Beranda > RENUNGAN > Anomali Berpikir Yang Mengarah Ke Bawah

Anomali Berpikir Yang Mengarah Ke Bawah


Pembaca yang saya kasihi, dalam kehidupan sehari-hari, sering kali kita menyaksikan hal-hal yang aneh, yaitu yang anomali (menyimpang dari normal), terjadi di masyarakat.

Masyarakat yang maju adalah yang sanggup berpikir lurus, terutama dalam hal yang berhubungan dengan orang banyak. Misahnya, ketika pemerintah menerbitkan sebuah peraturan untuk dijalankan orang banyak, tentu aturan itu harus sangat masuk akal agar yang menjalankannya mengerti bahwa peraturan itu adalah demi kebaikan semua orang.

Lampu Motor Di Siang Bolong

Kalau tidak salah, mulai tahu 2011 atau 12, tiba-tiba otoritas pengatur lalulintas menetapkan bahwa pengendara sepeda motor harus menghidupkan lampu di siang hari tanpa menjelaskan alasan aturan itu. Ketika saya berkunjung ke kota Pontianak, saya sempat ditanya seorang teman apakah di Jakarta juga ada keharusan demikian. Dan saya menjawabnya, “betul, peraturannya sama.”  Teman tersebut bertanya, “apa sebab di siang hari, terlebih lagi kota Pontianak yang terang dan panas terik, perlu menyalakan lampu di siang hari?”  Saya menjawabnya dengan berkata bahwa saya tidak tahu maksud peraturan itu. Teman dalam perbincangan bahkan menduga hal-hal negatif yaitu bahwa mungkin pihak otoritas disogok oleh perusahaan accu atau perusahan bolam lampu.

Saya menjawab teman saya bahwa mungkin bukan karena sogok menyogok, tetapi mungkin pembuat aturan kurang bijak melainkan hanya mencontoh membabi buta aturan di negara tertentu di Eropa. Karena jalanan di Eropa terdapat banyak terowongan, sehingga untuk menghindari kemungkinan terowongan dalam keadaan gelap sekalipun di siang hari, dan pengendara sepeda motor memasuki terowongan mendadak sehingga tidak sempat menyalakan lampu. Teman saya menyela, “tetapi di Pontianak kan tidak ada satu pun terowongan, dan ini kota khatulistiwa, mataharinya terik. Untuk apa sepeda motor menyalakan lampu?”

Saya menjawabnya, “memang tidak ada manfaat sama sekali menyalakan lampu di siang hari di Pontianak, bahkan di Jakarta.”  Kemudian teman saya menyimpulkan bahwa semua itu adalah akal-akalan pemerintah yang berpikiran aneh, dan polisi yang mengambil keuntungan dalam kesempitan, karena semakin banyak peraturan maka akan semakin banyak peluang untuk mendapatkan uang.

Minggu lalu saya berada di Nias. Saya melihat di sana ada sepeda motor yang menyalakan lampu dan ada yang tidak. Akhirnya polisi memiliki peluang untuk memilih kapan ia memerlukan uang untuk makan siang, maka salah satu yang tidak menyalakan lampu akan mendapatkan hari sialnya. Kita ini manusia, bukan simpanse, sehingga peraturan apapun yang dibuat menyangkut hayat hidup orang banyak, pasti harus memenuhi standar akal sehat. Kalau tidak, maka masyarakat akan merasa dirinya terjajah oleh pemerintah.

Membangun Rumah Ibadah  Dengan Uang Negara

Hal lain yang aneh lagi dari cara berpikir pemimpin negara kita ialah bahwa ada banyak uang negara dipakai tidak pada tempatnya. Bayangkan, rumah ibadah yang seharusnya dibangun oleh umatnya masing-masing, eh…dibangun dengan uang negara. Seharusnya biarkan bahkan haruskan orang Muslim membangun mesjid mereka, orang Kristen membangun gereja mereka, dan orang Buddha membangun vihara mereka, dan orang Hindu membangun pura mereka.

Uang yang dipakai untuk pembangunan berbagai rumah ibadah itu kalau dipakai untuk membangun jalan, maka kita akan memiliki jalanan beton yang cakap di seluruh Indonesia. Tetapi cara mereka berpikir lain, jalan raya yang sesungguhnya adalah fasilitas umum justru diserahkan kepada swasta sehingga kita semakin hari semakin banyak jalan tol. Akhirnya semua jalan harus bayar. Mungkin suatu hari nanti semua jembatan juga dibangun swasta dan setiap kita lewat kita harus bayar. Padahal rumah ibadah itu bukan fasilitas umum, itu adalah fasilatas khusus karena gereja adalah fasilitas orang Kristen dan pura adalah fasilitas orang Hindu. Tidak pantas memakai uang negara untuk membangun sesuatu yang bersifat khusus.

Saya ingin menyerukan kepada orang Kristen untuk tidak memakai uang negara atau menerima sumbangan uang negara untuk pembangunan gedung gereja. Malu! Orang Kristen harus membangun gerejanya dengan uang persembahan jemaat.

Subsidi BBM

Baru dua hari kenaikan harga BBM di seluruh Indonesia. Saya membaca di Koran bahwa subsidi BBM tahun 2012 sebesar 191 triliun rupiah. Ini angka yang sangat luar biasa. Menurut berbagai sumber bahwa subsidi tahun 2013 akan lebih besar lagi angkanya.

Menaikan harga BBM karena mengurangi angka subsidi adalah tindakan yang betul. Tetapi tindakan yang amat salah yang dilakukan oleh SBY adalah ketika ia menurunkan harga BBM dari Rp. 6.000.- bertahap hingga Rp.4.500.- Seharunya pada saat harga minyak dunia turun, maka saat itu adalah kesempatan untuk memasuki era BBM tanpa subsidi.  Tetapi, pasti SBY tidak bodoh, melainkan mengambil keputusan populis dan juga mungkin untuk tujuan pemenangan pemilu, maka harga BBM diturunkan.

Padahal ratusan triliun itu jika dipakai untuk membangun infrastruktur, yaitu jalan, listrik, air, pelabuhan, airport dan lain-lain, maka ekonomi akan bergerak dahsyat sehingga ekonomi rakyat akan bangkit yang secara otomatis jumlah orang miskin berkurang. Ketika jumlah orang miskin berkurang, maka tidak ada orang yang memasalahkan harga BBM.

Kita menyaksikan tayangan di TV ada penduduk di perbataran Indonesia-Malaysia Kalimantan Barat yang memutuskan menjadi warga Malaysia. Mereka adalah orang Indonesia yang sangat nasionalis. Bayangkan, mereka menunggu lebih dari enam puluh tahun sejak Indonesia merdeka, melampaui satu generasi, agar memiliki infrastruktur yang memadai yaitu jalan dan listrik. Namun penantian mereka agar miliki jalan yang mulus agar bisa sampai ke ibu kota provinsi, Pontianak, dengan cepat dan nyaman, dan listrik agar bisa punya kulkas, ternyata penantian mereka tak kunjung tiba. Kalau akhirnya mereka putus asa, patutkah kita yang tinggal di kota menyalahkan mereka? Introspeksi!

Mahasiswa yang demo kenaikan harga BBM kelihatannya bukan mahasiwa yang otaknya cemerlang. Uang subsidi BBM itu seharusnya dipakai untuk pembangunan infrastruktur sehingga orang kampung bisa dengan gampang membawa hasil pertaniannya ke kota. Listrik jangan padam melulu karena bisa menyebabkan masyarakat mengeluarkan dana ekstra untuk membeli genset sebagai cadangan. PDAM diharuskan membangun menara air agar tekanan air cukup tinggi sehingga masyarakat tidak perlu membangun bak penampungan dan membeli pompa. Intinya, dengan infrastruktur yang baik maka rakyat akan semakin makmur.

Subsidi BBM adalah cara berpikira yang salah. Di Asia Tenggara saja hanya Indonesia yang mensubsidi BBM. Apakah saya tidak perhatikan orang miskin?  Tentu saya sangat memikirkan mereka, tetapi bukan dengan cara membuat mereka menjadi orang yang selalu perlu dikasihani, melainkan ingin membuat mereka menjadi orang yang mampu berdiri di atas kaki mereka sendiri dan yang bisa menegakkan kepala mereka.

Jakarta, 24 Juni 2013 Oleh: Dr. Suhento Liauw

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: