Beranda > Doktrin, DOKTRIN GEREJA > Apakah Baptisan Selam Alkitabiah?

Apakah Baptisan Selam Alkitabiah?


Penulis: Ps. Bobby M.Th

Apakah Baptisan Selam Alkitabiah? Adakah dasar biblika maupun historis yang kuat mengenai baptisan selam? Memang mengenai topik  ini ada banyak kontroversi dan pandangan yang berbeda-beda. Akan tetapi kita harus berani menggali kebenaran Alkitab mengenai hal ini.

Seringkali sesuatu hal menjadi bahan perdebatan karena orang-orang tidak memahami hakekat asli dari pokok atau hal tersebut. Karena itu ketika kita berbicara mengenai baptisan, pertama sekali kita harus melihat dahulu kata asli Alkitab yang dipakai untuk perkataan “baptis” atau “baptisan”.

Arti dan Definisi

Dalam bahasa asli Alkitab Perjanjian Baru, yaitu bahasa Yunani, baptisan berasal dari kata Yunani BAPTIZO (Greek-English Dictionary New Testament UBS). Baptizo merupakan suatu kata kerja. Kata dasar dari Baptizo adalah BAPTO. Untuk mendapatkan makna yang hakiki dari “baptizo” itu, terlebih dulu kita harus mengetahui arti dari kata “bapto”. Kata “bapto” tertulis tiga kali dalam teks asli Alkitab Perjanjian Baru. Ketiga ayat yang memuat kata “bapto” itu adalah:

1. Lukas 16:24. “Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan (bapto) ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku…”

2. Yohanes 13:26. “Dialah itu, yang kepadanya Aku akan memberikan roti, sesudah Aku mencelupkannya (bapto).” Sesudah berkata demikian Ia mengambil roti, mencelupkannya dan memberikannya kepada Yudas, anak Simon Iskariot.

3. Wahyu 19:13. “Dan Ia memakai Jubah yang telah dicelupkan (bapto) ke dalam darah…”

Dari ketiga teks tadi, kita mendapati bahwa “bapto” memiliki arti “mencelupkan sesuatu ke dalam suatu cairan, dan kemudian mengeluarkannya kembali.” Itulah arti harafiah/dasar dari “bapto”.

Thayer’s and Smith’s Bible Dictionary mendefinisikan “bapto” :

To dip, dip in = mencelupkan

Immerse/immersion = membenamkan/menyelamkan

Baptizo yang menjadi kata kerjanya kemudian digunakan sebagai kegiatan yang dilakukan untuk menyelamkan/mencelupkan sesuatu dan mengeluarkannya kembali. Dalam konteks bahasa Yunani Kitab Perjanjian Baru, “baptizo” dipakai dalam kegiatan pembaptisan air, baik itu dalam baptisan Yohanes maupun baptisan yang dilakukan oleh para rasul.

Thayer’s and Smith’s Bible Dictionary mendefinisikan “baptizo” :

1. to dip repeatedly, to immerse, to submerge (of vessels sunk) = dicelup/selam

2. to cleanse by dipping or submerging = dibersihkan melalui pencelupan/selam

Dari paparan berdasarkan teks asli Alkitab Perjanjian Baru, maka jelaslah bahwa baptisan Kristen sebagaimana yang dimaksudkan Alkitab adalah BAPTISAN SELAM. Yaitu, orang yang menerima Kristus/bertobat tersebut dibaptis selamkan ke dalam air sehingga basah seluruh tubuh. Tuhan Yesus menjadi contoh yang sempurna tatkala Ia memberi diri-Nya untuk dibaptiskan/diselamkan ke dalam air di sungai Yordan oleh Yohanes Pembaptis.

Alkitab terjemahan bahasa Inggris yang tertua dan berotoritas yaitu King James Version (KJV) menterjemahkan kata “baptizo” sbb: baptized (61x), baptizing (4x), baptize (9x), baptizeth (2x), baptist (1x), baptizest (1x), wash (1x), washed (1x). Nampaknya KJV tidak menterjemahkan, namun mentransliterasi kata “baptizo” tersebut menjadi “baptize“. Alkitab King James Version menjadi rujukan bagi terjemahan-terjemahan bahasa Inggris lainnya dalam mentransliterasi kata “baptizo”, sehingga semua Alkitab terjemahan bahasa Inggris sesudah KJV menggunakan kata “baptize” sbg terjemahan untuk “baptizo”.

Alkitab bahasa Indonesia menterjemahkan kata “baptizo” menjadi “baptis”. Oleh karena itu, bila mau jujur maka secara linguistik, kata “baptis” sebenarnya berarti “celup/selam” (baptizo). Dengan kata lain, yang dimaksud dengan “baptis” adalah “celup/selam”.

Contoh Baptisan Selam dalam Perjanjian Baru (Filipus dan Sida-sida Etiopia):

Kisah Para Rasul 8: 35-39

(35) Maka mulailah Filipus berbicara dan bertolak dari nas itu ia memberitakan Injil Yesus kepadanya.

(36) Mereka melanjutkan perjalanan mereka, dan tiba di suatu tempat yang ada air. Lalu kata sida-sida itu: “Lihat, di situ ada air; apakah halangannya, jika aku dibaptis?

(37)  (Sahut Filipus: “Jika tuan percaya dengan segenap hati, boleh.” Jawabnya: “Aku percaya, bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah.”)

(38) Lalu orang Etiopia itu menyuruh menghentikan kereta itu, dankeduanya turun ke dalam air, baik Filipus maupun sida-sida itu, dan Filipus membaptis dia.

(39) Dan setelah mereka keluar dari air, Roh Tuhan tiba-tiba melarikan Filipus dan sida-sida itu tidak melihatnya lagi. Ia meneruskan perjalanannya dengan sukacita.

Dari rangkaian peristiwa tsb, terlihat jelas bahwa Filipus telah membaptis secara selam Sida-sida Etiopia tersebut di sebuah tempat yang airnya “banyak” sehingga keduanya dimungkinkan untuk turun ke dalamnya, melakukan baptisan dan kemudian keluar dari air tersebut. Nampaknya tempat tersebut adalah sebuah sungai kecil atau kolam.

What the dictionaries say:

Webster’s New Collegiate Dictionary: “Baptize . . . from Greek baptizein, from baptein to dip in water.”

Century Dictionary (7 volumes): “Baptize . . . dip in water.”

The Encyclopedia Dictionary (7 Volumes): “Baptize . . . to dip in or under water.”

Chamber’s English Dictionary: “Baptize . . . to dip in water.”

The Library Dictionary: “Baptism . . . to dip in water.”

Household Dictionary: “Baptism . . . to dip in water.”

What the Encyclopedia say:

Encyclopedia Britannica: “The word is derived from the Greek baptize, a frequentive form of baptize, to dip, or wash, which is the term used in the New Testament when the sacrament is described . . . The usual mode of performing the ceremony was by immersion . . . The Council of Ravenna in 1311, was the first council of the (Roman Catholic) church which legalized baptism by sprinkling, by leaving it to the choice of the officiating minister.”

Encyclopedia Americana: “Baptism (that is, dipping, immersing, from the Greek baptizo) . . . In the time of the apostles, the form of baptism was very simple. The person to be baptized was dipped in a river or vessel with the words which Christ had ordered . . .”

New International Encyclopedia: “Baptism . . . was originally by immersion. The candidates used to descend into fonts or streams, or rivers, and sink beneath the waters under the pressure of the hands of the minister.”

Chamber’s Encyclopedia: “Baptism . . . It is, however, indisputable that at a very early period the ordinary mode of baptism was by immersion . . .”

Nelson Complete Encyclopedia (1937, 24 volumes): “There is little doubt that the original practice was immersion . . .”

What do the Bible Dictionaries say?

Blunt’s Theological Dictionary: “That immersion was the ordinary mode of baptizing in the primitive church is unquestionable.”

Catholic Dictionary (by Wm. E. Addis, 1934): “Baptism . . . In apostolic times the body of the baptized person was immersed, for St. Paul looks on this immersion as typifying burial with Christ, and speaks of baptism as a bath . . . for even St. Thomas in the 13th century, speaks of baptism by immersion as the common practice of his time.”

The Catholic Encyclopedia Dictionary (1941): “Baptism . . . the act of immersing or washing.”

Roman Catholic Ecclesiastical Dictionary (by Rev. John Thein, 1900): “Baptism . . . The word baptism is a Greek word which signifies ablution or immersion. This was the manner of baptizing in the primitive church “

Hook’s Church Dictionary: “In performing the ceremony of baptism, the usual custom was to immerse and dip the whole body.”

What do the Religious Encyclopedia say?

Schaff-Herzog Encyclopedia of Religious Knowledge: “Baptism . . . Original Forms . . . It is an attractive theory, supported by Cyprian’s express statement, that the Jews and the Gentiles in the apostles’ time had a different manner of baptizing; that among the Jewish Christians a single immersion was the rule, in the name of Christ alone, on the analogy of the Jewish proselyte baptism, while the threefold immersion in the threefold name, which has its counterpoint in the heathen lustrations was the rule among the Gentile Christians.”

The Concordia Encyclopedia (1927): “Baptism . . . Nevertheless, it is held by historians that immersion wholly in water was the prevailing mode of the first century.”

The Catholic Encyclopedia: “Baptism . . . The word baptism derived from the Greek word means to wash or to immerse. It signifies, therefore, that laying is the essential idea of the sacrament . . . The most ancient form usually employed was unquestionably immersion. In the Latin (Catholic) church, immersion seems to have prevailed until the twelfth century.”

What do the Greek Lexicons say?

Thayer: Greek-English Lexicon of the New Testament: “Baptizo . . . Properly, to dip repeatedly, to immerse, to submerge.”

Strong’s Hebrew and Greek Dictionaries: “Baptizo…to make whelmed (that is, fully wet); used only (in the New Testament) of ceremonial ablution, especially (technically) of the ordinance of Christian baptism: – baptist, baptize, wash.

Greek-English Lexicon. T.S. Green M.A. 22nd edition:  ” Baptizo means to dip, or to immerse.”

What do early Christian writers say?

Hermas (in the Commands of Hermas, Book 2, Com. 4, C. 3): “And I said to him, ‘I have even now heard from certain teachers, that there is no other repentance besides that of baptism; when we go down into the water, and receive the forgiveness of sins; and after that we should sin no more, but live in purity!’ And he said to me-’ Thou host been rightly informed’.”

Tertullian, (On Baptism, Chapter 7): “Thus, too, in our ease, the unction runs carnally, (such as on the body), but profits spiritually; in the same way as the act of baptism itself too is carnal, in that we are plunged in water, but the effect is spiritual, in that we are freed from sins.”

What do the Roman Catholic Councils say?

Council of Nice, A.D. 325: “He who is baptized descends indeed, obnoxious to sins, and held with the corruptions of slavery; but he ascends free from the slavery of sins, a son of God, heir-yea, co-heir-with Christ, having put on Christ, as it is written, ‘As many of you as were baptized into Christ have put on Christ’.”

Fourth Council of Toledo, A.D. 633: “For shunning the schism (trine immersion) or the use of an heretical practice, we observe a single immersion in baptism . . . For the immersion in the waters is a descent, as it were into the grave; and, again, the emersion from the waters is a resurrection.”

Council of Worms, A.D. 868: “While some priests baptized with three immersions, and others with one, a schism was raised, endangering the unity of the church “

Council of Tribur, A.D. 895: “Trine immersion is an imitation of the three days burial, and the rising again out of the water is an image of Christ rising from the grave.”

The Synod of Cologne, A.D. 1280: “He who baptizes, when he immerses the candidate in water, shall neither add to the words, or take away from them, or change them.”

Council of Ravenna, A.D. 1311: “Baptism is to be administered by tribe immersion or aspersion.” (aspersion means “sprinkling” = percik).

Sepanjang sejarah Gereja Katolik Roma cara baptis yang dipakai adalah selam (immersion) dan percik (sprinkling) pada sikon darurat, sampai pada saat Konsili Ravenna tahun 1311 yang menerima cara “percik” atau pouring/sprinkling sebagai cara baptis yang baru dan satu-satunya. Jadi, sebenarnya baptis selam telah dipraktekkan selama 1300 tahun Gereja Katolik Roma. Barulah setelah Konsili Ravenna tersebut, baptis selam digantikan oleh baptis percik.

What some preachers had to say:

(From Twentieth Century Christian, 1962)

John Calvin, Presbyterian: “The word baptize signifies to immerse. It is certain that immersion was the practice of the primitive church.” Atau dalam bahasa Indonesia “Kata membaptis itu berarti “menyelamkan ke dalam air”. Sudah pasti bahwa Gereja Lama (Katolik) melakukan baptisan dengan cara penyelaman. (Institutio: Pengajaran Agama Kristen, John Calvin, BPK Gunung Mulia, Jakarta; 2005, hlm 290).

Martin Luther, Lutheran: “Baptism is a Greek word and may be translated immerse. I would have those who are to be baptized to be altogether dipped.”

John Wesley, Methodist: “Buried with him in baptism-alluding to the ancient manner of baptizing by immersion.”

Wall, Episcopalian: “Immersion was in all probability the way in which our blessed Savior, and for certain the way by which the ancient Christians received their baptism.”

Brenner, Catholic: “For thirteen hundred years was baptism an immersion of the person under water.”

Macknight, Presbyterian: “In baptism the baptized person is buried under the water. Christ submitted to be baptized, that is, to be buried under water.”

Whitfield, Methodist: “It is certain that the word of our text, Romans 6:4, alludes to the manner of baptizing by immersion.”

Sejarawan Lutheran terkemuka, John Mosheim menulis “baptism was administered in this [the first] century, without public assemblies, in places appointed and prepared for that purpose, and was performed by an immersion of the whole body in the baptismal font” ( Mosheim, John Lawrence (1959 ed.), Ecclesiastical History (Rosemead, CA: Old Paths Book Club), Vol 2 p. 35).

Tradisi Sejak Lama

Baptisan sebagai peristiwa penyelaman ke dalam air, memiliki tradisi yang panjang sejak zaman bangsa Israel Kuno (zaman Perjanjian Lama), yaitu jauh sebelum zaman Yesus. Orang Israel sejak dahulu kala telah memiliki tradisi baptisan yang disebut baptisan proselit”. Baptisan ini merupakan upacara bagi orang asing yang ingin memeluk agama Yahudi/Judaism.

Apabila ada orang yang ingin memeluk agama Yahudi, ia harus melakukan tiga hal, yaitu mempersembahkan korban, disunat dan dibaptiskan. Upacaranya adalah sebagai berikut: Orang yang akan dibaptis memotong kuku dan rambutnya; ia harus menanggalkan pakaiannya; kolam baptisan harus diisi air sedikitnya 40 seah, yaitu kira-kira 200 liter air; setiap bagian tubuhnya harus kena diselamkan dalam air dan mengucapkan pengakuan iman di depan tiga orang bapa baptisan.

Tradisi tersebut masih berlangsung sampai masa sekarang. Berikut dijelaskan suatu sumber: Both male and female converts are immersed in the mikvah (a ritual bath used for spiritual purification). The convert is given a Jewish name and is then introduced into the Jewish community. (http://www.jewfaq.org/gentiles.htm#Conversion)

Apakah Baptis Selam (Baptizo) PERINTAH Tuhan?

Alkitab dengan tegas telah menulis bahwa Baptizo (Baptis Selam) adalah yang dikehendaki Tuhan. 

Berikut ayat-ayatnya:

Mat 28:19 Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah (Baptizo) mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,

KPR 2:37 Ketika mereka mendengar hal itu hati mereka sangat terharu, lalu mereka bertanya kepada Petrus dan rasul-rasul yang lain: “Apakah yang harus kami perbuat, saudara-saudara?”

KPR 2:38 Jawab Petrus kepada mereka: “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis (Baptizo) dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus.

KPR 10:48 Lalu ia menyuruh mereka dibaptis (Baptizo) dalam nama Yesus Kristus. Kemudian mereka meminta Petrus, supaya ia tinggal beberapa hari lagi bersama-sama dengan mereka.

Makna Baptisan Selam:

1. Baptisan selam adalah kehendak Tuhan. Matius 3:15 menulis : “Lalu Yesus menjawab, kata-Nya kepadanya: “Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Tuhan.” Dan Yohanespun menuruti-Nya. “

2. Baptisan selam adalah tanda pertobatan. Matius 3:11 menulis : “Aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi Ia yang datang kemudian dari padaku lebih berkuasa dari padaku dan aku tidak layak melepaskan kasut-Nya. Ia akan membaptiskan kamu dengan Roh Kudus dan dengan api.”

3. Tanda pengampunan dosa dan penerimaan Roh Kudus:  “Jawab Petrus kepada mereka: “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamumaka kamu akan menerima karunia Roh Kudus (KPR 2:38).

4. Baptisan menggambarkan identifikasi orang percaya dengan kematian, penguburan dan kebangkitan Kristus. “Atau tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya? Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.” (Roma 6:3-4). Diselam di dalam air menggambarkan dikuburkan bersama Kristus. Keluar dari dalam air menggambarkan kebangkitan Kristus. Dengan demikian, baptisan selam adalah satu-satunya metode baptisan yang menggambarkan dikuburkan bersama Kristus dan bangkit bersama Dia.

Kesimpulan

Jelas sudah bahwa baptisan yang sesungguhnya seperti yang dikehendaki Alkitab adalah baptisan yang dilakukan dengan cara diselamkan seluruh tubuh ke dalam air dan kemudian dikeluarkan kembali (Baptisan Selam). Baptisan memiliki makna yang sangat dalam.  Yaitu merupakan pelaksanaan kehendak Tuhan, tanda pertobatan seseorang kepada Tuhan, tanda pengampunan dosa dan menerima karunia Roh Kudus.

Memang Alkitab mencatat bahwa Tuhan Yesus tidak pernah membaptis, namun hal itu karena IA mendelegasikannya kepada para murid-Nya, “meskipun Yesus sendiri tidak membaptis, melainkan murid-murid-Nya,” (Yohanes 4:2). Baptisan sendiri merupakan hal yang sangat PENTING bagi Tuhan Yesus, hal itu terbukti dari perintah-Nya, “Jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka… (Matius 28:19-20). Formulanya adalah dilakukan dalam nama Allah Tritunggal: dalam nama BAPA, PUTRA, & ROH KUDUS yaitu Tuhan Yesus Kristus.

Oleh sebab itu, hendaklah kita mentaati perintah Tuhan, dengan melakukannya sesuai cara yang benar, yang telah dipraktekkan oleh Gereja Mula-Mula sampai masa Gereja Katolik (antara tahun 30  – 1311) yaitu diselamkan (bhs Indonesia)  atau Immersion (bhs Inggris) yang merupakan terjemahan dari baptizo. Tuhan Yesus memberkati.

Artikel terkait:

CARA BAPTIS PERCIK ATAU SELAM?

Asal Mula Baptisan Percik

Referensi:

Alkitab

Blunt’s Theological Dictionary

Century Dictionary (7 volumes)

Chamber’s English Dictionary

Chamber’s Encyclopedia

Catholic Dictionary (by Wm. E. Addis, 1934)

Encyclopedia Americana

Encyclopedia Britannica

Greek-English Dictionary New Testament UBS

Household Dictionary

Institutio: Pengajaran Agama Kristen, John Calvin, BPK GM, Jakarta; 2005

Mosheim, John Lawrence (1959 ed.), Ecclesiastical History (Rosemead,CA: Old Paths Book

Club), Vol 2.

Nelson Complete Encyclopedia (1937, 24 volumes)

New International Encyclopedia

Roman Catholic Ecclesiastical Dictionary (by Rev. John Thein, 1900)

Thayer: Greek-English Lexicon of the New Testament

The Catholic Encyclopedia Dictionary

The Encyclopedia Dictionary (7 Volumes)

The Library Dictionary

Webster’s New Collegiate Dictionary

Iklan
  1. Patar Hutauruk
    7 September 2012 pukul 11:30 AM

    Saya sudah banyak membaca Pendapat mengenai cara Baptisan di dunia maya ini. saya juga boleh meberi prndapat juga.

    Pendapatnya: Sebagai Orang Kristen Pengikut Ajaran TUHAN YESUS dimana DIA juga Melakukan Baptisan Selam sesuai dengan firman di kitab suci, dan juga DIA memerintahkan murid2 nya melakukan seperti apa yang sudah DIA terima dan lakukan.

    Saya selama menjadi orang Kristen dan percaya alkitab dn Yesus Tuhan sebagai juru selamat, Baptis yang saya terima adalah seperti apa yang diterima Tuhan Yesus, dan TIDAK, sekali lagi Tidak perlu ditafsirkan karena beritanya jelas dan terang benderang.

    Sebagai Bahan Renungan buat kita :
    Bil 20: 7 TUHAN berfirman kepada Musa: 8 “Ambillah tongkatmu itu dan engkau dan Harun, kakakmu, harus menyuruh umat itu berkumpul; katakanlah di depan mata mereka kepada bukit batu itu supaya diberi airnya; demikianlah engkau mengeluarkan air dari bukit batu itu bagi mereka dan memberi minum umat itu serta ternaknya.” 9 Lalu Musa mengambil tongkat itu dari hadapan TUHAN, seperti yang diperintahkan-Nya kepadanya.
    10 Ketika Musa dan Harun telah mengumpulkan jemaah itu di depan bukit batu itu, berkatalah ia kepada mereka: “Dengarlah kepadaku, hai orang-orang durhaka, apakah kami harus mengeluarkan air bagimu dari bukit batu ini?” 11 Sesudah itu Musa mengangkat tangannya, lalu memukul bukit batu itu dengan tongkatnya dua kali, maka keluarlah banyak air, sehingga umat itu dan ternak mereka dapat minum. 12 Tetapi TUHAN berfirman kepada Musa dan Harun: “Karena kamu tidak percaya kepada-Ku dan tidak menghormati kekudusan-Ku di depan mata orang Israel, itulah sebabnya kamu tidak akan membawa jemaah ini masuk ke negeri yang akan Kuberikan kepada mereka.”

    Untuk Mendapatkan air : Tuhan memberi Perintah “Katakanlah”
    tetapi Musa melaksanakan Perintah Tuhan dengan “Memukul” .
    Janji Tuhan tetap digenapi “maka keluarlah banyak air ” walaupun pelaksanaan Perintah di langgar.
    Tetapi Resikonya tetap ada yaitu :
    Ayat 12. Cukup Jelas untuk dimengerti.

    Datang sendiri tanpa disuruh karena sudah mengerti setelah menjadi murid untuk Baptis (Selam)
    Dilaksanakan dengan memembawa orang yang belum mengerti apa2 (dibawah balita) untuk di Percik.

    Resikonya mungkin seperti Musa dalam kasus pelanggran Perintah diatas. Hanya Tuhan yang berdaulat untuk itu.

  2. back to chatolic
    17 September 2012 pukul 6:15 PM

    Dewasa ini banyak orang Katolik yang diserang “Kekatolikkan’nya oleh kalangan-kalangan Kristen lain tertentu. Sayangnya, banyak dan mereka yang tidak sanggup membela imannya, sekaligus menerangkan apa yang sebenarnya menjadi kepercayaan dan ajaran Gereja Katolik. Bahkan yang lebih menyedihkan lagi, akibat ketidaktahuan, mereka malahan terpengaruh dan kemudian meninggalkan Gereja Katolik dan berbalik menjadi salah satu anggota baru gerakan anti-Katolik yang militan dan fanatik.

    Apakah ini sesuatu yang merugikan? Di satu pihak jelas merugikan karena Gereja kehilangan beberapa umatnya. Namun di pihak lain, ini juga merupakan pelajaran sekaligus shock yang membangunkan Gereja Katolik sendiri dan tidurnya yang panjang dan menyadarkannya akan bahaya-bahaya masa kini, suatu masa yang paling liar dalam sejarah umat manusia. Suatu masa dengan aliran-aliran penyesatan yang mencapai puncaknya seperti: Materialisme, rasionalisme, spiritualisme-spiritualisme timur tertentu, paham-paham New Age, dan, tentu saja, ‘kejutan’ dan saudaranya sendiri dari kalangan Kristen yang lain ini. Raksasa Gereja Katolik mulai bangun dan tidurnya yang panjang.

    Kenalilah Iman Anda

    Artikel ini ditujukan bagi anda yang termasuk anggota dan tubuh ‘Raksasa’ ini, anggota dan Gereja terbesar di seluruh dunia dengan anggota lebih dan satu milyar jiwa. Dengan iman dan tradisi yang kaya luar biasa serta struktur hierarkhi yang diakui sebagai yang paling luas dan mencakup seluruh dunia. Bagi anda yang mendapat serangan atau akan mendapat serangan dan mereka yang anti-Katolik, yang mungkin adalah anggota keluarga Anda sendiri, orang-orang yang paling Anda kasihi, sahabat Anda. Anda perlu untuk memperhatikan beberapa hal berikut ini untuk menghadapi mereka: Iman Katolik, iman Anda dan saya, bukanlah iman yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

    Ini harus benar-benar diketahui: iman kita merupakan iman yang hidup dan sudah teruji selama hampir 2000 tahun. Gereja Katolik didirikan oleh Tuhan Yesus sendiri di atas batu karang Petrus sebagai Paus yang Pertama. Dan setelah Petrus selalu ada Paus pengganti sampai sekarang ini. Paus Benediktus XVI adalah Paus ke 265 (Anda bisa mengeceknya sendiri dengan menanyakannya kepada pastor paroki setempat atau keuskupan). Begitu kuatnya dasar Gereja, yaitu Yesus Kristus sendiri, dengan batu karang sebagai landasannya sehingga badai topan sekencang apa pun tidak membuat gereja Katolik runtuh. Ini sudah terbukti dalam kurun waktu kurang lebih 2000 tahun.

    Iman Katolik adalah iman yang benar-benar kuat dan kokoh baik dalam ajaran-ajaran maupun penerapannya. Ia (iman Katolik) sungguh-sungguh mendasarkan ajarannya di atas Kitab Suci dan tradisi. Tradisi itu pun tidak bertentangan dengan Kitab Suci. Bukti-bukti dan argumen-argumen yang membuktikan bahwa Tradisi Gereja tidak pemah bertentangan dengan Kitab Suci dapat dengan mudah ditemukan secar lisan maupun tulisan, asalkan Anda mau mencarinya.

    Ya, yang perlu Anda lakukan sekarang adalah membaca, mendengarkan, belajar, dan setelah itu cobalah untuk mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Doa, sakramen-sakramen, khususnya Ekaristi dan Pengakuan Dosa, dan pembacaan Kitab Suci secara teratur akan sangat membantu menumbuhkan dan menguatkan iman Anda. Secara khusus, Anda juga bisa membaca literatur-literatur yang menjelaskan iman Katolik yang sejati, khususnya Katekismus Gereja Katolik, ensiklik-ensiklik kepausan, dan yang sangat baik dan penting: Dokumen Konsili Vatikan II. Jika buku-buku ini terjalu sulit ditemukan atau bila Anda tidak mempunyai banyak waktu untuk membaca, Anda bisa mencari literatur-literatur lain yang sangat membantu, misalnya: Mempertanggung-jawabkan iman Katolik jilid I-V. oleh Rm. Pidyarto, dsb. Selain sumber tulisan, Anda juga bisa mengikuti retret-retret atau seminar- seminar Katolik, pendalaman Kitab Suci, dsb. Lebih baik lagi bila Anda mencari seorang pembimbing rohani yang kompeten, yang selalu siap dan sanggup menjawab pertanyaan-pertanyaan berkenaan dengan iman Katolik. Jika Anda sungguh-sungguh mendalami dan mengamalkan ajaran iman Gereja, saya yakin Anda akan menemukan kebenaran dan kekayaan luar biasa yang terkandung di dalamnya.

    Satu catatan lain, bila pada suatu ketika Anda menghadapi suatu pertanyaan yang tidak bisa Anda jawab, janganlah malu untuk mengatakan, “Saya tidak tahu.” Dengan demikian selalu Anda terlepas dari bahaya salah jawab. Anda bisa menyambung dengan mengatakan kepada lawan bicara Anda bahwa Anda akan mencari penjelasan yang lanjut. Dengan mengatakan bahwa Anda tidak tahu, Anda juga telah mempraktekkan kerendahan hati sekaligus tetap setia kepada iman Anda.

    Kenalilah Lawan Bicara Anda

    Anda harus tahu bahwa tujuan utama lawan bicara Anda, orang-orang anti-Katolik, sebenarnya adalah untuk ‘mempertobatkan’ Anda. Kita, orang Katolik, dianggap mereka sebagai orang-orang sesat, penyembah berhala, dan sebagainya. Motivasi mereka sebenarnya baik, hanya pengertian mereka itu yang keliru sama sekali. Kekeliruan dan kesalahpahaman inilah yang perlu kita luruskan.

    Yang perlu kita sadari pertama-tama adalah kebenaran bahwa kita bukanlah pihak yang menyerang, melainkan pihak ‘yang membela diri’. Ini penting, sebab bila kita menyerang balik, apa bedanya kita dengan mereka. Lagi pula, tidak seorang pun yang berhak menghakimi saudaranya (Rm 14:1O).

    Dengan kesadaran ini kita harus berhati-hati jangan sampai kita terjerumus ke dalam jebakan iblis yang ingin memperdalam luka akibat perpecahan dalam Gereja. Dengan kesadaran ini pulalah, kita perlu mengetahui apa sebenamya yang mereka anggap keliru dalam Gereja kita.

    Carilah literatur-literatur mereka yang berisi pertanyaan-pertanyaan yang sering dilontarkan mereka. Dengan demiklan kita bisa menyiapkan diri jauh sebeluninya, membela din dengan jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tadi.

    Berdoalah, Mohon Roh Kudus

    Inilah yang paling penting dan memang sengaja saya tempatkan terakhir karena
    langkah ke 3 ini sudah mencakup kedua langkah di atas. Mengapa…?

    a. Roh Kudus adalah Roh Pemersatu

    Dengan memohonkan kehadiran Roh Kudus didalam din Anda, Anda menghindarkan sikap benci, penolakan, antipati, dsb., yang mungkin akan timbul saat Anda berhadapan dengan orang-orang anti-Katolik. Knistus tidak menghendaki perpecahan dalam umatNya.

    b. Roh Kudus adalah Roh Cintakasih

    Tujuan utama kita bukanlah membela diri, apalagi memenangkan perdebatan. Yang utama adalah bahwa kita harus bisa mengasihi mereka sebab Roh Kudus juga hadir dalam diri mereka. Ingatlah selalu motivasi sebenarnya dari lawan bicara Anda. Mereka ingin supaya Anda ‘diselamatkan’ juga. Ini akibat kesalahpahaman terhadap ajaran Gereja kita. Yesus juga mengasihi mereka.

    c. Roh Kudus adalah Roh yang lembut, tenang, bersahaja, namun sekaligus tegas dan berwibawa.

    Mohonlah kepadaNya agar Anda diberikan kelemah-lembutan, ketenangan, dan kesahajaan Yesus, sekaligus ketegasan serta kewibawaanNya. Terkadang kita memang harus tegas, terutama bila lawan bicara Anda temyata keras kepala dan mulai menunjukkan kemarahan. Kalau perlu Anda dapat segera menghentikan pembicaraan. Jangan sampai Anda juga terpancing untuk emosi dan kemudian marah, apalagi sampai menyerang balik, menghina, atau menghakimi. Jika demikian Anda mungkin bisa terjatuh ke dalam dosa. Yesuslah satu-satunya hakim yang benar.

    d. Roh Kudus adalah Roh Kebijaksanaan

    Mohonlah kepadaNya karunia kebijaksanaan untuk melihat kehendak Bapa yang sebenarnya. Mohonlah agar Ia menerangi akal-budi, pikiran, ingatan, dan terutama kehendak Anda sehingga Anda mampu menjadi saluran kebijaksanaanNya. Dalam hal ini, satu hal yang hams selalu diingat: dalam segala usaha Anda untuk menjelaskan dan meyakinkan lawan bicara Anda, Anda tidak akan berhasil jika Bapa tidak menariknya dan membisikkan kebenaran ke dalam hatinya melalui Roh Kudus. Daripada memaksakan keyakinan Anda akan lebib baiklah berdoa mohon Roh Kudus sendiri yang menjamahnya melalui apa yang Anda sampaikan

    Sebagai penutup, izinkan saya menceritakan suatu kisah akan dua orang sahabat, Markus dan Stefanus. Markus dan Stefanus adalah dua orang sahabat yang tak terpisahkan. Persahabatan mereka telah dimulai pada saat mereka masih berada di bangku SMP dan terus berlanjut sampai mereka dewasa dan berkeluarga. Mereka memiliki banyak sekali kesamaan. Secara fisik, mereka berdua dikagumi oleh banyak lawan jenis. Secara intelektual, mereka sama-sama memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi. Hobby mereka juga sama, olahraga, khususnya sepakbola dan basket. Hanya ada satu perbedaan yang cukup mencolok dan mereka berdua: Markus berasal dan keluarga pendeta Methodis yang sangat kuat suasana kerohaniannya, sedangkan Stefanus dibesarkan dalam keluarga Katolik yang tidak terlalu memperhatikan pendidikan kerohanian dalam keluarga. Perbedaan ini rupanya tidak menjadi persoalan yang bisa mengganggu persahabatan mereka.

    Demikianlah, mereka terus menjalin persahabatan; belajar bersama, bersenang-senang bersama, kuliah bersama, melewati banyak suka dan duka bersama, dan akhirnya keduanya lulus dan universitas, menemukan pekerjaan dan pasangan hidup masing-masing. Sampai suatu ketika, Markus mengambil keputusan untuk menjadi seorang pendeta, mengikuti jejak ayahnya. Lalu ia mendaftarkan dirmnya ke sekolah tinggi teologi untuk menjadi seorang pendeta.

    Di dalam hari-hari studinya, ia mendapatkan suatu kesadaran baru akan betapa pentingnya keselamatan bagi manusia. Saat itu ia mulai berpikir tentang sahabatnya, Stefanus. Pandangan barunya itu menimbulkan suatu kekuatiran akan keselamatan sahabatnya sekaligus membangkitkan hasrat yang menggebu-gebu untuk menginjili sahabatnya dan membuktikan bahwa apa yang dipercayai oleh sahabatnya itu keliru. Mulailah hari-hari yang melelahkan itu. Setiap hari Markus selalu menyempatkan dirinya pergi ke rumah Stefanus, mendesak Stefanus untuk segera bertobat dan menmggalkan kepercayaannya yang sesat itu. Pada permulaannya, Stefanus memang tidak berkeberatan dan bahkan senang bertemu dengan sahabatnya itu. Tetapi ketika hal ini berlanjut terus-menerus selama berminggu-minggu, kesabaran Stefanus mulai menipis.

    Sampai suatu malam, ketika Markus, seperti biasanya datang untuk memaksakan hal yang sama, Stefanus menyambutnya dengan raut wajah dingin. Percakapan pada malam itu tidak berlangsung seperti biasanya. Suasana terasa sangat panas dan tegang. Sekali lagi Markus membuka Kitab Sucinya menyerang kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan orang-orang Katolik.

    Stefanus yang selama ini diam seribu bahasa karena tidak mampu membalas serangan-serangan Markus terhadap imannya itu tiba-tiba meledak, “Peduli apa kamu pada apa yang aku percayai! Peduli apa kamu kalau aku selamat atau tidak! Aku sudah muak. Muak, tahu?”

    Markus tertegun sebentar melihat kemarahan sahabatnya itu, “Tentu saja aku peduli. Kamu sahabatku.”

    Stefanus semakin jengkel saja, “Sahabat? Huh, aku tidak punya sahabat yang tahunya cuma cuap-cuap tidak karuan saja,” tukasnya dengan sinis.

    Mendengar itu ikut panaslah hati Markus, “Baik, baik. Persetan!”

    Dengan kata-kata itu ia berdiri dan pulang membawa sakit hati dan kemarahan yang besar. Berakhirlah persahabatan agung itu. Iblis pun bersorak-sorai.

    Siapa sebenamya yang salah? Cobalah untuk merenungkannya. Hal mi sebenarnya tidak perlu terjadi jika ada PENGERTIAN YANG BENAR AKAN IMAN KATOLIK. Ketidaktahuan dan kesalahpahaman akan ajaran iman Katolik telah membutakan banyak orang. Sebagai akibatnya, banyak hubungan penuh cintakasih yang telah dirusakkan olehnya. Masalah iman ini memang sangat sensitif dan membutuhkan banyak kesabaran untuk menjelaskarinya dan Anda tidak mungkin menjelaskan dan mempertanggungjawabkan iman Anda jika Anda sendiri tidak mengerti dan mengalami kebenarannya dalam hidup.

    Akhirnya, bila pada suatu ketika Anda sudah benar-benar terdesak dan mulai ragu-ragu akibat serangan-serangan yang berusaha menjatuhkan iman Anda, berdoalah bersama para rasul, ‘Tambahlah iman kami.” Bertekunlah sampai akhir dan semoga Tuhan memberkati Anda dan menambah iman Anda. Amin.

  3. manullang(org batak gk penting nama)
    23 November 2012 pukul 3:28 AM

    Untuk@pembuat blog:Hai PEMALAS…..UJILAH SEGALA SESUATU,DAN PEGANGLAH YG BAIK….janganlah memaksakan sbuah argumen yg tak jelas MENJADI SEBUAH KEHARUSAN.mari kembali keperintah Yesus Tuhan….”jadikanlah SEMUA[tdk ada pengecualian] bangsa menjadi muridku,dan baptislah mereka dengan nama’BAPA,PUTRA DAN ROHKUDUS.dan ajarlah mereka sesuai dengan yg KUPERINTAHKAN..,

    Nb:HAI PEMALAS,aku tak ingin engkau menjadi batu sandungan bagi saudaraku yg berada DI DAERAH ES,DIDAERAH GURUN PASIR,DIDAERAH RUMAH SAKIT,DIDAERAH MEDAN TEMPUR dsb.karna lebih baik bagimu (si@PEMBUAT BLOK) batu kilangan di ikat dilehermu lalu dicampakkan kelaut daripada engkau menjadi batu sandungan bagi saudara2ku yg lain yg ingin Menerima Yesus sbg juruslamatnya….

    Havenu shalom aleikhem.Lbu

  4. evan
    30 November 2012 pukul 1:02 PM

    Jadikanlah semua bangsa (termasuk bayi dan anak2, orang yg sakit berat di RS dll) muridku dan Baptislah ………, baptiso = dimasukkan kedalam lingkungan kerajaan Allah, silahkan direnungkan, hati hatilah karena akan banyak nabi nabi palsu yg memakai nama Tuhan untuk menyesatkan, mereka juga bisa membuat mujizat2 yg dahsyat, mereka pintar membangkitkan emosi sesaat dan memuaskan telinga, Ujilah segala sesuatu dengan Firman Tuhan, dan tekunlah berdoa, Tuhan memberkati, Amin.

  5. evan
    1 Desember 2012 pukul 12:08 AM

    Saudara2ku yg dikasihi Tuhan, rajinlah berdoa. membaca dan mengerti Firman Tuhan, agar terhindar dari nabi2 palsu yg menyesatkan, jika ada masalah, berdoa dan bertanyalah Kepada Tuhan, karena banyak orang yg mengaku hamba Tuhan yg siap menawarkan jasa untuk mengatasi masalah anda asalkan mau mengikuti kemauan mereka yaitu dibatis ulang dan menjadi Anggota jemaat mereka, jangan percaya pada mujizat2 mereka, jangan terpengaruh dengan musik2 yg bisa membangkitkan emosi sesaat ibarat nonton konser musik rock Sampai histeris, banyak orang gampang disesatkan karena tidak pernah membaca Firman Tuhan, hanya terpesona mendengar khotbah2 mereka (yg mengaku hamba Tuhan ), mintalah hikmat Kepada Tuhan untuk menguji segala sesuatu, kenalila mereka dari buah2nya, apakah yg mereka tabur tumbuh dengan baik, atau tumbuh hanya sesaat lalu mati, biasanya kehidupan mereka selalu menampakkan kemewahan duniawi. Peganglah dengan teguh apa yg Sudah Ada padamu dan tetap bertekun didalam Tuhan.Tuhan Yesus Kristus memberkati, Amin.

  6. sudung
    27 Desember 2012 pukul 4:03 AM

    Mengapa selam dan tidak selam menjadi persoalan? bukankah yg mensahkan suatu baptisan itu adalah “dalam nama BAPA, PUTRA dan ROH KUDUS”. apakah kuasa Tuhan itu terbatas oleh di selam/tidak nya? oleh air atau bukan air? mengapa “cara” itu menjadi suatu keabsahan? Mengapa mengecilkan arti kuasa Nama BAPA, PUTRA dan ROH KUDUS, dan menggeserkan nya dengan “selam/tidak” menjadi kunci suatu keabsahan baptisan? bukankan baptisan yg benar itu adalah dengan api dan roh? dan dilakukan oleh YESUS sendiri? Kuasa Nama BAPA, PUTRA dan ROH KUDUS lebih benar dibandingkan selam/tidak itu sendiri. Kuasa Nama Tuhan itulah yg mensahkan sesuatunya.
    Jikalau cara itu menentukan, mengapa tidak dirimu dibaptis di sungai Yordan? karena disitulah Tuhan kita dibaptis! Bukankah itu lebih tepat dan benar? Kuasa Tuhan tidak mengenal istilah darurat atau tidak darurat, Kuasa Tuhan melampaui akal dan pikiran manusia, mengapa sekarang kita katakan “tanpa selam” maka Kuasa Nama Tuhan itu tidak datang? Tidak lah pada tempatnya bagi saya dan kita semua menilai bahwa begini itu lebih “diridhoi” oleh Tuhan, karena itu adalah hak Tuhan untuk menentukan. Bukan saya atau siapapun juga. Mulailah menempatkan Tuhan atas segalanya, bahkan diatas perbuatan dan cara apapun yg kita lakukan. Karena disitulah letak Kemuliaan Tuhan, bahwa DIA lah diatas segalanya, dan yakinlah sesuatunya akan baik hasilnya apabila kita terlebih dahulu memohon berkat dan melakukannya, supaya DIA berkenan. GOD Bless Us

  7. 3 Agustus 2013 pukul 6:38 AM

    Benar bahwa Yesus dibabtis secara selam. Yesus melakukan itu karena Dia tahu bahwa Dia akan mati karena doa saudara dan saya, tetapi dia akan bangkit pada hari yang ke tiga. Setelah Yesus keluar dari air, Roh Allah menguasai Dia karena Dia adalah anak Allah, yg lahir BUKAN dari hubungan seks manusia.

    Dan baptisan bagi orang percaya (kristen) tujuannya adalah bahwa kita dimeteraikan dalam nama Bapa, Anak dan Roh kudus, yg memiliki arti bahwa kita telah menjadi milik Tuhan, sehingga hak kebangkitan menjadi milik kita, apabila kita mati sebelum Yesus datang yg ke dua.

    baI Kor 15:29 Jika tidak demikian, apakah faedahnya perbuatan orang-orang yang dibaptis bagi orang mati? Kalau orang mati sama sekali tidak dibangkitkan, mengapa mereka mau dibaptis bagi orang-orang yang telah meninggal?

    jadi, jelas baptisan itu berhubungan dengan kebangkitan orang mati, sehingga se-segera mungkin harus deimeteraikan dalam tiga nama. Awas, jangan lambat di baptis, kalau kamu meninggal, nggak di bangkitkan karena tidak punya meterai kebanggkitan, BUKAN meterai 6000.

    JADI, kawan2 yg pakai selam, lanjutkan saja dan yang pakai percik lanjudkan. keselamtan tidk diukur dengan baptis semprot atau molo.

    Tetapi keselamatan hanya diukur dangan pengakuan kepada Kristus, agar mendapat meterai tiga NAMA, sebelum nafiri dibunyikan agar saudara dibangkitkan….

    Catatan;
    Jika kalian masih berdebat tentng Baptisan, itu tanda bahwa kalian tidak pernah baca Alkitab, kalian hanya di suap-suap oleh teologia.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: