Beranda > DOKTRIN GEREJA, Uncategorized > SATU GEREJA UNTUK ORANG KRISTEN SEKOTA?

SATU GEREJA UNTUK ORANG KRISTEN SEKOTA?


Banyak orang, bahkan orang Kristen sendiri, bertanya, mengapakah sampai begitu banyak denominasi gereja? Mengapakah tidak satu saja denominasi gereja? Lihat, agama lain, tidak seperti Kristen yang memiliki ratusan bahkan ribuan denominasi gereja.

Memahami Hakekat Kekristenan
Ketika Allah mendirikan Yudaisme, memang rancangan awalnya adalah ibadah simbolistik ritualistik dan jasmaniah. Sistem ibadah tersebut adalah untuk mengantarkan Sang Juruselamat yang dijanjikan. Semua simbol Sang Juruselamat dimaksudkan untuk mengingatkan manusia pada Sang Juruselamat yang dijanjikan. Semua upacara ritualistik juga bertujuan untuk menggambarkan proses penyelamatan dengan segala makna di baliknya. Penekanannya yang jasmaniah memang untuk dilihat atau diamati agar yang melihat dan mengamati diingatkan pada Sang Juruselamat yang dijanjikan.

Nah, ketika Sang Juruselamat tiba, maka segala bentuk ibadah simbolistik, ritualistik, jasmaniah selesai tugasnya (Luk.16:16). Ibadah para ahli Taurat dan orang Farisi memang dirancang oleh Allah. Tetapi ketika tujuan dari ibadah itu tercapai dan sudah tiba waktunya digantikan dengan sistem ibadah yang baru, maka semua orang, termasuk orang Farisi, harus bergeser ke sistem yang baru. Kalau kemudian manusia tidak mau berubah maka itu adalah tindakan yang salah bahkan pembangkangan (Mat.5:20).
Ketika Yesus Kristus didebat sama perempuan Samaria tentang tempat untuk beribadah (Yoh.4:23), Tuhan menyatakan bahwa manusia kini sedang memasuki sebuah sistem ibadah baru yang tidak menekankan tempat lagi. Jadi, tidak relevan lagi bahwa tempat ibadah itu di atas gunung Gerizim atau di Yerusalem. Karena sistem ibadah baru yang bersifat rohaniah tidak lagi menekankan tempat, melainkan sikap hati. Dan hal yang sangat penting dalam pernyataan Tuhan ialah ibadah telah berubah ke sistem kebenaran. Sistem kebenaran itu artinya memakai akal budi, karena akal budi manusia yang membedakan benar dan salah.

Sistem ibadah yang simbolistik ritualistik dan jasmaniah tidak menuntut pemahaman, pokoknya sembah, hadap ke arah itu satu hari sekian kali. Umat tidak boleh terlalu banyak bertanya, misalnya mengapa harus menghadap ke sana, mengapa tiga kali, kok tidak sekali saja, atau lima kali atau sepuluh kali?

Yesus Kristus mengumumkan bahwa telah tiba sistem ibadah yang menekankan kebenaran, dengan akal budi dan yang memerlukan pemahaman. Menyembah di dalam kebenaran inilah yang membedakan kekristenan dengan semua agama di dunia. Sejak Yesus datang, Ia menghendaki sebuah penyembahan yang disertai pengertian, bukan yang membabi-buta. Tuhan tegaskan, “kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap akal-budimu.”

Dasar Logika Iman
Kekristenan adalah agama logika, penekanannya ialah pemakaian akal budi. Oleh sebab itu dapat dikatakan bahwa manusia yang paling logis di muka bumi ini ialah orang Kristen, karena iman orang Kristen, elemen kehidupan yang terpenting, dibangun di atas landasan logika.

Lalu orang bertanya, mengapakah di zaman PL Allah memerintahkan ibadah simbolisitik, bukan ibadah hakekat seperti kekristenan? Jawabannya, karena pada saat awal perintah ibadah disampaikan, dan pengajaran ibadah diajarkan, semuanya masih bersifat lisan. Ibadah saat itu tujuannya untuk menyimbolkan sesuatu yang akan datang. Kemudian pada zaman Musa perintah ibadah simbolik dituliskan, dan penulisan dilanjutkan pada zaman nabi-nabi.

Dan akhirnya selesailah kitab Perjanjian Lama yang berisikan perintah tata cara ibadah simbolistik ritualistik jasmaniah. Setelah saatnya tepat Allah menepati janjiNya untuk mengirim Juruselamat yang didahului Yohanes Pembaptis. Setelah kedatangan Yesus Kristus, Sang Juruselamat yang dijanjikan, maka ibadah simbolistik ritualistik jasmaniah tidak diperlukan lagi, karena yang disimbolkan dalam upacara ritualistik jasmaniah telah tiba.

Selanjutnya penulis Perjanjian Baru mencatat semua peristiwa penggenapan simbol dan ritual dalam Yesus Kristus, bahkan menjelaskan makna dari seluruh ibadah simbolistik ritualistik Perjanjian Lama ke dalam Yesus Kristus. Tanpa menghubungkan semua catatan tentang simbol dan upacara PL kepada diri Sang Juruselamat, tidak ada orang yang bisa memahami makna isi kitab Perjanjian Lama (II Kor.3:14).

Akhirnya baik kitab Perjanjian Lama, maupun penggenapannya dalam catatan empat Injil, dan terlebih lagi instruksi tentang kehendak Allah di zaman ibadah hakekat dalam surat para Rasul yang keseluruhannya disebut kitab Perjanjian Baru, terselesaikan. Dengan demikian tersedia alat untuk beriman secara logika, yaitu firman tertulis yang terdiri dari kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.
Jadi, kitab Perjanjian Lama dan kitab Perjanjian Baru, adalah dasar iman kekristenan, yaitu iman yang memakai logika. Kitab Perjanjian Lama ditelusuri untuk memahami sejarah penciptaan alam semesta dan terutama tentang kejatuhan manusia ke dalam dosa, serta akibat dari kejatuhan. Dan kitab Perjanjian Baru berisikan penggenapan janji, dan pengajaran tentang sistem ibadah hakekat yang didasarkan pada firman tertulis dan diolah dengan logika.

Setelah kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru selesai maka lengkaplah seluruh instruksi dari Allah kepada manusia. Alkitab yang keseluruhannya 66 kitab adalah satu-satunya firman Allah. Setelah pewahyuan dan penulisan kitab Wahyu selesai, maka Allah tidak menurunkan wahyu tambahan lagi. Oleh sebab itu selanjutnya siapapun berkata bahwa ia mendapatkan wahyu, maka itu mutlak bukan berasal dari Allah yang mewahyukan dan mengilhamkan Alkitab. Dan orang yang akalnya pendek akan langsung berkata, “jangan batasi Allah.” Tentu tidak ada satu orang pun sanggup membatasi Allah. Sesungguhnya iman bahwa Alkitab adalah satu-satunya firman Allah bukan iman yang membatasi Allah, melainkan Allah yang membatasi kita, karena Allah mau kita terhindar dari usaha iblis yang akan menyuguhkan kepada kita berbagai informasi dan cara agar kita tidak hanya percaya kepada Alkitab saja. Sebab ketika seseorang mulai percaya adanya firman Allah di luar Alkitab, maka itu adalah peluang awal bagi iblis untuk menyesatkannya.

Iman Yang Berdasarkan Logika
Sejak ibadah diubah oleh Yesus Kristus dari simbolistik ritualistik jasmaniah menjadi hakekat rohaniah dalam kebenaran, maka iman kekristenan bukan lagi seperti iman berbagai agama yang tidak menuntut umatnya berpikir melainkan hanya mengikuti aturan saja. Orang Kristen harus tahu bahwa ia tidak boleh beriman secara ikut-ikutan melainkan harus mengerti segala sesuatu yang diimaninya. Karena tuntutan untuk mengerti maka orang Kristen harus memakai logika. Dasar logika iman kita telah dibahas di atas, yaitu Alkitab yang bersifat tertulis.
Orang Kristen harus berusaha keras untuk mengerti makna ibadah simbolistik ritualistik jasmaniah Perjanjian Lama, dan perubahannya ke dalam sistem ibadah hakekat rohaniah dalam kebenaran Perjanjian Baru.
Itulah sebabnya di atas saya katakan bahwa kekristenan adalah satu-satunya agama yang pakai logika dan yang paling logis.
Karena tuntutan untuk beriman dengan akal-budi, maka orang Kristen yang serius tidak mungkin beriman secara ikut-ikutan. Dan inilah yang menyebabkan orang Kristen tidak mungkin mengikuti orang yang dinilai secara logika bahwa pengajarannya salah. Karena dasar iman (fondasi) yaitu Alkitab ada di tangan masing-masing jemaat, maka orang Kristen hanya bisa mengikuti pemimpin yang dinilai bahwa pengajarannya benar.

Usaha untuk memaksakan ada satu gereja atau satu merek gereja hanya bisa dilakukan dengan kekuasaan pemerintah atau pelarangan pembacaan Alkitab. Kedua hal itulah yang dilakukan oleh Gereja Roma Katolik sepanjang ribuan tahun. Pemerintah Roma dengan kekuasaannya melakukan penghukuman hingga pembakaran hidup-hidup atas orang yang memiliki dan membaca Alkitab.

Lebih Baik Satu Gereja Atau Banyak Gereja?
Jika pemerintah mengontrol agama/gereja dengan kekuasaan, dan melarang orang awam membaca Alkitab, maka pasti akan hanya ada satu denominasi gereja. Jika hanya ada satu denominasi gereja, seperti di zaman Katolik jaya, maka orang Kristen akan menjadi orang beriman yang tidak memakai logika, sebab orang Kristen awam tidak boleh baca Alkitab dan tidak perlu berpikir. Pada zaman itu segalanya sudah dipikirkan oleh pemimpin dan tinggal disuguhkan untuk ditelan saja, nasib pergi ke Sorga atau Neraka diserahkan kepada pemerintah.
Tetapi jika orang Kristen beriman dengan logika, dan setiap orang bebas membaca Alkitab serta memahaminya bahkan mengajarkannya, maka PASTI muncul berbagai denominasi gereja. Karena pemerintah duniawi tidak boleh mengurus masalah rohani, maka tercipta kondisi kebebasan beriman.

Dalam kondisi kebebasan beriman, dan Alkitab ada di tangan setiap orang, lagi pula kepintaran satu orang dengan yang lain berbeda, maka pasti ada orang yang bisa memahami Alkitab sangat baik dan ada yang sulit untuk memahaminya. Karena ada perbedaan pemahaman maka sudah pasti ada perbedaan pengajaran antara satu orang dengan yang lain. Dan perbedaan-perbedaan inilah yang memunculkan berbagai denominasi gereja.

Di dalam kekristenan, tidak hanya pemimpin saja yang boleh berpikir, melainkan setiap orang harus berpikir, supaya tidak ada satu orang pun yang masuk Neraka karena dia menyerahkan nasibnya kepada orang lain.
Karena kebebasan berpikir dan Alkitab ada di tangan masing-masing maka terjadilah pengelompokan hasil kesimpulan. Nah, hasil kesimpulan kelompok-kelompok itulah yang menyebabkan terbentuknya denomi nasi denominasi gereja. Selanjutnya setiap orang yang mau beriman dipersilakan menilai kesimpulan-kesimpulan yang sudah ada, yaitu denominasi-denominasi berbagai gereja yang sudah eksis.

Gereja Presbyterian dan Reformed mengikuti kesimpulan yang dibuat oleh John Calvin, sedangkan Gereja Pentakosta, Bethel, Sidang Jemaat Allah dan teman-temannya, mengikuti kesimpulan yang dibuat oleh Charles Parham dan William Seymour. Gereja-gereja Baptis menarik garis leluhur rohani mereka dari kaum Anna-Baptis. Bisa saja ada yang menyimpulkan sesuatu yang baru dan kemudian banyak orang berhasil diyakinkan sehingga terbentuklah sebuah denominasi baru.

Jadi, lebih baik satu denominasi gereja dengan tanpa kebebasan berpikir atau lebih baik adanya kebebasan berpikir yang berujung pada munculnya berbagai denominasi gereja? Bagi orang yang malas berpikir, mungkin memilih lebih baik satu saja sekalipun salah dan menuntunnya ke Neraka. Tetapi bagi saya, harga kebebasan itu bahkan lebih mahal dari kepala saya. Saya tidak mau masuk ke Neraka karena mempercayai kesimpulan orang lain secara membabi-buta.

Satu Gereja Untuk Orang Kristen Satu Kota
Umat agama lain yang tidak mengerti tentang kekristenan, dan tidak mengerti tentang makna kebebasan berpikir, mengusulkan supaya di Aceh Singkil berdiri satu gedung gereja
saja dan semua orang Kristen di kota itu cukup bergereja bersama-sama. Mereka tidak mengerti tentang kekristenan sama sekali. Dan celaka sekali kalau tidak ada pemimpin Kristen yang sanggup menjelaskan kepada mereka alasan berdirinya berbagai denominasi gereja.

Orang Kristen dari denominasi Baptis tidak mungkin kebaktian bersama-sama dengan orang Kristen Presbyterian karena yang satunya mau membaptis bayi dan yang satunya berkata bahwa itu sesat. Orang Kristen gereja Baptis tidak mungkin juga berjemaat bersama-sama dengan orang Kristen Pentakosta, karena yang satunya mau berbahasa lidah yang satunya berkata bahwa itu mantra.

Orang Kristen gereja Injili tidak bisa berjemaat bersama-sama dengan orang Kristen Katolik, karena orang Katolik mau pasang patung Maria di gereja sementara orang gereja Injili berkata bahwa Maria tidak boleh disembah.

Kondisi yang sangat menyedihkan ialah bahwa semakin hari semakin banyak orang Kristen yang tidak berpikir. Pergerakan orang Kristen dari gereja yang salah pindah ke gereja yang benar berkurang bahkan hampir stagnan adalah bukti orang Kristen tidak mengejar kebenaran. Kondisi ini membuktikan orang Kristen di akhir zaman tidak berpikir keras ketika menghadapi kenyataan munculnya berbagai denominasi. Perdebatan antar denominasi untuk mencari yang paling benar juga sangat menurun.

Pembaca yang berhikmat, saya berharap Anda menjadi orang Kristen yang berpikir. Kebebasan berpikir dan Alkitab di tangan adalah penyebab berdirinya banyak denominasi. Kalau otak kita bekerja maka kita tahu bahwa lebih baik ada banyak denominasi daripada hanya ada satu denominasi yang sesat. Dengan adanya lebih dari satu denominasi maka tersedia pilihan bagi pencari kebenaran. Di antara denominasi-denominasi yang begitu banyak pasti ada yang mendekati kondisi sempurna, lebih benar, dan sedikit benar. Dan juga pasti ada denominasi yang sedikit salah, banyak salah, bahkan yang sesat. Jangan lupa, bahwa selain ada kebebasan berpikir dan Alkitab di tangan, juga ada iblis yang bekerja tanpa lelah untuk menyesatkan. Tetapi Tuhan mau kita memakai otak yang telah diberikanNya kepada kita untuk mencari kebenaran. Jika Anda mau berpikir, di website kami ada banyak bacaan, silakan berkunjung. Semboyan kami: Jika kami salah tolong beritahukan kami, dan jika kami benar tolong beritahukan orang lain.***

Sumber: Jurnal Teologi Pedang Roh Edisi 86 Januari-Maret 2016, Suhento Liauw, Th.D

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: