Beranda > KELUARGA, TOKOH > JONATHAN EDWARDS & MAX JUKES (WARISAN TERBESAR BAGI ANAK KITA)

JONATHAN EDWARDS & MAX JUKES (WARISAN TERBESAR BAGI ANAK KITA)


Sadarkah kita bahwa apa yang kita lakukan dan kita ajarkan kepada anak-anak kita dapat berdampak besar bagi keturunan kita selanjutnya? Apabila kita memberikan keteladanan sesuai firman Tuhan dan mengajarkan prinsip-prinsip Alkitab pada mereka, buahnya adalah keturunan yang mengasihi Tuhan.  Apabila kita lalai, bahkan mengabaikan firman Tuhan dan tidak memberi keteladanan hidup yang baik, hasilnya adalah keturunan yang buruk dan merugikan baik diri sendiri maupun orang lain.

Pada tahun 1900 pernah diadakan suatu penelitian tentang kehidupan anak-anak dan keturunan dari dua orang sahabat yang sama sama tinggal di New York. Cerita tentang 2 keluarga di Amerika , dan cerita ini sungguh-sungguh terjadi yakni kisah nyata, karna kisah ini adalah hasil penelitian dari seorang sarjana bernama Benjamin B. Warfield dari Princeton, Amerika Serikat. Kisah ini mengisahkan tentang kisah dua keluarga yang hidup di abad 18, yaitu perbandingan antara keluarga Jonathan Edward dan Keluarga Max Jukes.

1. Jonathan Edwards
Jonathan Edwards lahir pada tahun 1703 di Windsor Timur, Connecticut. Dia hidup pada masa yang sama dengan Max Jukes Ia mengasihi Tuhan dengan segenap hatinya, ia hidup takut akan Tuhan. Pengkhotbah Kebangunan Rohani terkenal abad 18, pendeta Jonathan Edwards (1703-1758) Ia menjadi mahasiswa di Universitas Yale pada usia 13 tahun, dan pada akhirnya ia menjadi Rektor dari sebuah akademi di New Jersey (yang sekarang bernama Princeton) Jonathan Edwards, seorang teolog asal Amerika Serikat dan sekaligus seorang pengkhotbah yang banyak membela ajaran Calvinis. Seumur hidupnya Edwards, konsisten menyerahkan hidupnya untuk melayani Tuhan dan menjadi berkat bagi bangsa-bangsa melalui khotbahnya yang menggoncangkan dunia pada zamannya Ia menikah juga dengan seseorang yang takut akan Tuhan, bernama Sarah. Dan mereka dikaruniai 11 orang anak, Ia mendidik anak-anaknya di dalam takut akan Tuhan. Keluarga Jonathan Edwards yang juga tinggal di New York. Dia mengasihi Tuhan dan mengantar anak-anaknya ke gereja setiap minggu.

Pada saat ia berusia 20 tahun dia menulis sebuah daftar prinsip hidup/ ketetapan hati sbb: “setiap malam, sebelum aku mengakhiri hari itu, aku bertanya pada diriku sendiri, sudahkah aku hari ini melakukan yang lebih baik dari kemarin?” Meskipun ia sibuk sekali, ia bangun pagi setiap jam 4.30 untuk membaca dan menulis di perpustakaan pribadinya, dan walaupun sepanjang hari ia sibuk, ia selalu meluangkan waktu untuk anak-anaknya setiap hari. Keluarga Edwards tidak pernah membebani negara satu sen pun, tapi justru memberikan kontribusi yang besar untuk masyarakat. Keluarga merupakan satu-satunya tempat di mana orang tua memegang tanggung jawab untuk mempersiapkan anak-anaknya untuk diajar, disiplin, dan pada akhirnya mereka di lepas untuk dipersatukan dengan pasangannya. Dari sini kita melihat betapa pentingnya membangun sebuah keluarga sesuai dengan firman Tuhan. Ada empat hal yang harus dibangun dalam suatu keluarga.

Setelah diselidiki, Ia mempunyai 1000 lebih Keturunan :
-13 orang menjadi rektor
-65 orang menjadi professor
-3 orang terpilih sebagai senator Amerika Serikat / anggota DPR
-30 orang menjadi hakim
-100 orang menjadi pengacara
-75 orang menjadi perwira militer
-100 orang menjadi pendeta
-60 orang menjadi penulis terkenal/penulis buku terlaris
-80 orang memegang peranan penting dalam berbagai instansi/ pemuka masyarakat, termasuk menjadi gubenur,
-1 orang adalah wakil presiden Amerika Serikat
-66 orang dokter
-135 orang editor
-1 orang penerbit
-100 orang lebih menjadi misionaris
-80 orang memiliki kantor publik
-1 orang menjadi wakil presiden AS
-1 orang menjadi istri presiden AS
-1 orang penilik keuangan AS

Tidak ada keturunannya yang merugikan Negara, semuanya memberi keuntungan yang tidak ternilai buat negaranya Kisah nyata ini adalah sebuah contoh dari apa yang disebut oleh para Sosiolog sebagai “POLA LIMA GENERASI”. Apa yang dilakukan oleh seseorang akan berpengaruh sampai ke keturunan yang ke lima. Warisan generasi ke generasi dari anak-anak Edwards menegaskan bagaimana pengaruh dari seorang pengikut Yesus yang tulus (orang beriman) diteruskan di sepanjang sejarah.

2. Max Jukes
Max Jukes adalah orang yang sezaman dengan Jonathan Edwards. Max Jukes adalah seorang ateis / seorang yang tidak takut akan Tuhan, ia tidak beriman pada Tuhan, dan hidupnya tidak mempunyai prinsip, ia tidak percaya Firman Tuhan, dan tidak pernah datang ke gereja. ia tinggal di New York. Ia menikah dengan seorang yang juga tidak takut akan Tuhan, Mereka tidak pernah membawa anak-anak mereka ke gereja. Max Jukes tinggal di New York. Dia tidak percaya kepada Yesus Kristus dan tidak mengizinkan anak-anaknya pergi ke gereja, meskipun mereka menginginkannya. Max Jukes adalah seorang pemabuk. Gara-gara ia suka mabuk, ia tidak pernah memiliki pekerjaan yang tetap. Kebiasaan mabuk ini juga membuatnya tidak memperhatikan istri dan anak-anaknya. Hanya sedikit sekali waktu yang ia luangkan untuk mengasihi dan mendidik anak-anaknya.

Max Jukes mempunyai 540 keturunan :
310 mati sebagai pengemis
-150 orang keturunannya pernah masuk penjara dengan berbagai kejahatan yang pernah dilakukan, dengan hukuman penjara rata-rata 13 tahun,
-7 di antaranya adalah pembunuh
-100 orang lebih adalah pemabuk
-Banyak dari keturunannya menjadi wanita yang tidak baik.
Dan keluarga ini telah merugikan Negara sebesar 1,25 juta, atau sebesar 12 milyard rupiah (pada abad ke 19). Keluarga Jukes, telah merugikan pemerintah Amerika Serikat lebih dari setengah juta dollar untuk merehabilitasi mereka. Artinya, mereka bukan saja tidak memberikan kontribusi apa-apa kepada masyarakat namun malah merugikan.
Keluarga merupakan satu-satunya tempat di mana orang tua memegang tanggung jawab untuk mempersiapkan anak-anaknya untuk diajar, disiplin, dan pada akhirnya mereka di lepas untuk dipersatukan dengan pasangannya. Dari sini kita melihat betapa pentingnya membangun sebuah keluarga sesuai dengan firman Tuhan.

Ada lima hal yang harus dibangun dalam suatu keluarga. 6 Resep “Good Parenting” atau pengasuhan anak merupakan sesuatu yang harus dikuasai oleh orang tua dengan baik. Sebab seorang anak, ibarat kertas putih polos (tabularasa) akan menjadi seperti apa yang ditulis oleh orang tuanya diatasnya. Masalahnya adalah tidak ada buku manual yang baku untuk parenting, sehingga ketika anak kita bertumbuh dewasa, kita cenderung sekenanya saja membesarkan mereka dengan apa yang kita tahu.

Masalah parenting menjadi sangat krusial kalau kita mau menyimak data berikut ini : Penyelidikan atas 18 keturunan (anak, cucu, cicit dst) Pengkhotbah Kebangunan Rohani terkenal abad 18, pendeta Jonathan Edwards (1703-1758). Merespon hal di atas, tulisan ini akan mencoba untuk merangkai 5 adonan yang diharapkan mujarab untuk dipakai sebagai resep parenting yang baik. Oh ya, kata resep terinspirasi dari ahli parenting James Dobson yang dalam bukunya The Strong Willed Child berkata , “ membesarkan anak itu seperti membuat kue. Anda tidak sadar bahwa Anda telah membuat kesalahan besar, sampai hal itu terlambat . Jadi, baik dalam hal membesarkan anak maupun membuat kue yang baik dapat dicapai dengan mengikuti resep yang tepat. Nah, lewat tulisan ini saya ingin menawarkan kepada pembaca sebuah Resep untuk Parenting yang baik . Mari kita mulai dengan yang pertama.

1. Resep Pertama : Pengakuan bahwa anak itu merup akan anugerah Tuhan Pengakuan ini penting. Dengan mengakui bahwa anak adalah anugerah Tuhan yang luar biasa, maka kita akan berusaha untuk mendidik, menjaga dan mengasihi mereka dengan sekuat tenaga kita. Resep ini di inspirasi oleh ayat dalam kitab suci yang berbunyi, “Sesungguhnya, anak-anak lelaki adalah milik pusaka dari pada TUHAN, dan buah kandungan adalah suatu upah. Seperti anak-anak panah di tangan pahlawan, demikianlah anak-anak pada masa muda.” Dengan mengakui bahwa anak itu adalah anugerah dari Tuhan, maka ada 2 sikap yang muncul dari sana : (a) Anugerah itu untuk disyukuri Semua pemberian Tuhan itu pasti baik. Oleh sebab itu layak untuk disyukuri. Nah, anak yang kita miliki, apapun dan bagaimanapn keadaan alamiahnya, patut kita terima dengan penuh rasa syukur. Sikap menerima dengan penuh rasa syukur ini penting dikembangkan. Sebab dengan mensyukuri apa yang telah kita terima, maka kita akan cenderung menghargainya. Sebaliknya, kalau kita tidak mensyukuri apa yang kita terima, kita akan cenderung untuk melalaikannya! (b) Anugerah itu untuk dipertanggungjawabkan Ada prinsip yang secara universal diakui bahwa di dalam setiap pemberian, ada tanggung jawab di dalamnya. Di dalam pemberian ada amanah. Di dalam setiap pemberian ada “tugas” untuk mengelola dan mengembangkan pemberian itu agar sesuai dengan maksud si pemberi. Kalau kita mengakui bahwa anak adalah pemberian Tuhan, maka kita akan berusaha mempertanggungjawabkan pemberian itu dengan jalan mengasuh dan merawatnya sesuai jalan Tuhan!

2. Resep kedua : Kasihilah tanpa syarat Seorang dokter anak bernama T. Berry Brazelton MD pernah mengatakan bahwa hadiah pertama terpenting yang bisa diberikan oleh orang tua kepada anaknya adalah kasih tanpa syarat (uncondisional love). Mengasihi tanpa syarat berarti menerima diri si anak apa adanya tanpa reserve. Mengasihi tanpa syarat berarti juga menghargai anak sebagaimana ia adanya dan bukan berdasar pada prestasi atau keunggulan yang dia buat. Anak yang dikasihi tanpa syarat akan merasa dirinya berharga, selanjutnya itu akan menghasilkan self image yang positif bagi diri si anak. Nah, self image atau citra diri ini pada gilirannya akan menentukan keberhasilan si anak di masa depan. Sebab sudah bukan rahasia lagi bahwa keberhasilan seseorang berbanding lurus dengan self image yang dia miliki. Semakin positif self image seseorang, semakin akan berhasil ia! Sebaliknya, anak yang dikasihi dengan syarat akan cenderung menjadi anak yang minder dan merasa tidak berharga. Kasih seperti ini akan merusak self image dan rasa percaya diri si anak. Akibatnya, si anak akan tumbuh menjadi pribadi yang kerdil dan cenderung senang melukai orang lain, sebab ia sendiri sering terluka oleh “tuntutan” atau syarat yang diminta oleh orang tuanya. Ada ungkapan kuno yang mengatakan “hurting people, hurt people” – orang yang terluka, cenderung akan melukai orang lain!

3. Resep ketiga : berlakukan disiplin dengan konsisten. Masih menurut dokter anak kenamaan T. Berry Brazelton MD, hadiah ke dua terpenting yang diberikan orang tua kepada anaknya adalah disiplin. Disiplin akan membangun etos kerja dan karakter bertanggung jawab dalam diri anak. Disiplin itu bisa diberikan lewat 2 cara : (a) Cara verbal Dengan kata kata kita bisa secara jelas memberi batasan tentang apa ang boleh dilakukan dan tidak boleh. Misalnya, kita bisa mendisiplin anak agar cuci kaki sebelum tidur. Atau kita bisa mengajar anak untuk tidak membuang sampah sembarangan. (b) Cara exemplaris Artinya kita mendiplin anak dengan cara memberinya teladan untuk ditiru. Misalnya, kalau kita mau mendiplin anak agar belajar pada jam-jam yang telah ditentukan, kita sendiri juga harus “belajar” (entah membaca Koran, buku dsb) pada jam-jam itu. Penting untuk dicatat disini adalah bahwa disiplin harus dilakukan secara konsisten, agar tidak menimbulkan kebingungan di benak anak. Kalau kemarin satu hal di larang, sekarang diperbolehkan, maka si anak akan bnigung dan akhirnya tidak lagi mematuhi disiplin yang coba dibangun orang tua.

4. Resep keempat : hargai kecenderungan natural anak. Setiap anak memiliki kecenderungan (inggris : bent) yang berbeda-beda. Orang tua harus menghargai kecenderungan atau bakat bawaan ini, tanpa pernah memaksakan kehendak untuk mengubahnya. Yang diperlukan orang tua adalah memahami hal itu dan kemudian mendidik si anak sesuai dengan bawaan naturalnya. Misalnya, dalam hal belajar, kita tahu ada 3 kecenderungan (gaya) utama : (a) Tipe visual Berbicara dengan cepat Pengeja yang baik Teliti terhadap yang detail Pembaca cepat dan tekun, lebih suka membaca ketimbang dibacakan Mengingat apa yang dilihat daripada yang didengar Pelupa dalam menyampaikan pesan verbal Sering menjawab pertanyaan dengan jawaban singkat Senang terhadap seni daripada musik Sukar atau tidak pandai memilih kata-kata ketika berbicara Senang memperhatikan melalui demonstrasi daripada ceramah. Pembawaannya rapi dan teratur. Suka mengantuk bila mendengarkan penjelasan yang panjang lebar Nah, untuk tipe ini cara belajar idealnya adalah dengan dibantu kombinasi peraga visual, gambar atau simbol-simbol. (b) Tipe Auditory atau Aural Anak dengan tipe belajar auditory, harus mendengarkan pelajaran mereka untuk memahaminya. Mereka lebih suka segala sesuatunya dijelaskan dengan perkataan. Dilansir oleh eHow, tipe pendengar biasanya merekam informasi yang telah diucapkan. Beberapa dari mereka bahkan merasa lebih nyaman belajar jika disertai suara musik pelan. Mereka biasanya mengingat pelajaran dalam bentuk lagu favorit atau puisi. Keuntungan dari tipe ini, mereka tidak mudah bosan belajar, selama materinya disampaikan dengan cara audio. Menurut Komunikator Ponijan Liauw , orang dengan tipe ini, perlu didekati dengan gaya sebagai berikut: •Perbanyak kata-kata yang bersifat audio (kedengarannya, dll.) •Jangan menggunakan kata-kata yang bersifat visual (kelihatannya, bentuknya, dll.) •Gunakan suara yang lebih jelas ketika berkomunikasi dengan orang tipe ini. •Gunakan teknik pemenggalan kata yang efektif agar lebih jelas ditangkap oleh mereka (jangan terlalu cepat dan jangan pula terlalu lambat). •Lebih artikulatif ketika menjelaskan sesuatu (mengutamakan alat ucap). (c) Tipe Kinestetik Anak dengan kecenderungan gaya belajar kinestetik memiliki ciri : Gemar menyentuh segala sesuatu yang dijumpainya, suka mengerjakan segala sesuatu yang memungkinkan tangannya sedemikian aktif, banyak gerak fisik dan memiliki koordinasi tubuh yang baik, menyukai kegiatan/permainan yang menyibukkan secara fisik, lebih suka mendemonstrasikan sesuatu daripada menjelaskan. Kendalanya, anak sulit mempelajari hal-hal yang abstrak, tak bisa belajar di sekolah-sekolah yang bergaya konvensional di mana guru menjelaskan dan anak duduk diam. Kapasitas energi anak cukup tinggi, sehingga bila tidak disalurkan akan berpengaruh terhadap konsentrasi belajarnya. Dengan memahami kecenderungan alamiah anak dan kemudian kita mendidiknya denga cara yang sesuai, si anak akan merasa nyaman baik dengan dirinya sendiri maupun dengan orang tuanya!

5. Resep ke lima : Bersedia mengakui bila salah. Setiap orang tua juga manusia dan semua manusia pasti melakukan kesalahan sesekali. Ketika orang tua membuat kesalahan kepada anak dan ia bersedia mengakuinya, maka hal ini akan memberi pelajaran bagi si anak untuk bertindak fairness. Berani mengaku bika salah dan berani bertahan bila benar! Selain itu, ketika anak kita melihat dan mendengar kita berani mengakui kesalahan kepadanya maka hal itu akan membuat lebih mudah bagi mereka untuk mengakui kesalahan mereka sendiri dalam hidup. Sikap ini juga akan memunculkan karakter jujur dalam diri anak. Dengan demikian, orang tua tanpa disadari telah mejadi mentor yang baik bagi si anak agar ia kelak menjadi orang yang berjiwa besar!

6. Keintiman.

Maka, sangatlah penting untuk kita renungkan, apa yang akan kita wariskan untuk anak-anak kita? Mari bukan yang bersifat kebendaan dan keduniawian, melainkan mewariskan iman dan keteladanan rohani yang lebih bernilai kekal. Sangat penting untuk kita pikirkan bagaimana kita menjalankan tugas sebagai orangtua yang dipercayakan anak-anak untuk kita didik, ajar dan disiplin khususnya sesuai dengan prinsip firman Tuhan.

Untuk dibaca : Mazmur 25:10-14, Kejadian 6: 5- 22, Mazmur 25:12-13

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: