Beranda > ISU POPULER > 15 Tradisi Unik IMLEK

15 Tradisi Unik IMLEK


Imlek, atau Tahun Baru Cina, merupakan salah satu perayaan terbesar yang dilakukan oleh masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia tiap tahunnya. Sejarah kata “Imlek” sendiri sebenarnya berasal dari dialek Hokkian, yaitu Im dan Lek. Im memiliki arti bulan, sedangkan Lekberarti penanggalan. Dengan kata lain, Imlek sendiri berarti kalender (penanggalan) bulan, atau dalam bahasa Inggris lebih dikenal dengan Lunar New Year.

Menurut asal usulnya, Imlek merupakan sebuah perayaan yang biasanya jatuh pada tanggal satu saat bulan pertama muncul di awal tahun musim semi. Inilah sebabnya Tahun Baru Imlek tidak sama dengan perayaan tahun baru yang diadakan setiap tanggal 1 Januari. Di tahun ini, Imlek sendiri jatuh pada 5 Februari 2019. Nah, baik kamu ikut perayaan ini atau tidak, ada 15 tradisi unik yang perlu kamu ketahui sehubungan dengan Imlek. Ingin tahu apa saja? Baca lengkapnya di sini:

1. Berkumpul Bersama Keluarga

Tak berbeda jauh dengan Hari Raya Lebaran, Imlek juga berorientasi pada kekeluargaan. Maka dari itu, jutaan orang Tionghoa di seluruh dunia akan berusaha untuk pulang menuju rumah masing-masing (“Pai Nian [拜年]”) agar dapat berkumpul bersama ibu, ayah, dan saudara-saudara tercinta. Terutama untuk mereka yang tinggal atau bekerja jauh dari kampung halamannya, Imlek selalu menjadi waktu yang spesial. Ini adalah saat yang tepat untuk catch-up, menyantap makanan lezat, dan menghormati leluhur-leluhur yang sudah tiada.

Psst, bahkan kesempatan ini biasa menjadi waktu travel rush terbesar di dunia, mengalahkan perayaan Thanksgiving di Amerika Serikat. Family is everything, after all!

2. Menonton Barongsai

Kamu pasti pernah kan, melihat tarian Barongsai baik secara langsung maupun di film? Tarian tradisional ini menggunakan kostum mencolok yang menyerupai seekor singa – dengan warna-warna mencolok seperti merah atau kuning yang dianggap memberikan kemakmuran dan keberuntungan. Dalam tarian tersebut, para penari (biasanya akan ada dua penari untuk tiap Barongsai) melompat dengan lincah, saling menggerakan badan dan kepala yang seakan-akan membuat kostum Barongsai itu terlihat “hidup.” Para Barongsai ini juga sering terlihat menari untuk mengusir “seekor naga” – dikenal sebagai Nian yang dianggap sebagai lambang “roh jahat”.

Konon katanya, dentuman keras dari drum dan cymbal, serta gerakan tarian itu sendiri dapat mengusir evil spirits! Shoo shoo! Selain itu, kebiasaan lain yang juga sering ditemukan adalah memberikan angpau atau persembahan pada Barongsai. Hal ini dipercaya akan memberi keberuntungan di tahun yang akan datang. Apakah kamu pernah melakukannya?

3. Kebaktian Imlek

Kebaktian Imlek sendiri sebenarnya merupakan suatu bentuk syukur, sekaligus doa dan harapan agar di tahun yang baru seluruh anggota keluarga mendapatkan rezeki dan kesehatan. Selain itu, Kebaktian Imlek juga ditujukan untuk mengenang para leluhur dan berkumpul bersama dengan keluarga besar. Ada banyak makanan yang biasa disiapkan termasuk yang paling terkenal adalah ikan bandeng, babi, jeruk, serta kue keranjang.

Baca juga: Apakah Orang Kristen Boleh Merayakan Imlek?

4. Makan Ikan Bandeng

Ikan dipercaya sebagai simbol kebahagiaan dan keberuntungan oleh warga keturunan Tionghoa di Indonesia, dan istilah memakan ikan bandeng ini dikenal dengan sebutan Nian-Nian Yu Yi. Menurut asal usulnya, kata “ikan” yang berbunyi “yu” memiliki penyebutan yang sama dengan kata “lebih”. Dengan begitu, diharapkan rezeki di tahun baru nanti akan terus berlebih. Oh ya, cara memakannya pun berbeda. Ikan bandeng yang dihidangkan tidak boleh dibalik. Apabila salah satu sisinya sudah habis dimakan, kamu tak boleh mengambil daging di sisi lainnya dengan membalik ikan, kamu harus berusaha untuk mengambilnya dari sisi yang sudah habis. Menurut tradisi, ikan bandeng juga tidak boleh dihabiskan sekaligus pada hari itu, dan sebaiknya disisakan untuk keesokan harinya, hal ini melambangkan rezeki yang tak akan pernah habis. Selain itu, ikan yang disajikan pun biasanya berukuran besar, karena semakin besar ukurannya, dipercaya rezekinya akan semakin banyak.

5. Kue Lapis

Harga kue lapis memang mahal, maka dari itu pada kesempatan istimewa seperti Imlek, kue lapis menjadi lambang kemewahan. Seperti bentuknya yang berlapis-lapis dan rasanya manis, kue ini diharapkan mampu memberikan rezeki yang berlapis-lapis dan kehidupan yang manis selama setahun ke depan.

6. Pantang Makan Bubur

Bubur dianggap sebagai salah satu simbol kemiskinan. Mengapa demikian? Karena pada zaman lampau bubur biasa dimakan ketika masa bencana terjadi. Oleh karena itu, kamu biasanya tidak akan menemukan orang Tionghoa menyantap bubur saat perayaan Imlek.

7. Menyantap Jeruk

Ada alasan mengapa jeruk menjadi salah satu buah yang penting di kala Imlek. Dalam bahasa Mandarin, penyebutan buah jeruk, “zhi”, mirip dengan penyebutan kata emas dan keberuntungan. Maka dari itu, buah ini dianggap akan membawa keberuntungan. Selain itu, buah jeruk juga berwarna kuning emas, yang dianggap membawa keceriaan untuk tahun yang akan datang. Alasan terakhir, buah jeruk juga berbentuk bundar sempurna, sama seperti bulan (atau lunar). Bentuk bundar sendiri dianggap sempurna karena tidak memiliki ujung, sehingga dipercaya terus memberikan rezeki “tanpa ujung”. Oh ya, akan lebih baik jika jeruk yang dihidangkan masih memiliki daun. Daun jeruk dianggap melambangkan umur yang panjang.

8. Menyiapkan Kue Keranjang

Kue keranjang merupakan makanan manis yang wajib disajikan kala Hari Raya Imlek. Kue ini biasa mulai disiapkan tujuh hari menjelang perayaan tahun baru Imlek, dan baru bisa disantap ketika Cap Go Meh (malam ke-15 setelah Imlek). Di Cina sendiri, terdapat kebiasaan untuk terlebih dahulu menyantap kue keranjang sebelum menyantap nasi. Hal ini melambangkan suatu pengharapan agar dapat selalu beruntung dalam pekerjaan sepanjang tahun.

Sejarah kue keranjang sendiri berasal dari zaman Tiongkok kuno. Pada masa tersebut, hiduplah seekor naga raksasa yang bernama ‘Nian’, yang tinggal di sebuah gua jauh di atas gunung. Biasanya, Nian akan keluar dari gua untuk berburu hewan ketika merasa lapar.

Sayang, pada musim dingin, banyak hewan yang bersembunyi untuk berhibernasi, membuat Nian turun ke desa-desa dan memangsa manusia sebagai gantinya. Hal ini membuat banyak masyarakat desa hidup dalam ketakutan terhadap kebiasaan naga Nian selama beberapa waktu.

Sampai akhirnya, seorang warga desa yang bernama Gao memiliki ide cerdik. Ia membuat kue sederhana yang terbuat dari campuran tepung ketan dan gula untuk disajikan kepada Nian. Kue tersebut cukup berat, dan bahan yang digunakan untuk membuat kue tersebut cukup mengenyangkan. Gao pun meminta warga untuk beramai-ramai membuat kue tersebut, dan meletakannya di depan pintu rumah.

Ketika pada akhirnya Nian turun untuk mencari mangsa di desa, Nian melihat kue keranjang terletak di depan setiap pintu pintu. Aroma manis yang menguar dari kue keranjang membuat Nian tak berpikir panjang untuk menyantap kue tersebut. Sesuai dengan dugaan Gao, setelah menyantap setiap kue keranjang yang disediakan di depan pintu rumah, Nian pun menjadi kenyang.

Ia tidak lagi mencari manusia untuk dijadikan sebagai santapan, dan kembali ke atas gunung untuk beristirahat. Hal ini membuat warga desa bahagia karena berhasil menemukan cara untuk mengatasi ancaman Nian. Sejak saat itu, penduduk desa membuat kue keranjang pada setiap musim dingin untuk mencegah Nian memburu dan memakan manusia.

Untuk mengingat jasa Gao yang sudah berhasil mencegah Nian memburu manusia dan menemukan kue ini, para penduduk desa kemudian menamakan kue ini sebagai “Nian Gao”. Hingga saat ini, di Cina, kue tersebut masih dikenal sebagai Nian Gao.

Selain itu, Nian Gao juga memiliki makna lain. Kata Nian sendiri memiliki arti tahun, sedangkan Gao berarti kue (糕) yang penyebutannya terdengar seperti kata tinggi (高), oleh sebab itu kue keranjang sering disusun tinggi atau bertingkat. Harapannya, dengan tingginya kue tersebut, berarti ada peningkatan dalam hal rezeki atau kemakmuran.

9. Mempersiapkan Makanan

Kue keranjang dan jeruk merupakan makanan yang wajib disediakan saat hari raya Imlek. Saat sembahyang, makanan ini biasanya disajikan dengan jumlah antara lima, delapan atau sembilan, dan tidak boleh disajikan dalam jumlah tiga atau empat. Hal ini dilakukan karena angka 3 dianggap terlalu sedikit, sedangkan penyebutan angka 4 (si) dalam bahasa Mandarin mirip dengan pelafalan mati (si), sehingga kedua angka ini biasanya dihindari.

Di sisi lain, angka 5 menggambarkan lengkapnya lima elemen penting menurut kepercayaan Tionghoa (api, air, tanah, kayu, dan logam), angka 8 menggambarkan infinite atau kemakmuran yang tiada habis, sedangkan angka 9 atau angka tertinggi melambangkan kesempurnaan.

Tak hanya itu, beberapa orang juga menyiapkan makanan keberuntungan seperti mi dengan cara tidak dipotong karena dianggap melambangkan umur panjang, sedangkan telur pitan melambangkan panjang umur.

10. Makan Malam Bersama Keluarga

Makan malam bersama (“Tuan Yuan Fan[团圆饭]”) saat perayaan tahun baru Imlek adalah hal yang penting. Hal ini biasa dilakukan sehari sebelum Imlek, atau jika tidak sempat, maka makan malam boleh dilakukan saat Imlek. Biasanya, acara makan bersama akan dilakukan di sebuah meja bundar dengan piringan berputar di tengahnya. Anggota keluarga tertua seperti kakek dan nenek akan dipersilahkan mengambil makanan terlebih dahulu. Di saat seperti ini, biasanya tradisi Yu Shang diadakan.

11. Tradisi Yu Shang

Tradisi makan ini dibawa langsung dari Tiongkok dan dilakukan dengan cara khusus. Ketika makan malam, biasanya di atas meja tersedia satu piring Yu Shang, dengan beberapa makanan di atasnya: ikan salmon, wortel, lobak, jeruk, kacang, daun jeruk limau, acar jahe merah, paprika merah, buah plum, mi, dan lainnya.

Pada saat makan malam dimulai, para anggota keluarga yang berdiri di sekeliling meja bundar akan mengaduk makanan tersebut bersama-sama dan mengangkatnya dengan sumpit setinggi-tingginya. Hal ini dilakukan dengan harapan, bahwa semakin tinggi makanan tersebut diangkat, maka semakin tinggi keberuntungan yang didapat.

12. Membersihkan Rumah

Bagi masyarakat Tionghoa, menyapu rumah (“Shau Chen [扫尘]”) sehari sebelum hari raya Imlek berarti menyingkirkan atau membersihkan rumah dari kesialan, agar keberuntungan bisa masuk esoknya. Setelah rumah sudah selesai dibersihkan, biasanya sapu akan disimpan di tempat tersembunyi, dan rumah akan dibiarkan apa adanya hingga hari Imlek selesai. Psst, bagi masyarakat Tionghoa, menyapu rumah dan halaman pada saat hari raya justru berarti membuang keberuntungan yang datang.

13. Berbagi Angpau

Ini dia hal yang paling ditunggu-tunggu bagi anak-anak dan mereka yang masih lajang saat Imlek: angpau! Anak-anak biasanya akan “kaya” seketika karena orang tua atau sanak saudara mereka yang sudah menikah diwajibkan memberi angpau saat Imlek. Angpau sendiri berasal dari kata Hong Pao yang berarti kantung merah, dan biasanya diisi dengan sejumlah uang di dalamnya.

Tidak ada aturan soal jumlah uangnya, dan nominalnya tidak harus besar, yang penting berupa uang kertas baru dan tidak berbentuk uang logam. Hal ini dilakukan karena dipercaya bahwa membagikan uang kertas nantinya akan mendapatkan uang kertas pula, sedangkan memberi uang logam atau receh nantinya akan mendapatkan uang receh pula.

Membagikan angpau juga dipercaya akan memperlancar rezeki di kemudian hari. Akan lebih baik jika angpau yang diberikan berwarna merah karena melambangkan kemakmuran. Nah, bagi anak-anak yang ingin menerima angpau, mereka biasanya mengucapkan selamat tahun baru dengan membungkus kepalan tangan kanan dengan tangan kiri. Hal ini dilakukan karena kepalan tangan kanan biasanya berkesan agresif. Oh ya, mereka yang belum menikah tidak boleh memberikan angpau, karena dipercaya akan sulit mendapat jodoh nantinya. Finally, a perks of being single!

14. Wajib Memakai Warna Merah

Menurut kepercayaan orang Tionghoa, Nian – sejenis makhluk buas yang hidup di dasar laut – akan keluar saat awal musim semi atau tahun baru Imlek. Kedatangan Nian sangat mengganggu manusia, terutama anak kecil. Untungnya, Niansangat takut dengan warna merah. That‘s why, semua orang akan menghias rumah, serta memakai pakaian cheongsam dan aksesori berwarna merah untuk mengusir Nian jauh-jauh. Selain itu, warna merah juga melambangkan keberuntungan dan kemakmuran.

15. Potong Rambut

Selain menyiapkan baju baru berwarna merah untuk memberikan rasa optimis menghadapi tahun baru, mereka yang merayakan Imlek biasanya akan memotong rambut terlebih dulu beberapa hari sebelumnya. Selain untuk memaksimalkan penampilan saat Imlek, potong rambut juga bermakna membuang sial.

(LINE TODAY, Alvin Yoga)

Iklan
  1. 4 Februari 2019 pukul 4:42 AM

    Ini tulisan kutipan, ya Pak?

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: