Beranda > RENUNGAN > Kontribusi Comenius bagi Pendidikan Sepanjang Hayat

Kontribusi Comenius bagi Pendidikan Sepanjang Hayat


Volume 12 Nomor 1 April 2013, halaman 25-38

Kontribusi Comenius bagi Pendidikan Sepanjang Hayat

Introduksi

Manakala berbicara tentang konsep pendidikan sepanjang hayat, para sarjana tak akan pernah mengabaikan dua tokoh kenamaan. Mereka adalah A. B. Yeaxlee (1883–1967) dan Paul Lengrand (1910–2003).[Bogdan Suchodolski “Lifelong Education: Some Philisophycal Aspects,” Foundations of Lifelong Education, R. H. Dave, ed. (Exford: UNESCO Institute for Education) 57-65.] Pada abad XX, Yeaxlee memaparkan bahwa Inggris perlu menyelenggarakan pendidikan sepanjang hayat.[A. B. Yeazlee, Lifelong Education: A Sketch of the Range and Significance of the Adult Education. (London: Cassell, 1929).] Belakangan hari, pada tahun 1975, Lengrand melalui organ PBB bernama UNESCO mempopulerkan konsep pendidikan sepanjang hayat.[Paul Lengrand, An Introduction to Lifelong Education (Paris: UNESCO, 1975).] Pada kenyataannya, masih terdapat seorang tokoh lain yang telah lebih awal meletakkan dasar bagi konsep pendidikan sepanjang hayat. Beliau adalah John Amos Comenius (1592–1670). Hanya saja, dia tidak memakai secara harfiah terminologi pendidikan sepanjang hayat ini.

Pada mulanya, Comenius lewat magnum opus-nya Great Didactic memperkenalkan sistem empat macam sekolah. Belakangan hari, pada usia senjanya, beliau lewat karya berjudul Pampaedia mengajukan sistem pendidikan delapan macam sekolah. Kedua konsep sistem sekolah ini sama sekali tidaklah bertentangan. Sejalan dengan cara berpikirnya yang terus berkembang dan pengetahuannya yang semakin luas, Comenius menambahkan empat macam sekolah lain kepada konsep awalnya yang hanya terdiri dari empat macam sekolah, sehingga melahirkan sebuah sistem persekolahan yang lengkap, sistem delapan sekolah.

Melalui tulisan ini, penulis hendak mengeksplorasi konsep Comenius mengenai pendidikan sepanjang hayat. Selain memaparkan pemikiran Comenius tentang pendidikan sepanjang hayat ini, kita juga hendak mengaplikasikan konsep itu di dalam dunia pendidikan kita dewasa ini. Dengan demikian, diharapkan kita dapat menggali keluar sejumlah sumbangsih yang berharga dari konsep Comenius tentang pendidikan sepanjang hayat bagi dunia modern sekarang.

I. Sekolah Kelahiran
Apa yang dinamakan sebagai Sekolah Kelahiran adalah mengajarkan pengetahuan yang cukup kepada calon ayah dan ibu tentang perihal merawat janin di dalam kandungan.[ John Amos Comenius, Comenius’s Pampaedia or Universal Education, A. M. O. Dobbie, trans. (Dover: Buckland, 1986) 102.] Comenius menegaskan bahwa janin adalah seorang calon anggota umat manusia di kemudian hari. Beliau membagi Sekolah Kelahiran atas tiga kelas. Kelas pertama, pemuda-pemudi yang telah dewasa, berbadan sehat, memiliki pekerjaan sehingga mampu membiaya kebutuhan hidup barulah dapat berumah tangga. Kelas kedua, suami-istri yang berbadan sehat barulah siap untuk mengandung. Kelas ketiga, pada masa kehamilan, harus dapat merawat dan menjaga diri dengan baik karena luka-luka baik secara fisiologis maupun psikologis dapat mempengaruhi kesehatan janin di dalam rahim.[     Comenius’s Pampaedia, 104-105.] Comenius hendak mencegah kemungkinan kelahiran anak yang diakibatkan dari hubungan seks di luar ikatan pernikahan. Baginya, hanya ayah dan ibu yang baiklah yang dapat melahirkan anak-anak yang baik. Sekolah Kelahiran hendaklah diberikan kepada pemuda-pemudi sejak masa pacaran, sebelum mereka memasuki pernikahan.

Konsep Sekolah Kelahiran dari Comenius memberikan inspirasi kepada umat manusia. Masyarakat perlu membimbing pemuda-pemudi agar memperlengkapi diri untuk memasuki pernikahan dan melahirkan putra-putri. Masyarakat masa kini dapat mendesain umpamanya kelas bimbingan pernikahan ataupun kelompok penuntun pernikahan. Hal ini bukan hanya menjadikan pemuda-pemudi mengerti bagaimana mempersiapkan diri untuk membentuk sebuah keluarga baru, melainkan juga memahami bagaimana seharusnya menyambut kelahiran bayi-bayi. Untuk itu, baik kelas bimbingan pernikahan maupun kelompok penuntun pernikahan perlu didesain sebelum pemuda-pemudi melangsungkan upacara pernikahan. Pernikahan yang bahagia merupakan salah satu faktor bagi kerukunan masyarakat.

II. Sekolah Kanak-Kanak
Sekolah Kanak-Kanak menunjuk kepada sekolah yang mengajarkan pengetahuan bagaimana merawat anak sejak dilahirkan hingga mencapai usia enam tahun. Menurut paparan Comenius sendiri, Sekolah Kanak-Kanak dapat dibagi ke dalam enam kelas.[    Ibid., 115; Renlei Gaijin Tonglun – Fanjiaolun, 340.] Kelas pertama, kelahiran hingga sebulan setengah. Kelas kedua, satu tahun enam bulan masa pemberian air susu ibu. Kelas ketiga, meraban dan berjalan. Kelas keempat, berbicara, emosi dan perasaan. Kelas kelima, moralitas dan kejujuran. Kelas keenam, tahap awal perawatan dan tahap awal membaca. Di dalam dua bukunya Pampaedia dan Great Didactic, Comenius menyediakan satu bab khusus untuk menjelaskan hal ini (lihat di dalam Pampaedia bab IX dan Great Didactic bab XXVIII). Selain itu, di dalam bukunya yang lebih awal, Mother School, dia telah memaparkan secara detail, jelas dan panjang lebar tentang topik Sekolah Kanak-Kanak ini. Sekolah Kanak-Kanak tidak lain ialah sekolah didikan ibu. Secara konkret, ia adalah pendidikan didikan ibu. Comenius menyerahkan Sekolah Kanak-Kanak kepada ibu kandung sebagai gurunya. Meskipun demikian, ini tidak berarti seorang ayah sama sekali lepas tangan. Bahkan bagi keluarga yang berada sekalipun, yang berkecupan untuk mengupah para suster, ayah dan terutama ibu tetaplah harus merawat sendiri darah dagingnya sendiri.[     Renlei Gaijin Tonglun – Fanjiaolun, 340.]

Konsep Sekolah Kanak-Kanak ala Comenius mengajak orang-orang di abad XXI untuk merenungkan kembali pendidikan kanak-kanak kita hari ini. Masyarakat modern dewasa ini patut berpikir ulang tentang berbagai model pendidikan kanak-kanak yang ada sekarang, khususnya Kelompok Bermain dan Taman Kanak-Kanak. Hal yang membuat orang tua pusing kepala ialah biaya pendidikan buat kanak-kanak semakin hari semakin mahal, ada yang hingga di atas satu juta sebulannya. Konon kabarnya, mereka memakai pendidikan dwibahasa atau bahasa asing. Terhadap model taman kanak-kanak ini para orang tua hendaklah mengajukan satu tanda tanya besar. Perlukah itu? Berbagai badan pendidikan kanak-kanak boleh saja menawarkan layanan pendidikan bagi kanak-kanak. Para suster boleh saja merawat kanak-kanak. Kakek-nenek dari kedua belah pihak pun bisa berbuat demikian. Akan tetapi ayah ibu kandung, terutama ibu, sama sekali tidaklah boleh mengabaikan tanggung jawab ini. Pada kenyataannya, lembaga pendidikan kanak-kanak yang terbaik pun tidaklah boleh menggantikan peran ayah dan ibu kandung. Orang tua yang sibuk sekalipun, terutama ibu, harus belajar untuk menyediakan waktu yang cukup yang menemani kanak-kanaknya. Bukan hanya sekedar menemani, dia harus memberikan pendidikan kepada kanak-kanaknya.

III. Sekolah Anak-Anak
Yang dinamakan Sekolah Anak-Anak menunjuk pada sekolah yang memberikan pendidkan kepada anak-anak dari usia tujuh hingga dua belas tahun. Di dalam Great Didactic, Comenius menamakan sekolah ini sebagai sekolah bahasa nasional.[     Kuameiniusi, Dajiaoxuelun (Beijing: Jiaoyu kexue, 1999) 213.] Di setiap desa, negara harus mendirikan sekolah bahasa nasional ini. Oleh karena dinamakan sebagai sekolah bahasa nasional maka bahasa nasional harus dipelajari dengan sebaik-baiknya, hingga anak-anak mencapai level menguasai dengan lancar bahasa negaranya sendiri. Comenius menekankan secara tegas: “To attempt to teach a foreign language before the mother-language has been learned is as irrational as to teach a boy to ride before he can walk.”[     J. Amos Comenius, The Great Didactic, M. W. Keatinge, trans. (New York: Rusell & Rusell, 1967) 267; Ibid., 214.] Beliau membagi Sekolah Anak-Anak atas enam kelas.[     Comenius’s Pampaedia, 128.] Kelas pertama, belajar alpabet dan berhitung, fonetik dan kosakata. Kelas kedua, dunia kognitif. Kelas ketiga, belajar pengalaman persepsi dan analisis natur manusia. Kelas keempat, dunia alam semesta. Kelas kelima, analisis kejiwaan. Kelas keenam, belajar persoalan anak-anak. Comenius berpendapat bahwa Sekolah Anak-Anak harus membimbing anak-anak belajar bahasa nasioanl, pengetahuan dasar dan moralitas.

Konsep Sekolah Anak-Anak dari Comenius sejajar dengan sistem SD enam tahun masa kini (level pendidikan dasar). Jelas bahwa Comenius tidak memperboleh orang-orang mengajari anak-anak bahasa asing mana pun. Pada periode sekolah dasar, anak-anak harus diajari bahasa nasional sebagai bahasa ibu. Hal ini bukan hanya mengindikasikan perasaan nasionalisme, yang lebih penting ialah mengajari bahasa nasional sebagai satu alat yang memang diperlukan, guna mempersiapkan anak-anak pada tahap sekolah berikutnya untuk belajar bahasa asing. Selain itu, anak-anak juga perlu belajar pengetahuan-pengetahuan dasar dan moralitas. Hal ini memberikan kepada anak-anak fondasi yang kokoh agar dapat terus bertumbuh secara sehat.

IV. Sekolah Remaja
Yang dinamakan sebagai Sekolah Remaja menunjuk kepada sekolah yang memberikan pendidikan kepada anak-anak dalam usia tiga belas hingga delapan belas tahun. Comenius juga menyebut sekolah Remaja sebagai sekolah bahasa Latin (Gymnasium[     The Great Didactic, 256.]), yaitu sekolah peramasastra. Menurutnya, negara perlu mendirikan sekolah bahasa Latin di setiap kota.[     Dajiaoxuelun, 204, 220.] Hal ini berkaitan erat dengan sejarah Eropa sejak Abad Pertengahan yang amat mementingkan bahasa Latin. Sebagai lingua franca pada masa itu di belahan dunia Eropa, bagi Comenius, para remaja harus dapat menguasai dengan baik bahasa Latin. Di luar bahasa Latin, tentu bahasa ibunya sendiri juga, para remaja masih perlu belajar dua bahasa lainnya: bahasa Yunani dan bahasa Ibrani.[     Ibid..] Mengutip kalimat Comenius, para remaja harus “Grammarians, who are well versed in Latin and in their mother-tongue, and have a sufficience acquaintance with Greek and Hebrew.”[     The Great Didactic, 274; Ibid..] Beliau membagi Sekolah Remaja atas enam kelas.[     Dajiaoxuelun, 221; Comenius’s Pampaedia, 146.] Kelas pertama, kelas peramasastra. Kelas kedua, kelas filsafat alam. Kelas ketiga, kelas matematika. Kelas keempat, kelas etika. Kelas kelima, kelas seni dialektik. Kelas keenam, kelas retorika. Sesudah seorang remaja tamat dari sekolah bahsa Latin, dia bukan hanya menguasai dengan baik bahasa Latin, terbiasa dengan bahasa Yunani dan bahasa Ibrani, melainkan juga menguasai seven liberal arts. Kita harus menyadari bahwa bahasa ialah “kunci dari segala ilmu pengetahuan.”[     Dajiaoxuelun, 221.]

Sekolah Remaja ataupun sekolah bahasa Latin pada masa itu setara dengan SMP dan SMU pada masa kini, yaitu level pendidikan menengah. Konsep Sekolah Remaja dari Comenius mengajak kita untuk berpikir kembali tentang SMP dan SMU kita dewasa ini. Pada waktu yang sama, ia memberikan inspirasi kepada kita untuk meningkatkan level pendidikan menengah kita: bagaimana menjadikan para remaja lulusan SMU agar mampu menguasai dengan lancar bahasa pergaulan internasional zaman ini – bahasa Inggris. Hal ini memberikan tantangan kepada sekolah SMP dan SMU dari negara-negara yang berbahasa non-Inggris. Kita harus telah mempersiapkan remaja untuk menguasai bahasa asing dengan baik sebelum dia memasuki jenjang perguruan tinggi. Dengan demikian, selain menguasai dengan baik bahasa nasional negaranya sendiri, para remaja juga menguasai dengan baik bahasa asing. Hal ini tentu akan berguna bagi mereka ketika mempelajari berbagai sumber bibliografi. Tak perlu diragukan, hal ini akan menolong mereka tatkala menulis berbagai karya ilmiah, artikel dan skripsi.

V. Sekolah Pemuda
Yang dinamakan Sekolah Pemuda ialah sekolah yang memberikan pendidikan yang diperlukan kepada para pemuda dalam usia sembilan belas hingga 24 tahun. Comenius juga menyebut Sekolah Pemuda sebagai academy,[     Dajiaoxuelun, 204, 220.] yakni setara dengan institut atau sekolah tinggi atau universitas pada masa kini. Menurut Comenius, Sekolah Pemuda atau academy perlu didirikan di setiap (ibu kota) kerajaan ataupun di setiap propinsi. Di dalam Great Didactic, beliau menegaskan bahwa tidak setiap remaja yang telah tamat dari sekolah bahasa Latin layak untuk melanjutkan studi ke academy.[     Ibid..] Permasalahannya bukanlah terletak pada keluarganya mampu atau tidak, melainkan
Care should be taken to admit to the university only those who are deligent and of good moral character. False students, who waste their patrimony and their time in ease and luxury and thus set a bad example to others, should not be tolerated.[     Ibid., 227; The Great Didactic, 283.]

Guna mencapai tujuan di atas,
A public examination, therefore, should be held for the students who leave the Latin-School, and from its results the masters may decide which of them should be sent to the University, and which should enter on the other occupation of life.[     Dajiaoxuelun, 227.]

Academy atau universitas pada masa itu hanya memiliki empat jurusan: kedokteran, hukum, teologia dan sastra, di mana masing-masing akan mempersiapkan dokter, ahli hukum, rohaniwan dan guru serta dosen.

Jelaslah bahwa bagi Comenius ujian saringan masuk perguruan tinggi tetaplah dibutuhkan, bahkan bukan hanya bagi mereka yang hendak mendaftar ke perguruan tinggi negeri saja. Mengenai konsep universalisasi pendidikan tinggi, dia tidak menyetujuinya. Sebagian remaja, setamat dari SMU patut langsung terjun ke dunia kerja di berbagai bidang di mana hal ini akan bisa membawa sukses dan bahagia bagi mereka di kemudian hari. Sebagian dari mereka yang memang berkompeten untuk melanjutkan ke universitas, di kemudian hari akan memikul tanggung jawab yang lebih besar sebagai para pemimpin di berbagai negara dan di tengah masyarakat. Tak perlu dibantah bahwa tugas tanggung jawab ini tidaklah ringan. Bukan semua orang mampu menunaikan tanggung jawab ini. Apabila kita memperhatikan dengan seksama peringatan Comenius ini, maka kita dapat mencegah munculnya pejabat-pejabat korup di tengah-tengah pemerintahan. Pada waktu yang sama, kita juga dapat mencegah fenomena para lulusan sarjana yang kesulitan mencari lapangan pekerjaan.

VI. Sekolah Orang Dewasa
Pada level ini Comenius tidak lagi menentukan dan membatasi usia. Meskipun demikian, jelas bahwa Sekolah Orang Dewasa yang dimaksud ialah bagi mereka yang telah lulus dari universitas ataupun bagi mereka yang telah lulus dari sekolah bahasa Latin dan telah berkecimpung di dalam dunia kerja. Dengan kata lain, Sekolah Orang Dewasa diperuntukan bagi mereka yang berusia 24 tahun ke atas ataupun di atas 19 tahun. Beliau membagi sekolah ini atas tiga kelas yang berbeda.[     Comenius’s Pampaedia, 173; Renlei Gaijin Tonglun – Fanjiaolun, 342.] Kelas pertama, memilih dan memulai karir sendiri. Kelas kedua, meneruskan karirnya sendiri. Kelas ketiga, bersiap untuk menyelesaikan dan mengakhiri karirnya. Melalui Sekolah Orang Dewasa ini, Comenius berharap setiap orang dapat mempelajari konsep-konsep tentang keberhasilan karir dan hidup yang bahagia.

Secara umum, seorang lulusan sarjana, master maupun doktoral telah/akan memasuki dunia kerja. Setiap hari mereka akan sibuk dengan mengejar cita-citanya. Setelah itu mereka akan membentuk rumah tangga dan keluarga. Dalam kondisi demikian, pada umumnya mereka tidak lagi belajar untuk mendidik diri sendiri, selain dari pengetahuan-pengetahuan yang berkaitan langsung dengan karir dan pekerjaannya sendiri. Melalui Sekolah Orang Dewasa ini, Comenius menyadarkan kita untuk terus belajar memperlengkapi diri, mengembangkan kemampuan diri. Masyarakat modern kita dewasa ini menyediakan beraneka ragam fasilitas. Sebut saja misalnya buku, majalah, koran, radio, televisi, ceramah, pelatihan, dan dunia informasi internet. Hari ini kita memiliki fasilitas-fasilitas yang sangat memadai untuk merealisasikan apa yang oleh Comenius disebut sebagai Sekolah Orang Dewasa.

VII. Sekolah Orang Tua
Yang dinamakan Sekolah Orang Tua menunjuk kepada pendidikan yang diterima seseorang setelah dia pensiun dari kerja. Jelaslah hal ini mengandung pengertian bahwa orang pada usia tua pun masih memerlukan pendidikan. Comenius membagi Sekolah Orang Tua atas tiga kelas.[     Comenius’s Pampaedia, 182; Renlei Gaijin Tonglun – Fanjiaolun, 343.] Kelas pertama, memeriksa kembali jalan hidup yang telah dilaluinya sendiri. Kelas kedua, memanfaat waktu yang masih ada untuk menuntaskan apa yang masih belum dikerjakan. Kelas ketiga, bagi yang telah berusia amat lanjut, dengan sabar menantikan kematian tiba. Mengutip langsung kalimat comenius sendiri: “Pada usia ini sudah sepatutnya, bahkan seharusnyalah memikirkan persoalan ini [kematian]. Karena pada tahap usia sebelumnya, manusia mungkin saja mati, dan sekarang, mereka tidak bisa tidak mati.”[     Renlei Gaijin Tonglun – Fanjiaolun, 343; Comenius’s Pampaedia, 182.]

Konsep Sekolah Orang Tua dari Comenius ini memberikan inspirasi bagi kita bahwa rupa-rupanya orang tua pun masih membutuhkan pendidikan. Sekolah Orang Tua bisa membuat orang lanjut usia untuk merenungkan kembali jalan hidup yang telah dilaluinya di dunia ini. Apabila mendapati masih terdapat “hutang-hutang yang belum dilunasi” maka harus segera memanfaatkan waktu yang masih tersisa untuk segera “melunasinya.” Dengan demikian, orang-orang dapat melewati hari tuanya dengan tenang dan damai. Setiap orang pastilah hendak menyelesaikan apa yang patut dikerjakannya di dunia ini. Hidup tidak sia-sia, mati tidak menyesal! Bukan hanya itu, dia dapat mewariskan suri teladan bagi anak-cucunya dan orang-orang sesudahnya.

VIII. Sekolah Kematian
Mengenai Sekolah Kematian, Comenius menjelaskannya secara pendek saja. Hal ini dikarenakan dia telah memaparkan tema tersebut secara panjang lebar di dalam bab tentang Sekolah Orang Tua. Akan tetapi, menurutnya, dia masih perlu secara khusus menuliskan bab ini (perhatikanlah di dalam Comenius’s Pampaedia bab XV!). Mengapa demikian? Apa yang dinamakan sebagai Sekolah Kematian bukanlah hanya tertuju bagi mereka yang telah lanjut usia, melainkan terutama adalah bagi setiap orang di segala usia. Hal ini disebabkan di setiap waktu dan di setiap tempat, kematian bisa datang menjemput setiap orang. Setiap orang harus mempersiapkan diri dengan baik untuk menghadapinya. Selain itu, Comenius juga menolak euthanasia, bahkan euthanasia yang ditujukan terhadap orang lanjut usia.[     Comenius’s Pampaedia, 191; Renlei Gaijin Tonglun – Fanjiaolun, 343.]

Di segala usia orang-orang patut merenungkan hidupnya sendiri, terutama bagi mereka yang telah dewasa. Comenius berharap, semua orang di bawah kolong langit ini patut mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian. Walaupun tiada orang yang suka menyebut dan mendengarkan kosakata kematian, manusia tidak dapat mengelak dari kematian. Tiada obat hidup abadi! Kebanyakan orang tentu mengharapkan umur panjang. Daripada terus-menerus dihantui oleh kematian, lebih baik mempersiapkan diri secara wajar untuk menghadapinya.

Penutup
Di dalam sistem pendidikan delapan sekolah dari Comenius, dua yang awal dapat disebut sebagai private school ataupun pendidikan rumah tangga. Tiga macam sekolah berikutnya dapat disebut sebagai public school, yakni pendidikan sekolah yang standar dalam arti yang harfiah, bahkan membutuhkan guru-murid, gedung sekolah, ruangan kelas dan buku-buku yang baik. Tiga macam sekolah yang terakhir dapat disebut sebagai personal school.[     John Amos Comenius, John Amos Comenius on Education (New York: Teacher College, 1967) 188; Renlei Gaijin Tonglun, 332.] Pada dasarnya, tiga macam sekolah yang terakhir dapat diwujudkan di dalam bentuk autodidak. Tiga macam sekolah yang disebutkan di bagian pertengahan membutuhkan suatu bentuk organisasi sekolah yang real. Dua macam yang awal dan tiga macam yang terakhir tidaklah mutlak harus memiliki bentuk organisasi sekolah.

Tiga macam sekolah di bagian tengah tersebut perlu dijelaskan lebih jauh. Jelas bahwa bagi Comenius, taraf pendidikan dasar (SD) dan taraf pendidikan menengah (SMP dan SMU) merupakan bagian dari program wajib belajar bagi semua orang. Sementara taraf pendidikan tinggi (institut, sekolah tinggi, universitas dan sejenisnya) bukanlah bagian dari program wajib belajar, apalagi bila dijadikan sebagai sesuatu yang universal. Bagi Comenius, apabila seseorang telah menamatkan pendidikan menengah, dia telah memiliki perlengkapan pengetahuan yang memadai untuk menunaikan berbagai macam bidang pekerjaan. Akan tetapi, memang harus diakui ada sebagian pekerjaan yang hanya bisa dilakukan oleh mereka yang telah mengenyam pendidikan tinggi. Ambil contoh misalnya: dokter, ahli hukum, negarawan, rohaniwan, guru dan dosen.

Comenius telah mewariskan satu set sistem pendidikan sepanjang hayat yang lengkap bagi umat manusia. Tambahan pula, satu set pendidikan sepanjang hayat ini amat selaras baik dengan psikologi pendidikan maupun psikologi perkembangan. Cita-cita beliau seumur hidup ialah mengajarkan segala sesuatu pengetahuan yang memang dibutuhkan manusia kepada setiap orang. Pandangan ini membuktikan kontribusinya yang berharga bagi pendidikan sepanjang hayat.

Manakala sekarang berbagai negara berdasarkan latar belakang masing-masing sedang giat menyusun sebuah sistem pendidikan sepanjang hayat, adalah perlu bahkan patut untuk mempertimbangkan apa yang telah dikemukankan oleh Comenius 300 tahun yang silam. Terutama ialah fondasi-fondasi yang mendasarinya tetaplah tak akan usang dengan berjalannya waktu. Comenius berharap setiap orang pada segala abad dan di setiap tempat dapat memperlakukan hidupnya masing-masing secara serius. Dengan demikian, manusia di dalam setiap periode perkembangan usianya bisa menjalani suatu kehidupan yang bahagia.

Sumber Kepustakaan:
Boyide, Weilian & Jinhe, Aidemeng, pen., Ren Baoyang & Wu Yuanxun, penerj. Sifang Jiaoyu Shi. Beijing: Renmin Jiaoyu, 1985.
Comenius, John Amos. Comenius’s Pampaedia or Universal Education, A. M. O. Dobbie, trans. Dover: Buckland, 1986.
________. John Amos Comenius on Education. New York: Teacher College, 1967.
________. The Great Didactic, M. W. Keatinge, penerj. New York: Rusell & Rusell, 1967.
Dobinson, C.H.ed.. Comenius and the Comtemporary Education. Hamburg: UNESCO Institute for Education, 1970.
Flanagan, Frank M. Greatest Educators Ever. London: Continuum, 2006.
Kelasinuofusiji, A. A., pen., Yang Qishen, penerj.. Kuameniusi de Shengping he Jiaoyu Xueshuo. Beijing: Renmin Jiaoyu, 1957.
Kuameiniusi, pen., Po Rengan, penerj. Dajiaoxuelun. Beijing: Jiaoyu Kexue, 1999.
________, pen., Ren Baoxiang, et. al. penerj. Kuameiniusi Jiaoyu Lunzhuxuan. Beijing: Renmin Jiaoyu, 2005.
________, pen., Wu Shiying, penerj. Renlei Gaijin Tonglun — Fanjiaolun. Beijing: Hubei Jiaoyu, 1994.
Limiti, Giuliana. Chronology of the Life and Works of Jan Amos Comenius.2003.
Matheson, David & Matheson, Catherine.“Lifelong Learning and Life Education: A Critique” Research in Post-Compulsory Education Vol.1 No.1 1996.
Piaget, Jean. “Jon Amos Comenius (1592-1670)” Prospects Vol. XXIII No.1/2. UNESCO, 1993.
Ren Zhongyin, gen. ed.. Shiji Jiaoyu Mingzhu Tonglun. Wuhan: Hubei Jiaoyu, 1994.
________, gen. ed.. Waiguo Jiaoyu Sixiang Tongshi. Wuhan: Hubei Jiaoyu, 2002.
Wang Chuan. Xifang Jingdian Jiaoyu Xueshuo. Chengdu: Sichuan Renmin, 2000.

*** Tjiauw Thuan alias Hali, biasa menggunakan nama pena: Hali Daniel Lie, berasal dari GKPJ Jambi, menyelesaikan S.Th. & M.A. di STT Bandung (1993-1998), melanjutkan M.Th. di SAAT Malang (2000-2002), dosen STTB, kini sedang melanjutkan studi di Nanjing Normal University bidang higher education, telah mempublikasikan berbagai artikel di jurnal Pelita Zaman, jurnal Stulos, jurnal Veritas serta telah mempublikasikan beberapa buku di bidang teologia dan agama-agama.

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: