Beranda > RENUNGAN > AKHIRNYA MISKIN ITU HEBAT & BERARTI

AKHIRNYA MISKIN ITU HEBAT & BERARTI


Salah satu keajaiban abad modern ini ialah ternyata orang-orang miskin semakin dihargai dan semakin bernilai daripada di masa lalu. Mereka menyebut orang-orang miskin rakyat, warga negara, bahkan sekalipun tidak membayar pajak, mereka disebut sebagai orang yang paling berhak memakai uang hasil pajak. Mengapakah bisa demikian?

Pada zaman kaisar, raja, sultan, sheik berkuasa, orang miskin adalah orang yang tidak berhasil dalam hidupnya. Mereka berjalan sambil menunduk bahkan tidak berani menegakkan kepala. Sudah pasti mereka tidak memiliki bawahan, melainkan selalu menjadi bawahan. Mereka bukan pemberi kerja melainkan pencari kerja.

Sementara pada zaman itu orang kaya adalah kelompok orang yang bisa berkata sombong. Mereka pemberi kerja.  Orang kaya selalu dikelilingi banyak orang karena dari orang kaya akan berjatuhan banyak rezeki untuk orang-orang di sekitarnya. Orang kaya merasa mereka adalah penunjang negara karena mereka pembayar pajak dan dengan uang pajak semua aparat pemerintah digaji, jalan dibuat, jembatan dibangun. Untuk itu orang-orang kaya berpikir bahwa mereka patut dihormati dan dihargai.

Zaman Berubah Karena Demokrasi

Tetapi kemudian zaman berubah, karena sistem demokrasi yang dipakai oleh hampir semua negara, maka nilai dari tiap-tiap orang yang memberi suara pada saat pemilihan, baik kaya maupun miskin,  menjadi sama. Bahkan, seorang miskin yang memiliki tujuh-delapan anak, atau seorang yang memiliki beberapa istri dengan puluhan anak, menjadi lebih bernilai bagi para politisi.

Obama dengan partai Demokratnya memanfaatkan orang-orang miskin melalui program Health-care  dan foodstamp. Sedangkan di Indonesia politisi berebut andil di dalam pembagian BLSM.  Di Inggris, bahkan di seluruh Eropa, partai yang berbasis buruh dan faham sosialis satu persatu menggantikan partai dengan faham konservatif. Mereka memakai pola “Robinhood” yaitu memajaki dengan tinggi (merampok) orang-orang kaya, dan memberi bantuan (membagi) kepada orang miskin melalui berbagai program subsisi dan bantuan sosial.

Dengan uang pajak yang berhasil dikumpulkan, mereka menawarkan pengobatan gratis, sekolah gratis, melahirkan gratis, bahkan makan-minum gratis. Di USA ada program subsidi bagi wanita yang melahirkan anak tanpa suami. Kalau satu anak $ 500 maka ibu yang tanpa suami dengan empat anak akan menerima $2.000. Di zaman PL wanita yang melahirkan anak tanpa suami diperintahkan dirajam. Di Inggris juga ada program yang sama, seorang teman dari Inggris bercerita, bahwa suami-istri yang tidak sanggup memenuhi kebutuhan mereka bisa berpura-pura cerai supaya sang istri bisa mendapatkan tunjangan pemerintah, dan malam-malam si suami kapan saja bisa pulang tidur.

Orang kaya tentu tidak bisa menolak semua kebijakan pemerintah sosialis itu karena diputuskan oleh anggota parlemen yang dipilih oleh rakyat, dan jumlah rakyat yang menginginkan bantuan lebih banyak daripada rakyat yang membayar pajak besar. Orang kaya pembayar pajak tidak boleh bertanya tentang logika pajak progresif, mengapa yang dapat lebih banyak uang harus membayar lebih banyak? Membayar lebih banyak pajak namun tidak mendapatkan hak politik lebih banyak. Karena kalau mereka bertanya atau berargumentasi, mereka akan langsung dicap jahat. Jangan kan mempertanyakan pajak progresif, mereka mengisi minyak premium subsidi saja dinilai salah dan jahat. Padahal, subsidi tentu diambil dari uang pajak, dan orang kaya adalah yang membayar pajak. Coba bayangkan, seorang CEO sebuah perusahan mengisi minyak premium sebulan satu juta rupiah, dari jumlah itu ia tersubsidi dua ratus ribu rupiah, sedangkan pajak yang dibayarnya lima belas juta rupiah sebulan. CEO tersebut sebenarnya masih sebagai rakyat yang mensubsidi, bukan yang menerima subsidi.

Jadi, karena demokrasi, para politisi menginginkan suara orang-orang miskin yang jumlahnya jauh lebih banyak dari orang kaya, maka secara otomatis muncul sikap yang cederung menyenangkan pemilik suara mayoritas. Politisi manapun yang tidak melakukan taktik “Robinhood”, pasti akan kalah dalam pemilihan. Itulah yang dilakukan oleh Obama, Tony Blair, Sarkozy dan lain-lain.

Demokrasi Bisa Meruntuhkan Negara

Dari catatan sejarah, kelompok Ana-baptis yang melarikan diri dari Eropa ke Amerika karena penganiayaan terhadap iman mereka, tiba di Plymouth 11 November 1620, adalah kelompok orang yang pertama memperkenalkan demokrasi. Sebelum mereka naik ke daratan, mereka semua menandatangani sebuah traktat yang menyatakan bahwa tidak ada di antara mereka yang mencoba untuk menjadi penguasa atas mereka, bahwa pemimpin mereka adalah orang yang mereka pilih.  Traktat yang ditandatangani itu disebut Mayflower Compact, yaitu memakai nama kapal yang membawa mereka ke benua Amerika. Dengan demikian sesungguhnya Ana-bapstis adalah kelompok orang pertama yang memperkenalkan ide demokrasi bukan Montesquieu, karena Montesquieu lahir 19 Januari1689, yaitu 69 tahun sesudah peristiwa Mayflower Compact.

Gereja Baptis di benua Amerika kemudian berkembang pesat, bahkan kemudian menjadi kelompok mayoritas. Orang-orang Baptis adalah yang paling mendukung kemerdekaan Amerika dari jajahan Inggris. Kerena sebelumnya mereka telah dianiaya di Eropa (Inggris), dan ketika melarikan diri ke benua Amerika, ternyata mereka diikuti oleh penjajah dari Eropa. Akhirnya, 4 Juli 1776 mereka berhasil melepaskan diri dari jajahan Inggris, dengan presiden pertama George Washington yang adalah seorang Baptis. The United States of America (USA), dimulai dengan Bapa bangsa seorang Baptis, dan dengan rakyat mayoritas adalah orang-orang Kristen Baptis.

Demokrasi itu bisa mengarah kepada kebaikan adalah jika mayoritas rakyatnya baik, karena hanya dari rakyat yang baiklah akan terpilih pemimpin yang baik. Pemimpin yang baik memikirkan kebaikan bagi seluruh rakyatnya secara jangka panjang. Orang-orang yang memiliki pikiran brilian, hati yang tulus murni, dan penuh keberanian membela kebenaran, akan terpilih menjadi pemimpin. Semua rakyat tahu bahwa mereka harus bekerja untuk menunjang kehidupannya, dan bahwa menganggur itu sesuatu yang tidak baik bahkan itu adalah sebuah aib. Wanita hamil tanpa suami adalah sebuah kesalahan fatal dan aib bagi keluarga serta masyarakat. Orang demikian harus menerima sanksi sosial bukan dana subsidi.

Tetapi karena bangsa-bangsa penyembah berhala dan penyembah illah lain bersekolah dan berimigrasi ke USA, ditambah lagi dengan kefasikan orang Amerika yang terpicu modernisasi, maka masyarakat Amerika yang tadinya sangat beriman kepada Alkitab, menjadi semakin menjauhi Alkitab. Orang Kristen USA mengirim misionari ke berbagai negara untuk memberitakan Injil, sebaliknya berbagai negara mengirim penyembah illah palsu memenuhi USA. Mahasiswa bahkan profesor atheis memenuhi kampus di USA, sehingga orang-orang jahat dan orang-orang yang tak menghiraukan moral bertambah.  Semakin hari semakin banyak ibu yang tidur kesiangan dengan kekasihnya sehingga anak-anak mereka dengan perut kosong menuju sekolah. Karena kasihan kepada anak mereka, akhirnya pemerintah menyediakan sarapan pagi di Public-School.

Di seluruh dunia, kita bisa melihat sebuah pola yang sama, yaitu politisi berusaha menyogok kelompok mayoritas. Caranya beraneka ragam, yaitu foodstamp, healthcare, kartu sehat, kartu pintar dan berbagai program subsidi. Minyak disubsidi, rumah disubsidi, transpotasi disubsidi, sekolah disubsidi, pengobatan disubsidi. Menentang semua itu, tentu menjadi tidak populer, bukan hanya tidak dipilih bahkan bisa dikecam.

Sikap Iman Kristen Terhadap Orang Miskin

Alkitab sangat membela orang miskin karena orang miskin seringkali ditindas.  Di dalam Hukum Taurat, ditetapkan bahwa kalau memetik buah jangan sampai ludas, harus ditinggalkan untuk orang-orang miskin. Dan ketika menuai gandum juga jangan menyabitnya hingga bersih, bahkan yang terjatuh tidak boleh diambil lagi. Itu adalah bagian orang-orang miskin (Im.19:10).

Tetapi kita membaca ada ayat dalam Hukum Taurat yang berbunyi “Juga janganlah memihak kepada orang miskin dalam perkaranya. (Kel. 23:3).  Tuhan mengajar kepada bangsa Israel sebagai penerima Hukum Taurat untuk memihak kepada kebenaran, bukan kepada orang kaya atau orang miskin.

Di dalam Perjanjian Baru, orang-orang kaya yang pelit ditegur (I Tim.6:18).  Tetapi pengajaran kekristenan tidak memanjakan orang-orang miskin. Rasul Paulus menegur orang malas, dengan berkata bahwa orang yang tidak bekerja tidak boleh makan (II Tes.3:10). Jika semua orang mengaminkan kebenaran “tidak bekerja tidak boleh makan” maka di muka bumi ini tidak ada orang miskin. Tetapi politisi dengan sistem demokrasi bisa menyebabkan orang malas tetap malas dan membebani orang-orang rajin.

Iman kekristenan tidak merestui orang yang hidup tidak bijaksana membebani orang lain. Saya menyaksikan di TV ada seorang bapak yang tinggal di gubuk yang diwawancarai seperti pahlawan. Ia menjadi pengemis tetapi punya anak tujuh.  Seandainya ia punya anak satu atau maksimun dua, pasti ia tidak perlu menjadi pengemis.  Karena saya telah mendirikan dua Panti Asuhan, saya sudah sering didatangi orang-orang yang melahirkan anak secara tidak bertanggung jawab. Seandainya manusia di muka bumi ini bisa mengendalikan nafsunya, dan memakai alat kelaminnya dengan penuh tanggung jawab, maka masalah di muka bumi ini pasti akan berkurang banyak.

Kesimpulan

Karena keadaan para politisi yang sangat memerlukan suara orang-orang miskin, terutama yang didasari kepentingan sesaat, maka orang miskin menjadi sangat penting. Untuk menarik simpati, para politisi menawarkan berbagai program yang intinya menyogok orang-orang miskin. Orang miskin tidak menyadari bahwa jalan yang lebar dan licin sampai ke desa-desa itu lebih menolong daripada subsidi BBM. Yang sangat mengherankan ialah bahwa mahasiswa pun banyak yang tidak sanggup berpikir sampai ke situ.

Demokrasi dengan komposisi rakyat yang buruk tidak akan lebih baik dari kerajaan dengan raja yang baik. Demokrasi sosialis gaya Eropa terbukti sudah mulai mencelakakan bangsa. Buktinya ekonomi Yunani hancur, demikian juga dengan Itali. Kelihatannya akan diikuti oleh berbagai negara. Hari ini, tgl 5 Juli, satu hari sesudah hari kemerdekaan USA, koran SINDO melaporkan defisit perdagangan USA hingga mencapai 40 miliar dollar. Ini tentu bukan suatu pertanda yang baik.

Puji syukur kepada Allah. Pada saat Tuhan memerintah, Ia akan memerintah sebagai raja, bukan sebagai presiden yang dipilih. Dan Ia adalah raja yang maha kasih, maha tahu dan maha kuasa. Setiap orang yang mencintai kebenaran dan membenci kejahatan pasti akan merindukan pemerintahan Yesus Kristus.  Maranatha!

Oleh Dr. Suhento Liauw, Jakarta, 8 Juli 2013

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: