Beranda > DOKTRIN GEREJA > Sejarah Gereja Baptis

Sejarah Gereja Baptis


Sejarah Gereja Baptis

Orang Kristen Baptis dicirikan oleh penolakannya terhadap baptisan anak-anak.
Anak-anak dianggap belum mampu mengambil keputusannya sendiri untuk menerima atau menolak baptisan yang diberikan kepada mereka. Karena itulah, orang Baptis hanya melakukan baptisan untuk orang yang sudah dewasa, ketika mereka sudah bisa menentukan sendiri keputusannya, dan bisa bertanggung jawab atas keputusan itu.

Baptisan dewasa dilakukannya dengan menyelamkan orang yang dibaptiskan di
sebuah kolam yang dibuat khusus di gereja, atau bisa juga dilakukan di sungai atau di
pantai. Ada pula yang khusus menyewa kolam renang untuk melakukan baptisan tersebut. Ini berbeda dengan kebiasaan di gereja-gereja lainnya yang membaptiskan dengan memercikkan air di kepala orang yang dibaptiskan.


Gereja Baptis juga biasanya adalah gereja otonom pada tingkat jemaat. Artinya, mereka tidak perlu tunduk kepada keputusan Sinode. Karena itu pula maka praktik dan aturan-aturan yang berkembang di gereja-gereja Baptis bisa saling berbeda di berbagai tempat, termasuk cara ibadahnya, sikap terhadap orang Kristen lain, dll.
Mereka juga menganut konsep pemisahan gereja dan negara yang ketat. Gereja tidak mencampuri negara, demikian pula negara dilarang ikut campur dalam urusan-urusan gereja.

Latar Belakang
Sejarah Gereja Baptis dimulai dengan Reformasi Protestan yang melahirkan Gereja
Inggris (Anglikan) yang memisahkan diri dari Gereja Katolik Roma. Namun apa yang dicapai oleh gerakan ini dianggap tidak cukup oleh sejumlah orang Kristen.
Mereka merasa Gereja Inggris tidak cukup melakukan koreksi terhadap ajaran-ajaran Gereja Katolik Roma yang dianggapnya menyimpang. Sebagian orang dari mereka
tetap bertahan di dalam Gereja Anglikan. Mereka disebut sebagai “Orang-orang Puritan”, artinya, orang-orang yang mengusahakan kemurnian agama Kristen. Namun sebagian lagi memisahkan diri sama sekali dari Gereja Anglikan dan mereka disebut Kaum Separatis.

Menurut para ahli sejarah Gereja Baptis pertama muncul di Amsterdam pada
1609, dipimpin oleh seorang tokoh separatis Inggris, John Smyth. Praktik ini menyebar ke
Inggris. Muncul dua kelompok besar yaitu Baptis Umum dan Baptis Khusus. Kelompok
Baptis Umum percaya bahwa penebusan Kristus berlaku bagi semua orang, sementara
Baptis Khusus percaya bahwa penebusan itu hanya berlaku bagi orang-orang yang terpilih.
Tiga tahun sebelumnya, pada tahun 1606, Smyth yang saat itu menjadi mahasiswa
di Christ’s College, Cambridge, Inggris, memisahkan dirinya dari Gereja Inggris. Ia
bergabung dengan kaum Separatis Puritan, dan belakangan menjadi Separatis Baptis.
Sebelumnya, ia bekerja dengan sebuah kelompok Mennonit, kelompok Reformasi Radikal, yang menolak baptisan anak-anak.
Ia mulai menghadiri pertemuan-pertemuan dengan kelompok Separatis Inggris yang jumlahnya 60-70 orang. Karena di Inggris saat itu terjadi penganiayaan terhadap kelompok-kelompok yang menolak aturan negara, maka Smyth melarikan diri ke
Amsterdam dengan sejumlah teman Separatisnya. Di sanalah ia tinggal terpisah dari Gereja Anglikan, bersama Thomas Helwys, salah seorang rekannya.
Smyth yakin bahwa baptisannya di masa kecilnya tidak sah. Karena itu ia mempraktikkan baptisan orang dewasa.

Pertama-tama pada tahun 1609, Smyth membaptiskan dirinya sendiri, lalu ia membaptiskan teman-temannya.
Pada 1609, Smyth menulis sebuah traktat yang berjudul “Ciri Binatang Liar” atau
“Konstitusi Palsu Gereja”. Di situ ia menuliskan dua pendapatnya: pertama, anak-anak
tidak boleh dibaptiskan, dan kedua, orang-orang Antikristen yang bertobat harus diterima ke dalam gereja yang benar melalui baptisan. Smyth percaya, bayi yang mati sebelum dibaptiskan tidak akan terkutuk selama-lamanya. Tak lama sesudah itu, ia meninggalkan kelompok itu. Ia memutuskan untuk bergabung dengan kelompok Mennonit. Namun, sementara ia menunggu permohonannya dikabulkan, Smyth sudah keburu meninggal. Beberapa pengikutnya memang menjadi Mennonit. Thomas Helwys, seorang awam, mengambil alih kepemimpinan Smyth dan membawa gereja itu kembali ke Inggris. Thomas Helwys, kemudian merumuskan ciri khas Baptis yaitu pemisahan antara Gereja dan Negara dalam masalah hukum, sehingga setiap orang mempunyai kebebasan untuk beragama.

Akibat penganiayaan agama oleh pemerintah Inggris, Helwys kemudian ditangkap dan dipenjarakan oleh Raja James I. Ia mati di tahanan. Pada tahun 1638 muncul seorang pemimpin Baptis lainnya, yaitu Roger Williams, yang mendirikan jemaat Baptis pertama di koloni Amerika.

Perkembangan di Amerika Serikat
Roger Williams dan John Clarke sangat berjasa dalam mendirikan gereja Baptis pertama di Amerika Utara. Pada tahun 1639, Williams mendirikan sebuah gereja Baptis di Providence, Rhode Island, sementara Clarke mendirikan gereja di Newport, juga di Rhode Island. Pada abad ke-18 dan 19, terjadilah Kebangunan Besar Pertama dan Kedua di Amerika Serikat. Ini adalah peristiwa kebangunan rohani yang terjadi lewat berbagai program penginjilan oleh banyak penginjil.

Akibatnya, ada banyak orang yang menjadi percaya kepada Yesus dan menjadi Kristen, sehingga jumlah orang-orang Baptis bertambah dengan sangat pesat, termasuk di
kalangan orang-orang kulit hitam yang saat itu umumnya menjadi budak. Gereja ini juga
berkembang pesat di koloni Inggris di Kanada, yaitu di Nova Scotia dan New Brunscwick.
Pada Mei 1845, jemaat-jemaat Baptis di Amerika Serikat terpecah karena alasan
perbudakan dan misi. Lembaga Misi Dalam Negeri Gereja Baptis melarang para pemilik
budak diangkat menjadi misionaris. Perpecahan ini melahirkan dua kelompok yaitu Konvensi Baptis Selatan dan Gereja-gereja Baptis Amerika. Konvensi Baptis Selatan inilah yang di kemudian hari mengirimkan misionarisnya ke Indonesia dan mendirikan gereja-gereja Baptis di sini.

Gereja Baptis di Indonesia
Kehadiran orang-orang Baptis diduga sudah lama terjadi di Indonesia. Di Maluku
tinggal seorang Inggris bernama Jabez Carey pada tahun 1814-1818. Jabez adalah anak
ketiga dari Wiliam Carey, seorang tokoh Baptis terkenal yang menjadi penginjil di India.
Jabez bekerja sebagai pengawas sekolah-sekolah Kristen, dan giat memerangi
perbudakan. Namun ia diusir oleh pemerintah kolonial Belanda yang tidak suka
melihatnya bekerja di wilayah jajahannya. Selain itu, Carey juga bentrokan dengan Joseph
Kam, pemberita Injil di Maluku yang diutus oleh NZG (Nederlandsch Zendeling
Genootschap), karena Carey menolak baptisan anak dan mempraktikkan baptisan
dewasa. Sementara itu Kam mempraktikkan baptisan anak.

Pada tahun 1813-1857 ada sekitar 20 penginjil Baptis yang bekerja di Indonesia,
antara lain dua orang di Tanah Batak, Richard Burton dan Nathaniel Ward. Mereka tidak
berhasil menobatkan satu orang pun, bahkan diusir karena ajaran yang mereka bawa
tidak sesuai dengan harapan orang Batak.
Ward bertahan di Padang dan melakukan penerjemahan Alkitab serta penginjilan
sampai kematiannya pada tahun 1850. Ward pun tidak berhasil mendirikan jemaat di
sana. Namun demikian, hasil karyanya sangat bermanfaat bagi pekerjaan misi di kemudian hari.

Seorang penginjil lain, Gottlob Brückner, mulanya melayani sebagai pendeta
Indische Kerk, utusan lembaga misi Belanda, NZG (Nederlandsch Zendeling-Genootschap),
kemudian beralih bekerja di Semarang. Sejak 1816 ia menjadi penginjil BMS (Baptist
Missionary Society) setelah mendapat izin kerja dari pemerintah Hindia Belanda. Ia
menerjemahkan Perjanjian Baru ke dalam bahasa Jawa. Ia meninggal pada 1857, dan
setelah itu BMS tidak memiliki penerus pekerjaannya. Sampai pada kematian Brückner tidak ada satu pun Gereja Baptis yang berdiri di Hindia Belanda.
Pada tahun 1938 masuklah lembaga Baptis
“The Australian Missionary Society” di Papua Niugini.
Pada tahun 1956, lembaga ini masuk ke Lembah Baliem dan mengadakan penginjilan di sana. Mulai berkembanglah gereja-gereja Baptis di sana, yang kemudian bergabung dalam Persekutuan Gereja-Gereja Baptis Irian Jaya (PGBIJ) pada 1962.

Saat ini ada enam kelompok Gereja Baptis di Indonesia, yaitu: (1) Gabungan Gereja
Baptis Indonesia, (2) Gereja Perhimpunan Injili Baptis Indonesia (GPIBI); (3) Kerapatan
Gereja Baptis Indonesia (KGBI); (4) Gereja Baptis Independent di Indonesia (GBII); (5)
Sinode Gereja Baptist Jakarta; dan (6) Gereja Reformed Baptist Indonesia (GRBI),


tambahan note Dede:
(7) Gereja Baptis Independen Alkitabiah (GBIA) yang keluar dari GBII

Sumber: Buku Siswa Sejarah Gereja Kelas 7 SMP Teologi Kristen, Bab 7 halaman 112

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: