Beranda > BERITA, INDONESIA > Ramai-ramai Menggosok Megawati

Ramai-ramai Menggosok Megawati


Di saat tahun 2013 hampir berakhir, yang berarti tahun politik 2014 hampir tiba, para pemimpin partai sedang was-was. Mereka pasti mengikuti survey yang diterbitkan di koran maupun yang ditayangkan di televisi.

Mereka tahu bahwa jikalau Bpk. Jokowi (sebutan JOKOWI diberikan oleh seorang pengusaha Prancis, karena nama JOKO begitu banyak-Red) maju jadi capres maka mereka semua pasti akan menjadi pencundang. Mereka akan rugi besar karena mereka tahu persis bahwa mereka akan buang uang untuk kampanye.

Karena mereka telah tahu jika Bpk. Jokowi maju mereka semua tidak punya harapan, maka mereka menggosok Ibu Megawati agar rasa percaya dirinya mendadak bangkit serta mau mencalonkan diri. Perhitungan mereka, jika Ibu Megawati maju maka mereka memiliki harapan sedangkan jika Ibu Megawati mencalonkan Bpk. Jokowi, maka mereka akan buang uang kampanye secara percuma.

Ibu Mega memang tulus dan jujur, namun kemampuan berpikirnya tidak cukup untuk memimpin sebuah negara. Pada tanggal 13 Agustus 2004, saya bersama dua ratus lebih Cendekiawan Tionghoa pergi ke Istana Presiden menghadap Ibu Presiden Megawati. Kebetulan saya ditunjuk sebagai salah satu jurubicara yang akan menyampaikan permintaan orang Tionghoa kepada ibu Presiden. Permintaan kami waktu itu tidak banyak. Saya hanya menyampaikan dua permintaan, yaitu pertama, hukum harus ditegakkan, dan kedua Diskriminasi tolong dihapus.

Menanggapi permintaan yang saya sampaikan selaku jurubicara, ibu Megawati bercerita bahwa dulu ketika beliau masih pelajar (SMA?) beliau mempunyai teman yang berpacaran dengan orang Tionghoa. Tetapi pihak orang tua pacar temannya tidak mengijinkan anaknya menikah dengan temannya. Lalu ibu Presiden bertanya, siapa yang bertindak diskriminatif? Lalu beliau mengeluarkan segala unek-uneknya dengan berbagai uraian tentang sikap diskriminatif.

Ketika kami pulang, kami sungguh heran. Ternyata ibu Presiden tidak sanggup membedakan antara negara dengan keluarga. Kalau saya menghendaki anak saya menikah dengan orang Tiongha, bahkan orang Hakka bukan orang Konghu, Tio Chu, Hokkian, itu adalah urusan saya atau keluarga. Itu bukan diskriminasi. Bahkan bisa saja ada syarat tambahan harus ini dan itu, semua itu bukan diskriminasi. Itu syarat yang diingini seorang ayah bagi anak-anaknya.

Urusan negara dengan urusan rumah tangga itu berbeda. Seseorang tentu boleh buka pabrik dengan ketentuan bahwa semua karyawannya adalah orang Sunda, itu bukan diskriminasi. Karena mungkin pemiliknya tidak fasih bahasa Indonesia melainkan hanya bisa bahasa Sunda maka demi komunikasi yang lancar pemilik perusahaan mau yang fasih berbahasa Sunda. Pemilik pabrik boleh membuat syarat untuk pabrik kepunyaannya.

Presiden bukan pemilik negara, dan di sebuah negara bukan hanya terdiri dari satu suku. Presiden atau negara tidak boleh memiliki kebijakan diskriminatif. Suku manapun yang didiskriminasi akan merasa mereka tidak diakui sebagai bagian dari negara itu. Ibu Megawati ternyata tidak sanggup membedakan antara syarat seorang ayah untuk anak-anaknya dengan kebijakan sebuah negara.

Pembaca yang budiman, atas dasar uraian di atas saya menilai bahwa ibu Megawati adalah seorang yang tulus, jujur dan baik hati. Terus terang ketika beliau mencalonkan diri tahun 2009, saya memilih beliau. Namun, jika ada yang lebih baik, lebih pintar, dan lebih gesit, sebaiknya ibu Megawati bersikap bijak, dan jangan mau digosok-gosok untuk maju sendiri sehingga tidak mencalonkan Bapak Jokowi. Para pemimpin partai lain sedang menahan napas, mereka tunggu keputusan, apakah ibu Megawati akan maju sendiri atau mencalonkan Bpk Jokowi.

Jakarta, 16 Desember 2013

oleh Dr. Suhento Liauw

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: