Beranda > Fundamental > Pembahasan Point 1: BAPTISAN BAYI/ANAK KECIL SUNGGUH MENYESATKAN

Pembahasan Point 1: BAPTISAN BAYI/ANAK KECIL SUNGGUH MENYESATKAN


Alkitab dengan gamblang menyatakan bahwa BAPTISAN diberikan kepada mereka yang menanggapi/percaya berita INJIL . Contoh: Kepala penjara di Filipi, kita membaca, “Lalu mereka memberitakan firman Tuhan kepadanya dan kepada semua orang yang ada di rumahnya.“ (Kisah Para Rasul 16:32). Ini menjelaskan mengapa seisi rumahnya dapat/boleh dibaptis—mereka semua telah cukup umur untuk mendengarkan Firman. Juga, Sida-sida Ethiopia dalam Kisah Para Rasul 8:35-39

8:35 Maka mulailah Filipus berbicara dan bertolak dari nas itu ia memberitakan Injil Yesus kepadanya.
8:36 Mereka melanjutkan perjalanan mereka, dan tiba di suatu tempat yang ada air. Lalu kata sida-sida itu: “Lihat, di situ ada air; apakah halangannya, jika aku dibaptis?”
8:37 Sahut Filipus: “Jika tuan percaya dengan segenap hati, boleh.” Jawabnya: “Aku percaya, bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah.”
8:38 Lalu orang Etiopia itu menyuruh menghentikan kereta itu, dan keduanya turun ke dalam air, baik Filipus maupun sida-sida itu, dan Filipus membaptis dia.
8:39 Dan setelah mereka keluar dari air, Roh Tuhan tiba-tiba melarikan Filipus dan sida-sida itu tidak melihatnya lagi. Ia meneruskan perjalanannya dengan sukacita.

Dalam PB, Baptisan segera menyusul setelah IMAN PRIBADI kepada Kristus digunakan. Dalam gereja mula-mula, TAK SATUPUN orang percaya yang tidak dibaptis. Semua orang Percaya DIBAPTIS sebagai suatu kesaksian terhadap iman mereka.

Surat Barnabas (sekitar tahun 120-130), berisi suatu pasal yang singkat tentang Baptisan Air, tetapi Hanya Baptisan Orang-orang Percaya. ”Kami turun ke dalam air penuh dengan dosa dan kecemaran, dan kami keluar dengan membawa buah dalam hati kami, ketakutan dan pengharapan dalam Yesus di dalam Roh”

Tertullianus, pemimpin gereja Afrika Utara (sekitar tahun 200), menandaskan bahwa anak-anak harus datang untuk dibaptis ketika mereka sudah DEWASA supaya mereka mengerti apa yang sedang mereka lakukan.”oleh karena itu, sesuai dengan keadaan dari watak seseorang, dan juga usianya, maka PENUNDAAN baptisan adalah LEBIH MENGUNTUNGKAN, khususnya dalam hal anak-anak kecil.” Tertullianus, yang berbicara menentang pembaptisan anak kecil, mengacu kepada orang tua baptis atau orang tua dari si Anak yang dibaptis sebagai MUDAH SEKALI membuat Janji-Janji yang GEGABAH ketika mereka mengatakan bahwa anak itu akan menjadi orang Kristen dalam kehidupannya kelak. ”Siapakah yang mengetahui apakah hal ini akan terjadi?” ia bertanya.

Jika membaca sejarah Baptisan Anak/Bayi dalam sejarah gereja, penuh dengan unsur MISTIK/SAKRAMENTAL—kalo Bayi/Anak itu mati pasti masuk surga karena sudah dibaptis, Baptisan Bayi/Anak untuk menghapus Dosa Asal dan politis (pembaptisan anak kecil menjadi mata rantai yang mempersatukan gereja dan Negara, setiap anak yang dibaptis menjadi orang Kristen dan anggota kerajaan Romawi sekaligus)

Karl Barth, teolog terkenal dari Swiss, mengakui bahwa motivasi sesungguhnya dibalik Baptisan Anak adalah KONSTANTIN-isme, yakni kesatuan gereja dan Negara. Ketika berbicara mengenai para Reformator yang berpegang pada Baptisan Anak Kecil, ia mengatakan,“Orang-orang pada waktu itu tidak mau melepaskan, karena cinta atau uang, keberadaan gereja Injili dalam bentuk corpus Christianum Konstantinian. Ketika gereja menghentikan pembaptisan anak kecil, gereja Rakyat dalam arti gereja Negara atau gereja Massa berakhir.“ Barth menjelaskan bahwa Alkitab mengajarkan gereja Kristen merupakan suatu minoritas; bila semua orang diikutsertakan didalamnya, maka akibatnya adalah kesakitan bukan kesehatan. Ia mengakhiri dengan berkata bahwa, ”sudah saatnya untuk mengumumkan bahwa suatu pencarian yang urgen untuk bentuk yang lebih baik dari praktik baptisan kita sudah lama dinanti-nantikan.”

Ulrich Zwingli, pengkhotbah dan reformator dari Zurich, mempunyai KERAGUAN YANG SERIUS tentang Pembaptisan Anak Kecil. Ia Mengaku, ”Tak ada yang lebih menyedihkan saya daripada bahwa saat ini saya harus membaptiskan anak-anak kecil karena SAYA TAHU HAL ITU SEHARUSNYA TIDAK DILAKUKAN.” Ia menyadari bahwa pembaharuan yang menyeluruh dalam gereja akan berarti menghentikan kebiasaan itu. Ia mengatakan lagi,”Saya tidak menyinggung hal baptisan, saya tidak menyebutnya benar atau salah; jika kita harus membaptis seperti YANG TELAH DITETAPKAN oleh KRISTUS, maka kita TIDAK AKAN MEMBAPTIS seorang pun sebelum Ia MENCAPAI USIA yang memperlihatkan kebijaksanaan; karena DIMANAPUN TIDAK TERTULIS bahwa Pembaptisan Anak Kecil harus dilakukan.”

Namun sayangnya, Zwingli mengubah pikiran karena alasan keadaan politik waktu itu yang kuatir kacau (timbul gejolak sosial) karena gerakan Anabaptis (kelompok Kristen yang membaptis ulang) yang SANGAT TIDAK SETUJU dengen BAPTISAN BAYI/ANAK KECIL karena pola Perjanjian Baru yaitu gereja terdiri atas orang-orang percaya yang dibaptis.

Dalam soal Baptisan Anak Kecil, Luther dan Zwingli berpihak pada Gereja Roma. Zwingli, misalnya, mengerti apabila ia sampai berpihak pada para Anabaptis, ia akan membangkitkan ketidaksenangan Negara. Ia berkata, ”Akan tetapi, jika saya sampai menghentikan praktik itu (Baptisan Bayi/Anak Kecil), maka saya khawatir saya akan kehilangan gaji tetap saya dari berkhotbah”. Tetapi terlebih penting, ia memandang para Anabaptis sebagai pengacau tatanan sosial.

Perkataan Luther agak tidak masuk akal tentang Baptisan Bayi/Anak kecil. Luther tidak menghentikan Praktik pembaptisan anak kecil. Luther juga menyetujui pemusnahan para Anabaptis. Luther terjepit ditengah-tengah topik tentang Baptisan Anak. Ia ingin berpegang pada dua doktrin yang bertentangan, yakni pembenaran oleh iman dan kepercayaan bahwa anak-anak kecil dilahirbarukan oleh Baptisan. Dalam suatu khotbah ia mengemukakan jika seseorang menganggap bahwa anak-anak kecil yang telah dibaptis itu tidak percaya, ia harus menghentikan perbuatan itu, ”supaya kita tidak lagi menghina dan menghujat kemuliaaan Allah yang mahatinggi dnegan tindakan gila-gilaan dan ketololan yang tidak beralasan.” Sungguh Ketidakkonsistenan dan Dilema bagi Luther.

Kelompok PAEDOBAPTIS (yang pro/melakukan praktik Baptisan Anak Kecil) mempunyai masalah. Beberapa anak ini ketika dewasa tidak memeluk iman Kristen, tetapi menjadi berandal. Untuk menghadapi dilema ini, upacara“masuk sidi“ ditetapkan supaya seorang anak dapat meneguhkan keputusan yang telah dibuat oleh orang tuanya. Paul K. Jewett menjelaskan bahwa perlunya praktik ini hanya dapat berarti salah satu dari dua hal: mujizat lahir baru yang dikerjakan lewat baptisan anak kecil itu DIBATALKAN ketika anak itu Dewasa/Akil Balik, atau Upacara masuk sidi“ itu adalah Pengakuan secara diam-diam bahwa anak itu sebenarnya TIDAK PERNAH DILAHIRBARUKAN.

Bagaimana dengan John Calvin? Seperti Zwingli, ia menemukan hubungan analogis antara tanda sunat dari Perjanjian Lama dan Tanda Baptisan dari Perjanjian Baru. Calvin mengakui bahwa Alkitab tidak pernah mencatat Pembaptisan seorang anak kecil.

Perbandingan Tanda SUNAT dan Tanda BAPTISAN, TIDAK TEPAT karena Perjanjian yang Baru berbeda sekali dengan perjanjian yang lama. Memang benar bahwa sunat secara rutin dijalankan dalam perjanjian Lama, baik yang beriman atau tidak. Sunat merupakan tanda dari berkat-berkat perjanjian yang hanya dapat diterima sepenuhnya oleh seorang anak apabila ia memiliki iman pribadi setelah ia cukup umur. (bagian ini belum selesai diketik)

Seperti Luther, Calvin bergumul dengan masalah bagaimana baptisan dapat berguna bagi seorang anak kecil yang tak dapat percaya. Ia mengatakan bahwa mungkin Allah sebelumnya telah melahirbarukan anak-anak kecil yang akan diselamatkan. Para kritikus mengatakan, jika hal ini benar, maka anak-anak tak akan dilahirkan “di dalam Adam“ melainkan “di dalam Kristus.“ Kesimpulan ini tidak diterima secara luas.

Calvin mengeluarkan teori yang lebih baik dari teori Mistik Baptisan Anak. Baptisan tidak mengakibatkan kelahiran kembali anak-anak kecil tetapi hanya bearti bahwa“benih-benih pertobatan terdapat di dalam anak-anak melalui pekerjaan yang rahasia dari Roh Kudus.“ Mereka dibaptis dalam iman dan pertobatan yang akan datang. Ini tidak berarti bahwa anak-anak yang tidak dibaptis harus diserahkan untuk kematian kekal jika mereka mati pada masa anak-anak. Baptisan tidak mengakibatkan kelahiran baru, tapi hanya berarti bahwa “benih-benih pertobatan“ itu ada.

Erwin W. Lutzer menyarankan Baca juga buku Paul K Jewett, Infant Baptism and the Covenant of Grace, Grand Rapids: Eerdmans, 1977. Karya ini memuat sejarah yang rinci tentang doktrin baptisan anak kecil dan menyimpulkan bahwa BAPTISAN ANAK KECIL, BERTENTANGAN dengan ajaran Perjanjian Baru. Buku ini sangat ilmiah. Buku ini menarik karena ditulis oleh seorang teolog perjanjian (Covenant Teolog), yang dididik untuk menerima Baptisan Anak Kecil. Ini merupakan bacaan yang perlu dibaca oleh barangsiapa yang menaruh minat pada doktrin yang controversial ini.

dirangkum dari buku Teologi Kontemporer, Erwin W. Lutzer, Malang: Gandum Mas, Cetakan ketiga 2005.
(ALL ONE BODY-WHY DON’T WE AGREE?)

kesimpulan: BAPTISAN BAYI/ANAK SUNGGUH MENYESATKAN dan Para Gembala/Pendeta/ Penatua/Penilik Jemaat dan Gereja yg menerapkan PAEDOBAPTIS perlu bertobat dan mengubah KESALAHAN FATAL ini.

Tidak ada Gereja yg Sempurna, itu benar. Ada Gereja Yang Lebih Benar, itu Benar.

About these ads
  1. mr thomasaquinas
    19 November 2008 pukul 3:06 AM | #1

    Baptis merupakan langkah pertama dan utama menjadi seorang Kristen. Baptis merupakan sakramen. Artinya, “bahasa isyarat” dari Tuhan. Bahasa isyarat seringkali berbicara lebih kuat dari bahasa-bahasa lain manapun. Sebab bahasa isyarat sifatnya universal. Dalam sakramen, Tuhan mempergunakan benda-benda biasa seperti air, roti, minyak dan juga tindakan-tindakan tertentu untuk berbicara secara langsung kepada jiwa kita. Tidak seperti bahasa isyarat lainnya, bahasa isyarat Tuhan mempunyai kuasa untuk mengubah orang yang menerimanya.

    BAHASA ISYARAT TUHAN

    Mengejutkan bahwa bahasa isyarat dalam Sakramen Baptis bukan hanya air, tetapi juga tindakan mencelupkan atau menenggelamkan. Ketika kalian mencelupkan sesuatu ke dalam suatu cairan, maka entah cairannya atau sesuatu yang kalian celupkan itu akan berubah. Misalnya, jika kalian mencelupkan sepotong kain yang terkena noda ke dalam cairan pencuci, maka cairan tersebut akan melenyapkan noda yang menempel pada kain. Kita semua dilahirkan ke dalam dunia yang telah ternoda oleh ketidakacuhan dan ketamakan. Itulah yang disebut “Dosa Asal”.

    Dalam Sakramen Baptis, air dituangkan atas kita. Hasilnya sama. Kita secara perlahan-lahan dilebur menjadi satu dalam Kristus, namun kita tidak kehilangan identitas pribadi kita. Kita mempersatukan hidup kita dengan hidup-Nya. Kita menjadi bagian dari-Nya dan Ia menjadi bagian dari kita. Pembaptisan hanyalah merupakan awal dari suatu proses sepanjang hidup untuk bersatu dengan Yesus. Hendaknya kita tidak hanya mempersatukan diri dengan-Nya secara fisik, tetapi juga secara mental dan spiritual juga. Doa, membaca Kitab Suci dan menerima sakramen-sakramen merupakan bagian dari proses tersebut.

    Dengan kata lain, Baptis bukan hanya sekedar upacara belaka. Baptis merupakan awal dari usaha sepanjang hidup untuk berubah agar dapat bersatu dengan Yesus. Tujuan akhirnya adalah kita akan berbagi hidup dan kuasa dengan-Nya di dunia ini dan kelak selama-lamanya di surga.

    ASAL MULA SAKRAMEN BAPTIS

    Apabila kita berbicara tentang pembaptisan, biasanya pikiran kita langsung tertuju kepada Yesus. Baptis sendiri sesungguhnya sudah ada lama sebelum Yesus. (Tetapi, Ia mengubahnya dan memberinya kuasa baru!).

    ASAL MULA PEMBAPTISAN MENURUT KITAB SUCI

    Berabad-abad sebelum Kristus, umat dalam Perjanjian Lama percaya bahwa segala bentuk kontak dengan dunia luar mencemarkan mereka. Sebelum mereka boleh makan atau berdoa, terlebih dahulu mereka harus membersihkan diri. Hal ini tampak nyata ketika mereka berdoa pada hari Sabat.

    Orang-orang Yahudi wajib membersihkan diri mereka dalam suatu kolam ritual yang disebut mikveh. Kolam tersebut harus diisi dengan air yang mengalir (kadang-kadang disebut “air hidup”) dan mereka harus menenggelamkan diri sepenuhnya ke dalam air. Mereka juga memerlukan seseorang untuk menjadi saksi dalam upacara ini. Kaum pria wajib melakukannya setiap hari Jumat malam, sementara kaum wanita melakukannya hanya sebulan sekali. Banyak orang Yahudi yang saleh masih melakukan praktek ini.

    PEMBAPTISAN YESUS

    Yohanes Pembaptis – sepupu Yesus – mengajarkan bahwa orang tidak perlu melakukan ritual pembasuhan diri setiap minggu. Ia mengatakan bahwa satu kali upacara pembersihan diri saja sudah cukup untuk mempersiapkan diri bagi kedatangan sang Juruselamat, asalkan mereka mengubah cara hidup mereka yang lama.

    Baptisan Yohanes hanya merupakan simbol perubahan; baptisan itu sendiri tidak mempunyai kuasa untuk melakukan perubahan-perubahan tersebut. Yesus menambahkan kuasa ini ketika Yohanes membaptis-Nya di Sungai Yordan.

    “Ia membaptis Kristus, yang berkuasa atas pembaptisan, dalam air yang dijadikan kudus oleh Dia yang dibaptis.” ~ Prefasi pada Pesta St. Yohanes Pembaptis

    Yesus berkata kepada para murid-Nya:

    “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu.” ~ Matius 28:18-20

    PEMBAPTISAN PADA MASA GEREJA PERDANA

    Gereja Perdana melaksanakan pembaptisan dalam beberapa cara. Karena sebagian besar yang dibaptis adalah orang dewasa, pembaptisan yang umum adalah dengan membenamkan orang yang dibaptis ke dalam air. Peristiwa itu akan mengakibatkan perasaan tenggelam sesaat. Jadi, ketika mereka yang dibaptis muncul kembali dari air, mereka akan mengalami rasa bangkit dari mati. Hal ini melambangkan keikutsertaan dalam kebangkitan Yesus sendiri.

    Di kemudian hari, ketika pembaptisan dilakukan atas bayi-bayi juga, terjadi perubahan dalam cara pembaptisan yaitu dengan menuangkan air. Gereja-gereja lain menolak gagasan pembaptisan bayi. Gereja Katolik mempraktekkannya seturut sabda Yesus, “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka…” Dikisahkan juga dalam Kitab Suci mengenai pembaptisan seluruh anggota keluarga.

    “Seketika itu juga ia [kepala penjara di Troas] dan keluarganya memberi diri dibaptis.”
    Kisah Para Rasul 16:33

    “Aku akan mencurahkan kepadamu air jernih, yang akan mentahirkan kamu; dari segala kenajisanmu dan dari semua berhala-berhalamu Aku akan mentahirkan kamu.”
    Yehezkiel 36:25

    UPACARA PEMBAPTISAN

    Sakramen Baptis menyangkut lebih dari sekedar mencelupkan atau menenggelamkan ke dalam air. Gereja menambahkan bahasa-bahasa isyarat lain guna mempertegas maknanya. Berikut ini gambaran dari suatu upacara pembaptisan bayi. Upacara baptis dewasa tak jauh berbeda.

    Dua dari bahasa isyarat dalam Sakramen Baptis terdiri dari “mengurapi” atau mengoleskan minyak. Para orangtua biasa mempergunakan baby oil untuk melindungi bayi mereka. Minyak tersebut berguna untuk membersihkan kulit bayi tanpa menjadikannya kering dan juga untuk melindungi bayi dari kuman-kuman. Sebelum pembaptisan, imam menandai dahi bayi dengan Tanda Salib. Sesudah pembaptisan, imam mengurapi dahi bayi dengan minyak krisma – suatu campuran minyak dan balsem wangi – dengan membuat Tanda Salib. Kata “Kristus” berarti “yang diurapi dengan minyak” dan dengan demikian anak tersebut sungguh sudah menjadi seorang Kristus.

    Bahasa isyarat lainnya adalah baju atau kain putih yang dikenakan imam pada si bayi. Praktek ini dimulai ketika umat Kristen Perdana seluruhnya ditenggelamkan ke dalam air dalam upacara pembaptisan. Mereka akan melepaskan baju luar mereka sebelum upacara dan sesudahnya mengenakan baju yang baru. Sebagian keluarga mewariskan baju baptis dari generasi ke generasi.

    Bahasa isyarat terakhir dinyatakan dengan pemberian lilin menyala kepada orangtua bayi. Lilin menyala melambangkan Kristus yang telah bangkit dengan mulia.

    WALI BAPTIS

    Setiap calon baptis harus mempunyai Wali Baptis, namun demikian hal ini bukan demi sahnya pembaptisan. Tanpa wali baptis, pembaptisan tetap sah. Wali Baptis memiliki dua peran utama:
    1. Saksi upacara pembaptisan; 2. Melindungi anak baptis.

    Saksi Upacara Pembaptisan

    Dalam Pembaptisan, wali baptis bertindak sebagai wakil umat / jemaat. Oleh karena itu, biasanya ada beberapa persyaratan yang bersifat umum yang ditetapkan oleh gereja setempat untuk para wali baptis ini.

    Melindungi Anak Baptis

    Peran kedua membutuhkan jauh lebih banyak keterlibatan, yaitu hubungan yang berkelanjutan dengan si anak. Mungkin kita menginginkan seorang teman atau sanak-saudara yang tinggal jauh untuk menjadi wali baptis, tetapi sungguh lebih baik memilih wali baptis yang dapat bertemu dengan anak secara teratur.

    Ketika anak merayakan hari pembaptisannya, wali baptis hendaknya ikut ambil bagian. Wali baptis adalah orang yang dianggap tepat untuk menjadi penjamin pada Sakramen Penguatan ketika anak sudah cukup besar untuk menerimanya. Jika sesuatu terjadi yang menghalangi orangtua untuk membesarkan anaknya dalam iman Katolik, wali baptis mempunyai tanggung jawab untuk memastikan bahwa anak memperoleh pendidikan iman yang diperlukan.

    Apabila kita hendak memilih seseorang untuk menjadi wali baptis bagi anak, patutlah kita mempertimbangkan hal-hal berikut ini. Apakah ia dapat menjalin hubungan yang berkelanjutan dengan anak? Apakah mereka merupakan teladan yang baik? Apakah mereka dapat membantu dalam membesarkan anak dalam iman? Apakah mereka dapat bertindak sebagai penjamin dalam Sakramen Penguatan?

    PENTING BAGI PARA ORANGTUA

    Ketika seorang bayi / anak dibaptis, keputusan untuk menjadi orang Katolik merupakan keputusan orangtua. Gereja mengijinkan pembaptisan anak-anak karena tanggung-jawab iman anak ada dalam tangan orangtua berkat Sakramen Perkawinan. Maka, tugas utama orangtua adalah membantu anak supaya perlahan-lahan keputusan untuk menjadi orang Katolik adalah keputusan pribadinya. Tugas ini berat, sehingga Gereja menganjurkan perlu adanya wali baptis. Artinya, tugas lain dari wali baptis adalah ambil bagian dalam tugas dan tanggung jawab orangtua tersebut.

    CATATAN TENTANG SAKRAMEN BAPTIS

    Pada umumnya hanya seorang uskup, imam atau diakon tertahbis yang dapat membaptis seorang menjadi Katolik. Tetapi, dalam keadaan darurat, siapa pun dapat dan wajib melakukannya.

    Ada tiga bentuk pembaptisan: dengan air, dengan darah (martir), dan dengan kerinduan (seseorang yang rindu menerima pembaptisan, tetapi meninggal dunia sebelum sempat menerimanya).

    Air baptis biasanya diberkati pada Malam Paskah, yaitu malam sebelum Minggu Paskah.

    Jemaat Kibbutz Yahudi mendirikan suatu tempat pembaptisan bagi umat Kristiani, letaknya sebelah selatan Danau Galilea. Siapa pun diperkenankan untuk mempergunakannya secara cuma-cuma.

    Sebanyak kurang lebih 3.000 orang ikut ambil bagian dalam pembaptisan masal pada hari Pentakosta yang pertama.

    sumber : “The Sacramental Gazette, Baptism: What is it?”; Rm Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; http://www.catholic1.com

    Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: http://www.indocell.net/yesaya atas ijin Fr. Richard Lonsdale.”

  2. 12 Oktober 2010 pukul 4:03 AM | #2

    SEBAGAI Umat katolik sangat berbahagian atas pertanggungjawaban iman katolik tentang b sakramen babtis. ketika saya membaca judul pembatisan baayi/anak sangat menyesatkan . pertama saya rasa kecut juga, Sahabat protestan melihat diri sendiri benar. mestinya semua umat kristiani harus bersatu padu untuk memahami, alkitab. satu alkitab tidak baca semua lalu fitnah gereja katolik melulu. apa yang teman – teman mau dari gereja katolik. Profesi sebagai pendeta, penatua, majelis dan lain-lain tugas dalam protestan itu sebagai perutusan untum membawa kabar sukacita surgawi ke ujung-ujung dunia. Jangan menohok melulu.. belajar alkitab jangan memaksa Tuhan kasih Bahasa Roh…nanti bisa salah mengajar .. Jadi fitnah melulu.

  3. 13 Oktober 2010 pukul 7:21 AM | #3

    Ambrosius, Baca dan Pelajari Alkitab. Tidak Tercatat Anak Kecil diBAPTIS (MASUK KE DALAM AIR DAN KELUAR DARI AIR), kalo diPERCIK memang banyak di Gereja KATOLIK dan PROTESTAN. Ikuti Teladan Yesus dalam BAPTISAN, SIDA2 ETHIOPIA, Para orang yg dibaptis YOHANES, semua adalah yang sudah AKIL BALIK dan MENGAKU PERCAYA kepada YESUS. Bayi atau Anak kecil belum bisa MENGAKU PERCAYA.

  4. sammy
    16 Oktober 2010 pukul 4:35 AM | #4

    Sdr Dede ytk,
    mohon ijin bergabung dalam diskusi ini.
    Jujur saya bukan seorang yg rajin membaca Alkitab dan punya waktu mempelajari Alkitab secara khusus dan mendalam seperti Sdr Dede. Saya juga tidak akan beradu argumen apa baptisan bayi itu alkitabiah atau tidak…menyesatkan atau tidak??? Saya hanya mengajukan satu tanggapan sederhana ini…jika Sdr. Dede meyakini bahwa baptisan bayi dan tata cara pelaksanaannya sangat menyesatkan krn tidak sesuai dengan apa yang tertulis dalam Alkitab…saya juga meragukan baptisan yang Sdr. Dede terima…apa Sdr Dede dibaptis persis seperti yang ada dalam Alkitab…tidak kan??? Karena menurut saya, jika ingin baptisan itu tidak menyesatkan dan alkitabiah…maka semua orang yang menyebut dirinya kristen harus bisa dibaptis dengan air sungai yordan (mengikuti teladan Yesus), atau air sungai yang disebut dalam Alkitab (mengikuti teladan org2 kristen awal/perdana). Kalau bukan dibaptis di sungai yordan atau sungai2 yg disebutkan dalam alkitab…baptisan sdr juga menyesatkan dan tidak alkitabiah.

  5. 18 Oktober 2010 pukul 8:01 AM | #5

    @Sammy, Sida2 Ethiopia tidak dibaptis di SUngai Yordan, malah di Baptis di Gurun Pasir. Jadi BAPTIS tidak HARUS di SUNGAI YORDAN, atau di SUNGAI. di Laut juga boleh, di kamar mandi juga boleh, di kolam renang juga boleh, dll yg penting MASUK KE DALAM AIR dan KELUAR DARI AIR.

    Baptisan YANG BENAR HARUS MEMEMUHI 3 SYARAT: ORANGNYA HARUS BENAR (Bertobat dan PERcaya kpd Yesus sbg Tuhan dan Juruselamat), CARANYA HARUS BENAR (MASUK KE DALAM AIR dan KELUAR DARI AIR), GEREJA (JEMAAT) yang MEMBAPTIS harus GEREJA ALKITABIAH (yg menerapkan DOKTRIN2 yg ALKITABIAH). Jika sudah memenuhi 3 SYARAT itu, Maka Baptisanmu sudah BENAR.

  6. Stenley Setiawan
    13 November 2010 pukul 8:45 AM | #6

    Lebih dari sepuluh tahun saya meneliti topik mengenai baptisan dan lebih dari seribu literatur dan buku telah saya baca untuk mencari tahu cara baptisan manakah yang benar yang sesuai dengan Alkitab.

    Yang saya temukan adalah: tidak adanya bukti sedikitpun dari Alkitab dan sejarah yang mendukung baptisan bayi dan percik. Tidak ada bukti literatur dari sejarawan adad pertama dan kedua yang mendukung para rasul dan jemaat mula-mula mempraktikkan baptisan bayi dan percik.

    Semua alasan dan argumen yang diberikan para pendukung baptisan bayi dan percik sama sekali tidak logis dan tidak jujur.

  7. 25 Agustus 2011 pukul 12:21 PM | #7

    TERNYATA SOAL BAPTISAN ANAK-ANAK PADA DASARNYA BERUPA TAFSIRAN DEMI TAFSIRAN DARI AYAT-AYAT ALKITAB.

    KATA SESAT DAN MENYESATKAN PUN CUMA PENDAPAT TAFSIRAN YANG DIDASARI NAFSU PEMBENARAN DIRI.

    OLEH KARENA DI DALAM ALKITAB TIDAK ADA KATA HURUFIAH “SEORANG ANAK TIDAK BOLEH DIBAPTISKAN,” DAN TIDAK ADA KATA “SEORANG ANAK BOLEH DIBAPTISKAN,” MAKA KESIMPULANNYA SEORANG ANAK BOLEH DITUNDA PEMBAPTISANNYA SAMPAI ANAK ITU DEWASA DAN ATAS KESADARANNYA SENDIRI MAU MENERIMA BAPTISAN, ATAU SEORANG ANAK BOLEH DIBAPTIS SEBAGAI ANAK YANG BERHAK JUGA MENERIMA ANUGERAH ALLAH.

    JADI TERGANTUNG TAFSIRAN MASING-MASING ORANG DALAM MEMANDANG BAPTISAN ANAK.

  8. 26 Agustus 2011 pukul 5:02 AM | #8

    MANA YANG LEBIH BAIK? MENERIMA BAPTISAN ANAK LEBIH BAIK DARI PADA MENOLAK BAPTISAN ANAK.

  9. 26 Agustus 2011 pukul 10:27 AM | #9

    Lebih baik ketika anak sudah akil baliq, maka BAPTISlah karena dia sudah dapat mengerti Firman Tuhan dengan kesadaran diri.

  10. 26 Agustus 2011 pukul 10:28 AM | #10

    Kim Hong, kesimpulan pertama anda TEPAT!

  11. Kim Hong Nathan
    2 September 2011 pukul 3:17 AM | #11

    Dede, KESIMPULAN KEDUA SAMA TEPATNYA dengan kesimpulan pertama. Dan kesimpulan kedua LEBIH BAIK dari kesimpulan pertama.

  12. 5 September 2011 pukul 11:06 PM | #12

    Aduh hari gini masih aja muter2 di masalah baptisan……

    Apakah Baptisan menyelamatkan?
    Tidak cukupkah hanya karena Iman saja (Sola Fide)?
    Apakah Keselamatan perlu ditambah dengan syarat baptisan, ordonansi/peraturan yang diperintahkan Tuhan atau istilah yg terlanjur salah kaprah “Sakramen”?.

    Bila sepintas membaca bagian Alkitab, seakan-akan ada ayat-ayat yang mengajarkan bahwa Baptisan dapat menyelamatkan. 4 Ayat utama semacam itu ialah,

    “Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.” (Mrk 16:16);

    “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia, yaitu Roh Kudus.” (Kis 2:38);

    “Bangunlah, berilah dirimu dibaptis dan dosa-dosamu disucikan dengan berseru kepada nama Tuhan!” (Kis 22:16);

    dan “Juga kamu sekarang diselamatkan oleh kiasannya, yaitu baptisan” (I Ptr 3:21).

    Ayat2 di atas dari Terjemahan Baru-2 untuk PB LAI.

    Tetapi dalam semua hal ini, iman harus ada terlebih dulu dan lebih utama. Urutannya menurut Alkitab ialah diawali dengan sebuah pertobatan disusul dengan kepercayaan lalu barulah baptisan.
    Pernyataan Yohanes Pembaptis, “Aku membaptis kamu dengan air SEBAGAI TANDA pertobatan” (Mat 3:11) memiliki susunan kalimat Yunani yang sama dengan perkataan Petrus, “…memberi dirimu dibaptis… untuk pengampunan dosamu” (Kis 2:38). Pastilah, Yohanes menganggap bahwa pertobatan terjadi lebih dahulu; dan demikian juga, pengampunan terjadi lebih dahulu sebelum baptisan. Alkitab sangat jelas bahwa penyucian dari dosa bukanlah hasil baptisan (Kis 15:9; I Yoh 1:9), tetapi bahwa tindakan baptisan itu berkaitan erat sekali dengan tindakan iman sehingga sering kali keduanya diungkapkan sebagai satu tindakan.

    Baptisan bukan saja melambangkan penyatuan orang yang bertobat dengan Kristus, baptisan juga merupakan sarana lahiriah untuk menyatakan bahwa orang yang bertobat itu sudah diterima menjadi anggota jemaat lokal. Pada waktu ia menjadi anggota tubuh Kristus, ia juga harus menghubungkan diri dengan jemaat lokal. Bila seseorang menanggapi panggilan keselamatan, maka sama seperti yang dilakukan oleh orang-orang percaya di Perjanjian Baru, ia harus dibaptis dan secara resmi menjadi anggota masyarakat Kristen (Kis 2:41).

    Kis 16:31 berkata “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.” Dan Paulus BUKAN berkata: “Percayalah dan Baptislah… maka engkau akan selamat” seandainya Baptisan menyelamatkan, Paulus pasti akan mengatakan dengan tegas dan jelas.

    (Yoh 6:65) Lalu Ia berkata: “Sebab itu telah Kukatakan kepadamu: Tidak ada seorangpun dapat datang kepada-Ku, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya.”

    Selamat yg menetapkan adalah Allah Bapa dan sebagai respon atas penetapan keselamatan itu adalah Iman percaya kepada Yesus.

    SEBAGAI SESAMA ORANG KRISTEN BERHENTILAH KALIAN SALING MENGHAKIMI DENGAN MENGATAKAN KRISTEN LAIN ADALAH “SESAT”.

    GBU

  13. Kim Hong Nathan
    7 September 2011 pukul 4:21 PM | #13

    Andreas, trims komentarnya. Ada baiknya saya ulang pendapat saya di atas:

    TERNYATA SOAL BAPTISAN ANAK-ANAK PADA DASARNYA BERUPA TAFSIRAN DEMI TAFSIRAN DARI AYAT-AYAT ALKITAB.

    KATA SESAT DAN MENYESATKAN PUN CUMA PENDAPAT TAFSIRAN YANG DIDASARI NAFSU PEMBENARAN DIRI.

    OLEH KARENA DI DALAM ALKITAB TIDAK ADA KATA HURUFIAH “SEORANG ANAK TIDAK BOLEH DIBAPTISKAN,” DAN TIDAK ADA KATA “SEORANG ANAK BOLEH DIBAPTISKAN,” MAKA KESIMPULANNYA SEORANG ANAK BOLEH DITUNDA PEMBAPTISANNYA SAMPAI ANAK ITU DEWASA DAN ATAS KESADARANNYA SENDIRI MAU MENERIMA BAPTISAN, ATAU SEORANG ANAK BOLEH DIBAPTIS SEBAGAI ANAK YANG BERHAK JUGA MENERIMA ANUGERAH ALLAH.

    JADI TERGANTUNG TAFSIRAN MASING-MASING ORANG DALAM MEMANDANG BAPTISAN ANAK.

    Anda betul! Soal tafsiran yang yang berbeda satu orang dengan satu orang yang lainnya tidak otomatis yang berbeda dengan kita adalah orang sesat dan menyesatkan!

    KONTEKS DEDE WIJAYA MEMBERI PERNYATAAN SESAT DAN MENYESATKAN DALAM PERBEDAAN PANDANGAN TEOLOGIA MEMANG SANGAT BERLEBIHAN.

    semoga dia segera sadar!

  14. Kim Hong Nathan
    30 September 2011 pukul 3:39 PM | #14

    http://gkipi.org/isu-baptisan-percik-dan-baptisan-ulang/

    Isu Baptisan Percik Dan Baptisan Ulang

    Tayang: Minggu, 2 Januari 2011 · Kometar:6
    “Baptism is an unrepeatable act. Any practice which might be interpreted as ‘re-baptism’ must be avoided.”
    (WCC, Baptism, Eucharist and Ministry, 1982, no. 13)
    “Oleh karena itu, di dalam menerima perpindahan keanggotaan gereja dari warga gereja di lingkungan PGI, kami tidak melakukan pembaptisan ulang, melainkan hanya mengumumkannya di dalam kebaktian jemaat.”
    (PGI, Piagam Saling Mengakui dan Saling Menerima, 1989, Bab V)

    Baptisan Kudus sebagai Tanda dan Meterai
    Di dalam gereja-gereja Protestan arus utama, baptisan kudus merupakan satu dari dua sakramen yang diakui. Sakramen yang lain adalah perjamuan kudus. Sakramen diyakini sebagai tanda dan meterai keselamatan dari Allah. Sebagai tanda dan meterai, sakramen tidak memiliki efek keselamatan pada dirinya sendiri. Allahlah yang menyelamatkan melalui anugerah-Nya. Namun, keselamatan yang dianugerahkan itu memerlukan tanda yang kelihatan dan meterai yang membuktikan keselamatan tersebut. Dan itulah fungsi dari sakramen. Atau dengan meminjam kata-kata Agustinus, yang juga dipakai oleh Calvin, sakramen adalah “tanda yang kelihatan dari anugerah yang tak kelihatan” (visible form of an invisible grace).

    Sebagai tanda dan meterai, sakramen tidak punya makna apa-apa pada dirinya sendiri. Ia punya arti sejauh diletakkan dalam konteks rahmat dan janji Allah. Prinsip ini teramat penting untuk menyiasati pertikaian yang eksesif (berlebihan) seputar cara baptisan (selam atau percik) atau seputar siapa yang boleh dibaptis (anak-anak dan dewasa). Hendaklah dalam percakapan ini kita senantiasa mengingat bahwa dalam teologi Protestan rahmat Allah itulah yang terpenting–fokus padanya tak boleh dibelokkan oleh percakapan yang justru memeras energi kita secara berlebihan.

    Percik sebagai Cara Baptisan Kudus
    Sejak awal saya harus memberi peringatan bahwa bagi gereja kita (GKI) cara baptisan bukanlah isu yang mendasar. Yang jauh lebih penting adalah makna apa yang mau dibawa oleh cara baptisan. Akan tetapi, di dalam kenyataannya, perdebatan mengenai cara selalu memanas karena sekelompok Kristen memang sangat mementingkan cara baptisan sebagai pengesah baptisan itu sendiri. Sikap mereka berujung pada praktik penolakan baptisan percik yang sudah diterima oleh seorang Kristen yang pindah ke gereja mereka. Maka terjadilah pembaptisan ulang. Tentu saja, bagi mereka, tidak terjadi pembaptisan ulang karena apa yang disebut “baptisan percik” tidak bisa dianggap sebagai baptisan sama sekali, sehingga mereka untuk pertama kalinya membaptis (dengan cara yang benar, yakni pembaptisan selam). Praktik ini tentu saja melukai kesatuan gereja-gereja Tuhan.
    Maka dari itu, kita yang tidak menganggap cara baptisan memengaruhi keabsahan sebuah baptisan mau tidak mau harus memasuki perdebatan tersebut dan menunjukkan bahwa cara percik pun memiliki keabsahan secara alkitabiah. Bahkan–yang mengejutkan!–kita pun bisa membuktikan bahwa justru baptisan perciklah yang diindikasikan oleh Alkitab dan gereja mula-mula sebagai cara yang dipakai sejak dulu; bukan baptisan selam.

    Yohanes Pembaptis dan Baptisan Yesus

    Banyak pendukung baptisan selam menyatakan bahwa pembaptisan yang diterima oleh Yesus dari Yohanes Pembaptis merupakan baptisan selam, sebab Yesus dibaptis di sungai Yordan dan Alkitab menyatakan bahwa Yesus “keluar dari air” (Mat. 3:16; Mrk. 1:10). Mereka juga mengatakan bahwa catatan mengenai baptisan pertama kali muncul di dalam Perjanjian Baru di dalam sosok Yohanes Pembaptis. Itu sebabnya, dengan mengacu pada praktik baptisan yang dijalani Yesus menurut tafsiran mereka, mereka menegaskan bahwa selam merupakan cara baptisan yang absah. Kita akan membahas nanti makna “keluar dari air.” Namun, sekarang, kita perhatikan terlebih dahulu praktik pembaptisan yang dilakukan oleh Yohanes Pembaptis.

    Argumen di atas benar ketika dikatakan bahwa Perjanjian Baru mencatat baptisan pertama kali dalam hubungannya dengan Yohanes Pembaptis. Namun, tidaklah tepat jika dikatakan bahwa Yohanes Pembaptislah yang memulai ritual pembaptisan. Atribut “Pembaptis” tidak berarti bahwa ia penemu ritual pembaptisan, namun sekadar menyatakan apa yang dia lakukan–membaptis. Terhadap praktik membaptis yang dilakukannya, orang-orang Farisi bertanya penuh selidik tentang siapakah Yohanes Pembaptis; apakah ia nabi Elia ataukah seorang nabi yang akan datang. Dan Yohanes menjawab: Bukan! (Yoh. 1:21). Terhadap penolakan Yohanes itu, orang-orang Farisi kemudian bertanya, “Mengapakah engkau membaptis, jikalau engkau bukan Mesias, bukan Elia, dan bukan nabi yang akan datang?” (1:25). Pertanyaan ini mengindikasikan sebuah pemahaman di kalangan orang-orang Yahudi bahwa kitab suci mereka (Perjanjian Lama) memang menubuatkan seorang nabi yang akan membaptis.

    Pertanyaannya, di manakah diindikasikan secara tersurat di dalam Perjanjian Lama bahwa akan datang Mesias atau Elia atau seorang nabi yang akan melakukan (baptisan) selam? Tidak ada sama sekali. Sebaliknya, ada catatan yang tersurat di dalam Perjanjian Lama, khususnya di dalam kitab-kitab para nabi, perihal “pemercikan” atau “pencurahan” yang dikaitkan dengan kedatangan Mesias.

    Demikianlah ia akan membuat tercengang banyak bangsa, raja-raja akan mengatupkan mulutnya melihat dia; sebab apa yang tidak diceritakan kepada mereka akan mereka lihat, dan apa yang tidak mereka dengar akan mereka pahami. (Yes. 52:12)
    Kata “membuat tercengang” dalam bahasa aslinya adalah nazah yang berarti “memerciki”. Beberapa versi Alkitab dalam bahasa Inggris memakai kata “sprinkle” (NKJV, NIV, ESV, NASB, dan lain-lain).

    Aku akan mencurahkan kepadamu air jernih, yang akan mentahirkan kamu; dari segala kenajisanmu dan dari semua berhala-berhalamu Aku akan mentahirkan kamu. (Yeh. 36:25)

    Sebab Aku akan mencurahkan air ke atas tanah yang haus, dan hujan lebat ke atas tempat yang kering. Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas keturunanmu, dan berkat-Ku ke atas anak cucumu. (Yes. 44:3)

    Kemudian dari pada itu akan terjadi, bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia, maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat; orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi, teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan. (Yo. 2:28)

    Aku akan mencurahkan roh pengasihan dan roh permohonan atas keluarga Daud dan atas penduduk Yerusalem, dan mereka akan memandang kepada dia yang telah mereka tikam, dan akan meratapi dia seperti orang meratapi anak tunggal, dan akan menangisi dia dengan pedih seperti orang menangisi anak sulung. (Zak. 12:10)

    Jelaslah bahwa orang-orang Yahudi mengenali nubuat tentang pencurahan atau pemercikan “dari atas” (dari Allah) “ke bawah” (kepada manusia) yang dikaitkan dengan kedatangan Mesias itu. Pertanyaan orang-orang Farisi menandakan bahwa mereka mengenali pembaptisan yang dilakukan oleh Yohanes Pembaptis dan langsung mengaitkannya dengan nubuat-nubuat di atas. Ini alasan pertama mengapa kita tak perlu ragu memercayai bahwa pemercikan atau pencurahan adalah cara baptisan yang dilakukan oleh Yohanes Pembaptis, termasuk terhadap Yesus.

    Lalu, bagaimana dengan catatan Injil tentang Yesus yang dibaptis dan keluar “keluar dari” air (Mat. 3:16; Mrk. 1:10)? Kata Yunani yang dipakai di sini adalah apo (“dari”; lawan dari eis, “menuju”) bukan ek (“dari dalam”; lawan dari ein, “ke dalam”). Jadi, tidak ada indikasi bahwa Yesus diselamkan ke dalam (ein) air untuk kemudian keluar dari dalam (ek) air.

    Hal ini konsisten bukan hanya dengan penjelasan mengenai Yohanes Pembaptis di atas, namun juga dengan banyak lukisan pada abad pertama yang menunjukkan pembaptisan yang dilakukan di tepian sungai. Dalam lukisan-lukisan tersebut, yang dibaptis dan yang membaptis berdiri di dalam air setinggi pinggang, kemudian si pembaptis mengambil air dengan tangannya dan mencurahkannya ke atas kepala orang yang dibaptis.

    Rowland S. Ward, dalam bukunya, Baptism in Scripture and History (1991), menunjukkan bahwa telah ditemukan kurang-lebih 400 contoh bejana baptisan (fonts) yang berasal dari gereja-gereja perdana antara tahun 230-680. Hampir semuanya mengindikasikan pemakaian bejana tersebut untuk baptisan percik atau curah. Kedalamannya berkisar antara 35cm dan 1 meter; namun sebagian besar sedalam 60cm, separuh dari kedalaman yang lazim dipakai oleh kelompok baptisan selam pada masa kini.

    Pembaptisan Musa MENURUT IBRANI 9
    Pembuktian lain tentang cara Perjanjian Lama memahami pembaptisan sebagai pemercikan atau pencurahan muncul di dalam Ibrani 9. Ayat 10 menyatakan, karena semuanya itu, di samping makanan minuman dan pelbagai macam pembasuhan, hanyalah peraturan-peraturan untuk hidup insani, yang hanya berlaku sampai tibanya waktu pembaharuan.

    Kata “pembasuhan” dalam bahasa aslinya adalah baptismois, yang secara harafiah berarti “pembaptisan-pembaptisan.” Apa yang dimaksud oleh penulis Surat Ibrani dengan “pembaptisan-pembaptisan?” di sini? Perbandingan berikut ini menegaskan bahwa yang dimaksud tak lain adalah pemercikan. Hukum Taurat sama sekali tidak mengenal penyelaman sebagai modus “baptisan” penyucian.

    IBRANI 9 & HUKUM TAURAT
    Sebab, jika darah domba jantan dan darah lembu jantan dan percikan abu lembu muda menguduskan mereka yang najis, sehingga mereka disucikan secara lahiriah. (Ibr. 9:13) Bagi orang yang najis haruslah diambil sedikit abu dari korban penghapus dosa yang dibakar habis, lalu di dalam bejana abu itu dibubuhi air mengalir. Kemudian seorang yang tahir haruslah mengambil hisop, mencelupkannya ke dalam air itu dan memercikkannya ke atas kemah dan ke atas segala bejana dan ke atas orang-orang yang ada di sana, dan ke atas orang yang telah kena kepada tulang-tulang, atau kepada orang yang mati terbunuh, atau kepada mayat, atau kepada kubur itu; (Bil. 19:17-18)

    Sebab sesudah Musa memberitahukan semua perintah hukum Taurat kepada seluruh umat, ia mengambil darah anak lembu dan darah domba jantan serta air, dan bulu merah dan hisop, lalu memerciki kitab itu sendiri dan seluruh umat, (Ibr. 9:19). Sesudah itu Musa mengambil sebagian dari darah itu, lalu ditaruhnya ke dalam pasu, sebagian lagi dari darah itu disiramkannya pada mezbah itu… Kemudian Musa mengambil darah itu dan menyiramkannya pada bangsa itu serta berkata: “Inilah darah perjanjian yang diadakan TUHAN dengan kamu, berdasarkan segala firman ini.” (Kel. 24:6, 8 )

    Dan juga kemah dan semua alat untuk ibadah dipercikinya secara demikian dengan darah. (Ibr. 19:21) Domba itu disembelih, lalu Musa menyiramkan darahnya pada mezbah sekelilingnya. (Im. 8:9)

    Lalu ia harus mengambil sedikit dari darah lembu jantan itu dan memercikkannya dengan jarinya ke atas tutup pendamaian di bagian muka, dan ke depan tutup pendamaian itu ia harus memercikkan sedikit dari darah itu dengan jarinya tujuh kali. (Im. 16:14)

    Tetapi, bukankah Ibrani 9:10 menyebutkan adanya “pelbagai macam pembasuhan (baptisan)”? Apa maksudnya? Ternyata maksud dari ayat ini bukanlah bahwa terdapat baptisan percik dan selam, namun hanya ada satu baptisan, yaitu baptisan percik, namun dengan banyak media: darah, air, atau abu (ay. 13, 19. 21).

    DAN LAIN-LAIN
    Ada banyak cara lain untuk menunjukkan dasar biblis yang mendukung penggunakan pemercikan atau pencurahan sebagai metode baptisan yang sesungguhnya. Tetapi kedua teks di atas kiranya cukup untuk memberi bukti bagi baptisan percik. Beberapa teks lain mungkin perlu dipertimbangkan secara sekilas:

    KISAH PARA RASUL 2:41. Apakah para rasul memperoleh cukup banyak air untuk membaptiskan 3.000 orang petobat baru di Yerusalem dan apakah mereka cukup punya waktu untuk menyelamkan mereka satu per satu? Atau malah mereka memerciki mereka secara bersama-sama?

    KISAH PARA RASUL 8:36-38. Memang bagian ini sering dipakai untuk mempertahankan pendapat tentang praktik baptisan selam. Ayat 38 berbunyi, “…keduanya turun ke dalam air… Filipus membaptis dia.” Kata “ke dalam” sebenarnya memakai kata Yunani eis yang lebih berarti “menuju ke”. Tidak dipakai kata ein yang berarti “ke dalam.” Jadi amat mungkin saat itu mereka berdua “menuju ke” air dan di sana sida-sida itu dibaptis dengan cara dipercik. Jika artinya adalah diselamkan, maka itu berarti keduanya menyelam, sebabnya teks kita berbunyi, “keduanya turun (menyelam) ke dalam air;” praktik semacam ini sungguh tidak bisa dibayangkan, selain berlawanan dengan praktik baptisan selam pada masa kini.

    KISAH PARA RASUL 9:18. Apakah mungkin Paulus, segera setelah sembuh langsung menuju ke sungai untuk diselamkan dan segera sesudah itu kembali dan makan? Ataukah teks ini tidak mengesankan bahwa ia dibaptis (dengan cara dipercik) di tempat itu juga?

    KISAH PARA RASUL 16:19-40. Apakah kisah ini tidak mengesankan bahwa baptisan bagi kepala penjara dan seisi rumahnya justru dilakukan di rumah dan bukan di kolam atau sungai?

    Jadi, Bagaimana dengan Baptisan Selam?
    Jika di atas telah dibuktikan bahwa cara baptisan yang berlangsung di dalam Alkitab dan gereja mula-mula adalah percik, khususnya karena gereja Perjanjian Baru berusaha meneruskan tradisi “baptisan” dalam Perjanjian Lama, pertanyaan kita kemudian: Bagaimana dengan cara selam? Apakah itu membuat baptisan tidak lagi absah? Tentu saja tidak. Jika mereka yang mempraktikkan baptisan selam mencela baptisan percik sebagai baptisan yang tak absah, maka kita yang mempraktikkan baptisan percik tidak boleh menyatakan baptisan selam tak absah. Mengapa? Sebab, kita memahami bahwa baptisan adalah tanda dan meterai anugerah keselamatan. Yang terpenting adalah keselamatan itu sendiri, bukan tanda yang menunjuk padanya.

    Selain itu, kita juga memahami bahwa di dalam perkembangan tradisi Kristen, praktik baptisan selam secara berangsur mulai muncul di kalangan gereja-gereja, khususnya setelah agama Kristen diadopsi sebagai agama negara oleh Kaisar Konstanstinopel pada tahun 313. Sejak itu, penyelaman yang asing bagi tradisi Israel (selain bahwa tentara Mesir ditenggelamkan/diselamkan) kini mulai memasuki tradisi Kristen, bahkan memperoleh popularitas dalam waktu singkat. Pelaksanaan selam sebagai cara baptisan cepat diterima sebab ia memberi impresi yang sangat kuat bagi konsep pembersihan dan hidup baru; lebih terasa mantap bagi pengalaman religius manusia.

    Namun, kita harus sungguh menyadari bahwa apa yang dirasa mantap tidak selalu benar. Karena itu, beban sebenarnya berada di pundak penganut baptisan selam untuk sungguh-sungguh membuktikan bahwa selam merupakan cara baptisan yang memang benar-benar didukung oleh Alkitab. Selama ini yang mereka pegang hanyalah bahwa baptizo atau bapto memiliki arti leksikal “mencelupkan” atau “menyelamkan.” Tetapi pemahaman leksikal ini tidak harmonis dengan praktik pembersihan yang dilakukan sejak zaman Perjanjian Lama.

    Terhadap argumen yang menyatakan bahwa selam merupakan cara baptisan yang paling benar karena sesuai dengan arti leksikal dari kata Yunani baptizo, seseorang dari tradisi baptisan percik menyatakan;

    Kita tidak percaya bahwa kata Yunani “baptizo” tidak berarti penyelaman. Apa yang kita percaya adalah bahwa kata Yunani “baptizo” tidak dimaksudkan untuk mengajarkan sebuah metodologi tersendiri sebagai doktrin yang terikat pada definisi kultural dari dunia yang terpisah dari Perjanjian Lama. Jadi, kita tidak percaya bahwa para rasul menghendaki kita untuk mengakarkan doktrin baptisan pada budaya Yunani dan bukan pada Perjanjian Lama… (Thomas Weddle)

    Penganut baptisan percik lazimnya tidak mempersoalkan cara baptisan; penganut baptisan selamlah yang selalu mempersoalkan cara baptisan. Lagipula, jika metodologi baptisan menjadi isu yang penting dan orang memercayai bahwa baptisan selamlah yang paling absah, maka cara berpikir itu akan memunculkan serentetan pertanyaan teknis lainnya: ketika seseorang dibaptis selam, wajah menghadap ke atas atau ke bawah? Dicelupkan secara vertikal atau seperti merebahkan sesuatu? Diselamkan tiga kali dengan mengikuti pola Trinitaris atau sekali celup? Dan lain sebagainya.

    Jika memang terbukti bahwa percik bukanlah cara baptisan yang absah, maka praktik baptisan-ulang yang dilakukan oleh penganut baptisan selam dapat dipahami. Namun, jika ternyata baptisan percik merupakan cara yang sesuai dengan teks-teks Alkitab (seperti ditunjukkan di atas), maka praktik baptisan-ulang justru berarti pengingkaran terhadap anugerah Allah melalui Kristus yang disalibkan sekali untuk selama-lamanya itu. Jika baptisan melambangkan kematian Kristus di atas salib, maka baptisan-ulang akan sama artinya dengan menyalibkan Kristus untuk kedua kalinya (bdk. Ibr. 6:1-6; Rm. 6:10-11).

    Pdt. Joas Adiprasetya
    *) Saya berhutang banyak mengenai topik ini dari buku Jay Edward Adams, The Meaning and Mode of Baptism (1975).

  15. Kim Hong Nathan
    11 Oktober 2011 pukul 1:02 PM | #15

    Pemahaman pada umumnya bahwa Yohanes Pembaptis adalah Nabi masa transisi antara masa Perjanjian lama dan zaman Perjanjian Baru, maka menurut saya, ada satu masa transisi ritual lahiriah yaitu peralihan dari sunat ke baptisan sebagai tanda Perjanjian antara Allah dengan umat percaya.

    Rentang waktu PL ditandai dengan penyunatan sebagai bentuk lahirah manusia merespon dan mengikat perjanjian dengan Allah dengan mengaku dirinya sebagai umat Allah yang berhak menerima janji-janji Allah melalui keturunan Abaraham, yang menunjuk kepada Kristus.

    Yohanes Pembaptis, Yesus Kristus, dan para rasul menjembatani peralihan tanda lahiriah memasuki babak baru dengan cara dibaptis dengan air. Baptisan sebagai bentuk baru yang dipakai oleh Allah untuk menyatakan penggenapan anugerahnya melalui keturunan Abraham, yaitui keselamatan oleh Yesus Kristus.

    Baptisan maupun penyunatan sebagai tindakan simbolis pemberian tanda meterai kepemilikan bagi Tuhan Allah. Pemeteraian Allah yang ditdak kelihatan seolah-olah menjadi kelihatan dalam bentuk sunat dan baptis, sehingga umat dapat mempercayai dirinya sebagai umat Allah yang sudah menerima tanda meterai dari Allah.

    Dalam banyak kebudayaan dan adat istiadat suku dan bangsa di dunia ini, air sudah menjadi sarana yang lazim digunakan untuk memunculkan arti rohaniah yang tersembunyi dari materi air. Misalnya dalam tradisi ruwatan, air sebagai sarana pelambang pemurnian kenajisan tubuh dan bathin. Praktek ruwatan air tersebut ada yang memakai cara diguyurkan ke atas kepala seseorang, atau orang itu diselamkan ke dalam air, ada juga yang mandi-mandi di sungai dan di laut. Tujuannya ialah untuk pembasuhan dari segala dosa dan supaya terhindar dari segala malapetaka. Jadi, ada arti rohani dari sebuah ritual upacara penggunaan sarana air. Materi air bisa diberlakukan secara fleksibel dan praktis tanpa mengurangi makna rohani yang dikandung di dalam air itu.

    Secara umum, air melambangkan kerja kuasa Allah bagi manusia. Allah semesta alam menghargai semua bentuk tata cara pemakaian air dalam segala bentuk mekanismenya sebagai pengejewantahan penyesalan manusia akan dosa-dosanya. Dicelup, dibasuh, dipercik, dituang atau mandi-mandi air dengan tujuan pemurnian diri dari dosa-dosanya adalah bentuk kesadaran manusia adanya Yang Mahakuasa atas kehidupannya.

    Jadi, bukan soal mekanisme airnya tetapi sikap hati manusia memaknai Firman Allah dalam simbol air sebagai sarana rohani Allah membasuh dan mengampuni dosa-dosa manusia oleh Kristus.

    Pengamatan saya membaca Alkitab, para rasul tidak pernah melakukan pembaptisan ulang mekanisme, tetapi lebih mengarah kepada peralihan atas nama meterai.

  16. Kim Hong Nathan
    28 Oktober 2011 pukul 11:01 AM | #16

    SAUDARA DEDE BERPENDAPAT, JIKA SEORANG KANAK-KANAK MENINGGAL, IA PASTI MEMPEROLEH KESELAMAAN SORGAWAI.”Jika demikian pandangan Sdr. Dedewijaya, seorang anak yang mendapat anugerah keselamatan dari Allah, maka sangat logis jika anak itu pun diberi tanda meterai keselamatan berupa baptisan. jika menolak baptisan anak menjadi kontradiksi dengan anugerah Allah.

    Kesimpulan: BAPTISAN ANAK TIDAK BERTENTANGAN DENGAN ANUGERAH ALLAH.

  17. northwestconsultants
    28 April 2012 pukul 4:39 PM | #17

    Pada Kis 16:15 “Sesudah ia dibaptis bersama-sama dengan seisi rumahnya,…” sayangnya tidak dijelaskan siapa saja isi rumahnya (Lidia).

    Mungkin kalau Lukas menjelaskan ini lebih detail, maka tidak akan ada debat panjang yang tidak ada habis2nya, seperti yang telah dilakukan pada jaman para bapak gereja; “Pada abad ke-13, Siprianus dan Origenes mendukung baptisan bayi sementara Tertulianus menolaknya….(sumber: wiki)

    Termasuk juga bagaimana detail melakukan pembaptisan, dimana Yesus dibaptis oleh Yohanes Pembaptis (yang orang Yahudi bukan orang KRISTEN…. yang model baptisannya diAKUKAN oleh orang KRISTEN), yang sebagian orang merasa bahwa proses fisiknya lebih diutamakan daripada proses Imannya.

    yaa sebaiknya berpulang kepada pribadi masing-masing…..GBU

  18. 29 April 2012 pukul 5:50 PM | #18

    Pada syarat Baptisan menurut Alkitab dalam Kisah Para Rasul 8:36-38, yg mau diBAPTIS HARUS MENDENGAR INJIL dan HARUS membuat PENGAKUAN PERCAYA terlebih dahulu, sedang BAYI Tidak mungkin bisa, bahkan belum bisa mengerti KEBENARAN yang DIBERITAKAN.
    Mrk_1:4 demikianlah Yohanes Pembaptis tampil di padang gurun dan menyerukan: “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu.”
    Luk_3:3 Maka datanglah Yohanes ke seluruh daerah Yordan dan menyerukan: “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu,
    Kis_2:40 Dan dengan banyak perkataan lain lagi ia memberi suatu kesaksian yang sungguh-sungguh dan ia mengecam dan menasihati mereka, katanya: “Berilah dirimu diselamatkan dari angkatan yang jahat ini.”
    Kis_22:16 Dan sekarang, mengapa engkau masih ragu-ragu? Bangunlah, berilah dirimu dibaptis dan dosa-dosamu disucikan sambil berseru kepada nama Tuhan!

  19. 29 April 2012 pukul 5:52 PM | #19

    Kim Hong Nathan, Anda salah tanda meterai keselamatan bukan berupa baptisan, namun ROH KUDUS. Jadi Tidak Benar pendapat itu. Seorang Bayi yg mati, PASTI MASUK SURGA krn alasan ini: Tuhan Yesus Kristus telah menanggung DOSA SELURUH DUNIA. Karena bayi belum melakukan Dosa Perbuatan, maka semua dosanya SUDAH TERTEBUS oleh Yesus.

  20. 29 April 2012 pukul 5:53 PM | #20

    Lebih jelasnya soal BAYI yg MATI Pasti MASUK SURGA, baca kupasan mendalamnya di http://dedewijaya.blogspot.com/2008/10/nasib-akhir-bayi-yang-mati-kematian.html

  21. 29 April 2012 pukul 5:57 PM | #21

    kim Hong Nathan, Peristiwa BAPTIS ULANG pernah terjadi dalam Alkitab di Kisah Para Rasul 19:1-7. Ingat, perintah Tuhan Yesus jelas BAPTIS/SELAM- KANLAH bukan RANTIS/PERCIK Kanlah mereka dalam Nama BAPA, ANAK dan ROH KUDUS. Jadi kita perlu ingat apa sich PERINTAHnya? yaitu BAPTIS lah. Semoga makin jelas.

  22. 29 April 2012 pukul 6:01 PM | #22

    sammy :

    Sdr Dede ytk,
    mohon ijin bergabung dalam diskusi ini.
    Jujur saya bukan seorang yg rajin membaca Alkitab dan punya waktu mempelajari Alkitab secara khusus dan mendalam seperti Sdr Dede. Saya juga tidak akan beradu argumen apa baptisan bayi itu alkitabiah atau tidak…menyesatkan atau tidak??? Saya hanya mengajukan satu tanggapan sederhana ini…jika Sdr. Dede meyakini bahwa baptisan bayi dan tata cara pelaksanaannya sangat menyesatkan krn tidak sesuai dengan apa yang tertulis dalam Alkitab…saya juga meragukan baptisan yang Sdr. Dede terima…apa Sdr Dede dibaptis persis seperti yang ada dalam Alkitab…tidak kan??? Karena menurut saya, jika ingin baptisan itu tidak menyesatkan dan alkitabiah…maka semua orang yang menyebut dirinya kristen harus bisa dibaptis dengan air sungai yordan (mengikuti teladan Yesus), atau air sungai yang disebut dalam Alkitab (mengikuti teladan org2 kristen awal/perdana). Kalau bukan dibaptis di sungai yordan atau sungai2 yg disebutkan dalam alkitab…baptisan sdr juga menyesatkan dan tidak alkitabiah.

    Sammy, anda perlu baca Alkitab lagi, Sida2 Ethiopia tidak dibaptis di Sungai Yordan, namun di Gurun Pasir yang ada BANYAK AIR untuk MASUK ke DALAM AIR, itu menandakan tempat dibaptis tidak harus kita pergi ke Yerusalem/Israel. Semoga jelas.

  23. 30 April 2012 pukul 12:20 AM | #23

    hanya karena “syariat” atau “Sembah raga” yang namanya “baptis” sampai mengecam dengan kata-kata “sesat”. mari kita memohon Rahmat Kasih KaruniaNya. Berkah Dalem.

  24. 1 Mei 2012 pukul 5:00 PM | #24

    Kim Hong Nathan, terimakasih kutipan dari GKIPI. Sebagai informasi bagi anda Cara Baptis, Percik atau Selam, mana yang tepat sesuai Alkitab, bisa baca http://dedewijaya.blogspot.com/2008/12/cara-baptis-percik-atau-selam.html

  25. kim hong nathan
    3 Agustus 2012 pukul 1:43 PM | #25

    Dede Wijaya berpendapat: “Pada syarat Baptisan menurut Alkitab dalam Kisah Para Rasul 8:36-38, yg mau diBAPTIS HARUS MENDENGAR INJIL dan HARUS membuat PENGAKUAN PERCAYA terlebih dahulu, sedang BAYI Tidak mungkin bisa, bahkan belum bisa mengerti KEBENARAN yang DIBERITAKAN.”

    BERTENTANGAN DENGAN

    Dekrit anda sendirii: “tanda meterai keselamatan bukan berupa baptisan, namun ROH KUDUS. Jadi Tidak Benar pendapat itu. Seorang Bayi yg mati, PASTI MASUK SURGA krn alasan ini: Tuhan Yesus Kristus telah menanggung DOSA SELURUH DUNIA. Karena bayi belum melakukan Dosa Perbuatan, maka semua dosanya SUDAH TERTEBUS oleh Yesus.”

    Pendapat pertama anda katakan, “syarat diselamatkan adalah mendengar, mengaku, agar diselamatkan. Kemudian dibaptis sebagai tanda transaksi keselamatan, namun baptisan tidak berlaku bagi bayi sebagai tanda keselamatan jelas BERTENTANGAN. Tidak konsisten. Kebenaran harus konsisten, jika tidak, patut dipertanyakan. OLEH KARENA DI DALAM ALKITAB TIDAK ADA KATA HURUFIAH “SEORANG ANAK TIDAK BOLEH DIBAPTISKAN,” DAN TIDAK ADA KATA “SEORANG ANAK BOLEH DIBAPTISKAN,” MAKA KESIMPULANNYA SEORANG ANAK BOLEH DITUNDA PEMBAPTISANNYA SAMPAI ANAK ITU DEWASA DAN ATAS KESADARANNYA SENDIRI MAU MENERIMA BAPTISAN, ATAU SEORANG ANAK BOLEH DIBAPTIS SEBAGAI ANAK YANG BERHAK JUGA MENERIMA ANUGERAH ALLAH.

    Anda berkata, “tanda meterai keselamatan bukan berupa baptisan, namun ROH KUDUS.” Setahu saya, Sepanjang kesaksian Alkitab, air cenderung menunjuk sbg symbol kehadiran Firman Allah dan Roh Kudus-Nya. Sesudah Yesus dibaptis dengan air, maka hakekat dari symbol itu turun dari langit dalam bentuk burung merpati sbg manifestasi kehadiran Roh Kudus. Kepada Nikodemus, Yesus berkata bahwa seseorang tidak dapat masuk kedalam Kerajaan Allah jika tidak dilahirkan dari air dan Roh. Melihat perkataan Yesus tsb dapat diartikan bahwa air adalah sinonim dengan Roh Kudus. Roh Kuduslah Pribadi yang melahir barukan seseorang, menyucikan dan menguduskan seorang petobat. Roh Kudus mengerjakan persalinan rohani bagi orang2 yang percaya kepada Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat dunia. Manusia tidak punya andil apapun untuk mengerjakan kelahiran baru. Ia hanya perlu menerima dengan iman berdasarkan kepercayaannya bahwa memang benar Mesias sudah dilahirkan, disalibkan, dibangkitkan, dan kelak akan kembali datang menjemput orang2 percaya. Tentu saja, hal itu berlaku bagi orang yang sudah akil balik. Sedangkan bagi bayi berlaku anugerah Allah disertai dengan tanda keselamatannya, yaitu baptisan yang punya nilai rohani sama dengan sunat.

  26. I am I
    30 September 2012 pukul 3:12 PM | #26

    apa aku harus bilang waww dalam perdebatan ini?
    perhatikan kalimat Babtis selam dan babtis percik… tatabahasanya salah.. coba tercemahkan? babtis selam=selam selam(dua kata yg sama yang di ulang… babtis percik=selam percik… Tuhan hanya mengunakan satu kata BAPTIS,jangan di tambahkan dengan kata yang lain… karena Tuhan tahu akan terjadi perdebatan dalam umatnya.. masukan saya jangan berdebat sok pinter… babtisan Yohanes, hanya mengunakan kalimat.. aku membabtis kamu…. siapa penganut babtisan Yohanes jangan memakai nama Bapa Putra dan Roh Kudus, Yesus mengatakan saat dia terangkat kesurga… BAPTISLAH DI DALAM NAMA BAPA DAN PUTRA DAN ROH KUDUS… itu yang utama! artinya….selamkan di dalam nama Bapa Putra Dan Roh Kudus, kalau anda ahli bahasa, mungkin anda akan mengatakan selamkanlah di dalam nama… bukan dengan cara… nama Trinitas lah yang utama, sarana air yang kedua…semoga di mengerti…. saya menangis melihat pengikut Kristus yang menjadi minoritas di negara ini.malah berantem….

  27. I am I
    30 September 2012 pukul 3:30 PM | #27

    yang ke dua… kita jangan berpatokan dengan kata baptizo (yunani) cek bahasa aslinya…aram atau ibrani… yang saya tahu babtisan ada dalam tradisi yahudi… yang artinya membasuh… sehingga kalau org yahudi ” dibasuh lah bilur bilurnya cek dalam PL..maaf saya bukan ahli ayat tapi cek ya?.. dan ada yang saya lupa katakan.. baptisan sida sida hanya memakai nama Yesus saja.. siapa penganut Alkitabiah pakai nama Yesus aja ya? jika anda memakai nama Trinitas… bacalah keterangan saya yang pertama… akhirnya aku bisa berkata “waw” tennngkkyuuu…

  28. arif yudha
    19 November 2012 pukul 5:42 AM | #28

    semoga saudara dede cepat sadar dari kebodohan dan sikap yang menyebabkan konflik denominasi. sadar bos…

  29. bob saya
    19 November 2012 pukul 5:48 AM | #29

    sok pintar ngana dede…na dengan na pe denominasi itu biongo samua..
    denominasi yang seperti ini harus disingkirkan karena dapat menyebabkan konflik.
    kiapa cuma ngoni so yang hidup di dunia ini…persetan dengan ngana dede…kira na pe gereja s benar s..??? ngana pe gereja biongo…terjebak dalam kebodohan atau dengan kata lain..saudara dede mengalami krisis dan kurang paham tentang ajaran Kristen.

  30. 21 November 2012 pukul 7:16 AM | #30

    Bob, Baca dengan teliti tiap argumen dan sejarah kemunculan Baptisan Bayi, cocokkan dengan Alkitab…. mana yang sesuai dengan ajaran ALKITAB….. beberapa Tradisi Gereja sesungguhnya ada yang bertentangan dengan ALKITAB, namun karena dipelihara dari waktu ke waktu generasi ke generasi….. sudah dipandang Benar….. Perlu Hikmat…

  31. deasy
    16 April 2013 pukul 4:55 AM | #31

    jadi kalau saya simpulkan menurut kamu De, baptisan bayi itu menyesatkan karena tidak ada di dalam alkitab dan oleh karena itu tidak alkitabiah..? benar?

  32. grace
    18 Mei 2013 pukul 6:59 AM | #32

    Baptisan yang di ambil dengan Iman adalah Lahir baru (Yoh 1:12-13). Untuk apa sih lahir baru? untuk menerima kuasa Roh kudus (Kis 1:5). Siapa yang baptis kita dengan Roh Kudus? “Tuhan Yesus sendiri!” Yoh 16:13-14.., nah lo.. kenapa harus saling berkelahi kalau semuanya sudah jelas? (semuanya ada dalam Alkitab koq)

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: