Arsip

Archive for the ‘Doktrin’ Category

Prinsip 12 SOLA

Mari kita pegang teguh kebenaran:

Percaya PRINSIP 12 Sola/DUODECIM SOLA yaitu:

-SOLA GRATIA (Hanya karena Anugerah/Kasih Karunia saja kita diselamatkan, Ef 2:8-10),

-SOLA FIDE (Hanya karena IMAN saja kita diselamatkan, 1 Petrus 1:9, Ef 28-9, Yud 1:3, Ibrani 3:14, II Tim 4:7, 2 Tim 3:15),

-SOLA SCRIPTURA (Hanya karena Kitab Suci/Alkitab saja 2 Tim 3:15),

-SOLA EVANGELII (Hanya lewat Injil lah kita diselamatkan krn Injil adalah Kekuatan Allah yg menyelamatkan setiap orang yang percaya, di dalam Injil lah ada Kebenaran Allah)
Roma 1:16, 1 Kor 15:2, Kol 1:16

–SOLA AUTOGRAPHA (Hanya karena Naskah Asli Alkitab saja-yang sudah musnah-TANPA SALAH sedikitpun),

–SOLA APOGRAPHA (Hanya Naskah Salinan MT-Masoretic Text untuk PL bahasa Ibrani dan TR-Textus Receptus untuk PB bahasa Yunani-Tanpa SALAH SEDIKITPUN),

–SOLA SIDO/SOLA HYMNIS (Hanya Pujian/Musik yang Terindah bagi Tuhan), Rm 15:9, Mrk 14:26, Ef 5:19, Kol 3:16.

  • SOLA ORA ET LABORA (Hanya dg Berdoa dan Bekerjalah/Berkarya, kita berusaha memuliakan Allah dalam hidup kita) 1 Tes 5:17, Filipi 2:12
  • SOLA GAUDIUM/SOLA RIA (Hanya dg Sukacita yg dari Tuhan saja kita mampu menghadapi dan menanggung segala perkara, 1 Tes 5:16, Luk 6:23, dll)
  • SOLA PARADISUM ET TARTARUM (Hanya Sorga dan Nerakalah dua tempat tujuan akhir yg Allah sediakan dalam penghakiman akhir) Wahyu 19:1, Lukas 12:5, dll

SOLA/Solus CHRISTOS (Hanya lewat Tuhan Yesus Kristus kita diselamatkan) Kis 4:12, yang semuanya bermuara pada

-SOLA GLORIA DEI (Segala Kemuliaan HANYA bagi Tuhan). Rm 11:36, Mat 6:13

D O A

Apakah Doa Itu? Sebagian orang berasumsi bahwa doa adalah kewajiban setiap orang Kristen, di mana setiap orang Kristen diperintahkan atau diharuskan untuk berdoa. Ada pula yang beranggapan bahwa doa adalah sarana untuk meminta sesuatu dari Tuhan. Maksud mereka adalah ketika kita sedang membutuhkan sesuatu, maka itulah saat yang tepat untuk berdoa

Sejatinya doa adalah persekutuan dengan Tuhan, bercakap-cakap atau berkomunikasi dengan Tuhan. Ketika kita berdoa, kita masuk dalam hadirat Tuhan, di mana hati dan perhatian kita terfokus dan terhubung dengan Tuhan. Ini bukan sekedar kita berbicara dan memberi laporan kepada Tuhan, tetapi jauh-jauh lebih penting adalah: berdoa kita bertemu dengan Tuhan. Jika doa hanyalah sarana / alat untuk memohon sesuatu dari Tuhan, maka kita hanya akan berdoa ketika kita membutuhkan berkat Tuhan. Memang Alkitab mengatakan bahwa jika kita membutuhkan sesuatu, kita harus berdoa (Mat 7:7, Yak 4:2-3) , tetapi itu bukanlah inti dari doa.

Doa amat sangat penting karena merupakan berkat dan hak istimewa yang Tuhan anugerahkan kepada kita orang yang percaya. Saat kita berdoa, kita menundukkan hati kita, memusatkan pikiran kita, dan kita berserah penuh pada belas kasih Tuhan. Dalam doa kita memuji kebesaran dan keagungan Tuhan. Dalam doa kita mengaku semua kesalahan dan dosa kitadan dalam doa kita menaikan permohonan atau permintaan kepada TuhanDan dalam doa kita tidak boleh lupa mengucap syukur kepada Tuhan. Baca selengkapnya…

I M A N

Sudah kita bahas pada edisi sebelumnya, bahwa pertobatan dan iman tidak dapat dipisahkan. Keduanya ibarat koin dengan kedua sisinya. Keduanya berjalan seiring. Kita tidak bisa bertobat tanpa percaya kepada Yesus Kristus, dan percaya tanpa bertobat dari dosa-dosa kita. Hal itu tidak membawa kepada keselamatan.

Pentingnya Iman

Menurut Alkitab, Iman adalah syarat mutlak untuk mendapatkan anugerah keselamatan (Efesus 2:8-9). Tanpa iman mustahil seseorang dapat berkenan kepada Allah (Ibr. 11:6). Tanpa iman kehidupan rohani kita mati (Roma 1:17, Hab. 2:4). Dengan kata lain, tanpa iman kita tidak mungkin masuk sorga. Artinya jelas, bahwa iman adalah sarana yang dengannya kita diselamatkan (Rm. 10:9).

Jangan salah mengerti. Bukan iman yang menyelamatkan kita. Yang menyelamatkan kita adalah objek iman, yaitu Yesus Kristus. Iman hanyalah sarana, penghubung atau syarat memperoleh anugrah keselamatan dari Kristus. Yesus Kristus harus menjadi objek iman itu sendiri, barulah iman tersebut membawa kepada keselamatan. Baca selengkapnya…

Asal Mula Baptisan Percik

12 Agustus 2012 5 komentar

Penulis: Ps Bobby M.Th

Saya berusaha mencari jawaban yang obyektif dari sisi sejarah/historisitas mengenai asal mula berkembangnya tradisi baptisan percik dalam gereja. Dari hasil penelitian ada 5 faktor yang dapat ditulis:

Pertama: Kitab Didache (diperkirakan ditulis sekitar tahun 100-120) yg ditemukan pada tahun 1873 oleh Philotheos Bryennios, Direktur Sekolah Tinggi Teologi Yunani di Konstantinopel dan dipublikasikan pada 1883, memuat cara baptis secara percik sebagai pengganti cara baptis selam, jika jumlah air yang dibutuhkan tidak memadai.

Berikut teksnya, “Concerning Baptism. And concerning baptism, baptize this way: Having first said all these things, baptize into the name of the Father, and of the Son, and of the Holy Spirit, in living water. But if you have no living water, baptize into other water; and if you cannot do so in cold water, do so in warm. But if you have neither, pour out water three times upon the head into the name of Father and Son and Holy Spirit. But before the baptism let the baptizer fast, and the baptized, and whoever else can; but you shall order the baptized to fast one or two days before.“ Baca selengkapnya…

Apakah Baptisan Selam Alkitabiah?

3 Agustus 2012 7 komentar

Penulis: Ps. Bobby M.Th

Apakah Baptisan Selam Alkitabiah? Adakah dasar biblika maupun historis yang kuat mengenai baptisan selam? Memang mengenai topik  ini ada banyak kontroversi dan pandangan yang berbeda-beda. Akan tetapi kita harus berani menggali kebenaran Alkitab mengenai hal ini.

Seringkali sesuatu hal menjadi bahan perdebatan karena orang-orang tidak memahami hakekat asli dari pokok atau hal tersebut. Karena itu ketika kita berbicara mengenai baptisan, pertama sekali kita harus melihat dahulu kata asli Alkitab yang dipakai untuk perkataan “baptis” atau “baptisan”.

Arti dan Definisi

Dalam bahasa asli Alkitab Perjanjian Baru, yaitu bahasa Yunani, baptisan berasal dari kata Yunani BAPTIZO (Greek-English Dictionary New Testament UBS). Baptizo merupakan suatu kata kerja. Kata dasar dari Baptizo adalah BAPTO. Untuk mendapatkan makna yang hakiki dari “baptizo” itu, terlebih dulu kita harus mengetahui arti dari kata “bapto”. Kata “bapto” tertulis tiga kali dalam teks asli Alkitab Perjanjian Baru. Ketiga ayat yang memuat kata “bapto” itu adalah: Baca selengkapnya…

APA YANG ALKITAB KATAKAN tentang SABAT?

4 Mei 2012 14 komentar

APA YANG ALKITAB KATAKAN tentang SABAT, mari perhatikan fakta-fakta berikut ini:
1. Aturan Hari Sabat, meskipun disebutkan dalam Kejadian 2:2-3, tidak disampaikan kepada manusia (Adam dan Hawa) sampai itu diberikan kepada Israel di padang gurun (Nehemia 9:13-14). Ellen White menambahkan ke Alkitab ketika dia mengajarkan bahwa Adam dan para leluhur memelihara Sabat.

2. Sabat tidak diberikan kepada umat manusia pada umumnya, tetapi HANYA kepada BANGSA Israel saja sebagai Tanda Khusus antara mereka dan Allah (Kel. 31:13, 17). Jika Sabat telah dipraktekkan oleh umat manusia dari sejak penciptaan, itu tidak mungkin diberikan sebagai Tanda Khusus untuk Israel.

3. Perjanjian Baru mengajarkan bahwa orang percaya tidak terikat oleh hukum Sabat. Lihat Kolose 2:16-17.

4. Sabat adalah tipologi atau simbolik akan hari keselamatan. “Jadi masih tersedia suatu hari perhentian, hari ketujuh, bagi umat Allah. Sebab barangsiapa telah masuk ke tempat perhentian-Nya, ia sendiri telah berhenti dari segala pekerjaannya, sama seperti Allah berhenti dari pekerjaan-Nya” (Ibr. 4:9-10). Dalam Ibrani 4 ini, Sabat dipresentasikan sebagai simbolik hari keselamatan. Sebagaimana Allah beristirahat pada hari ketujuh dari pekerjaan PenciptaanNya, orang percaya hari ini akan beristirahat dalam pekerjaaan Keselamatan Yesus Kristus yang sempurna. Agar masuk ke peristirahatan Allah, seseorang harus dengan tenang menerima pekerjaan Allah dan berhenti dari usahanya sendiri. (Yohanes 6:28-29). Keselamatan harus diterima sebagai anugerah Allah. Baca selengkapnya…

Perempuan Eropa dan Amerika Membuang Mutiara

Penafsiran Alkitab Membawa Pengaruh
Kelompok Kristen Liberal menafsirkan I Timotius 2:11-13 sebagai kebenaran yang kondisioner dan tidak berlaku lagi sekarang. Mereka melihat larangan bagi perempuan untuk mengajar dan memerintah laki-laki dikarenakan kondisi perempuan saat itu yang belum berpendidikan. Setelah perempuan mengecap pendidikan, maka perintah itu tidak berlaku lagi.

Bahkan ada kelompok yang lebih tidak berhikmat dimana mereka menafsirkan bahwa perintah itu dikarenakan Rasul Paulus sentimen kepada perempuan. Mereka menunjuk status Paulus yang tidak menikah sebagai bukti sikap negatifnya terhadap perempuan. Efek dari penafsiran kelompok Liberal ini maka gereja mengijinkan perempuan bukan hanya berkhotbah dan memimpin acara kebaktian, bahkan mengijinkan perempuan menjabat Gembala Jemaat.

Sikap ini merembes ke kelompok Injili yang prakmatis dan kelompok Kharismatik yang memang tidak mementingkan keteraturan. Dengan sangat cepat sikap ini diadopsi oleh berbagai kelompok dan menjalar secara cepat ke seluruh dunia.

Efek Tafsiran Terhadap Peran Wanita di Jemaat
Akhirnya di berbagai acara, baik di kampus-kampus maupun di persekutuan-persekutuan kantor, lelakinya duduk bengong dan para wanita dengan sangat yakin diri memimpin acara, bahkan berkhotbah. Baca selengkapnya…

Wanita Lajang Boleh Berkhotbah?

Prosedur Dasar Dari Tuhan
Ketika Tuhan memberi perintah agar istri tunduk kepada suami dan suami mengasihi istri, serta anak taat orang tua, orang tua tidak menyakiti hati anak (Efesus 5:22,25, Kolose 3:18-21), Tuhan tahu persis prinsip utama yang harus dimiliki sebuah keluarga.

Dalam sebuah pesawat tidak boleh ada co-pilot yang mau ikut pegang setir dan tidak mau tunduk kepada pilot dengan crew yang tidak mau taat kepada kapten yang misalnya mau seenaknya membuka pintu darurat. Baik pesawat maupun kapal laut, semuanya memiliki standar dasar management operasinya.

Demikian juga dengan sebuah keluarga dan sebuah jemaat. Tuhan menetapkan seorang ayah sebagai kapten/kepala keluarga dan istrinya adalah wakil dengan sejumlah anak-anak sebagai anggota keluarga. Ini adalah standar operasi dasar yang Tuhan tetapkan bagi keluarga. Dan bagi jemaat, Tuhan menetapkan Gembala yang adalah seorang suami dari satu istri dan seorang kepala keluarga yang dihormati (I Timotius 3:2-4). Dalam situasi normal prosedur yang telah ditetapkan Tuhan harus menjadi patokan operasi. Penyimpangan hanya diperbolehkan jika dalam situasi abnormal. Baca selengkapnya…

Peran Wanita dalam Jemaat

28 September 2011 Tinggalkan komentar
Dalam filosofi Yunani, Plato dan Aristoteles mewakili pandangan kuno yang memandang wanita sebagai makhluk yang tidak setara dengan laki-laki, yang tidak dianggap lebih baik dari benda atau harta yang dapat dipakai oleh laki-laki.

Dan bukan hanya kebudayaan Yunani, tetapi banyak kebudayaan yang menganggap derajatnya lebih rendah dari laki-laki. Namun itu semua merupakan kebudayaan yang tidak takut akan Allah dan tidak mengenal Hukum-Nya. Hal demikian adalah hal yang paling bertentangan dengan pengajaran Alkitab.

Alkitab tidak pernah menganggap wanita sebagai kaum yang lebih rendah, sebaliknya, Alkitablah yang paling dahulu menempatkan posisi wanita pada derajatnya yang sebenarnya, yang tertinggi, yaitu sama dengan laki-laki, yang adalah gambar dan rupa Allah.

Jikalau banyak kebudayaan yang merendahkan perempuan, Allah justru mengasihi perempuan. Allahlah yang pertama kali menumbuhkan cinta dalam Adam ketika Ia membawa Hawa kepada suaminya. Allah memperhatikan kesejahteraan wanita dengan memerintahkan suami untuk mengasihi isterinya, bahkan seperti dirinya sendiri (Ef. 5:33). Baca selengkapnya…

Berita Mingguan GITS 5 Maret 2011

Sungai Besar Kesesatan
Di zaman kita ini, kejahatan berkuasa, kesesatan sangat agresif, dan kompromi ada di mana-mana di udara. Kita berada di dunia yang jahat ini dan di zaman yang sesat ini entah kita suka atau tidak, dan kita harus mengalahkannya atau hal-hal itu akan mengalahkan kita. Kesesatan akhir zaman adalah seperti sungai besar yang deras menyapu segala sesuatu di dalam arusnya, dan gereja-gereja Perjanjian Baru yang Alkitabiah adalah seperti sebuah perahu. Jika kita tidak dengan usaha keras mendayung ke hulu – melalui hal-hal seperti pertobatan yang sejati, hidup Kristiani yang serius dan terpisah dari dunia, dan khotbah-khotbah yang tidak berkompromi – kita akan terbawa oleh arus. Tidak ada netralitas, tidak ada relaksasi, tidak ada pensiun. Jika kamu capek bekerja dan menurunkan dayung separasi dan nasihat-nasihat saleh, kamu akan segera bergerak sesuai dengan arus. Selama 20 tahun terakhir, banyak gereja-gereja Baptis fundamental telah berhenti mendayung. Ketika hal itu terjadi pertama kali, semua orang senang. Baca selengkapnya…

Kategori:BERITA, Doktrin

ENGKAU SUAM-SUAM KUKU

14 Februari 2011 1 komentar

Pada tanggal 13 September 2010, sekitar jam 15.00 sore, penulis istirahat dari menulis Pedang Roh duduk sejenak menonton Travel and Living Channel (TLC). Kebetulan sedang ditayangkan tentang keadaan di Turkey, menyusur satu-persatu kota-kota bersejarah di Asia Kecil. Penulis langsung membayangkan kota-kota yang pernah dikunjungi Rasul Paulus, dan menyaksikan keadaannya kini yang penuh dengan perempuan berkerudung.

Betapa sedih hati rasanya ketika membayangkan bahwa kota Efesus tadinya adalah kota dimana Sekolah Theologi pertama didirikan, dan melalui mahasiswanya seluruh Asia Kecil berhasil mendengar Injil (Kis. 19:9-10). Namun kini hampir tidak ditemukan satu pun gereja yang benar-benar alkitabiah. Mengapa bisa begitu? Baca selengkapnya…

BELILAH KEBENARAN

Belilah kebenaran dan jangan menjualnya; demikian juga dengan hikmat, didikan dan pengertian (Amsal 23:23).

Ayat ini terdengar agak mengejutkan. Dan pasti akan menimbulkan banyak pertanyaan di benak pembaca. Kebenaran apakah yang Salomo suruh beli? Bagaimanakah cara membeli kebenaran? Dan berbagai-bagai pertanyaan lain lagi.

Kebenaran yang dimaksudkan oleh Salomo tentu bukan sembarangan kebenaran. Pada dasarnya hakekat kebenaran itu sendiri adalah Allah sendiri karena Dia adalah Allah yang benar. Tuhan Yesus berkata bahwa Dirinya adalah kebenaran (Yoh. 14:6). The ultimate-end dari semua usaha pencarian kebenaran seharusnya berakhir pada Allah yang benar. Rasul Yohanes menulis, “akan tetapi kita tahu, bahwa Anak Allah telah datang dan telah mengaruniakan pengertian kepada kita, supaya kita mengenal Yang Benar; dan kita ada di dalam Yang Benar, di dalam Anak-Nya Yesus Kristus. Dia adalah Allah yang benar dan hidup yang kekal” (I Yoh. 5:20). Baca selengkapnya…