Beranda > Fundamental > PENGUDUSAN

PENGUDUSAN


Hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus” (1 Petrus. 1:15-16). Karena Allah sendiri adalah kudus, Dia menginginkan kita, telah Dia ciptakan menurut gambarNya, untuk menjadi kudus. Karya Allah yang dengannya Dia menjadikan kita kudus disebut pengudusan.

 Definisi Pengudusan

Kita dapat mendefinisikan pengudusan sebagai karya yang penuh anugerah dari roh Kudus, yang melibatkan tanggung jawab kita untuk berpartisipasi, yang dengannya Roh Kudus melepaskan kita dari pencemaran dosa, memperbaharui keseluruhan natur kita menurut gambar Allah, dan memampukan kita untuk menjalankan kehidupan yang diperkenan oleh Allah. Pertama-tama pengudusan berkaitan dengan pencemaran dosa. Yang kita maksudkan dengan pencemaran adalah kerusakan (corruption) natur kita merupakan hasil dari dosa, yang pada gilirannya menghasilkan dosa yang lebih lanjut. Sebagai akibat kejatuhan yang dialami oleh orangtua pertama kita, kita semua terlahir dalam kondisi rusak itu, tetapi juga menambah kerusakan itu sendiri.

                Lebih lanjut, pengudusan menyebabkan pembaruan pada natur kita yaitu bahwa pengudusan lebih menyebabkan suatu perubahan arah daripada perubahan substansi. Dalam menguduskan kita, Allah tidak memperlengkapi kita dengan kuasa-kuasa atau kapasitas-kapasitas yang secara total berbeda dari apa yang telah kita miliki sebelumnya; tetapi memapukan kita untuk menggunakan karunia-karunia yang telah diberikan kepada kita itu dengan cara yang benar dan bukan dengan cara yang berdosa. Pengudusan memberikan kepada kita kuasa untuk berpikir, berkehendak, dan mengasihi dengan cara yang memuliakan Allah; memikirkan perkara-perkara Allah seperti yang dipikirkan Allah, dan melakukan hal-hal yang sesuai dengan kehendakNya.

                Pengudusan juga berarti dimampukan untuk menghidupi kehidupan yang berkenan kepada Allah.Dalam menguduskan kita, Allah memampukan kita untuk melakukan “perbuatan-perbuatan baik. Pada kenyataannya, di Efesus 2:10 perbuatan-perbuatan baik dideskripsikan sebagai buah dari keselamatan kita. Dengan kata lain, kita tidak diselamatkan oleh perbuatan-perbuatan baik kita, melainkan untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik itu.

Konsep Alkitabiah Tentang Kekudusan

Kata utama di dalam Perjanjian Lama untuk kudus adalah qadosh; dari akar kata ini diturunkan satu kata kerja dan satu kata benda. Pengertian mendasar dari kata ini agaknya adalah “memisahkan dari hal-hal lainnya” yaitu, menempatkan sesuatu atau seseorang dalam lingkungan atau kategori yang terpisah dari yang biasa atau duniawi. Kata utama di dalam Perjanjian Baru untuk kudus adalah hagios, kata ini sering dipakai untuk mendeskripsikan pengudusan orang-orang percaya (Efesus 5:25-26). Dalam pengertian ini, kekudusan di dalam Perjanjian Baru memiliki dua arti:

Pemisahan dari perbuatan-perbuatan berdosa dari dunia saat ini, dan (2) pengudusan bagi pelayanan kepada Allah. Kekudusan di dalam pengertian Alkitab bukan hanya sekedar tidak melakukan perbuatan-perbuatan buruk tertentu dan melakukan hal-hal tertentu yang benar; sebaliknya kekudusan berarti secara rohani dipisahkan dari segala sesuatu yang berdosa dan didedikasikan sepenuhnya kepada Allah.

                Apa yang diajarkan Allah mengenai cara yang dengannya kita dikuduskan. Pertama-tama kita melihat bahwa kita dikuduskan di dalam kesatuan dengan Kristus. Kita dijadikan kudus melalui disatujannya kita dengan kristus di dalam kematian dan kebangkitanNya.(roma 6:1,2,4,6,10). Kita dipanggil untuk menghidupi kehidupan yang baru karena kita telah bangkit bersama dengan kristus dan berbagian dalam hidup kebangkitan bersamaNya. Kita sedang dikuduskan melalui pertumbuhan yang terus-menerus yang semakin penuh dan semakin kaya di dalam kesatuan dengan Kristus. Kita juga dikuduskan melalui sarana kebenaran. Didalam doa Kristus yang kita sebut Doa Imam Agung, Yesus berdoa bagi para muridNya, “kuduskanlah mereka dalam kebenaran: (Yoh 17:17).

                Ketika kristus tidak lagi berada di dunia ini, kebenaran ini bisa ditemukan di dalam Firman Allah. Maka Kristus menambahkan, “Firman-Mu adalah kebenaran.” Kita harus bertumbuh di dalam pengudusan melalui Alkitab, yang adalah Firman Allah. Bahwa Alkitab merupakan salah satu sarana utama yang digunakan Allah untuk menguduskan umatNya diajarkan di dalam 2 timotius 3:16-17)

Pola dari Pengudusan

Pola dari pengudusan adalah keserupaan dengan Allah. Karena Kristus adalah gambar Allah yang sempurna (yoh 14:8-9; 2Kor. 4:4; Kol. 1:15; Ibr. 1:3), kita bisa juga mengatakan pola dari pengudusan kita adalah keserupaaan dengan Kristus.

                Allah pada mulanya menciptakan manusia di dalam gamabar dan rupa-rupanya (Kej. 1:26-27). Akan tetapi, melalui kejatuhan dalam dosa, gambar Allah di dalam umat manusia menjadi rusak. Di dalam proses penebusan, khusunya di dalam regenerasi dan pengudusan, gambar itu diperbaharui.

                Pengudusan berarti bahwa kita sekarang sedang diperbaharui dalam kesesuaian dengan gambar Allah dengan kata lain, kita menajdi semakin menyerupai Allah, atau semakin menyerupai Kristus, yang adalah gambar Allah yang sempurna. Dengan demikian, Alkitab, pertama-tama mengajarkan bahwa Allah sendiri, dalam menguduskan kita, sedang memperbarui kita di dalam rupaNya dengan menjadikan kita semakin menyerupai Kristus( Roma 8:29, 2 Kor 3:18). Kedua, namun kita juga memiliki tanggung jawab dalam hal ini, yaitu berupaya untuk menjadi semakin serupa dengan Kristus dengan cara mengikuti teladanNya. Yesus sendiri memerintahkan kita untuk mengikuti teladanNya ( Yoh 13:14-15).

                Walaupun Paulus sangat menekankan karya Kristus sebagai penyelamat kita dari dosa, dia juga mengajarkan bahwa kita harus mengikuti teladan Kristus dan bahwa kita harus berusaha untuk semakin menyerupai Kristus. Di Efesus 5:1 berkata, “Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih.”  Kita harus mengikuti teladan Allah dengan mengampuni mereka yang telah menyakiti kita. Cara lain untuk meneladani Kristus adalah dengan “hidup…di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu( Efesus 5:2).

                Cara lain yang digunakan Paulus untuk mengajarkan keserupaan dengan Kristus terdapat dalam perikop yang terkenal dengan sebutan “pikiran Kristus” itu (Flp 2:5-11). Paulus mendesak pembaca suratnya untuk “menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus. Petrus juga menyatakan hal yang sama: “Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristuspun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejakNya” (1petrus 2:21). Dengan demikian jelaslah bahwa mengikuti teladan kristus bukanlah aspek yang insidental, melainkan aspek yang esensial di dalm kehidupan kristen. Juga jelas bahwa keserupaan dengan Allah dan dengan Kristus adalah pola pengudusan kita.

Allah Dan Umat-Nya Di Dalam Pengudusan

                Dengan melihat pola pengudusan, kita telah melihat bahwa pengudusan merupakan karya Allah dan juga tanggung jawab umatNya. Hal terpenting yang harus kita sadari adalah bahwa pengudusan bukanlah suatu hal yang kita kerjakan sendiri, dengan usaha kita sendiri dan dengan kekuatan kita sendiri. Pengudusan terutama bukanlah aktivitas manusia, melainkan suatu karunia ilahi. Walaupun demikian, pengudusan juga meliputi partisipasi penuh tanggung jawab dari kita (2 korintus 7:1). Walaupun Allah-lah yang menyebabkan transformasi rohani kita, kita harus menyerahkan hati, pikiran, dan kehendak kita kepada Roh kudus, yang sedang membentuk ulang kita.

                Oleh sebab itu, menurut Alkitab, walaupun pengudusan terutama merupakan karya Allah di dalam diri kita, akan tetapi pengudusan ini bukanlah suatu proses di mana kita bersikap pasif, melainkan merupakan suatu proses di mana kita harus terus-menerus bersikap aktif. Kedua aspek dari pengudusan ini disebutkan  bersama-sama di dalam satu ayat yang luar bias: “Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar,….karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaanNya” (flp 2:12-13). Orang percaya harus terus-menerus berupaya mencari penerapan keselamatan yang telah mereka terima di setiap bidang kehidupamn mereka dan menjadikannya nyata di dalam setiap kegiatan mereka. Dengan kata lain, ayat 12 harus dipahami sebagai deskripsi mengenai tanggung jawab orang-orang percaya untuk memajukan pengudusan diri mereka.

Pengudusan Definitif Dan Progresif

Aspek progresif dari pengudusan begitu jelas, pertama-tama dari pernyataan-pernyataan Alkitab yang menyatakan bahwa dosa masih hadir di dalam diri orang percaya. Perjanjian baru seterusnya mendeskripsikan aspek negatif dan positif dari pengudusan progresif, yang meliputi di dalamnya tindakan mematikan perbuatan-perbuatan yang berdosa dan pertumbuhan diri yang baru (roma 8:13)

                Natur progresif dari pengudusan juga ditunjukkan di bagian-bagian Alkitab yang berkenaan dengan aspek positif pengudusan: pertumbuhan dari manusia yang baru. Di kolose 3:9-10, Paulus seperti yang kita lihat, mengingatkan pembaca suratnya bahwa mereka telah menaggalkan manusia yang lama dan telah mengenakan manusia baru; akan tetapi manusia baru yang mereka kenakan dideskripsikan sebagai manusia “yang terus-menerus diperbaharui di dalam pengetahuan yang benar menurut gambar khaliknya” (ayat 10)

                Maka pengudusan haruslah dipahami sebagai bersifat definitif dan progresif. Dalam pengertian definitifnya, pengudusan berarti karya Roh yang dengannya Roh menyebabkan kita mati terhadap dosa, dibangkitkan bersama Kristus dan dijadikan ciptaaan baru. Di dalam pengertian progresifnya, pengudusan harus dipahami sebagai karya Roh kudus yang dengannya Roh secara terus-menerus memperbaharui dan mentrasformasikan kita ke dalam keserupaan dengan Kristus, memampukan kita untuk terus bertumbuh di dalam anugerah dan terus menyempurnakan kekudusan kita.

 By Gmb Alki F. Tombuku

Sumber:

Anthony Hoekema, Save by Grace

Charles Stanley, Perjalanan Mulia

Charles Ryrie, Basic Theology

Wayne Grudem, Sistematika Theology

  1. Belum ada komentar.
  1. 6 Desember 2013 pukul 12:32 AM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: