Beranda > ISU POPULER > Hati-Hati dengan Klaim Perjalanan ke Surga

Hati-Hati dengan Klaim Perjalanan ke Surga


Oleh Dr. David Cloud (terjemahan: Dr. Steven Liauw)

Bukan hanya ada banyak tokoh Pantekosta yang mengklaim pernah melihat Yesus, sebagian juga mengklaim pernah pergi ke surga. Antara lain yang membuat klaim semacam ini adalah John Lake, Percy Collett, Dudley Danielson, Marvin Ford, Aline Baxley, Kenneth Hagin, Sr., Benny Hinn, Jesse Duplantis, Roberts Liardon, dan Bob Jones, (Yesaya Pariadji) dll.

Pada tahun 1977, Richard Eby mengklaim bahwa dia mati dan pergi ke surga dan kembali lagi dengan membawa penyingkapan bahwa “saraf utama dalam tengkorak Allah adalah untuk indera penciuman.” Dia berkata bahwa di surga dia bisa bergerak ke mana saja secara beas dan bahwa dia dapat dilihat, namun juga transparan.

Pada tahun 1980an, Percy Collett mendapatkan banyak pengikut berdasarkan cerita-cerita dramatisnya tentang suatu perjalanan selama 5 hari ke surga. Dia berbicara muka berhadapan muka dengan Roh Kudus dan melihat kucing-kucing dan anjing-anjing (yang tidak menggonggong). Dia melihat ada “Departemen Kasihan,” di mana bayi-bayi yang diaborsi akan dilatih untuk sejumlah waktu. Dia melihat ada “Ruang Pakaian,” di mana malaikat-malaikat sedang menjahit baju untuk orang percaya. Dia bahkan melihat adalah “elevator Roh Kudus.”

Roberts Liardon mengklaim bahwa dia melakukan tur di surga ketika dia berumur 8 tahun. Dia berkata bahwa Yesus tingginya 5 x 11 inci hingga 6 kaki, dengan rambut warna kecoklatan yang tidak terlalu panjang dan juga tidak terlalu pendek. Dia melihat gudang-gudang yang berisi bagian-bagian tubuh yang menantikan “orang-orang kudus maupun orang-orang berdosa” di bumi untuk mengklaim mereka. Yesus memberitahu dia, “Kamu harus datang ke sini dengan iman dan mendapatkan bagian yang kamu perlukan dan juga orang-orang yang kamu kenal” (Liardon, I Saw Heaven, Tulsa: Harrison House, 1983, hal. 19). Dia melihat sebuah rak obat dengan botol-botol yang ditandai: “overdosis Roh Kudus,” dan dia juga main ciprat-cipratan bersama Yesus di Sungai Kehidupan.

Dalam acara “This Is Your Day,” tanggal 4 Mei 2000, Benny Hinn mewawancarai G.S. Dhinakaran dari “Jesus Calls” ministry di India mengenai berbagai perjalanan ke surga yang dia klaim. Dhinakaran mengatakan, “Kapanpun saya sedang patah hati karena masalah-masalah dalam pelayanan, saat itulah Tuhan Yesus berkata mari, dan Dia membawa saya ke surga, lalu berbicara secara pribadi kepada saya. Dia memanggil salah satu rasul dan menyuruh mereka berbicara kepada saya tentang masalah saya.”

Jesse Duplantis mengklaim bahwa dalam perjalanannya ke surga, dia melihat seorang malaikat dilemparkan ke dinding ketika Allah menggerakkan sedikit saja jari-Nya dan (secara tidak sengaja?) kena kepada dia ketika dia terbang lewat. Duplantis mengatakan bahwa dia belajar ada 2 tipe orang Kristen di surga, yaitu yang kuat dan yang lemah, dan yang lemah harus mengendus daun-daun pohon kehidupan untuk mendapatkan kekuatan.

APA KATA ALKITAB?

Saya menolak semua klaim-klaim tentang mengunjungi surga ini, apakah dalam bentuk penglihatan ataupun dalam tubuh, karena alasan yang sederhana bahwa dalam setiap kasus, individu-individu ini menambahkan kepada hal-hal yang tercatat dalam Alkitab, bertentangan langsung dengan perintah Allah:

Wahyu 22:18-19 Sebab aku bersaksi bersama setiap orang yang mendengarkan perkataan-perkataan nubuat kitab ini, “Jika seseorang menambahkan sesuatu kepadanya, Allah akan menambahkan atasnya bencana-bencana yang telah tertulis di dalam kitab ini.
Dan jika seseorang membuang sesuatu dari perkataan-perkataan kitab nubuat ini, Allah akan menghapus bagiannya dari Kitab Kehidupan dan dari kota kudus dan apa yang telah tertulis di dalam kitab ini.” (Wahyu 22:18-19).

Banyak hal yang dicatat dalam kitab Wahyu berhubungan dengan surga. Perhatikan Wahyu 4-5; 7:9-17; 8:1-6; 10:1; 11:15-19; 12:1-3, 7-12; 14:1-17; 15:1-8; 16:1, 5-7; 17:1-2; 19:1-16; 20:1; 21:1-27; 22:1-5. Kitab Wahyu berakhir dengan hampir 2 pasal penuh menggambarkan kota surgawi, Yerusalem Baru, dan disimpulkan dengan peringatan yang keras untuk tidak “menambahkan sesuatu kepada perkataan-perkataan ini.”

Bukankah menambahkan kepada perkataan-perkataan dalam Kitab Suci tentang surga jika seseorang mengatakan bahwa ada elevator Roh Kudus dan ada ruangan penuh dengan bagian-bagian tubuh dan anjing-anjing yang tidak menggonggong, atau bahwa saraf utama dalam tengkorak Allah adalah indera penciuman?

Semua pengalaman ini hanya ada dua kemungkinan, yaitu benar atau suatu kebohongan, dan kami yakin mereka adalah kebohongan. Orang-orang yang menggambarkannya bisa jadi benar-benar mengira bahwa mereka mengunjungi surga, tetapi mereka sama sekali tidak melakukannya.

Alkitab jauh lebih pasti dari pada penglihatan atau pengalaman mistik yang paling hebat manapun. Bisa saja tertipu sehingga mengira diri sendiri pernah ke surga atau melihat Yesus, padahal itu tidak benar terjadi. Tetapi Alkitab adalah sesuatu yang pasti. Petrus mengingatkan pada pembacanya bahwa dia adalah saksi mata akan keagungan Kristus, dan bahwa dia menyaksikan perubahan Kristus di atas gunung dan mendengar suara langsung Allah Mahakuasa, dan telah melihat Elia dan Musa (2 Pet. 1:16-18). Apa lagi yang lebih hebat dari itu? Tidak ada pengalaman Pantekosta kharismatik yang lebih hebat dari ini lagi. Tetapi Petrus tidak mengakhiri ceritanya di sana. Daripada mendorong para pembacanya untuk mencari pengalaman yang serupa, dia meninggikan Alkitab di atas hal-hal semacam itu:

2 Petrus 1:19-2
“Juga kami memiliki FIRMAN NUBUATAN YANG LEBIH PASTI LAGI; kalian berbuat baik jika kalian memperhatikannya, seperti kepada pelita yang bersinar di tempat yang gelap sampai waktu mana fajar menyingsing, dan bintang fajar terbit di hati kalian;
Dengan mengetahui hal ini pertama-tama, bahwa setiap nubuat kitab suci bukan merupakan penafsiran diri sendiri,
karena nubuat tidak pernah dihasilkan oleh keinginan manusia, sebaliknya orang-orang kudus Allah telah mengucapkan apa yang dihasilkan oleh Roh Kudus.”

Firman nubuatan yang lebih pasti lagi itu adalah Kitab Suci itu sendiri. Kitab Suci diberikan melalui pengilhaman, dan oleh karena itu tidak dapat salah.

Ini adalah pesan yang harus dicamkan oleh setiap orang Pantekosta kharismatik. Sisihkan hawa nafsu kedagingan yang mencari pengalaman-pengalaman mistis dan tanda-tanda ajaib dan penglihatan di luar Alkitab dan suara-suara; sebaliknya, berpautlah pada Alkitab saja sebagai satu-satunya otoritas yang cukup untuk iman dan perbuatan. Berjalanlah dengan iman, bukan dengan penglihatan, itulah kekristenan yang alkitabiah.

“Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan. Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya? Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun” (Roma 8:24-25).

Sumber: Blog Graphe

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: