Beranda > KRISTOLOGI, tuhan yesus > KEILAHIAN YESUS: Tradisi Mula-mula atau Takhyul Kemudian Hari?

KEILAHIAN YESUS: Tradisi Mula-mula atau Takhyul Kemudian Hari?


POTRET-POTRET ILAHI Yesus dalam Injil-injil

Pengukuhan Yesus sebagai “Anak Allah” secara resmi diusulkan dan diputuskan dengan pemungutan suara oleh Konsili Nicea
DAN BROWN, The Da Vinci Code, 233

Apa pun kesulitan yang dialami pikiran manusia modern untuk memahami Allah yang menjadi manusia, satu hal yang pasti adalah: para pengikut Yesus yang pertama melihat Dia sebagai Yang Ilahi. Bahkan para ahli yang secara pribadi tidak meyakini keilahian Yesus tidak sulit mengakui bahwa para penulis Perjanjian Baru meyakini hal itu. Namun, fakta ini luput dari perhatian Leigh Teabing, pemeran tokoh ahli dalam karya Dan Brown, The Da Vinci Code.

Berbicara tentang Konsili Nicea, sebuah pertemuan ekumenis yang dihadiri oleh para uskup hampir tiga ratus tahun sesudah masa Yesus, Teabing menyatakan, “Sampai pada saat itudalam sejarah, para pengikut Yesus memandang Dia sebagai seorang nabi yang fana … seorang tokoh besar dan hebat tetapi tak lebih dari seorang manusia.” 1

Kita tidak mempersoalkan fakta bahwa Yesus adalah seorang manusia. Namun, seperti yang kita ingin tunjukkan dalam bab-bab berikut, tidak benar keilahian Yesus direka di Konsili Nicea. Pendapat demikian tak lebih dari sebuah spekulasi baru.

Dalam bagian ini, kita akan melihat, para uskup di Nicea tidak menyingkapkan ajaran baru ketika mereka menyatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah. Konsili itu hanya menjabarkan makna sebuah keyakinan yang berakar dalam teks-teks yang sudah berabad-abad usianya.

PANORAMA HISTORIS
Untuk menilai kesaksian Kristen perdana tentang Yesus, sangat penting memahami konteks Yahudi tempat lahirnya. Umat Yahudi abad pertama sangat ketat menganut paham monoteistik. Dalam budaya Romawi-Yunani yang luar biasa politeistik, berpaham monoteistik berarti memeluk keyakinan yang tak tergoyahkan yang mendominasi hidup dan bahkan sering membahayakan nyawa penganutnya. Sekurang-kurangnya dua kali sehari, semua umat Yahudi yang beriman mengucapkan Syema yang berbunyi, “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!” (Ul 6:4). Nas ini tidak hanya menegaskan keunikan Allah, tetapi juga menyiratkan, Dialah satu-satunya yang layak disembah.
Richard Bauckham, seorang ahli Perjanjian Baru, sampai ke inti keyakinan ini ketika ia bertanya, “Apayang membedakan Allah sebagai yang unik dari semua realitas lainnya, termasuk dewa-dewi yang disembah oleh bangsa-bangsa bukan Yahudi?” 2

Dengan jelas dan tegas, “jawabnya diberikan berulang kali dalam tulisan yang sangat beraneka ragam dari masa Bait Suci kedua, yakni: YHWH, Allah Israel, satu-satunya Allah yang benar adalah Pencipta satu-satunya dari segala sesuatu dan Penguasa satu-satunya atas segala sesuatu.” 3
Dengan kata lain, penyembahan YHWH secara eksklusif adalah ciri penentu bagi Yudaisme abad pertama.

Kekristenan tidak hanya muncul dalam konteks monoteistik Yahudi tetapi juga memeluk keyakinan-keyakinan monoteistik dari Yudaisme. Sama seperti Yudaisme, Kekristenan tidak mengizinkan pemujaan ilah apa pun kecuali Allah Tertinggi. Mengingat fakta ini, sungguh luar biasa bila menemukan
petunjuk dalam tulisan-tulisan Kristen perdana yang memperlihatkan bahwa Yesus diperlakukan sebagai Yang Ilahi. Nyatanya, kitab-kitab Injil dan tulisan Perjanjian Baru lainnya mengandung petunjuk-petunjuk tersirat, bahkan pernyataan-pernyataan yang lebih terang-terangan mengenai aspek ini.

Dalam bab ini, kita memfokuskan pembahasan kita pada Injil-injil. Banyak yang dapat dikatakan tentang Injil-injil ini dan lukisan-lukisannya yang beragam namun tetap menyatu tentang Yesus. Ada banyak tafsiran dan buku-buku yang memuat uraian tentang teks-teks tertentu dari kitab-kitab Injil, baik yang secara implicit menunjuk pada keilahian Kristus ataupun secara eksplisit menyamakan Dia dengan Allah. Kita tidak akan meninjau satu demi satu teks-teks yang menyebar dalam Injil Matius, Markus, Lukas dan Yohanes, melainkan akan menyimak tema-tema utama dalam masing-masing Injil dan melihat dari dekat dua “adegan luar biasa” dalam Injil yang paling awal.

BAGAIMANA POTRET-POTRET YESUS DIBINGKAI DALAM INJIL-INJIL
Para penulis Alkitab sering menggunakan teknik literer yang disebut inklusio untuk menekankan tema-tema penting. Sebuah inklusio “membingkai” paragraf, pasal, atau kitab dengan memakai kata, frasa, atau konsep yang sama untuk mengawali dan mengakhirinya.Demikianlah cara penulis menandai suatu tema dan memberitahu para pembacanya bahwa apa saja yang berada di antara kedua “bingkai” itu seharusnya dibaca dalam terang tema itu. Menariknya, keempat Injil menggunakan teknik inklusio.

Mari kita perhatikan Injil Markus yang diyakini oleh kebanyakan ahli sebagai yang terawal dari keempat Injil, dan ditulis pada tahun 60an (lihat bab 1: “Injil di balik kitab-kitab Injil” yang membahas waktu penulisan Injil Matius, Markus dan Lukas). Injil Markus dimulai dengan kata-kata, “Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah” (Mrk 1:1) dan mencapai puncaknya dengan pengakuan kepala pasukan Romawiyang menyaksikan penyaliban Yesus: “Sungguh, orang ini adalah Anak Allah” (15:39). Berdasarkan inklusio yang dibentuk dengan mengacu kepada Yesus sebagai Anak Allah, semua yang terdapat di antara kedua acuan itu harus dibaca dari sudut keyakinan bahwa Yesus bukan manusia semata-mata. Dari awal sampai akhir, Markus menampilkan Yesus sebagai satu-satunya Anak Allah.

Penting dicatat, meskipun menekankan keilahian Yesus, Injil Markus mengungkapkan betapa murid-murid Yesus agak lambat mengenali identitas-Nya yang sejati. Paling tidak, hal ini menunjukkan, Markus tidak berupaya memoles secara teologis Injil yang ditulisnya. Sebaliknya, ia tampaknya benar-benar dibatasi oleh sejarah yang benar-benar terjadi.

Salah satu momen yang paling tajam dalam Injil Markus ialah saat ketika Yesus dan para pengikut-Nya berada dalam perahu di Danau Galilea. Angin dan ombak tiba-tiba menggelora sehingga para murid ketakutan. Yesus bangun dari tidur-Nya dan memerintahkan agar alam teduh kembali. Lalu para murid berbisik satu sama lain: “Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?” (Mrk 4:41b).

Pertanyaan ini menyingkapkan keheranan para murid tentang identitas Yesus dan menyiratkan bahwa Ia lebih daripada manusia. Pertanyaan ini sekaligus mencerminkan fakta bahwa para murid tidak serta mertaatau secara tidak kritis mengakui keilahian Yesus. Alasannya tampak jelas: Para murid adalah para penganut monoteisme Yahudi yang berbakti kepada satu-satunya Allah yang sejati. Melihat seorang manusia setara dengan Allah dan bahkan adalah Allah sendiri merupakan pergeseran paradigma yang radikal, yang memerlukan waktu untuk memahaminya. Nyatanya, sejak awal Markus memberi petunjuk signifikan menyangkut hakikat Yesus yang sejati. Ia mengajak pembaca untuk menempuh perjalanan yang sama untuk menemukan hakikat ini, sebagaimana dilakukan para murid pertama.

Seperti Markus, Lukas barangkali ditulis paling lambat tahun 60an. Juga seperti Markus, Lukas menekankan identitas Yesus sebagai Anak Allah yang unik. Memang peran Yesus sebagai Mesiaslah yang paling utama dalam pemikiran Lukas ketika ia menyebut Yesus sebagai Anak Allah. Namun, Lukas
menggunakan inklusio“Anak Allah” untuk mengungkapkan, hanya Yesuslah satu-satunya yang berstatus demikian. Dalam Lukas 1:35, malaikat menyatakan kepada Perawan Maria: “Roh Kudus akanturun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.” Apa pun yang dapat dikatakan menyangkut implikasi teologisnya, setidaknya hal berikut harus diakui: Lukas menampilkan Yesus sebagai seorang manusia yang memiliki asal-usul adikodrati.

Lukas juga menampilkan Yesus sebagai seorang manusia yang memiliki tujuan akhir yang adikodrati. Inklusio “Anak Allah” dalam Injil ini ditutup dengan kata-kata para pendakwa Yesus dalam peradilan: “Kalau begitu, Engkau ini Anak Allah?” Jawab Yesus: “Kamu sendiri mengatakan bahwa Akulah Anak Allah.” (Luk 22:70). Kata “Kalau begitu” menunjuk kepada pernyataan Yesus dalam ayat sebelumnya: “Mulai sekarang Anak Manusia sudah duduk di sebelah kanan Allah Yang Mahakuasa” (22:69). Parapendakwa mempertanyakan status Yesus sebagai Anak Allah justru setelah Ia membuat klaim yang mengejutkan, yakni secara unik Dia akan ditinggikan disebelah kanan Allah sebagai pemegang pemerintahan Allah yang universal. (Lihat pembahasan tentang “tangan kanan” dalam bagian selanjutnya pasal ini). Dengan kata lain, sekali lagi Yesus disebut sebagai Anak Allah dengan cara yang menekankan peran-Nya sebagai satu-satunya pengganti Allah. Ini bukan gambaran yang cocok untuk melukiskan “seorang nabi yang fana” seperti kata Dan Brown.

Injil Markus dan Lukas,yang ditulis sebelum tahun 70, menyatakan Yesus sebagai wakil dan Anak Allah yang unik. Ini saja sudah cukup untuk menggugurkan klaim Dan Brown bahwa Yesus tidak lebih dan tidak kurang dari seorang tokoh besar. Namun, seperti yang jelas dari Injil Matius dan Yohanes, identitas Yesus melampaui kedudukanilahi-Nya sebagai Anak Allah. Ia juga dipandang sebagai pribadi ilahi yang setara dengan Allah.

Matius mengarah ke pemahaman ini dengan penggunaan inklusio konseptual yang menekankan penyertaan Yesus sebagai Yang Ilahi. Injil yang ditulis sekitar tahun 60an dimulai dengan pewartaan bahwa nama Yesus berarti “Allah menyertai kita” (Mat 1:23) dan memuncak pada janji Yesus kepada murid-murid-Nya dulu dan kini: “Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (28:20). Seperti Allah menyertai Yesus, Allah juga menyertai murid-murid yang bersama-sama Yesus. Inklusio Matius membentuk suatu bingkai teologis bagi Injilnya yang menekankan keintiman umat Kristen dengan Allah melalui Anak-Nya yang terus hidup sesudah kebangkitan-Nya.

Menurut Injil Yohanes, yang menurut pendapat kebanyakan ahli ditulis paling lambat tahun 90an, Yesus bukan hanya Anak-Nya yang terus hidup melainkan juga yang kekal. Maksudnya, pribadi Ilahi, yang menjadi manusia pada waktu tertentu dalam sejarah dan menaklukkan kematian jasmani melalui kebangkitan-Nya, sudah senantiasa ada sejak awal.

Yohanes langsung menyatakan hal ini dengan jelas: “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah … Segala sesuatu dijadikan oleh Dia” (Yoh 1:1, 3). Agar para pembacanya tidak salah mengerti, Yohanes mengidentifikasi “Firman” itu bagi mereka: “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran … sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus” (Yoh 1:14, 17). Singkatnya, Firman kekal itu menjadi manusia Yesus yang hidup di dunia. Karena Firman itu disebut “Allah”, Yesus pun disebut “Allah” juga.

Permulaan Injil Yohanes kedengaran seperti tembakan beruntun yang mengejutkan. Ia terang-terangan menegaskan, Yesus adalah Allah sepenuhnya, lalu mulai membuktikan penegasannya itu. Maksud Yohanes terlihat jelas dari inklusio yang dibentuknya antara Yohanes 1:1 dan teks lain yang menyebut Yesus sebagai “Allah”. Dalam Yohanes 20:24-28 dikisahkan, Tomas tidak mau percaya bahwa Yesus telah bangkit dari kematian, sekalipun ada kesaksian para murid lainnya yang telah melihat Guru mereka hidup. Namun, ketika Tomas yang ragu melihat Yesus yang hidup, ia diyakinkan bukan hanya mengenai kebangkitan-Nya. Sungguh menakjubkan, ia menyapa Yesus “Ya Tuhanku dan Allahku!” (20:28). Ini merupakan respons yang luar biasa: Bukan saja Tomas menjadi percaya akan kebangkitan Yesus tetapi juga ia menyamakan Yesus dengan Allah dari surga. Itulah jugayang ditegaskan Yohanes. Kombinasi Yohanes 1:1 dan 20:28 dengan jelas tegas menyingkirkan keraguan apa pun tentang kepercayaan Kristen perdana akan keilahian Yesus.

Boleh jadi, menjelang akhir tinjauan singkat ini tentang potret-potret Yesus dalam kitab-kitab Injil, ada mempertanyakan, Mengapa para penulis Injil sangat jarang menyebut Yesus secara eksplisit sebagai “Allah”? Memang benar, hanya Injil Yohanes yang secara eksplisit menyebut Yesus sebagai Allah, dan itu pun hanya beberapa kali (Yoh 1:1, 18; 20:28). Terbukti, dalam seluruh Perjanjian Baru, Yesus secara langsung disebut “Allah” hanya beberapa kali.

Namun, hal ini tidak mengurangi makna pernyataan-pernyataan seperti itu. Sebagaimana dikemukakan oleh R.T. France, mantan pemimpin Wycliffe Hall, Universitas Oxford, kita tidak perlu heran bahwa penggunaan sebutan Allah secara eksplisit untuk Yesus sangat jarang dalam Perjanjian Baru dan terkonsentrasi pada tulisan-tulisan dari masa kemudian. Pemakaian bahasa seperti ini memang sangat mengejutkan, sehingga walaupun keyakinan yang mendasarinya kokoh, memang lebih mudah dan mungkin juga lebih politis mengungkapkan keyakinan-keyakinan ini dengan istilah-istilah yang kurang langsung. Perjanjian Baru memang sangat jarang menyebut Yesus sebagai Allah. Namun, yang mengherankan ialah: dalam lingkungan [yang secara radikal berwatak monoteistik] itu, masih ditemukan pernyataan demikian. 4

Sebagaimana juga diamati oleh W.L. Schutter, Inkarnasi pertama-tama menjadi sandungan bagi orang Yahudi karena mengancam komitmen mereka kepada monoteisme radikal. Umat Kristen Yahudi, seperti Paulus dan Yohanes, harus bergumul dengan kemungkinan bahwa mereka membahayakan iman tersebut. Lagi pula, doktrin ini niscaya menjadi rintangan dalam misi gereja kepada Yudaisme. Karena itu, parapemimpin Yahudi dari jemaat yang baru lahir itu memang memiliki keyakinan yang sangat dalam mengenai inkarnasi. Jika tidak, mereka sudah menolaknya. 5

Berdasarkan pengamatan France dan Schutter ini, dapat dimengerti bila kita melihat lebih banyak gambaran tak langsung tentang Yesus sebagai Allah. Pendekatan yang tak langsung bersifat strategis. Seperti yang kita lihat, pendekatan ini sama meyakinkannya dengan pendekatan langsung.

GAMBARAN-GAMBARAN UTAMA: DUA ADEGAN LUAR BIASA DARI INJIL “KEDUA”
Mukjizat-mukjizat Yesus tidak hanya sekadar mukjizat. Lebih dari soal kuasa, mukjizat-mukjizat ini menunjuk kepada pribadi-Nya, yakni menyatakan identitas yang luar biasa dari orang yang menjalankan otoritas Allah. Karena itu, kita dapat melihat mukjizat-mukjizat tersebut sebagai “audiovisual teologis” yang menggambarkan kebenaran-kebenaran rohani tentang Pelakunya. Terkadang kebenaran-kebenaran ini justru luput dari pandangan saksi-saksi mata.

Audiovisual teologis ini terdengar keras dan kelihatan jelas dalam Markus 2:1-12. Adegannya mengambil tempat di Kapernaum di pantai utara Galilea. Yesus sedang mengajar orang-orang yang berkumpul di sebuah rumah. Kisahnya tentang seorang lumpuh yang diturunkan oleh teman-temannya melalui sotoh rumah, karena orang banyak berkerumun menutup pintu masuk. Teman-temannya yang sangat ingin agar orang lumpuh ini sembuh, mencari jalan lain untuk sampai kepada Yesus. Yesus tergerak oleh ungkapan iman mereka, lalu melakukan dan mengatakan sesuatu yang mencengangkan. Orang banyak takjub melihat Yesus menyembuhkan orang lumpuh itu. Namun, lebih mengherankan lagi, Yesus mengatakan kepada orang itu, “Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!” (2:5).

Beberapa pemimpin agama di antara orang banyak itu langsung menyadari adanya masalah teologis dalam pernyataan Yesus: “Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah sendiri?” (2:7). Keberatan mereka hanya separuh benar: Memang hanya Allah yang dapat mengampuni dosa. Namun, Yesus tidak menghujat Allah. Secara tersirat dan dengan penuh wibawa Ia mengklaim diri-Nya setara dengan Allah.

Ketika menanggapi para lawan-Nya, Yesus sendiri menyatakan dengan jelas, penyembuhan orang lumpuh itu menunjuk kepada realitas yang lebih besar lagi.
Manakah lebih mudah, mengatakan kepada orang lumpuh ini: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalan? Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa (Mrk 2:9-10)

Yesus membiarkan tindakan-Nya yang berbicara, sementara ucapan-Nya terdengar sayup-sayup. Setiap orang yang berdiri tak jauh dari orang lumpuh yang dipulihkan itu menyaksikan betapa pernyataan Yesus benar-benar terwujud: Dosa orang lumpuh itu sudah diampuni. Patut digarisbawahi, klaim inilah yang membuat para lawan-Nya mencibir. Mereka tidak berupaya mencari tahu mengapa mukjizat itu terjadi. Jadi, kita mempunyai kesaksian historis yang kuat tentang suatu mukjizat yang pada gilirannya memberi kesaksian teologis yang sangat kuat mengenai keilahian Yesus.

Penegasan lainnya yang luar biasa tentang keyakinan Yesus sendiri akan keilahian-Nya dapat disimak dalam peradilan di hadapan Mahkamah Agama pada malam hari menjelang pelaksanaan hukuman-Nya (Mrk 14:53-64). Dengan mencari-cari dakwaan yang dapat menjeret Yesus sampai Ia dapat dihadapkan
kepada Pilatus, Imam Besar Kayafas bertanya, “Apakah Engkau Mesias, Anak dari Yang Terpuji?” (14:61b). Jawaban Yesus mengejutkan imam besar dan rekan-rekannya:
Jawab Yesus: “Akulah Dia, dan kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasadan datang di tengah-tengah awan-awan di langit.” Maka Imam Besar itu mengoyakkan pakaiannya dan berkata: “Untuk apa kita perlu saksi lagi? Kamu sudah mendengar hujat-Nya terhadap Allah. Bagaimana pendapat kamu?” Lalu dengan suara bulat mereka memutuskan bahwa Dia harus dihukum mati.

Sepintas, reaksi Kayafas dan mahkamah itu tampaknya ekstrem. Memang mengklaim sebagai Mesias tidak serta merta berarti menghujat. Namun, seperti yang akan kita lihat, apa yang diklaim oleh Yesus jauh lebih besar lagi. 6

Ketika menyebut diri-Nya “Anak Manusia”, Yesus mengklaim lebih dari sekadar Raja orang Yahudi (Mrk 14:62). Kerap kali terdapat asumsi yang keliru bahwa gelar “Anak Manusia” hanya berarti kemanusiaan Yesus. Akan tetapi, para penyidik-Nya yang sangat menguasai Alkitab Ibrani mengetahui, bukan tabiat manusiawi-Nya yang dimaksudkan. Yang muncul dalam benak mereka tentulah penglihatan surgawi dalam Daniel 7:13-14: Aku terus melihat dalam penglihatan malam itu, tampak datang dengan awan-awan dari langit seorang seperti anak manusia; datanglah ia kepada Yang Lanjut Usianya itu, dan ia dibawa ke hadapan-Nya. Lalu diberikan kepadanya kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja, maka orang-orang darisegala bangsa, suku bangsa dan bahasa mengabdi kepadanya. Kekuasaannya ialah kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap, dan kerajaannya ialah kerajaan yang tidak akan musnah.

Jelaslah, bukan unsur kefanaan manusia yang dimaksudkan oleh Daniel ketika menggambarkan Anak Manusia sebagai sosok mirip manusia yang diagungkan, yang memegang kekuasaan, penghakiman dan pemerintahan atas suatu kerajaan yang abadi. Penglihatan Daniel memperlihatkan, Anak Manusia lebih dari manusia. Dalam tulisan-tulisan yang lain dari Perjanjian Lama, hanya sosok ilahi saja yang digambarkan datang dalam awan-awan (Kel 14:20; 34:5; Bil 10:34; Mzm 104:3; Yes 19:1). Daniel menggunakan gambaran ini, sementara Yesus juga menggunakannya sebagai gambaran bagi diri-Nya.

Yesus, sosok manusiawi-ilahi yang memegang seluruh wewenang penghakiman ini, membuat klaim yang lebih mengejutkan lagi ketika mengatakan bahwa Ia akan dilihat “duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa” (Mrk 14:62). Gambaran ini tidak asing bagi Mahkamah Agama Yahudi yang sangat mengenal Mazmur-mazmur: Demikianlah firman TUHAN kepada tuanku: “Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuhmu menjadi tumpuan kakimu.”

Memang mengherankan, Yesus mengaitkan teks ini dengan diri-Nya. Hanya beberapa tokoh terkemuka dalam Yudaisme pernah masuk dalam hadirat Allah. Namun, sampai saat itu, belum pernah ada orang yang diberi hak istimewa untuk duduk di sebelah kanan Allah. Nyatanya, Yesus secara pribadi menegaskan hak-Nya untuk itu.

Yesus dalam Markus 14:62 Acuan Perjanjian Lama
“Akulah Dia, dan kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di tengah-tengah awan-awan di langit.”
“Demikianlah firman TUHAN kepada tuanku: ‘Duduklah di sebelah kanan-Ku.’” (Mzm 110:1)
“Tampak datang dengan awan-awan dari langit seorang seperti anak manusia” (Dan 7:13)

Para imam anggota Mahkamah Agama yang mendengar klaim Yesus yang radikal, biasanya bahkan tidak dapat masuk ke bagian mahakudus dalam Bait Suci. Ruang Mahakudus, tempat kediaman Allah di bumi, hanya dapat dimasuki pada hari tertentu dengan cara tertentu dan oleh orang tertentu. Pada Hari Raya Pendamaian, sekali setahun Imam Besar diizinkan memasuki Ruang Mahakudus untuk mempersembahkan darah seekor lembu jantan demi penyucian dirinya dan darah seekor kambing bagi pendamaian umat. Ia terlebih dahulu harus berganti pakaian dan menjalani upacara-upacara pembasuhan (Im 16). Dengan kata lain, kehadiran Allah dalam Bait-Nya dihampiri dengan penuh hati-hati. Jika tidak dilakukan dengan hati-hati, akibatnya adalah maut.

Dengan pembatasan-pembatasan untuk memasuki Ruang Mahakudus di bumi, dapat dibayangkan apa yang muncul dalam benak para imam tersebut ketika Yesus mengklaim diri-Nya berhak masuk ke dalam hadiran Allah di surga. Kita mulai dapat membayangkan apa yang mereka pikirkan ketika Yesus mengatakan, Ia akan masuk ke dalam Tempat Mahakudus di surga dan duduk. Dia dapat juga mengklaim sebagai pemilik tempat itu!

Respons Yesus dianggap keterlaluan oleh para pemimpin agama itu. Ia telah mengklaim sebagai pemegang otoritas Allah. Ini berarti Dialah yang duduk mengadili Mahkamah Agama itu, bukan sebaliknya. Yesus telah menghujat Allah dengan mengancam keunikan hadirat Allah. Ia mengatakan dengan terus terang, Ia akan masuk langsung ke Tempat Mahakudus di surga dan berdiam di sana. Tempat yang diduduki-Nya jauh melebihi para malaikat sekalipun, sebab “di takhta Allah, tempat di sebelah kanan Bapa adalah tempat tertinggi di surga.” Perkataan Yesus mengejutkan Mahkamah Agama Yahudi. Reaksi mereka dengan jelas menunjukkan betapa mereka memahami klaim Yesus tentang keilahian-Nya. Niscaya, inilah yang dipahami Markus tentang Yesus. Demikian juga pemahaman Yesus tentang diri-Nya. Karena itu, kita mempunyai alasan yang kuat untuk menyimpulkan seperti juga Richard Bauckham, “Kristologi terawal sudah merupakan Kristologi tertinggi.” 7

1 Dan Brown, The Da Vinci Code: A Novel (New York: Doubleday, 2003), 233.
2 Richard Bauckham, God Crucified: Monotheism and Christology in the New Testament(Grand Rapids:
Eerdmans, 1998), 10.
3 Ibid., 10-11.
4 R. T. France, “The Worship of Jesus: A Neglected Factor in Christological Debate?” Vox Evangelica
(1981):25.
5 W. L. Schutter, “A Continuing Crisis for Incarnational Doctrine,” Reformed Review32.2 (1979): 85.
6 Uraian berikut mengikuti Darrell L. Bock, Blasphemy and Exaltation in Judaism: The Charge Against
Jesus in Mark 14:53-65 (Grand Rapids: Baker, 2000), 230-31.
7 Bauckham, God Crucified, viii.

Sumber: buku REINVENTING JESUS bab 12

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: