Beranda > Fundamental, INDONESIA > Suhento Liauw Jadi PRESIDEN

Suhento Liauw Jadi PRESIDEN


Setelah  pulang  dari  block-class  satu minggu penuh di Remnant International  Theological Seminary (RITS),  saya  terpaksa diopname di RS Royal Progress. Dokter mendiagnose  jalan  darah kurang  lancar  di  belakang  otak  yang diperkirakan disebabkan diabetes  sehingga mengalami  vertigo.  Ketika  sejumlah mahasiswa membesuk, dan saat  itu sedang ramai  dengan  berita  kemenangan  Jokowi-Ahok serta kekalahan Pak Hasan Karman di Singkawang,  seorang mahasiswa bertanya, apakah orang Kristen Fundamentalis boleh menjadi  pejabat  negara.  Saya  menjawab bahwa kalau orang baik tidak mau memimpin  maka  orang  jahat  yang  akan  menjadi pemimpin. Lalu dia bertanya lagi, kalau Pak Suhento dipilih jadi Gubernur apakah mau? Saya menjawab, tidak mau, tetapi kalau jadi Presiden, mau, dan semuanya  tertawa. Tentu pertanyaan  berikutnya  ialah,  alasannya? Saya menjawab  bahwa menjadi Gubernur tidak bisa berbuat banyak, tidak bisa membuat negara  ini baik,  tidak bisa membasmi korupsi.
Sistem negara Republik Indonesia sekarang  dalam  bentuk  otonomi  setengah  hati. Gubernur, Bupati, Walikota  tidak memiliki wewenang atas aparat hukum. Polisi  tidak dibawah  Gubernur  melainkan  di  bawah Kapolri.  Seorang  Gubernur  bahkan  tidak berwenang  atas  listrik  di  wilayahnya melainkan  PLN  pusat  yang  di  bawah kementrian  BUMN.  Dan  banyak  lagi ketimpangan  managemen  kepemerintahan yang terkesan otonomi daerah kacau balau. Semua  ini karena kekurangan hikmat pada para elit politik  Indonesia.
Saya ingat, pada saat reformasi dimulai, Suharto ditumbangkan, Bapak Amien Rais adalah yang paling gigih memperjuangkan Indonesia  sebagai  negara  federasi.  Tetapi entah  kenapa  ide  itu  sirna  dan  semuanya sepakat  bahwa  Indonesia  adalah  negara kesatuan.
Di benua Amerika ada United States of America  yang  berhasil  menjadi  negara nomor  satu  di  dunia. Dan  kelihatannya  di benua  Eropa  akan  ada  United  States  of  Europe.  Ada  fakta  bahwa  negara-negara yang maju bermartabat dan relatif tidak ada konflik  internal  adalah  negara  dengan bentuk  federasi.  Jerman  adalah  negara federasi,  demikian  juga  Australia.  Rusia juga  sebuah  negara  federasi,  dan  Irak sesudah  Sadam  Husein  adalah  negara federasi, bahkan negara jiran kita, Malaysia, adalah  negara  federasi.  Hampir  semua negara maju, demokratis, dan bermartabat, adalah  negara  federasi.  Dulu  Indonesia pernah  berbentuk  federasi,  dengan  nama RIS  (Republik  Indonesia  Serikat).  RIS berdiri  pada  tgl  27  Desember  1949  dan dibubarkan pada tgl 17 Agustus 1950, tidak sampai  satu  tahun.
Mungkin karena  trauma dengan masalah yang muncul pada saat RIS, maka sebagian  elit  terjangkit  fobia  terhadap  bentuk pemerintahan  federasi.  Padahal  masalah yang muncul di masa lalu belum tentu akan muncul  sekarang  atau  setidaknya  kalau muncul belum  tentu  tidak bisa diatasi karena sekarang situasi sudah banyak berubah. Dari segi  alat  komunisasi  saja,  zaman  itu telponnya masih pakai cara diengkol, namun sekarang hampir setiap orang di atas  tujuh belas  tahun ada handphone di  tangan.
Seandainya  Indonesia  berbentuk Seandainya  Indonesia  berbentuk federasi, maka Timor-Timur pasti masih di dalam  Indonesia,  karena  mereka  bisa mengibarkan bendera Fretelin lebih rendah sedikit  di  samping  Merah-putih.  Dan Indonesia pasti akan sangat makmur secara ekonomi  karena  antar  negara  bagian  akan terjadi perlombaan sehat untuk memajukan wilayahnya.  Dan  Indonesia  juga  akan memiliki  keragaman  variasi  yang  indah. Yang  suka  dengan  hukum  syariah  silakan pindah  ke Aceh  atau  negara  bagian  yang memberlakukan  hukum  syariah,  dan  yang tidak setuju dengan hukum Syariah silakan pindah ke Manado atau negara bagian  lain yang  tidak memberlakukan hukum Syariah.
Semua  negara  bagian  akan  berlomba dalam  segala  hal  baik  ekonomi  maupun keamanan  karena Gubernur  akan membawahi  polisi,  dan  pemerintah  federal  akan memiliki polisi federal yang bisa menyidik lintas negara bagian  (Semacam FBI).
Adalah  fakta  di  depan  mata  bahwa negara-negara  yang  mempergunakan sistem federasi menjadi lebih makmur dan lebih  bermartabat.  Tidak  perlu  ada pergolakan yang bersifat antar agama, antar suku  dan  antar  daerah.  Mengapakah  ide negara federal yang dulu sempat diusulkan gencar  oleh  Bapak Amien  Rais  menjadi buyar  bahkan  hampir  diharamkan  untuk dibahas? Anda  tahu  jawabannya?
Mungkin  ada  yang  berkata,  Anda belum menjawab, mengapa tidak mau jadi Gubernur  tetapi  mau  jadi  Presiden? Jawaban  saya,  karena  Indonesia  bukan berbentuk  federasi  maka  Gubernur  tidak bisa berbuat banyak. Hanya Presiden yang bisa  berbuat  banyak  untuk  menjadikan sebuah negara yang makmur dan damai.
Salah  Satu  Contoh  Ialah  Membasmi Korupsi
KPK mustahil bisa menghapus korupsi, apalagi Gubernur. Apa yang dilakukan KPK  hanya  seperti  sandiwara  yang menyuguhkan berita bagi berbagai media supaya  ada  bahan  untuk  penulisan  dan penayangan  mereka.  Adakah  penurunan tingkat  korupsi  oleh  gebrakan  KPK?
Jawabannya,  ada.  Tetapi  hanya  sebatas korupsi  besar  atau  korupsi  yang  sifatnya besar-besaran.  Sedangkan  pungli  yang berhubungan  langsung  dengan  rakyat kecil,  tidak pernah berubah.
Contoh  kecil  saja, Anda  dipersilakan membesuk  orang  di  Rutan  Salemba, Pondok  Bambu,  Cipinang,  hingga  ke Mabes Polri. Anda bisa tes, masih adakah pungli?  Silakan  Anda  mewawancarai orang-orang yang mengurus KTP, Paspor, IMB  dan  berbagai  dokumen,  terutama keturunan Tionghoa, maka Anda akan tahu masih  adakah  tindakan  pungli  itu.  Yang lebih aneh lagi adalah Dispenda di daerah. Ternyata  proses  jual-beli  tanah  di  daerah (Pontia-nak),  urusan  pajaknya  bukan berdasarkan harga jual-beli dan juga bukan berdasarkan  NJOP  di  lembaran  PBB, melainkan  harus  melalui  penaksiran petugas  Dispenda.   Pembaca  bisa bayangkan apa yang terjadi antara penjual, pembeli dengan petugas Dispenda.
Mungkin  ada  yang  berkata,  jangan begitu,  membasmi  korupsi  itu  pekerjaan sulit. Saya menjawab, sesungguhnya membasmi korupsi  itu gampang, bahkan segampang  membalikkan  telapak  tangan.  Ada yang  berkata,  Anda  sesumbar.  Bisa  jadi bahwa  saya  sesumbar  jika  saya  berkata bahwa  itu  gampang  tanpa  memaparkan konsep  dan  caranya.  Kita  banyak  mendengar  janji  politik  para  politikus  dan pembahasan  dalam  berbagai  diskusi. Semuanya  berkata  bahwa  korupsi  harus dibasmi, tetapi tidak ada yang menjelaskan langkah-langkah pelaksanaannya.
Christianto  Wibisono  pernah  memaparkan  program  pembasmian  korupsinya kepada DPR  dalam  rangka  uji  kelayakan sebagai pimpinan KPK.  Ia ditolak karena programnya  tidak  cocok  untuk  seorang pemimpin  KPK  melainkan  lebih  cocok untuk  seorang  Presiden.  Inilah  dasarnya bagi saya untuk berkata bahwa KPK tidak bisa membasmi korupsi,  atau untuk  tidak mengecilkan  hati  mereka  kita  katakan bahwa  hanya  bisa  mengurangi  korupsi yang  sifatnya  terang-terangan  dan  besar-besaran. Karena sesungguhnya membasmi korupsi  itu  wewenang  seorang  kepala negara, atau Presiden. Dan itulah sebabnya saya berkata bahwa saya  tidak mau menjadi seorang  Gubernur  karena  kepalang  tanggung.  Kalau  jadi  Presiden,  mau,  karena jabatan  itu  betul-betul  bisa  merubah Indonesia.
Cara Membasmi Korupsi
Hanya diperlukan  tiga Dekrit Presiden, maka  Indonesia  akan  menjadi  negara terbersih dari korupsi dan pungli di muka bumi.
Dekrit  Pertama,  Umumkan  grace period  selama setahun bagi siapa saja yang telah melakukan  korupsi  untuk mengembalikan  separuh  (50%),  maka  sisanya dinyatakan halal  atau diberikan grasi dan boleh  dinikmati  secara  terbuka.  Sesudah masa  satu  tahun  maka  hukuman  bagi koruptor  yang  di  atas  10  miliar  adalah minimum hukuman mati, yang satu miliar hingga 10 miliar minimum seumur hidup, dan 100  juta hingga satu miliar minimum 20  tahun,  yang  10  hingga  100  juta minimum  10  tahun  dan  yang  satu  juta hingga sepuluh juta minimum 5 tahun, dan yang  seratus  ribu  hingga  satu  juta maksimum  hingga  5  tahun.  Sedangkan yang korupsi di bawah seratus ribu (pungli) dihukum  pemecatan.  Setelah  satu  tahun, semua  aparat  pemerintah  akan  dinaikkan gaji mereka sekurang-kurangnya satu kali lipat, dan  selanjutnya akan naik  terus.
Dekrit Kedua, barangsiapa yang melaporkan  dan  kemudian  terbukti  benar  di pengadilan, anak-buahnya melakukan  tindakan korupsi, pangkatnya akan dinaikkan satu jenjang. Yang bersangkutan juga akan diberikan  hadiah  sebesar  10%  dari  uang yang  dihindarkan  dari  tindakan  korupsi. Sedangkan  barangsiapa  yang melaporkan dan  kemudian  terbukti  di  pengadilan, atasannya yang melakukan  tindakan korupsi, pangkatnya akan dinaikkan dua jenjang. Yang  bersangkutan  juga  akan  diberikan hadiah sebesar 10% dari uang yang dihindarkan  dari  tindakan  korupsi.  Kenaikan jenjang  tentu  hanya  sampai  pada  tingkat jenjang  tertinggi yang memungkinkan.
Dengan dekrit  ini maka semua pegawai baik sipil, kepolisian maupun militer semuanya  adalah  “anggota  KPK”.  Hasilnya, aparatur Republik Indonesia akan menjadi yang  terbersih dari korupsi di muka bumi. Hari  ini kita dibuat  terheran-heran ketika  kita  mendengar  komentar  para  elit politik tentang ketidakakuran antara kepolisian dan KPK. Kita mendengar komentar   seolah-olah  mereka  harus  akur-akur  dan tidak  boleh  saling  menangkap.  Padahal yang  ideal  sesungguhnya  adalah  kalau mereka tidak akur, yaitu polisi takut KPK dan KPK takut polisi. Bahkan lebih bagus lagi  kalau  atasan  takut  pada  bawahannya dan  bawahannya  takut  pada  atasannya, bukannya  berkorupsi  bersama-sama  dan dibagi sama-sama, atau pinjam  terminologi ulama, yaitu “korupsi berjemaah.” Intinya, seluruh  aparatur  negara  harus  saling mengawasi.  Kalau  polisi  tidak  mau menangkap polisi yang bersalah, maka itu bukan  polisi  lagi  melainkan  gerombolan penjahat yang bersenjata.
Dekrit  ketiga,  adalah  tentang  suap menyuap  antara  pihak  swasta  dengan aparatur negara. Pihak swasta yang merasa dipersulit  sehingga  kalau  tidak  memberi uang maka  urusan  tidak  bisa  beres,  atau semacam  pemerasan  terselubung,  silakan melapor  lebih  dulu  maka  yang  bersangkutan  bisa  mengambil  kembali  uangnya 50%,  sisanya  50% masuk  ke  kas  negara, dan yang bersangkutan tidak bisa dituntut.
Sedangkan  pihak  aparat  negara  yang merasa  disogok  padahal  tidak  senang dengan  tindakan  tersebut  silakan melapor lebih dulu, maka yang bersangkutan akan memperoleh  10%  dari  uang  sogokan, sisanya masuk kas negara. Suasana saling takut  antara  yang  memberi  dengan  yang menerima  harus  dibangunkan  agar  tidak ada yang mencoba untuk memulainya.
Kasus  Ibu  Hartati  Murdaya  yang sekarang (26 September 2012) sedang ditahan  oleh KPK,  sebenarnya  sangat  klasik. Karena sejak zaman Orba, hampir  tidak ada pejabat  yang mau memberi  tanda  tangan tanpa ada uang pelicin. Hal ini bukan rahasia lagi. Di kalangan pengusaha Tionghoa sudah ada pepatah, tidak ada minyak maka gorengan  tidak  bisa  lepas  alias  akan lengket. Kalau  tanpa kasih uang urusan bisa mulus, tidak ada satu pengusaha pun yang rela  kasih  uang,  karena  hakekat  dari berbisnis  itu  mencari  uang,  dan  hampir semua pengusaha adalah orang-orang yang cinta uang.
Jika  Presiden  tidak  bisa  serta-merta mengeluarkan  Dekrit,  maka  dia  harus membuat usulan kepada DPR, dan anggota DPR yang menentang program Basmi Total Korupsi,  harus  diperiksa  oleh  kepolisian dan  kejaksaan.  Yang  menentang  sangat mungkin  sudah  korupsi,  atau  sedang korupsi,  atau  berencana  untuk  korupsi supaya  balik  modal  biaya  kampanye. Intinya,  tindakan  membasmi  korupsi  itu sesungguhnya  gampang,  bahkan  sangat gampang.  Masalahnya  hanya,  yang  jadi presiden  itu siapa? Kalau Suhento Liauw, maka  Indonesia  akan  menjadi  negara terbersih  di  dunia. Mahasiswa  saya  yang membesuk  tertawa  terbahak-bahak. Namun yang terindah ialah menjadi hamba Tuhan  semesta alam.***
  1. Eko
    19 Oktober 2012 pukul 7:52 AM

    Hahaha, maaf Suhento Liauw gak ada potongan dan kapasitas jadi presiden, mungkin bisa dicoba mengajukan diri jadi lurah setempat. Tapi feeling gw nih, gak bakal terpilih,jadi mungkin mimpi kali kalau maunya jadi presiden, yang milih tidak ada wakakakaka

  2. 19 Oktober 2012 pukul 11:16 AM

    Eko….. judulnya memang sengaja Bombastis. Namun jelas, kesimpulan akhir bagi diri pak suhento ada di kalimat terakhir.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: