Beranda > RENUNGAN > MENYATAKAN KESALAHAN, BENCI atau KASIH?

MENYATAKAN KESALAHAN, BENCI atau KASIH?


Tiga orang wanita muda yang saling berteman sedang bercengkrama di sebuah lobby hotel. Sebentar lag acara penting perpisahan akan dimulai Anak-anak SMU ini sebentar lagi akan menjadi mahasiswa. Mereka masing masing mempunyai cowok ganteng idola mereka, baik yang sudah pasti maupun yang masih berupa incaran.

Lima menit sebelum para cowok datang, Elizabeth masuk ke ruang toilet wanita, untuk memoleskan maskara ke bulu matanya supaya betul-betul hitam dan lentik. Kedua temannya, Yuvita dan Martina menunggu dengan gelisah. Ketika Elizabeth muncul, ternyata maskaranya mungkin terlalu cair dan agak terburu-buru sehingga bukan hanya bulu matanya yang hitam melainkan pipinya juga.

Martina spontan ingin memberi tahu tetapi ditarik oleh Yuvita. Dan Yuvita berbisik ke telinga Martina, “biarkan.” Martina menjadi heran akan sikap Yuvita dan sekali lagi ingin memberitahu Elizabeth tentang maskaranya yang meleleh ke pipinya, namun dicegah lagi oleh Yuvita.

Dalam tempo waktu yang sangat sempit itu datanglah rombongan cowok-cowok ganteng. Muncul juga Rudy, si ganteng pintar yang sering muncul di mimpi Elizabeth. Elizabeth berharap Rudy yang selama ini banyak ngobrol dan memperhatikannya malam ini akan menjadi pendampingnya hingga acara selesai. Ia ingin Rudy menatapnya, dan benar, bukan hanya Rudy yang menatapnya, melainkan semua cowok menatapnya sambil tertawa terbahak-bahak. Elizabeth belum tahu apa yang terjadi sementara semua orang mentertawakannya. Ketika semua menunjuk ke wajahnya yang lucu, ia pun segera menuju toilet. Ampun, ia sendiri kaget dengan wajahnya yang amburadul.

Karena sangat malu, dan merasa tidak siap tampil, ia tidak berani bertemu dengan mereka, terutama Rudy yang membuat hatinya berdebar, ia langsung pulang sambil menangis di dalam taxi. Martina merasa sangat bersalah karena tidak berani menentang Yuvita untuk memberitahu Elizabeth keadaan wajahnya.

Pesta mereka berlangsung dengan meriah tanpa Elizabeth. Itu adalah malam perpisahan, dan selanjutnya mereka sudah sulit untuk saling bertemu lagi. Elizabeth menangis di dalam kamarnya.

Setelah waktu lama berlalu, suatu hari Martina berjumpa Yuvita bersama Rudy di sebuah mall dan kaget mendapatkan bahwa mereka suami istri dan telah memiliki dua orang anak. Setelah mereka berpisah Martina pergi ke sebuah Kafe. Ketika Martina duduk menikmati jus alpokat kesukaannya, ia merenung, “ah…pantas dulu ketika maskara Elizabeth berantakan di wajahnya, dan ketika saya mau memberitahu Elizabeth, saya sangat dicegah Yuvita. Ternyata ada maunya.” Martina bertambah sedih, ternyata kemudian dia mendengar bahwa Elizabeth bunuh diri setelah menyadari bahwa pacarnya direbut Yuvita.

Pembaca yang budiman, Rasul Paulus menulis kepada Timotius, katanya “Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran. (2Ti 4:2 ). Tentu Rasul Paulus menuliskan kata-kata tersebut dengan kasih. Dan bukan hanya mengasihi manusia bahkan jugamengasihi Tuhan.

Ketika seorang pemimpin gereja menyimpulkan ayat-ayat Alkitab secara salah, maka efek yang akan ditimbulkannya tidak kecil, melainkan bisa sampai pada tingkat kebinasaan setiap orang yang menjadi pengikutnya. Jika Anda tahu akan kebenaran, maukah anda memberitahukannya? Jikalau Anda tahu pengajaran sebuah denominasi itu salah dan mereka akan menuju Neraka, Anda mau memberitahukan mereka?

Lalu ada yang bertanya, apakah perbedaan antara mengecam orang dengan memberitahukan kesalahan mereka yang karena mengasihi mereka?
Pertama, motivasi hati memang sesuatu yang sulit untuk dideteksi. Kalau berhadapan muka, mungkin motivasi hati bisa dideteksi dari intonasi suara dan mimik dari yang mengucapkannya. Dan jika tidak berhadapan muka, misalnya melalui tulisan, baik buku maupun internet, bisa juga dideteksi dari pemilihan kata-kata, apakah kasar, memaki-maki, sarkastis dan lain-lain.

Kedua, yang lebih utama dari kata-kata maupun cara ialah isi dari kritikan yang dilontarkan. Jika seseorang hanya mengatakan denominasi lain salah, atau pengajaran seorang pengkhotbah lain salah, namun tidak memberitahukan bentuk kesalahannya dan menunjukkan pengajaran yang lebih benar kepadanya, maka itu bisa dikategorikan mengecam.

Jadi, pembaca yang budiman, saya yakin tidak ada di antara pembaca yang menuduh Rasul Paulus sombong, mau menang sendiri, menganggap diri sendiri benar, ketika ia meminta Timotius menyatakan apa yang salah. Karena Rasul Paulus nubuatkan bahwa menjelang kedatangan Kristus, akan muncul banyak pengajaran yang menyimpang dari kebenaran. Semua ini tentu adalah efek dari hadirnya Alkitab di tangan kita dan adanya kebebasan menafsirkan Alkitab.

Namun, Rasul Paulus juga pasti menyadari bahwa iblis akan mengusahakan agar orang yang salah tetap terus di dalam kesalahannya. Untuk itu iblis akan menghembuskan konsep, jangan menya-takan orang lain salah, sebuah anjuran yang bertentangan dengan anjuran Rasul Paulus. Jika semua theolog mengikuti anjuran iblis, tidak mau menyatakan kesalahan, maka semua orang yang berada dalam kesalahan akan tetap terus di dalam kesalahan mereka. Tetapi jika mengikuti nasehat bahkan perintah Rasul, kesesatan bisa dipatahkan.

Menyatakan kesalahan dengan motivasi yang positif adalah sebuah bentuk ungkapan kasih yang tulus dan berani. Tentu menyatakan kesalahan harus dengan kata-kata yang baik, bukan dengan kata-kata yang kasar atau sarkasme.

Graphe sejak hari pertama berdirinya, 25 Juni 1995, meyakini bahwa pengajarannya adalah benar. Dan seharusnya tiap-tiap theolog maupun pengkhotbah juga meyakini pengajarannya benar, kalau tidak maka ia munafik atau membohongi orang. Sambil kita meyakini pengajaran kita benar, tentu wajar dan patut kita membanding-bandingkan pengajaran kita dengan pengajaran lain. Jika di dalam tindakan banding-membanding itu kita dapatkan pengajaran lain lebih argumentatif dan lebih harmonis dengan ayat-ayat Alkitab, sebagai orang yang cinta kebenaran, tentu bukan hal yang memalukan jika kita meninggalkan pengajaran kita dan beralih memegang pengajaran yang lebih benar.

Sudah sekitar 17 tahun Graphe mengadakan seminar untuk mengumandangkan yang salah dan yang benar. Sudah lebih dari seratus kali seminar di seluruh Indonesia bahkan ke luar negeri. Di setiap acara seminar selalu memberi kesempatan kepada peserta untuk bertanya sepuas-puas mereka. Dan Graphe selalu berkata kepada siapapun, jika Anda temukan kesalahan kami, tolonglah beritahukan kami, kalau menemukan kebenaran kami, beritahu orang lain. Dr. Suhento Liauw, Gembala Graphe bahkan berkata kepada jemaatnya, jika Anda temukan gereja yang lebih alkitabiah, silakan pindah ke gereja tersebut. Dan jangan lupa memberitahukannya, karena beliau juga ingin pindah ke sana. Menyatakan kesalahan dengan cara seminar sesungguhnya adalah menyatakan kasih yang tulus bahkan yang ilahi (agape love).***

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: