Beranda > Alkitab, Fundamental > HUBUNGAN KARUNIA MELAKUKAN MUJIZAT DENGAN ALKITAB

HUBUNGAN KARUNIA MELAKUKAN MUJIZAT DENGAN ALKITAB


Mengapakah tulisan Paulus, Petrus dan Yohanes bisa menjadi firman Tuhan sedangkan tulisan Budi, Edy bukan firman Tuhan? Jemaat mula-mula tahu bahwa para Rasul Yesus Kristus adalah utusan Yesus Kristus yang memberitakan Injil serta mengajar atas nama Yesus Kristus. Berita yang di sampaikan dan diajarkan Rasul adalah dari Yesus Kristus. Sebagai bukti atau semacam tanda tangan Yesus Kristus atas berita dan pengajaran mereka ialah kuasa melakukan mujizat yang di berikan kepada mereka.

Segala sesuatu yang membuktikan, bahwa aku adalah seorang rasul, telah dilakukan di tengah-tengah kamu dengan segala kesabaran oleh tanda-tanda, mujizat-mujizat dan kuasa-kuasa. (2 Kor 12:12 ITB). Kepada para Rasul diberikan kuasa untuk menghidupkan orang mati dan mematikan orang hidup dalam nama Yesus. Dan sesuai akal sehat kalau kuasa melakukan mujizat adalah tanda kerasulan, maka sudah pasti yang bukan Rasul tidak memilikinya.

Pembaca harus dapat membedakan antara karunia kuasa melakukan mujizat dengan mujizat yang terjadi karena Tuhan menjawab doa. Oleh Filipus maupun Stefanus dikatakan terjadi banyak mujizat. Artinya oleh doa Filipus maupun Stefanus banyak mujizat terjadi namun mereka tidak diberi karunia melakukan mujizat karena mereka bukan Rasul. Itulah sebabnya ketika Paulus berjalan bersama Barnabas, hanya Paulus yang melakukan mujizat.

Demikian juga ketika Paulus berjalan bersama Silas, hanya Paulus yang melakukan mujizat. Alasannya ialah karena Paulus adalah Rasul sedangkan Barnabas maupun Silas bukan. Seumpama dalam suatu kesempatan pembaca bersama saya menginjil di hutan Papua, dan Anda jatuh sakit di tengah hutan. Lalu saya berdoa dan Anda sembuh seketika. Itu sama sekali bukan berarti saya diberi kuasa melakukan mujizat, melainkan adalah karena Tuhan menjawab doa. Saya tidak boleh setelah pulang ke Jakarta lalu membuat KKR mujizat karena lain kali saya berdoa belum tentu akan terjadi kesembuhan. Sekali lagi bahwa saya tidak diberikan karunia melakukan mujizat, melainkan waktu di Papua itu karena Tuhan menjawab doa.

Kami adalah kelompok yang sangat percaya pada kuasa Allah melakukan mujizat dan kuasa itu tidak pernah berubah. Itulah sebabnya kami berdoa untuk anggota jemaat yang sakit bahkan saya sendiri sakit pun tentu saya berdoa. Namun kami tahu persis bahwa kuasa melakukan mujizat itu adalah karunia khusus milik Rasul sebagai bukti kerasulan mereka.

Setelah Rasul Kristus terakhir, yaitu Rasul Yohanes, pulang ke Sorga, maka tidak ada lagi Rasul Yesus Kristus, dan tidak ada lagi orang yang diberi kuasa melakukan mujizat oleh Yesus Kristus. Kuasa yang Tuhan berikan kepada para Rasul adalah sebuah pertanda bahwa mereka berbicara dan mengajar atas wahyu dan inspirasi Yesus Kristus. Oleh sebab itu semua tulisan mereka, bahkan pengajaran lisan mereka adalah firman Yesus Kristus.

Mengapakah Injil Lukas, Markus, surat Yakobus dan Yudas,yang bukan Rasul juga firman Tuhan? Injil Lukas adalah hasil Lukas mewawancarai para Rasul (Luk 1: 3-4). Dan Injil Markus hampir disebut Injil Petrus karena sumbernya berasal dari Petrus, sedangkan Markus hanya tukang catat saja pada saat ia bersama Petrus di Babilon (I Pet.5:13).

Surat Yakobus dan Yudas, kedua saudara kandung Tuhan Yesus, adalah surat yang beredar paling awal, yaitu pada saat semua Rasul masih hidup. Jadi, tulisan yang beredar selagi Rasul masih hidup dan Rasul tidak menentang tulisan itu, maka itu berarti para Rasul juga menerima bahwa isi pengajarannya benar, dan itu adalah firman Tuhan.

Jadi, ketika pewahyuan dan pengilhaman sampai pada kitab Wahyu 22:21, kepada Rasul terakhir, yaitu Rasul Yohanes, maka selanjutnya tidak ada Rasul lagi yang eksis. Seturut dengan itu tidak ada lagi orang yang di beri karunia melakukan mujizat. Karena sesungguhnya karunia melakukan mujizat itu untuk menopang kerasulan, agar semua yang diberitakan dan diajarkan mereka diterima sebagai firman Tuhan.

Selanjutnya Tuhan menubuatkan bahwa mesias palsu akan datang, dan karena mesias palsu tahu bahwa telah dinubuatkan mesias akan melakukan mujizat, maka ia akan menonjolkan mujizatnya. Jadi, setelah Rasul-rasul Kristus kembali ke Sorga, maka mesias (orang yang diurapi) yang palsu akan muncul dan menyesatkan banyak orang (Mat.24:5, 23-26).

Mereka akan bernubuat, namun nubuatan mereka tidak berasal dari Tuhan sehingga tidak mungkin tepat. Tetapi bisa jadi ada yang tepat, misalnya seandainya ada nabi palsu yang menubuatkan Jokowi akan menjadi presiden. Tetapi kita harus mantap dengan pengajaran bahwa tidak ada wahyu dari Allah sesudah wahyu terakhir yaitu Wahyu 22:21. Dengan kemantapan itu kita tidak akan tertipu oleh nabi palsu yang ocehannya kebetulan benar.

Jadi, kesimpulan kita ialah bahwa karunia melakukan mujizat yang diberikan Tuhan kepada para Rasul adalah untuk mendukung mereka menyampaikan firman Tuhan dan menuliskannya. Setelah Alkitab selesai ditulis, oleh Rasul yang terakhir yaitu Yohanes, maka karunia melakukan mujizat tidak diberikan lagi, dan wahyu juga tidak diturunkan lagi. Siapapun yang di kemudian hari berkata bahwa ia mendapatkan wahyu atau bernubuat tentang sesuatu, misalnya seseorang akan menjadi Presiden di sebuah negara, maka semua itu adalah bohong, bahkan sangat mungkin mereka adalah anak buah Lucifer.

Sumber: Jurnal Teologi Pedang Roh Edisi 81 Oktober-Desember 2014, STT Graphe Jakarta

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: