Arsip

Arsip Penulis

Persepuluhan Tidak Diajarkan oleh Para Rasul

23 September 2022 Tinggalkan komentar

Persepuluhan Tidak Diajarkan oleh Para Rasul
Banyak orang percaya telah menerima tradisi persepuluhan sebagai milik orang percaya tanpa menyadari dan memahami bahwa ajaran para rasul percaya untuk memberi dan bukan memberi persepuluhan. Lambat laun seiring waktu gereja mula-mula menyimpang dari ajaran para rasul tentang memberi karena persepuluhan menjadi lebih diterima secara luas. Gereja Katolik menyimpang dari iman, doktrin, dan praktik apostolik yang asli dari pemberian spontan yang disengaja dan sukacita, menjadikan persepuluhan sebagai persyaratan untuk mendukung para klerus. Kebanyakan orang percaya tidak pernah diberitahu tentang Gereja Katolik yang menyimpang dari iman, doktrin, dan praktik para rasul tentang memberi. Gereja Katolik mendokumentasikan penyimpangan mereka sendiri dari doktrin para rasul dalam Catholic Encyclopedia edisi 1912 tentang persepuluhan,

“Pada awalnya [persediaan] diberikan oleh dukungan spontan dari umat beriman. Namun, dalam perjalanan waktu, ketika Gereja berkembang dan berbagai lembaga muncul, perlu untuk membuat hukum-hukum yang akan menjamin dukungan yang tepat dan permanen dari para klerus. Pembayaran Persepuluhan diadopsi dari Hukum (Perjanjian) Lama, dan para penulis awal membicarakannya sebagai peraturan ilahi dan kewajiban hati nurani. Undang-undang positif paling awal tentang masalah ini terkandung dalam surat para uskup yang berkumpul di Tours pada tahun 567 dan Kanon Dewan Macon pada tahun 585.”

Baca selengkapnya…

Daftar Gereja Non Persepuluhan, Pendeta, Denominasi, dan Teolog Terkenal Yang Tidak Setuju Dengan Persepuluhan

20 September 2022 Tinggalkan komentar

Daftar Gereja Non Persepuluhan, Pendeta, Denominasi, & Teolog Terkenal Yang Tidak Setuju Dengan Persepuluhan

Saya telah menyusun daftar orang-orang yang tidak setuju dengan persepuluhan termasuk pendeta, penginjil, teolog, penulis, gereja, & organisasi. Ini bukan dukungan terhadap teologi atau doktrin mereka yang lain. Saya menemukan banyak nama yang sudah disebutkan dari Russell Earl Kelly (http://www.tithing-russkelly.com/) dan situs David Croteau (http://slaveoftheword.blogspot.com/).

Tapi, saya menemukan beberapa nama yang tidak terdaftar. Saya menelusuri daftar tokoh-tokoh Kristen historis dan menelusuri tulisan-tulisan mereka untuk menyusun kutipan-kutipan ini. Saya juga menemukan sebanyak mungkin sumber asli dan kemudian menautkannya langsung ke sana untuk penegasan lebih lanjut. Jika Anda menemukan sesuatu yang salah, beri tahu saya.

Selengkapnya nama dan kutipan langsung perkataan tulisan mereka baca sini (Indonesia)

https://www-tithing-com.translate.goog/those-who-disagree-with-tithing/?_x_tr_sl=en&_x_tr_tl=id&_x_tr_hl=id&_x_tr_pto=wapp

Sejarah Gereja Baptis

4 September 2022 Tinggalkan komentar

Sejarah Gereja Baptis

Orang Kristen Baptis dicirikan oleh penolakannya terhadap baptisan anak-anak.
Anak-anak dianggap belum mampu mengambil keputusannya sendiri untuk menerima atau menolak baptisan yang diberikan kepada mereka. Karena itulah, orang Baptis hanya melakukan baptisan untuk orang yang sudah dewasa, ketika mereka sudah bisa menentukan sendiri keputusannya, dan bisa bertanggung jawab atas keputusan itu.

Baptisan dewasa dilakukannya dengan menyelamkan orang yang dibaptiskan di
sebuah kolam yang dibuat khusus di gereja, atau bisa juga dilakukan di sungai atau di
pantai. Ada pula yang khusus menyewa kolam renang untuk melakukan baptisan tersebut. Ini berbeda dengan kebiasaan di gereja-gereja lainnya yang membaptiskan dengan memercikkan air di kepala orang yang dibaptiskan.


Gereja Baptis juga biasanya adalah gereja otonom pada tingkat jemaat. Artinya, mereka tidak perlu tunduk kepada keputusan Sinode. Karena itu pula maka praktik dan aturan-aturan yang berkembang di gereja-gereja Baptis bisa saling berbeda di berbagai tempat, termasuk cara ibadahnya, sikap terhadap orang Kristen lain, dll.
Mereka juga menganut konsep pemisahan gereja dan negara yang ketat. Gereja tidak mencampuri negara, demikian pula negara dilarang ikut campur dalam urusan-urusan gereja.

Baca selengkapnya…

Kenapa di Kamar Hotel Tidak Ada Guling? Begini Penjelasannya

4 September 2022 Tinggalkan komentar

Di Indonesia, guling merupakan benda yang akrab di tempat tidur, selain bantal. Namun, ketika menginap di hotel, Anda tidak akan menemukan guling di atas kasur Anda.
Hanya ada bantal yang disediakan di kamar hotel. Selain bantal, Anda juga mendapatkan selimut yang biasanya sudah tertata rapi di atas tempat tidur.

Lalu, kenapa guling selalu tidak ada di kamar hotel? Padahal, tidak sedikit orang Indonesia yang terbiasa tidur dengan memeluk guling.

Guling sendiri diketahui merupakan benda yang tidak wajib di kamar hotel. Berikut penjelasan kenapa tidak ada guling di kamar hotel dari Director of Marketing Communications Hotel Indonesia Kempinski Jakarta, Aulianty Fellina.



Hotel Mengikuti Standar Internasional
Hotel-hotel di dunia mengacu pada gaya barat, yang umumnya tidak menyediakan guling atau bahkan tidak menggunakan guling di tempat tidur. Demikian pula hotel di Indonesia yang juga mengacu pada gaya barat.

Guling Tidak Higienis
Banyak tamu hotel yang berpikir guling adalah benda yang tidak higienis. Bermacam-macam manusia bisa memeluk guling dan bahkan rawan bergesekan dengan kulit jika ada tamu yang terbiasa tidur tanpa pakaian.

Dikhawatirkan guling bisa menjadi sarana menularkan penyakit, seperti penyakit kulit. Tidak heran, para tamu hotel di dunia banyak yang menolak memakai guling, karena merasa kotor walaupun sudah dicuci.

Orang Luar Negeri Tak Kenal Guling

Baca selengkapnya…

Tanggal Kelahiran Kristus

Bab I Tanggal Kelahiran Kristus

Dalam Lukas 2:10-11 malaikat Tuhan mengumumkan kepada para gembala di padang, “Dan malaikat itu berkata kepada mereka, “Jangan takut, karena lihatlah, aku memberitakan kabar baik kepadamu, suatu sukacita besar yang akan terjadi bagi segala bangsa, karena pada hari ini telah dilahirkan bagimu seorang Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.
Pengumuman ini akrab bagi semua orang Kristen. Alkitab menggambarkan bahwa Kristus yang kekal berinkarnasi dimulai dengan kelahiran-Nya di Betlehem Yehuda. Oleh karena itu, adalah tepat untuk memulai studi tentang kronologi kehidupan Kristus pada saat kelahiran-Nya.


TAHUN KELAHIRAN KRISTUS
Orang-orang Kristen awal tidak begitu peduli tentang tanggal sebagai fakta kelahiran Kristus. Catatan kronologis, seperti “Pada tahun kelima belas pemerintahan Tiberius” (Lukas 3:1) yang menandai dimulainya pelayanan Yohanes Pembaptis, sudah cukup. Pada tahun 525 M, Paus Yohanes I meminta Dionysius, seorang biarawan Scythian, untuk menyiapkan kalender standar bagi Gereja Barat. Dionysius memodifikasi sistem penanggalan Aleksandria, yang digunakan sebagai basisnya pada masa pemerintahan Diocletianus, karena dia tidak ingin tahun-tahun sejarah diperhitungkan dari kehidupan seorang penganiaya gereja, tetapi dari inkarnasi Kristus.

Baca selengkapnya…

Revisi Buku PPKN Kelas 7 halaman 79-80

Berikut hasil revisi dari buku PPKN Kelas 7 yg sempat menghebohkan.

Beragama secara benar akan membuat setiap orang menjadi pribadi yang
baik dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. Agama menenteramkan jiwa
dan membuat kehidupan masyarakat menjadi damai, apapun keyakinan agama
yang dianutnya. Hal tersebut merupakan keadaan yang patut disyukuri.

  1. Islam
    Agama Islam berkembang di wilayah Nusantara (Indonesia) sekitar abad ke-
    13, yang ajarannya diperkenalkan oleh para pedagang dari Gujarat India,
    Timur Tengah, Persia, dan Cina. Al-Qur’an merupakan kitab sucinya. Rumah
    ibadah umat Islam disebut masjid. Umat Islam merayakan beberapa hari besar,
    diantaranya adalah Hari Raya Idul Fitri, Hari Raya Idul Adha, Maulid Nabi, dan
    Isra’ Mi’raj. Secara umum pemuka agama Islam disebut ulama.
    [Sumber: Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Kementerian Agama]
  2. Kristen
    Agama Kristen berkembang di wilayah Nusantara (Indonesia) sekitar abad ke-
    16, diperkenalkan oleh bangsa Eropa. Kitab suci Agama Kristen adalah Alkitab.
    Hari besar umat Kristen antara lain Hari Natal, Hari Kematian Yesus Kristus
    (lazim disebut Hari Jumat Agung), Hari Paskah, Hari Kenaikan Yesus Kristus,
    dan Hari Pentakosta. Rumah ibadah agama Kristen disebut gereja. Secara umum
    pemimpin umat Kristen disebut pendeta atau gembala.
    [Sumber: Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen Kementerian Agama dan Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia]
  3. Katolik
    Agama Katolik berkembang di wilayah Nusantara (Indonesia) melalui
    misionaris berkebangsaan Portugis, Spanyol, dan Belanda sekitar abad ke-16.
    Ajarannya bersumber pada Alkitab (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru),
    Magisterium (ajaran para pemimpin gereja), serta Tradisi Gereja. Rumah
    ibadah umat Katolik disebut gereja. Hari besar umat Katolik antara lain Natal,
    Paskah, Kenaikan Yesus Kristus, dan Pentakosta. Gereja Katolik dipimpin oleh
    Paus, yang bekerjasama dengan para Kardinal, Uskup, dan dibantu oleh para
    Imam (Pastor).
    [Sumber: Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Katolik Kementerian Agama dan Konferensi Waligereja Indonesia]
  4. Hindu
    Agama Hindu berkembang di wilayah
    Nusantara (Indonesia) sekitar abad
    ke-4. Kitab suci agama Hindu disebut
    Weda. Rumah ibadah umat Hindu ada
    yang disebut pura, candi, kuil, dan balai
    basarah. Di antara hari raya umat Hindu

adalah Nyepi, Galungan dan Kuningan, Saraswati, dan Siwaratri. Rohaniwan Hindu
disebut Pandita dan Pinandita.
[Sumber: Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu, Kementerian Agama]

  1. Buddha
    Agama Buddha berkembang pesat di wilayah Nusantara (Indonesia) dari
    India sekitar abad ke-8. Agama Buddha didasarkan pada kitab suci Tripitaka
    (Tipitaka). Tempat ibadah agama Buddha adalah Vihara, Kelenteng, Bio, Candi,
    Arama, Kuil, dan Cetiya. Hari besar agama Buddha antara lain adalah Magha
    Puja, Waisak, Asadha, dan Kathina. Rohaniwan Buddha disebut Bikkhu (Biksu).
    [Sumber: Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha, Kementerian Agama]
  2. Khonghucu
    Agama Khonghucu sudah tersebar berabad-abad lamanya di wilayah
    Nusantara (Indonesia) seiring masuknya orang Tionghoa dari daratan
    Tiongkok. Kitab suci agama Khonghucu adalah Sishu dan Wujing. Tempat
    ibadah umat Khonghucu disebut Kelenteng, Kongmiao, Miao, Litang, Bio, dan
    Xuetang. Tahun Baru Imlek, Cap Go Meh, Hari Lahir dan Wafat Nabi Kongzi,
    serta Qingming merupakan hari besar yang dirayakan umat Khonghucu.
    Rohaniwan agama Khonghucu disebut Jiaosheng (Js), Wenshi (Ws), Xueshi (Xs).
    [Sumber: Pusat Bimbingan dan Pendidikan Agama Khonghucu, Sekretariat Jenderal Kementerian Agama]
  3. Sebagian masyarakat Indonesia menganut Kepercayaan terhadap Tuhan
    Yang Maha Esa. Ajarannya bersumber dari kearifan lokal bangsa Indonesia.
    Penganutnya disebut sebagai penghayat kepercayaan. Di Indonesia terdapat
    banyak kelompok Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
    [Sumber: Direktorat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat Kemendikbudristek dan Majelis Luhur
    Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa Indonesia]

4 Tokoh Kristen yang Berperan Dalam Kemerdekaan Indonesia


Di bulan kemerdekaan ini, tak ada salahnya jika kita kembali sejenak menggali kembali sejarah kemerdekaan.

Di dalam banyak referensi, kemerdekaan Indonesia juga tidak terlepas dari peran tokoh-tokoh Kristen di dalamnya. Sebagian besar diantaranya memegang peran penting dalam kemerdekaan. Bahkan tak sedikit yang justru tewas akibat perjuangan mereka melawan para penjajah di masa tersebut.

Jadi, diantara sekian banyaknya tokoh Kristen yang berperan dalam kemerdekaan kita bisa mengenal 4 diantaranya.

1. Letnan Jenderal T.B Simatupang

Letnan Jenderal Tahi Bonar Simatupang atua akrab disapa T.B Simatupang ini adalah sosok pahlawan kemerdekaan Indonesia.

T.B Simatupang lulus akademi militer kerajaan (KMA). Setelah itu dia ditugaskan di bawah kepemimpinan Jepang untuk pertama kali di Jakarta.

Setelah proklamasi kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945, Simatupang bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan ikut serta mengamankan serangan Belanda yang berniat kembali menguasai Indonesia saat itu.

Selama perang kemerdekaan Indonesia, dia diangkat menjadi Wakil kepala Staf Angkatan Perang (WAKSAP) RI pada tahun 1948-1949.

T.B Simatupang juga turut mewakili TNI dalam delegasi RI menghadiri Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag, Belanda. Lalu dia diangkat menjadi Kepala Staf Angkatan Perang RI (KSAP) dengan pangkat Mayor Jenderal sebagai pengganti dari Jenderal Sudirman yang wafat pada tahun 1950.

Setelah masa pesiun, T.B Simatupang aktif di dalam pelayanan gereja. Dia pernah menjabat sebagai Ketua Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), Ketua Dewan Gereja-Gereja Asia bahkan Ketua Dewan Gereja-gereja se-Dunia.

Tokoh kemerdekaan yang lahir pada 28 Januari 1920 ini tutup usia pada 1 Januari 1990 di Jakarta dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.

Baca selengkapnya…

40 Parpol Pemilu 2024

24 Parpol yang berkasnya dinyatakan lengkap yakni:

1. PDI Perjuangan (PDIP)

2. Partai Keadilan dan Persatuan (PKP)

3. Partai Keadilan Sejahtera (PKS)

4. Partai Persatuan Indonesia (Perindo)

5. Partai NasDem

6. Partai Bulan Bintang (PBB)

Baca selengkapnya…

Surat Petisi kepada Mendikbudristek perihal penulis buku PPKN Kelas 7

Surat Petisi Kami kepada Mendikbudristek perihal buku dan penulis buku PPKN Kelas 7

Aliansi Anak Bangsa Pemerhati Pendidikan

10 Agustus 2022

Kepada Yth.
Menteri Pendidikan Kebudayaan Riset Teknologi RI
Bapak NADIEM ANWAR MAKARIM, BA, MBA.
Kompleks Kemendikbud Jln. Jend. Sudirman, Senayan
Jakarta Selatan

Salam Rahayu!
Kami warga negara Indonesia dalam Aliansi Anak Bangsa Pemerhati Pendidikan (AABPP)
menyampaikan sikap dan petisi terhadap temuan kesalahan dalam buku PPKn kelas VII terbitan
Kemendikbudristek tahun 2021 sebagai berikut:

  1. Kami mengapresiasi respon pihak Kemendikbudristek untuk menarik buku PPKn dan merevisi buku. Namun sampai surat ini ditulis, kami masih menerima informasi dari sekolah-sekolah
    bahwa buku tersebut belum ditarik. Kami ingin mengetahui time line dan prosedur penarikan
    dan revisi buku (apakah buku tersebut akan dibakar/dibuang ke laut, dsb), dan kami bersama
    orang tua murid akan mengawalnya.
  2. Peristiwa penyelewengan isi buku PPKn telah menimbulkan keresahan, keberatan, dan
    keprihatinan mendalam, di berbagai kalangan masyarakat di berbagai wilayah di Indonesia,
    terutama oleh penganut agama tertentu, sehingga kami mengajukan petisi ke pemerintah
    (Kemendikbudristek, Kemenag, Kemendagri dan Kejaksaan Agung), agar solusi tidak hanya
    pada penarikan dan revisi buku, melainkan juga pengusutan, penyelidikan dan penyidikan yang
    komprehensif serta pemberian sanksi tegas terhadap Tim Pengolah Buku (tidak sekadar
    permintaan maaf).
  3. Tim Pengolah Buku PPKn, sebagai representasi sosok guru/pendidik nasional dengan latar
    pendidikan dan pengalaman profesional yang sangat mumpuni di bidang PPKn, harus mendapat
    sanksi tegas atas kesalahan konten dan kode etik penulisan ilmiah, yang notabene terjadi di
    institusi penanggungjawab tertinggi pendidikan di Indonesia, di mana selama proses
    penyusunan sampai pencetakan dan pendistribusian buku, telah melalui mekanisme menurut standar penulisan yang ditentukan dan berbagai filter dan monitoring internal instansi. Sanksi tegas sebagai pemberian efek jera kepada tim pengolah buku PPKn berdasarkan peraturan
    perundang-undangan yang berlaku di Negara Kesatuan Republik Indonesia termasuk di
    lingkungan Kemendikbudristek, merupakan hal yang wajib dan pantas mengingat negara kita
    adalah negara hukum dan menjunjung penegakan hukum. Dengan demikian, jangan diberikan
    celah bagi mereka yang mau melakukan penistaan dalam pendidikan agama, penistaan
    pendidikan kewargenagaraan, dan penistaan terhadap negara. Terlampir dokumen
    kontrak/perjanjian pihak penulis/pengolah buku dengan pihak Pusat Kurikulum dan Perbukuan
    Kemendikbudristek, terkait tanggung jawab hukum penulis/pengolah buku yang menyatakan
    apabila tulisannya menimbulkan rasa tidak senang, tersinggung, dirugikan, dicemarkan,
    dikhianati, dan sebagainya, terhadap satu atau sekelompok orang.
  4. Berikut kesalahan fundamental dan analisisnya, dalam buku cetak PPKn kelas VII halaman 79
    & 80:
    a. Kesalahan ini terjadi pada buku PPKn yang capaian pembelajarannya seyogianya pada
    praktik pengamalan Pancasila (profil pelajar Pancasila), bukan pada memperbandingkan
    doktrin agama-agama;
    b. Potensi pada penistaan agama dengan menerjemahkan ajaran agama lain oleh dan
    dengan ajaran yang bukan pemeluk/ajaran agama itu sendiri (potensi terhadap
    pelanggaran UU/Pasal 156a KUHP);
    c. Kesalahan mengenai pemahaman Trinitas secara subjektif dari Tim Penulis Buku,
    bukan menurut keyakinan pemeluk agama yang bersangkutan berpotensi sebagai
    strategi membenturkan Trinitas dengan konsep Sila I Pacasila (Ketuhanan yang Maha Esa);
    d. Kurang seimbang/proporsional dalam mengungkap bahwa keberadaan Penghayat
    Kepercayaan memiliki kedudukan yang sama dengan umat beragama, bahwa negara ini
    menjamin kebebasan warga negara memeluk agama dan kepercayaan masing-masing
    (Pasal 29 UUD);
    e. Pengaburan sejarah (kesalahan informasi kapan agama seperti Kristen dan Budha masuk
    ke Nusantara);
    f. Potensi membelokkan dan merongrong konsensus bangsa.
  5. Kesalahan fatal konten buku-buku pelajaran terbitan Kemedikbudristek sudah terjadi beberapa
    kali yang pasti menghabiskan energi, waktu, dan anggaran yang besar untuk menarik dan
    merevisi buku tersebut, sehingga penyelesaian masalah ini tidak bisa dianggap sepele. Dampak
    kerugian lebih fatal adalah ancaman terkontaminasinya mentalitas dan moral peserta didik sebagai generasi penerus bangsa dengan ajaran/paham yang menyesatkan yang akan memecah belah dan menghancurkan kesatuan dan kerukunan beragama di lingkungan sekolah dan
    masyarakat, di masa sekarang dan akan datang.
  6. Kami Aliansi Anak Bangsa Pemerhati Pendidikan menunggu penjelasan resmi dari bapak
    Menteri atas surat Petisi ini, dan bersama elemen di dalam masyarakat kami akan mengawalnya
    dan berjuang demi merawat kebinnekaan di bumi pertiwi Indonesia yang sangat menjunjung
    tinggi nilai-nilai Pancasila. Namun apabila hal ini tidak juga ditanggapi, kami akan memikirkan
    langkah-langkah penyelesaian secara hukum berdasarkan peraturan perundang-undangan yang
    berlaku di Republik Indonesia.

Demikian kami sampaikan. Atas atensi dan tindak lanjutnya, kami sampaikan terima kasih yang
sebesar-besarnya. Kiranya Yang Mahakuasa melimpahi bapak Menteri dengan kesehatan dan hikmat.

Hormat kami,
Mary Monalisa Nainggolan,S.Psi.,M.Pd.,Psikolog
(Ketua AABPP)

Tembusan:

  1. Presiden Republik Indonesia
  2. Ketua Umum PGI (Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia)
  3. Ketua Presidium KWI (Konferensi Wali Gereja Indonesia)

Kesalahan di Buku PPKn SMP Kelas VII Belum Diusut secara Tuntas

Kesalahan di Buku PPKn SMP Kelas VII Belum Diusut secara Tuntas

Pengusutan kesalahan pada buku teks PPKN kelas VII SMP tahun 2021 terbitan Kemendikbudristek belum tuntas. Kemendikbudristek diminta serius menyelesaikan masalah ini.

Oleh
ESTER LINCE NAPITUPULU
11 Agustus 2022 12:02 WIB

JAKARTA, KOMPAS — Penarikan buku Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan atau PPKn Kelas VII terbitan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi tahun 2021 yang dinilai bermasalah diapresiasi. Namun, solusi terhadap kesalahan isi buku tidak hanya pada penarikan dan revisi buku, melainkan juga pengusutan, penyelidikan, dan penyidikan yang komprehensif, serta pemberian sanksi tegas kepada tim pengolah buku.

Baca selengkapnya…

Utusan bukan Malaikat

1 Korintus 11:10 (TB) Sebab itu, perempuan harus memakai tanda wibawa di kepalanya oleh karena para malaikat.

1 Korintus 11:10 (ILT3) Karena itu, wanita harus memiliki otoritas pada kepalanya oleh karena para malaikat.

Lebih tepat: Utusan, bukan malaikat.

Sebuah buku baru-baru ini, Setelah Paulus Meninggalkan Korintus: Pengaruh Etika Sekuler dan Perubahan Sosial, oleh Bruce W. Winter, hlm 121-141, menawarkan beberapa wawasan yang sangat membantu dari literatur dan seni Romawi. Artikel ini dan yang lainnya (yaitu, E. Fantham, “Wanita Baru: Representasi dan Realitas,” dalam Perempuan di Dunia Klasik, bab 10, dan P. W. J. Gill, “Pentingnya potret Romawi untuk Penutup Kepala dalam 1Kor 11:2-16,” TynB 41,2 (1990): hal 245-260 dan “Pencarian Elite Sosial di Gereja Korintus,” TynB 44,2 (1993): hal 323-337), menunjukkan pada para penafsir modern bagaimana abad pertama Korintus adalah Romawi, bukan Yunani, dalam budaya.

Dengan wawasan dari abad pertama Romawi Korintus yang baru didokumentasikan ini, mungkinlah untuk mulai melihat masalah-masalah budaya yang dihadapi Paulus dalam buku ini.

  1. Paulus tidak menangani budaya Yahudi maupun kebudayaan Yunani sama sekali dalam konteks ini.
  2. Paulus menangani dua kelompok dengan status sosial elit.

a. Orang-orang percaya laki-laki yang kaya, elit sosial, yang memamerkan posisi mereka dengan menutup kepala mereka saat memimpin ibadah umum, sebagaimana adat untuk kelas social ini, saat memimpin ibadah masyarakat Yunani-Romawi. Mereka memamerkan diri mereka sendiri.

b. Para istri yang kaya, elit yang sedang membuka kerudung syarat adat istiadat mereka untuk memamerkan kesetaraan mereka, tidak hanya di dalam Kristus, tetapi juga sebagai pernyataan sosial, seperti juga perempuan Romawi lainnya di masa itu.

c. Warga Korintus Romawi, yang ingin tahu tentang iman Kristen dan praktek ibadahnya, akan mengirim “utusan” (yaitu, malaikat ay 1 Kor 11:10 mungkin menunjuk kepada hamba atau perwakilan yang dikirim atas nama tuan-tuan) untuk memeriksa pertemuan tersebut.

Informasi sejarah / budaya / sosial ini membuat naskah yang sangat sulit dan diperdebatkan menjadi masuk akal. Hal ini juga sesuai dengan naskah-naskah lain dalam I Korintus, yang jelas mencerminkan sebuah latar belakang Korintus abad pertama yang unik!

Oleh Dr. Bob Utley

Persepuluhan Sudah Tidak Berlaku di Gereja Perjanjian Baru

Memang di Gereja Perjanjian Baru, baik Yesus dan Para Rasul tidak menjalankan persepuluhan karena mereka bukan bekerja sebagai petani hasil tanah dan peternak, jadi tidak ada keharusan memberikan persepuluhan yang biasa diberikan setahun sekali dari hasil tanah dan ternak.

Yesus tukang Kayu, Paulus tukang bikin tenda, Petrus dan Yohanes dll Nelayan bukan peternak dan bukan petani.

Orang Miskin, Para Janda, Orang Asing, dan suku Lewi adalah yang menerima persepuluhan. Suku Lewi pun memberikan persepuluhan.

Bahkan baik Yesus dan Para Rasul tidak menerima persepuluhan dan tidak menyuruh jemaat gereja jalankan persepuluhan untuk gereja mula2. Apakah praktek persepuluhan masih dijalankan Orang Yahudi di masa Perjanjian Baru? Iya, sampai hancurnya Bait Suci 70 Masehi. Apakah orang Kristen/Gereha masa Perjanjian Baru menjalankan persepuluhan? Tidak.

Mana buktinya? Ayoo kita baca di Kisah Para Rasul

Kisah Para Rasul 3:1-3, 6 (TB) Pada suatu hari menjelang waktu sembahyang, yaitu pukul tiga petang, naiklah Petrus dan Yohanes ke Bait Allah.
Di situ ada seorang laki-laki, yang lumpuh sejak lahirnya sehingga ia harus diusung. Tiap-tiap hari orang itu diletakkan dekat pintu gerbang Bait Allah, yang bernama Gerbang Indah, untuk meminta sedekah kepada orang yang masuk ke dalam Bait Allah.
Ketika orang itu melihat, bahwa Petrus dan Yohanes hendak masuk ke Bait Allah, ia meminta sedekah.
Tetapi Petrus berkata: “Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!”

Petrus dan Yohanes tdk punya yang untuk diberikan kpd Pengemis yg lumpuh jadi peminta2. Seandainya para Rasul jalankan dan terima persepuluhan dari jemaat gereja, maka Petrus dan Yohanes Pasti punya uang/harta yg bisa diberikan kpd Sang Pengemis peminta2.

Jadi jelas bahwa Yesus dan Para Rasul tidak menjalankan persepuluhan dan tdk menerima persepuluhan.

Setelah Bait Suci hancur 70 Masehi, sampai hari ini, orang-orang Yahudi tdk pernah menjalankan persembahan persepuluhan.

Namun sayangnya Doktrin Persepuluhan yg tdk dijalankan lagi oleh Yahudi dan dibuang oleh Gereja Katolik, dipungut oleh hampir semua denominasi Kristen karena menguntungkan.

  • Dede Wijaya