Beranda > CALVINISME > BERLINDUNG DI BALIK PAYUNG FANTASI

BERLINDUNG DI BALIK PAYUNG FANTASI


Kepada Para Calvinis

BERLINDUNG DI BALIK PAYUNG FANTASI

Teologi Reformed/Calvinis saya samakan dengan judul lagu “Payung Fantasi” yang dinyanyikan dengan nuansa Jazz yang kental oleh Shelomita and Opustre Big Band, liriknya adalah sebagai berikut:

5pointsout2Lenggang menorak menarik hati serentak Hei hei siapa dia

Wajah sembunyi di balik payung fantasi Hei hei siapa dia

Payung Fantasi arah ke mana dituju hei hei tunggu dulu

Bolehkah aku melihat sari wajahmu, bolehkan sayang?

Siapa gerangan dinda, bidadari dari surga

Ataukah burung kenari membawa harapan pelipur hati

Payung Fantasi menempeli sinar pagi hei hei cantik dia

Boleh kupandang wajahmu secantik bintang bolehkah kupandang?

Siapa gerangan pula cend’rawasih dari bola

Ataukah si bintang siang pembawa pelipur rasa bahagia

Ketika membaca judul lagu ini, angan saya melayang memikirkan Teologi Reformed/Calvinis, saya tersentak dengan kata Payung Fantasi, seorang yang menganut Teologi Reformed/Calvinis bagaikan seseorang yang berlindung di balik Payung Fantasi. Karena “Payung Fantasi” maka orang yang berpegang teguh pada Teologi Reformed/Calvinis bagaikan percaya pada Filsafat Logis yang kait-mengait namun TIDAK BENAR pada kenyataannya karena menabrak ayat-ayat Alkitab dan mengabaikan ayat-ayat Alkitab serta menafsirkan secara salah ayat-ayat Alkitab yang lain, sehingga tidak menghasilkan harmonisasi dan satu penafsiran yang utuh dan benar dari semua ayat-ayat Alkitab.

Lewis Sperry Chafer, pendiri dan Rektor pertama Dallas Theological Seminary, salah seorang yang sangat merasa dari 5 point Calvinisme yang disebut TULIP, point ke-3 yaitu Limited Atonement adalah salah satu dari 5 poin Calvinisme yang paling sulit untuk dipertahankan sehingga banyak dari mereka membuang poin ini dan menjadi Four-points Calvinist, karena terlalu sulit bagi mereka untuk melawan terlalu banyak ayat Alkitab yang menyatakan bahwa Yesus Kristus menebus dosa semua manusia.

——————————————————————————————————-

BAHAYA CALVINISME

Ketika kita membahas Doktrin Keselamatan (soteriology), rasanya sangat sulit untuk menghindar dari pembahasan tentang Calvinisme. John Calvin diyakini oleh para pemujanya yang umumnya para pemimpin gereja Reform dan Presbyterian sebagai seorang yang telah menyusun konsep keselamatan yang terbaik sepanjang zaman. Benarkah demikian? Namun Calvin sendiri menyatakan bahwa seluruh konsep keselamatannya didasarkan pada Bapak gereja yang sangat dikaguminya, yaitu Agustinus, seorang pendiri gereja Roma Katolik yang telah menyesatkan banyak orang.

Sesungguhnya kalau demikian maka jika konsep keselamatan Agustinus benar maka benarlah konsep keselamatan Calvin. Dr. Laurence M. Vance dengan bukunya The Other Side of Calvinism, buku setebal 788 halaman, telah membahas secara menyeluruh tentang Calvinism. Menurut Vance “Calvinisme is therefore the greatest Christian heresy that has plagued the church.” (Calvinisme adalah ajaran sesat yang terhebat yang mewabahi kekristenan). Menurut Laurence M. Vance, Ph. D, ajaran Calvin yang tidak alkitabiah telah melanda dunia kekristenan bahkan gereja-gereja Baptis yang secara prinsip berbeda dasar theologinya. Menurut Vance, kaum Anabaptis adalah kelompok yang percaya bahwa keselamatan datang dari bertobat dan percaya, bukan yang dipilih Allah tanpa kondisi (unconditional election) seperti yang dikatakan oleh Calvin.

Banyak pemimpin jemaat yang sedemikian terikatnya pada Calvinisme sehingga sesungguhnya kepercayaannya tidak seperti yang dipercayai Calvinis, toh tetap menyebut diri Calvinis. Seorang theolog berkata kepada Dr. Suhento Liauw bahwa Rektor seminarinya percaya bahwa ada aspek tanggung jawab manusia dalam teologinya, namun tetap menyebut dirinya Calvinis sambil menuduh yang percaya pada unconditional election itu adalah ultra-Calvinis. Kalau dipikirkan secara jernih, sejak ia percaya adanya aspek tanggung jawab manusia, maka secara otomatis ia bukan seorang Calvinis lagi karena teologi Calvinis tidak mengenal aspek tanggung jawab manusia sama sekali.

Banyak pemimpin jemaat gereja Baptis yang tanpa berpikir panjang berkata bahwa mereka two-point Calvinist atau one-point Calvinist. Mereka percaya pada aspek perseverance yang Calvinistic bahkan ngotot tanpa mempercayai unconditional election dan limited atonement Calvin. Mereka percaya bahwa sekali diselamatkan selama-lamanya akan diselamatkan tak peduli apapun yang terjadi. Padahal ini adalah bentuk perseverance Calvinistic yang merupakan efek samping dari dipilih Allah secara tanpa kondisi.

Jika manusia memang sudah jatuh ke dalam dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah namun tidak kehilangan kesadaran diri dan kemampuan respon, sehingga Allah masih menyerukan agar manusia bertobat dan percaya, maka ia tidak kehilangan aspek tanggung jawab manusia. Dan jika manusia bertanggung jawab untuk bertobat dan percaya, maka setelah bertobat dan percaya pun manusia tetap bertanggung jawab untuk setia hingga akhir.

Menurut Dave Hunt maupun Laurence M. Vance tidak ada orang yang bisa percaya pada 2 point atau 1 point dari filsafat Calvin itu karena 5 point-nya kait-mengait. Satu poin dilepaskan maka akan terlepas secara keseluruhannya. Total Depravity, Unconditional Election, Limited Atonement, Irresistible Grace, dan Perseverance of the Saints adalah sebuah rangkaian filsafat yang kait-mengait secara berkesinambungan.

Kelihatannya Calvin terlebih dulu dapatkan filsafat ini dari poin Unconditional Election dan kemudian ia menyodok ke atas dengan nalar kalau manusia diselamatkan karena dipilih Allah, maka itu seharusnya manusia bukan hanya total depravity melainkan total inability sebab seandainya manusia masih bisa merespon maka konsep Unconditional Election tidak bisa diterapkan. Kemudian ia menyodok ke bawah dengan nalar bahwa kalau Unconditional Election maka tidak mungkin Allah menebus seluruh manusia. Konsep atonement (penebusan) yang bisa masuk ke dalam konsep Unconditional Election ialah Limited Atonement, sebab tidak masuk akal kalau Allah menebus semua manusia namun tidak memilih semuanya untuk masuk Sorga. Karena tiang utama filsafat ini adalah Unconditional Election, maka sekalipun harus menabrak banyak ayat, tetap harus dipaksakan konsep Limited Atonement.

Dan dari sini ia maju lagi satu langkah ke bawah. Kalau keselamatan itu sepenuhnya oleh pilihan Allah tanpa kondisi (Unconditional Election), maka manusia tidak mungkin bisa menolak pilihan Allah sehingga terciptalah poin keempat yang disebut, Irresistible Grace (anugerah yang tidak dapat ditolak). Padahal kita menyaksikan penolakan Injil baik terhadap Tuhan Yesus oleh para ahli Taurat dan Farisi maupun terhadap para Rasul dalam kitab Kisah Para Rasul.

Dan poinnya yang terakhir, jika Allah yang memilih secara tanpa kondisi, penebusan hanya kepada orang yang dipilih, dan manusia tidak bisa menolak pilihan Allah, maka siapapun yang terpilih, pastilah akan dipelihara Allah hingga akhir hidupnya. Bahkan ada seorang pemimpin jemaat berkata kepada Dr. Suhento Liauw bahwa ia percaya sekali bahwa seseorang yang telah dipilih, walaupun kemudian hidupnya kacau bahkan telah pindah ke agama lain, ia yakin pada suatu hari kelak, sebelum ia mati, ia akan kembali. Tentu tanpa ayat pendukung melainkan berdasarkan keyakinan yang dipupuk lewat nalar filsafat Calvin. Lihatkah pembaca bahwa Calvinisme sesungguhnya adalah sebuah rangkaian filsafat yang disusun berdasarkan sebuah konsep terlebih dahulu? Calvinisme bukan theology yang disimpulkan dari ayat-ayat Alkitab, melainkan sebuah rangkaian nalar yang sangat logis, yang dimulai dari sebuah keyakinan. Dari keyakinan bahwa manusia masuk Sorga oleh pilihan Allah kemudian dikembangkan menjadi sebuah rangkaian filsafat yang sistematis dan logis.

Selanjutnya dari konsep ini mereka menabrak semua ayat dan menafsirkannya dengan menyesuaikannya dengan konsep mereka sehingga mereka berkata bahwa kata “semua” dalam I Yoh 2:2, Ibr 2:9 itu bukan berarti semua orang, dan kata “seisi dunia” dalam I Yoh 1:29 itu bukan seisi dunia. Bahkan untuk mendukung konsep Perseverance mereka, semua ayat yang menunjukkan bahwa manusia harus setia sampai akhir (I Kor 15:2, Ibr 3:6, 14 dll), ditabrak tanpa pertimbangan. Itulah sebabnya Vance berkata bahwa Calvinisme adalah ajaran sesat yang terhebat dalam kekristenan. Dan ia telah merusak kekristenan dari dalam jauh lebih dahsyat dari ajaran sesat manapun. Ajaran sesat lain begitu menyolok dan begitu cepat diidentifikasi dan segera diisolasi. Namun Calvinisme masuk ke dalam kekristenan dan menyerang kekristenan dari dalam. Eropa dan Amerika bahkan kekristenan seluruh dunia semakin dikalahkan oleh Islam karena Kristen Calvinis tidak antusias menginjil sebab mereka percaya masuk Sorga oleh pemilihan tanpa kondisi. Akibat lain adalah mayoritas anggota jemaat gereja-gereja Calvinistic tidak bertobat karena mereka yakin bahwa mereka telah dipilih. Mereka juga tidak perlu percaya bahwa Yesus telah menggantikan mereka disalibkan serta tidak perlu menghayati diri untuk hidup bagi Yesus, karena mereka adalah orang-orang istimewa yang telah dipilih Allah sebelum dunia dijadikan.

Tentu orang Kristen Calvinistik di Eropa tidak antusias menginjil kaum muslim imigran yang datang ke Eropa karena seberapa banyak orang Arab yang akan masuk Sorga telah ditentukan Allah sebelum dunia dijadikan. Hasilnya jumlah orang muslim di kota London sudah lebih banyak dari jumlah anggota jemaat Methodis, dan semakin bertambah untuk mengalahkan jumlah anggota jemaat Anglikan.

Banyak misionari Baptis yang pergi ke seluruh dunia tidak percaya pada Unconditional Election namun mengajarkan Perseverance Calvinistic. Sikap mereka telah menyebabkan doctrinal inconsistency dalam pengajaran mereka. Doctrinal inconsistency akan membuntukan nalar sehingga yang bersangkutan tidak berpikir logis melainkan hanya “ngotot” saja. Mereka tidak percaya pada unconditional election karena jika mereka percaya pada filsafat calvinistik ini maka mereka tidak mungkin menjadi misionari. Sebab jika Allah telah memilih sejumlah orang Papua untuk masuk Sorga dan sejumlah lain untuk masuk Neraka sebelum dunia dijadikan dalam sebuah dekrit, apa manfaatnya para misionari pergi ke Papua dengan bersusah payah, terancam menderita malaria dan lain sebagainya? Seharusnya mereka sadar bahwa jika mata rantai Unconditional Election tidak alkitabiah, maka mata rantai lain, Perseverance of the Saints model Calvinistik, juga perlu direnungkan ulang.

Total Depravity (Kehancuran Total)

Setiap orang Kristen yang percaya dan setia kepada Alkitab mengaminkan bahwa manusia telah rusak bahkan hancur total secara rohani, secara moral, secara kejiwaan bahkan jasmaninya pun semakin hancur sehingga manusia semakin pendek umur. Tetapi kesalahan Calvinis yang terbesar ialah menafsirkan lebih lanjut bahwa Total Depravity itu sama dengan Total Inability. Padahal ini adalah dua hal yang berbeda sama sekali. Manusia telah berdosa sehingga tidak memiliki kemampuan untuk mencari Allah, serta tidak memiliki kemampuan untuk menghampiri Allah. Namun sama sekali tidak langsung berarti bahwa kematian rohani manusia itu sama seperti kematian jasmani dimana digotong untuk dikubur dan diapakan pun tidak bisa bereaksi lagi. Karena di dalam Alkitab banyak sekali ayat yang menunjukkan bahwa manusia yang sudah jatuh ke dalam dosa masih bisa melakukan hal-hal yang positif maupun negatif, bahkan masih bisa merespon terhadap Injil.

Calvinis tidak memiliki ayat yang secara teknis membuktikan kesimpulan mereka. Mereka hanya memelintir ayat-ayat Alkitab, contohnya;

Yesus menjawab, kata-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.” (Yoh 3:3).

Betul sekali bahwa untuk melihat kerajaan Allah seseorang harus dilahirkan kembali terlebih dahulu. Cara seseorang dilahirkan kembali ialah melalui bertobat dan percaya.

Apakah sebabnya kamu tidak mengerti bahasa-Ku? Sebab kamu tidak dapat menangkap firman-Ku. (Yoh 8:43).

Dalam bahasa asli maupun bahasa Inggris kata menangkap di situ adalah mendengar sehingga sering kali dipakai oleh Calvinis untuk mendukung kesimpulan total depravity mereka bahwa manusia tidak bisa mendengar. Padahal kita sering juga berkata kepada anak yang bandel, “kamu tidak mendengar omongan orang tua.” Tuhan Yesus tidak memaksudkan bahwa kondisi kerohanian mereka seperti mayat yang tidak bisa mendengar dan memberi tanggapan. Kalau itu yang dimaksud maka pribadi yang mengajak manusia berbicara serta berpikir adalah orang bodoh yang berbicara kepada mayat.

yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu (Yoh 14:17).

Para Calvinis berargumentasi bahwa “dunia tidak dapat menerima Dia” menunjukkan total depravity yang kemudian mereka simpulkan bahwa itu sama dengan total inability. Padahal memang benar bahwa dunia tidak bisa menerima Roh Kudus, melainkan harus memberi respon terhadap berita Injil terlebih dahulu. Barang siapa yang menerima Yesus Kristus, maka Roh Kudus akan secara otomatis akan diterima bahwa Dia akan tinggal di dalam mereka.

Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya. Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah. (Roma 8:7-8)

Ayat ini kadang juga dipakai oleh Calvinis untuk menunjuk kepada Total Depravity. Kita setuju sekali bahwa manusia kedagingan tidak mungkin berkenan kepada Allah. Ia harus merespon Injil terlebih dahulu. Ayat tersebut di atas dipakai Calvinis untuk mendukung argumentasi ketidakmampuan manusia melakukan sesuatu yang berkenan kepada Allah. Padahal untuk diselamatkan memang Allah tidak membutuhkan kemampuan manusia.

Ayat-ayat berikut ini lagi-lagi dipakai untuk mendukung kesimpulan mereka tentang Total Inability.

Yohanes 6:44 Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman.

6:65 Lalu Ia berkata: “Sebab itu telah Kukatakan kepadamu: Tidak ada seorang pun dapat datang kepada-Ku, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya.”

Karena itu mereka tidak dapat percaya, sebab Yesaya telah berkata juga: “Ia telah membutakan mata dan mendegilkan hati mereka, supaya mereka jangan melihat dengan mata, dan menanggap dengan hati, lalu berbalik, sehingga Aku menyembuhkan mereka.”(Yohanes 12:39-40)

Betul sekali tidak ada seorang pun dapat datang kepada Yesus kalau tidak ditarik oleh Bapa. Cara Bapa menarik manusia ialah dengan berita Injil. Manusia yang tertarik ialah yang memberi respon positif kepada berita Injil. Dan betul sekali bahwa “tidak ada seorangpun dapat datang kepada-Ku, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya.” Injil adalah karunia yang diberikan Allah kepada manusia bahkan dalam Yohanes 3:16 telah jelas dikatakan bahwa kelahiran Yesus Kristus adalah kasih karunia Allah kepada manusia. Kalau Bapa tidak memberikan Yesus maka tidak ada satu manusia pun yang dapat datang kepadaNya.

Injil Yohanes 12:39-40 adalah nubuatan nabi Yesaya tentang sejumlah orang yang hidup pada zaman kehadiran Mesias secara jasmani yang tegar tengkuk. Ayat ini tidak berbicara tentang manusia segala zaman. Pernyataan “Ia telah membutakan mata dan mendegilkan hati mereka” itu seperti kasus mengeraskan hati Firaun. Setelah Firaun mengeraskan hatinya berkali-kali, kemudian Allah mengeraskan hatinya untuk menunjukkan kuasanya kepada dunia.

Selain ayat-ayat tersebut di atas, berikut adalah ayat-ayat favorit Calvinis untuk membela doktrin Total Depravity yang mereka agungkan.

Roma 3:11 Tidak ada seorang pun yang berakal budi, tidak ada seorang pun yang mencari Allah

I Kor 2:14 Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani.

Tidak ada seorang pun berakal budi, tentu yang dimaksudkan adalah secara rohani dan teologi bukan akal budi untuk menciptakan pesawat ulang-alik. Dan tidak seorang pun yang mencari Allah tentu maksudnya dengan jalan yang benar atau cara yang sesuai dengan ketetapan Allah bukan seperti yang dilakukan oleh Sidharta Gautama. Dan manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Allah itu sangat benar. Bahkan dalam II Kor 3:14 dikatakan, “Tetapi pikiran mereka telah menjadi tumpul, sebab sampai pada hari ini selubung itu masih tetap menyelubungi mereka, jika mereka membaca perjanjian lama itu tanpa disingkapkan, karena hanya Kristus saja yang dapat menyingkapkannya.” Untuk memasuki ruang harta rohani ilahi, untuk memahami perkara rohani, atau untuk menerima segala sesuatu yang rohani dari Allah, pintunya adalah Kristus. Jadi Injil harus diberitakan terlebih dahulu. Jika seseorang memberi tanggapan positif terhadap Injil maka kasih karunia Allah akan dilimpahkan kepadanya. Selanjutnya ia akan mulai memahami perkara rohani.

Di dalam Alkitab terdapat banyak sekali ayat yang mengindikasikan bahwa manusia memiliki ability, bukan untuk menyelamatkan diri, melainkan untuk memberi tanggapan terhadap tawaran keselamatan dari Allah. Contohnya:

Yes 55:6 Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat

Amos 5:4 Sebab beginilah firman TUHAN kepada kaum Israel: “Carilah Aku, maka kamu akan hidup

Zefanya 2:3 Carilah TUHAN, hai semua orang yang rendah hati di negeri, yang melakukan hukum-Nya; carilah keadilan, carilah kerendahan hati; mungkin kamu akan terlindung pada hari kemurkaan TUHAN.

Mustahil kondisi manusia seperti yang digambarkan oleh Calvinis yang tidak bisa menanggapi Injil yang ditawarkan Allah itu bisa benar. John Calvin dengan filsafatnya telah membesar-besarkan kejatuhan manusia ke dalam dosa hingga mengabaikan semua ayat yang menunjukkan kondisi manusia yang masih bisa memilih untuk menerima atau menolak anugerah Allah. Dan masih ada banyak ayat lain lagi yang menunjukkan himbauan Allah agar manusia percaya kepada Injil, percaya kepada Yesus Kristus.

Yohanes 14:6 Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.

Argumentasi konyol dari kalangan Calvinis biasanya ialah Allah sendiri yang membuat orang yang dipilihnya untuk datang kepadaNya. Sambil mengutip ayat “Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang.” (Yoh 6:37). Tetapi sesungguhnya ayat ini tidak menyatakan bahwa yang tidak diberikan Bapa tidak bisa datang. Dan kalau penafsiran Calvinis yang dipaksakan itu benar, maka jika manusia tidak datang, tentu tidak bisa disalahkan.

Kita dapat pastikan penafsiran Calvinis salah karena ada banyak ayat Alkitab yang menyerukan agar manusia bertobat.

Markus 1:15 kata-Nya: “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!”

Kis 17:30 Dengan tidak memandang lagi zaman kebodohan, maka sekarang Allah memberitakan kepada manusia, bahwa di mana-mana semua mereka harus bertobat.

Bahkan bukan sekedar menghimbau manusia untuk bertobat dan percaya kepada Yesus Kristus, melainkan perintah.

 I Yohanes 3:23 Dan inilah perintah-Nya itu: supaya kita percaya akan nama Yesus Kristus, Anak-Nya, dan supaya kita saling mengasihi sesuai dengan perintah yang diberikan Kristus kepada kita.

Penafsiran Calvinis bahwa kematian rohani manusia sama seperti kematian jasmani itu sama sekali tidak benar. Berdasarkan ayat Alkitab tentang trikotomi, yaitu manusia yang memiliki roh, jiwa dan tubuh (Ibr 4:12), maka kematian manusia secara rohani tidak menyebabkannya tidak bisa berpikir dan memiliki kehendak bebas. Betul sekali kalau dikatakan bahwa hati nurani manusia telah rusak karena salah satu komponen pembentuk hati nuraninya rusak. Itulah sebabnya, setelah dilahirkan kembali hati nurani manusia bisa menjadi faktor pengingat moral yang efektif.

Sesungguhnya setelah manusia jatuh ke dalam dosa, Allah yang maha tahu berkomentar bahwa manusia memiliki kemampuan yang hebat, bahkan menjadi salah satu dari Allah, tentu dalam pengertian mengetahui yang baik dan yang jahat.

Kejadian 3:22 Berfirmanlah TUHAN Allah: “Sesungguhnya manusia itu telah menjadi seperti salah satu dari Kita, tahu tentang yang baik dan yang jahat; maka sekarang jangan sampai ia mengulurkan tangannya dan mengambil pula dari buah pohon kehidupan itu dan memakannya, sehingga ia hidup untuk selama-lamanya.”

Total Depravity calvinisme yang menyimpulkan bahwa manusia tidak memiliki kemampuan untuk merespon Injil atau seruan untuk bertobat adalah hasil penafsiran yang sangat keliru. Dan ini sangat bahaya bagi kekristenan karena sekalipun disangkal namun secara akal sehat dapat dipahami bahwa itu akan menghentikan antusiasme orang Kristen untuk memberitakan Injil, menyerukan pertobatan, mendesak orang untuk mengambil keputusan menerima Kristus. Keadaan Eropa adalah akibat teologi Calvinistik, yang hanya tinggal tunggu waktu akan ditelan oleh Islam.

Unconditional Election (Pemilihan Tanpa Kondisi)

Seturut dengan rasionalisasi yang telah dikemukakan di depan, bahwa jika seseorang percaya kejatuhan manusia yang total telah menyebabkan jiwa manusia seperti mayat yang tidak bisa memberi respon terhadap Injil maka kemungkinan sebagian manusia masuk Sorga hanya karena pilihan Allah. Dan jika kebobrokan manusia itu bersifat menyeluruh, artinya tidak ada satu manusia pun yang tidak berdosa, maka seharusnya jika Allah mampu dan penuh kasih, Ia akan memilih semua orang untuk masuk Sorga atau semua orang masuk Neraka.

Namun Calvin mungkin melihat hanya sebagian saja yang mau mengikutinya, maka ia menyuguhkan rasionalisasi bahwa Allah hanya memilih sebagian saja untuk masuk Sorga dan sebagiannya dibiarkannya (sebenarnya dipilih) untuk masuk Neraka. Ada Calvinis yang mengatakan bahwa Allah secara aktif memilih sebagian orang untuk masuk Sorga tetapi secara PASIF membiarkan sebagiannya masuk Neraka. Jadi, tim penyelamat secara aktif berusaha menyelamatkan sejumlah orang dalam kapal yang sedang tenggelam, dan secara PASIF membiarkan sejumlah lainnya binasa, padahal menurut Calvin tim tersebut sanggup menyelamatkan semuanya. Bukankah tim penyelamat itu akan dikatakan bejat, bahkan sangat mungkin akan dituntut di pengadilan.

Apakah Unconditional Election itu menurut Calvinis? Banyak pengikut Calvin merubah pandangan Calvin sambil menciptakan kambing hitam. Kalau mereka telah terpojok, maka mereka berkata bahwa itu adalah pandangan hyphercalvinist dan lain sebagainya. Tentu jawaban yang tepat tentang predestinasi dan Unconditional Election adalah dari Calvin sendiri.

Compacted with himself what he willed to become of each man. For all are not created in equal condition; rather, eternal life is foreordained for some, eternal damnation for others. Therefore, as any man has been created to one or the other of these ends, we speak of him as predestinated to life or death. (John Calvin, Institutes of the Christian religion. Ed. By John T. Mcneil. Trans. By Ford Lewis Battles (Philadelpia:The Westminster Press, 1960), p.926 (III.xxi.5)).

(Terjemahan bebasnya) Kami menyebutnya predestinasi atas dekrit kekal Allah, dimana Ia  secara kompak dengan diriNya apa yang diinginiNya atas tiap-tiap manusia. Semuanya tidak tercipta dalam kondisi yang sama; karena hidup kekal telah ditetapkan untuk sejumlah orang, penghukuman kekal untuk yang lain. Oleh sebab itu seseorang telah diciptakan untuk berakhir pada salah satunya, yang kami katakan bahwa ia telah dipredestinasikan (ditetapkan) untuk hidup atau binasa.

Jadi menurut Calvin oleh satu dekrit Allah dalam kekekalan, segala sesuatu telah ditetapkan atau dipredestinasikan untuk hidup kekal atau binasa kekal secara tanpa kondisi (unconditional). Artinya nasib setiap orang telah ditentukan oleh Allah sejak kekal untuk membunuh, atau dibunuh, jauh sebelum orang tersebut lahir. Unconditional itu artinya tanpa kondisi atau penyebab dari pihak manusia, melainkan karena Allah suka dan ingin menyelamatkan sebagian dan Ia suka membinasakan yang lain. Berikut dalam buku yang sama pada halaman 931 ia berkata,

As scripture, then, clearly shows, we say that God once established by his eternal and unchangeable plan those whom he long before determined once for all to receive into salvation, and those whom, on the other hand, he would devote to destruction. We assert that, with respect to the elect, this plan was founded upn his freely given mercy, without regard to human worth, but by his just and irreprehensible but incomprehensible judgment he has barred the door of life to those whom he has given over to damnation. (ibid, p. 931)

(Terjemahan bebasnya) Sebagaimana Alkitab, kemudian, secara jelas menunjukkan, kami katakana bahwa Allah sekali telah menetapkan oleh rencanaNya yang kekal dan tak berubah atas mereka yang jauh sebelumnya telah ditetapkan sekali untuk semuanya untuk diterima ke dalam keselamatan, dan mereka di sisi yang lain, Ia tentukan untuk kebinasaan. Kami nyatakan itu, dengan hormat kepada yang terpilih, rencana ini didasarkan atas pemberian anugerahNya yang bebas, tanpa mempertimbangkan kelayakan kemanusiaan, melainkan hanya oleh keputusanNya yang tidak bisa ditolak dan tidak bisa dipahami telah menutup pintu kehidupan untuk mereka yang telah diserahkanNya kepada penghukuman.

Jadi, menurut Calvin dalam satu dekrit, yang dilakukan dalam kekekalan, Allah telah menetapkan, sejumlah orang untuk hidup kekal dan sejumlah orang untuk kebinasaan, TANPA mempertimbangkan apapun dari pihak manusia. Tidak heran kalau Dave Hunt menulis sebuah buku yang berjudul What Love Is This? Dan menyimpulkan bahwa Allah yang dipercayai oleh kaum Calvinis itu adalah Allah yang kejam, bahkan monster. Bayangkan Ia telah menetapkan sejumlah orang untuk hidup kekal dan sejumlah orang untuk kebinasaan kekal, TANPA kondisi, atau tanpa mempertimbangkan faktor sikap hati maupun perbuatan manusia.

Apakah benar Alkitab mengajarkan demikian? Tidak mungkin! Bahkan dalam II Pet 3:9 Allah katakan bahwa Ia menghendaki agar semua orang bisa berbalik dan diselamatkan. Jelas sekali Allah Calvin berbeda dengan Allah yang mengilhamkan surat Petrus. Bahkan masih ada pernyataan Calvin yang disebut decretum horribile (dekrit kengerian),

Again, I ask: whence does it happen that Adam’s fall irremediably involved so many peoples, together woth their infants offspring, in eternal death unless because it so pleased become mute. The decree is dreadful indeed, I confess. Yet no one can deny that God foreknew what end man was to have before he created him, and consequently forknew because he ordained by his decree. (ibid, p. 955)

(Terjemahan bebasnya) Lagi, saya bertanya: darimana itu terjadi bahwa kejatuahn Adam yang tak dapat diperbaiki melibatkan begitu banyak orang, bersama bayi keturunan mereka dalam binasa kekal kecuali karena itu sangat disenangi Allah? Di sini lidah mereka yang suka berbicara harus tak berbunyi. Dekrit itu memang mengerikan, saya mengakuinya. Namun tidak ada orang yang dapat menyangkal bahwa Allah tahu dulu akhir seseorang sebelum Ia menciptakannya, dan secara konsekuen tahu dulu karena Ia yang menetapkannya dengan dekritNya.

Menurut Calvin, Allah demi keagungan, kesenangan, dan kemuliaanNya telah menetapkan sebagian keturunan Adam dengan bayi (infants) mereka untuk binasa. Sungguh, ini sebuah dekrit yang mengerikan. Allah bahkan lebih kejam dari Hitler, Mussolini, bahkan Dracula, karena menetapkan orang menuju kebinasaan sebelum ia dilahirkan tanpa pertimbangan atas sikap hati maupun perbuatan mereka.

Calvin tidak mengerti bahwa semua yang mati selagi masih bayi secara otomatis akan masuk Sorga karena Kristus telah dihukumkan untuk dosa dunia. Sedangkan yang bertumbuh menjadi dewasa harus mendengar berita Injil dan memberi respon terhadap tawaran kasih Allah supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yoh 3:16).

Namun Calvin dan semua pengikutnya (Reform dan Presbyterian) mengajarkan seturut dengan Agustinus, Bapak Gereja Roma Katolik yang menyesatkan gereja, bahwa bayi harus dibaptis ke dalam gereja dan kalau tidak akan masuk ke limbus infantum (Vance, pp 54-55). Itulah sebabnya baik Reform maupun Presbyterian begitu giat membaptis bayi-bayi anggota jemaat mereka.

Kesalahan Calvin yang terbesar adalah tidak mempertimbangkan aspek manusia dan malaikat yang diciptakan Allah sebagai makhluk moral dan diberi kebebasan berpikir serta memutuskan. Oleh sebab itu Allah tidak menentukan segala sesuatu, bahkan hingga apa yang akan dimakan bahkan tiap-tiap kata manusia. Karena Calvinis percaya bahwa segala sesuatu telah Allah tetapkan, maka sulit untuk menghindar bahwa Allah sendirilah yang telah menetapkan dosa, Allah sendirilah yang telah menetapkan segala kejahatan yang terjadi di muka bumi ini. Dan kaum Muslim menyebut ini sebagai takdir. Calvinis mengakui bahwa mereka percaya Allah dalam satu dekritnya dalam kekekalan telah mendekritkan segala sesuatu, termasuk kejatuhan Adam, sebagaimana dinyatakan Calvin di atas. Tidak salah bukan kalau Laurence M. Vance menyatakan bahwa Calvinisme adalah tulah yang terdahsyat pada gereja?

Limited Atonement (Penebusan Yang Terbatas)

Ini adalah point yang paling bertentangan dengan Alkitab sehingga pendiri Dallas Theological Sminary, Lewis Sperry Chafer memungut empat poin yang lain namun menolak yang satu ini, karena sama sekali tidak ada ayat yang mendukung konsep ini. Penebusan Terbatas hanya merupakan nalar lanjutan dari Total Depravity dan Unconditional Election. Keran kedua konsep di atas telah kita buktikan bertentangan dengan Alkitab, maka nalar lanjutannya tentu juga salah. Poin satu ini sesungguhnya adalah poin yang dipaksakan sehubungan telah terlebih dulu ada poin Total Depravity dan Unconditional Election. Logika Calvin dan Calvinis adalah jika Allah memilih sejumlah orang masuk Sorga, maka tidak mungkin Allah menebus semua orang karena faktanya tidak semua orang masuk Sorga. Mereka selalu berargumentasi bahwa kalau Allah menebus semua manusia namun hanya sebagian yang masuk Sorga maka porsi tebusan khusus bagi mereka yang masuk Neraka itu jadi mubazir. Mereka membayangkan penebusan itu seperti seorang menebus lima anaknya yang terculik dengan sejumlah uang namun yang selamat ternyata hanya dua anak, maka porsi uang jatah tiga anak jadi sia-sia. Ini kira-kira jalan nalar mereka yang amat salah.

Padahal penebusan Kristus itu adalah sekali untuk semua dan selamanya.

I Pet 3:18 “Sebab juga Kristus telah mati SEKALI untuk SEGALA dosa kita”

Ibr 9:28 demikian pula Kristus hanya satu kali saja mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang.

“…yaitu manusia Kristus Yesus, yang telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua manusia” (I Tim 2:5-6)

Rm 6:10 Sebab kematian-Nya adalah kematian terhadap dosa, satu kali dan untuk selama-lamanya, dan kehidupan-Nya adalah kehidupan bagi Allah.

Penebusan kristus atas manusia yang berdosa sama sekali bukan seperti seseorang membayar UANG atas sesuatu, dan juga bukan seperti menukar orang berdosa dengan darahNya secara tetes-pertetes. Konsep yang benar adalah Kristus MENGGANTIKAN orang berdosa disalibkan. Dosa seisi dunia atau semua manusia, dari Adam hingga manusia yang lahir terakhir, ditaruh di atas diri Yesus dan ia dijatuhkan hukuman terberat. Jadi, bukan seperti yang dibayangkan oleh Calvinis bahwa orang berdosa ditukar dengan darah Kristus sehingga kalau penebusan itu mencakup semua manusia namun ternyata tidak semuanya selamat maka darah Kristus YANG DIKHUSUSKAN UNTUK mereka yang ternyata tidak masuk Sorga menjadi sia-sia.

Konsep Penebusan Terbatas tidak memiliki dasar Alkitab melainkan hanya kesimpulan dari nalar logis yang didasarkan pada dua poin terdahulu. Ia sangat bertentangan dengan Injil Yohanes 1:29, I Tim 2:5-6, Ibr 2:9 dan I Yoh 2:2 dan tentu masih banyak lagi. Akibat ngotot mempertahankan konsep Limited Atonement, para Calvinis bahkan menyangkali arti kata secara generic. Mereka berargumentasi bahwa kata “semua” dalam ayat-ayat tersebut tidak berarti SEMUA melainkan sebagian, yaitu orang-orang pilihan saja.

Kalau kata “semua” tidak berarti semua melainkan sebagian, dan kalau anjing itu tidak berarti binatang yang bisa menggonggong melainkan bisa ditafsirkan sebagai yang mengembek, kalau kucing itu tidak berarti yang berbunyi meong melainkan bisa ditafsirkan yang lain, dan kalau pergi boleh juga diartikan pulang, dan kalau dingin bis juga diartikan panas, maka kita bukan hanya tidak bisa memahami isis Alkitab, bahkan tidak bisa berkomunikasi lagi. Bayangkan, kalau teman kita berkata bahwa ia mau pulang, dan kita mengartikan bahwa dia minta minum, apakah manusia seluruh dunia tidak menjadi manusia sinting? Itulah sebabnya Lewis Sperry Chafer tidak bisa menerima poin yang satu ini, dan secara salah telah menerima empat poin yang lain.

Dua syarat utama untuk menafsirkan Alkitab secara benar dan tepat tidak diikuti oleh Calvin dan para Calvinis, yaitu ayat-ayat Alkitab tidak boleh saling bertentangan, dan semua kata harus ditafsirkan secara literal kecuali telah bertentangan dengan akal sehat. Jika sebuah kata masih bisa ditafsirkan secara literal, dan tidak bertentangan dengan akal sehat, maka TIDAK BOLEH ditafsirkan secara alegorikal. Pertimbangan untuk menafsirkan secara alegorikal adalah jika kata-kata atau kalimatnya bertentangan dengan akal sehat serta kepatutan secara umum, misalnya kata Tuhan, “biarkanlah orang mati menguburkan orang mati mereka” jelas orang mati pertama adalah mati secara rohani bukan jasmani.

Alkitab telah dengan jelas menyatakan bahwa kematian Kristus adalah menggantikan semua manusia menerima penghukuman. Ia sekali terhukum untuk menggantikan semua manusia, dari Adam hingga manusia yang lahir terakhir, bukan menggantikan satu persatu. Semua manusia menjadi orang berdosa karena hubungannya dengan Adam melalui kelahiran jasmani.

Rm 5:15 Tetapi karunia Allah tidaklah sama dengan pelanggaran Adam. Sebab, jika karena pelanggaran satu orang semua orang telah jatuh di dalam kuasa maut, jauh lebih besar lagi kasih karunia Allah dan karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya atas semua orang karena satu orang, yaitu Yesus Kristus.

Jadi, karena Kristus karunia Allah dilimpahkan kepada semua orang. Itulah sebabnya teologi yang benar atau doktrin yang alkitabiah haus menyimpulkan bahwa biar bayi penjahat sekalipun, jika ia mati saat masih bayi maka ia pasti masuk Sorga. Karena dosa yang dibawa masuk oleh Adam dan Hawa ke dalam dunia telah terselesaikan oleh Yesus Kristus.

Tetapi terhadap manusia yang berbuat dosa secara sadar, artinya bukan berposisi orang berdosa yang diwariskannya dari Adam, ia harus bertobat dan percaya agar ia dihitungkan sebagai orang yang telah digantikan oleh Kristus terhukum di kayu salib. Tentu ini adalah bagi mereka yang telah akil-balik, artinya yang telah melakukan dos atas kesadaran dirinya. Ia telah menjadi orang berdosa bukan karena keturunan Adam dan Hawa melainkan karena keputusannya sendiri. Ia harus bertobat, artinya mengaku diri orang berdosa dan menyesali dosanya, seseorang tidak layak menerima kasih karunia Allah. Orang yang  tidak mengaku diri berdosa dan menyesali dosa adalah orang yang masih senang berbuat dosa dan menikmati posisi sebagai orang berdosa.

Bersamaan waktu dengan pertobatannya, orang tersebut harus mengaminkan penghukuman Kristus bagi dirinya. Ia harus setuju atas tindakan Kristus dalam menggantikannya dihukumkan atas semua dosanya. Ia harus memandang penyaliban Kristus sebagai peristiwa penghukuman atas dirinya, dan hidup yang sedang dijalaninya adalah hidup Yesus Kristus. Inilah yang melatarbelakangi statement Rasul Paulus bahwa  hidupnya bukanlah dirinya lagi melainkan Kristus (Gal 2:19-20). Calvinis tidak akan dapat memahami mengapa hidup Rasul Paulus bisa menjadi hidup Kristus karena tidak dapat melihat konsep substitusi dalam penyaliban Kristus dan pengaminan oleh setiap orang yang bertobat dan percaya. Konsep Limited Atonement mereka telah memaksa mereka percaya bahwa Kristus hanya menebus sebagian orang saja,  dan mereka tidak tahu siapa yang ditebus dan yang tidak. Tentu semua Calvinis berharap bahwa ia adalah orang yang dipilih secara unconditional dan ditebus secara terbatas (Limited Atonement).

Irresistible Grace (Anugerah Yang Tidak Bisa Ditolak)

Sama seperti Limited Atonement, Irresistible Grace adalah poin nalar lanjutan dari serangkaian nalar Calvin. Karena nalar mereka menyimpulkan bahwa Kristus hanya memilih sebagian orang sehingga Ia tidak mungkin menebus semua orang, maka penebusan Kristus sewajarnya bersifat terbatas dari situ terciptalah konsep Limited Atonement. Nalar lanjutannya, jika Kristus hanya memilihi sebagian kecil orang untuk masuk Sorga, dan hanya menebus mereka saja, maka orang yang terpilih serta yang tertebus tidak mungkin dapat menolak anugerah itu. Inilah dasar dari konsep Irresistible Grace.

Bisakah disimpulkan bahwa sesungguhnya ada orang yang pada dasarnya tidak ada keinginan masuk Sorga namun apa boleh buat karena telah terpilih maka tidak dapat menolak sehingga terpaksa masuk Sorga? Sebaliknya ada orang yang sangat ingin masuk Sorga namun saying sekali ia tidak terpilih dan akhirnya masuk neraka? Sebagian Calvinis mengiyakan dan sebagian membantah.

Pertanyaan setiap pembaca tentu adalah, apakah konsep Irresistible Grace adalah konsep Alkitab, atau itu adalah konsep ciptaan John Calvin sendiri yang kemudian dibela secara gigih oleh para pengikutnya? Mari kita lihat kata Alkitab.

“Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!” (Yosua 24:15)

Jika manusia tidak bisa menolak anugerah Allah, maka usaha Yosua untuk orang Yahudi adalah suatu perbuatan yang tak perlu. Yosua menegaskan bahwa ia dan seisi rumahnya akan memilih beribahadah kepada Tuhan (YAHWEH). Ia memberi kebebasan kepada rakyat Israel untuk memilih beribadah kepada Allah Abraham saat di Mesopotamia, atau allah orang-orang Kanaan. Ia dengan mantap mengatakan bahwa ia memilih beribadah kepada Tuhan.

Ada seorang datang kepada Yesus, dan berkata: “Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus: “Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya Satu yang baik. Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah.” Kata orang itu kepada-Nya: “Perintah yang mana?” Kata Yesus: “Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Kata orang muda itu kepada-Nya: “Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?” Kata Yesus kepadanya: “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya. (Matius 19:16-22)

Banyak Calvinis menghadapi masalah dengan perikop Alkitab ini. Yang gegabah biasanya langsung menjawab bahwa orang muda ini memang bukan orang pilihan Tuhan. Tetapi pertanyaannya ialah, mengapa mengajaknya untuk mengikutiNya? Ini adalah salah satu contoh yang sangat nyata bahwa Irresistible Grace bukanlah konsep Alkitab melainkan konsep Calvin yang merupakan terusan dari seluruh rangkaian filsafatnya yang terdiri dari lima poin.

Mat 23:37 “Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau.

Luk 10:16 Barangsiapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku; dan barangsiapa menolak kamu, ia menolak Aku; dan barangsiapa menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku.

Yoh 16:1 “Semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya kamu jangan kecewa dan menolak Aku.

Kis 3:14 Tetapi kamu telah menolak Yang Kudus dan Benar, serta menghendaki seorang pembunuh sebagai hadiahmu

I Tes 4:8 Karena itu siapa yang menolak ini bukanlah menolak manusia, melainkan menolak Allah yang telah memberikan juga Roh-Nya yang kudus kepada kamu

Ibr 12:25 Jagalah supaya kamu jangan menolak Dia, yang berfirman. Sebab jikalau mereka, yang menolak Dia yang menyampaikan firman Allah di bumi, tidak luput, apa lagi kita, jika kita berpaling dari Dia yang berbicara dari sorga?

Ini hanyalah sebagian ayat dari begitu banyak ayat dan contoh peristiwa dimana manusia bias menolak anugerah Allah. Padahal di kalangan Calvinis terdapat banyak orang yang terpelajar dan pintar. Namun mereka memilih mengikuti nalar John Calvin bahwa anugerah Allah tidak bisa ditolak daripada percaya kepada ayat-ayat Alkitab. Mereka terpaku pada sifat kedaulatan Allah tanpa mau mengerti bahwa Allah telah menciptakan malaikat dan manusia yang diberi kemampuan berpikir dan kehendak bebas. Allah adalah pribadi yang konsekuen, sehingga sekali Ia telah memberikan kebebasan berpikir Ia menghargai kebebasan itu. Dan tentu Allah berdaulat untuk menghancurkan manusai seperti yang telah dilakukannya pada zaman Nuh. Ia juga telah menghalangi keledai Bileam untuk mencapai tempat Balak. Namun Allah tahu bahwa hati Bileam tetapi ingin pergi agar bias mendapatkan uang. Akhirnya Allah mengizinkannya tiba pada Balak. Bileam dibayar untuk mengutuk Israel, dan Allah berdaulat untuk  membelokkan lidahnya sehingga yang terucapkan justru berkat.

Sejak Allah menciptakan malaikat dan manusia dengan hati yang bebas untuk mengambil keputusan, mereka betul-betul bebas. Jika Allah tidak menghendaki keputusan hati mereka yang bebas, Allah cukup berdaulat untuk melenyapkan mereka dari muka bumi, atau merubah mereka menjadi binatang seperti yang dilakukannya terhadap Nebukadnezar. Tetapi selagi obyek tersebut adalah manusia yang normal, sebagai kelengkapannya adalah pikirannya yang mampu mengambil keputusan dan hatinya yang bebas. Jika kelengkapan ini tidak dimiliki lagi maka obyek tersebut bukan manusia lagi. Allah tentu tahu konsekuensi ini sejak sebelum Ia menciptakan alam semesta. Ia memutuskan untuk menciptakan malaikat dan manusia karena Allah ingin disembah oleh makhluk yang berpikiran cerdas dan berhati nurani yang bebas. Ia bisa menolak bahkan menetang Allah dan juga bisa menerima bahkan menyembah Allah. Disitulah nikmat Sang Pencipta, yang telah menciptakan malaikat dan manusia ketika manusia dengan kehendak bebasnya memilih menyembahNya.

Perseverance of the Saints (Ketekunan Orang-Orang Kudus)

Poin terakhir Calvinisme ini adalah kesimpulan akhir dari seluruh rangkaian nalar John Calvin yang dipungutnya dari Agustinus. Sebagaimana poin satu hingga empat tidak memiliki dasar Alkitab, maka sudah jelas kesimpulan akhirnya juga tidak alkitabiah. Dasar dari Perseverance of the Saints Calvinisme bukanlah pada ayat-ayat Alkitab tetapi pada jalur nalar mereka yang jika Allah memilih seseorang, menebusnya dengan kematian Yesus Kristus, dan telah menerapkan kepadanya anugerah yang tidak bisa ditolak, maka apapun yang terjadi pada orang tersebut, ia tidak akan binasa lagi. Ia pasti akan masuk Sorga! Itulah jalan nalar Calvinisme yang menjadi dasar konsep Perseverance of the Saints Calvinisme.

Mereka selalu berargumentasi bahwa jika Allah yang memegang orang tersebut, dan jika Allah yang memelihara iman orang tersebut, maka jika ia sampai tidak masuk Sorga maka itu berarti Allah telah gagal. Argumentasi ini sama dengan, jika penebusan Yesus Kristus mencakup seluruh dunia, atau semua manusia, lantas kenyataannya tidak semua orang masuk Sorga, maka penebusan Kristus terhadap mereka yang masuk Neraka telah gagal.

Kedua jalan nalar ini didasarkan pada konsep manusia tidak memiliki kehendak bebas untuk menolak anugerah Allah. Bahwa manusia lebih rendah dari anjing, karena najing saja bisa memilih mau datang kepada tuannya atau tidak ketika dipanggil namanya’. Calvinis percaya bahwa manusia yang belum menjadi Kristen tidak memiliki kebebasan untuk menolak anugerah Allah, dan sesudah menjadi Kristen, atau “diselamatkan” ia lebih tidak memiliki kehendak bebas lagi. Ia bagaikan boneka keramik yang jika pecah maka pemiliknyalah yang harus disalahkan. Sehingga keselamatan akhir dari seorang Calvinis sepenuhnya tergantung pada cengkeraman Allah atas dirinya. Kalau kelak ternyata ia gagal masuk Sorga, sepenuhnya bukanlah kesalahannya, melainkan kegagalan Allah. Sekali lagi dasar konsep Perseverance of the Saints Calvinisme adalah manusia tidak memiliki kehendak bebas, tidak bisa berpikir, atau sekedar boneka.

Sebaliknya Alkitab mengajarkan bahwa manusia setelah jatuh ke dalam dosa sama sekali tidak kehilangan kesadaran diri seperti manusia jatuh dari gedung lantai sepuluh yang pingsan total, melainkan dalam Kejadian 3:22, dikatakan menjadi tahu akan yang baik dan yang jahat, bahkan ada pernyataan dari Allah sendiri bahwa manusia telah menjadi salah satu Allah.

Allah adalah pribadi yang tahu tentang yang baik dan yang jahat, namun Ia memiliki keseimbangan dan memiliki standar kebaikan serta memiliki kuasa untuk mengendalikan diriNya. Seluruh sifat Allah memiliki keseimbangan. Sebaliknya manusia menjadi tahu akan yang baik dan yang jahat dengan tanpa memiliki keseimbangan, tanpa memiliki pengendalian diri, dan dirinya sendiri tidak bisa menjadi standar kebenaran, sehingga ketika ia menjadi allah bagi dirinya sendiri ia akan berakhir dalam kebinasaan oleh pengetahuannya tentang yang jahat. Inilah alasan Allah tidak mau manusia memakan buah pengetahuan yang baik dan jahat itu. Sama sekali bukan karena Allah egois melainkan Allah tahu jika manusia memiliki pengetahuan yang jahat dengan tanpa kemampuan pengendalian diri dan keseimbangan antara sifat kemanusiaannya, maka hasil akhirnya akan negatif.

Namun Allah telah menciptakannya dengan kemampuan berpikir dan kemampuan mengambil keputusan untuk dirinya sendiri, dan tentu kita lebih senang dengan keadaan kemanusiaan kita daripada diciptakan seperti robot sekalipun ada resiko. Karena memiliki kemampuan dan kebebasan memilih maka Hawa telah memilih untuk dirinya, demikian juga Adam. Tetapi Adam dan Hawa akan kita jumpai di Sorga karena mereka percaya kepada janji Allah untuk mengutus Juruselamat. Buktinya ketika Hawa melahirkan Kain, ia menyangka telah melahirkan Sang Juruselamat.

Kej 4:1 Kemudian manusia itu bersetubuh dengan Hawa, isterinya, dan mengandunglah perempuan itu, lalu melahirkan Kain; maka kata perempuan itu: “Aku telah mendapat seorang anak laki-laki DENGAN PERTOLONGAN TUHAN.”

Kata “dengan pertolongan” yang saya sengaja cetak huruf besar tebal itu tidak ada dalam bahasa aslinya. Sesungguhnya` hw”)hy>-ta, vyaiÞ Lebih tepat diterjemahkan “seorang laki-laki yang adalah YAHWEH.” Kata “ ta, ” adalah direct object mark (tanda obyek langsung), seperti ‘saya makan pisang’ sebelum kata pisang harus ada kata ta, (et). Jadi kelihatannya Hawa yang telah jatuh ke dalam dosa sangat percaya janji Allah untuk mengirim Juruselamat, dan ia tahu bahwa Sang Juruselamat itu adalah Allah sendiri yang akan menjadi manusia, sehingga ketika ia melahirkan Kain, ia menyangka bahwa itu adalah Sang Juruselamat.

Allah tahu keadaan Adam dan Hawa bahkan semua manusia. Allah tahu bahwa mereka akan berbuat ini dan itu. Tetapi Allah tidak menetapkan mereka melakukan hal-hal yang jahat sebagaimana diyakini oleh para calvinis. Para Calvinis selalu mengaitkan antara kemahatahuan Allah dengan predestinasi Allah, bahkan mereka berkata bahwa Allah tahu karena Allah menetapkan (mempredestinasikan). Ini kesimpulan bahwa Allah telah menetapkan seorang wanita diperkosa maka Allah tahu akan kejadian itu. Orang berdosa yang menentang Allah memperkosa perempuan berdosa yang juga menentang Allah adalah siklus perbuatan orang berdosa. Dan Allah telah memutuskan untuk mengadili manusia bukan hanya pada perbuatan mereka bahkan sampai kepada pikiran mereka.

Sesungguhnya tidak ada seorang Calvinis pun yang dapat memastikan dirinya akan masuk Sorga karena tidak ada seorang calvinis pun yang tahu pasti bahwa dirinya termasuk dalam orang-orang pilihan. Mereka hanya yakin begitu saja bahwa mereka adalah orang-orang pilihan. Dengan kata lain jika orang-orang tidak akan percaya, itu adalah karena Allah tidak memberikan iman kepada mereka, karena mereka bukan orang-orang yang dipilih Allah. Dan dalam kenyataan jika mereka menemukan orang-orang yang tadinya beriman, terus kemudian tidak beriman lagi, biasanya mereka meyimpulkan bahwa orang tersebut dari awalnya memang tidak dikasih iman oleh Allah. Jadi, siapapun di kalangan calvinis, bahkan yang paling giat sekalipun kalau suatu hari dia mundur dari iman, mereka akan simpulkan bahwa memang dari sejak awal orang itu sebenarnya tidak diberi iman karena ia bukan orang pilihan.

Karena iman itu adalah pemberian Allah maka adalah tanggung jawab Allah untuk memberikan iman yang kuat, dan kalau ternyata iman seseorang tidak kuat, tentu itu adalah karena Allah telah memberikan iman yang mutunya rendah. Jadi bisa disimpulkan bahwa jika di gereja Reform atau Presbyterian ada anggota-anggota jemaat dengan kondisi keteguhan iman yang bervariasi, itu karena Allah memberikan jenis keteguhan iman yang bervariasi. Pada prinsipnya dapat disimpulkan bahwa Gembala Jemaat tidak perlu mengadakan berbagai usaha pemupukan iman karena menurut mereka iman seseorang sepenuhnya adalah tanggung jawab Allah. Karena Allah yang bertanggung jawab, maka mereka simpulkan bahwa iman seorang yang telah diplih Allah tidak mungkin bisa gagal, bahkan tidak mungkin bisa mundur, karena kalau mereka sampai mundur maka ia bukan orang pilihan, atau Allah gagal menjaga iman orang itu. Tentu mereka akan memilih yang pertama daripada menuduh Allah gagal.

Itu adalah jalan nalar Calvinisme, sekalipun kadang mereka menyangkalnya. Mereka membuat pernyataan, dan kemudian dari pernyataan mereka kita menarik kesimpulan yang logis, sehingga mereka terpojok, dan kemudian mereka menyangkal kesimpulan itu. Tetapi sesungguhnya apa kata Alkitab? Alkitab berkata bahwa iamn timbul dari pendengaran dan pendengaran oleh firman Kristus (Rm 10:17). Bahkan sebelumnya, yaitu pada ayat 9 hingga 15, Paulus berargumentasi,

Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan. Karena Kitab Suci berkata: “Barangsiapa yang percaya kepada Dia, tidak akan dipermalukan.” Sebab tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan orang Yunani. Karena, Allah yang satu itu adalah Tuhan dari semua orang, kaya bagi semua orang yang berseru kepada-Nya. Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan. Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya? Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis: “Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!”

Jelas sekali bahwa iman timbul dari mendengarkan pemberitaan Injil. Kalimat “Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia” adalah sebuah statemen bahwa manusia tidak bisa percaya kepada sesuatu yang tidak pernah didengarnya.

Kalau iman timbul dari pendengaran akan firman Kristus, dan iman itu kemudian perlu dipelihara (II Tim 4:7), dan iman itu harus bertumbuh (Ef 4:11-15) maka valid sekali untuk menyimpulkan bahwa ada aspek tanggung jawab manusia untuk tetap beriman setelah yang bersangkutan diselamatkan. Orang yang telah diselamatkan harus bertekun di dalam iman (Kis 14:22, Kol 1:23, I Tim 2:15). Tidak dibenarkan bagi orang yang telah diselamatkan untuk melepas tanggung jawab tetap setia sampai mati (Why 2;10). Bahkan Ibr 3:14 mengatakan bahwa yang bersangkutan harus memegang teguh Injil.

Ibrani 3:14 Karena kita telah beroleh bagian di dalam Kristus, asal saja kita teguh berpegang sampai kepada akhirnya pada keyakinan iman kita yang semula

Apakah berpegang sampai kepada akhirnya pada keyakinan iman kita bisa dikategorikan upaya manusia untuk keselamatannya? Tentu saja tidak! Karena yang dimaksudkan bukan kita memegang buku atau kitab Injil yang terbuat dari kertas. Maksud ‘berpegang’ itu tentu bukan dengan tangan, melainkan dengan hati dan pikiran yang arti keseluruhannya ialah tetap percaya. Hal yang hamper sama diungkapkan dalam I Kor 15:2,

Oleh Injil itu kamu diselamatkan, asal kamu teguh berpegang padanya, seperti yang telah kuberitakan kepadamu — kecuali kalau kamu telah sia-sia saja menjadi percaya.

Nasehat ini jelas kepada orang yang telah diselamatkan, bahwa mereka sekalipun telah diselamatkan mereka perlu berpegang teguh pada Injil. Sekali lagi bukan memegang dengan jasmani melainkan tidak berubah keyakinan. Bahkan ada kalangan Baptis yang one-point Calvinist salah mengerti sehingga mereka menuduh pihak yang menekankan tanggung jawab manusia sebagai menekankan keselamatan oleh usaha manusia. Tetap pada keyakinan semula itu bukan usaha, melainkan sikap. Namun toh apapun juga, itulah yang diperintahkan firman Tuhan.

Benarlah perkataan ini: “Jika kita mati dengan Dia, kita pun akan hidup dengan Dia; jika kita bertekun, kita pun akan ikut memerintah dengan Dia; jika kita menyangkal Dia, Dia pun akan menyangkal kita; jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya. (II Tim 2:11-13)

Perhatikan bunyi ayat terkutip di atas, “jika kita menyangkal Dia, Dia pun akan menyangkal kita.” Bisakah orang yang telah diselamatkan menyangkal Tuhan? Apakah orang yang telah diselamatkan kehilangan kesadaran diri dan kebebasan untuk memilih? Apakah orang yang telah diselamatkan berubah menjadi robot? Lalu ada yang menjawab, bukankah “jika kita tidak setia, Dia tetap setia?” Betul sekali! Tetapi tidak dikatakan bahwa ia setia kepada orang yang tidak setia, melainkan Ia tetap Allah yang setia. Sekalipun Lucifer tidak setia, Ia tetap Allah yang setia. Mengapa? Karena Ia tidak dapat menyangkal dirinya. Menyangkal adalah sikap, sedangkan setia adalah sifat. Sifat Allah tidak pernah berubah sekalipun langit dan bumi berubah. Ia adalah Allah yang setia. Ia setia kepada firmanNya, setia kepada janjiNya. Ia tidak pernah berjanji untuk tetap menyelamatkan orang yang menyangkaliNya. Ia hanya berjanji akan menyelamatkan orang yang setia kepadaNya. Untuk itu saya aman jika saya memegang teguh janjiNya. Saya memegang teguh InjilNya. Saya pasti masuk Sorga, bukan karena keyakinan yang belum pasti bahwa saya dipilih melainkan karena saya memegang teguh InjilNya, dan janji setiaNya.***

(dikutip dari buku DOKTRIN KESELAMATAN ALKITABIAH, Dr. Suhento Liauw, Bab 12 halaman 161-192)

(bersambung ke Seri CALVINISME)

APA ITU HYPHER-CALVINISME

For a brief assessment of Reformed theology, see 

Calvin’s Calvinism: The Eternal Predestination of God and The Secret Providence of God oleh John Calvin

The Dangers of Reformed Theology (Middletown: The Middletown Bible Church, n.d.), by George W. Zeller,

For a major critique, see 

A Cultish Side of Calvinism oleh Micah Coate

Are Baptists Reformed? by Good,
Are Baptists Reformed? by Laurence A. Justice

A Biblical-Theological Critique of Five Point Calvinism WHOSOEVER WILL, edited by David L. Allen and Steve W. Lemke, Reflection from John 3:16 Conference

Against Calvinism oleh Roger L. Olson

Anti Calvinism (1881) oleh August Pfeiffer dan Edward Pfeiffer

Anti Calvinists The Rise of English Arminianism oleh Nicholas Tyacke

A Review of James R. White’s The Potter’s Freedom, by Laurence M. Vance

CALVINISM CRITIQUED by A Former Calvinist, by Steve Jones

CALVINISM Student’s Edition, Kevin Hall, Summer 2004

Children of WRATH: New School Calvinism and Antebellum Reform oleh Leo P. Hirrel

Chosen but Free, by Norman L. Geisler.

Classical Arminianism: A Theology of Salvation oleh F. Leroy Forlines

Comparing Grace With Calvinism

DEBATING CALVINISM (5 Points, 2 Views)- by DAVE HUNT&JAMES WHITE

For Calvinism oleh Michael Horton

Grace, Faith, Free Will: Contrasting View of Salvation Calvinism and Arminianism oleh Robert E. Picirilli

Objections to CALVINISM by Randolph S. Foster (1820-1903)

PERBEDAAN KALVINIS DENGAN NON KALVINIS by Dr.Steven Einstain Liauw

Predestined for Free Will, by David Bennett

Salvation and Sovereignty: A Molinist Approach oleh Kenneth Keathley

The Deadly Flower TULIP by Dr. Gregory O. Baker,

The NEW Calvinism Considered oleh Jeremy Walker

The First 2000 Years of BAPTIST History: Why You Should Be a Bible-Believing Baptist oleh Terry Lee Hamilton

The History and Character of Calvinism oleh John T. McNeill

The Other Side of Calvinism, Laurence M. Vance, Pensacola: Vance Publications, 2002

The Potter’s Promise: A Commentary of Romans 9 oleh Prof. Leighton Flowers

The Calvinism Debate, Dr. David Cloud

The Wilted TULIP oleh Jerald L. Manley

What Love Is This? Calvinism’s Misrepresentation of God, Dave Hunt, Sisters: Loyal Publishing, Inc., 2002

(istri Dave Hunt mengusulkan judul What Love Is This? Sedangkan tadinya Dave Hunt berpikir untuk memberi judul Calvinism’s Misrepresentation of God)

Whats Wrong with Five-Point Calvinism, Paul L. Freeman,

Why I Disagree With All Five Points of Calvinism, Dr. Curtis Hutson

for a comprehensive analysis of Covenant theology, see 

Renald E. Showers, There Really is a Difference (Bellmawr: The Friends of Israel Gospel Ministry, 1990).

AMSAL 23:23 Belilah kebenaran dan jangan menjualnya; demikian juga dengan hikmat, didikan dan pengertian.

www.wayoflife.org   (Ribuan Artikel) dikelola DR. David Cloud

www.graphe-ministry.org (Website GBIA GRAPHE, bisa download JURNAL TEOLOGI BULETIN PEDANG ROH terbaru, dikelola oleh Gembala GBIA Graphe Suhento Liauw, D.R.E., Th.D dan putra beliau, DR. Steven Einstain Liauw, D.R.E. (Dekan Akademik Graphe International Theological Seminary = GITS atau STT Graphe, satu-satunya STT Fundamental dan paling Alkitabiah yang saya tahu hingga saat ini), pembicara seminar spesialisasi DOKTRIN, anda bisa membeli dan mempelajari buku-buku beliau dari web atau langsung datang ke gereja GBIA dan TB GRAPHE di Sunter Podomoro, JAKUT atau memesan via website, berikan juga komentar anda di Buku Tamu/Guest Book di website)

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: