Beranda > DOKTRIN GEREJA > JEMAAT (GEREJA) ALBIGENSES, PETROBRUSIAN, HENRICIAN, ARNOLDIST DAN BERENGARIAN

JEMAAT (GEREJA) ALBIGENSES, PETROBRUSIAN, HENRICIAN, ARNOLDIST DAN BERENGARIAN


GBIA Semarang – Telah diindikasikan bahwa kaum Paulician berasal dari Armenia, melalui Thrace, kemudian menetap di Perancis dan Italia, dan menyebar serta memperoleh pengikut hampir di seluruh negeri Eropa. Asal usul kaum Albigensian (Albigenses) telah dilacak oleh para penulis dan dinyatakan berasal dari kaum Paulician (Encyclopaedia Britannica, I, 454, edisi ke-9). Para penulis terakhir meyakini bahwa kaum Albigenses telah menghuni lembah-lembah di Perancis sejak awal masa Kekristenan. Prof. Bury mengatakan bahwa “mereka tetap hidup di Perancis Selatan,” dan mereka bukan hanya sekedar sekelompok “Bogomilisme, namun mereka merupakan kelompok lokal purba yang bertahan.” Mr. Conybeare percaya bahwa mereka hidup sejak masa awal di Semenanjung Balkan, “yang kemungkinan besar merupakan basis Bogomilisme” (Bury, Editor Gibbon, History of Rome, VI, 563).

Penyebaran yang cepat terjadi di seluruh Perancis Selatan dan kota kecil Albi di distrik Albigeois yang merupakan pusat kelompok tersebut. Dari kota inilah mereka dikenal sebagai Albigenses. Di Italia kaum Albigenses terkenal dengan berbagai sebutan, seperti Paulician, “Orang yang Baik” dan lainnya. Sulit untuk menjelaskan asal-usul semua nama tersebut; namun diantaranya berasal dari fakta bahwa mereka dianggap kasar, buta huruf dan rendah pendidikannya; sementara sebutan-sebutan yang lain diberikan berdasarkan kemurnian dan kehidupan mereka yang wajar. Sungguh luar biasa bahwa penelitian yang mengungkap kaum Albigenses tidak menuduh mereka amoral, namun mereka dituduh berdasarkan spekulasi, atau atas dasar perilaku mereka yang saleh, yang dihitung oleh Katolik Roma sebagai ajaran sesat. Mereka berpegang bahwa gereja harus beranggotakan orang-orang yang baik; jemaat tidak punya wewenang untuk menyusun lembaga apapun; tidak boleh mengambil sumpah; tidak ada hak untuk membunuh manusia; seseorang tidak boleh diserahkan kepada pejabat untuk dipaksa bertobat; kepentingan kelompok adalah milik dari anggota kelompok itu sendiri; iman tanpa perbuatan tak akan menyelamatkan; gereja tidak boleh menganiaya siapapun, bahkan orang jahat sekalipun; hukum Musa tidak berlaku lagi terhadap orang Kristen; tidak lagi diperlukan imam, terutama imam-imam yang jahat; sakramen, perintah, dan upacara-upacara gereja Roma merupakan hal yang sia-sia, mahal, menekan, dan jahat. Mereka membaptis dengan cara selam dan menolak baptisan bayi (Jones, The History of the Christian Church, I, 287).

Jelas sekali mereka menolak keimamatan. “Disinilah kemudian,”kata Dr. Allix, “kita temukan sekumpulan orang di Italia, sebelum tahun 1026, yakni 500 ratus tahun sebelum Reformasi, yang mempunyai keyakinan yang bertentangan dengan Gereja Roma dan demikian mengutuk kesalahan mereka”. Atto, Uskup dari Vercelli telah mengadukan kelompok tersebut 80 tahun sebelumnya, begitu juga halnya dengan para pendahulu Atto yang dengan demikian kuat mengemukakan alasan yang meyakinkan bahwa mereka ada di Italia (Ibid, I, 288). Kaum Cathari sendiri membanggakan pertalian hubungan mereka yang sudah kuno tersebut (Bonacursus, Vitae haereticorum… Cathorum, ap. D’Archery, Scriptorum Spicilegiam, I, 208).

Dalam menelusuri sejarah dan doktrin kaum Albigenses jangan dilupakan bahwa dalam catatan penganiayaan, mereka hampir tidak meninggalkan jejak tulisan, pengakuan, pembelaan, atau pendapat mereka; dan pernyataan-pernyataan yang dituduhkan kepada mereka oleh para penulis Katolik Roma yang dinyatakan sebagai musuh mereka, sungguh sangat dilebih-lebihkan. Perkataan seorang sejarawan yang tidak menyetujui prinsip-prinsip mereka dapat dikutip disini. Ia mengatakan: Namun terbukti, bahwa mereka mendirikan cabang yang berasal dari arus besar sektarianisme dan bidat yang muncul jauh di Asia berasal dari hasil kontak Kekristenan dan agama-agama Timur, dan dengan menyeberangi Semenanjung Balkan, tiba di Eropa Barat. Luapan pertama dari sumber ini adalah kaum Manichaean, berikutnya adalah Paulician, kemudian Cathari, yang pada abad kesepuluh dan kesebelas sangat kuat di Bulgaria, Bosnia, dan Dalmatia. Mengenai kaum Cathari, Bogomil, Patoreni, Albigenses, dll. … itu hanya merupakan perkembangan individual (C. Schmidt, Schaff-Herzog, I, 47).

Dengan kata lain, kelompok-kelompok tersebut berasal dari rumpun yang sama, dan hubungan ini lebih dikukuhkan karena faktor-faktor cemoohan yang diungkapkan didalam ucapan penulis tersebut.

Telah diindikasikan bahwa kaum Paulician bukanlah kaum Manichaean, demikian juga halnya dengan kaum Albigenses. Kaum Albigenses terhimpit karena sentimen ini, dimana tuduhan yang sama juga ditujukan terhadap kaum Waldenses. Tudingan ini harus disikapi dengan hati-hati, dan para penuduh tidak boleh buru-buru dipercaya. Gereja Katolik Roma sangat rajin mencari-cari alasan untuk menganiaya. Bahkan Lutherpun diumumkan oleh Sinode di Lens sebagai seorang Manichaean. Uskup Agung Ussher yang terkenal mengatakan bahwa tuduhan “Manichaean terhadap sekte Albigenses terbukti salah” ( Acland, The Glorious Recovery of the Vaudois, lxvii, London, 1857). Sulit untuk memahami kaum Albigenses dari sudut pandang filosofis. Mereka bukanlah suatu kelompok metafisikal. Apa yang mereka pertahankan bukanlah filosofi, namun iman dan praktek hidup sehari-hari yang dipuji di wilayah Perancis Selatan yang makmur.

Mereka meyakini adanya pembagian orang-orang percaya kedalam dua kelompok – yang sempurna dan yang tidak sempurna. Ini merupakan pengelompokan yang umum dari kaum Paulician, Waldenses dan Anabaptis. Catatan yang paling teliti diberikan dalam penahbisan seorang perfecti (yang sempurna) dengan pembaptisan satu kali ke dalam tubuh orang-orang yang percaya (Beausobre, Historie du Manichaeanism, II, 762-877).

Kaum Waldenses ditemukan juga di kota Albi dan mereka juga disebut sebagai Albigenses karena mereka tinggal di dalam kota tersebut (Martin Schagen, The History of the Waldenses, 110). Gerakan tersebut berasal dari Italia dan kemudian meluas ke Perancis Selatan; dan lahan itu telah dipersiapkan dengan baik untuk benih tersebut. Negeri tersebut merupakan bagian Perancis yang paling ramai penduduknya, kaya, maju, dan independen; penduduknya periang, intelek, dan progresif; sementara Gereja Katolik Roma sudah tumpul, bodoh dan kejam; imam-imamnya tidak dapat dibedakan selain karena ketahyulan, kebodohan, kesewenang-wenangan, kekejaman dan keburukannya. Dalam keadaan demikian gagasan untuk kembali kepada kemurnian dan kesederhanaan masa kerasulan berhasil menarik perhatian masyarakat. Tuntutan moral yang keras dari kaum Albigenses membawa pengaruh yang sangat besar, karena contoh-contoh yang mereka lakukan sesuai dengan apa yang mereka katakan. Mereka hidup dengan prinsip yang dimeteraikan dengan kemurnian hidup yang keras dan diketahui serta didukung oleh semua golongan. Tidaklah heran jika masyarakat meninggalkan para imam Katolik Roma dan berkumpul di dalam Boni Homines. Dalam waktu singkat kaum Albigenses telah memiliki jemaat dan kelompok serta lembaga-lembaga sosial sendiri. Gereja Katolik Roma menjadi sebuah bahan cemoohan (Schaff-Herzog, I, 47).

Keadaan ini sangat mengkhawatirkan dan menjengkelkan Paus. Pada tahun 1139 mereka dikutuk oleh Sidang Lateran, demikian juga dalam Sidang di Tours pada tahun 1163, dan misi demi misi dikirim untuk membujuk mereka kembali kepada Gereja Katolik Roma. Kardinal Henry pada tahun 1180 menggunakan kekuatan. Paus Innocent III mengumumkan perang terhadap mereka. Sejarawan Hume mengatakan: Masyarakat seluruh Eropa karena tergerak oleh ketahyulan dan napsu mereka untuk berperang dan berpetualang, berduyun-duyun datang ke panjinya. Simon de Monfort, jenderal dalam perang itu, secara sepihak menyatakan diri berkuasa atas propinsi-propinsi tersebut. Count of Toulouse (Bangsawan Toulouse), yang melindungi, atau barangkali hanya memberi toleransi kepada kaum Albigenses, dilucuti daerah kekuasaannya. Dan anggota-anggota kelompok itu sendiri, meskipun merupakan manusia yang paling tidak mengganggu dan tidak bersalah, dimusnahkan dengan perlakuan yang sangat kejam dan sadis (Hume, History of England, II, bab XI).

Dalam peperangan yang kedua, kota pertama yang ditawan adalah Braziers yang memiliki kira-kira empatpuluh ribu penduduk. Ketika Simon de Monfort, Earl of Leicester bertanya kepada Abbot (Kepala Biara Laki-laki) dari Ceteaux, wakil kepausan, apa yang harus dilakukan dengan para penduduk itu, wakil tersebut mengatakan: “Bunuh mereka semua. Tuhan mengenal kepunyaanNya sendiri”. Dengan pola demikianlah perang tersebut berlangsung selama duapuluh tahun. Kota demi kota ditawan, dijarah, dan dibakar. Tidak ada yang tertinggal selain sisa-sisa kebakaran. Kefanatikan agama memicu perang tersebut; napsu keserakahan dan diakhiri oleh ambisi. Perdamaian ditandatangani pada tahun 1229, dan Inquisition (pengadilan Gereja Katolik Roma yang menghakimi orang-orang yang menentang otoritas mereka) mengakhiri peperangan maut itu.

Banyak sekali bukti yang menyatakan bahwa kaum Albigenses menolak baptisan bayi. Pada tahun 1119 AD. mereka divonis oleh Sidang yang diselenggarakan di Toulouse karena masalah ini (Maitland, Facts and Documents Illustrative of the Albigenses, 90, London, 1832), dan Sidang di Albi pada tahun 1165 (Allix, The Ecclesiastical History of Piedmont, 150). Para sejarawan menegaskan bahwa mereka memang menolak baptisan bayi. Chassanion mengatakan: “Saya tidak dapat membantah bahwa kaum Albigenses menempati posisi yang lebih besar dalam menentang baptisan bayi; sebenarnya mereka bukan menolak sakramen tersebut sebagai hal yang tidak ada gunanya, tetapi hanya menyatakan tidak perlu bagi bayi” (Chassanion, Historie des Albigeois, Jenewa, 1595). Dr. Daniel Comba dari Waldensian Theological College (Sekolah Theologi Waldenses), Florence, Italia, sejarawan Waldenses yang terakhir, berkata bahwa kaum Albigenses menolak “semua sakramen kecuali baptisan yang diperuntukkan kepada orang-orang percaya” (Comba, History of the Waldenses, 17, London, 1889).

Kisah tersebut merupakan hal yang menyedihkan. Kata Everwin dari Steinfeld, “Kami hidup dalam kehidupan yang sulit dan luntang-lantung. Kami melarikan diri dari satu kota ke kota yang lain bagai domba ditengah-tengah serigala. Kami menderita penganiayaan seperti para rasul dan para martir karena hidup kami yang kudus dan cermat. Hal tersebut terjadi ditengah-tengah pergumulan doa, menahan napsu, dan beban, namun segala-galanya menjadi mudah bagi kami karena kami bukan berasal dari dunia ini (Schmidt, Hist. et. doct. de la secte des Cathares, II, 94). Dr. Lea, seorang ahli terkemuka tentang Inquisition, mengatakan bahwa tidak ada satu agamapun yang dapat menunjukkan catatan korban yang tiada putusnya dan yang tidak gentar menantang kematian dalam bentuk yang paling mengerikan daripada menjadi murtad, kecuali kaum Cathari.

Peter dari Bruys, seorang pengkhotbah Baptis yang terkenal pada masa itu, kira-kira pada tahun 1100 mencari sebuah pemulihan agama yang benar di Languedoc dan Provence, Perancis. Ia menganggap bahwa Injil harus dipahami secara literal dan ia menekankan persyaratan Alkitab dan bukan berdasarkan tradisi dari mereka yang berusaha menolaknya. Ia merupakan murid dari Abelard yang terkenal. Dollinger mengira ia mempelajari doktrinnya dari kaum Cathari dan menyajikan banyak dasar untuk mempertahankan pendapatnya. Yang lainnya mengira bahwa ia mensyaratkan keberadaan kehidupan alkitabiah tua yang hidup ratusan tahun sebelumnya di Italia dan Perancis Selatan. Kata Prof. Newman, “Banyak bukti tentang ketekunan di Italia Utara dan di Perancis Selatan, yang berasal dari masa mula-mula mengenai jenis-jenis Kekristenan yang alkitabiah” (Newman, Recent Researches Concerning Mediaeval Sects, 187).

Musuh utamanya adalah Peter Yang Agung, Kepala Biara Clugni, dan dari buku Peterlah (Contra Petrobrusianos, Patrologia Lat. CLXXXIX, 729) kita dapat menilai doktrin-doktrin Peter dari Bruys. Ia mempertahankan bahwa jemaat merupakan sebuah tubuh rohani yang terdiri dari pribadi-pribadi yang sudah lahir baru. “Jemaat Allah,” kata Peter dari Bruys, “bukan terdiri atas tumpukan banyak batu yang disatukan, tetapi persatuan orang-orang percaya yang berkumpul.” Ia mempertahankan bahwa orang tidak boleh dibaptis kecuali atas kesadaran dan berdasarkan keputusan mereka sendiri. Karena itulah ia menolak baptisan bayi dengan merujuk kepada Mat. 28: 19 dan Mrk. 16: 16. Ia menolak bahwa “anak-anak, sebelum mencapai usia pemahaman, dapat diselamatkan dengan baptisan Kristus [Pernyataan Katolik Roma mengenai keyakinannya], atau bahwa iman yang lain dapat membantu mereka yang tidak dapat menjalankan imannya karena, menurut mereka (kaum Petrobrusian), bukan iman orang lain, tetapi iman mereka sendirilah yang menyelamatkan, sesuai dengan Firman Tuhan. Mereka yang mau percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi mereka yang tidak percaya akan dihukum.” Lanjutnya, “Bayi, meskipun telah dibaptis oleh anda [Katolik Roma], oleh karena usia mereka yang belum bisa percaya, adalah belum diselamatkan [yaitu dengan baptisan], oleh karena itu tidak ada gunanya dan sia-sia mencelupkan mereka kedalam air, dimana mereka hanya membersihkan kotoran tubuh, namun tidak dapat membersihkan jiwa dari dosa. Namun kita menunggu waktu yang tepat, dan ketika seseorang dapat memahami dan percaya kepadanya, kita tidak (seperti yang kalian tuduhkan kepada kami), membaptis ulang dia yang belum pernah dapat digolongkan sudah dibaptis – sebagai telah dibersihkan dengan baptisan yang menyucikan dosa” [secara simbolik]. Dalam hal Perjamuan Tuhan, ia bukan saja menyangkal doktrin tentang transubstansiasi, tetapi ia juga menolak karakter sakramental dari upacara tersebut.

Karena kepopulerannya yang luas, ia sulit dibuang dari Languedoc. Ia kemudian tampil di keuskupan Narbonne dan Toulouse, dimana ia berkhotbah selama duapuluh lima tahun dengan sukses yang besar. Pada tahun 1126 ia ditangkap oleh yang berwewenang dan dibakar di St. Gilles. Ia memiliki sekelompok besar pengikut, yang setelah kematiannya disebut sebagai kaum Petrobrusian. Mereka mempertahankan pandangan tentang baptisan yang sama seperti dia. Deodwinus, Uskup dari Liege, menulis kepada Henry I dari Perancis, mengatakan tentang para pengikut Peter dari Bruys: “Mereka sedapat mungkin berusaha berbohong untuk menjatuhkan baptisan bayi” (Wall, The History of Infant Baptism, I, 478).

Dapat dilihat dari kutipan yang diberikan di atas bahwa Peter dari Bruys dan murid-muridnya membaptis ulang, oleh karena itu di mata musuh-musuhnya mereka adalah Anabaptis. Jacquest Benigne Bossuet, Uskup terhormat dari Meaux yang merupakan seorang Katolik Roma yang sangat kontroversial pada tahun 1704 mengeluhkan tentang para pengikut Calvin, bahwa mereka mencari garis penerus apostolik melalui kaum Waldenses. Ia mengatakan: “Kalian mengangkat Henry dan Peter dari Bruys sebagai pendahulu kalian, dan mereka dua-duanya seperti dikenal oleh semua orang, adalah Anabaptis”. Faber mengatakan: “Kaum Petrobrusian hanya merupakan sekelompok Anti-pedobaptis yang bukan menolak baptisan itu sendiri, namun yang dengan jelas menolak kegunaan baptisan bayi” (Faber, The Vallences and Albigenses, 174, London, 1838). J.A. Fabricius mengatakan: “Mereka adalah kaum Anabaptis pada masa itu” (Fabricius, Bibliographia, c.xi, 388).

Henry dari Lausanne, 1116-1148 AD. merupakan murid Peter dari Bruys, dan sangat berhasil didalam pekerjaan reformasinya, sehingga ia meninggalkan sejumlah besar pengikut yang disebut kaum Henrician. Ia digambarkan sebagai “seorang pribadi yang sangat bermartabat, matanya berbinar-binar, suaranya bergelegar, khotbahnya sangat menarik, dan penuh kuasa didalam Alkitab. ”Tidak pernah ada orang yang dikenal dengan hidup yang demikian keras, demikian agung kemanusiaan dan keberaniannya,” dan bahwa “dengan khotbahnya ia dengan mudah menggerakkan hati yang keras membatu menjadi menyesal.” Ia keluar dari Switzerland menuju ke Mans dan kota-kota Perancis lainnya. Begitu besar keberhasilannya sehingga semua jemaat meninggalkan gereja-gereja mereka dan bergabung dengannya. Ketika ia datang ke Toulouse pada tahun 1148, Paus Eugene III mengirim Bernard dari Clairvaux, si pemburu bidat yang hebat, ke kota tersebut untuk berkhotbah menentang Henry. Bernard menggambarkan pengaruh khotbah Henry dengan menyatakan bahwa jemaat-jemaat telah membelot, “jalan bagi anak-anak telah ditutup, anugerah baptisan telah menolak mereka, dan mereka terhalang untuk masuk surga; meskipun sang Juruselamat dengan kasih kebapakan memanggil mereka, dengan mengatakan, anak-anak kecil yang menderita, datanglah kepadaKu.” Henry terpaksa lari untuk menyelamatkan nyawanya. Dalam waktu yang singkat ia tertangkap di tempat pengasingannya, dan dibawa ke hadapan Sidang di Rheims, dihukum didalam penjara yang tertutup pada tahun 1148, dan tidak lama kemudian meninggal.

Seperti halnya dengan Peter dari Bruys, ia menolak baptisan bayi. Georgius Cassander yang dalam hal ini selaku Duke dari Cleves, menulis menentang Anabaptis dengan mengatakan Peter dari Bruys dan Henry dari Lausanne: “Pertama kali mereka secara terbuka mengutuk baptisan bayi, dan bersikeras menuntut bahwa baptisan hanya diperuntukkan kepada orang dewasa; mereka berdua mengajarkannya secara lisan dan sungguh-sungguh mempraktekkannya didalam pelaksanaan baptisan” (Cassander, De Baptismo infantium, Coloniae, 1545).

Arnold dari Brescia lahir pada permulaan abad keduabelas dan meninggal kira-kira tahun 1148 AD. Ia merupakan seorang murid dari Abelard di Paris, dan kembali ke negerinya dengan gagasan-gagasan yang mulia untuk reformasi di Italia. Dari satu negeri ke negeri yang lain ia ditekan oleh penganiayaan. Akhirnya ia kembali ke Roma dan memimpin sebuah perjuangan patriotik untuk kemerdekaan negeri tersebut dari Paus. Ia dipenjarakan, digantung, tubuhnya dibakar, dan abunya ditebarkan kedalam sungai Tiber.

Otto Freising, uskup Katolik Roma yang sezaman, mengatakan: “Bahwa pendapatnya mengenai sakramen altar dan baptisan bayi adalah tidak benar” (Freising, De Gentis Frid., II, c.20). Karena itulah ia dihukum oleh Sidang Lateran yang dipimpin oleh Paus Innocent II, 1139 AD. Dr. Comba berpendapat didalam catatannya: “ Bersama dengan kaum Albigenses, ia mengutuk tahyul yang disebutkan di atas, demikian juga mengenai keselamatan anak-anak yang ‘dibaptis’ dengan percikan” (Comba, History of the Waldenses, 16).

Arnold memiliki pengikut karena ia sangat populer di Lombardy. Selama ia tinggal di Roma, musuh-musuhnya mengatakan, “Ia mendirikan sebuah sekte yang masih disebut sebagai bidat dari Lombard” (Johannes Saresberensis, Historia Pontificalis, Lihat Breyer, Arnold von Brescia). Mereka mempunyai jumlah jemaat yang besar yang terdiri atas orang-orang yang mempunyai beban untuk membentuk keistimewaan yang begitu penting didalam pekerjaan kaum Waldenses dan Anabaptis.

Kaum Arnoldist, seperti halnya dengan pemimpinnya, menolak baptisan bayi. Mengenai orang-orang ini, Guillaume Durand, 1274 AD. berkata: “Kaum Arnoldist menegaskan bahwa manusia tidak mungkin menerima Roh Kudus melalui baptisan air, demikian juga dengan orang Samaria, kecuali jika mereka menerima penumpangan tangan” (Bull of Pope Lucius III, Hist. Pon., Prestz, 515).

Pada tahun 1184 kaum Arnoldist disebut sebagai kaum Albigenses, kemudian digolongkan sebagai kaum Waldenses. Deickhoff, salah satu penulis kaum Waldenses dari Jerman, membenarkan: “Ada hubungan antara kaum Waldenses dengan para pengikut Peter dari Bruys, Henry dari Lausanne dan Arnold dari Brescia, dan mereka akhirnya bersatu didalam satu tubuh kira-kira tahun 1130 karena mempertahankan pandangan yang sama” (Dieckhoff, Die Waldenser im Mittelalter, 167, 168, Gottingen, 1851). Ini merupakan pendapat umum dari yang berwewenang. M. Tocco tidak ragu untuk menegaskan bahwa “Orang-orang malang dari Lombardy (kaum Waldenses) berasal dari keturunan langsung kaum Arnoldist” (Tocco, L’Eresia nel medio Evo. Paris, 1884).

Berengarius, yang lahir di Tours dan meninggal di pulau dekat St. Cosme, dituduh menganut pandangan-pandangan Baptis. Ia merupakan sebuah contoh orang yang mengharapkan kemerdekaan rohani dan menentang Katolikisme Roma yang muncul ke permukaan sepanjang Abad Pertengahan. Pada tahun 1140 ia menjadi rektor sekolah-sekolah Cathedral di Tours, tetapi hengkangnya dari Romanisme menyebabkan ia divonis oleh banyak sidang sampai akhirnya ia menutup kariernya yang sulit didalam kesepian yang dalam. Pembelajarannya yang hebat, baik dari Bapak-bapak gereja maupun didalam literatur klasik beserta studi Alkitabnya yang mendalam, membawanya kepada kesimpulan bahwa doktrin transubstansiasi adalah salah dan orang perlu membedakan antara simbol dan masalah yang disimbolkan didalam Perjamuan Tuhan. Deodwinus, Uskup dari Liege, yang hidup sezaman, menyatakan bahwa ada sebuah laporan dari Perancis bahwa kaum Berengarian “menjatuhkan baptisan bayi”. Pandangan ini diterima oleh hampir semua sejarawan.>

Buku-buku untuk bacaan dan referensi lebih lanjut:
Fisher, 194, 188, 189, 209, 211, 424.
Schaff, V, Pt, i, 507-515, 483-486.
Gieseler, III, 51-53.

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: