Beranda > BERITA > BELI LISTRIK DARI MALAYSIA

BELI LISTRIK DARI MALAYSIA


Suara Pembaruan, Rabu, 20 November 2013,  menulis artikel dengan judul RI IMPOR LISTRIK DARI MALAYSIA HINGGA 200 MW.   Malaysia adalah negara kecil, dengan sumber alam yang kurang dari Indonesia. Mengapakah mereka bisa memiliki kelebihan listrik yang bisa diekspor ke Indonesia?

Laporan surat kabar Suara Pembaruan tersebut memberitahukan bahwa listrik yang dihasilkan oleh PLN di Kalbar dengan mesin diesel biayanya Rp. 3.500 per-KWH, sedangkan kalau kita beli listrik dari Malaysia biayanya hanya Rp. 900 per-KWH. Penyebab listrik Malaysia lebih murah dikatakan adalah karena mereka memakai tenaga air. Menurut Dirjen Ketenagalistrikan Kementerian Energi  Sumber Daya Mineral (ESDM), kita sudah pintar, karena daripada memproduksi listrik dari Genset yang biayanya Rp. 3.500 per-KWH, kita beli saja dari Malaysia yang hanya Rp. 900 per-KWH.

Sesuatu yang sangat aneh adalah bahwa jelas di Kalimantan Barat kita memiliki sungai yang lebih lebar dan lebih panjang dari Sarawak. Mengapakah Malaysia mampu membuat pembangkit listrik dari tenaga air sedangkan Indonesia tidak mampu? Mengapakah PLN tidak memiliki keinginan membangun pembangkit listrik tenaga air di Kal-Bar dimana ada terdapat sangat banyak sungai.

1. Alasan pertama yang mungkin akan dikemukakan ialah soal dana. Bukankah listrik adalah kebutuhan yang sangat pokok bagi manusia di Kalbar. Listrik adalah faktor yang akan membuat manusia di walayah tersebut bermartabat dan derajat kehidupan yang tinggi. Kalau listrik sangat penting mengapakah pemerintah pusat apalagi daerah tidak menjadikannya  prioritas anggaran?  Mengapakah pemerintah menganggarkan atau mensubsidi misalnya pembangun mesjid dan gereja? Bukankah baik mesjid, gereja, vihara sepatutnya dibangun oleh umatnya masing-masing? Kalau umatnya tidak memiliki uang yang cukup untuk disumbangkan untuk pembangunan tempat ibadah (berkumpulnya mereka), maka mereka harus cukup serta puas dengan keadaan mereka? Mengapakah boleh memakai uang negara, uang hasil pajak non-umat untuk menbangun sesuatu yang bersifat kelompok? Alasan tidak ada dana sesungguhnya bukan alasan, yang benar adalah bahwa pemerintah tidak melihat kebutuhan listrik sebagai hal utama.

2. Alasan kedua yang mungkin dikemukakan ialah teknologi untuk membangun pembangkit listrik tenaga air belum ada atau dengan kata lain kita jauh lebih bodoh dari Malaysia. Seharusnya jika pemerintah ada perhatian, bisa saja menyelenggarakan sayembara ide maupun teknologi pembangunan listrik tenaga air sehingga orang-orang pintar bisa diikutkan. Kalau idenya cocok serta dipakai maka yang bersangkutan akan mendapatkan sejumlah hadiah yang menarik.

Sesuatu yang sangat memprihatinkan ialah bahwa daerah Mungguk Jering, yang hanya berjarak 50 km dari kota Pontianak, sejak zaman Belanda sampai hari ini belum dialiri listrik oleh PLN. Gembar-gembor bahwa Listrik Masuk Desa (LMD) itu sesungguhnya patut dipertanyakan, masalahnya adalah listrik keluar kota saja belum, bagaimana mungkin ia masuk desa, masuk desa mana? Kalau desa-desa di Jawa, ya bisa benar. Tetapi kalau desa di luar Jawa, periksa saja. Banyak desa yang sejak Indonesia merdeka sampai hari ini, sudah 68 tahun, di rumahnya belum bisa ada kulkas, karena tidak ada listrik. Mau menyetrika baju saja tidak bisa, bagaimana bisa hidup bermartabat?

Kini, apakah yang akan kita simpulkan dengan kondisi Indonesia beli listrik dari Malaysia? Apakah Indonesia miskin? Pasti bukan, karena kita mampu beli, itu membuktikan tidak miskin. Lalu Indonesia bodoh, faktor ini bisa jadi karena tidak mampu membangun listrik dari tenaga air. Listrik di berbagai daerah hanya menggunakan genset diesel, yang dibeli bulat-bulat dari negara produsen. Lebih tepat lagi sebenarnya, Indonesia itu bodoh dan sombong, karena tidak mampu membangun PLTA namun sombong karena tidak mau belajar atau membiarkan negara yang lebih pintar untuk mengajar kita. Yang jadi korban dari sikap bodoh dan sombong ini adalah rakyat pedesaan di luar Jawa.

Yang kebetulan membaca artikel ini silakan mengcopynya untuk orang-orang yang bersangkutan. Saya bersedia menjadi konsultan untuk membangun PLTA di Kalbar.

Jakarta, 21 Nov 2013

Sumber : Dr. Suhento Liauw (Pengamat Sosial Politik Indonesia)

Baca juga:

Tahun Depan, Indonesia Perbesar Impor Listrik dari Malaysia


  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: