Beranda > Fundamental, ISU POPULER, Uncategorized > OPINI, ARGUMENTASI, PERDEBATAN DAN KEYAKINAN

OPINI, ARGUMENTASI, PERDEBATAN DAN KEYAKINAN


human-rights-1Hakekat Demokrasi

Demokrasi adalah sistem pemerintahan manusia yang dilakukan oleh rakyat dan diharapkan membawa kebaikan kepada rakyat. Kalau monarki kebaikannya sangat tergantung pada rajanya. Sedangkan oligarki tergantung pada sejumlah orang yang berkuasa. Demokrasi semakin populer dan bahkan dituntut oleh rakyat di berbagai negara karena setiap rakyat merasa ingin berperan menentukan nasib dan haluan negara.

Pada zaman negara kebanyakan dengan sistem monarki (raja), raja itulah hukumnya, dan dia bisa berbuat sewenang-wenang. Dengan hanya raja yang memutuskan segala sesuatu, dan biasanya raja perlu bantuan, maka orang-orang yang bisa bantu baik secara materi maupun pikiran, akan dekat dan dihargai raja. Pembayar pajak yang besar biasanya mendapat tempat khusus di mata raja.

Sedangkan dalam sistem demokrasi, terlebih periode pemilihan ulang pejabat negara yang pendek, dan satu orang satu suara, maka kelompok mayoritas menjadi penting. Kelompok ekonomi, kelompok suku, kelompok agama, bisa menjadi penting di setiap event pemilihan. Karena satu orang satu suara, maka orang kaya tidak lebih berarti daripada karyawannya. Orang kaya, suami istri dengan dua anaknya akan hanya empat suara sementara karyawannya dengan anak empat atau lima akan jauh lebih mempengaruhi hasil pemilihan. Seorang imam di Timteng bersesumbar bahwa satu generasi ke depan Muslim akan menguasai Eropa, mereka tidak perlu menaklukkan Eropa dengan senjata, cukup dengan angka kelahiran saja. Itu betul sekali karena orang putih Eropa hanya punya satu atau dua anak, dan banyak yang tidak mau anak, bahkan banyak yang tidak menikah atau homo, sementara sebagian Muslim dari Afrika melahirkan enam tujuh orang anak dari satu istri, bayangkan jumlah anaknya dari beberapa istri. Mereka tahan hidup miskin dan ada yang dapat tunjangan negara, dan mereka sangat menentukan ketika pemilihan pejabat negara.

Zaman sebelum demokrasi muncul, orang kaya adalah orang yang terhormat karena kekayaan mereka adalah bukti kehebatan mereka atau leluhur mereka. Tetapi di zaman demokrasi yang one man one vote, kelompok mayoritas sekalipun miskin menjadi primadona bagi politikus yang membutuhkan voting mereka. Setiap musim pemilihan umum kelompok mayoritas biasanya dibuai dan dielus. Dan banyak sekali politikus yang tidak segan-segan mengumbar janji surga yang kemudian setelah menang tidak mungkin bisa dipenuhi.

Demokrasi di negara yang bhineka, terutama yang kondisinya terdapat kelompok tertentu yang mayoritas, maka kelompok mayoritas itu yang akan pegang kendali. Demokrasi dalam kondisi ini akan membawa kebaikan untuk semua rakyat, sesungguhnya sangat tergantung kepada kelompok mayoritas itu. Saat pemilihan pemimpin, hasilnya akan ditentukan kelompok mayoritas. Semua undangundang dan peraturan akan dibuat oleh kelompok mayoritas untuk kebaikan kelompok mayoritas. Kelompok minoritas akan menerima kebaikan jika kelompok mayoritas adalah kelompok orang baik, namun jika kelompok mayoritas adalah kelompok orang jahat maka kelompok minoritas akan jadi warga negara kelas dua bahkan bisa sangat menderita.

Hak Asasi Manusia

Pejabat di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), tentu tahu bahwa demokrasi sesungguhnya tidak menjamin adanya kebaikan bagi seluruh rakyat atau seluruh umat manusia. Demokrasi di Afrika tidak membawa kebaikan karena terlalu kental akan nuansa suku dan agama. Suku mayoritas atau umat agama mayoritas seringkali tanpa belas kasihan melakukan penindasan terhadap yang minoritas. Bahkan ada yang tidak segan-segan melakukan genosida pemunahan suku.

Oleh sebab itu penekanan utama PBB di dalam promosi demokrasi ialah Hak Asasi Manusia. Ini adalah hak khusus sebagai manusia yang harus dihormati oleh negara manapun dan oleh siapapun. Salah satu butiran HAM ialah setiap manusia memiliki hak untuk memilih, yaitu hak pilih. Human rights are moral principles or norms, which describe certain standards of human behaviour, and are regularly protected as legal rights in municipal and international law. They are commonly understood as inalienable fundamental rights “to which a person is inherently entitled simply because she or he is a human being,” and which are “inherent in all human beings” regardless of their nation, location, language, religion, ethnic origin or any other status. They are applicable everywhere and at every time in the sense of being universal, and they are egalitarian in the sense of being the same for everyone. (https://en.wikipedia.org/wiki/Human_rights).

Inti dari HAM adalah menghargai terhadap manusia sebagaimana mestinya manusia. Sehubungannya dengan demokrasi ialah bahwa jika pemilihan dilakukan oleh semua rakyat, maka setiap rakyat mempunyai hak, untuk memilih. Dan salah satu butiran lain dari HAM ialah kebebasan berkumpul secara damai. Oleh sebab itu acara berkumpul untuk bernyanyi atau belajar sesuatu sesungguhnya adalah salah satu butiran HAM yang tidak memerlukan ijin dari pemerintah atau siapapun, karena itu HAK. Dari prinsip HAM sesungguhnya tidak ada acara kebaktian yang memerlukan ijin sama sekali, karena kebebasan berkumpul adalah salah satu butiran utama HAM. Demikian juga dengan aktivitas belajar dan mengajar, bukanlah sesuatu yang memerlukan ijin. Tentu tidak boleh ada yang menipu dengan menawarkan pendidikan dengan janji akan dapat gelar yang diakui negara. Di AS beribu Sekolah Theologi yang tidak diakui negara, karena mereka memang tidak mencari pengakuan negara. Sekolah theologi Baptis biasanya diakreditasi oleh asosiasi dalam lingkungan Baptis. Dan sekolah theologi Presbyterian diakreditasi oleh asosiasi dalam lingkungan Presbyterian. Dan hampir tidak ada mahasiswa tamatan sekolah theologi Reformed yang melayani di gereja Baptis. Negara sama sekali tidak mengurus urusan agama, sehingga segala sesuatu yang berbau agama tidak ada urusan ijin atau apapun. Kalau mau bangun gedung apapun termasuk gereja, ada ketentuan umum,misalnya kalau gedungnya untuk 100 orang berkumpul maka harus ada lapangan parkir untuk 25 mobil, berlaku untuk semua gedung tanpa pilih kasih.

Bunga-bunga Dan Efek Samping Demokrasi

Indahnya demokrasi ialah kebebasan melakukan segala sesuatu yang positif. Seorang warga negara tidak perlu bertanya apa yang boleh dan sisanya jadi tidak boleh. Pertanyaan demikian biasanya di negara totaliter, karena hal-hal yang boleh hanya sedikit yaitu yang ijinkan sang diktator, dan sisanya adalah yang tidak boleh. Di negara demokratis pertanyaannya adalah apakah yang tidak boleh dan sisanya boleh. Sudah pasti yang tidak boleh itu sedikit, yaitu hal-hal yang bisa mencelakai atau mengganggu orang lain, dan untuk itu dibuatkan undangundang atau peraturan yang jelas, dan selain yang tidak boleh maka semua yang lain boleh.

Penyebab negara demokratis maju dan berkembang dalam segala bidang ialah kebebasan dari rasa takut. Mengapakah bisa bebas dari rasa takut? Karena rakyat tahu bahwa pemerintah bukanlah pihak yang mungkin melakukan hal-hal yang buruk kepada mereka melainkan justru yang akan melindungi mereka. Hal-hal yang tidak boleh dilakukan sudah sangat jelas, bukan remang-remang, sehingga bagi orang baik tidak ada rasa takut untuk melakukan segala hal yang baik. Bebas Berbicara Kebebasan berpendapat bahkan kebebasan berbicara (freedom of speak) adalah salah satu butiran pokok dari HAM. Dari sinilah dasar tentang kebebasan PERS yang sering dikatakan sebagai salah satu tonggak penting demokrasi. Dan semua diktator melancarkan operasi pertama mereka ialah memberangus pers. Setelah tidak ada kebebasan pers maka selanjutnya semua kejahatan bisa mereka sembunyikan dengan rapi.

Di negara demokratis murni tidak ada yang namanya ijin penerbit untuk menerbitkan buku, koran, majalah dan lain-lain. Orang Indonesia yang di atas empat puluh tahun pasti masih ingat suasana rezim Soeharto, yang segalasegala harus ada ijin. Dan jika ada tulisan di koran yang tidak diperkenan oleh Soeharto, maka koran itu ditutup, atau dicabut ijinnya.

Kebebasan berbicara itu menghasilkan kebebasan beropini, dan mendorong kreativitas. Faktor inilah yang mendorong pengejaran pengetahuan dan melahirkan banyak buku di dunia Barat. Dan efeknya terhadap pemerintahan ialah satu persatu monarki berubah menjadi demokrasi, sekalipun masih ada raja atau ratu tetapi sebagai lambang saja karena yang memerintah adalah parlemen dengan perdana menterinya (monarki parlementer).

Kebebasan Beropini

Dari kebebasan berbicara, maka melahirkan banyak opini. Dengan kebebasan menerbitkan bacaan dan buku, maka masyarakat semakin pintar. Sesungguhnya pemicu reformasi zaman renaissance ialah ditemukannya alat cetak oleh Johannes Guttenberg tahun 1440. Sejak ide-ide dituangkan dalam cetakan, dan masyarakat terdorong untuk giat membaca, maka terjadi reformasi dalam segala bidang.

Alkitab adalah buku pertama yang dicetak di benua Eropa, dan disebut Guttenberg Bible dicetak tahun 1450, dasarnya adalah Alkitab Vulgate dalam bahasa Latin. Dan Desiderius Erasmus menerbitkan Alkitab PB bahasa Yunani tahun 1516, dijual kepada masyarakat. Satu tahun kemudian, 1517, Luther melancarkan reformasi dalam hal beriman. Dan tentu tindakan Luther langsung ditantang oleh gereja Katholik yang tidak mengenal kebebasan beropini.

Argumentasi

Karena bebas beropini maka menghasilkan banyak opini dan karena banyak opini terjadilah lintas opini. Nah, lintas opini ini sesungguhnya yang disebut argumentasi. Adu argumentasi satu dengan yang lain kemudian disebut perdebatan. Perdebatan opini adalah tindakan bermartabat sebagai masyarakat demokratis dan penjunjung akal sehat. Dari perdebatan atau argumentasi berbagai opini maka opini yang terbaik akan keluar sebagai pemenang.

Penyerangan dengan logika melalui kata-kata terhadap logika lain yang juga memakai kata-kata adalah bagian dari pengolahan otak menuju kepada kebenaran. Tuhan Yesus dalam Injil berkali-kali mengadu logika dengan orang Farisi. Ketika orang-orang Farisi sedang berkumpul, Yesus bertanya kepada mereka, kata-Nya: “Apakah pendapatmu tentang Mesias? Anak siapakah Dia?” Kata mereka kepada-Nya: “Anak Daud.” Kata-Nya kepada mereka: “Jika demikian, bagaimanakah Daud oleh pimpinan Roh dapat menyebut Dia Tuannya, ketika ia berkata: Tuhan telah berfirman kepada Tuanku: duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai musuhmusuh-Mu Kutaruh di bawah kaki-Mu. Jadi jika Daud menyebut Dia Tuannya, bagaimana mungkin Ia anaknya pula?” Tidak ada seorangpun yang dapat menjawab-Nya, dan sejak hari itu tidak ada seorangpun juga yang berani menanyakan sesuatu kepada-Nya. (Mat 22:41-46 ITB)

Sesudah itu tidak ada yang mau mencoba-coba mengajakNya berdebat lagi. Tuhan Yesus tidak memakai kuasanya untuk membungkam orang Farisi, melainkan mengajak mereka memakai otak mereka untuk berdebat. Tindakan ini membuktikan bahwa ini jalan yang Tuhan mau ditempuh orang untuk sampai kepada kebenaran dan kemudian masuk ke keyakinan.

Keyakinan

Kita tahu bahwa di dunia ada banyak keyakinan, tetapi tentu tidak semua yang diyakini adalah kebenaran. Banyak orang bertanya kepada saya tentang masalah iman, bagaimana cara kita tahu bahwa itu kebenaran? Saya menjawab mereka bahwa kebenaran tidak mungkin bertentangan dengan akal sehat. Bahkan Tuhan sendiri mengajak orang Farisi berlogika untuk menentukan kebenaran. Jadi, kebenaran adalah sesuatu yang selaras dengan logika. Dan di dunia ini hanya ada satu buku yang tidak ada kesalahan di dalamnya, yaitu Alkitab. Alkitab adalah satu-satunya kitab yang isinya selaras dengan logika. Berarti kebenaran sesungguhnya adalah yang selaras dengan akal sehat dan tidak bertentangan dengan ayat-ayat Alkitab. Bisa saja ada pihak yang tidak setuju. Berarti pihak yang tidak setuju itu adalah salah satu opini, dan untuk mendapatkan opini yang benar, marilah berargumentasi.

Kebenaran tidak mungkin bisa tercapai dengan intimidasi, apalagi dengan kekuatan fisik. Demokrasi mensyaratkan pencapaian kekuasaan melalui BALLOT bukan BULLET. Oleh sebab itu sangat masuk akal untuk menyimpulkan bahwa hanya penganut agama kebenaran yang bisa berdemokrasi secara murni, dan kalau dipersempit dalam kekristenan maka hanya denominasi atau gereja yang mengajarkan kebenaran saja yang bisa berdemokrasi secara murni. Dalam sejarah sudah ada contoh, Katholik, Reformed, Presbyterian, Anglikan, Episkopal dan lain-lain, pernah mendiktatorkan diri mereka dan menganiaya minoritas. Sebab ketika demokrasi murni diterapkan, akan timbul banyak opini, dan akan muncul banyak argumentasi serta perdebatan yang berujung pada tersingkirnya opini-opini yang salah. Dan hasil ini tidak disukai oleh pihak pendukung opini yang salah yang bukan pencari kebenaran, melainkan pencari pembenaran.***

Oleh Dr. Suhento Liauw, Th.D dalam Jurnal Theologi PEDANG ROH Edisi 90 Januari-Maret 2017

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: