Arsip

Posts Tagged ‘Pemilihan Tanpa Kondisi’

Debat Terbuka: Apakah Calvinisme itu Alkitabiah?

15 November 2012 1 komentar

Debat tentang Kalvinisme (Calvinism Debate) 24 Agustus 2012 di STT Graphe, Sunter
antara:
Dr. Steven E. Liauw, Th.D & Andrew M. Liauw, M.Th berhadapan dengan
Budi Asali, M.Div & Esra Alfred Soru, M.Pdk

Sesi 1: Unconditional Election (Pemilihan Tanpa Kondisi)

Sesi 2: Perseverance of the Saints (Ketekunan Orang-Orang Kudus atau Sekali Selamat Tetap Selamat=OSAS=Once Saved Always Save)

Jawaban.com – Pada hari Jumat 24 Agustus 2012 Sekolah Tinggi Theologia Graphe (Graphe International Theological Seminary) yang ada di Sunter Agung, Jakarta, mengadakan debat terbuka yang membahas tentang pemahaman teologi John Calvin, terkusus tentang poin “Unconditional election/Pemilihan TUHAN Yang Tanpa Syarat” dan tentang “Perseverance of the saints (Ketekunan orang-orang kudus)” Baca selanjutnya…

PENYESATAN TULIP: UNCONDITIONAL ELECTION (Bag. 5-Ending)

Ayat-ayat Kalvinis yang berhubungan dengan Unconditional Election:

1. “Umat Allah” Kis 18:9-10

Argumen Kalvinis mengatakan bahwa Paulus menginjil di situ karena ada orang-orang pilihan di kota itu, jadi tinggal dikotbahin saja. Apakah benar demikian? Dikatakan bahwa mereka sudah menjadi umat Allah sebelum Paulus memberitakan Injil. Selain itu, jikalau mereka sudah pasti masuk Surga, bagaimana kalau Paulus tidak datang ke sana untuk memberitakan Injil? Jika kita pelajari dengan saksama, kata “umatKu”di sini bukan menunjuk kepada orang-orang yang belum percaya tetapi mengacu kepada orang-orang yang sudah diselamatkan, sebab di sana ada Akwila, Titius, Yustus, Krispus dan keluarga dan yang lainnya. Baca selanjutnya…

PENYESATAN TULIP: UNCONDITIONAL ELECTION (Bag 4)

Ayat-ayat yang Berhubungan Dengan Election dan Reprobation

Roma 9:10-16
Argumen Kalvinis: Lihat dalam perikop ini Allah mengasihi Yakub dan membenci Esau sebelum mereka lahir. Allah sudah menetapkan Yakub untuk selamat dan Esau untuk kebinasaan sejak dalam kekekalan. Karena Allah menetapkan Yakub selamat, maka secara otomatis Esau ditolak atau tidak dipilih oleh Allah.

Argumen Alkitabiah: Ini (penafsiran Kalvinis) adalah penafsiran yang sangat buruk. Kita harus melihat konteks Roma 9:1-10 agar jelas makna ayat 10-16. Dari konteks ini didapati beberapa hal:

1. Roma Pasal 9-11 merupakan suatu kesatuan yang berbicara mengenai Israel sebagai bangsa pilihan.

Baca selanjutnya…

PENYESATAN TULIP: UNCONDITIONAL ELECTION (Bag. 3)

Sembilan hal yang menyatakan bahwa Allah tidak menetapkan segala sesuatu, dimana hal ini sangat bertentangan dengan konsep Kalvinis yang menyatakan bahwa Allah dalam kedaulatanNya telah menetapkan segala sesuatu.

1. Allah tidak mungkin menetapkan hal yang buruk karena hal yang buruk tidak timbul dalam hatiNya (Yeremia 19:5)

2. Sifat Allah yang Kudus dan tidak mempermainkan manusia. Dalam Yesaya 45:19 “tidak pernah Aku berkata dengan sembunyi atau di tempat bumi yang gelap. Tidak pernah Aku menyuruh keturunan Yakub untuk mencari Aku dengan sia-sia! Aku, TUHAN, selalu berkata benar, selalu memberitakan apa yang lurus” Allah tidak pernah memerintahkan manusia untuk percaya kepadaNya, tetapi Ia sendiri telah menetapkan orang tersebut masuk neraka. Bila hal itu benar, maka Allah membohongi manusia dan telah menyangkal diriNya sendiri. Tentu hal ini tidak akan Allah lakukan.

3. Adanya perbedaan antara Allah ijinkan dengan Allah tetapkan. Seperti kasus Ayub yang Allah ijinkan bukan Allah tetapkan. Kasus Daud dalam II Samuel 24:1 “Tuhan menghasut Daud” bandingkan I Tawarikh 21:1 “Iblis bangkit melawan Israel dengan membujuk Daud” ayat ini sering dipakai oleh kalangan liberal untuk memojokkan orang kristen, bahwa Alkitab salah tulis. Tetapi perlu diketahui, bahwa Allah sering memakai tangan ketiga dengan mengijinkan Iblis menghasut Daud. Ada konsep Allah “mengijinkan”

Baca selanjutnya…

PENYESATAN TULIP: UNCONDITIONAL ELECTION (Bag. 2)

Kedaulatan Allah

Ini adalah konsep Alkitab, karena memang Allah itu berdaulat penuh atas apapun. Kedaulatan Allah juga harus dilihat dari sudut pandang Alkitab karena konsep kedaulatan Kalvinis berbeda dengan konsep Alkitab dan nalar logis manusia. Kalvinis terlalu menekankan kedaulatan tanpa melihat sifat Allah yang lain (Mahakasih, Mahaadil, Mahabenar dan Mahakudus). Bahkan di dalam Alkitab Kekudusan Allah dan Kasih Allah lebih ditekankan daripada Kedaulatan Allah. Kalvinis sering memakai analogi kedaulatan seorang raja yang berkuasa atas negaranya sendiri secara otoriter seperti Saddam Husein atau Hitler. Tetapi harus diingat, bahwa Saddam dan Hitler memakai kedaulatannya untuk hal-hal yang jahat.

Dari sisi kedaulatan Allah, bahwa Ia berdaulat melakukan dan memutuskan apa saja, tetapi selalu disertai Kasih dan KeadilanNya. Kalvinis tidak melihat sifat-sifat Allah yang lain, yang tidak mungkin saling bertentangan. Karena Allah tidak akan melakukan sesuatu hal yang bertentangan dengan diriNya sendiri. Allah tidak akan meminta pertanggunganjawab dari manusia atas dosa-dosanya jika Allah sendirilah yang menjadi sumber dosa atau yang membuat manusia itu berdosa. Bila Allah yang memasukkan dosa ke dalam dunia, maka hal ini akan bertentangan dengan sifat Kekudusan dan kasihNya. Sifat kasih, kekudusan dan keadilan Allah tidak akan memakai kedaulatanNya untuk membuat manusia jatuh dalam dosa. Jadi kedaulatan Allah yang terdapat dalam Alkitab tidak akan bertentangan dengan Kasih, keadilan dan kekudusan Allah. Allah mengijinkan manusia melakukan segala sesuatu, karena manusia diciptakan dengan kehendak bebas yang sejati.

Kaum Kalvinis akan berdalih dan mengatakan bahwa itu adalah hak Allah untuk berbuat ini dan itu menurut kedaulatanNya. Namun yang harus diperhatikan, pokok permasalahannya bukanlah pada Allah berhak atau tidak berhak, tetapi apakah Allah akan seperti itu? Apakah Natur Allah yang Mahakudus, Mahaadil, dan Mahakasih akan berbuat seperti itu? Dengan demikian Allah bukanlah Pribadi yang menyebakan dosa masuk ke dalam dunia. Hanya kelompok Kalvinislah yang berani mengatakan demikian.

Baca selanjutnya…

PENYESATAN TULIP: UNCONDITIONAL ELECTION (Point 2-Bag 1)

27 Februari 2009 Tinggalkan komentar
Hampir semua Kalvinis bergantung kepada point ini. Unconditional Election dibangun atas dasar Total Depravity. Ini merupakan konsekuensi dari kebobrokan total yang dipercayai oleh Kalvinis. Bila manusia tidak bisa merespon, tidak bisa percaya dan tidak bisa melakukan yang baik dan benar, maka tidak ada cara lain yang Allah pakai selain memilih siapa yang Ia suka tanpa melihat kondisinya. Inilah pengertian dari unconditional election. Allah memilih orang untuk masuk Surga tanpa melihat kondisi atau tanpa kondisi. Apakah orang itu jahat, salah dan tidak mengenal kebenaran tidak menjadi patokan bagi Allah asalkan Allah sudah pilih, maka ia pasti masuk Surga.

Benarkah manusia tidak bisa merespon, tidak bisa percaya dan tidak bisa berbuat yang baik?
Pertanyaan ini menentukan kebenaran poin kedua dari Kalvinisme. Bila Total Depravity yang Kalvinis jabarkan salah atau tidak Alkitabiah, maka point kedua ini perlu diragukan. Karena TULIP yang Kalvinis ajarkan adalah doktrin yang saling kait-mengkait satu dengan yang lain. Bila satu salah, maka yang lain juga salah.

Baca selanjutnya…