

PT Trimarga Rekatama adalah Pemasok alutsista dari Rusia. Juga agen Jet komersial Terbaru sukhoi. namun, keberadaannya Tak begitu Jelas. Sebuah ruko berlantai tiga berdiri di pinggiran Pasar Tradisional Asemka, Jakarta Barat (Jakbar). Dindingnya berlapis keramik warna putih. Sebagian besar sudah kusam. Tak terawat.

Tak ada aktivitas mencolok di ruko itu. Pintunya pun dalam keadaan terkunci rapat. Di emperan, terparkir beberapa mobil milik pengunjung pasar. Kuli panggul sesekali lewat sambil mengangkut barang. Sepintas, ruko itu mirip perkantoran biasa yang  sedang kosong. Kantor perusahaan apa? Tidak jelas. Tak ada petunjuk berupa pelang nama.

Beberapa pedagang mengenal kantor itu sebagai milik PT Trimarga Rekatama. Babe, seorang pedagang rokok yang tak jauh dari kantor itu mengaku sering ditanyai tukang pos ke alamat kantor itu. Namun, ia tak mengetahui jenis usahanya. Babe terperanjat ketika diberitahu, Trimarga adalah rekanan pabrik jet tempur dari Rusia, Sukhoi. Tak dinyana, pemasok pesawat super canggih itu berkantor di sebuah ruko yang boleh dibilang tak layak.

Namun, Konsultan Bisnis Trimarga, Marsma (Purn) Sunaryo mengakui kantor perusahaannya memang di Pasar Asemka. “Itu kantor pusat. Kantor lainnya ada di Jl. Mabes Hankam No. 51, Jakarta Timur,” kata Sunaryo kepada majalah detik.

Trimarga menjadi bahan pergunjingan pascaterjadinya kecelakaan pesawat Sukhoi Superjet 100 di Gunung Salak, Bogor, Jawa Barat, Rabu 9 Mei yang lalu. Sebanyak 45 orang tewas dalam penerbangan untuk kepentingan demo pesawat (joy flight) itu. Trimarga diketahui juga menjadi agen Sukhoi di Indonesia untuk penjualan pesawat komersial terbarunya itu. Di Indonesia, setidaknya sudah ada dua maskapai nasional yang memesan pesawat itu, yakni Sky Aviation (12 unit) dan Kartika Airlines (30 unit).

Namun, tak hanya kantornya saja yang aneh. Saat terjadi musibah Sukhoi, hanya ada dua orang dari Trimarga yang nongol memberikan keterangan. Selain Sunaryo yang mondar-mandir melayani media, ada pula Indra Djani. Sama seperti rekannya, Indra adalah konsultan Trimarga.

Disebut-sebut, perusahaan itu merupakan milik seorang berdarah tionghoa. Namanya, Eng Jin Tjong alias Sujito Eng. Pria ini dikenal punya akses luas ke pejabat dan petinggi negara.Selain Sunaryo, banyak purnawirawan TNI AU yang bergabung di perusahaan milik Sujito itu. Maka tak heran Trimarga menjadi partner TNI. Namun, baik Sunaryo, Indra, maupun Sujito sendiri belum mau membuka diri mengenai hal itu. Sujito yang dihubungi via telepon, tak memberikan jawaban.

Dalam dokumen yang diperoleh majalah detik, Trimarga tercatat juga sebagai pemegang saham mayoritas di PT Citra Persada. Citra Persada merupakan rekanan lama Kementerian Pertahanan dalam pengadaan alat utama sistem pertahanan (alutsista), khususnya untuk TNI AL.

Beberapa alutsista yang didatangkan oleh Citra Persada antara lain tank BMP-3F, kapal layar latih, tank BMP3 APC, dan mesin kapal MAN untuk Fatahillah Class. Untuk pengadaan jet tempur Sukhoi, Trimarga adalah rekanan Rosoboronexport di Indonesia. Rosoboronexport merupakan  BUMN Rusia yang ditunjuk sebagai marketing seluruh jenis alutsista Rusia. Trimarga terlibat dalam pembelian enam unit Sukhoi SU-30 MK2 tahun 2011 lalu.

Indra tak menyangkal hal itu. Menurutnya, Trimarga adalah agen tunggal yang digandeng Rosoboronexport untuk penjualan Sukhoi itu. Keberadaan agen tunggal ini telah sesuai peraturan. “Aturannya ada di Dirjen Kemendag,” katanya.

Namun, adanya agen lokal dalam jual beli jet tersebut bukannya tanpa kritik. Sejumlah LSM menilai adanya agen itu menyebabkan terjadi penggelembungan harga. Harga Sukhoi yang tercantum dalam pro-forma invoice adalah US$90 juta per unit. Sedangkan berdasarkan rilis resmi Rosoboronexport, harga jual Sukhoi adalah US$60-US$70 juta per unit. Atau menurut hitungan keseluruhan, biaya pembelian Sukhoi itu membengkak dari anggaran semula, US$470 juta menjadi lebih dari US$500 juta.

Menurut Direktur Program Imparsial Al Araf, saat Koalisi LSM mempertanyakan hal itu, tak ada jawaban resmi dari pemerintah maupun Trimarga saat itu. “Tampaknya ada masalah kredibilitas dengan Trimarga ini,” kata Al Araf kepada majalah detik.

Berdasarkan pengumuman Mabes TNI AU tanggal 21 Oktober 2011 lalu, nama Trimarga juga disebut sebagai agen Rosoboronexport. Namun, Kemenhan belakangan menyangkal dilibatkannya agen tertentu dalam pembelian pesawat pesaing F/A-18E/F Super Hornet buatan Amerika Serikat (AS) itu. Sejak 2010, Kemenhan mengaku pengadaan alutsista bersih dari agen atau rekanan. “Kita sendiri dalam pengadaan Sukhoi tempur yang kita kenal cuma Rosoboronexport saja,” ujar Kapuskom Publik Kemenhan, Brigjen TNI Hartind Asrin kepada majalah detik.

Di tubuh Citra Persada sendiri bukannya tanpa masalah internal. Pada Maret 2011, dikabarkan di antara pemilik saham perusahaan itu ribut mempersoalkan pembukuan dan pembagian keuntungan. Salah seorang pemegang saham, Syarifudin Julinar, mengajukan tuntutan.

Gara-gara konflik perusahaan itu, Inspektorat Jenderal Kemenhan pernah mengusulkan kepada Menhan Purnomo Yusgiantoro untuk sementara menghentikan kongsi dengan Citra Persada. Hal ini untuk menghindari agar Kemenhan tak terseret-seret dan terjadinya kerugian.

Namun, menurut Indra, Kemenhan pernah berupaya memediasi perselisihan internal Citra Persada itu. Karena tak ada iktikad untuk menyelesaikan masalah itu dari pihak Syarifudin, maka Kemenhan menyarankan agar ditinggalkan saja. “The show must go on. Kegiatan pemerintah masa harus terhambat karena gara-gara satu orang saja?” ucapnya.

Mengenai riwayat bisnis penjualan Sukhoi Superjet 100 dengan Trimarga, Indra belum mau membagi cerita. Namun, ia mengatakan, karena sudah berpengalaman dalam penjualan Sukhoi, maka pabrikan Sukhoi Civil Aircraft Company (SCAC) menggandengnya kembali dalam penjualan pesawat komersial itu.

“Karena Trimarga sudah kenal baik, maka otomatis Sukhoi memilih Trimarga sebagai agennya,” cetusnya.Yang jelas, hingga kini dua maskapai nasional sudah menyepakati kontrak pembelian pesawat itu. Tanggal 16 Agustus 2011, dalam sebuah gelaran di Kementerian Perhubungan, PT Sky Aviation menandatangani pembelian pesawat senilai US$380,4 juta. Presiden SCAC Vladimir Prisyazhnyuk hadir saat itu. Kontrak pembelian juga sudah dilakukan Sukhoi dengan  Kartika Airlines, maskapai yang sebelumnya dikategorikan tidak sehat oleh Kemenhub. Sebanyak 30 pesawat yang dipesan rencananya akan datang bertahap mulai tahun ini.
“Kita mengurus korban dari kita dulu dan menunggu hasil investigasi,” ucap Komisaris Kartika Airlines, Arifin Seman mengenai apakah kontrak itu akan dibatalkan menyusul musibah Superjet.

Mimpi Rusia Membentur Gunung Salak

InduStRI penerbangan Rusia sudah dirancang sejak lama, namun remuk redam seiring dengan jatuhnya Uni Soviet tahun 1991. Setelah itu, Rusia berupaya untuk membangkitkan lagi industri burung besi itu. Pabrikan Sukhoi merancang pesawat sipil sejak tahun 2000. Superjet 100 menjadi pesawat komersial pertama yang dibangun dengan dukungan penuh pemerintah. Mereka juga menggandeng Boeing dan Italia serta Perancis untuk itu.

Kesuksesan dicapai ketika pesawat pengganti TU-134 dan YAK-42 itu terbang perdana pada 2008. Pada Februari 2011, Superjet 100 telah meraih Sertifikat Type (Type Certification) dari Otoritas Sertifikasi Rusia dan sertifikasi dari Otoritas Penerbangan Uni Eropa (EASA). Superjet 100 secara perdana digunakan maskapai Aeroflot Russian Airlines dan Armenia. Kemudian, Sukhoi melebarkan sayap ke kawasan Asia. Menurut pengamat Agus Sudibjo, pasar di Asia, terlebih Indonesia, terus tumbuh. Indonesia yang secara geografis berbentuk kepulauan butuh pesawat berkapasitas 90 penumpang itu.

“Banyak bandara di Indonesia yang pendek, tak bisa didarati pesawat besar seperti Boeing dan Airbus,” kata dia.
Sukhoi menyasar maskapai-maskapai kelas menengah. Supaya bisa menggaet konsumen, Sukhoi menawarkan harga yang murah (US$35 juta) dengan cara pembiayaan mudah. Untuk promosi, selain menggandeng agen, Sukhoi juga promosi langsung ke berbagai maskapai nasional.

Salah satu yang pernah ditawari adalah PT Merpati Nusantara Airlines. Dirut Merpati Sardjono Johnny Tjitrokusumo mengatakan setidaknya dua kali didatangi Sukhoi. “Saya juga pernah ke Rusia langsung untuk melihat pabriknya. Saya naik ke pesawatnya,” kata dia. Namun, bagi Merpati, sampai saat ini Sukhoi masih sekadar opsi. Banyak pilihan pesawat sekelas yang kini sedang dipertimbangkan Merpati, yaitu Embraer (Brazil), Bombardier (Kanada) , dan A-RJ (China).
Sukhoi sudah  mendapatkan pemesan seperti Maskapai Sky Aviation dan Kartika Airlines. Namun, jatuhnya Superjet 100 saat demo flight di Gunung Salak memunculkan prediksi-prediksi tentang bisnis Superjet 100, yang rencananya akan diproduksi 1.000 unit untuk 100 maskapai. Hasil penyelidikan akan cukup memengaruhi bisnis Sukhoi. Bila terbukti ada kesalahan teknis, maka bisnis Sukhoi bisa terhambat. Ia menduga Rusia akan ngotot meminta black box  dan serpihan pesawat itu dibawa ke Rusia untuk diteliti sendiri. “Menurut saya, proyek Rusia ini bisa terkubur,” ucap Agus.

Di Rusia, seorang analis menilai jatuhnya Superjet 100 merupakan pukulan berat bagi Sukhoi. Sebab, apapun nanti hasil penyelidikan, dunia melihat pesawat baru kebanggaan Rusia jatuh.  Padahal seluruh potensi sudah dipertaruhkan untuk pesawat ini.

Korban Pesawat Sukhoi SSj100

Awak Pesawat:
Alexander Yablontsev [Pilot]
Alexander Konchetkov [Kopilot]
Oleg Shetsov [Navigator Aero]
Aleksey Kirkin [Teknisi Pesawat]
Dennis Rakhmanov
[Pemimpin Teknisi Tes Pesawat]
Nikolay Martyshenko
[Kepala Deputi Tes Penerbangan]
Evgeny Grebenshchikov
[Direktur Penjualan Sukhoi]
Kristina Kurzhukova [Manager Kontrak]
Penumpang :
1. Kornel M. Sihombing (PT. Dirgantara Indonesia)
2. Edie Satriyo (Pelita Air)
3. Darwin Pelawi (Pelita Air)
4. Gatot Purwoko (Airfast)
5. Peter Adler (Sriwijaya), diketahui sebagai warga negara AS.
6. Herman Suladji (Air Maleo)
7. Donardi Rahman (Aviastar)
8. Anton Daryanto (Indonesia Air Transport)
9. Arief Wahyudi (PT. Trimarga Rekatama, pembawa daftar manifes asli penumpang penerbangan)
10. Haidir Bachsin (PT. Catur Daya Prima Dirgantara)

11. Nam Tran (Snecma) warga Vietnam berkebangsaan Perancis
12. Rully Darmawan (Indo Asia)
13. Ahmad Fazal (Indo Asia)
14. Edward Edo M (Indo Asia)
15. Ismiyati (Trans T V)
16. Aditya Sukardi (Trans T V)
17. Dodi Aviantara (Angkasa Magazine)
18. D.N Yusuf (Angkasa Magazine)
19. Femi (Bloomberg)
20. Stephen Kamachi (Indo Asia)
21. Capt. Aan (Kartika)
22. Yusuf Ari Wibowo (Sky Aviation)
23. Maria Marcella (Sky Aviation)
24. Henny Stevani (Sky Aviation)
25. Maisyarah (Sky Aviation)
26. Dewi Mutiara (Sky Aviation)
27. Susana Pamela (Sky Aviation)
28. Nur Ilmawati (Sky Aviation)
29. Rossy Withan (Sky Aviation)
30. Anggi (Sky Aviation)
31. Aditia (Sky Aviation)
32. Insan Kamil (PT Trimarga Rekatama)
33. Salim K (Sky Aviation)
34. Ade Arisanti (Sky Aviation)
35. Raymond Sukando (Sky Aviation)
36. Santi (Sky Aviation)
37. Ganis Arman Zuvianto (Indonesia Air Transport)

Baca juga  SUKHOI Superjet 100 Tergeletak di tumpukan Salak

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: