Beranda > Fundamental, INDONESIA > Alkitab dan Demokrasi

Alkitab dan Demokrasi


 

Pemerintahan pertama di muka bumi tercatat di Alkitab ialah pemerintah otoriter, yaitu di bawah Nimrod. Salah satu proyek mereka ialah berusaha membangun menara Babel untuk mencari nama dan mencapai Allah.

Kemudian silih berganti pemerintahan _monarchy_ yang dipimpin oleh raja. Firaun, Nebukadnezar, dan banyak lagi yang tercatat dalam sejarah. Di bagian timur ada banyak kaisar yang memerintah silih berganti.

Allah Jehovah kemudian mendirikan negara dengan sistem _Theocracy,_ yang dipimpinNya langsung. Tentu dalam sistem theocracy siapapun yang melawan Theos, dianggap musuh negara maka hasilnya ialah penganiayaan terhadap iman lain. Orang-orang yang gagal paham berkata bahwa Allah Perjanjian Lama kejam dan yang Perjanjian Baru penuh kasih, seolah-olah Allah yang berbeda.  Padahal jika dia berhasil memahami bahwa di bawah sistem pemerintahan theokrasi tidak mungkin boleh ada iman lain karena kepala negaranya adalah Allah sendiri. Munculnya iman lain adalah semacam kudeta terhadap kepala negara yang memakai sistem theokrasi, dan semua tindakan kudeta pasti dihukum.

*PEMERINTAHAN DEMOKRASI*

Kemudian di zaman  PB Tuhan mengijinkan manusia memerintah secara DEMOKRATIS untuk mengurus perkara antar manusia, dan memberi kebebasan kepada manusia untuk datang kepadaNya dengan sukarela, tanpa paksaan pemerintah. Pada zaman PB masalah iman harus didasarkan pada kebenaran, bukan lagi pada upacara ritual.

Sistem demokrasi adalah sistem pemerintahan oleh rakyat, dimana rakyat yang memilih pemimpinnya. Tentu Tuhan tidak pernah kehilangan kekuasaanNya, Tuhan hanya memberikan kepada manusia kebebasan untuk memilih pemimpin mereka. Satu masa dimana Tuhan sendiri yang memimpin secara langsung yaitu masa theokrasi Israel. Tetapi Tuhan kemudian memisahkan urusan antar manusia dari urusan manusia dengan Tuhan.

Yudaisme fundamental tetap mau memberlakukan sistem theokrasi, demikian juga dengan Islam fundamental. Sebaliknya Kristen Fundamental adalah kelompok manusia yang paling mengerti bahwa pemerintahan manusia harus terpisah dari urusan Tuhan. Kristen Fundamental adalah yang paling paham terhadap pernyataan Tuhan,  “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah” (Mat 22:21).  Pernyataan Tuhan ini menjadi tonggak yang memisahkan urusan kaisar dari urusan Tuhan.

*JEMAAT PUN HARUS DEMOKRATIS*

Tuhan mau urusan Tuhan dilaksanakan oleh jemaat, dan wahyu tertulis (Alkitab) sebagai satu-satunya petunjuk pengajaran dan pelaksanaannya. Tiap-tiap jemaat harus bersifat independen dan demokratis dengan Alkitab sebagai panduan mutlak yang tidak boleh dilanggar.

Dalam 2 Kor. 2:6, ada kata *sebagian besar,* atau majority dalam bahasa aslinya  πλειονων bentuk plural yang berasal dari kata πλεῖον (pleion), itu menunjukkan bahwa ada keputusan mayoritas di jemaat Korintus.

Jemaat Alkitabiah adalah jemaat yang bersifat demokratis. Gembala hanya penuntun melalui penjelasan firman Tuhan yang disampaikan secara rutin. Beratus bahkan beribu tahun sesudah mulainya kekristenan, tidak terwujud pemerintahan demokrasi, salah satu penyebabnya ialah gereja tidak berdiri sesuai Alkitab melainkan kolusi dengan kaisar dan raja. Bahkan gereja memakai tangan kaisar dan raja untuk menganiaya pihak yang menafsirkan berbeda dan yang mengritiknya.

Pemerintahan demokratis pertama terwujud di tanah Amerika oleh para pelarian penderita penganiayaan dari Eropa, jauh sebelum Montesque lahir. Sejarah menunjukkan sangat jelas bahwa tanpa masyarakat alkitabiah, tidak ada pemerintahan yang demokratis, dan kalaupun dipaksakan ada, tidak akan menghasilkan kebaikan.

*JEMAAT ALKITABIAH & PEMERINTAHAN DEMOKRATIS*

Perintah Tuhan kepada murid-muridNya untuk memberitakan Injil kepada semua makhluk, dan menjadikan semua bangsa muridNya. Jika gereja-gereja alkitabiah memenuhi bumi, menghasilkan banyak orang Kristen Alkitabiah, maka otomatis akan menghasilkan pemerintahan yang demokratis.

Dengan sangat sedih, dan tidak bermaksud mendiskreditkan siapapun melainkan hanya mau menunjuk sejarah dan fakta bahwa banyak denominasi Kristen sesungguhnya tidak mengerti tentang hakekat demokrasi. Gereja Katolik tidak mengerti sama sekali akan demokrasi, bahkan dalam kamus mereka tidak ada kata demokrasi. Ribuan tahun mereka bahkan memakai kekuasaan kaisar dan raja menganiaya pengritik mereka. John Calvin ketika menguasai kota Geneva berlaku lebih dari diktator. Lebih-lebih lagi Zwingli yang menguasai kota Zurich yang menenggelamkan para Anabaptis yang mengritik pengajarannya. Begitu juga Martin Luther yang bekerja sama dengan raja Jerman. Gereja-gereja yang pengajarannya tidak alkitabiah sesungguhnya tidak mengerti tentang demokrasi.

Tetapi ketika gereja alkitabiah menghasilkan mayoritas rakyat yang lahir baru, secara otomatis akan tercipta pemerintahan yang demokratis. Jenderal George Washington, meminta untuk dibaptis ulang di sebuah sungai. Ketika kehendaknya dikonfrontasi, bukankah Anda sudah dibaptis (saat bayi)? Ia menjawab mereka, itu baptisan yang saya tidak tahu dan yang bukan atas keinginan saya. Akhirnya dia dibaptis oleh Chaplin Baptis yang bernama John Gano di sebuah sungai.

Oleh perjuangan George Washington dan orang-orang Kristen Alkitabiah terbentuk sebuah negara yang bernama Amerika Serikat (United States of America), dengan Presiden pertama orang Kristen lahir baru yang memberi diri dibaptis ulang di sebuah sungai. Ketika Kongres mau mendaulat dia sebagai presiden seumur hidup, dia tidak mau terima melainkan mau memberi teladan bahwa presiden berikut semuanya maksimum dua periode.

Negara-negara di Eropa kemudian mencontoh AS, satu persatu raja dan ratu merelakan posisi mereka diturunkan menjadi hanya seremonial saja. Dan Amerika Latin yang diawasi ketat oleh Gereja Katolik juga berusaha mencontoh. Tidak bisa dipungkiri bahwa AS menjadi makmur sehingga menjadi destinasi semua orang yang tertindas dan yang bermimpi sukses. Ketika iblis melancarkan perang dunia dua kali, Tuhan memakai negara yang didirikan oleh anak-anakNya untuk mengalahkan antek-antek iblis.

*MANUSIA YANG BEBAS MEMILIH*

Banyak orang Kristen tidak tahu bahwa sejak Tuhan memutuskan menciptakan manusia yang diberi otak, hati, dan kehendak bebas, Ia betul-betul memberi kebebasan bukan yang bohong-bohongan. Banyak orang Kristen dikacaukan oleh doktrin yang salah yang menyatakan bahwa Tuhan dalam sebuah DEKRIT telah menetapkan segala sesuatu termasuk semua kejahatan. Bahkan ada yang berpikir seolah-olah pemerintahan komunis Tiongkok di bawah Mao yang membunuh banyak orang, dan Kim di Korut, itu adalah ketetapan Tuhan. Kesimpulannya adalah Tuhan sangat jahat karena telah menetapkan pemerintahan yang sangat jahat.

Padahal empat hal ini harus dipahami baik-baik.
*[1] Tetapkan.* Ada hal-hal yang Allah tetapkan.
*[2] Inginkan.* Ada hal-hal yang Allah inginkan.
*[3] Ijinkan.* Semua hal yang terjadi itu karena Allah ijinkan.
*[4] Ketahui.* Semua hal di alam semesta Allah ketahui.

Jangan menuduh Allah menetapkan pemerintah diktator yang bengis, yang membunuh rakyatnya hanya karena mendengarkan musik dari luar. Terlebih lagi jangan memfitnah Allah sebagai pemrakarsa pemerkosaan dan pembunuhan seorang gadis. Allah tidak pernah menetapkan kejahatan.

Yer 32:35 Mereka mendirikan bukit-bukit pengorbanan untuk Baal di Lembah Ben-Hinom, untuk mempersembahkan anak-anak lelaki dan anak-anak perempuan mereka kepada Molokh sebagai korban dalam api, sekalipun *Aku tidak pernah memerintahkannya* kepada mereka dan sekalipun hal itu *tidak pernah timbul dalam hati-Ku,* yakni hal melakukan kejijikan ini, sehingga Yehuda tergelincir ke dalam dosa.

Ada orang Kristen yang terpengaruh theologi salah berkata bahwa segala sesuatu yang Allah inginkan pasti terlaksana karena tidak ada yang mustahil bagi Allah. Padahal, coba baca ayat berikut.

Mat 23:37 “Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, *tetapi kamu tidak mau.*

Mengapa keinginan Tuhan untuk mengumpulkan penduduk Yerusalem ke bawah pemeliharaanNya, tidak berhasil? Jawabannya sudah ada yaitu mereka tidak mau. Bukankah Tuhan maha kuasa? Betul! Tetapi ada satu hal yang sangat penting yang Tuhan tidak dapat lakukan, dan hanya satu ini, yaitu MENYANGKALI DIRINYA.

2Ti 2:13 jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya.

Ketika Tuhan menciptakan manusia sesuai dengan gambar dan petaNya, di dalamnya sudah termasuk bahwa manusia itu PRIBADI, artinya yang sadar diri dan yang berpikir bebas. Terlebih lagi ketika Tuhan melarang manusia memakan buah tertentu dan menganjurkannya memakan buah tertentu, ini menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk yang diberi kehendak bebas. Tuhan konsisten dengan ketetapanNya bahwa manusia bebas memilih, dan Tuhan menghargai pilihan manusia.

Denominasi Kristen yang tidak mengakui KEHENDAK BEBAS (Freewill) manusia, tidak mungkin bisa mengerti demokrasi apalagi melaksanakan demokrasi karena demokrasi itu hakekatnya ialah memilih dengan kehendak bebas. Berbagai ayat Alkitab yang bunyinya seolah-olah Tuhan menentukan segala sesuatu sesungguhnya perlu dicermati, diexegesis dengan baik. Dan ingat, ayat-ayat Alkitab tidak boleh ditafsirkan saling bertentangan.

*DEMOKRASI ITU PILIHAN RAKYAT BUKAN PILIHAN TUHAN*

Saul menjadi raja itu pilihan rakyat, sedangkan Daud jadi raja itu pilihan Tuhan. Ketika rakyat memilih Saul, Tuhan mengijinkan, tetapi Saul bukan pilihan Tuhan apalagi ditetapkan Tuhan. Komunis yang berkuasa di Korut yang dimulai dari Kim Il Sung, sampai Kim Yong Un, itu bukan pilihan Tuhan apalagi ditetapkan Tuhan. Pada saat pengaruh idiologi komunis melanda Korea, sebagian rakyat sangat memihak komunis dan sebagian menolak. Mereka yang angkat senjata ikut Kim Il Sung, tidak berpikir panjang bahwa anak cucu mereka nanti akan sangat menderita di bawah pemerintahan sistem komunis. Begitu juga dengan rakyat Tiongkok yang memihak Mao berperang sampai Chiang Kai Sek dan rombongan besar mengungsi ke Taiwan.

Ketika mayoritas manusia di sebuah negara atau wilayah memilih sebuah sistem pemerintahan, atau memilih seorang pemimpin, Tuhan MENGIJINKAN, bukan Tuhan menetapkan. Tuhan sudah memberikan freewill kepada manusia, dan Tuhan tidak mau  _over-rule_ kehendak manusia itu dengan kekuasaanNya. Bahkan ketika sepuluh pengintai menolak masuk Kanaan, Tuhan tidak memaksa mereka, dan mereka akan menerima konsekuensi keputusan mereka, berkeliling 40 tahun.

Tuhan memberikan manusia kemampuan dan kebebasan memilih. Tetapi ketahuilah bahwa dalam tiap-tiap pemilihan ada konsekuensinya. Putin, seorang mantan pemimpin KGB, bertindak sangat mengecam teroris dan memukau rakyat Rusia dan mereka memilihnya sehingga menang mutlak. Kini dia menjadi diktator, kopi pahit konsekuensi yang harus diteguk rakyat Rusia sekarang sedang disugukan.

Demokrasi akan membawa kebaikan atau keburukan sangat tergantung pada kondisi rakyat yang memilih. Kalau mayoritas rakyat adalah pemeluk agama yang menekankan kebaikan dan akal sehat, maka hasilnya akan baik. Tetapi jika mayoritas rakyat percaya sesuatu yang jahat, dan selalu berpikiran jahat, mustahil demokrasi yang dihasilkan rakyat demikian akan baik.

Demokrasi sesungguhnya adalah sesuatu yang berpasangan dengan gereja alkitabiah, bukan sembarangan gereja. Bahkan gereja yang tidak alkitabiah seperti yang di Amerika Latin tidak bisa menghasilkan demokrasi yang baik. Sudah terbukti oleh sejarah bahwa Katolik ribuan tahun, John Calvin di Geneva, Zwingli di Zurich, Luther di Jerman, tidak menghasilkan pemerintahan yang demokratis.

Banyak orang tidak tahu bahwa demokrasi itu berpasangan dengan gereja alkitabiah seperti sepasang sepatu. Banyak orang, bahkan pemimpin-pemimpin negara melihat AS begitu makmur dan hebat, mereka berpikir bahwa itu karena demokrasi semata sehingga semua negara mau mencontoh. Padahal faktor yang membuat demokrasi AS positif adalah gereja yang alkitabiah yaitu gereja para Anabaptis yang dianiaya di Eropa dan lari ke Amerika. Bahkan orang AS sendiri pun tidak tahu bahwa sistem demokrasi mereka berhasil karena kekristenan yang alkitabiah. Misalnya mereka menganjurkan negara-negara Arab memakai sistem demokrasi dan berpikir bisa berhasil dan positif. Itu mustahil, karena kitab yang mereka junjung tinggi tidak mengajarkan itu.

Lihatlah, Tiongkok kembali ke diktator, Rusia dengan gereja sesatnya memelihara diktator. Eropa semakin dipenuhi rakyat yang akan merusak sistem demokrasinya. Dan bahkan demokrasi AS akan kacau bahkan menjadi malapetaka karena rakyatnya yang semakin kacau. Semakin hari semakin banyak rakyat AS yang cara berpikirnya aneh. Suatu hari mereka pasti memilih presiden yang sangat buruk. Homoseks semakin bertambah, dan imigran yang bukan hanya Kristen tidak alkitabiah bahkan tidak percaya Tuhan semakin bertambah.

Telah dinubuatkan bahwa di akhir masa Tribulation Israel akan diserang oleh pasukan multinational. Orang waras tahu bahwa selagi AS di pihak Israel, tidak ada yang sanggup melawan Israel. Kapan Israel bisa dilawan? Saat rakyat AS memilih Presiden, Kongres, Senat yang menyetujui pengiriman pasukan untuk menembakkan rudal Tomahawk ke bukit Magido (Hamagedon), saat perang Hamagedon.

*KESIMPULAN*

Demokrasi itu bisa baik kalau rakyat yang memilih baik. Sebaliknya demokrasi akan buruk jika rakyat yang memilih buruk. Dan demokrasi dengan kekristenan yang alkitabiah itu seperti sepatu yang sepasang. Tanpa kekristenan alkitabiah demokrasi pasti berjalan timpang. Contoh, jangan kan agama lain, denominasi Kristen yang tidak alkitabiah, jika dikritik atau dinyatakan salah doktrinnya, langsung meminta backup pemerintah, mau lapor pemerintah, mau ngomong sama Dirjen, padahal sikap ini sangat bertentangan dengan prinsip demokrasi. Prinsip demokrasi itu kebebasan berpikir dan kebebasan menyatakan pendapat, serta kebebasan mengritik pemerintah. Lalu, hanya bebas kritik pemerintah dan tidak bebas mengritik gereja? Kalau kritik akan diteriaki JANGAN MENGHAKIMI! Apakah ini cocok dengan prinsip demokrasi? Dipenjarakan karena menista agama, apakah ini cocok dengan prinsip demokrasi?

Mudah-mudahan Tuhan menerangi akal budi pembaca untuk memahami.

Jakarta, 14 Agustus 2018
Dr. Suhento Liauw
<www.graphe-ministry.org>
Maranatha!

  1. Elizabeth
    28 April 2019 pukul 11:51 AM

    Amin. Sangat jelas. Terima Kasih pencerahannya.

  2. 28 April 2019 pukul 9:45 PM

    Bagus sekali dan aku mau tanya. Karya ini didapat dari referensi apa, juga mingkin dari tafsir yang sifatnya bsgaimana ? Trim’s

  3. 29 April 2019 pukul 5:17 PM

    Referensi penulis dari melihat situasi politik dunia dan perenungan alkitab.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: