Beranda > LIPUTAN ACARA > Catatan Perjalanan ke Tiongkok II: Mengenal Gereja-Gereja di Tiongkok

Catatan Perjalanan ke Tiongkok II: Mengenal Gereja-Gereja di Tiongkok


Telah dimuat di dalam majalah Euangelion, juni 2009

Catatan Perjalanan ke Tiongkok II:

Mengenal Gereja-Gereja di Tiongkok

Selama satu tahun tinggal di negeri Tirai Bambu telah memberikan kepada kami banyak pengalaman berharga tentang kehidupan bergereja. Penting bagi kita untuk mengenal macam-macam gereja di Tiongkok. Sebelum Saudara-Saudari mengambil keputusan untuk pergi ke sebuah gereja di Tiongkok kita perlu mengetahui gereja macam apa yang kita tuju. Menurut hemat penulis, gereja-gereja yang tersebar di seluruh daratan Tiongkok dapat dikategorikan atas tiga macam.

  1. Gereja Internasional

Macam gereja yang pertama, kita namakan saja gereja internasional. Gereja internasional hanya boleh didatangi oleh warganegara asing. Tentulah gereja internasional memakai bahasa pengantar Inggris dalam seluruh rangkaian liturgis ibadahnya. Orang-orang Tiongkok dilarang beribadah di gereja internasional. Setiap hari Minggu, orang-orang yang datang beribadah ke gereja internasional harus menunjukkan paspornya masing-masing.

Pada umumnya, gereja internasional menyewa aula atau ruang pertemuan di hotel-hotel. Saya pernah mendengar ada gereja internasional yang meminjam tempat di kantor kedutaan besar negara-negara tertentu. Dengan demikian gereja internasional merupakan gereja formal, diakui oleh dan mendapat izin menyelenggarakan ibadah dari pemerintah setempat.

Di kota Guangzhou, ibukota Guangdong, sebuah propinsi di China Selatan, pada akhir bulan Agustus 2006 kami pernah sekali beribadah di gereja internasional. Jemaat yang hadir dalam kebaktian itu berasal dari berbagai macam negara. Baik orang-orang Asia, Afrika, Australia, Amerika dan Eropa dapat kita temui di gereja internasional. Selain kebaktian umum bagi orang dewasa, diselenggarakan juga kebaktian sekolah minggu bagi anak-anak. Susunan liturgis sama dengan gereja-gereja lain pada umumnya. Ada doa pembukaan, puj-pujian bersama, penyampaian firman Tuhan melalui khotbah, mengadakan persembahan dan diakhiri dengan doa berkat. Ibadah berlangsung sekitar satu setengah jam. Selesai ibadah jemaat tidak langsung pulang, masih ada acara ramah tamah. Setiap orang yang hadir diberikan selembar kupon untuk makan siang di hotel tersebut.

  1. Gereja Pemerintah

Macam gereja yang kedua kita namakan saja gereja pemerintah. Gereja pemerintah ada yang Katholik dan ada pula yang Protestan. Di dalam sejarah gereja Asia kita mengenalnya dengan sebutan gereja Triself. Macam gereja pemerintah ini, oleh karena resmi adanya, maka mereka memiliki gedung gereja lengkap dengan kayu salib dalam arti yang sesungguhnya.

Setiap hari Minggu diadakan beberapa kali kebaktian. Hampir setiap kali kebaktian berlangsung, jemaat-jemaat yang hadir betul-betul membludak. Apabila Saudara-Saudari sesekali beribadah ke gereja pemerintah, maka sebaiknya hadir satu jam sebelumnya atau paling tidak setengah jam sebelumnya, agar bisa mendapatkan tempat duduk di ruang utama gereja. Jikalau tidak, besar kemungkinan Anda hanya mendapatkan tempat duduk di luar gedung gereja atau bahkan tidak mendapatkan tempat duduk sama sekali, alias beribadah dengan posisi berdiri dari awal sampai akhir kebaktian.

Jangan heran apabila Saudara tidak menemukan sekolah minggu di gereja pemerintah. Saya sempat melihat-lihat ruang-ruang kecil berbentuk kelas-kelas di gereja pemerintah di mana saya berpikir pastilah di sana sedang berlangsung kebaktian sekolah minggu atau remaja. Eh, ternyata apa yang saya pikirkan salah. Kanak-kanak tidak diperboleh menerima ajaran agama berhubung belum dewasa. Itulah sebabnya di gereja pemerintah tidak kita temukan ibadah sekolah minggu dan remaja. Sebagian besar jemaat yang hadir dalam kebaktian di gereja pemerintah adalah orang-orang dewasa dan manula (sekitar 90%). Hanya sedikit sekali pemuda yang hadir dalam kebaktian di gereja pemerintah (hanya sekitar 10%).

Pada umumnya gereja-gereja pemerintah memakai bahasa pengantar Mandarin (putonghua) dalam setiap kali ibadahnya. Akan tetapi, ada kebaktian tertentu di mana pengkhotbah memakai dialek setempat. Jadi, kita perlu mengetahui kebaktian-kebaktian jam berapa saja yang memakai bahasa Mandarin. Kalau tidak demikian, Saudara hanya akan mendengarkan ibadah yang memakai dialek China setempat yang jumlahnya amat banyak di Tiongkok.

Di seluruh kota Xian, ada 6 gereja pemerintah yang Protestan. Kami sempat beribadah beberapa kali ke dua gereja pemerintah di antaranya. Satunya, terletak di dekat titik pusat kota. Di gereja pemerintah ini tersedia kolportase gereja. Kolportase gereja menjual Alkitab, buku nyanyian, buku rohani dan buku teologia, kaset dan CD serta VCD. Di Xiamen, tepatnya di Jimei, tidak jauh dari Huaqiao Daxue (sebuah universitas), kami pernah mengikuti kebaktian  di gereja pemerintah setempat. Susunan ibadahnya kurang lebih sama dengan ibadah di gereja pemerintah di Xian.

III. Gereja Rumah

Macam gereja yang ketiga kita namakan saja gereja rumah. Namanya saja sudah gereja rumah, mereka memakai ruangan-ruangan dalam rumah sebagai tempat beribadah. Gereja rumah bisa berupa rumah tempat tinggal salah seorang jemaatnya ataupun sebuah rumah yang memang hanya dikhususkan sebagai tempat ibadah.

Pada umumnya gereja rumah itu kecil-kecil. Dengan ukuran sebuah rumah tempat tinggal biasa, ada dua kamar tidur, dapur, ruang tamu, WC, maka gereja rumah hanya bisa menampung 50 sampai 70 orang jemaat setiap kali kebaktian. Ibadah mengambil tempat di ruang tamu. Akan tetapi ada pula gereja rumah yang rada besar. Mereka meminjam kantor jemaat yang lumayan besar aulanya sehingga setiap kali ibadah berlangsung mampu menampung 100 hingga 150 orang jemaat.

Sebagian besar masyarakat Kristen dunia mengenalnya sebagai gereja bawah tanah (underground church). Melalui penamaan gereja bawah tanah lalu banyak orang berpikir gereja-gereja ini mengadakan kebaktian di lorong-lorong gua di bawah tanah. Pendapat ini tentulah tidak benar. Ada pun maksud dari gereja bawah tanah adalah gereja-gereja yang tidak resmi, tidak mendapatkan izin dari pemerintah, mengadakan kebaktian dengan sembunyi-sembunyi. Resikonya, apabila ketahuan, sangat mungkin para jemaat dan pimpinan gerejanya akan diperiksa oleh pihak keamanan, yang mana dalam hal ini diwakili oleh Biro Keamanan Umum.

Gereja rumah tersebar di mana-mana. Semakin besar sebuah kota di Tiongkok, bisa dikatakan gereja rumah di kota tersebut semakin banyak. Di perumahan-perumahan sekitar kampus biasanya lebih banyak lagi gereja rumah. Seorang teman Kristen Tiongkok pernah bercerita kepada kami bahwa dia secara khusus melayani di sebuah gereja rumah yang kesemua jemaatnya adalah mahasiswa-mahasiswi. Bahkan, di dalam lokasi kampus pun terdapat gereja rumah, dengan memakai ruang kelas tertentu. Di pelosok pedesaan juga terdapat gereja rumah.

Apabila di gereja pemerintah kita tidak menjumpai kebaktian sekolah minggu, tidak demikian halnya dengan gereja rumah. Hampir setiap gereja rumah mengadakan kebaktian sekolah minggu bagi kanak-kanak. Ada pula gereja rumah yang mengadakan kebaktian khusus buat kaum remaja. Lagipula, tidak sedikit gereja rumah yang mengadakan persekutuan pemuda, baik pada hari Minggu maupun di luar hari Minggu.

Selama kami berada di Tiongkok, hampir setiap hari Minggu kami beribadah di gereja rumah. Gereja rumah tempat kami setiap hari Minggu beribadah mengadakan dua kali kebaktian. Kebaktian pagi dimulai pukul 09.00 dan kebaktian sore pada pukul 02.30. kebaktian pagi jemaatnya sangat bervariasi usianya sedangkan kebaktian sore hamper seluruhnya para pemuda-mahasiswa. Hanya kadang-kadang kami mengkhususkan waktu ke gereja internasional. Dan, sesekali perlu juga bagi kami untuk pergi ke gereja pemerintah guna mengenal seluk-beluk kehidupan bergereja di gereja pemerintah.

Demikianlah sekilas info mengenal gereja-gereja di Tiongkok. Dengan demikian kita bisa mengambil keputusan ke gereja manakah Saudara akan beribadah bila berada di China. Kiranya hal ini boleh berguna bagi Saudara-Saudari sekalian yang sedang tinggal atau berkunjung ke Negeri Tirai Bambu itu.

Bandung, Desember 2007

Hali Daniel Lie

Dosen STT Bandung

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: