Beranda > Fundamental > KAMU ADALAH KUBUR YANG DILABUR PUTIH

KAMU ADALAH KUBUR YANG DILABUR PUTIH


27 Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran. 28 Demikian jugalah kamu, di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kedurjanaan. (Mat.23:27-28)

Sungguh tak sanggup kita bayangkan wajah para ahli Taurat dan orang Farisi yang mendengarkan khotbah Tuhan Yesus. Mungkin di hati mereka, mereka memaki balik Dia dengan kata-kata yang lebih kasar. Alkitab mencatat bahwa mereka mencari kesempatan untuk membunuh Dia.

Mereka Tidak Mengenal Tuhan
Ahli Taurat dan orang Farisi melayani Tuhan dengan tanpa mengenal Tuhan. Mereka tidak mencermati nubuatan tentang kedatangan Tuhan dengan segala sifat dan tandanya. Akibatnya ketika Tuhan yang mereka layani berdiri di depan mereka, mereka bukan hanya tidak menyadarinya malahan mereka menentangNya. Bayangkan kalau hal demikian terjadi pada Anda?

Misalnya kita sedemikian giat melayani Tuhan, tetapi ternyata kita menentang kebenaran firmanNya. Oleh sebab itu, belajar dari apa yang terjadi pada para ahli Taurat dan Farisi, sebaiknya kita tidak tergesa-gesa menolak suatu pengajaran. Jika ada pengajaran yang baru, ada baiknya kita pelajari seperti orang-orang Yahudi di Berea untuk mencari tahu apakah pengajaran yang baru itu sesuai dengan Alkitab atau tidak.

Mereka tidak berusaha mencari tahu tentang tempat kelahiran Yesus. Ketika dewasa Yesus memang tinggal di Nazaret, bukan Betlehem, sehingga Ia disebut Yesus orang Nazaret. Para ahli Taurat tidak bisa terima Mesias yang adalah orang Nazaret, menurut mereka seharusnya Mesias orang Betlehem. Tetapi mereka tidak berusaha mencari tahu, mungkinkah Yesus anak yang menyebabkan pembunuhan bayi Betlehem tiga puluhan tahun silam? Peristiwa pembunuhan bayi Betlehem sengaja diijinkan terjadi sebagai tonggak sejarah bagi orang-orang yang cinta dan peka terhadap kebenaran.

Aktivitas Kristus yang melakukan banyak mujizat tidak dapat dipahami dengan benar oleh para ahli Taurat. Seharusnya mereka tahu tentang nubuatan Nabi Yesaya 35:5-6, bahwa ketika Jehovah hadir maka orang buta akan melihat dan orang timpang akan berjalan. Para ahli Taurat dan orang Farisi tidak dapat membedakan antara Mesias yang melakukan mujizat dengan tukang tipu pembuat mujizat palsu.

Orang Kristen zaman sekarang, bahkan pemimpin mereka juga tidak dapat membedakan antara Mesias pembuat mujizat dan Rasul-rasul pembuat mujizat dengan para pembuat mujizat palsu zaman sekarang. Yesus Kristus membuat mujizat untuk menggenapi nubuatan bahwa Mesias datang dan Ia akan mengadakan mujizat.

Rasul-rasul melakukan mujizat adalah sebuah pembuktian bahwa mereka Rasul Yesus Kristus (II Kor.12:12). Sedangkan pengkhotbah zaman sekarang melakukan mujizat adalah pembuktian bahwa mereka nabi palsu dan rasul palsu (Mat.24:23-24).

Karena sebagaimana dinubuatkan dalam Matius pasal 24 bahwa akan datang mesias-mesias palsu dan mereka akan mengadakan berbagai mujizat untuk menyesatkan orang, maka masuk akal sekali bagi orang-orang yang waspada untuk menandai orang-orang yang katanya melakukan mujizat. Manusia masa kini akan melakukan kesalahan sejenis yang dilakukan para ahli Taurat dan Farisi jika mereka tidak dapat membedakan Mujizat Yesus Kristus, mujizat para Rasul dan mujizat nabi palsu sebagaimana yang dinubuatkan dalam Injil Matius pasal 24.

Mereka Penuh Kemunafikan
Kalau Tuhan sendiri yang mengatakan bahwa ahli Taurat dan orang Farisi penuh kemunafikan, maka itu tidak perlu disangsikan oleh siapapun karena Tuhan adalah pribadi yang maha tahu. Kalau sesama manusia saling menuduh munafik tentu itu hanya sebuah prasangka. Apakah itu munafik? Dalam Kamus Besar bahasa Indonesia diartikan berpura-pura percaya atau berpura-pura setia.

Kalau seorang pemimpin bernubuat bahwa Yesus akan datang satu bulan lagi, dan pengikutnya disuruh menjual rumah, tanah dan menyerahkan harta mereka kepadanya, itu adalah kemunafikan yang amat sangat. Karena sudah sangat menyolok bahwa ia tidak percaya bahwa Yesus akan datang. Jika ia percaya bahwa Yesus betul-betul akan datang satu bulan lagi, maka ia seharusnya orang pertama yang menjual rumah dan tanah untuk dibagi-bagikan kepada orang-orang miskin bukan menyuruh orang-orang miskin menyerahkan harta mereka kepadanya.

Pemimpin yang mengajar umatnya untuk tidak cinta uang, bahkan mengajarkan agar mereka melayani Tuhan dengan penuh kasih tanpa pamrih, namun mematok harga untuk gereja yang mengundangnya, bahkan mengharuskan pembayaran persekot di depan, adalah tindakan munafik yang dahsyat. Suami-istri yang berpura-pura akur di depan orang tetapi pada dasarnya penuh dengan pertentangan di dalam adalah salah satu bentuk kemunafikan.

Orang-orang Farisi dan ahli Taurat dikatakan Tuhan tampaknya mereka benar di mata orang tetapi di sebelah dalam penuh kemunafikan. Mereka memanggil Yesus Kristus guru, tetapi mereka sesungguhnya tidak setuju dengan pengajaranNya. Kelihatannya para ahli Taurat dan orang Farisi sudah terbiasa dengan sikap berpura-pura. Mereka sudah biasa berpura-pura rajin berdoa, dan sengaja melakukannya di depan orang. Saya pernah kenal seorang hamba Tuhan yang kalau orang datang mengetuk kamarnya, di pastori yang dihuni oleh beberapa pelayan Tuhan, ia selalu berkata bahwa tadi dia di dalam kamar sedang berdoa. Padahal dia tidak perlu berpura-pura, kalau tidur ya katakan saja tidur, tidak perlu merasa bersalah.

Ada pengkhotbah atau pemimpin kebaktian yang jago berpura-pura menangis, dengan suara yang memilukan hati, bahkan ada yang suaranya sengaja dibuat-buat. Ada juga yang suaranya bergetar-getar. Kemunafikan para ahli Taurat dan orang Farisi rupanya berlanjut hingga pada pelayan Tuhan di abad modern.

Teguran Yang Mengerikan
Saya yakin tidak ada seorang pengkhotbah pun yang berani mengulangi ucapan Tuhan Yesus di atas mimbar. Kita tidak memiliki pengetahuan seperti Tuhan yang mengetahui seluruh isi hati manusia. Tuhan tentu tahu isi hati para Farisi dan ahli Taurat.

Tuhan bukan hanya menyebut mereka kubur yang berlabur putih, Tuhan juga menyebut mereka keturunan ular beludak (Mat.23:33). Keturunan ular beludak itu sebuah pernyataan yang sangat menusuk hati. Berarti mereka memang dari benihnya saja sudah rusak, sudah penuh racun. Lalu, apakah yang harus dilakukan seorang manusia ketika mendapat makian yang sedemikian dahsyat? Lebih spesifik, apakah yang harus dilakukan seorang Kristen jika ia mendapat teguran atau makian sedemikian keras? Marah besar? Atau malah bunuh orang seperti yang dilakukan oleh para ahli Taurat dan orang-orang Farisi?

Injil Matius pasal 23 adalah pasal dimana Yesus Kristus marah kepada para ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Mereka disebut merintangi orang lain masuk Sorga dan mereka sendiri tidak masuk. Tuhan melihat mereka merintangi orang datang kepada Sang Mesias dan mereka sendiri dipenuhi rasa iri kepada Tuhan Yesus.

Para ahli Taurat dan Farisi telah secara turun-temurun menikmati keistimewaan posisi sosial masyarakat. Posisi mereka bahkan sudah berkarat sehingga mereka sendiri tidak mengerti lagi hakekat fungsi jabatan mereka. Karena pengajaran Yesus Kristus tidak menyenangkan hati mereka, maka mereka pasti memberi nasehat kepada masyarakat untuk tidak mengaminkan pengajaran Yesus. Di zaman modern ini kita juga dapatkan banyak pemimpin agama bahkan pemimpin gereja yang sudah mapan secara tradisional. Pernah terjadi, seorang alumni GITS pulang kampung dan mencoba mendirikan jemaat di kampungnya. Penentang utamanya adalah gembala jemaat dari sebuah gereja di kampung itu. Gembala tersebut marah besar dan menegur alumni GITS serta melarangnya mendirikan gereja. Dengan ancaman dan kemarahan yang meledak-ledak ia berkata bahwa kampung itu adalah wilayahnya dan tanpa seijinnya tidak ada yang boleh mendirikan gereja di kampung itu.

Ia bertindak persis sama dengan para ahli Taurat dan orang Farisi. Bahkan saya mendengar ada gubernur yang oleh hasutan denominasi tertentu mau mengeluarkan peraturan yang melarang gereja baru berdiri tanpa seijin tiga denominasi besar yang sudah eksis. Saya sangat heran, karena seandainya kalau di provinsi itu keluar peraturan bahwa tidak boleh ditambah pedagang beras lagi, dan pembukaan toko beras harus mendapat ijin atau restu dari toko beras yang sudah eksis, maka manusia seluruh dunia pasti akan tertawa.

Ahli Taurat dan para Farisi menutup pintu Sorga, yaitu dengan melarang orang mendekati kebenaran. Ada banyak “pendeta” masa kini juga menutup pintu Sorga bagi orang-orang di sekitarnya. Mereka melarang anggota mereka untuk mempelajari Alkitab. Seandainya seorang Gembala yakin bahwa pengajarannya adalah penga-jaran yang benar dan sangat alkitabiah, ia sama sekali tidak perlu kuatir apalagi takut ada pihak lain yang mendirikan gereja di daerahnya. Anggota jemaat Graphe bahkan tidak dilarang untuk berdiskusi dengan para Saksi Jehovah yang berani datangi rumah mereka. Kami sangat yakin pengajaran kami lebih benar dari pengajaran Saksi Jehovah.

Masalah Mangkok Nasi
Para ahli Taurat dan orang Farisi adalah pemuka agama yang menjadikan agama untuk mencari makan. Mereka dipanggil Rabi, dan mereka selalu diminta untuk berdoa dan kemudian mereka menerima bayaran untuk doa mereka. Supaya terlihat serius sehingga akan lebih dihargai, maka doa tentu harus diusahakan lumayan panjang. Jadi, ketika Tuhan Yesus terlihat menarik perhatian umat, maka yang terlintas di benak mereka adalah bahwa mereka akan kehilangan “mangkok nasi” atau mata pencarian mereka. Tidak ada sedikit pun pada mereka sikap untuk mencari tahu sumber pengajaran yang disampaikan oleh Yohanes Pembaptis dan Yesus Kristus. Fokus mereka hanya pada masalah kehilangan pelanggan untuk berdoa.

Di Kalimantan Barat, di Siantan, ada sebuah klenteng Kwan Im. Dulu orang-orang di sekitar klenteng sangat setia membawa anak mereka yang sakit untuk berobat ke sana. Kalau pihak klenteng sudah kekurangan duit maka anak-anak “customer”-nya mulai sakit dan ibu mereka akan membawa mereka menghadap dukun di klenteng untuk menerima kertas jampi-jampi yang dibakar dan diminum airnya.

Banyak “pendeta” di gereja zaman sekarang juga memperlakukan anggota jemaat mereka sebagai sapi perah. Mereka memelihara jemaat bukan berorientasikan kepada kebenaran melainkan kepada uang. Yang mereka kuatirkan bukan anggota mereka tersesatkan, melainkan uang persembahan mereka akan lari ke gereja lain. Tuhan tentu tahu sekali isi hati para pemimpin gereja zaman sekarang. Bukankah sikap hati demikian persis sama dengan sikap hati para rabi zaman Tuhan Yesus?

Jika para pemimpin gereja betul-betul berfokus pada keselamatan jiwa domba yang digembalakan mereka, maka mereka akan duduk tenang, mengajak anggota jemaat mereka untuk mengkaji pengajaran baru yang dihadapi oleh anggota jemaat mereka. Mereka seharusnya mampu menunjukkan letak kesalahan pengajaran baru yang didengar oleh anggotanya. Tetapi jika ia hanya marah-marah, dan tanpa membahas lalu menuduh-nuduh serta berusaha mengancam si pembawa ajaran baru di wilayahnya, maka dapat dipastikan bahwa yang menjadi fokus hatinya adalah masalah uang, yaitu masalah mangkok nasinya.

Masalah Gengsi Yang Tinggi
Tuhan mensinyalir para ahli Taurat dan orang Farisi telah dirusak oleh gengsi mereka sendiri. Mereka suka memakai jubah yang berjumbai untuk menandai status mereka. Dan mereka suka dipanggil rabi. Jika kehormatan dan harga diri yang seseorang pasang terlalu tinggi, maka itu akan menyebabkan mereka terlalu tinggi dari kebenaran.

Selama tujuh belas tahun mengadakan seminar doktrinal, dan telah terlaksana lebih dari seratus kali, kami tidak mendapatkan tantangan argumentatif yang berarti. Tentu bukan sebuah sikap sombong jika kami yakin bahwa pengajaran yang kami seminarkan adalah pengajaran yang paling mendekati Alkitab dan paling mendekati akal sehat. Dan kesimpulan ini tentu bukan omong kosong dari diri kami, melainkan dibenarkan oleh orang-orang yang mengikuti seminar.

Yang repot sekali adalah bahwa banyak sekali orang yang belum pernah hadir dalam seminar, dan belum pernah membaca buku yang kami terbitkan, bahkan belum pernah mendengar penjelasan langsung dari kami, namun dengan serta-merta menyatakan bahwa doktrin yang diajarkan Graphe sesat. Tetapi ketika ditanya apakah yang bersangkutan pernah hadir dalam seminar? Jawabannya, belum pernah. Apakah pernah membaca buku yang diterbitkan oleh Graphe? Jawabannya, belum pernah. Lalu ditanya, apa dasarnya Anda berkata bahwa pengajaran Graphe salah? Jawabannya, kata orang.

Setelah ditelusuri, ternyata mereka meletakkan gengsi mereka terlalu tinggi. Ketika saya seminar doktrin Keselamatan, Alkitab dan Gereja di sebuah kota, seorang hamba Tuhan berdiri dan dengan wajah yang sangat sedih ia berkata bahwa alangkah baiknya jika bahan yang didengar ini diseminarkan kepada ketua sinodenya. Menurutnya ini adalah pengajaran yang paling benar yang pernah ia dengar. Namun jika ia mengikuti pengajaran ini, maka sudah bisa dipastikan bahwa ia akan dikeluarkan dari lingkup sinodenya.

Saya menjawabnya bahwa tentu sangat indah jika ketua sinodenya bersedia hadir dalam seminar seperti ini. Tetapi akhirnya peserta seminar kasak-kusuk, mereka berkata bahwa mana mungkin ketua sinodenya rela merendahkan hatinya untuk ikut seminar. Dia menganggap dirinya sudah sangat tahu, sudah sangat hebat, padahal tidak tahu apa-apa.

Ada banyak ketua sinode yang tidak tahu alasan kanon Akitab terdiri dari 66 kitab. Mereka juga tidak tahu siapa yang memasang pasal dan ayat dalam Alkitab. Mereka tidak dapat membedakan masa keimamatan ayah, keimamatan Harun dan keimamatan setiap orang percaya. Banyak di antara mereka bahkan tidak tahu cara manusia Perjanjian Lama diselamatkan. Mereka tidak tahu masih bolehkah orang Kristen percaya kepada mimpi? Mereka tidak tahu dan tidak mau tahu gereja yang benar harus diurus dengan bagaiman? Apakah sistem penggajian yang alkitabiah? Sungguh, masih ada banyak hal yang mereka tidak tahu, namun “ahli Taurat dan orang Farisi” itu tidak mau belajar. Tidak mau merendahkan hati untuk belajar. Tuhan Yesus berkata tentang mereka bahwa mereka adalah orang buta yang sedang menuntun orang buta. Sungguh mengkuatirkan hati, karena mereka akan masuk jurang.***

  1. 3 Maret 2016 pukul 9:01 PM

    Banyak saya lihat saat ini, pdt menjual firman karena sesuap nasi, ini yang saya lihat gembala-gembala upahan. fakta dan kenyataan gereja saat ini

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: