Arsip

Posts Tagged ‘Harold Ockenga’

Review Sejarah Teologi Kontemporer

Review Sejarah
Pelajaran Theologi Kontemporer

Tentu jika mulai dari sejak Yohanes Pembaptis akan terlalu panjang, oleh sebab itu saya mulai sesudah Reformasi Martin Luther 1517.  Semua orang Kristen yang berpihak pada gerakan Reformasi bersukacita, percaya bahwa Alkitab satu-satunya Firman Tuhan yang tidak ada salah, bahwa Kristus dilahirkan oleh perempuan perawan, bahwa semua mujizat yang tercatat dalam Alkitab adalah benar dan bahwa wanita tidak jadi Gembala atau mengkhotbahi pria. 

Tetapi setelah beberapa generasi, akhirnya semakin banyak anggota gereja yang tidak lahir baru, karena mrk dibaptis saat bayi, dan karena penggabungan gereja dengan negara. Baca selengkapnya…

Harold Ockenga dan Gerakan Injili Yang Dia Mulai

17 November 2011 Tinggalkan komentar

OCKENGA ADALAH PENDIRI GERAKAN INJILI BARU (NEW EVANGELICAL) DAN MENYATAKAN BAHWA GERAKAN TERSEBUT MENOLAK SEPARASI
Sumber: David Cloud, Way of Life

Harold Ockenga (1905-85) mungkin adalah pemimpin Injli yang paling berpengaruh di abad ke-20. Dia adalah gembala sidang dari Gereja Park Street yang prominen di Boston, pendiri dari National Association of Evangelicals, sesama pendiri dan juga presiden pertama dari Fuller Theological Seminary, presiden pertama dari World Evangelical Fellowship, presiden dari Gordon College, dan Gordon-Conwell Theological Seminary, seorang direktur dalam Billy Graham Evangelistic Association, dan ketua dewan direksi sekaligus pernah menjadi editor majalah Christianity Today.

Pada tahun 1950an Ockenga membantu menciptakan gerakan Injili Baru yang menolak separasi dan membidik filosofi yang lebih positif dan pragmatis, berlawanan dengan “negativisme” dan “isolasi” yang terdapat dalam fundamentalisme.

Dalam sebuah pidato yang dia sampaikan tahun 1947 pada saat pendirian Fuller Seminary, Ockenga berkata: “Kita menolak gerakan ‘Keluarlah dari sana’ [Editor: seruan separasi fundamentalis] yang memvonis semua denominasi sebagai sesat. Kita berharap untuk positif dalam penekanan kita, kecuali di tempat-tempat kesalahan sudah sedemikian rupa sehingga kita harus membongkarnya untuk dapat menyatakan kebenaran. Penekanan positif ini akan didasarkan pada doktrin Kalvinisme rendah yang luas” (hal. 176). Baca selengkapnya…