Beranda > Fakta Unik > Silsilah Marga dan Nama Orang Tionghoa di Tiongkok dan Indonesia

Silsilah Marga dan Nama Orang Tionghoa di Tiongkok dan Indonesia


mARGA Tionghoa

Marga orang Tionghoa muncul pada masa masyarakat matriarkal. Pada masa itu, orang membentuk klan-klan dengan ibu sebagai intinya. Untuk saling membedakan, dipakailah marga untuk sebutan masing-masing klan.

Asal-usul marga, kira-kira ada beberapa macam:

1. Masyarakat matriarkal menggunakan nama ibu sebagai marga. Maka banyak marga kuno memakai nǚ (女, perempuan) sebagai elemen hurufnya. Misalkan: 姜(jiang), 姚(yao), 姬(ji). Bahkan kata “marga”(姓) itu sendiri terdiri dari 女 dan 生.

2. Marga berasal dari binatang yang disembah orang zaman dulu. Misal: 马(ma, kuda), 牛(niu, sapi), 羊(yang, kambing), 龙(long, naga).

3. Marga dari negara leluhur. Misal: 赵(Zhao), 宋(Song), 秦(Qin), 吴(Wu).

4. Marga berasal dari nama gelar leluhur. Misal: 司马(Sima), 司徒(Situ), yang merupakan nama gelar zaman dulu.

5. Marga berasal dari kedudukan leluhur. Misal: 王(pangeran), 侯(marquis).

6. Posisi dan keadaan tempat tinggal sebagai marga. Misal: 东郭(tembok timur), 西门(gerbang barat), 池(kolam), 柳(willow).

7. Pekerjaan sebagai marga. Misal: pembuat tembikar bermarga 陶(tao, tembikar).

8. Menggunakan nama leluhur sebagai marga. Misal: leluhur bangsa Tiongkok, Huangdi, bernama Xuanyuan, maka akhirnya Xuanyuan menjadi sebuah marga.

Marga orang Tionghoa ada yang terdiri dari satu huruf, juga ada yang dua huruf dan lebih dari dua huruf. Ada berapa jumlah marga di Tiongkok, sampai sekarang belum bisa dipastikan. Pada dinasti Song, ada seorang terpelajar menulis sebuah buku “Bai jia xing”, di dalamnya terdaftar 500 lebih marga, 60 di antaranya adalah marga dengan gabungan huruf. Lembaga Riset Genetika dan Perkembangan Biologis di Akademi Sains Tiongkok setelah bertahun-tahun mengumpulkan data dan melakukan riset, akhirnya menemukan bahwa Tiongkok dari zaman kuno hingga zaman sekarang, telah ada lebih dari 22000 marga. Ini adalah catatan penghitungan marga orang Tionghoa dengan jumlah paling banyak. Saat ini, marga yang digunakan oleh orang Tionghoa kira-kira ada 3500. Di antaranya, ada 100 yang sering ditemui, dan tiga marga paling banyak adalah 李(li), 王(wang), 张(zhang). Marga dengan huruf gabungan paling banyak adalah 诸葛(zhuge), 欧阳(ouyang), 司徒(situ), 司马(sima).

Nama orang Tionghoa memiliki tradisi dan karakteristiknya sendiri. Nama lengkap orang Tionghoa selalu terdiri dari marga di depan, nama di belakang. Nama ada yang satu huruf, juga ada yang dua huruf. Orang di dalam suatu keluarga, namanya harus mengikuti urutan senioritas. Orang dengan derajat senioritas sama, sering kali harus menggunakan satu huruf yang sama. Nama orang kuno lebih rumit dari orang modern. Orang yang terpelajar dan berkedudukan, kecuali marga dan nama, ia juga memiliki zi(style name) dan hao(nama alternatif). Misalkan: Sastrawan dinasti Song, Sushi, bermarga Su, bernama Shi. Ia memiliki style name Zizhan, nama alternatif Dongpo. Penyair dinasti Tang, Libai, pada masa kecilnya tinggal di desa Qinglian di Sichuan. Dia memberi nama alternatif pada diri sendiri “Qinglian jushi”.

Nama orang Tionghoa sering memiliki arti tertentu, menunjukkan harapan tertentu. Ada yang namanya mengandung tempat, waktu maupun gejala alam saat orang itu lahir, misal: “Jing”(Beijing), “Chen”(pagi), “Dong”(musim dingin), “Xue”(salju). Ada yang namanya berartikan harapan dan moral tertentu, misal: “Zhong”(kesetiaan), “Yi”(keadilan), “Li”(tata krama), “Xin”(kepercayaan). Ada yang namanya mengandung harapan kesehatan, panjang umur, bahagia, misal: “Jian”(sehat), “Shou”(panjang umur), “Song”(pinus, mewakili panjang umur), “Fu”(bahagia). Nama laki-laki dan perempuan juga tidak sama. Nama laki-laki kebanyakan memiliki arti kekuatan, keberanian dan wibawa, misal: “Hu”(harimau), “Long”(naga), “Xiong”(keagungan), “Wei”(kecemerlangan), “Gang”(keras), “Qiang”(kuat). Nama perempuan kebanyakan memiliki arti kelembutan dan kecantikan, misal: “Feng”(phoenix), “Hua”(bunga), “Yu”(giok), “Cai”(warna), “Juan”(anggun), “Jing”(ketenangan).

Sekarang, orang Tionghoa tidak lagi begitu memperhatikan nama seperti orang kuno. Biasanya hanya ada nama kecil, nama resmi. Nama juga tidak harus mengikuti urutan senioritas lagi.

(Diterjemahkan dari Overseas Chinese Language and Culture Education Online)

Sumber Cerita Motivasi Terupdate


marga_xing_top_100

Marga Tionghoa di Indonesia

Asal usul
Sejarah marga di dalam kebudayaan Tionghoa bermula dari 5.000 sampai 6.000 tahun yang lalu sewaktu masyarakat Tionghoa masih bersifat matrilineal. Pada masa itu, marga diwariskan dari garis ibu, itu yang menyebabkan marga-marga pertama dalam kebudayaan Tionghoa banyak yang mempunyai radikal perempuan.

Dua karakter xing dan shi yang membentuk arti marga sebenarnya berbeda dalam penggunaanya. Seiring bertambah kompleksnya struktur sosial masyarakat Tionghoa, xing merujuk kepada marga dan shi merujuk kepada klan.

Bila xing muncul pada masa 6.000 tahun yang lalu, maka shi baru muncul pada masa pemerintahan Huangdi (bahasa Inggris: Yellow Emperor). Klan (shi) ini sedikit berbeda dengan marga (xing), bertambahnya jumlah penduduk yang memupunyai marga yang sama kemudian menjadikan beberapa keluarga yang sama marga menginginkan adanya pembedaan garis keturunan lagi. Dari sinilah muncul pembedaan klan dalam marga yang sama. Jadi, shi adalah satu marga kecil dalam marga. Dalam satu marga dibagi lagi atas beberapa klan menurut garis keturunan yang berbeda.

Evolusi dan Komposisi Marga
Menurut catatan sejarah, jumlah keseluruhan marga Tionghoa sekitar 12.000 buah marga. Marga dengan karakter tunggal mencapai 5.000 buah, marga ganda mencapai 4.000 buah dan sisanya adalah marga antara 3 karakter sampai 9 karakter.

Namun marga yang masih digunakan sampai sekarang hanya berkisar antara 3.000 lebih marga. Marga tunggal mencapai 2.900 buah sedangkan marga ganda hanya 100 marga. Marga dengan 3 karakter ke atas sangat jarang ditemui. Selain itu banyak pula marga yang telah punah.

Komposisi marga di masyarakat Tionghoa sangat tidak merata. Sekitar 100 marga yang paling banyak diketemukan mencakup 87% dari jumlah seluruh penduduk Tiongkok.

Tingkatan Marga
Di zaman dulu, marga-marga tertentu mempunyai tingkatan lebih tinggi daripada marga-marga lainnya. Pandangan ini terutama muncul dan memasyarakat pada zaman Dinasti Jin dan sesudahnya. Ini dikarenakan sistem Men Di yang serupa dengan sistem kasta di India. Pengelompokan tingkatan marga ini terutama juga dikarenakan oleh sistem feodalisme yang mengakar zaman dulu di Tiongkok. Ini dapat kita lihat di zaman Dinasti Song misalnya, Bai Jia Xing yang dilafalkan pada masa tersebut menempatkan marga Zhao yang merupakan marga kaisar menjadi marga pertama.

Di masa sekarang tidak ada pengelompokan tingkatan marga lagi di dalam kemargaan Tionghoa. Bila beberapa marga didaftarkan maka biasanya diadakan pengurutan sesuai dengan jumlah goresan karakter marga tersebut.

Marga Tionghoa di Suku-suku Minoritas
Marga Tionghoa juga digunakan oleh suku-suku minoritas di Tiongkok dan Taiwan. Ini dikarenakan suku-suku minoritas tadi menerima pengaruh dari kebudayaan Han yang membawa marga. Banyak suku-suku minoritas yang kemudian juga membawa marga Han, dengan karakter Han. Pada mulanya, mereka juga menggunakan marga suku masing-masing dengan mencari nada pelafalan yang lebih kurang sama dengan marga Tionghoa yang umum.

Suku Hui: Marga Ma
Suku Miao: Marga Dao

Nama Tionghoa di Indonesia
Suku Tionghoa-Indonesia sebelum zaman Orde Baru rata-rata masih memiliki nama Tionghoa dengan 3 karakter. Walaupun seseorang Tionghoa di Indonesia tidak mengenal karakter Han, namun biasanya nama Tionghoa di Indonesia tetap diberikan dengan cara romanisasi. Karena mayoritas orang Tionghoa di Indonesia adalah pendatang dari Hokkian, maka nama-nama Tionghoa berdialek Hokkian lebih lazim daripada dialek-dialek lainnya.

Di zaman Orde Baru, di bawah pemerintahan Suharto, warganegara Indonesia keturunan Tionghoa dianjurkan untuk mengindonesiakan nama Tionghoa mereka dalam arti mengambil sebuah nama Indonesia secara resmi. Misalnya Liem Sioe Liong diubah menjadi Soedono Salim. Walaupun demikian, di dalam acara kekeluargaan, nama Tionghoa masih sering digunakan; sedangkan nama Indonesia digunakan untuk keperluan surat-menyurat resmi.

Namun sebenarnya, ini tidak diharuskan karena tidak pernah ditetapkan sebagai undang-undang dan peraturan yang mengikat. Hanya tarik-menarik antara pendukung teori asimilasi dan teori integrasi wajar di kalangan Tionghoa sendiri yang menjadikan anjuran ini dipolitisir sedemikian rupa. Anjuran ganti nama tersebut muncul karena ketegangan hubungan Republik Rakyat Cina dengan Indonesia setelah peristiwa G30S. Tahun 1966, Ketua Lembaga Pembinaan Kesatuan Bangsa (LPKB), Kristoforus Sindhunata menyerukan penggantian nama orang-orang Tionghoa demi pembangunan karakter dan nasionalisme bangsa.

Seruan ini mendapat kecaman dari kalangan orang Tionghoa sendiri dan cemoohan dari kalangan anti-Tionghoa. Yap Thiam Hien secara terbuka menyatakan bahwa nama tidak dapat menjadi ukuran nasionalisme seseorang dan ini juga yang menyebabkan nasionalis terkemuka Indonesia itu tidak mengubah namanya sampai akhir hayatnya. Cemoohan datang dari KAMI dan KAPPI yang pada waktu itu mengumandangkan nada-nada anti-Tionghoa yang menyatakan bahwa ganti nama tidak akan mengganti otak orang Tionghoa serta menyerukan pemulangan seluruh orang Tionghoa berkewarganegaraan RRT di Indonesia ke negara leluhurnya.

Ganti nama ini memang merupakan satu kontroversi karena tidak ada kaitan antara pembangunan karakter dan nasionalisme bangsa dengan nama seseorang, juga karena tidak ada sebuah nama yang merupakan nama Indonesia asli.

Daftar nama marga Tionghoa yang diindonesiakan

marga chinese

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: