Beranda > RENUNGAN > HIDUP ITU BUKAN SOAL MENANG ATAU KALAH

HIDUP ITU BUKAN SOAL MENANG ATAU KALAH


HIDUP ITU BUKAN SOAL MENANG ATAU KALAH

Saya tidak tahu ini tulisan siapa. Saya ambil dari akun FB seorang teman, Rahmawati Amin.

Tapi sungguh, isinya sangat bagus. Menemani sore saya sambil menyeruput secangkir kopi. Selamat membaca dan sentak akal anda keluar dari zona berfikir yang sudah menjadi budaya selama ini.

“Jumat lalu kedua anak saya menerima Report Card dari sekolahnya Ronald Reagan Elementary School. Di Indonesia namanya rapot.

Melihat keduanya dapat nilai-nilai yang sangat bagus sementara tidak tercantum info tentang rangking, saya tergoda bertanya ke salah satu gurunya.

“Anak saya rangking berapa, Ms. Batey?”.
“Kenapa anda orang Asia selalu nanya gitu?” jawabnya. (Weleh, salah apa ane gan, batin saya.)

“Anda sangat suka sekali berkompetisi. Di level anak anda, tidak ada rangking2an. Tidak ada kompetisi. Kami mengajari mereka tentang cooperation alias kerjasama. Mereka harus bisa bekerja dalam team work dan mereka harus bisa cepat bersosialisasi dan beradaptasi.

Mereka harus punya banyak teman. Lebih penting bagi kami untuk mengajari mereka story telling dan bagaimana mengungkapkan isi pikiran dalam bahasa yang terstruktur dan sistematis.

Kami mengajari mereka logika dalam setiap kalimat yang mereka ucapkan.” (Dari sini rupanya kenapa teman2 saya di kantor mentalnya ”How can I help you”, hampir tidak pernah saya lihat jegal-jegalan.

Dan di US, hampir semua profesi mendapatkan penghasilan yang layak, tidak harus semua jadi “dokter” seperti di Indonesia. Semua orang boleh mencari penghidupan sesuai passionnya, sehingga semua bidang kehidupan sangat berkembang maju karena diisi orang2 yang bekerja dengan gairah).

Weleh…saya jadi ingat, memang pendidikan di negeri saya sangat kompetitif. Banyak orangtua yang narsis memajang prestasi anak-anaknya di sosmed.

Tanpa disadari sebagian dari mereka nanti akan tumbuh menjadi orang-orang yang terlalu suka berkompetisi dan lupa bekerjasama. Kiri kanannya dianggap saingan dan dirinya harus menjadi yang terbaik.

Mending kalo dia mengembangkan dirinya supaya menang persaingan, yang ada kadang mereka menunjukkan baiknya dirinya dengan cara menungkapkan jeleknya orang lain.

Kalo bukan kita siapa lagi, begitu jargonnya…

Wuih, betapa arogannya, seakan-akan yang lain tidak mampu dan hanya dia yang mampu. Sakit mentalnya…. Bapaknya yang berkesempatan sekolah di sekolah2 yang konon terbaik di tanah air sebenarnya juga pernah kena sindrom yang sama.

Bagaimana tidak?

Setiap hari dicekoki bahwa anda putra terbaik bangsa, calon pemimpin masa depan dll selama bertahun-tahun.

Tidak perlu saya cerita gimana yang Maha Kuasa memberikan tamparan bertubi-tubi di awal-awal masa kerja, supaya saya tidak terlalu jauh tersesat.

Aku menang….aku menang…..begitu suara anak-anak dari sebuah gang di ibukota.

Entah permainan apa yang dimenangkannya…..

Entah kapan dia sadar bahwa hidup bukan melulu soal menang dan kalah.”

Bakersfield, Jan 2016

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: